TAFSIR SURAT (95) : AT-TIN (POHON ARA)

Oleh : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Kota Suci Mekkah. Dalam surat sebelumnya, Al-Inshirah (Kelapangan Dada), Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. bahwa reputasi beliau akan ditinggikan. Didalam surat ini, Allah menyatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, dan secara alami, dia memiliki bakat serta kemampuan tertinggi, dan untuk memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, dia harus menggunakan kemampuan dan sikapnya secara terukur. Jika kita memerlukan bukti, kita harus menengok kepada orang-orang yang memelihara potensi alamiah mereka sesuai dengan perintah Allah dan yang menjaga fitrahnya yang sejati pada prinsip moderat dan mencermati bagaimana ketinggian posisi yang bisa diraih dalam hidupnya. Ini adalah mereka yang Allah anugerahkan rahmat-Nya yang melangkah disepanjang jalan yang lurus yakni jalan para Nabi dan waliyullah.

Jadi, mereka yang mengembangkan bakat serta kemampuan yang diberikan oleh Allah Ta’ala akan mencapai suatu ranking sedemikian tinggi sehingga mereka dipandang dengan penuh kehormatan baik didunia maupun diakhirat, dan diantara mereka,  Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. serta Nabi Muhammad s.a.w. telah secara khusus disebut dalam surat ini dan kehadiran mereka sebagai ciptaan Allah yang terbaik telah ditonjolkan.

 

Terjemah dan Tafsir selengkapnya sebagai berikut:

  1. Demi pohon ara dan pohon zaitun!
  2. Dan demi gunung Sinai!
  3. Dan demi Kota ini yang aman!
  4. Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam (bentuk) ciptaan yang paling baik.

 

Tin berarti buah ara, dan di Palestina sebuah bukit juga dinamai demikian. Tur merujuk kepada gunung Sinai. Baladil amin berarti sebuah kota yang aman atau suatu kota dimana kepahlawanan demi kebenaran selalu diperhatikan, dan ini merujuk kepada Kota Mekkah.

Adalah suatu fakta bahwa Tur Sina dan baladil amin merujuk kepada suatu wilayah dimana nabi-nabi dibangkitkan untuk membawa risalah Allah dan demikianlah maka buah tinn (ara) dan buah zaitun diperlukan untuk merujuk negeri dimana nabi-nabi itu dibangkitkan. Pada saat Qur’an Suci diturunkan, dan bahkan hingga hari ini, pohon ara dan zaitun adalah buah-buahan yang tumbuh di Syria dan Palestina, dan baik jumlah maupun kualitasnya tak tersaingi oleh negeri-negeri lain di dunia ini. Maka bila tin dan zaitun dapat dijadikan perlambang yang diterapkan ke suatu daerah dimana nabi-nabi dibangkitkan, maka ini hanya bisa merujuk ke wilayah Syria dan palestina dimana buah-buahan ini berkembang.

Namun, beberapa peneliti berpendapat bahwa tin dan zaitun adalah dua bukit di Palestina, yang pertama adalah tempat mengungsi Nabi Ibrahim a.s. setelah lari dari kaumnya, dan yang kedua adalah tempat dimana Nabi Isa a.s. menerima wahyu kerasulannya. Jika benar demikian, maka lantas ini berarti bahwa tin adalah benar-benar bukit dimana Nabi Isa a.s. biasa melakukan khutbahnya dan mestinya disini dia memberi pidatonya yang termasyhur yakni Khutbah diatas Bukit yang sangat dibanggakan oleh kaum Kristiani. Dalam khutbah inilah dia menyeru para muridnya memberikan pipinya yang lain, dengan kata lain, mereka harus menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati yang total.

Bukit Zaitun adalah tempat dimana Nabi Isa dan banyak nabi-nabi Bani Israil yang lain melangsungkan ibadah dan khutbah. Dari sini kita dengan mudah dapat menyimpulkan, bahwa mungkin tin dan zaitun adalah bagian dari bukit itu yang telah disebutkan ramalannya dalam Taurat sebagai Seir, yang tertulis dalam Al-kitab sebagai berikut:

”Tuhan datang dari Sinai dan bangkit dari Seir kepada mereka. Dia bersinar dari Paran, dan dia datang dengan sepuluh ribu orang suci; dari tangan kanan-Nya keluar hukum yang keras buat mereka” (Kejadian 33:2)

Kutipan diatas berisi nubuatan yang jelas. Misalnya ”datangnya Tuhan dari Sinai” merujuk munculnya Nabi Musa a.s., ”bangkitnya dari Seir” berarti datangnya Nabi Isa a.s.; dan ”bersinarnya dari bukit Paran” meramalkan datangnya Nabi Suci Muhammad s.a.w. Paran (Faran) adalah perbukitan yang melingkari kota Mekkah. ”Hukum yang keras” merujuk kepada syariat Qur’an Suci dan ketika Nabi Suci Muhammad s.a.w. menaklukkan kota Mekkah maka beliau melakukannya bersama sepuluh ribu sahabatnya yang tulus, jadi jelas nubuat tersebut memenuhi ramalan:  ”Dia datang dengan sepuluh ribu orang suci”.

Suatu pertanyaan bisa timbul dalam pikiran para pembaca.  Sebagai ganti menyebut nama nabi-nabi, mengapa digunakan nama tempat dimana mereka muncul? Ini adalah kaidah keindahan dan metafor tinggi, sehingga untuk menambah kekuatan terhadap pernyataan itu, seringkali nama tempat digunakan padahal yang dimaksud sesungguhnya adalah nama orang. Misalnya, lihatlah apa yang ditulis oleh Mujaddid abad ini menyangkut syahidnya Sahibzada Abdul Latif di negeri Afghanistan:

”Tuhan menatap dengan penuh kemarahan ke kota Kabul”.

Di sini, Kabul tidak menunjuk kota itu sendiri, melainkan para penghuninya yang mengambil bagian dalam dosa kejahatan yang sangat mengerikan itu. (Abdul Latif dirajam hanya karena dia menjadi seorang Muslim Ahmadi, pengikut Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad – Pent).

Begitu pula, empat nama ini, tin (ara), zaitun, tur sinin (bukit Sinai) dan baladil amin (Mekkah), merujuk kepada munculnya empat Nabi besar dimana wahyu Ilahi diturunkan dan yang menjadi model kesempurnaan dan suri tauladan dari akhlakul karimah. Kata-kata tin (ara) dan zaitun diterapkan kepada Nabi Isa a.s. karena beliau memiliki suatu ciri khusus dimana ajaran dan sifatnya mewakili aspek keindahan dari kepribadian (jamali) seseorang yang merupakan dakwah yang harus dikembangkannya.

Sebaliknya, Bukit Sinai adalah tempat dimana Nabi Musa a.s. dianugerahi Hukum yang berisi ajaran serta contoh yang disiapkan untuk memelihara sifat manusia dari segi keperkasaannya .

Betapa pun, kota Mekkah adalah tempat dimana Nabi Suci Muhammad s.a.w. menerima petunjuk sempurna dalam bentuk Qur’an Suci yang terdiri dari ajaran serta contoh yang bermaksud untuk mengembangkan kedua aspek dalam diri manusia yakni keindahan maupun kegagahannya. Dengan perkataan lain, ajaran beliau tidak saja menekankan kebersahajaan serta kerendah-hatian seperti yang diajarkan dalam Injil, ataupun hanya berkonsentrasi pada aturan yang keras seperti dalam kasus Taurat.

Secara kontras, agar manusia itu bisa menyempurnakan kedua aspek sifatnya, Nabi Suci Muhammad s.a.w. mengajarkan kita menggunakan kelembutan atau kekerasaan sesuai dengan keadaan yang diminta, serta dengan contoh-teladannya, beliau menggambarkan aspek keindahan dan kegagahan dalam pribadi manusia hingga tingkat yang setinggi-tingginya; dengan demikian membuktikan tanpa ragu bahwa manusia itu adalah ciptaan Allah yang sebaik-baiknya.

Di sini, hal yang perlu diingat adalah bahwa ramalan dalam Taurat: ”Tuhan tiba dari Sinai dan bangkit dari Seir kepada mereka, dan Dia bersinar dari Paran”; Sinai disebut pertama karena Nabi Musa a.s. muncul sebagai yang pertama dan Seir disebut demikian karena Nabi Isa a.s. datang lebih belakangan, karena disini perhatian ditujukan kepada peristiwanya secara urut waktu. Namun, dalam Qur’an Suci, urutannya dibalik: Tin (ara) dan zaitun,yang membentuk bagian dari Seir, ditempatkan terlebih dahulu baru Sinai belakangan. Hal Ini dikarenakan dalam periode kehidupan Nabi Suci Muhammad s.a.w. sifat keindahan yang dimilikinya itu yang serupa dengan Nabi Isa a.s. datang pada awal kehidupannya di Mekkah, sedangkan era kegagahan pribadinya yang serupa dengan Nabi Musa a.s. datang belakangan ketika beliau tinggal di Madinah.

Karena itu, susunan dari kehadiran aspek sifat beliau yakni keindahan dan kegagahan yang menyerupai Nabi Isa a.s. dan Nabi Musa a.s. masing-masing terjaga dalam surat ini. Maka jika seseorang ingin melihat aspek keindahan yang tak tertandingi dari pribadi Nabi, dia bisa mencermati kehidupannya di Mekkah dan sebaliknya, bila dia ingin memandang manifestasi keperkasaan beliau, dia hendaknya mempelajari kehidupannya di Madinah.  Dalam susunan kisah ini ada suatu nubuatan tersembunyi, karena hendaknya diingat bahwa surat ini diwahyukan di Mekkah.

Pendeknya, nabi-nabi berbeda datang pada saat berlainan di tempat-tempat yang lain-lain serta masing-masing mengajarkan tatanan atribut moral yang berbeda sehingga membuktikan bahwa bila manusia sungguh-sungguh menginginkan mengubah pribadinya sendiri maka dia dapat mengangkat segala perkara ini dalam kemuliaan.

Tetapi Nabi Suci Muhammad s.a.w. dalam sifat maupun suri tauladannya, adalah gabungan dari seluruh keluhuran akhlak dan ini membuktikan bahwa tidak saja manusia dapat mengungguli segala makhluk yang diciptakan dari segi moralnya, melainkan juga seperti Nabi Suci, menjadi gabungan dari segenap keluhuran moral dan dengan cara ini kehormatan manusia bisa mencapai kesempurnaan yang setinggi-tingginya. Lihatlah betapa indahnya penyair ini yang sangat memuji Nabi Suci Muhammad s.a.w.:

“Ketampanan Yusuf, semangat Isa, putihnya tangan Musa.

Masing-masing adalah penjelmaan keindahan yang cemerlang.

Tetapi hanya engkau dan engkau sendiri yang merupakan gabungan segenap keindahan par excellence”.

Ada keterangan lain bagi tin (ara) dan zaitun, yang merupakan buah-buahan yang terkenal. Minyak zaitun itu memiliki dua manfaat yang sangat penting. Dia menjadi makanan dan juga menjadi bahan bakar untuk lampu. Kini, seseorang bisa bertanya, apa hubungan antara ara dan zaitun serta manusia sebagai makhluk Allah yang paling terhormat? Di sini, kita harus memahami bahwa dengan cara persamaan serta analogi ara serta zaitun di samping arti harfiahnya juga mengandung arti perumpamaan dan kiasan. Dan ini sesungguhnya adalah benar sebab didalam Taurat, cahaya Nabi Musa sistem aturannya itu seperti pohon ara, sebagaimana terbaca dalam Jeremiah bab 24 yang mengenai impian tersebut nabi berceritera:

”Tuhan telah menunjukkan kepadaku, dan lihatlah, dua keranjang ara disiapkan di depan kanisah Tuhan…. Satu keranjang sangat bagus sedang sekeranjang lainnya adalah buah ara yang busuk”.

Belakangan kita diberi tahu bahwa ”buah ara yang baik” adalah orang-orang yang tulus dari Bani Israil sedangkan ”buah ara yang busuk” adalah di antara mereka yang jahat sifatnya.

Sebagai tambahan, suatu alasan lebih lanjut yang bisa menunjang hal diatas, bisa kita baca dalam Mattius bab 21 mengenai kisah yang termasyhur dari pohon ara yang dikutuk oleh Nabi Isa a.s. Merujuk peristiwa ini, Alkitab berkata: ”Kini dipagi hari, ketika dia kembali ke kota, dia merasa lapar. Dan melihat pohon ara dari kejauhan, dia datang kepadanya dan tak menemukan apa-apa dibatangnya, tetapi hanya dedaunannya saja; dan ia berkata kepadanya:

”Biarkanlah engkau tak berbuah seterusnya dan selamanya. Dan seketika itu daun pohon ara itu berguguran”.

Pertanyaan muncul, betapa bisa Al-Masih marah kepada pohon ara kerena tidak berbuah padahal itu bukan musimnya dia berbuah. Sesungguhnya, kalau bukan rukyah ini juga merupakan kisah perumpamaan yang oleh penulis Alkitab yang berfikir tekstual menganggapnya hal yang benar-benar terjadi. Di sini, pohon ara itu berarti bangsa Bani Israil: mereka hanya berdaun tetapi tak berbuah. Yakni, dari luar tingkah-lakunya terlihat indah, tetapi sesungguhnya mereka kehilangan ketulusan dan kesucian hati. Karenanya, kutukan dari Al-Masih jatuh menimpa mereka dan pohon itu berguguran ”seterusnya dan selamanya”.

Ini berarti bahwa rantai kenabian serta keruhanian telah dicabut dari bangsa ini. Dengan cara yang sama, Qur’an Suci mengibaratkan syariat Muhammad seperti pohon zaitun. Persamaan ini tersebut dalam Qur’an Suci surat 24, An-Nur (Cahaya) dimana kita baca bahwa cahaya umat Muhammad itu diterangi oleh minyak suatu pohon zaitun yang diberkahi. Jadi ara adalah lambang kaum Israil dan pohon zaitun adalah syariat Nabi Muhammad s.a.w., dan perlambang ini dijelaskan dalam ungkapan tur sina (Bukit Sinai) dan baladil amin (Mekkah); yang pertama mengacu pada Syariat Musa di Bukit Sinai dan yang belakangan mengacu  kota Mekkah di mana syariat Muhammad ditegakkan.

Jadi surat ini menyajikan suatu perbandingan sejarah dari kedua syariat demi membuktikan kenyataan bahwa apapun ajaran Ilahi yang diturunkan di Bukit Sinai dan di Mekkah, dan betapa pun tingginya akhlak Nabi Musa a.s. serta Nabi Muhammad s.a.w. meresapkan dalam diri serta mengajarkannya kepada masing-masing umatnya, semuanya menyajikan bukti, tanpa diragukan lagi, bahwa manusia itu bisa menjadi ciptaan Allah yang sebaik-baiknya.

Dalam setiap kasus, apakah tin (ara) dan zaitun itu secara kiasan mengacu masing-masing kepada syariat Musa dan syariat Muhammad, ataupun apakah mereka itu berarti Palestina dan Syria, dimana Nabi Isa muncul dalam dakwah kenabiannya, sudah jelas bahwa dalam kedua kasus ini tekanannya adalah membuktikan dengan terang dan kuat, bahwa: “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam (bentuk) ciptaan yang paling baik”.

Tujuan untuk menggelar kebenaran ini adalah untuk menyingkirkan dari diri manusia itu suatu kesalahan konsepsi yang menyatakan bahwa dia jatuh di saat dia ditantang oleh perilaku manusia yang bermacam-macam serta seingkali bertentangan. Karena disaat dia menatap kelakuan manusia – yang baik maupun buruk, terhormat atau terhina – maka karena kurangnya pengetahuan yang sempurna, lalu dia menarik kesimpulan, bahwa manusia itu sudah ditakdirkan secara alamiah untuk hidup baik atau jahat atau untuk menjadi orang besar atau terhina.

Maka, karena pola pikirnya yang salah, maka dia tidak dapat mengenali sifatnya yang sejati karena dia dibutakan dan hilang dalam gelombang emosi dan perilaku manusiawinya. Sesungguhnya, pada saat dia mencermati perilakunya sendiri, suatu pertentangan besar tercipta dalam dirinya karena dia melihat bahwa dalam tingkah-laku manusia itu selalu bertempur antara baik dan buruk demi kemenangan. Jika disatu fihak, naluri untuk kemuliaan yang indah dan kehormatan itu menguasai dirinya, dilain fihak, dia mengalami ketakutan yang sangat terhadap godaan kebinatangan inderanya yang menderanya.

Jika, seperti para malaikat, dia itu dimotivasi dengan perasaan sayang dan kebajikan, maka seperti serigala dan beruang, dia juga dicengkeram dalam tindak keserakahan dan mementingkan diri sendiri serta terdorong untuk menumpahkan darah tanpa belas kasihan.

Dia juga mengamati bahwa manusia itu seringkali menjadi penguasa atau yang dikuasai, seringkali menjadi penyembah dan kadang-kadang menjadi tuhan, kadang-kadang cerdas, terkadang bodoh. Dia juga melihat bahwa bila seseorang itu berjaga pada malam hari di perumahan sehingga orang-orang bisa nyenyak tidur didalamnya, ada juga orang yang membobol rumah serta mencuri, jadi menyebabkan penderitaan serta kerugian kepada sesamanya. Lagi pula, dia mengamati bahwa tempat-tempat ibadah itu dipenuhi dengan manusia dan bukan malaikat, dan gerombolan penjahat itu tidak terdiri dari beruang atau binatang buas melainkan dari bani Adam.

Jadi, ketika dia mencermati perbuatan yang bermacam-macam dari manusia serta campuran antara cahaya dan kegelapan didalamnya, dia lalu tiba pada keyakinan yang salah bahwa bila ada dualisme dalam tingkah-laku makhluk, maka hal yang demikian ini terjadi karena memang sudah sifatnya. Misalnya, bila kelakuan manusia itu mencerminkan kebaikan dan kejahatan, kehormatan dan kehinaan, maka dia percaya bahwa kecenderungan ini juga tertanam dalam sifat dirinya. Maka dengan melihat kelakuan manusia, dia membuat pengumuman menyangkut sifat-sifat manusia dan setelah mengamati perilaku dari beberapa individu, dia menariknya sebagai kesimpulan stereotip untuk seluruh jenis manusia. Kesalahan ini telah mendorongnya ke arah pemikiran yang salah dan kepercayaan, bahwa kita umat manusia ini , tidak saja diciptakan untuk kebaikan dan kejahatan sebagaimana yang kita amati dari beberapa orang, melainkan juga, orang-orang tertentu itu dipercaya bahwa mereka telah ditakdirkan untuk berbuat baik dan yang selainnya ditanamkan dalam kondisi berbuat jahat, sehingga kepercayaan palsu ini menjerumuskan manusia ke lubang putus asa dan kemalasan. Ini mengarahkan manusia menjadi mati keberanian dan inisiatifnya untuk mengangkat dirinya lebih tinggi pada kehidupannya ini karena dia menerima nasibnya tanpa mengeluh. Kesalahan keyakinan ini membunuh daya karsanya, dan mengira bahwa kehinaan dan kejahatan sesungguhnya adalah akibat dari fitrahnya; dia menjadi begitu pesimistis serta lemah sehingga dia tidak mengusahakan apa pun untuk memperbaiki kondisinya.

Jadi, untuk menyimpulkan seluruh argumen ini, dapat kita katakan bahwa manusia itu jatuh dalam kesalahan saat memahami realitas sifat manusiawi serta asal-usul dari kebaikan dan kejahatan. Ini datang mengemuka karena disaat dia merenungkan kaitan antara kebaikan dan kejahatan serta kebesaran dan kehinaan dalam diri manusia, dia sampai pada kesimpulan bahwa atribut ini lekat dalam fitrahnya yang terdalam dan karenanya kita melakukan kesalahan dalam merumuskan kualitas sifat manusia dari macam-macam perilaku yang dilihatnya pada beberapa orang. Karenanya kesalahan konsep ini menuntun dia kepada kesalahan yang membimbing dia untuk menerima nasibnya karena dia mulai mengira, bahwa jika kebaikan dan kejahatan itu tertanam dalam fitrahnya, maka buat apa dia merasa salah bila kebaikan tidak hadir dalam hatinya, dan buat apa dia harus berusaha keras untuk merubah keadaannya.

Untuk menyingkirkan kesalahan yang merusak dari fikiran manusia ini, maka Allah Ta’ala telah mengumumkan dalam beberapa ayat Qur’an Suci bahwa Dia telah membentuk manusia itu dengan sifat yang terbaik serta murni dan menciptakan dia agar memperoleh kehormatan serta kewibawaan. Argumen ini diulang disini dalam ayat disurat ini dengan jelas dan dengan istilah yang tak bisa disalah-fahami lagi dibawah pernyataan: “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam (bentuk) ciptaan yang paling baik (dalam maupun luarnya)”.

Karena manusia dalam pencariannya untuk menemukan realitas dari sifat-sifatnya itu jatuh kedalam kesalahan dengan menatap orang-orang yang jahat dan mengira dari kelakuan mereka bahwa fitrahnya memang jahat, maka Allah Yang Maha-tinggi telah menyajikan dalam surat ini contoh teladan dari orang-orang yang meningkat tinggi dalam kehidupannya dengan membangun kesucian dalam sifatnya. Sungguh, terhadap orang-orang inilah ungkapan ara, zaitun, Bukit Sinai dan Kota Mekkah mengacu. Mereka ini adalah orang-orang yang dianugerahi Allah rahmat-Nya – mereka yang memilih agama fitrah (Islam) dan melangkah dijalan yang lurus, rahasia tersebut telah diajarkan kepada mereka dalam pembukaan surat pendek dalam Qur’an Suci, al-Fatihah, di dalam ayat: “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yakni jalan dari para nabi, siddik, salihin dan syuhada”.

Pendeknya, dalam surat ini, Allah Ta’ala, dalam rangka menegakkan kehormatan dan kewibawaan, sifat kebajikan dan keadilan dalam diri manusia, telah meletakkan dihadapan kita teladan dari orang-orang yang tidak membolehkan naluri dasarnya merosot tetapi berbuat sesuai dengan getaran dari pembinaan pribadinya serta menciptakan kemajuan dan perkembangan dalam kehidupannya. Dan untuk menggaris-bawahi hal ini, Dia menanyakan perkara berikut:  “Mengapa kaulihat keadaan mereka yang terperosok dan menyimpulkan dari sini bahwa sifatmu itu rendah? Sebaliknya dari menatap mereka yang bobrok, mengapa tidak kau angkat pandanganmu terhadap mereka yang luhur dan terhormat?”

Manusia jatuh kedalam kehinaan bukan karena sifatnya jahat. Sebaliknya, fitrahnya itu berdasarkan ketulusan dan keadilan yang terlihat jelas pada mereka yang mendapatkan buah penuh keberuntungan bagi mereka yang tidak membiarkan sifatnya yang murni jatuh kedalam kemerosotan, tetapi sebaliknya mengembangkan bakat alaminya serta kemampuan tersembunyinya menyusuri jalan yang lurus serta karenanya menjadi pewaris dari kewibawaan, kemajuan dan kesempurnaan manusia.

Memang benar bahwa bila manusia menempuh jalan yang sesat dalam hidupnya serta merusak sifatnya yang adil dan tulus, serta jatuh dalam tingkah laku jahat, maka seperti yang seharusnya fitrahnya itu menjadi yang tertinggi dari yang tinggi, begitulah, karena kelakuannya yang jahat, dia menjadikan dirinya yang paling rendah dari yang terrendah sedemikian rupa sehingga inti-sari kemanusiaannya rusak dan dia menjadi lebih buruk dari binatang buas. Pada waktu manusia merenungkan keadaan yang bobrok dari sebagian orang ini, dia secara salah mengira bahwa ini adalah berasal dari kejahatan yang sudah tertanam dalam sifat manusia. Padahal dia tidak menyadari bahwa kejahatan ini tidak berasal dari diri pribadinya melainkan datang dari luar sebagai akibat dari kelakuannya yang tidak benar.

Demikianlah, untuk menggelar kebenaran ini, Allah Ta’ala berfirman:

 

  1. Lalu Kami mengembalikan dia menjadi ciptaan yang paling rendah,
  2. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat baik; mereka akan mendapat ganjaran yang tak ada putus-putusnya.

 

Allah Ta’ala menyatakan, bahwa Dia menciptakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan berlandaskan sifat mulia dan kehormatan. Namun, untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang tertanam dalam pribadinya sehingga dia bisa mencapai kemajuan dan perkembangan ruhaninya sehingga pantas disebut khlaifat-ul-Lah sebagaimana terdapat dalam ayat lain Qur’an Suci (2:30);  Allah dengan ilmu-Nya yang sempurna dan lengkap menunjukkan jalan yang lurus sehingga dia bisa melangkah disepanjang jalan itu dan menjadi penerima berkah Ilahi dan dengan demikian memperoleh perkenan memasuki golongan yang diridlai, yakni, mereka yang mendapat ganjaran dari Allah yang tak putus-putusnya.

Jadi, bila manusia beriman kepada wahyu Ilahi yang turun melalui para nabi-Nya dan Qur’an Suci sebagai contoh yang paling otentik dan lengkap; dan mematuhi wahyu serta bertindak tulus, maka bakat alaminya, yang diciptakan berdasarkan prinsip selaras dan melingkupi baik kebajikan maupun kehormatan, secara bertahap akan berkembang dan dia akan menjadi gabungan dari akhlak tertinggi sehingga dia akan dapat mencapai suatu perkiraan yang benar dari inti-sari sifat kemanusiaannya. Misalnya, suatu benih mengandung potensi dari sebatang pohon secara lengkap dan bila benih itu ditanam serta diairi maka dia akan berkembang dan membuka dirinya ke alam dunia sehingga mencapai bentuknya yang sejati. Begitu pula, pemeliharaan dan pengairan dari sifat-sifat manusia, tergantung kepada wahyu Ilahi dan kepatuhan serta penyerahan diri kepada-Nya. Jika seorang anak manusia minum dari air wahyu Ilahi ini, maka dia akan memperoleh pemeliharaan dan dengan demikian membabarkan kualitas akhlaknya yang mulia dimana gambaran sejati dari etos karya manusia akan tersingkap ke dunia ini.

Hendaknya kita renungkan, bahwa sebagaimana suatu benih itu mengandung buah, begitu pula, setiap tingkah laku manusia itu mengandung konsekuensinya. Misalnya, bila seseorang itu meminum racun, sudah pasti dia akan mati dan demikian pula jika manusia itu berbuat dosa, maka hukuman pasti telah menunggunya. Demikianlah setiap perbuatan mempunyai akibat. Karena itu, bila amal manusia itu sudah diberi pola dengan agama Allah dimana Dia telah merahmatinya dengan tujuan yang terungkap seperti membantu, menjaga dan memelihara sifatnya yang suci, maka janganlah manusia itu menyia-nyiakannya. Sebagai ganti, ruhnya akan menerima pemeliharaan yang tepat dan karenanya akan menyajikan keagungan dan ketulusannya yang tersembunyi. Tetapi bila dia menyimpang dari jalan yang lurus, dia akan menghancurkan kesucian yang tertanam dalam dirinya dan berakhir menjadi lebih buruk dari segala binatang buas dibumi ini. Demikianlah bila bakat yang diterima manusia dari atas dan yang terdiri dari sifat yang paling luhur ini dipertimbangkan sedemikian rupa guna memungkinkan dia mencari puncak tertinggi kebaikan yang mulia sehingga dia dapat mengungguli segala ciptaan dalam kehormatan dan keluhuran sehingga para malaikat pun akan tunduk kepadanya, maka begitu pula, bila dia salah menerapkan kekuatan dalam dirinya, dan menyusuri jalan kejahatan, maka dia akan merosot ke dalam kehinaan yang paling rendah.

Dalam ayat, “Kami mengembalikan dia menjadi ciptaan yang paling rendah”, adalah bila Allah berfirman seolah-olah Dia Yang berbuat demikian, maka kita janganlah salah faham atas pernyataan itu. Faktanya ialah bahwa dalam Qur’an Suci, Allah itu selalu menerapkan kepada Diri-Nya akibat dari perbuatan manusia yang sesungguhnya terjadi adalah dalam kerangka Hukum sebab dan akibat, karena memang hanya Dia yang menciptakan hukum serta sarananya. Misalnya, ketika kita menutup pintu kamar maka kamar itu akan menjadi gelap. Menutup pintu kamar adalah perbuatan kita dan kegelapan adalah akibatnya. Jika kita gunakan kata-kata kita sendiri untuk menerangkan peristiwa ini, maka kita bisa berkata seperti ini: ”Bila kita menutup pintu, maka suasana menjadi gelap”.

Namun, dalam terminologi Qur’an Suci, jika Allah bicara tentang peristiwa yang sama, hal itu akan terbaca sebagai berikut: ”Di saat manusia menutup pintu, maka Kami (Allah) menjadikan kamar itu gelap”. Dengan perkataan lain, jika ingin tetap ada cahaya, maka pintu itu biarkanlah terbuka, dan bila kita tutup pintunya, maka kegelapan adalah akibatnya. Tetapi Allah menetapkan akibat kegelapan itu terhadap Diri-Nya, karena hal itu berasal dari kepatuhan segala sesuatu kepada hukum-hukum-Nya.

Kesimpulannya, Allah berfirman bahwa orang-orang yang menghancurkan kesucian fitrahnya dengan kelakuan yang tidak benar akan jatuh dari singgasana kemanusiaannya. Tetapi bagi mereka yang beriman dan memilih beramal saleh, serta menambahkan kecemerlangan cahaya pribadinya, akan mencapai puncak kemuliaan dan kehormatannya. Ini adalah mereka yang diridlai dimana ganjaran untuk mereka tiada putus-putusnya.

Sangat jelas bahwa surat ini menekankan bahwa manusia itu diberkahi dengan fitrah yang suci dari Yang Maha-kuasa, dan bila dia menegakkannya diatas landasan keadilan dan keselarasan yang teguh, maka dia akan layak menerima keluhuran dan kehormatan tertinggi, dan suatu kebun akan disiapkan baginya.

Hal yang sama ini juga diterangkan dalam ayat lain dari Qur’an Suci dengan ungkapan: Qalu bala. Mereka (ruh-ruh) itu berkata: Ya. (7:172). Yakni, ketika Allah Ta’ala menciptakan ruh, Dia menanyai mereka: “Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab: Ya, kami menyaksikan”. (bahwa Engkau adalah Tuhan kami), dan ini adalah bukti yang pasti tentang fitrah sejati dalam pribadi manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya. Jika seseorang itu menolak kebenaran akan Ketuhanan Allah, maka penolakan ini bukanlah suara dari pribadinya sendiri melainkan suatu kepercayaan yang tidak fitri serta bertentangan yang sebenarnya berasal dari luar dirinya.

Di tempat lain dalam Qur’an Suci menyatakan fitrah suci yang diberikan Allah kepada manusia ini disebut sebagai qalb salim (hati yang salam). Mengenai Nabi Ibrahim a.s. dikatakan: “Idha ja’a Rabbahu bi qalbin salim” (Ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang salam, yakni, hati yang suci-murni, bebas dari pencemaran 26:89).

Kini setiap orang tahu bahwa Nabi Ibrahim itu memiliki hati yang tanpa dosa sehingga bila peragaan kebesaran dan keagungan seperti apa pun tak pernah mengherankan dia. Sesungguhnya, adalah cahaya hati yang suci ini yang menyeru kepada Allah dengan penuh penyerahan diri sebagai berikut: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku, dengan lurus, kepada Pencipta langit dan bumi, dan aku bukanlah golongan orang yang musyrik” (6:80).

Tugas agung dari wahyu dan agama Allah adalah bahwa manusia harus menghapus dari diri pribadinya segala bentuk salah petunjuk yang semu serta dibuat-buat yang menutupi hati dengan karat, sehingga sifat aslinya bisa bersinar dengan penuh kecemerlangan.

Atas alasan inilah kenapa Qur’an Suci menggunakan kata dhikr (ingat) menyangkut petunjuk Ilahi, dan penyelewengan dari jalan yang benar disebut sebagai nisyan (kelupaan). Dhikr mengandung beberapa arti: penjagaan atau penyiapan, mengingat, menghormati, membesarkan, mengangkat, dan nisyan berarti melupakan, karena manusia itu cenderung untuk melupakan sifat aslinya dan akibatnya dia tergelincir dari jalan yang nyaman. Karena alasan inilah maka nisyan (kelupaan) itu disebut dalalat (menyimpang dari jalan yang benar), dan hidayat (petunjuk) disebut demikian karena ini menyebabkan manusia ingat lagi akan fitrahnya yang asli yang cenderung dilupakannya. Karena itulah mengapa hal itu disebut dhikr (ingat). Dalam arti yang lain dhikr, yakni kehormatan dan keluhuran, di sana ada titik utama yakni bila manusia ingat akan tujuan hidupnya yang terlupakan dan beramal salih maka dia akan diganjar dengan kebesaran dan kemuliaan.

Dalam kelupaan yang sangat yang melahirkan kelalaian ini Qur’an Suci menganggapnya sebagai batas terjauh dari kesesatan, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala: “Mereka mempunyai hati yang tak mereka gunakan untuk mengerti, dan mereka mempunyai mata yang tak mereka gunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga yang tak mereka gunakan untuk mendengar. Mereka bagaikan ternak; tidak, malahan mereka lebih sesat lagi. Mereka adalah orang yang lengah”. (7:179).

Dan mengenai nisyan (kelupaan) lagi-lagi, Qur’an Suci mengingatkan kita: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Ia membuat mereka lupa akan jiwa mereka sendiri” (59:19).

Di sini, dengan melupakan jiwa mereka sendiri berarti melupakan kesucian yang ditanamkan dalam fitrah mereka serta maksud tujuan penciptaannya. Maka, sesuai dengan hukum Allah, pada saat mereka melupakan Dia, akibatnya adalah bahwa mereka lupa akan jiwa mereka sendiri, yakni, mereka menyeleweng dari agama fitrahnya.

 

  1. Maka siapakah sesudah itu yang mendustakan engkau tentang Keputusan?

 

Jika kita melihat perbuatan manusia yang mendorong dia, entah kepada keluhuran atau kemerosotan, siapakah yang dapat mengingkari bahwa amal itu membawa konsekuensi pahala atau siksa? Dan mengapa kita tidak akan menerima balasan atas amal kita bila kekuasaan Allah itu melingkupi langit dan bumi? Selanjutnya, bila ketaatan atau pembangkangan itu hanya bisa dibalas oleh hakim didunia dengan sekedarnya, lantas bagaimana akibat penerimaan dan penolakan terhadap Hukum-hukum Allah yang jauh lebih lengkap dan luas jangkauannya dimana Dia adalah Hakim par excellence?

 

  1. Bukankah Allah itu Hakim Yang paling baik?

 

Menurut Abu Hurairah, bila ayat diatas dibacakan, para sahabat Nabi Suci s.a.w. akan menjawab: ”Benar! Dan kami adalah saksi atasnya”. Dan jawaban mereka ini berdasarkan peristiwa nyata, karena kebenaran klaim Allah sebagai seadil-adilnya Hakim tidak hanya terbatas pada argumen intelektual dan apa yang diterangkan dalam surat ini saja, melainkan Dia juga telah memperagakan argumentasi ini melalui riwayat kehidupan Nabi Suci Muhammad s.a.w., jadi menggelar dengan terang-benderang dan suci-murni keagunganNya sebagai Sebaik-baik Hakim yang diakui secara spontan oleh para sahabat. Mereka mengikuti petunjuk Allah dengan sepenuh pengabdian serta penghormatan dan mereka mencontoh keluhuran akhlak dan ketulusan amal dari rasulNya, dan dengan menyusuri jalan yang lurus mereka menyingkirkan tirai kegelapan dan kebiadaban yang menyelimuti fitrahnya yang suci.

Mereka demikian terpelihara sehingga diri pribadi mereka berubah dari bangsa yang liar dan jahil menjadi manusia yang berbudaya dan beradab, dan tidak saja mereka maju dalam akhlak yang luhur, melainkan juga menjadi manusia pilihan Tuhan yang sejati. Pendeknya, dalam masa hidupnya sendiri mereka menyaksikan manifestasi kesempurnaan Allah sebagai Hakim Yang paling Baik dan kita juga, pada saat ini, dapat menyaksikan hal yang sama bila kita meniru perilaku dari para sahabat Nabi Suci Muhammad s.a.w. yang mulia.

 

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra, Sulardi Np.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: