Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (IV)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Sesungguhnya Kami mengutus utusan Kami dengan tanda-bukti, dan bersama mereka Kami turunkan Kitab dan Mizan (neraca) agar manusia berlaku adil” (57:25).

Neraca atau timbangan

Sehubungan dengan perbuatan baik atau buruk, Qur’an menguraikan pula tentang neraca atau timbangan. Kata mizan atau neraca, seringkali disalah artikan. Kata wazn hanyalah berarti pengetahuan tentang ukuran suatu barang (R). Memang benar bahwa timbangan barang-barang wadag itu diukur dengan sepasang daun timbangan atau perkakas lain, tetapi untuk menimbang perbuatan orang tak memerlukan daun timbangan. Imam Raghib menguraikan seterang-terangnya, tatkala beliau berkata, apabila wazn atau mizan itu dihubungkan dengan perbuatan manusia, maka yang dimaksud ialah “berlaku adil dalam membuat perhitungan dengan manusia”. Beliau mengutip ayat-ayat Qur’an ini: ”
Dan timbangan (wazan) pada hari itu akan seadil-adilnya” (7:8). “Dan pada Hari Kiamat akan Kami letakkan neraca dengan adil” (21:47), yang arti ini dijelaskan oleh Qur’an Suci sendiri dengan menambahkan kalimat: “maka tak ada suatu jiwa akan diperlakukan tak adil sedikit pun”. Di tempat lain dalam Qur’an juga diuraikan bahwa mizan bekerja pula di alam semesta: “Dan langit, Dia meninggikan itu dan Dia letakkan neraca agar kamu tak melanggar timbangan, dan agar kamu menegakkan timbangan dengan adil, dan agar kamu tak merugikan timbangan” (55:7-9). Di sini kata yang digunakan untuk ukuran dan timbangan ialah kata mizan atau wazn. Mula-mula kata mizan itu diuraikan sehubungan dengan terciptanya langit, dan ini diikuti oleh perintah agar manusia memelihara timbangan dengan adil. Nah, timbangan yang nampak bekerja di alam semesta ialah hukum alam, yang segala sesuatu tunduk kepadanya sekalipun ada kekuatan-kekuatan yang menentang, namun masing-masing kekuatan itu tunduk kepada suatu hukum, dan sekali-kali tak meniadakan yang lain. Segala sesuatu melaksanakan kodratnya sendiri menurut ukuran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar manusia tak melanggar ukuran atau timbangan.
Mizan atau neraca yang berhubungan dengan manusia, dikatakan oleh Qur’an Suci, diturunkan oleh Allah. Qur’an berfirman: “Sesungguhnya Kami mengutus utusan Kami dengan tanda-bukti, dan bersama mereka Kami turunkan Kitab dan Mizan (neraca) agar manusia berlaku adil” (57:25). Nah, wahyu atau Kitab Suci diturunkan oleh Allah untuk membangkitkan atau menghidupkan rohani manusia. Oleh karena itu, neraca yang diturunkan kepada manusia bersama-sama Kitab Suci, pasti berhubungan pula dengan rohani manusia. Sudah terang bahwa untuk menumbuhkan jasmaninya, manusia harus tunduk kepada neraca yang bekerja di alam semesta, sama seperti halnya makhluk-makhluk lain; tetapi di samping itu, manusia mempunyai kehidupan yang lebih tinggi, yaitu kehidupan rohani yang dikembangkan dari kehidupan sejak sekarang. Untuk mengembangkan kehidupan rohani inilah Allah menurunkan Kitab Suci dan neraca bersama para Nabi. Kitab Suci berisi petunjuk untuk menjalankan kebaikan dan menjauhi kejahatan, dan neraca diperlukan untuk menimbang kebaikan dan kejahatan, sehingga kehidupan rohani yang telah dibangkitkan dalam batin manusia berubah menjadi baik atau buruk, tinggi atau rendah, selaras dengan besarnya pengaruh, apakah itu dari kebaikan ataupun dari kejahatan. Jadi perbuatan baik maupun buruk bukan hanya meninggalkan bekas pada manusia, melainkan pula ada neraca yang memberi bentuk kepada rekaman tadi, dan memungkinkan perkembangan selanjutnya, atau jika yang besar pengaruhnya itu kejahatan, maka neraca itu mempengaruhi terhambatnya perkembangan rohani.
Mizan atau neraca pada Hari Kiamat tak ada bedanya dengan mizan di dunia, mizan di Akhirat bentuknya lebih terang lagi. Prinsip umum tentang mizan diungkapkan dalam ayat ini: “Dan pada Hari Kiamat akan Kami letakkan neraca (mawazin) dengan adil, maka tak ada jiwa akan diperlakukan tak adil sedikit pun; jika ada seberat biji sawi pun akan Kami datangkan itu. Dan cukuplah Kami memperhtiungkan itu” (21:47).
“Dan pada hari itu neraca akan dibuat seadil-adilnya, maka barangsiapa timbangan perbuatan baiknya berat, mereka beruntung, dan barangsiapa timbangan perbuatan baiknya ringan, mereka itulah yang merugikan jiwanya” (7:8-9).
Ada segolongan orang yang dinyatakan oleh Qur’an Suci bahwa terhadap mereka tak akan diadakan pertimbangan samasekali, yaitu orang yang menyia-nyiakan seluruh energinya guna urusan duniawi belaka: “Katakan: Maukah Kami beritahukan kepada kamu perihal orang yang paling rugi perbuatannya? Itulah orang yang usahanya dalam kehidupan dunia tersesat … oleh karena itu, pada Hari Kiamat, Kami tak akan mempertimbangkan mereka” (18:103-105).

Jannah atau Sorga
Kehidupan Akhirat ada dua macam (1) Hidup di Sorga bagi mereka yang kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya; dan (2) hidup di Neraka bagi mereka yang keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Dalam Qur’an Suci, kata firdaus (Sorga) hanya tercantum dua kali, yang satu dirangkaikan dengan kata jannah yang biasa digunakan untuk menunjukkan tempat orang-orang tulus. Kata jannah berasal dari kata janna artinya menyembunyikan begitu rupa hingga tak dapat dilihat oleh indera; dalam penggunaan sehari-hari kata jannah berarti taman, karena tanahnya tertutup oleh pohon-pohonan rindang. Tetapi penggunaan kata jannah dalam arti Sorga, mempunyai maksud yang dalam, karena Sorga itu diterangkan seterang-terangnya, bahwa indera jasmani pun belum pernah melihat nikmat Sorga. Gambaran Sorga yang biasa diberikan oleh Qur’an Suci ialah Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; ini seirama sekali dengan gambaran orang-orang tulus, yang dalam Qur’an Suci biasa digambarkan sebagai orang beriman dan berbuat baik. Mengingat apa yang telah kami terangkan di muka tentang materialisasi hal-hal yang serba rohani di Akhirat kelak, maka dua gambaran tersebut mengandung arti, bahwa iman itu air rohani yang akan berubah menjadi sungai di Akhirat, dan perbuatan baik yang berasal dari iman, adalah benih yang akan tumbuh menjadi pohon-pohon di Akhirat.

Nikmat Sorga
Terang sekali bahwa gambaran Sorga sebagai Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, adalah satu tamsil atau perumpamaan, dan bukan keadaan yang sesungguhnya seperti taman atau sungai yang ada di dunia ini. Qur’an berfirman: “Perumpamaan Sorga yang dijanjikan kepada orang yang bertaqwa, di dalamnya mengalir sungai-sungai. Buah-buahannya dan naungannya kekal” (13:35). “Perumpamaan Sorga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, di sana terdapat sungai yang airnya tak berubah …” (45:15). Dan senada dengan gambaran ini, ada satu ayat dalam Qur’an Suci yang menerangkan bahwa nikmat Sorga tak dapat dibayangkan di dunia ini, dan bukan pula termasuk barang-barang duniawi. Qur’an berfirman: “Tak ada jiwa yang tahu tentang sesuatu yang menyegarkan mata yang tersembunyi bagi mereka” (32:17). Penjelasan mengenai ayat ini diberikan oleh Nabi Suci dengan sabdanya: “Allah berfirman: Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang tulus sesuatu yang mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan tak pernah terlintas dalam batin seseorang” (Bu. 59:8). Ibnu ‘Abbas, salah seorang Sahabat Nabi Suci dan ahli Tafsir kenamaan, berkata: “Di Sorga tak ada makanan yang sama dengan makanan di dunia, kecuali hanya namanya saja” (Bu. I, halaman 172).
Di sini kami ingin menambahkan beberapa contoh. Salah satu nikmat Sorga disebut zhill artinya naungan atau tempat teduh. Qur’an berfirman: “Mereka dan isteri mereka berada di tempat teduh” (36:56). “Sesungguhnya orang yang bertaqwa berada di tempat teduh dan air mancur” (77:41). “Buah-buahannya kekal, dan begitu pula naungannya” (13:35). Kata-kata yang sama digunakan pula sehubungan dengan kesengsaraan di Neraka. Qur’an berfirman: “Dan naungan dari asap yang hitam, tidak sejuk dan tak nyaman” (56:43-44). “Berjalan ke naungan yang mempunyai tiga cabang” (77:30). Dalam kasus tersebut, kata zhill tak semuanya berarti tempat teduh. Memang namanya zhill tetapi artinya berbeda. Sebenarnya, dalam Qur’an Suci diterangkan bahwa di Sorga tak ada matahari: “Di Sorga, mereka tak akan melihat matahari, dan tak pula udara yang kelewat dingin” (76:13). Oleh sebab itu, dalam hal Sorga, kata zhill berarti perlindungan atau kemewahan, satu pengertian yang berpangkal pada kata zhill (R). R. juga menambahkan bahwa zhill ialah setiap yang menutupi, yang baik maupun yang buruk. Oleh sebab itu, zhill juga dikatakan sebagai siksaan Neraka.
Contoh nikmat Sorga yang lain. Mereka yang berada di Sorga dikatakan diberi rizqi artinya rezeki. Tetapi yang dimaksud bukanlah rezeki jasmani seperti di dunia sini. Adapun yang dimaksud ialah rezeki yang diperlukan guna memberi makanan rohani, dan itulah sebabnya mengapa shalat disebut rizqi dalam 20:132. Buah-buahan Sorga, baik yang diberi nama khusus maupun nama umum, bukanlah buah-buahan seperti di dunia ini, melainkan buah perbuatan. Namanya memang sama tetapi maksudnya lain. Qur’an berfirman: ”
Manakala mereka diberi sebagian buah-buahan dari sana, mereka berkata: Inilah apa yang diberikan kepada kami dahulu” (2:25). Ternyata yang dimaksud di sini ialah buah-perbuatan baik, dan bukan buah-buahan yang dihasilkan oleh bumi, karena buah-buahan yang tersebut belakangan, tak diberikan kepada semua kaum mukmin di dunia, sedang buah perbuatan diberikan kepada kaum mukmin. Demikian pula halnya nikmat Sorga yang terdiri dari sungai air tawar, susu, madu dan anggur, semuanya adalah tamsil belaka (47:15). Ranjang, bantal, kasur dan lain-lain (88:13, 16), perhiasan, gelang, pakaian sutera (16:31), semuanya bukanlah barang-barang wadag duniawi, melainkan disebutkannya seperti itu hanyalah sekedar untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu itu dapat menggambarkan suasana kebahagiaan seseorang di sana dan pasti ada. Adapun bentuk yang sesungguhnya kita belum tahu karena semua itu tak dapat dilihat oleh indera kita. Segala lukisan tentang nikmat Sorga itu hanyalah tamsil atau perumpamaan saja sebagaimana diuraikan dalam Qur’an Suci.
Sebagaimana telah kami terangkan di muka, Hari Kebangkitan berarti hidup baru, langit baru dan alam baru. Jika orang mau berpikir sejenak pasti akan menyadari bahwa ruang dan tempat tak dapat diterapkan terhadap Alam Akhirat. Sorga dilukiskan seluas langit dan bumi, artinya, seluruh alam semesta penuh ditempati Sorga. Qur’an berfirman: “Dan cepat-cepatlah menuju kepada pengampunan dari Tuhan kamu dan menuju Sorga yang luasnya seluas langit dan bumi” (32:132; 57:21). Tatkala Nabi Suci ditanya oleh para sahabat, di manakah Neraka jika Sorga itu luasnya seluas langit dan bumi? Beliau menjawab: Di manakah malam hari, jika siang hari datang? (RM. I, hal. 670). Ini menunjukkan bahwa Sorga dan Neraka bukanlah tempat, melainkan suatu keadaan. Selanjutnya, walaupun Sorga dan Neraka itu bertentangan satu sama lain, yang satu digambarkan tinggi sekali, sedangkan yang satunya lagi rendah sekali, namun keduanya hanya dipisahkan oleh satu tembok. Qur’an berfirman: “Lalu di antara mereka dibangun satu tembok yang mempunyai satu pintu, di dalamnya rahmat, dan di luarnya siksaan” (57:13). Di tempat lain dalam Qur’an Suci, tatkala membicarakan penghuni Sorga dan penghuni Neraka, dikatakan: “Dan di antara mereka terdapat tabir” (7:46). Dengan pengertian ruang yang ada di dunia sekarang ini, kita tak dapat membayangkan bagaimana dua hal tersebut bisa terjadi dalam satu waktu bersamaan. Selanjutnya berulangkali disebutkan dalam Qur’an, bahwa “api Neraka mengamuk dan meraung-raung” (25:12; 67:7), namun demikian para penghuni Sorga tak mendengar panggilan para penghuni Neraka yang berkata: “Tuangkanlah sebagian air kepada kami, atau (berilah kami) sebagian dari yang telah dirizkikan Allah kepada kamu. Mereka (para penghuni Sorga) berkata: Sungguh Allah mengharamkan dua-duanya bagi kaum kafir, yaitu orang yang menjadikan agama untuk main-main dan senda gurau, dan terpedaya oleh kehidupan duniawi” (7:50-51). Jadi para penghuni Sorga mendengar ucapan para penghuni Neraka, tapi para penghuni Sorga tak mendengar raungan api Neraka. Ini menunjukkan bahwa perubahan yang akan dialami manusia pada Hari Kebangkitan akan bersifat total, hingga indera manusia di dunia akan diubah menjadi indera lain yang tak dapat dibayangkan pada waktu sekarang, yaitu indera yang dapat mendengar suara yang paling lemah sekalipun di satu pihak, tetapi di lain pihak tak dapat mendengar suara dashsyat.

Perempuan di Sorga
Oleh sebab itu, sesuatu yang disebutkan sebagai nikmat Sorga, bukanlah sesuatu seperti di dunia ini, melainkan sesuatu yang mata belum pernah melihat dan telinga belum pernah mendengar. Indera kita yang sekarang ini tak dapat membayangkan sesuatu yang digambarkan itu. Semua gambaran tentang nikmat Sorga hanyalah menunjukkan bahwa di alam Akhirat, kehidupan orang-orang tulus akan menjadi sempurna. Dengan maksud yang sama pula Qur’an Suci menyebutkan teman laki-laki atau teman perempuan di Sorga, yang oleh orang yang menjadi budaknya hawa nafsu, dihubungkan dengan kenikmatan nafsu birahi. Pada waktu menafsiri kata zauj, Imam Raghib berkata: “Yang dimaksud oleh bunyi ayat zawwajna-hum bi-hurin ‘inin ialah qarranahum bihinna, artinya Kami memberikan hur kepada mereka sebagai teman. Qur’an Suci tak mengatakan zawwajnahum huran, seperti ucapan pada waktu akad nikah yang berbunyi zawwqajtuka imra’atan, artinya aku nikahkan engkau dengan seorang perempuan. Ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan di Sorga, tidaklah seperti hubungan mereka di dunia ini”. Selanjutnya diterangkan pula bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan di Sorga, bukanlah anjuran untuk membiakkan keturunan” (RM. I, hal. 172), sebagaimana hubungan suami-isteri seperti lazimnya di dunia ini, yaitu merupakan tuntutan kodrat untuk membantu terlaksananya pembiakan keturunan, maka terang sekali bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan di Sorga berlainan sekali artinya.
Adapun disebutkannya perempuan dalam Qur’an Suci itu terutama sekali untuk menunjukkan bahwa menurut penglihatan Allah, laki-laki dan perempuan itu sama, dan dua-duanya akan menikmati kehidupan tinggi di Akhirat. Bahwa pada umumnya perempuan dapat masuk Sorga seperti juga laki-laki, ini diuraikan di banyak tempat dalam Qur’an Suci:

“Dan barangsiapa berbuat baik, baik laki-laki maupun perempuan, mereka akan masuk Sorga” (40:40; 4:124).
“Barangsiapa berbuat baik, baik laki-laki maupun perempuan dan ia itu beriman, Kami akan memberi hidup kepadanya dengan hidup yang baik” (16:97).
“Aku tak akan menyia-nyiakan amalnya orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, yang satu dari yang lain di antara kamu” (3:194).

Dalam Qur’an Suci diuraikan secara khusus bahwa isteri orang-orang tulus akan mendampingi suami mereka di Sorga. Qur’an berfirman:

“Masuklah engkau dan isteri engkau di Sorga” (2:35).
“Mereka dan isteri mereka berada di tempat teduh, bersandar (pada bantal) di atas sofa yang tinggi” (36:56).
“Tuhan kami masukkanlah mereka di Sorga yang kekal, yang Engkau janjikan kepada mereka, dan kepada yang baik di antara ayah-ayah mereka, isteri mereka, dan keturunan mereka” (40:8).
“Masuklah dalam Sorga, kamu dan isteri kamu. Kamu akan dibuat bahagia” (43:70).

H u r
Di antara berbagai lukisan tentang perempuan di Sorga ada yang disebut hur, yang disebut empat kali di dalam Qur’an Suci, yaitu dalam 44:54; 52:20; 55:72; dan 56:22. Kata hur jamaknya kata ahwar (diterapkan terhadap laki-laki), dan jamaknya kata haura (diterapakan terhadap perempuan). Adapun artinya ialah, orang yang mempunyai mata yang mempunyai ciri-ciri yang disebut hawar (LL). Kata hawar makna aslinya putih bersih (yang melambangkan kesucian). Adapun kata haura artinya seorang perempuan yang putih kulitnya, dan mata bagian putihnya, putih jernih sekali, dan mata bagian hitamnya, hitam sekali (LA). Adapun kata ahwar yang diterapkan terhadap laki-laki, selain mempunyai arti tersebut, berarti pula suci dan pikirannya jernih (LL). Sebenarnya, kesucian itulah yang menonjol dari kata hawar tersebut. Oleh karena itu, kata hawar yang berasal dari akar kata yang sama, berarti sahabat sejati dan jujur. Oleh sebab itu, terjemahan kata hur yang paling mendekati kebenaran ialah orang suci. Dalam Qur’an terdapat empat tempat dimana perempuan di Sorga disebut hur. Demikian bunyi ayatnya:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, dalam taman dan air mancur … dan mereka Kami beri seorang perempuan yang suci (hur) nan indah sebagai teman” (44:51, 54).
“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada di Taman dan kenikmatan … bersandar di atas singgasana yang berderet-deret, dan mereka Kami beri seorang perempuan suci (hur) nan indah sebagai teman” (52:17-20).
“Di dalam Sorga ada perempuan yang baik dan indah … Perempuan suci (hur) yang tak meninggalkan pavilyun” (55:70-72).
“Dan orang-orang yang paling depan adalah yang paling terdepan, mereka itulah yang terdekat kepada Allah. Dalam Taman kenikmatan … Di atas tahta yang dihias … Dan perempuan suci yang indah bagaikan mutiara tersembunyi. Ganjaran dari yang mereka lakukan” (56:10-24).

Apakah hur yang masuk Sorga itu perempuan berasal dari isteri orang yang bertaqwa? Isyarat yang diberikan oleh Hadits memang demikian. Kutipan ayat Qur’an yang terakhir membicarakan hur di atas ialah ayat 56:10-24. Pokok pembicaraan ini dilanjutkan dengan kalimat yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami menumbuhkan mereka menjadi tumbuhan yang baru, lalu mereka Kami buat perawan yang menawan hati, yang sebaya usianya guna kepentingan orang-orang yang memiliki tangan kanan” (56:35-38). Sehubungan dengan itu, yakni ditumbuhkannya mereka menjadi tumbuhan baru, Nabi Suci bersabda, bahwa yang dimaksud dengan kalimat itu ialah, perempuan yang tua-tua di dunia akan ditumbuhkan menjadi perawan di Akhirat (Tr. 44, tentang Surat 56). Semua perempuan salihah akan ditunjukkan menjadi pertumbuhan yang baru di Akhirat, sehingga mereka akan menjadi perawan yang menawan hati yang sebaya usianya. Keterangan Nabi Suci tersebut, yakni digunakannya kata hur itu untuk melukiskan keadaan perempuan yang akan ditumbuhkan menjadi pertumbuhan yang baru di Akhirat. Ada satu anekdot yang menceritakan seorang nenek yang menghadap Nabi Suci tatkala beliau sedang duduk di tengah-tengah para Sahabat. Si nenek bertanya kepada Nabi Suci, apakah ia dapat masuk Sorga? Dengan nada gembira Nabi Suci menjawab bahwa di Sorga tak ada nenek-nenek. Dengan perasaan sedih, nenek itu bersiap-siap hendak pergi. Tiba-tiba Nabi Suci menghiburnya dengan sabdanya bahwa semua perempuan akan ditumbuhkan menjadi pertumbuhan baru di Akhirat, sehingga di Sorga tak ada nenek-nenek; lalu beliau mengutip ayat tersebut di atas (RM. VIII, hal. 320)

 

Berlanjut ke Serial Islamologi – Bab VI – Akherat (IV)

Sumber: Islamologi, (The Religion of Islam) oleh Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: