Layanan Pemesanan Online Quran Suci Terjemah dan Tafsir Karya Maulana Muhammad Ali

Alhamdulillah, untuk memudahkan pembaca mendapatkan Buku-buku bermutu terbitan Darul Kutubil Islamiyah, kini kami telah mengadakan kerjasama dengan salah satu toko buku online www.desainbuku.com. Salah satu produk yang dijual di toko buku online tersebut adalah Alquran kemasan Eksklusive dengan menggunakan kertas berkualitas tinggi Qpp 50 grm dengan ketebalan LXXXVI+916 halaman, membuat Quran Edisi ini teringan dan tertipis namun dengan teks yang lebih besar dari edisi ssebelumnya menjadikan Quran tafsir Edisi ini membuat kita semakin betah untuk membaca dan mengkasi lebih dalam isi kandungan Quran. Untuk pemesanan online silahkan klik disini

Baca lebih lanjut

Iklan

Pandangan Tokoh Nasional terhadap pemikiran Gerakan Ahmadiyah

H.O.S Tjokroaminoto – Pahlawan Nasional  (1882 – 1934)

biar berapapun “modern” nya keterangan-keterangan dalam karangan Maulwi Muhammad Ali itu, berapapun takluknya kepada ilmu pengetahuan (wetenschappelijk), akan tetapi sepanjang pendapatan penyelidikan saya, selamat ia daripada paham kebendaan (materialisme) dan daripada paham “ke-aqlian” (rationalisme), paham keghaiban (mistik), yang menyimpang daripada iman dan taukhid Islam yang benar. Tegasnya terpelihara ia daripada kesesatan Dahriyah, Mu’tazilah dan Batiniyah.

KUTIPAN PENGANTAR DARI HAJI AGUS SALIM*

“Tatkala pertama kali saya diajak bermusyawarah oleh saudara Haji ‘Oemar Sa’id Tjokro Aminoto tentang maksudnya dengan beberapa saudara bangsa kita daripada kaum Muslimin, akan mengusahakan salinan kepada bahasa Melayu daripada salinan dan tafsir Qur’an, karangan “Maulwi Muhammad ‘Ali”, seorang kaum terpelajar bangsa Hindi, yang telah beroleh gelaran M.A. dan L.L.B. daripada sekolah-sekolah tinggi Inggris, pada waktu itu tidak sedap hati saya.
Baca lebih lanjut

PENGERTIAN HAKIKI GERAKAN AHMADIYAH

oleh: Maulana Muhammad Ali

This article was taken out from Ahmadiyya Movement translated by H.E. Koesnadi in 1981. Some contents from this article were edited by editional staff to have some writting put in “Studi Islam”. Any reader who has great will and wants to get further more complete information can contact us. Our address is on the front page

Ahmadiyah bukan suatu agama tersendiri.

Banyak sekali pengertian salah tentang Gerakan Ahmadiyah yang  dipahami oleh khalayak ramai. Pengertian yang amat tidak benar adalah, bahwa Ahmadiyah dikatakan sebagai suatu agama yang sama sekali terpisah dari agama Islam, seperti “Babisme atau Bahaisme”. Dasar pemikiran keliru ini, berasal dari anggapan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari Qadiyan, Pendiri Gerakan Ahmadiyah ini telah melakukan pendakwahan pada tingkat kenabian. Pernyataan ini terbukti tidak benar, sebagaimana dijelaskan dalam halaman-halaman sebelumnya. Tetapi ada pula orang-orang yang melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa para Ahmadi memiliki kalimat syahadat dan cara bershalat yang berlainan dengan kaum muslimin lainnya, mempunyai kitab suci lain disamping Qur’an Suci, dan berbeda pula Kiblatnya1. Semua tuduhan itu tidak beralasan sama sekali. Baca lebih lanjut

TAFSIR SURAT (95) : AT-TIN (POHON ARA)

Oleh : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Kota Suci Mekkah. Dalam surat sebelumnya, Al-Inshirah (Kelapangan Dada), Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. bahwa reputasi beliau akan ditinggikan. Didalam surat ini, Allah menyatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, dan secara alami, dia memiliki bakat serta kemampuan tertinggi, dan untuk memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, dia harus menggunakan kemampuan dan sikapnya secara terukur. Jika kita memerlukan bukti, kita harus menengok kepada orang-orang yang memelihara potensi alamiah mereka sesuai dengan perintah Allah dan yang menjaga fitrahnya yang sejati pada prinsip moderat dan mencermati bagaimana ketinggian posisi yang bisa diraih dalam hidupnya. Ini adalah mereka yang Allah anugerahkan rahmat-Nya yang melangkah disepanjang jalan yang lurus yakni jalan para Nabi dan waliyullah. Baca lebih lanjut

TAFSIR SURAT (94) : AL INSYIRAH (KELAPANGAN DADA)

Oleh : DR. Basharat Ahmad

Setelah memberi nikmat kelapangan, maka Allah pun memberi janji bahwa setelah kesukaran pasti datang kemudahan. Di ayat berikutnya memberi tahu caranya agar kemudahan itu dapat terus berlangsung, yakni dengan kerja keras dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan

Surat ini adalah adalah wahyu Mekkah permulaan. Ini merupakan suatu catatan tambahan terhadap surat sebelumnya, Ad-Dluha (Terangnya waktu siang), karena di sini tema yang sama dilanjutkan. Jadi ini menyoroti janji Ilahi bahwa sepanjang masa depan kehidupan Nabi Suci s.a.w., maka dakwahnya pasti akan lebih unggul dari sebelumnya, dan bahwa agamanya pasti akan menjadi pelopor, serta nama beliau pun akan dimuliakan. Sebagai pertanda atas peristiwa di masa depan, maka beliau diminta untuk menimbang kehidupan masa lalunya, dan bercermin atas besarnya nikmat Allah yang secara mukjizat telah dikaruniakan kepadanya. Baca lebih lanjut

TAFSIR SURAT (93) AL – DLUHA: TERANGNYA WAKTU SIANG

Oleh : DR. Basharat Ahmad

Surat ini adalah salah satu dari wahyu awal dan diturunkan di Mekkah. Di sini kita diberi tahu bahwa karena Nabi Suci Muhammad s.a.w. itu par excellence yakni  gabungan sempurna dari seluruh amal salih, Allah Yang Maha-tinggi menjanjikan kedekatan dan kebahagiaan baginya, dimana gelombang rahmat-Nya akan senantiasa mengalir dengan melimpah ruah sepanjang masa. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (V)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Wahai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh. Boleh jadi Tuhan kamu akan menyingkirkan dari kamu keburukan kamu dan memasukkan kamu dalam Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, pada hari yang Allah tak merendahkan derajat Nabi dan orang-orang beriman dengannya. Cahaya mereka akan memancar di hadapan mereka di kanan mereka; mereka berkata: Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami, dan berilah kami perlindungan, sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu” (66:8)

Hur sebagai nikmat Sorga

Kesimpulan yang diperoleh dari Hadits dikuatkan oleh Qur’an Suci. Gambaran tentang hur yang diberikan oleh Qur’an Suci melukiskan bahwa hur itu seorang perempuan yang baik sifatnya, suci kelakuannya, indah rupanya, muda usianya, tak jelalatan matanya, cinta kepada suaminya. Andaikan hur itu salah satu bentuk nikmat Sorga, dan bukan perempuan dari dunia ini, namun nikmat itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (IV)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Sesungguhnya Kami mengutus utusan Kami dengan tanda-bukti, dan bersama mereka Kami turunkan Kitab dan Mizan (neraca) agar manusia berlaku adil” (57:25).

Neraca atau timbangan

Sehubungan dengan perbuatan baik atau buruk, Qur’an menguraikan pula tentang neraca atau timbangan. Kata mizan atau neraca, seringkali disalah artikan. Kata wazn hanyalah berarti pengetahuan tentang ukuran suatu barang (R). Memang benar bahwa timbangan barang-barang wadag itu diukur dengan sepasang daun timbangan atau perkakas lain, tetapi untuk menimbang perbuatan orang tak memerlukan daun timbangan. Imam Raghib menguraikan seterang-terangnya, tatkala beliau berkata, apabila wazn atau mizan itu dihubungkan dengan perbuatan manusia, maka yang dimaksud ialah “berlaku adil dalam membuat perhitungan dengan manusia”. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (III)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Dan mereka berkata: Setelah kami menjadi tulang dan busuk, apakah kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan baru? Katakan: Jadilah batu atau besi, atau makhluk lain yang menurut angan-angan kamu terlalu sukar (untuk menerima hidup). Tetapi mereka akan berkata: Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali? Katakan: Dia Yang menciptakan kamu pertama kali” (17:49-51).

 

Hari Kebangkitan tak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern

Pengertian hidup sesudah mati begitu asing bagi kebanyakan orang, hingga Qur’an Suci berulangkali harus menjawab pertanyaan: Bagaimana itu akan terjadi? Dan jawabannya diberikan dalam segala keadaan, bahwa Tuhan Pencipta sekalian makhluk, Yang menciptakan alam semesta yang luas ini dari tidak ada, pasti mendatangkan ciptaan baru. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (I)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Tahukah kamu benih hidup yang kecil? Kamukah yang menciptakan itu, atau Kami yang menciptakan? Kami menentukan mati di antara kamu, dan tak seorang pun dapat menghalang-halangi Kami; agar Kami mengubah keadaan kamu dan menumbuhkan kamu menjadi sesuatu yang kamu tak tahu” (56:58-61)

Akhirat

Beriman kepada hidup sesudah mati adalah ajaran pokok agama Islam yang terakhir. Perkataan yang biasa digunakan oleh Qur’an Suci untuk menyatakan hidup sesudah mati ialah al-Akhirat. Kata akhir adalah lawan dari kata awwal, artinya, permulaan. Jadi kata akhir berarti kesudahan atau kemudian atau terakhir. Selain kata al-akhirat, digunakan pula kata yaumul-akhir artinya hari akhir (2:8, 62). Kadang-kadang digunakan pula kata darul-akhirah artinya tempat tinggal terakhir (28:77; 29:64; 33:29); dan hanya sekali digunakan perkataan nasy’atul-akhirah, artinya hidup yang akan datang, Baca lebih lanjut