Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (V)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Wahai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh. Boleh jadi Tuhan kamu akan menyingkirkan dari kamu keburukan kamu dan memasukkan kamu dalam Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, pada hari yang Allah tak merendahkan derajat Nabi dan orang-orang beriman dengannya. Cahaya mereka akan memancar di hadapan mereka di kanan mereka; mereka berkata: Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami, dan berilah kami perlindungan, sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu” (66:8)

Hur sebagai nikmat Sorga

Kesimpulan yang diperoleh dari Hadits dikuatkan oleh Qur’an Suci. Gambaran tentang hur yang diberikan oleh Qur’an Suci melukiskan bahwa hur itu seorang perempuan yang baik sifatnya, suci kelakuannya, indah rupanya, muda usianya, tak jelalatan matanya, cinta kepada suaminya. Andaikan hur itu salah satu bentuk nikmat Sorga, dan bukan perempuan dari dunia ini, namun nikmat itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan. Seperti halnya taman, sungai, susu, madu, buah-buahan dan nikmat-nikmat Sorga lainnya, semua itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan, maka demikian pula hur. Apakah sebenarnya nikmat Sorga itu? Ini tak ada orang yang tahu, tetapi seluruh gambaran Sorga yang diuraikan dalam Qur’an, menolak adanya pengertian bahwa nikmat Sorga itu ada sangkut pautnya dengan kepuasan hawa nafsu. Kini timbullah pertanyaan, mengapa nikmat itu dilukiskan dengan gambaran perempuan? Jawabannya ialah, karena ganjaran yang akan diberikan di Sorga itu mempunyai ciri-ciri kesucian dan keindahan, maka jika nikmat itu digambarkan dengan kesucian dan keindahan, itu adalah lambang feminin dan bukan lambang kejantanan atau maskulin.

Anak-anak di Sorga
Apa yang berlaku bagi perempuan, berlaku pula bagi ghilman (anak-anak). Di satu tempat, Qur’an Suci menerangkan bahwa di Sorga terdapat ghilman (jamaknya kata ghulam, artinya anak), dan di tempat lain bukan disebut ghilman, tetapi wildan (jamaknya kata walad, artinya anak laki-laki atau anak). Qur’an berfirman: “Dan di sekeliling mereka berjalan anak-anak (ghilman) mereka bagaikan mutiara yang tersembunyi” (52:24). “Dan di sekeliling mereka berjalan anak-anak (wildan) yang usianya tak akan mengalami perubahan”
(56:17; 76:19). Dalam ayat pertama mengandung arti bahwa anak-anak yang disebut ghilmanul-lahum, artinya anak-anak mereka. Dalam Qur’an diuraikan seterang-terangnya bahwa Allah “akan mengumpulkan mereka (orang-orang bertaqwa) dengan keturunan mereka” (52:21). Di tempat lain dalam Qur’an Suci diuraikan, bahwa keturunan orang yang bertaqwa akan dimasukkan ke Sorga bersama-sama mereka (40:8). Jadi, ghilam maupun wildan adalah anak-anak yang meninggal dunia pada waktu mereka masih kecil. Akan tetapi ada kemungkinan pula bahwa ghilman dan wildan itu salah satu nikmat Sorga seperti halnya perempuan yang menjadi lambang kesucian dan keindahan.

Tempat tinggal yang damai
Bagi mereka yang membaca Qur’an, pasti akan melihat bahwa gambaran Sorga yang dilukiskan dalam Qur’an Suci tak membenarkan samasekali adanya pengertian tentang pemuasan hawa nafsu. Berikut ini kutipan ayat yang menerangkan sifat-sifat Sorga yang sebenarnya:
“Allah menjanjikan kepada kaum mukmin laki-laki maupun perempuan suatu Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, agar mereka menetap di sana, dan tempat tinggal yang baik di Taman yang kekal. Dan yang paling besar ialah perkenan (ridla) Allah. Inilah kebahagiaan yang besar” (9:72).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik, Tuhan mereka akan memimpin mereka dengan iman mereka; di bawah mereka mengalir sungai-sungai di Taman kenikmatan. Do’a mereka di sana ialah: Maha-suci Engkau wahai Allah. Dan penghormatan mereka di sana ialah: Salaam. Dan do’a mereka yang terakhir ialah: Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam” (10:9-10).
“Penghormatan mereka di sana ialah: Salam!” (14:23).
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam Taman dan air mancur. Masuklah di sana dengan damai dan aman. Dan Kami akan mencabut dendam kesumat yang ada dalam dada mereka, mereka akan menjadi seperti saudara, (duduk) di atas bangku, berhadap-hadapan. Di sana mereka tak akan terkena lelah, dan mereka tak akan diusir dari sana” (15:45:48).
“Dan mereka berkata: Segala puji kepunyaan Allah yang telah menghilangkan kesusahan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami Maha-pengampun, Yang melipatkan ganjaran, Yang atas karunia-Nya Dia menempatkan kami di rumah yang kekal. Di sana kami tak akan letih, dan tak akan pula lelah” (35:34-35).
“Di sana mereka akan mendapat buah-buahan, dan mereka akan mendapat apa yang mereka inginkan. Salaam Firman dari Tuhan Yang Maha-pengasih” (36:57-58).
“Masuklah di sana dengan damai. Itulah hari nan abadi. Di sana mereka akan mendapat apa yang mereka kehendaki, dan di sisi Kami masih tersedia banyak lagi” (50:34:35).
“Di sana mereka tak akan mendengar cakap dan pembicaraan dosa, selain ucapan: Damai, Damai!” (56:25-26).
Sesuai dengan lukisan Sorga tersebut di atas, salah satu nama Sorga yang disebutkan dalam Qur’an Suci ialah darus-salam, artinya tempat tinggal nan damai. (6:128; 10:25).

Liqaullah (pertemuan dengan Allah)
Tujuan terakhir hidup manusia ialah liqaullah artinya bertemu dengan Allah. Dalam salah satu Surat yang diturunkan paling awal, terdapat ayat yang berbunyi: “Wahai manusia! Sesungguhnya engkau harus berusaha keras untuk mencapai Tuhan dikau, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (84:6). Tetapi tujuan itu tak akan sampai sepenuhnya di dunia. Hanya di Akhirat sajalah manusia dapat mencapai tingkatan itu. Oleh sebab itu, orang yang mendustakan kehidupan Akhirat dikatakan oleh Qur’an sebagai orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Qur’an berfirman: “Dan mereka berkata: Apakah jika kita telah lenyap dalam tanah, akan dijadikan ciptaan baru? Sebaliknya, merekalah yang mengafiri pertemuan dengan Tuhan mereka” (32:10). Berkali-kali Qur’an Suci mencela orang-orang yang puas dengan kehidupan dunia dan tak menghiraukan tujuan hidup yang tinggi. Qur’an berfirman: “Sesungguhnya orang yang tak mengharapkan bertemu dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tentram dengan itu, dan orang yang lalai terhadap ayat-ayat Kami, mereka itu tempat tinggalnya ialah Neraka” (10:7-8). “Tetapi orang yang tak mengharapkan bertemu dengan Kami, Kami biarkan mereka dalam kesewenang-wenangan mereka, membabi-buta semau-maunya” (10:11). “Dan orang-orang yang mengafiri ayat-ayat Allah dan mengafiri pertemuan dengan Dia, mereka merasa putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka mendapat siksa yang pedih” (29:23). “Mereka tahu apa yang nampak di luar tentang kehidupan dunia, tetapi mereka lalai terhadap kehidupan Akhirat. Apakah mereka tak merenungkan dalam diri mereka sendiri? Allah tak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan benar dan untuk jangka waktu yang telah ditetapkan. Dan sungguh kebanyakan manusia mengafiri pertemuan dengan Tuhan mereka” (30:7-8).
Hanya orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, akan bekerja dengan tekun untuk mencapai tujuan yang tinggi itu. Qur’an berfirman: “Dan mohonlah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya ini berat, kecuali bagi orang yang rendah hati. Yaitu orang yang tahu bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan mereka akan kembali kepada-Nya”(2:45-46).
Pertemuan dengan Tuhan adalah tujuan tertinggi yang harus dicapai, yang harus dilakukan dengan mengerjakan segala amal perbuatan baik. Qur’an berfirman: “Oleh karena itu, barangsiapa berharap akan bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan perbuatan baik, dan tak menyekutukan sesuatu pun dalam mengabdi kepada Tuhannya” (18:110). Bukankah yang disebut Neraka itu karena terasing dari Tuhan? Qur’an berfirman: “Tidak! Malahan apa yang mereka usahakan hanyalah karat yang ada pada hati mereka. Tidak! Pada hari itu mereka akan terasing dari Tuhan mereka, lalu mereka akan masuk di Neraka yang menyala” (83:14-16). Oleh karena itu, Sorga adalah tempat pertemuan dengan Allah, dan kehidupan Sorga adalah di atas segala angan-angan jasmaniah.

Kemajuan dalam kehidupam tinggi di Akhirat
Itu barulah permulaan kehidupan tinggi di Akhirat. Tujuan itu sudah tercapai, tetapi itu baru hanya pintu masuk menuju lapangan kemajuan yang lebih luas lagi. Jika di lapangan kehidupan jasmani, manusia diberi kemampuan besar untuk menuju kepada kemajuan yang tak ada batasnya, maka dengan tercapainya kehidupan tinggi di Akhirat, kemajuan tidaklah terhenti sampai di situ. Sesuai dengan pengertian Hari Kebangkitan sebagai permulaan dari kehidupan tinggi di Akhirat, Qur’an Suci menerangkan kemajuan yang tak ada habis-habisnya bagi orang tulus di Akhirat, yang selalu akan meningkat menuju kepada kehidupan yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Ketentraman dan kesenangan bukanlah tujuan hidup manusia. Sebagaimana dalam jiwa manusia tertanam keinginan untuk mencapai kemajuan yang tinggi dan lebih tinggi lagi selama hidup di dunia, demikian pula manusia di Sorga juga mempunyai keinginan semacam itu. Qur’an berfirman: “Wahai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh. Boleh jadi Tuhan kamu akan menyingkirkan dari kamu keburukan kamu dan memasukkan kamu dalam Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, pada hari yang Allah tak merendahkan derajat Nabi dan orang-orang beriman dengannya. Cahaya mereka akan memancar di hadapan mereka di kanan mereka; mereka berkata: Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami, dan berilah kami perlindungan, sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu” (66:8). Bagian pertama ayat tersebut menerangkan, bahwa segala keburukan akan disingkirkan dari orang yang masuk Sorga; dan bagian terakhir dari ayat tersebut menerangkan, bahwa jiwa orang tulus selalu dihayati dengan keinginan untuk diberi nur (cahaya) yang sempurna dan lebih sempurna lagi, yang ini jelas menunjukkan adanya keinginan untuk mencapai kehidupan rohani yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Dan di Sorga, setiap keingian pasti dipenuhi. Qur’an berfirman: “Mereka di sana akan mendapat buah-buahan, dan mendapat apa yang mereka inginkan” (36:57). Maka dari itu, keinginan untuk mencapai keinginan kehidupan yang tinggi dan lebih tinggi lagi, pasti akan dipenuhi. Qur’an berfirman: “Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan mereka, mereka akan mendapat tempat yang tinggi; di atas itu ada tempat yang lebih tinggi lagi yang dibangun untuk mereka” (39:20). Jadi kehidupan tinggi yang diberikan kepada orang-orang tulus di Sorga, hanyalah babak permulaan bagi kemajuan baru, yang ini akan dilanjutkan menunju ke tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Dalam mencapai kehidupan yang tinggi itu, manusia tak akan merasa lelah, karena di Sorga manusia “tak akan letih dan tak pula akan lelah” (35:35). “Dan mereka tak akan diusir dari sana” (15:48). Jadi, kesenangan di Sorga adalah kesenangan sejati.

Berbagai sebutan Neraka
Dalam Qur’an Suci, Neraka dilukiskan dengan tujuh macam nama, dan tujuh macam nama ini oleh sebagian ulama disangkanya tujuh macam Neraka. Yang paling sering disebut dalam Qur’an ialah Jahanam, seakan-akan ini adalah nama yang sebenarnya bagi Neraka. Kata jihinnam, artinya kelewat dalam, dan kata bir’un jahannamun artinya sumur yang bukan main dalamnya (LA). Nama Neraka selanjutnya yang mempunyai arti seperti itu, tetapi hanya sekali saja disebutkan dalam Qur’an Suci, ialah hawiyah (101:9), artinya jurang atau tempat yang dalam yang dasarnya tak dapat dicapai (LA), akar katanya ialah hawa, artinya jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang dalam; oleh sebab itu, kata hawa berarti pula keinginan yang rendah (R). Empat nama Neraka yang lain, dikias dari api yang panas, yaitu (1) jahim, berasal dari kata jahm artinya api yang menghanguskan; tetapi kata jahmun diterapkan terhadap sengitnya pertempuran maupun berkobar-kobarnya api yang menyala; kata tajaahhama, yang digubah menurut wazan yang lain dari akar kata yang sama, berarti berkobar-kobar keinginannya yang luar biasa atau ketamakan dan kekikirannya luar biasa, dan berarti pula ia menjadi sempit budinya (LL). (2) Sa’ir berasal dari kata sa’r artinya api yang menyala, dan secara kias diterapkan terhadap mengamuknya pertempuran (R), sedangkan kata su’ur digunakan oleh Qur’an dalam arti kesengsaraan (54:24). (3) Saqar berasal dari kata saqara artinya teriknya matahari menghanguskan orang (R). (4) Lazha artinya nyala api. Kata talazhzha, satu bentuk yang digubah dari akar kata yang sama, digunakan secara kalam ibarat dalam arti berkobar kemarahannya (LA). Nama Neraka yang nomor tujuh ialah huthamah yang hanya tercantum dua kali saja dalam Qur’an Suci (104:4 dan 5); kata huthamah berasal dari kata hatham, artinya mematahkan sesuatu, dan berarti pula istirahat atau menjadi lemah karena faktor usia, sedang kata huthamah artinya api yang besar; ada pula kata huthamah yang berarti tak subur (LL). Dalam ayat 57:20 tercantum kata hutham yang berasal dari akar kata yang sama, yang artinya tumbuh-tumbuhan yang menjadi kering dan rusak.

Neraka adalah perwujudan hal-hal yang serba rohani
Dari uraian tersebut, terang sekali bahwa berbagai nama Neraka mengandung tiga macam pengertian: (1) jatuh dari tempat yang amat tinggi; (2) hangus terbakar, dan (3) hancur lebur. Sebagaimana pengertian tentang kehidupan yang tinggi dan lebih tinggi lagi selalu dihubungkan dengan kehidupan Sorga, demikianlah pengertian tentang jatuh di tempat yang bukan main dalamnya selalu dihubungkan dengan kehidupan Neraka; dan sebagaimana pengertian tentang kepuasan dan kebahagiaan selalu dihubungkan dengan Sorga, demikian pula pengertian tentang hangus terbakar selalu dihubungkan dengan Neraka, yang ini tiada lain hanyalah akibat menyala-nyalanya hawa nafsu di dunia, dan akhirnya, sebagaimana pengertian tentang hidup yang berhasil itu selalu dihubungkan dengan Sorga, demikianlah hidup di Neraka selalu digambarkan sebagai kehidupan yang tak pernah berhasil. Semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Karena manusia selalu menuruti keinginan rendahnya dan nafsu kebinatangannya, maka menjadikan dirinya jatuh ke dalam jurang yang amat dalam. Nyala yang disebabkan karena menuruti kemauan hawa nafsu dan keinginan duniawi, di Akhirat akan berubah menjadi api yang menyala-nyala. Oleh karena keuntungan duniawi belaka yang ia kejar selama hidup di dunia, maka di Akhirat, ia tak dapat memetik buah amal salehnya. Sebagaimana nikmat Sorga itu perwujudan dari segala realitas yang terpendam di dunia, demikianlah tempat yang dalam, api yang menyala, dan tak keberhasilan di Akhirat, adalah manifestasi dari segala realitas yang terpendam di dunia pula. Hari Kebangkitan adalah saat terbabarnya segala realitas yang tersembunyi (86:9), tatkala tabir yang menghalang-halangi mata manusia disingkirkan, sehingga ia akan melihat seterang-terangnya segala akibat perbuatannya, siksaan batin dan perasaan pedih yang biasanya tak terasa di dunia, akan sungguh-sungguh terasa di Akhirat.
Dalam menjawab pertanyaan, apakah Neraka itu? Qur’an Suci terang-terangan mengatakan bahwa Neraka itu “api yang dinyalakan oleh Allah yang menjilat-jilat di hati” (104:6-7). Nah, api yang menjilat-jilat di hati adalah hati yang panas dikarenakan menuruti kemauan hawa nafsu yang tak terkendali. Penyesalan yang disebabkan oleh perbuatan dosa, juga disebut Neraka. Qur’an berfirman: “Demikianlah Allah memperlihatkan perbuatan mereka amat menyesalkan mereka, dan mereka tak dapat keluar dari Api” (2:167). Ahawa atau keinginan rendah yang seringkali merintangi manusia untuk mencapai tujuan hidup yang tinggi dan mulia di dunia, akan terbabar di Akhirat menjadi hawiyah ataun jahannam, yang orang-orang jahat akan jatuh ke sana. Selanjutnya Qur’an berfirman: “Maka dari itu, singkirilah kotornya berhala, dan singkirilah ucapan palsu, seraya patuh kepada Allah dengan tak menyekutukan siapa pun kepada Allah; dan barangsiapa menyekutukan Allah, ia seakan-akan jatuh dari atas” (22:30-31). Selanjutnya: “Katakan, apakah kami akan menyeru kepada sesuatu selain Allah, yang tak menguntungkan kita dan tak pula merugikan kita, dan (apakah) kita akan berbalik atas tumit kita setelah Allah memimpin kita? Seperti halnya orang-orang yang setan-setan membuatnya jatuh kebingungan di bumi” (6:71). Selanjutnya: “Dan barangsiapa tertimpa murka-Ku, ia pasti jatuh di tempat yang dalam” (20:81). Dan bagi mereka yang usahanya khusus dalam urusan dunia belaka, Qur’an berfirman: “(Yaitu) orang yang usahanya dalam kehidupan dunia akan rugi, dan mereka mengira bahwa mereka itu ahli dalam membuat barang-barang. Mereka itulah orang yang mengafiri ayat-ayat Tuhan mereka, dan mengafiri pula pertemuan mereka dengan-Nya, maka dari itu perbuatan mereka menjadi sia-sia, dan pada Hari Kiamat, Kami tak akan mengadakan neraca bagi mereka. Demikianlah pembalasan bagi mereka, yaitu Neraka” (18:104-106).
Walaupun Qur’an Suci berulangkali menyebut api sebagai pembalasan perbuatan jahat, yang nanti akan kami terangkan sebab-sebabnya, namun ada lagi beberapa aspek mengenai balasan perbuatan jahat. Misalnya firman Qur’an ini: “Bagi orang yang berbuat baik, mereka akan mendapat ganjaran yang baik dan yang lebih baik lagi. Hitam dan noda tak akan menyelubungi wajah mereka. Mereka itulah pemilik Taman; mereka akan menetap di sana. Adapun mereka yang berbuat jahat, hukuman suatu kejahatan adalah setimpal, dan kehinaan akan menimpa mereka. Mereka tak mempunyai apa pun yang bisa melindungi mereka dari Allah, seakan-akan wajah mereka tertutup oleh lapisan gelap gulitanya malam yang pekat. Itulah kawan Api; mereka akan menetap di sana” (10:26-27). Di tempat lain wajah yang hitam dikatakan sebagai siksa Neraka. Qur’an berfirman: “Pada hari tatkala wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah menjadi hitam. Adapun orang yang wajahnya hitam: Apakah kamu kafir setelah kamu beriman? Maka rasakanlah siksaan karena kamu kafir” (3:105). Dalam wahyu yang diturunkan lebih awal lagi, diuraikan: “Dan pada hari itu, wajah mereka penuh debu. Gelap gulita akan menutupinya. Mereka itu kafir, durhaka” (80:40-42).
Di beberapa tempat dalam Qur’an diuraikan, bahwa kehinaan adalah siksaan bagi orang-orang jahat. Firman-Nya: “Lalu pada Hari Kiamat, mereka akan Dia jatuhkan ke dalam kehinaan … Pada hari itu, kehinaan dan keburukan akan menimpa kaum kafir” (16:27). “Agar Kami icipkan kepada mereka hinanya siksaan dalam kehidupan dunia; dan siksaan di Akhirat itu lebih hina lagi, dan mereka tak akan ditolong” (41:16). Selanjutnya Qur’an menerangkan bahwa orang-orang yang ada di Neraka kadang-kadang minta air dan makanan kepada penghuni Sorga, dan para penghuni Neraka memanggil-manggil para penghuni Sorga, ucapnya: “Tuangkanlah kepada kami sedikit air atau sebagian dari apa yang telah Allah berikan kepada kamu” (7:50). Mereka sendiri mendapat bagian air, tetapi “air mendidih dan air yang sangat dingin sekali” (78:25). Di tempat lain dalam Qur’an dikatakan, mereka minta diberi cahaya: “Pada hari tatkala kaum munafik laki-laki maupun perempuan berkata kepada orang beriman: Tunggulah kami, agar kami dapat meminjam sebagian cahaya kamu. Jawab kaum mukmin: Kembalilah dan carilah cahaya” (57:13).

 

Berlanjut ke Serial Islamologi – Bab VI – Akherat (V)

Sumber: Islamologi, (The Religion of Islam) oleh Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: