TAFSIR SURAT (93) AL – DLUHA: TERANGNYA WAKTU SIANG

Oleh : DR. Basharat Ahmad

Surat ini adalah salah satu dari wahyu awal dan diturunkan di Mekkah. Di sini kita diberi tahu bahwa karena Nabi Suci Muhammad s.a.w. itu par excellence yakni  gabungan sempurna dari seluruh amal salih, Allah Yang Maha-tinggi menjanjikan kedekatan dan kebahagiaan baginya, dimana gelombang rahmat-Nya akan senantiasa mengalir dengan melimpah ruah sepanjang masa.

Terjemah dan Tafsir selengkapnya sebagai berikut:

Surat ini dimulai dengan ayat sebagai berikut:

  1. Demi terangnya waktu siang!
  2. Dan demi malam tatkala sunyi-senyap!
  3. Tuhan dikau tak meninggalkan engkau, dan tak pula Ia kecewa.

 Ayat-ayat ini sangat menenteramkan jiwa Nabi Suci s.a.w. karena kadang-kadang penyantun umat manusia terbesar ini, ketika berhadapan dengan cobaan berat serta keadaan yang tak menentu kadang tetap  terserang keraguan, mengira bahwa mungkin Allah telah menarik pertolongannya. Sebagai misal, ketika Bani Israil menangkap Nabi Isa dan memakukannya ke kayu palang dan beliau tidak melihat celah untuk lolos dari penyaliban yang oleh Taurat sendiri dikatakan sebagai kematian yang terkutuk, maka kata-kata berikut secara spontan terucap dari bibirnya: ”Tuhanku, Tuhanku! Mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Begitu pula, pada saat Nabi Suci s.a.w. pergi ke Taif untuk mendakwahkan risalah Islam lalu dilempari batu dan dikejar oleh orang-orang jahat di sana, maka beliau lari sepanjang dua atau tiga mil dan lalu duduk di sebuah kebun serta memanjatkan doa kepada Yang Maha-kuasa: ”Wahai Allah! Jika Engkau ridla kepadaku, maka semua penganiayaan ini akan mudah kupikul”. Pendeknya, keadaan yang berbahaya dan tidak menentu semacam itu mulai muncul seolah Allah telah meninggalkan hambaNya disaat dominasi serta penguasaan musuh-musuhnya menimbulkan ketakutan kalau-kalau Allah marah kepadanya, dan dengan demikian dia tidak berusaha mencegah kejahatan serta penganiayaan dari lawan-lawannya tetapi membiarkan dengan rencana-rencana jahat mereka. Peristiwa semacam itu sering terjadi pada masa hidup beliau di Mekkah yang beliau lalui penuh dengan cobaan dan begitu pula peristiwa-peristiwa dahsyat yang beliau alami dalam perang Uhud serta Perjanjian Hudaibiyyah. Akan Tetapi selain daripada kenyataan yang terjadi pada diri Rasulullah, karena beliau Nabi Suci s.a.w. adalah seorang Nabi yang hidup sejak pengangkatan kenabiannya hingga akhir zaman Hari Pembalasan, maka keadaan serupa juga menimpa ummatnya pula, dan umatnya tersebut jelas akan merasakannya pula! Jadi, pada saat ini pun, dalam keadaan krisis, ada rasa takut yang merayap dihati kaum Muslimin yang beranggapan sudahkah Allah telah menarik dukungannya atas agama ini. Ayat-ayat ini menyajikan jawaban atas keraguan dan kesulitan ini.

Boleh jadi ada dua alasan mengapa pertolongan Allah dicabut dari suatu perkara: atau mungkin sudah tidak diperlukan lagi sehingga ditinggalkan, atau Tuannya marah dengan yang dibantunya sehingga menarik dukungan-Nya lalu diberikan kepada pihak yang lain. Begitu pula, kenyamanan yang dikaruniakan oleh Allah di sini melingkupi dua alasan berikut ini.

Allah berjanji bahwa betapapun rumitnya suatu zaman itu menimpa kaum Muslimin, entah dimasa hidup Nabi Suci s.a.w. atau sesudahnya, hingga Hari Pembalasan, bahwasannya Nabi Suci s.a.w. tidak  sedikit pun mengira bahwa Allah telah meninggalkan kaum muslimin, atau merasa bahwa Allah telah marah kepadanya; atau misalnya Nabi Suci mengira bahwa jalan keridlaan Ilahi telah diberikan kepada agama selain Islam. Untuk itu dalam ayat ini bila kita cermati akan nampak jawaban atas persoalan tersebut, karena sesungguhnya nama Islam itu sinonim dengan Nabi Suci Muhammad s.a.w., karena suatu penolakan atas dukungan terhadap Islam berarti hilangnya rasa syukur terhadap Nabi Suci s.a.w., dan untuk itulah maka kehidupan Nabi Suci s.a.w. itu diabadikan sepanjang waktu, dan hal inilah sebagai satu-satunya tujuan untuk menegakkan agama Islam. Allah Yang Maha-tinggi memberi jaminan bahwa, betapa pun berbahayanya suatu periode itu menyerang Islam, Nabi Suci s.a.w. tidak boleh membayangkan bahwa Allah akan meninggalkannya atau marah kepadanya. Para musuhnya diberikan kebebasan penuh untuk melakukan segala upaya kejahatan yang mereka mampu. Namun Allah menenteramkan Nabi Suci dengan janji bahwa betapa pun bergelombangnya saat-saat cobaan yang datang yang harus dihadapi Islam, Dia tidak akan pernah ingkar akan pertolongan-Nya atas agama ini ataupun Dia tidak ridla dengan Nabi Suci, akan tetapi Dia menunjukkan, bahwa sesuai dengan hukum alam, maka masa-masa ini akan selalu tiba, sebagaimana firman-Nya: ”Kami mempergilirkan hari-hari di antara manusia”(3:139).

Jika kita melihat sejenak atas hukum alam yang ada pada diri manusia pun, kita akan mencermati bahwa bila seseorang itu tidak beristirahat dan tidur pada waktu malam, dia tak akan segar kondisinya dalam menjalani hari berikutnya. Tak seorang bijak pun yang akan berkeberatan atas penciptaan malam hari oleh Allah, karena, bila terus-menerus siang hari, bagaimana mungkin manusia bisa bekerja pada siang hari? Orang yang berilmu akan tahu bahwa bila malam tidak datang dan manusia tidak memulihkan tenaganya dalam pelukan malam, maka dia tidak akan siap untuk bekerja pada hari berikutnya. Oleh karena itu, adalah suatu keharusan bahwa sebelum manusia itu bekerja setiap hari dia harus menikmati kenyamanan di dalam senyapnya malam untuk beristirahat.

Begitu pula, sebelum setiap kemajuan yang segar terjadi  atau inisiatif yang baru yang muncul, adalah penting bagi dakwah Nabi s.a.w. yakni Islam, untuk menempuh masa-masa yang sulit penuh bencana yang akan mewadahi pembinaan akhlak dari umatnya dan menyiapkan mereka untuk menjalani tugas-tugas tambahan mereka.

Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid abad keempat-belas Hijriyah dan Almasih Yang-dijanjikan, biasa berkata bahwa kita hendaknya bersyukur atas adanya kaum kafir Arab sebab, bila mereka tidak menimbulkan segala macam hambatan dan menggelar segala macam sikap perlawanan, kita tidak akan pernah bisa menyaksikan ilmu dan kebijaksanaan yang menakjubkan dari Qur’an Suci atau kita tidak dapat menyaksikan akhlak yang istimewa mengagumkan dari Nabi Suci Muhammad s.a.w.

Almarhum Hazrat Maulana Nuruddin juga berpendapat, bahwa jika seorang musuh menolak suatu ayat tertentu dari Qur’an Suci, maka ayat itu sesungguhnya dalam kenyataannya mengandung suatu kantung harta ilmu dan hikmah yang tersembunyi. Tetapi ini tak mungkin diketemukan hingga alat penggali yang berupa penolakan ini diterapkan atasnya. Jadi, bila segala macam situasi yang tak menentu dan menakutkan ini tidak menimpa dakwah Nabi s.a.w., maka akan mustahil kiranya bagi Islam untuk menempuh kemajuan. Setiap hal yang tidak biasa dalam kehidupan ini membawa suatu kesempatan untuk perkembangan kemajuan yang baru. Setiap masa istirahat atau kemunduran memberi pertanda agar kita bekerja dan membangun lebih keras untuk mencapai kemajuan. Adalah suatu fakta yang sudah teruji bahwa pertolongan dan bantuan Allah itu jelas terlihat di saat masa-masa yang kritis ini muncul.

 

  1. Dan sesungguhnya yang belakangan itu lebih baik bagi engkau daripada yang permulaan.

 Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, bahwa tidak saja Dia tak pernah membiarkan Islam tanpa pertolongan di saat bencana, atau pun Dia pernah marah, tetapi lebih dari itu, Dia memberi jaminan kepada Nabi Suci bahwa periode sesudah terjadinya bahaya dan cobaan akan lebih bermanfaat baginya dibanding masa-masa penuh bencana itu. Dengan perkataan lain, dakwahnya akan berkembang semakin dan semakin kuat sehingga setiap jam yang belakangan akan lebih makmur dari pada masa sebelumnya. Memang, ada kemungkinan suatu bangsa muslim itu jatuh dari kebangsawanan atau kemuliaan politiknya dan bahkan dihancurkan, tetapi hal ini tak mungkin terjadi bahwa Allah akan meninggalkan Nabi Suci s.a.w. dan risalahnya (Islam).

Jika suatu bangsa menamakan dirinya Muslim lalu memetik laknat Allah akibat kelakuannya yang tidak benar dan berhenti menjalankan apa yang sesuai dengan hukum Islam, maka nasib terkutuk sebagai akibatnya memang sudah mengikuti secara hukum alami. Namun, Islam tak bisa dihapuskan. Jika suatu bangsa mati, maka yang lain akan dibangkitkan menggantikannya, sebagaimana Qur’an Suci berkata: ”Dia akan menggantikan kamu dengan umat lain”(9:39).

 

  1. Dan Tuhan dikau segera akan memberikan kepada engkau, sehingga engkau menjadi puas.

 Yakni, bahwa agama Islam itu akan terus-menerus berkembang semarak. Kebahagiaan Nabi Suci s.a.w. di dunia ini adalah melihat umat mencapai tahap kemajuan yang diharapkannya dan pada Hari Pembalasan keinginannya adalah melihat umat diampuni dosa dan kesalahannya serta menyaksikan mereka memperoleh keselamatan. Nabi Suci s.a.w. diriwayatkan telah bersabda dalam sebuah hadist bahwa beliau tak akan pernah merasa berbahagia bahkan jika ada seorang pengikutnya pun yang ada di Neraka.

Maka, disamping di Akhirat, ayat-ayat ini juga memberikan pertanda baik mengenai dunia ini dengan mengumumkan bahwa Islam akan selalu mendapatkan pijakannya. Dan meskipun ini adalah masa yang sangat menegangkan buat agama Islam, dimana para musuh pun telah siaga di segenap penjuru dengan niat untuk menghancurkannya, namun Allah Yang Maha-tinggi telah menjanjikan bahwa setelah kegelapan malam, maka saat untuk memancarkan cahaya yang cemerlang pasti akan segera tiba dan kemudian keagungan serta keluhuran dari Nabi Suci s.a.w. akan bersinar ke segenap penjuru dunia dengan intensitas yang lebih tinggi dibanding masa-masa awal sebelumnya. Sungguh, pertanda akan hal ini telah menjadi jelas ketika keindahan dari prinsip-prinsip Islam telah memukau hati umat di negara-negara Kristiani sedemikian rupa hingga Bernard Shaw, seorang filsuf ateis, terpaksa mengakui bahwa bila Nabi Suci kembali hidup di dunia ini, maka seluruh masalah dunia akan terpecahkan di bawah kepemimpinannya. Hal ini tak akan ada artinya untuk diteriakkan karena hal ini hanyalah permulaan. Betapa nyamannya peristiwa-peristiwa yang menyusul kemudian setelah dengan jelas diumumkan dalam ayat-ayat ini. Setelah ayat-ayat ini, Allah Ta’ala menyebut masa lalu Nabi sebagai perbandingan demi mengungkapkan kepada manusia bahwa Allah telah memelihara dan menolongnya sejak masa paling awal. Sekarang beliau adalah seorang Nabiyullah, dan dengan demikian beliau dalam kepak

sayap kecintaan dan bantuan dari Tuhannya. Dengan perkataan lain, seolah-olah Allah Yang Maha-tinggi, memberi pengarahan  kepada Nabi Suci sebagai berikut: ”Dari saat kelahiranmu bahkan ketika engkau belum menjadi seorang nabi hingga saat ini, Aku selalu melindungi dan menyokongmu. Aku menolongmu melalui setiap kesulitan dan memenuhi segala kebutuhanmu serta merahmati usahamu dengan kemajuan yang terus-menerus serta merubah keadaanmu dengan tak ternilai . Apakah kaukira bahwa Aku akan menghentikan aliran perlindungan dan kebapakan-Ku di masa depan?”

 

  1. Bukankah Ia menemukan engkau seorang anak yatim, lalu Ia memberi perlindungan?
  2. Dan Ia menemukan engkau meraba-raba, lalu Ia menunjukkan jalan yang benar.

 Sebelum menafsirkan ayat-ayat ini, perlu ditunjukkan di sini bahwa keterangan yang diberikan atas ayat ”Wa wajadka dallan fa hada” oleh beberapa Maulawi kita. (mereka berkata, bahwa ini berarti ”Kami (Allah) menemukan engkau (Nabi Suci) dalam kesesatan lalu memberi kamu petunjuk”), Ini benar-benar salah. Memang benar bahwa kata dall itu berarti jalan yang sesat, tetapi ini bukan arti satu-satunya. Ini juga berarti sebagai berikut ini: ”meraba-raba dalam pencarian” dan ”kehilangan cinta kepada”, sebagaimana Qur’an Suci sendiri menyatakan mengenai Nabi Yakub: ”Innaka fi dalalatikal qadim” (Sesungguhnya engkau berada dalam kesesatan dikau yang dahulu”) (12:95).Di sini, rujukan ini menyangkut kecintaan yang besar dari Nabi Yakub kepada puteranya, Nabi Yusuf. Begitu pula, kita dapati ungkapan dalam bahasa Arab: Dallal ma’u fil labani (Air itu hilang dalam susu). Bagaimana pun, seseorang dapat tetap mempertanyakan mengapa kita merasa wajib untuk menolak arti kata dall sebagai jalan yang sesat, dan memilih dua arti yang lain tersebut di atas. Qur’an Suci sendiri menyajikan data pendukung yang menonjol atas penafsiran yang kita pilih ini ketika difirmankan: ”Ma dalla sahibukum wa ma ghawa”(Kawan kamu tidaklah sesat, dan tidak pula menyimpang -53:2). Lagi pula, pertimbangkanlah seruan Nabi Suci pada waktu umatnya menginginkan dia merubah Qur’an Suci: ”Sesungguhnya aku hidup di tengah-tengah kamu bertahun tahun sebelumnya”(10:16).

Dengan pada kata lainnya lagi, beliau bertanya kepada mereka: ”Katakan padaku, kesalahan apa yang telah kulakukan sepanjang hidupku?” Jika sebuah kitab tanpa ragu menyatakan ke dunia bahwa Nabi Suci s.a.w., yang hidup siang dan malam di hadapan umatnya dan tidak melakukan satu kesalahan pun, dan bahkan lebih jauh lagi menantang mereka kalau bisa menemukan sedikit pun penyimpangan dari pihak Nabi s.a.w., lalu bagaimana bisa kitab yang sama bertentangan dalam dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa:”Engkau (Nabi Suci) dalam kesesatan (salah jalan) dan kemudian Kami memberi petunjuk (ke jalan yang benar)?”. Keterangan ini jelas salah sepenuhnya dan arti yang benar dari ayat ini adalah: ” Engkau meraba-raba dalam mencari Aku atau engkau hilang dalam kecintaan kepada-Ku maka Aku membimbingmu kepada tujuan yang kau inginkan”. Dengan perkataan lain, engkau telah menemukan Yang kau-Kasihi, yakni Allah, dan engkau telah berhasil dalam mendapatkan persetujuan-Nya”.

Dalam ketiga ayat di atas, Allah telah menyebutkan tiga keadaan Nabi Suci s.a.w. Pertama, masa kanak-kanak dimana beliau yatim-piatu dan telah kehilangan kasih-sayang dan kelembutan pemeliharaan oleh kedua orang tuanya. Namun, Allah Sendiri, telah mengambil dia dalam pemeliharaan dan perlindungan-Nya, dan bukti melimpah yakni dalam pertumbuhan alami Nabi sendiri. Meskipun beliau tinggal sendirian di muka bumi ini dan secara umum biasanya dalam keadaan seperti seorang anak akan menyerap kebiasaan dan moral yang baik itu terabaikan; tetapi tidak demikian halnya dengan akhlak Nabi Suci s.a.w. sebab nampaknya Allah Sendiri yang bertanggung-jawab dalam mengukir peri laku dan keluhuran budi  beliau. Maka, jauh dari keadaan terabaikan, bahkan demikian luhur akhlak beliau perkembangannya sehingga tak ada tandingannya di dunia ini. Segi lain yang disebutkan di sini ialah bahwa di pusat penyembahan berhala, dalam buaian jahiliyah, kemesuman dan kondisi amoral yang berkembang, dikota dimana suara pengabdian kepada Tuhan Yang-esa senyap,  Nabi Suci s.a.w. merasuk dalam hatinya kecintaan dan pencarian kepada Allah, melibatkan diri dalam ibadah serta disiplin keagamaan didalam gua dipegunungan adalah sebagai peristiwa yang sangat menakjubkan dan mengherankan sehingga hal itu dengan jelas menggelar daya dan pengaruh menyeluruh yang terserap dari Ilahi.

Sebagai tambahan, Allah tak pernah memperkenankan pencinta kebenaran ini terantuk, tetapi Dia Sendiri yang membimbingnya ke tujuan yang didambakan, serta menyinari kehidupannya lewat Persahabatan-Nya. Allah Ta’ala kemudian berbicara mengenai perkembangan pribadi dan kesempurnaan ruhaninya setelah masa remajanya. Mengacu sesudahnya pada kesulitan duniawinya, Dia berfirman bahwa Dia telah menemukan beliau dalam kekurangan lalu memberinya berkelimpahan. Dengan kata lain, Dia membebaskannya dari kegelisahan akan kebutuhan dasar lahiriah dan menjadikan

beliau seorang yang berada melalui perdagangan. Tambahan lagi, perkawinannya dengan Sitti Khadijah menjamin kestabilan finansialnya yang membebaskan dirinya dari kecemasan menyangkut kebutuhan hidup sehingga beliau dapat mengabdikan perhatiannya tanpa terpecah kepada apa yang paling didambakannya – menjalin ikatan dengan Penciptanya dan menunjukkan kasih-sayang kepada makhluk-Nya.

Jika kita renungkan dalam-dalam kita akan melihat bahwa mengenai manusia itu ada tiga kesulitan yang dapat menimpanya, dan bila ini bisa diangkat, maka dia dapat memperhitungkan dirinya sebagai orang yang beruntung luar-biasa. Hal tersebut adalah: pemeliharaan dan pengembangan yang tepat di waktu kanak-kanak, pengembangan moral yang tinggi serta pembinaan ibadah kepada Ilahi sesudah remaja; dan tersingkirnya beban finansial sehingga bisa mendatangkan keadaan suka-cita dan kemudahan kelak dikemudian hari.

Nabi Suci s.a.w. mengalami penderitaan ini hingga tingkatan tertinggi – di masa kanak-kanaknya beliau telah menjadi yatim-piatu sehingga karenanya beliau terpisah dari pendukung terbaik yang dapat diperoleh dari seorang anak, yakni, orang tuanya; setelah remaja beliau terpaksa tinggal di lingkungan yang politeis dan terpuruk, belakangan beliau harus menahan keadaan darurat finansial yang paling menegangkan karena beliau tidak memiliki modal maupun properti.

Meskipun demikian, pemecahan atas kesulitan hidup beliau ini menyajikan suatu kesaksian yang benderang atas fakta bahwa dari sejak sangat awal pemeliharaan serta penyantunan beliau berada di pangkuan Yang Maha-kuasa. Dalam keadaan yatim piatu, pemeliharaan dan pendewasaan yang diterimanya berjalan untuk mengembangkan kemampuan alami serta akhlaknya hingga batas yang tertinggi; setelah remaja, berlawanan dengan norma masyarakat yang umum berlaku, beliau dicelup dengan keyakinan akan Keesaan Ilahi, dan diberkahi dengan ilmu Ilahiah yang dalam serta kecintaan yang sangat kepada Tuhan Yang Maha-kuasa hingga tingkat yang paling tinggi; beliau tidak memiliki kekayaan maupun properti, namun keadaannya diubah dari kekurangan menjadi kemudahan. Semua ini membentuk bukti yang tak terbantah atas pertolongan dan kemurahan Ilahi.

Namun, ini hanyalah satu aspek dari rahmat Ilahi. Ada segi lain bagi mereka yakni segi spiritual. Kita telah menerangkan berulang-kali sebelum ini bahwa keadaan yatim itu merujuk kepada seseorang yang benar-benar sendiri di dunia ini bahkan tanpa seorang pendamping atau kawan. Jadi ayat “Bukankah Ia menemukan engkau seorang anak yatim, lalu Ia memberi perlindungan?” merujuk keadaan Nabi Suci pada saat beliau mengerjakan semuanya sendiri, beliau berusaha membangun keyakinannya kepada Tuhan Yang-esa dan diajari ilmu Ilahiah, ketulusan dan kebajikan. Tetapi dia tidak mempunyai teman atau pun penolong ataupun sahabat dalam tugasnya, atau pun memiliki suatu sarana guna memenuhi dambaan hatinya. Lalu Allah datang membantunya dan menunjuknya sebagai seorang nabi, dan mengambil beliau dibawah sayap-Nya Dia siaga untuknya dan membentenginya dari bahaya di saat beliau sendirian di dunia tanpa teman atau pun penolong. Ayat: “Dan Ia menemukan engkau meraba-raba, lalu Ia menunjukkan jalan yang benar?’ menunjukkan fakta bahwa ketika dunia ini sepenuhnya tenggelam dalam kesesatan dan penyelewengan serta Nabi Suci tidak melihat jalan bagaimana beliau bisa menyiarkan petunjuk-Nya, maka Allah Ta’ala , melalui wahyu Ilahi, membuka jalan baginya sehingga beliau dapat menyiarkan kebenaran dan petunjuk ke seluruh dunia serta menegakkan Keesaan Allah.

 

  1. Dan Ia menemukan engkau orang kekurangan, lalu Ia mencukupi engkau.

 Ayat ini mengingatkan Nabi Suci bahwa beliau tidak terdidik dan tuna-aksara tetapi tugasnya yang menggunung menuntut tingkat ilmu dan hikmah yang tinggi. Namun, meskipun beliau tertinggal dalam pendidikan, Allah menganugerahkan ilmu dan hikmah, bukti dan argumentasi kepadanya dengan berlimpah-ruah yang mampu membuat beliau mengatasi segala kredo palsu. Menyangkut keberuntungan ini, Qur’an Suci menyatakan: ”Dan barang siapa diberi hikmah, dia itu sebenarnya diberi banyak kebaikan”(2:269).

Pendeknya, Allah Yang Maha-murah menyantuni beliau dari segala kemungkinan. Sejak kelahirannya, apa pun kesulitan hidup yang merintangi jalannya, Allah ada di sana untuk menyokongnya dengan pertolongan dan perlindungannya, bahkan dengan menunjukkan mukjizat untuk menyingkirkan kesulitannya. Di saat beliau menjadi yatim-piatu, Allah memelihara dan merengkuh dalam pangkuan KemurahanNya. Setelah dewasa, di saat timbul kebutuhan akan petunjuk keimanan dan ilmu Ilahi, maka Allah membuat beliau mampu melintasi setiap tahap spiritual dengan penuh sukses, satu demi satu, dan kemudian dia mampu mencapai setiap obyek yang diinginkannya.

Pada waktu kelangkaan finansial terjadi, Allah mengubah keadaannya dari kekurangan dan kemelaratan menjadi kemudahan dan kemakmuran. Di saat hatinya terbakar untuk mereformasi dunia, Allah berdiri di dekat dia, yang sedang kesepian dan tanpa daya serta mengarunianya dengan mantel khataman Nabiyyin. Dia menjadi perisai dan pelindungnya. Pada saat tidak ada sarana yang kelihatan guna menyibak gelap-gulitanya jahiliyah dan politeisme serta tak ada metode di bumi ini yang memberi reformasi serta petunjuk, lalu Allah mengaruniai hadiah wahyu Ilahi  kepadanya. Di saat tugas yang menggunung ini membutuhkan ilmu, hikmah serta sumber daya materi, Dia menganugerahinya ilmu yang tak terbatas dan memberinya keberlimpahan untuk menggantikan segala macam kekurangannya. Sungguh, setiap keadaan yang kemudian itu jauh lebih baik dari yang terdahulu. Setelah setiap kesukaran, pada saat kemudahan menampakkan diri, maka itu mengandung hadiah seribu kali lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Maka kita juga bisa menyandarkan keyakinan kita atas janji Allah di masa depan – bahwa cobaan dan guncangan adalah kebutuhan hidup dan tak ada yang bisa mencegah terjadinya.

Namun, setelah setiap masa bencana dan kemerosotan, akan datang suatu saat yang lebih produktif untuk seterusnya buat Nabi Suci s.a.w. karena Allah tidak akan pernah meninggalkannya atau marah kepadanya. Pendeknya, bila demikianlah asma Allah yang pengasih dan penyayang, maka manusia juga harus menyerap sifat mulia yang cemerlang ini dalam dirinya dan mencelup dirinya dengan warna-warni

ini. Dengan kata lain, apa pun juga rahmat yang kita mohonkan dan harapkan dari Allah, seterusnya harus kita limpahkan kepada yang lain sehingga itu bisa menjadi sarana untuk menarik lebih banyak lagi karunia dan rahmat samawi.

 

  1. Oleh karena itu terhadap anak yatim, janganlah engkau sewenang-wenang.

 Barangsiapa yang tidak memperlakukan anak yatim dengan kasar tetapi menyantuninya dengan kasih-sayang maka akan menemukan Allah besertanya dalam masa-masa kesepian dan tanpa daya serta bahkan lebih dari itu, Allah akan mengambilnya di bawah pemeliharaan-Nya sendiri.

 

  1. Dan terhadap orang yang bertanya, janganlah engkau membentak.

 Ayat ini, juga membuat terang bahwa dall sesungguhnya berarti ”mencari rahmat Allah” dan ”mendambakan dan memohon jalan untuk petunjuk bagi umat manusia” dan dengan demikian tidak bisa diartikan sebagai ”tersesat”. Dengan perkataan lain, sa’il (pencari) itu sinonim dari dall (meraba-raba dalam pencarian). Jadi, bila kita tidak marah terhadap seorang yang bertanya, maka Allah juga tidak

akan menolak permohonan kita dan Dia bahkan akan menghadiahi kita dengan suatu tempat di majelis-Nya.

 

  1. Dan tentang kenikmatan Tuhan dikau, umumkanlah.

 Barang siapa yang mengumumkan rahmat Tuhannya dia akan menerima dua keuntungan. Pertama, ketika hal-hal yang baik mendatanginya maka dia, tidak seperti orang-orang lain, tak akan jatuh menjadi korban kesombongan, kebanggaan ataupun puas diri. Sebaliknya, dia tak akan pernah lupa akan Tuhannya dan dengan demikian tetap memperkuat ikatan kasih-sayang antara dirinya dengan Pencipta dan Pemeliharanya.

Selanjutnya, dia merasa iba terhadap yang berkekurangan seperti dia sendiri yang merasakannya dan dalam hatinya tergerak dengan keinginan yang kuat untuk merubah keadaan mereka tu. Adalah suatu fakta yang di akui bahwa bila seseorang itu mewarnai dirinya dengan asma tertentu dari Allah dan dengan itu dia menunjukkan kasih-sayangnya kepada sesama sesuai dengan asmaNya itu, maka kemudian asma Allah itu akan terpateri di hati hamba-Nya. Misalnya, jika seseorang itu memenuhi kebutuhan dari si miskin maka Allah sebagai balasan akan memenuhi kebutuhan orang itu. Ini disebutkan dalam Hadist dan mengacu hal ini maka penyair yang terpuji, Hali, menulis bait-bait berikut ini:

 

Bila engkau sayang kepada mereka yang di bumi

Allah di Surga Yang-tinggi akan sayang kepadamu.

 Keuntungan kedua yang terbit dari mengumumkan kenikmatan dari Allah yakni bahwa bila seseorang itu dianugerahi dengan ilmu dan hikmah, maka dia akan menemukan bahwa kemakmurannya pun bertambah. Dengan kata lain, ilmunya sendiri akan berkembang, dan orang-orang lain pun juga akan menerima dengan melimpah ilmu dan hikmah ini dan di waktu mereka mendengar kenikmatan yang menakjubkan dari Allah seperti yang diumumkan, maka hal itu akan menumbuhkan dalam hati mereka suatu kegairahan untuk mengembangkan hubungan dengan Allah.

Dalam tiga ayat sebelumnya, Allah telah meminta untuk memperagakan tiga karakteristik moral sebagai balasan atas karunia dari-Nya; yakni tiga macam kebajikan dan rahmat sehingga dia bisa masuk kualifikasi untuk memperoleh peningkatan karunia dan kemurahan dari Allah. Ketika melalui kualitas Rahmaniyyat-Nya, Allah member demikian banyak hadiah anugerah kepada manusia lalu mengapa manusia tidak menggunakan karunia ini untuk memperoleh lebih banyak lagi rahmat yang akan mengalir sebagai konsekwensi dari asma Allah Rahmaniyyat?

Keterangan dari tiga rahmat yang didambakan ini telah disebutkan di atas. Betapa pun, tersembunyi di dalamnya adalah secara tak langsung ada tiga titik yang mendalam dan cerdas. Dalam ayat: ”Oleh karena itu terhadap anak yatim, janganlah engkau sewenang-wenang”, Allah menekankan hal berikut ini kepada mereka yang menolak: ”Janganlah engkau berlaku kasar kepada nabi Suci s.a.w. karena engkau mengira bahwa dia itu yatim-piatu yang tak berdaya. Dia itu yatim-piatu yang dilindungi Allah. Maka jangan kaukira bahwa dia itu sendirian”. Yang digaris bawahi dalam pesan ini pada ayat berikutnya: ”Dan terhadap orang yang bertanya, janganlah ngkau membentak”, ialah bahwa Nabi Suci itu ”memohon kepada Allah untuk memberimu petunjuk dan membujukmu agar kalian merombak dirimu”. Maka beliau adalah seorang peminta yang tidak memohon apa pun untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, segala sesuatu yang dimintanya adalah demi reformasi dan kemajuan kalian.

Akhirnya, ayat berikutnya, ”Dan tentang kenikmatan Tuhan dikau, umumkanlah”, berisi pesan yang cerdas: Hadirnya pribadi ini, yakni Nabi Suci s.a.w., adalah rahmat dari Allah, dan petunjuk yang dibawakan untukmu, yakni Qur’an Suci, adalah hadiah yang merupakan mukjizat tak ternilai dari Allah. Anda harus menerimanya dengan penuh syukur dan mengumumkan kepada orang-orang lain sehingga mereka juga bisa menerima manfaatnya dari Allah.

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra, Sulardi Np.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: