Tafsir SURAT (91) AS-SYAM (MATAHARI)

 Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah. Didalam surat sebelumnya, Al Balad (Kota), disebutkan mengenai risalah  yang harus di syiarkan dan ikhtiar yang diminta bagi sang pembawa risalah untuk menyiarkannya. Surat ini membicarakan mengenai manusia agung sang pembawa risalah itu, yang merupakan  sosok jiwa sempurna dan beliau merupakan manifestasi gabungan dari  kesempurnaan akhlak serta kebaikan yang seharusnya menjadi cita-cita bagi setiap insan untuk meneladaninya.

Tafsir selengkapnya sebagai berikut;

Surat ini memberikan janji akan kesuksesan bagi mereka yang mengikutinya, dan memberikan peringatan para penentang akan kehancurannya. Selanjutnya, jiwa yang sempurna itu di ibaratkan oleh Allah dengan unta betina. Siapa pun yang berani mencoba untuk menyembelih maka  akan menemui kebinasaannya.

Kesimpulan dalam ayat 9 dan 10 di atas yakni: ”Sungguh beruntung orang yang menumbuhkan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengubur jiwanya”, menyatakan kepada kita bahwa hal-hal berbeda dalam enam ayat sebelumnya berkaitan dengan penyajian macam-macam kategori pembuktian mengenai kesempurnaan jiwa manusia.

Kita harus menimbangnya dengan lebih seksama. Ayat pertama dan kedua menggambarkan jiwa yang sempurna, yakni Nabi Suci Muhammad s.a.w. yang telah membabarkan ilmu, dengan perkataan lain, seperti halnya matahari, Nabi Suci s.a.w. adalah sumber  ilmu dan cahaya samawi serta beliau diciptakan oleh Allah untuk mengungkapkan tujuan utama dari pemberian rahmat karunia ini ke seluruh dunia. Betapa menarik ketika di satu fihak, cahaya dan ilmunya diumpamakan dengan matahari yang membagikan manfaat  tanpa prasangka ke seluruh dunia, dan disamping itu beliau  seperti bulan yang meminjam sinar dan petunjuk dari Allah Ta’ala Sendiri, dan demikianlah karena penyerahannya yang sempurna kepada Allah dan ketaatan yang sempurna kepada perintahNya. Dengan perkataan lain, cahaya yang disinarkan kepada orang  lain sesungguhnya adalah suatu refleksi dari cahaya Allah.

Maka dari satu segi beliau memancarkan cahaya Ilahi seperti matahari, dan dari segi lain, beliau bagaikan bulan, beliau meminjam cahayanya. Beliau memberikan ilmu kepada manusia di satu fihak sedangkan di fihak lain, beliau menerima sehingga dapat dikatakan pada satu sisi beliau adalah seorang guru dan pada waktu yang sama beliau juga seorang murid.

Dua ayat selanjutnya: ”Dan demi siang tatkala memancarkan cahayanya! Dan demi malam tatkala menutupinya!”, memperjelas akan kesempurnaan dari amal perbuatan beliau. Pada siang hari, kita bisa menyaksikan manfaat yang memungkinkan kita untuk terlibat dalam usaha yang gigih yang menjadi akar dari kemajuan. Demikian pula, seperti siang hari, jiwa yang sempurna itu melakukan usaha sedemikian rupa sehingga dalam lapangan duniawi mencapai kedudukan tinggi melalui amal perbuatannya, rahmat dan karunia ilmunya terlihat benderang bagaikan cahaya matahari. Ini adalah ilmu yang diperoleh dari khasanah Ilahiah dan dia dapat mencapai segala macam kemajuan berkat kerja kerasnya.

Di fihak lain, yang melekat pada usaha duniawinya adalah semacam kegelisahan dan kecemasan. Lihatlah Eropa hari ini, betapa benua ini telah menjadi pusat dari karya industri, tetapi hal ini mendorong kepada hilangnya ketenangan dan kedamaian masyarakat. Sebaliknya, hati mereka diselubungi gelombang keresahan, ketidak sabaran dan kegelisahan sehingga untuk menenangkan fikiran mereka yang kacau, siang dan malam mereka terlibat dalam segala macam penyimpangan seperti minum minuman keras, perjudian serta mencari kesenangan dan kegembiraan seksual.

Akan tetapi akibat nyata dari perilaku ini adalah api dalam hati yang tidak pernah meredup, bahkan semakin membara. Sebaliknya, bila amalan seseorang yang sempurna jiwanya mencapai puncaknya, ini menimbulkan dalam jiwanya keadaan damai serta nyaman dan bagi kita tanda dari hal itu adalah bagaikan malam yang tenang menyelimuti segala sesuatu dalam dekapannya.

Seperti halnya malam yang tenang membawa bersamanya suatu keadaan alami yang damai dan tenteram dari segala kegelisahan dan gangguan sehingga akan diselimuti oleh tidur yang nyenyak dalam gelapnya malam dalam kedamaian dan kesejukan yang mendekap, begitu pula dengan cara yang sama jiwa yang sempurna itu didalamnya memiliki kesejukan yang lengkap, kenyamanan dan kedamaian di hati yang berbarengan dengan kerja keras tak kenal lelah demi mencari  ridha Allah Ta’ala.

Setelah itu dua ayat berikutnya: ”Dan demi langit dan bangunannya! Dan demi bumi dan terbentangnya!” adalah menggambarkan hubungan yang sempurna antara Nabi Suci s.a.w. dengan Allah serta kasih-sayangnya yang mendalam terhadap ciptaan Allah. Dengan kata lain, jiwa yang sempurna, melalui ketaatannya yang menyeluruh kepada Allah dan ikatan denganNya menimbulkan dalam dirinya suatu kedudukan mulia yang sama seperti langit. Yakni, dengan melalui ketaatan kepada Allah serta meraih keridhaanNya, dia telah menaklukkan nafsu jasmaninya serta bisikan kejahatan dari kehidupan duniawi, sehingga begitu lengkap dan luhur moralnya, serta kualitas ruhaninya yang telah bangkit bagaikan mencapai langit yang tinggi  dan dampaknya adalah beliau bukan lagi seorang hamba dunia melainkan sekarang menjadi seorang penghuni langit. Ini adalah puncak kedekatan dengan Allah dan memotong segala ikatan lain yang ada hanya demi Dia.

Di samping itu, demi kasih-sayangnya kepada ciptaan Allah dia telah bersikap dengan penuh kesederhanaan, santun, rendah hati, dermawan dan tanpa pamrih pribadi sehingga dia dianggap berkualitas seperti bumi, dan dalam kelapangan hati serta hilang sifat penolakan dirinya dia memberi dengan seluas-luasnya seperti bumi, yang telah memberi segala hal kepada semua penghuninya tanpa diskriminasi.

Demikianlah, apa pun yang nampak saling bertentangan seperti yang nampak di alam semesta ini – pemberian cahaya dari matahari dan peminjaman cahaya oleh bulan, perjuangan hidup di siang hari dan istirahat pada waktu malam, ketinggian langit nan indah serta kelapangan dan kerendahhatian bumi – semua itu terdapat pada jiwa yang sempurna yang merupakan alam semesta dalam miniatur, dan suatu manifestasi dari gabungan segala sifat-sifat mulia dalam derajat yang paling tinggi. Dengan kata lain, semua kualitas ini ada dalam bentuknya yang paling sempurna terdapat pada diri Nabi Suci s.a.w. Betapa pun, setiap orang sesuai dengan tingkat kesempurnaan pribadinya  atau sesuai dengan kapasitasnya masing-masing mengambil bagian dari kualitas ini.

Selanjutnya, Allah ta’ala, telah menurunkan wahyu-Nya kepada manusia untuk membantu mengembangkan talenta alami serta kemampuan dan dari ilmuNya sendiri yang sempurna, Dia telah

mengaruniai petunjuk baginya guna mencapai ketulusan dan untuk menghindari kejahatan sehingga dia tidak akan terantuk akan tetapi dia akan maju terus hingga kedudukan yang setinggi mungkin. Maka dari itu yang pertama, manusia diberkati dengan keinginan belajar dan dengan talenta alami sedemikian rupa tersebut apa pun sifat mulia dari segala yang ada di alam semesta ini, satu demi satu selaras dengan apa yang terdapat dalam jiwa manusia. Kedua, demi terus berkembangnya daya dan kemampuan manusia tersebut, Allah telah menyediakan sarana berupa siraman air wahyu Ilahi sehingga manusia bisa mencapai puncak kesempurnaan. Begitu pula Allah telah memberikan contoh sempurna kepada manusia pada diri Nabi Suci s.a.w. sebagai gabungan dari semua keindahan seperti yang dibenarkan dalam ayat Qur’an Suci berikut ini: ”Sungguh beruntung orang yang menumbuhkan jiwanya”. Dengan perkataan lain, baik di dunia maupun di akhirat beliau telah mencapai sukses serta kebahagiaan dan telah menjadi penerima asma-asma yang sempurna sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya.

Namun sebaliknya, bagi mereka yang tidak mau mengembangkan kemampuan alamiah mereka dan sebaliknya justeru menguburkannya dalam kemesuman dan kejahatan, akan mengantarkannya kepada kegagalan. Maka ajaran  yang telah dibawakan oleh Nabi Suci semuanya merupakan petunjuk bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia menuju kesempurnaan dan kemuliaan akhlak pribadinya dan menjadi bukti yang tak terbantah dari semua julukan yang sempurna kepadanya. Oleh karenanya, siapa pun yang menjadi pengikut dari jiwa yang sempurna ini akan memperoleh sukses dan siapa pun yang menjadi penentangnya akan menderita kekecewaan serta kehancuran seperti kaum Tsamud yang seluruhnya binasa akibat penentangannya terhadap Nabi mereka, Nabi Salih AS.

 

  1. Kaum Tsamud mendustakan (kebenaran) dengan pendurhakaannya.

 Kaum Tsamud tinggal di daerah Hijaz utara. Suatu pujian atas kebudayaan,kekuasaan serta gaya kebudayaan mereka bisa ditemukan dari peninggalan mereka yang telah digali pada masa kini. Mereka membangun perumahan dari batu dan bahkan telah memahat kediamannya dari bongkahan batu-batu besar dan tanda kekuasaan dan kejayaan mereka dapat diukur dari kota batu merah mereka; foto-fotonya telah diterbitkan dalam harian kontemporer.

 

  1. Tatkala orang yang paling keji di antara mereka bangkit dengan kejahatan.

 Tidak ada yang lebih disesalkan dari suatu keadaan buruk yang disebabkan oleh para pemimpin yang menyesatkan kaumnya. Para pemimpin yang penuh dosa ini selalu berdiri tegak menentang kebenaran karena mereka merasakan tekanan atas kesombongan dan kesia-siaan mereka bila ajaran palsu mereka itu diungkap.

 

  1. Maka berkatalah Utusan Allah kepada mereka: (Biarkanlah) unta-betina Allah, berilah minum kepadanya.

 Kegemaran atas dongeng yang aneh dan ajaib telah memaksa banyak ulama kita untuk meramu pelbagai macam cerita yang menggelikan mengenai unta-betina ini. Beberapa ulama mengemukakan suatu dongeng aneh bahwa unta ini secara ajaib keluar dari sebuah gunung batu yang besar. Hanya Allah sendiri yang tahu dari mana mereka memungut dongeng ini karena tak disebut dalam Qur’an Suci.

Yang benar adalah bahwa di antara kaum Tsamud ada suatu adat-kebiasaan dimana seseorang yang kaya atau berpangkat tinggi dari kaum itu biasa melepas seekor binatang yang membawa namanya. Binatang ini bebas makan dan minum semaunya bahkan bisa menyerang manusia tanpa boleh dibalas. Tak seorang pun berani untuk membunuh binatang itu atau menangkapnya atau bahkan memukulnya. Menyembelih atau menangkapnya sama dengan mengirim pesan ke si empunya hewan bahwa si penyerang itu tak menghargai pemilik binatang itu dan bahkan siap berperang dengan dia. Hal ini cukup bagi tuannya untuk menyiapkan perang guna menghukum si penyerang dengan balasan yang setimpal untuk memperagakan dan menjaga kekuasaan serta wibawanya, atau mati dalam usahanya itu. Bila dia gagal dalam melakukan pembalasan yang setimpal, maka hal itu menandai berakhirnya kekuasaan dan kewibawaannya.

Bahkan hingga kini, kaum Hindu membiarkan sapi jantannya yang gemuk dan muda berkeliaran dengan bebasnya. Tak seorang Muslim pun yang punya daya untuk memukulnya. Bahkan dalam kenyataannya, meskipun sapi jantan yang muda dan kuat ini berkeliaran bebas kemana-mana atau menyebabkan kerusakan bagi masyarakat, tak seorang Muslim pun mempunyai keberanian untuk menyembelih dan memakannya, atau ada upaya untuk mencegah kerugian bagi dirinya dengan mematahkan kakinya atau mengurungnya dalam kandang. Sesungguhnya hal ini adalah suatu peragaan nyata dari kekuasaan Hindu.  Pengarang suatu kali pernah berdinas di Gujarat dimana seorang wali bernama Karam Ilahi sedang menyepi.  Salah seekor sapinya juga biasa berkeliaran dengan bebas di segala tempat dan bahkan masuk ke halaman rumah sakit serta memecahkan pot bunga dan merobohkan tanaman. Dengan mengabaikan perintah saya sebagai pimpinan Rumah Sakit, tak seorang pun pekerja di rumah sakit itu ada yang berani menyentuh binatang itu, sedemikian takutnya mereka atas bencana hebat yang bakal menimpanya jika mereka berani mengusik sapi sang wali. Pendeknya, adat-kebiasaan tersebut adalah seperti tanda yang tak terbantahkan dari kekuasan kaum Tsamud.

Kini, adalah cara Allah untuk menunjukkan suatu mukjizat atau memperagakan suatu tanda atas kekuasaanNya dengan cara yang sama dengan adat kebiasaan yang sudah berakar dari suatu kaum, supaya menjadi peringatan dengan serentetan argumen yang disajikan kepada mereka sebelumnya. Bagi kaum Tsamud, Nabi Saleh adalah seseorang yang lemah dan tak berdaya dimana mereka adalah suatu masyarakat yang berkuasa yang menganggap dirinya kebal hukum. Sembilan suku di antara mereka menyusun rencana untuk membunuh Nabi Salih dan keluarganya diwaktu malam, sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an Suci: ”Mereka berkata: Bersumpahlah satu sama lain demi Allah, bahwa kami akan menyerang dia dan keluarganya dimalam hari” (27:49).

Pada saat demikianlah Allah berkenan untuk menunjukkan mukjizatNya, dan demikianlah Dia menunjukkan tanda bukti unta-betina kepada kaum Tsamud, dengan menyatakan kepada mereka bahwa ini adalah unta-betina milik Allah. Dengan perkataan lain untuk memperagakan kekuasaan-Nya, Dia memilih mukjizat yang cocok dengan adat kebiasaan mereka sendiri. Di sini, ada suatu titik penting – yakni, jiwa yang sempurna dari utusan Allah, yakni Nabi Salih, sesungguhnya dianggap sebagai unta-betina yang dikendarai Allah dan kepadanya cahaya Ilahi serta keagungannya diturunkan.

Segala gerak-geriknya, tutur-katanya maupun amal perbuatan yang dibawakannya adalah sesuai dengan perintah Allah sama seperti gerak-gerik unta betina yang dimilikiNya dan istirahatnya adalah di bawah petunjuk tuannya. Begitu pula, air kenabian adalah sesungguhnya petunjuk Ilahi yang dibawa dari Allah. Air ini menyediakan kehidupan abadi bagi jiwa manusia. Karena itu, siapa pun yang mencoba menghancurkan utusan Allah serta petunjukNya jelas telah menantang dan berperang melawan Allah Sendiri. Ini adalah cara yang dipilih Allah agar kaum Tsamud faham atas pesanNya, atau dengan disorot oleh tradisi mereka merupakan cara yang ideal untuk memberi peringatan kepada mereka. Contoh ini juga menjadi suatu peringatan bagi penduduk Mekkah, untuk mengingatkan mereka bahwa Nabi Suci s.a.w., seperti Nabi Salih, adalah unta-betina milik Allah dan bila mereka mencoba melukainya maka tak akan mungkin Allah akan duduk berdiam diri. Sebaliknya, Dia pasti akan membinasakan mereka seperti halnya terhadap kaum Tsamud yang telah dibinasakan.

 

  1. Tetapi mereka mendustakan Utusan dan menyembelih (unta betina) itu…

 Kaum Tsamud adalah bangsa yang penuh keseombongan dan menganggap unta-betina yang ditunjukkan kepada kaum Tsamud itu tidak berasal dari Dzat yang penuh kuasa, tetapi sebagai cerminan seseorang yang tidak berharga.

Di negeri itu air sangat langka sehingga mereka biasa membangun reservoar untuk mengumpulkan air sepanjang musim penghujan. Karenanya, tak ada jalan bagi mereka untuk membiarkan unta-betina Nabi Salih bebas menuju tempat persediaan air mereka, terutama sejak penolakan mereka untuk menerima risalah dakwah mencapai batas puncaknya. Karenanya, mereka membunuh unta-betina di mana Allah telah mengemukakannya sebagai tanda-bukti bagi mereka.

Dengan kata lain, dengan melakukan hal ini, mereka menantang Tuhannya Nabi Salih untuk melakukan apa pun yang dikehendaki atas mereka, bila Salih memang benar-benar seorang Utusan Allah dan bahwa unta-betina itu sungguh-sungguh milik Dia. Maka, sesuai dengan tradisi dari negerinya sendiri, mereka menemui nasib yang seharusnya diterapkan kepada seorang yang lemah yang cukup berani menantang sang lawan yang penuh kuasa.

 

  1. …. Maka Tuhan membinasakan mereka karena dosa dan Ia membuat mereka rata (dengan tanah).

 Inilah akibat dari peperangan mereka melawan Allah dan pendustaan mereka atas risalah Rasul-Nya.

 

  1. Dan Ia tak takut akan akibatnya.

 Allah menentukan balasan atas ketentuanNya karena menghapus manusia jahat dari dunia ini bukanlah tindakan yang merugikan tetapi suatu hal yang bermanfaat. Dalam memberikan contoh tentang kaum Tsamud, Allah menyampaikan pesan kepada penduduk Mekkah dan memberitahu mereka bahwa Ia juga mengetahui kalau sembilan suku mereka juga merencanakan hal yang sama yakni membunuh Nabi Suci Muhammad s.a.w. di waktu malam tepat seperti Sembilan suku kaum Tsamud yang telah mengatur konspirasi untuk membunuh Nabi Salih. Dia memperingatkan mereka, bahwa jiwa yang sempurna yakni Nabi Muhammad s.a.w., adalah unta betinaNya.

Siapa pun di antara mereka yang ingin membunuh unta betina Allah akan menderita kehancurannya sendiri. Maka Dia menasehati mereka agar menghentikan tangannya melawan beliau atau kalau tidak mereka akan mengalami nasib buruk yang sama seperti yang dialami kaum Tsamud.

Sesungguhnya, tantangan Allah ini tetap hidup sampai hari ini sebagaimana di masa lalu. Mereka yang ingin menghapus nama Nabi Suci s.a.w. serta risalahnya, yakni, Qur’an Suci, karena kehendak Allah akan menyebabkan mereka menjadi pecundang yang frustrasi dan pada akhirnya akan binasa, karena seseorang yang memiliki jiwa yang sempurna adalah unta betina Allah dan siapapun yang menyerangnya akan menerima resiko kehancuran.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra, Sulardi Np.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: