Tafsir SURAT(87) AL-A’LA (Yang Maha-Luhur)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah. Didalam surat At-Tariq (Yang datang pada waktu malam), kita diberitahu bahwa kehidupan kita di masa depan tergantung kepada catatan amal perbuatan kita. Surat ini memberi alasan mengapa hal itu dikemukakan, yakni, tujuan paling utama dari kehadiran manusia di dunia ini adalah berbuat amal saleh, dan karenanya lafal tersebut adalah bumbu yang diperlukan dalam pengagungan asma  Tuhan Yang Maha Tinggi, maka kita senantiasa diperintahkan mengucapkan: “Sabbihisma Rabbikal A’la” (Maha Sucikanlah nama Tuhan dikau, Yang Maha-luhur).

Kita diberitahu didalam hadist bahwa ayat ini merupakan bacaan yang sangat mulia,  baik dalam salat maupun di luar shalat, maka kita senantiasa diminta mengucapkan kalimah: “Subhana Rabbiyal A’la” (Maha-suci Allah Yang Maha-tinggi).

al-A'la

Selengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih;

  1. Maha Sucikanlah nama Tuhan dikau, Yang Maha-luhur.

Tasbih (memahasucikan Allah) berarti bahwa kita harus memahami dan mengekspresikan keyakinan bahwa Allah, Yang Maha-tinggi, adalah sempurna dan tanpa sedikitpun jejak noda atau kekurangan dalam asmaNya. Sedangkan dengan taqdis (menyatakan kesucian Allah), kita mengekspresikan hal yang sama menyangkut perbuatanNya. Dalam tahmid (memuji Allah) kita mengapresiasi dan menyatakan keyakinan bahwa asma Allah itu melingkupi seluruh keindahan dan segenap kesempurnaan.

Sayangnya di negeri kita saat ini, dengan tasbih (memahasucikan Allah) diartikan sebagaimana tasbih yang dibawa oleh para pendeta Hindu, Jogis (pertapa Hindu). Ahli fikih Muslim maupun banyak maulawi, dan mereka menyebutnya sarana penganut agama untuk tertasbih. Ini adalah sarana baru di mana baik Nabi Suci s.a.w. maupun para Sahabat a.s. tidak pernah menghitung dengan biji tasbih. Kaum Muslimin melihat lalu meniru praktek dari kaum Majusi, Hindu dan Kristen. Apa yang terjadi sekarang adalah bahwa mereka tergesa-gesa dalam salatnya tanpa makna dalam beberapa menit, lalu kemudian duduk berjam-jam untuk menghitung tasbih. Ini yang mereka sebut tasbih (memahasucikan Allah). Sekarang, dari segala alat peraga yang tidak perlu, maka bisnis tasbih ini menjadi besar, karena dalam keadaan apapun seperti sedang duduk, ngobrol, bergunjing, menyerahkan uang suap, atau menjalani hal lain yang tidak jujur, maka tasbih ini selalu hadir. Pendeknya, ini adalah bikinan manusia, tetapi sebagai sarana tipu-tipu. Benda khusus yang sangat kuat dayanya ini, menjadi alat keagamaan yang mencengangkan, dan dapat dengan kuat tertanam di fikiran manusia.

Seorang Sufi, suatu hari sedang menghitung-hitung tasbih dan seorang perempuan lewat di dekatnya. Dia bertanya apa yang sedang dikerjakannya. ”Saya sedang menyeru-nyeru Kekasihku”, jawab sang Sufi. ”Saya juga mempunyai Kekasih, tetapi aku tidak pernah memanggil-manggil asmaNya seperti ini”, balas si perempuan. ”Dia hidup dihatiku sepanjang waktu dan asmaNya ada di bibirku”. Mendengar hal ini, sang Sufi menangis dan membuang jauh-jauh tasbihnya.

Nabi Suci s.a.w. bersabda: “Ada dua ucapan yang ringan dilidah namun berat timbangannya. Subhanallah, dan Subhanallahil Adhim”. Nabi Suci seringkali mengucapkan doa-doa ini. Begitu pula, Maulana Nur-ud-Din, seorang mufassir Qur’an Suci yang terkenal, berbuat yang sama. Dalam salat kita, kita juga memuji Allah dengan berdoa: “Maha Suci Allah, Yang Maha Agung”, dan “Maha Suci Allah, Yang Maha-tinggi dan terpuji”.

Tujuan dari mengulang-ulang semua doa ini, agar pengulangan itu dapat mempengaruhi hati, sehingga kita selalu ingat kepada keilahian dan kesucian Allah, dan akhirnya dapat tercermin dalam amal perbuatan manusia.

Melantunkan pujian kepada Allah ada dua jenis. Pertama, pernyataan di lidah, dan pada saat yang sama persetujuan di hati atas keagungan Allah yang bebas dari kekurangan atau cela. Seseorang tidak boleh menyembah selain Allah karena hal itu bertentangan dengan kesempurnaan dan asmaNya yang baik-baik. Seseorang harus beriman dengan kuat di hatinya, demikianlah tambahan atas ikrar di bibirnya.

Penyembahan kepada Allah dan tauhid (pengesaan Allah) yang tepat akan tergantung kepada tasbih (pengagungan Allah) ini, karena politeisme mengandung pra-anggapan adanya suatu kelemahan atau kekurangan dari Allah, Yang Maha Tinggi. Tasbih dan tauhid saling berkaitan karenanya. Tauhid tidak sempurna hingga tasbih itu sempurna dan sebaliknya. Hingga seseorang memandang Allah itu bebas dari segala kekurangan dan cela, maka seseorang tak dapat mencapai penyembahan kepada Ilahi yang tepat. Jenis tasbih ini hanya khusus kepada umat manusia saja.

Jenis tasbih (pengagungan Allah) yang kedua, peragaan atas Keagungan melalui perbuatan Allah dan ciptaan Nya. Jenis tasbih ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari segenap ciptaan-Nya, segala sesuatu yang diciptakan itu mencerminkan mutu karya yang tinggi serta keindahan kualitas dari Sang Pencipta. Oleh sebab itu, segala kemampuan yang dikaruniakan Allah adalah sempurna untuk mencapai tujuan kehidupannya, sehingga tak seorang pun dari kecerdasan manusia yang sanggup membentuk organ serta kemampuan semacam itu.

Karenanya, setiap zarah di alam semesta ini yang ada, berfungsi dan selalu sibuk serta berusaha keras untuk mencapai tujuan kehidupannya. Inilah manifestasi kesempurnaan Sang Pencipta yang terbebas dari segala cacat dan cela, yakni, Subhaniyyat-Nya (Ke Maha-sucianNya serta bebas dari cela). Dengan perkataan lain, semuanya terikat dalam bertasbih kepada sang Pencipta melalui bahasa dari keadaannya, atau apa yang digambarkan oleh Qur’an Suci dengan ayatNya: ”Dan tiada suatu barang melainkan memahasucikan Dia dengan memuji-Nya, tetapi kamu tak mengerti cara mereka memahasucikan” (17:44).

Betapa indahnya pernyataan itu! Allah berfirman bahwa segala sesuatu, untuk apa pun tujuan penciptaannya, akan menikmati kesempurnaan semacam itu. Dengan hanya memperhatikan barang ciptaanNya saja kita akan sampai pada alasan yang terang tentang kesucian dan kesempurnaanNya. Kesulitan akan timbul hanya karena manusia itu tidak mengetahui tujuan penciptaan ini, dan ia tidak mempunyai ilmu atas daya serta kemampuan yang tertanam pada sesuatu, maka mulailah dia melancarkan penentangan akibat kebodohan serta kekurang-pahamannya. Sebaliknya, bila ilmu manusia itu sempurna dan bila dia sadar akan tenaga serta tujuan penciptaan dari setiap partikel di alam semesta ini, maka dia akan dapat mendengar tasbihnya kepada sang Pencipta dari alam semesta yang terbit dari setiap partikel, dan hatinya akan bergabung dalam tasbih ini. Bait-bait dari Shaikh Sa’di seorang Persi berikut bisa menangkap titik ini:

Setiap daun dari pepohonan yang menghijau

Melantunkan suara pujian kepada Ilahi

Bagi mata seorang pengamat yang cerdas.

Suatu kali seorang Inggris yang atheis, melihat melalui mikroskop penciptaan kehidupan dalam sebutir telur, dan di saat dia menyimak drama penciptaan kehidupan yang dibukakan di depan matanya, dia pun menjadi sangat takjub sehingga berseru: ”Sungguh! Jelas ada Tuhan yang membuat anak ayam ini dengan TanganNya sendiri!”.

Saya mempunyai pengalaman menarik ketika pergi ke Afrika Timur pada tahun 1900, dan mengadakan dua atau tiga kali trip dengan kapal laut yang membawa pekerja bangsa India. Suatu kali, ketika di tengah lautan, hujan pun turun terus-menerus selama beberapa hari, dan ketika saya duduk di dek memperhatikan hujan yang deras, maka suatu fikiran aneh muncul di kepala saya: apa gunanya hujan turun di tengah laut? Kalau dia turun di ladang, pasti banyak gunanya untuk tanaman, tetapi kalau di tengah laut jelas air tercurah sia-sia. Apakah ini tidak bertentangan dengan Subhaniyyat dan Kebijaksanaan Allah? Kemudian saya mohon ampun kepada Allah dan membaca istighfar (doa mohon ampun atas perbuatan dosa) karena membiarkan fikiran aneh semacam itu. Adalah melalui anugerah Nya tiba-tiba ide ini masuk ke fikiran saya, yakni, apa isi fikiran saya dibandingkan ilmu Allah; dan ayat Qur’an berikut ini muncul di kepala saya: ”Maha Suci Engkau! Kami tak mempunyai ilmu selain apa yang Engkau telah ajarkan kepada kami”(2:32).

Ternyata betapa besarnya karunia yang diberikan Allah kepada penulis yang hina ini, ketika duapuluh lima tahun kemudian Dia menjelaskan kesalah-fahaman saya ini melalui sebuah buku. Saya dengan tak terduga membaca buku seorang ilmuwan Inggris, dimana dia menerangkan bahwa kehidupan di lautan

itu mendapatkan oksigen dan nitrogen dari air hujan, dan kalau tidak ada hujan turun di laut, pastilah kehidupan di lautan itu akan musnah. Atas anugrah pengetahuan ini, maka doa pengagungan kepada Allah timbul jauh dari lubuk hati saya yang paling dalam, dan saya pun dapat mendengar saat itu bahwa seluruh partikel alam ini mengagungkan Allah. Pendeknya, adalah kelalaian manusia terhadap manfaat dari segala sesuatu yang membuat dia itu menentang. Bagaimana mungkin kecerdasan manusia yang sangat terbatas mau dibandingkan dengan penciptaan seluruh alam semesta beserta tujuannya? Maka kita harus memahami bahwa segala sesuatu itu sibuk memuji keagungan Allah melalui bahasanya sendiri, dan itu dilakukannya dengan berusaha keras untuk mencapai tujuan untuk apa dia diciptakan. Inilah sebabnya kenapa kita diperintahkan Qur’an agar berkata: ”Maha-sucikanlah asma Tuhanmu Yang Maha-tinggi”. Yakni, wahai manusia, anda juga harus senantiasa terlibat dalam memuji Dia Yang menciptakan kalian dan Yang menginginkan untuk meningkatkan kalian kepada ketinggian yang mulia dengan keluhuran asma-Nya yakni Rububiyyat (yang membawa segala sesuatu menuju ke arah kesempurnaannya). Seperti halnya Dia, Dia Sendiri, adalah Yang Maha-tinggi dan asma-Nya juga meliputi kualitas Yang Maha-tinggi dan KemuliaanNya itu bebas dari segala cacat dan cela, begitu pula, Dia, melalui Rububiyyat-Nya, ingin membimbing manusia ke puncak kemajuan yang tertinggi. Karena itu, jika manusia ingin mewarisi kemajuan tertinggi ini melalui Rububiyyat Allah yang sempurna, adalah penting bila dia harus melibatkan diri dalam pengagungan Allah, baik melalui hati maupun lidahnya, dan juga melalui amal perbuatan serta dalam keadaan apapun.

Penjelasan tentang apa arti pengagungan dengan hati dan lidah telah saya berikan. Sekarang perhatikanlah penjelasan mengenai pengagungan melalui bahasa perbuatan, dan bahasa tentang kondisi seseorang dari AllahYang Maha-tinggi. Dia berfirman:

  1. Yang menciptakan, lalu menyempurnakan;
  2. dan Yang memberi ukuran, lalu member petunjuk”.

Di sini, diberikan empat alasan untuk mengagungkan Tuhan. Pertama, menciptakan, kedua, membimbing ke arah kesempurnaan, ketiga, menetapkan tujuan serta suatu batasan bagi segala sesuatu, dan ke empat, menyediakan petunjuk. Karena tak ada obyek khusus yang disebutkan bagi ke empat kata kerja ini, maka di sini berlaku untuk segenap ciptaan Nya, yakni, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, Dia membuat sempurna segala sesuatu, Dia menetapkan suatu tujuan dan batas dari segala sesuatu di mana tak ada suatupun bisa lari daripadaNya, dan akhirnya memberikan petunjuk, yakni, membuat mereka tunduk kepada satu Hukum, dengan mengikutinya mereka bisa mencapai kesempurnaan. Dengan perkataan lain, segala sesuatu yang diciptakan itu memiliki empat hal yang berkaitan dengannya:

  1. Itu diciptakan oleh Allah.
  2. Itu dikaruniai jasad dan kemampuan tertentu guna pencapaian tujuan penciptaannya, dan jasad serta kemampuan ini adalah begitu sempurna sehingga tak suatu pun yang lebih baik yang bisa dicapai oleh kecerdasan manusia. Di dalam al-Qur’an ini disebut taswiya (membuat suatu barang dalam bentuknya yang sempurna).
  3. Dia membuat satu Hukum dan tujuan demi berfungsi ciptaan tersebut beserta kemampuannya. M Mereka harus mengikuti langkah ini dan tidak dapat menyimpang dari itu. Ini disebut taqdir (ukuran).
  4. Dia telah dikarunia dalam fitrahnya suatu kecenderungan untuk melangkah menuju suatu arah tertentu dengan benar, dan arah yang dijalani dalam proses mencapai tujuan penciptaannya, dia diberi petunjuk. Dia berfirman dalam al-Qur’an: “Tuhan kami ialah Tuhan Yang memberi segala sesuatu sesuai terciptanya, lalu memberi petunjuk” (20:50). Yakni, Dia memberikan petunjuk dengan mengikuti apa yang menjadi tujuan penciptaannya, dan ini tertanam dalam fitrah serta tidak akan menyimpang. Kita menamakan kemampuan ini sebagai naluri dan disposisi.

Perkara lain yang harus difahami, bahwa manusia itu diberi dua macam kemampuan. Satu jenis berhubungan dengan kemampuan yang diberikan juga kepada makhluk hidup lainnya. Kemampuan semacam itu membawa perintah dari nalurinya secara sukarela, dan manusia tidak usah mengontrol fungsi-fungsi mereka. Misalnya, lidah, bila dia merasakan manis atau pahit, dia berfungsi dengan bebas dan manusia tidak bisa mengontrolnya. Tetapi ada jenis kemampuan lain dari organ tubuh yang di bawah kendali manusia, dan karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang punya kehendak serta daya untuk membedakan, maka dia dikaruniai kesadaran diri dan kehendak bebas. Itulah sebabnya mengapa manusia harus bertanggung-jawab atas amal perbuatannya. Karena itulah, organ ini bekerja di bawah kehendak dan pilihannya. Misalnya, lidah bisa bicara benar atau bohong. Di sini kehendak manusia yang berlaku dan lidah hanya mengikuti kehendaknya.

Petunjuk yang dianugerahkan kepada manusia pun ada dua jenis, pertama petunjuk yang diberikan kepada organ tubuh manusia yang berfungsi tidak atas kehendaknya seperti yang diberikan kepada makhluk lainnya, manusia tidak punya tangan untuk mengendalikannya. Misalnya, perut manusia, hati, paru-paru, jantung, dan semuanya bekerja bebas dari kendalinya serta sibuk untuk memenuhi tujuan penciptaannya. Jenis kedua dari petunjuk itu adalah kemampuannya, fungsi mana tergantung kepada kehendak dan niat manusianya sendiri.

Karenanya, adalah penting untuk memberi peran kepada jenis petunjuk yang menyangkut kehendak niat manusia ini. Petunjuk ini diberikan kepada manusia melalui ilmu, yakni dengan Allah mewahyukan kepada manusia tentang tujuan penciptaannya dengan memberinya petunjuk Nya, dan Dia menyatakan bahwa bila manusia menyusuri jalan itu akan mencapai kesempurnaan sebagai prasyarat khalifah Allah di bumi, serta untuk untuk itulah dia diciptakan. Jadi, manusia diberi petunjuk sambil tetap mempunyai kehendak bebas dan dapat mengendalikan masalah-masalahnya, dan inilah yang merupakan suatu ciri khas dari manusia. Inilah sebabnya kenapa Allah Ta’ala menyebut Islam sebagai suatu agama fitrah, karenanya berarti penerimaan manusia terhadap ilmu dari Allah ini, akan membukakan langkah untuk memimpin dirinya kepada kesempurnaan yang menjadi tujuan dari penciptaannya.

Allah pun telah menganugerahkan petunjuk bagi kemampuan manusia yang ada di luar kendalinya dan juga kepada segenap ciptaanNya yang lain – suatu petunjuk yang terdapat dalam nalurinya – maka tak mungkin bila manusia tidak memberi petunjuk untuk kemampuan dan organ tubuh yang bekerja di bawah kendali dan niatnya. Karena itu, petunjuk yang diberikan kepada manusia melalui wahyu dan ilham adalah sepenuhnya sesuai dengan fitrahnya. Setiap orang yang mengikuti petunjuk ini akan bertindak sesuai dengan fitrahnya, sebagai tanggapan atas panggilan Sang Pencipta, dan karenanya menjadi alasan yang terang benderang dengan asma Allah yang Maha Sempurna kita harus mewarisi untuk kesempurnaan kita yang setinggi-tingginya guna mencapai tujuan penciptaannya. Manusia karenanya harus terlibat dalam pengagungan Allah melalui bahasa perbuatan dan perkembangan kemajuannya.

Perintah yang diberikan dalam surat ini adalah bagi kedua jenis tasbih itu – dengan kata-kata dan begitu pula melalui bahasa perilaku serta amal perbuatan. Tasbih lisan mengingatkan pada doktrin, bahwa baik dengan lidah maupun hati, harus dilakukan dengan penuh penghormatan atas Keesaan Allah dan asma Nya, serta bersih dari setiap jenis politeisme atau setiap kekurangan , cacat cela yang tak mungkin diketemukan dalam jalan ke asma ul husna. Dengan tasbih melalui bahasa amal perbuatan berarti bahwa perbuatan seseorang itu harus sedemikian rupa sehingga seseorang bisa mencapai tujuan penciptaannya. Jadi, dengan mencapai fitrah serta ketinggian seseorang, berarti dia harus menjadi dasar yang jelas yang condong kepada Kesucian Ilahi. Petunjuk Ilahi yang penting bagi tasbih ini diberikan dalam bentuk lengkap melalui Qur’an Suci.

  1. Dan Yang mengeluarkan rumput-rumputan
  2. Lalu menjadikan itu kering, kehitam-hitaman.

Ini adalah suatu analogi untuk menekankan pada diri manusia bahwa jika sesuatu itu tidak mencapai tujuan penciptaannya, maka penciptaannya akan menjadi tiada artinya dan sia-sia, dan barang itu menjadi barang yang dibenci yang berupa setumpuk sampah kotor yang hanya cocok untuk dibuang atau dibakar. Kalau suatu padang itu menghijau dan tumbuh di muka bumi, betapa indah dan berharganya itu! Tujuan penciptaannya adalah agar ternak bisa merumput di situ. Jika dimakan oleh binatang, meskipun dia musnah, maka dia telah memenuhi tujuan penciptaannya dan dia telah menjadi bagian dari tatanan kehidupan selanjutnya yang lebih tinggi, dan karenanya telah berkembang dari suatu kelas yang lebih rendah naik ke kategori yang lebih tinggi. Tetapi bila tujuan penciptaan ini tidak terpenuhi, dan dia tidak berfungsi sebagai makanan ternak, maka akhirnya dia akan menjadi tumpukan tak berguna atau dibakar setelah menjadi sampah yang menghitam.

Jadi, bila manusia mati dalam berusaha untuk mencapai tujuan penciptaannya, maka ini tidak berarti kemusnahannya. Tidak, itu berarti suatu transformasi ke arah kehidupan yang lebih tinggi. Inilah mengapa Qur’an Suci berkata tentang syuhada:

”Dan janganlah kamu berkata bahwa orang yang dibunuh di jalan Allah itu mati. Tidak, (mereka itu) hidup, tetapi kamu tak merasa”(2:154).

Pendeknya, jika seseorang mencapai tujuan penciptaannya, meskipun dia mengalami kematian dalam menjalaninya, maka itu sarana untuk kemajuan dan kesempurnaan dirinya, dan ini menjadi alasan demi kesucian Tuhannya. Tetapi bila dia tidak dapat mencapai tujuan penciptaannya, meskipun dia tinggal di dunia ini dalam jangka waktu yang lama, statusnya tidak lebih dari segumpal sampah hitam, yang menimbulkan kemarahan dan yang tidak ada gunanya serta hanya layak untuk ditimbun lalu dibakar.

Jadi tindakan tasbih (mengagungkan Allah) itu hanya bisa dicapai bila seseorang menyatakan dengan kata dan perbuatan bahwa tak ada kekurangan atau cela dalam tauhid Allah atau dalam asma-Nya serta menyesuaikan dirinya dengan petunjuk Allah, dan karenanya manusia mencapai tujuan penciptaannya, betapa pun besarnya pengorbanan yang dilakukan untuk itu.

Oleh sebab itu, pentingnya bahwa petunjuk itu harus disampaikan kepada manusia agar dia tidak melupakannya, dan petunjuk itu harus tinggal berada selamanya, karena berdasar petunjuk inilah tergantung diterimanya tasbih kita. Inilah sebabnya, kenapa Allah Ta’ala berfirman:

  1. Kami akan membacakan kepada engkau, maka engkau tak akan lupa,
  2. Kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Sesungguhnya Ia mengetahui yang nyata dan yang tersembunyi.

Sebagaimana dinyatakan di atas, adalah penting petunjuk dimana tergantungnya kemajuan manusia dan kesempurnaannya dengan bertasbih kepada Allah Ta’ala, demikianlah yang diajarkanNya agar kita tidak melupakanNya. Inilah sebabnya mengapa Allah Yang Maha-tinggi berfirman di sini: “Kami akan membacakan kepada engkau, maka engkau tak akan lupa”.

Ketika Allah Ta’ala membuat Nabi Suci Muhammad s.a.w. mengaji, ayat-ayat itu disimpan baik-baik dalam hati dan fikirannya sehingga dia tak pernah bisa melupakannya.

Beberapa orang beranggapan bahwa sin dalam kata sanuqriuka ditempatkan untuk menekankan maknanya. Yakni, Kami sungguh-sungguh akan membuat anda membacanya…. Dalam suatu hal, konotasi kedua kecenderungan itu sama saja, yakni, Engkau tidak akan pernah bisa melupakan wahyu yang Kami turunkan, karena bila Allah sebagai Guru, bagaimana bisa seseorang itu melupakan ajaranNya?

Meskipun Nabi Suci itu seorang manusia biasa dan setiap orang itu mempunyai sifat pelupa, dan tidak diragukan bahwa Nabi Suci juga terkadang lupa akan hal-hal yang lain, namun demikian, sebagai tanda bahwa itu ajaran dari Allah maka apa pun yang diajarkan oleh Allah Ta’ala tak pernah terlupakan. Sekali waktu satu surat terdiri dari duapuluh rukuk (’ain) diwahyukan kepadanya semuanya sekaligus (dan masalah yang dibahas dari surat ini penuh dalil menyangkut kenabian dan tauhid, yang sangat sulit dimengerti), meskipun demikian beliau tak pernah lupa sepatah kata pun. Kadang-kadang lagi, jangka waktu turunnya satu surat itu terkadang tersebar seringkali bertahun-tahun, dan pada saat satu ayat diwahyukan, beliau bisa menempatkannya pada tempat yang tepat dengan petunjuk Ilahi, dan ketika ayat yang lain turun, beliau akan menempatkan di tempat lain. Beliau sendiri tidak tahu baca-tulis bahkan beliau tidak punya buku catatan di rumahnya dimana memorandum bisa dicatat. Beliau selalu mengaji Qur’an berdasarkan ingatan, meskipun demikian baik dibaca dalam salat ataupun di kesempatan lain, beliau tidak pernah berbuat kesalahan. Beliau sering mengaji Qur’an dari macam-macam tempat pada waktu salat, tetapi tak pernah ada suatu perobahan baik teks maupun susunan dari Qur’an. Rincian dari agama, yang kebanyakan berisi inti-sari dari Qur’an, begitu pun ribuan masalah Hukum, yang terus diajarkannya kepada umat, namun beliau tidak pernah lupa bahkan titik yang terkecil pun dari Hukum, dan tak pernah memberikan keterangan yang bertentangan mengenai hal ini pada berbagai kesempatan. Kini, jika para pengarang lupa akan apa yang ditulisnya sendiri, tetapi beliau tidak akan pernah lupa. Ini adalah suatu indikasi yang jelas dan tajam bahwa Allah adalah Gurunya, dan ini juga suatu mukjizat besar dan agung di hadapan mana kecerdasan manusia menundukkan kepalanya, karena peristiwa sejarah ini tak dapat diingkari.

Ucapan kecuali bila Allah menghendaki, sama sekali tak berarti bahwa beliau terkadang bisa lupa satu bagian, karena hal ini akan condong menganggap pernyataan diatas tak berarti; jadi akan terbaca: ”Engkau tidak lupa akan apa yang Kami ajarkan kepadamu tetapi engkau akan melupakan apa yang Allah kehendaki”. Bila Allah ingin suatu hal itu dilupakan, buat apa Dia mengajarkannya? Jadi, jelas pengertian ini naif dan salah . Kata depan illa (kecuali) di sini berarti hal-hal di luar sehingga ungkapan di sini berarti: ”Apa pun yang diajarkan kepadamu oleh Allah tak dapat engkau lupakan, tetapi kamu bisa lupa hal-hal lain seperti manusia pada umumnya”.

Dengan firman Apa yang Allah kehendaki, Allah telah menunjukkan bahwa ”sifat lupa engkau seperti manusia umumnya adalah juga mengandung suatu maksud dari rencana Ilahi”. Dengan kata lain, apa pun yang dia pelajari dari Allah sebagai rasulNya, apakah itu Qur’an ataupun rincian lain dari agama, dia tak akan pernah lupa, tetapi sebagai manusia biasa, bila beliau lupa, maka itu adalah rencana Allah dan ada suatu kebijakan Ilahi di baliknya.

Satu segi dari kebijaksanaan Allah semacam itu, yakni bahwa beliau tidak pernah lupa akan wahyu Ilahi serta rincian dari Hukum, hal itu merupakan suatu mukjizat yang agung, karena sudah diatur sedemikian rupa sehingga mental beliau terbina dan mustahil beliau bisa lupa. Tidak lupa akan wahyu Ilahi dan rinciannya berupa Hukum sebagai Rasulullah, dan lupanya beliau atas hal-hal lain dalam hidup kesehariannya menyoroti suatu perbedaan yang jelas antara dua hal – suatu daya supranatural dan keterbatasan manusia.

Kedua, lupa bagi sifat manusia itu perlu bagi kemanusiaannya, karena kelonggaran dari Hukum Ilahi bisa diberikan bagi kelemahan manusiawi ini. Contohnya, Nabi Suci menentukan jumlah raka’at dalam salat di bawah petunjuk Ilahi dan dia tak pernah lupa akan petunjuk ini; tidak pernah beliau menyatakan bahwa salat zuhur itu tiga rakaat kecuali empat sebagaimana ditetapkan. Ini adalah kerasulannya. Tetapi lihatlah bagaimana bekerjanya keadaan manusiawinya. Ketika beliau memimpin salat, suatu kali beliau berbuat kesalahan. Bukannya empat rakaat, beliau hanya melakukannya dua, dan ketika para sahabat menunjukkan hal itu, maka beliau meneruskan dua rakaat lagi, dan kemudian melakukan sujud sahwi (sujud mohon ampun atas kelupaan kita). Kini, bila Nabi Suci tidak melakukan kelupaan yang tak disengaja ini, maka umat ini akan mengalami kesulitan, karena sebagai manusia mereka pasti akan mengalami kesalahan semacam ini dan dengan ini maka prosedur untuk memperbaiki kesalahan itu diperlukan. Jadi, dibawah rencana Ilahi, Nabi Suci membuat kesalahan karena kondisi manusiawinya dan kemudian suatu penyembuhan atas situasi ini disediakan dalam syariat. Jadi, inilah yang dimaksud di sini bahwa ”Apa pun yang Allah bacakan kepadamu, kamu tak akan pernah melupakannya pada waktu kamu ajarkan kepada yang lain, atau pun yang kamu letakkan sebagai suatu contoh melalui perbuatan”.

Tepat di saat beliau menyerap ayat-ayat Qur’an dalam fikirannya, begitu pun ajaran Qur’an ini juga dicatat oleh ingatannya. Dan demikian pula amal perbuatan beliau yang senantiasa selaras dengan Qur’an, seperti halnya juga penerangan agama yang beliau berikan. Terkadang beliau lupa karena kondisi manusiawinya, tetapi tidak pernah dalam menyiarkan kata-kata Ilahi atau dalam hal-hal kerasulannya, tetapi lebih mengenai perkara yang biasa dilakukan oleh manusia umumnya.

Ada dua hal yang sangat cerdas dalam ayat berikut ini: ”Sesungguhnya Ia mengetahui yang nyata dan yang tersembunyi”. Satu adalah tanda mukjizat yang diatur oleh Allah di atas, yakni bahwa apa pun juga yang Nabi Suci pelajari dari Allah, beliau tidak pernah lupa. Tanda ini meliputi kedua jenis wahyu – wahyu yang nampak, yakni al-Qur’an, yang akan dibacakannya kepada umat, dan wahyu yang tersembunyi yakni ilham yang masuk ke hatinya secara rahasia, dan di bawah perintah inilah beliau menerangkan kandungan Qur’an Suci itu serta belaiu sendiri beramal sesuai dengannya. Guru dari kedua macam wahyu ini adalah Allah Ta’ala, dan tanda yang diatur untuk membuktikan bahwa wahyu itu berasal dari Allah adalah tak pernahnya beliau melupakannya. Sekarang, jelas, bahwa dengan tidak melupakan wahyu yang nampak dari Allah adalah suatu tanda dari Allah, maka tidak melupakan rincian dari syariat, baik teori maupun prakteknya, haruslah menjadi alasan atas ilham yang diam-diam ini yang juga dari Allah, suatu inspirasi melalui mana Allah mengajarkan Nabi Suci rincian dari agama.

Karena itu, apa yang Allah firmankan di sini adalah bahwa: Allah, Yang mengetahui wahyu yang nampak, yakni al-Qur’an, yang dibacakan kepada nabi Suci, juga mengetahui tentang wahyu tersembunyi melalui mana rincian syariat itu diturunkan, dan Dia mempermaklumkan berdasarkan pengetahuan ini, bahwa apa pun yang Nabi Suci bacakan dari Allah, tak pernah beliau melupakannya. Karena itu, petunjuk ini terjaga rapi dan berharga untuk diimplementasikan serta berharga untuk diikuti.

Hal kedua yang cerdas di sini adalah bahwa manusia itu tidak sadar akan segala kebutuhannya, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Untuk membimbingnya sesuai dengan seluruh keperluannya ini dan mengajarkannya adalah suatu pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, karena Dia adalah Pencipta dari sifat manusia dan Dia tahu akan setiap kemampuan serta kepandaian setiap manusia, baik itu yang tersembunyi maupun yang nampak, dan Dia yang dapat menunjukkan jalan untuk pensucian serta pengembangan.

Karenanya adalah penting bahwa Allah, Dia sendiri, harus memberikan pendidikan dan pengajaran kepada Nabi Suci untuk membimbing umat manusia, dan dengan cara sedemikian sehingga tak ada kemungkian untuk melupakan atau salah dalam hal itu. Bila tidak, manusia itu karena terbatas dan kurangnya ilmu, tidak dapat mengerti akan kebutuhannya,  ataupun bisa mengupayakan cara yang benar untuk bimbingan mereka.

  1. Dan Kami akan melicinkan jalan dikau ke arah kemudahan.

Dengan yusra (mudah) berarti amal saleh, karena hal itu berakibat kenyamanan dan kebahagiaan. Yakni, ”Kalian berusaha untuk beramal saleh dalam bentuk penerimaan terhadap petunjuk Ilahi dari Allah Ta’ala, dan kalian sampaikan kepada umat manusia, maka Kami akan menolongmu dalam misi ini dan menyediakan fasilitas serta kenyamanan buatmu dan akan menyingkirkan kesulitan dari jalanmu”.

Kebenaran atas perkara ini adalah bahwa bila suatu amal itu baik dan seseorang ingin mengerjakannya. Allah Yang Maha-tinggi, pasti menyiapkan kenyamanan dan fasilitas serta menolongnya, dan bila ada kesukaran menghadang jalannya, Dia pasti akan menyingkirkannya. Ini adalah sesuatu yang telah dialami oleh semua pejalan ruhani.

Bila seseorang itu abai terhadap amal saleh, maka itu adalah kerugiannya sendiri, sebab telah diriwayatkan dalam Hadist bahwa jika seseorang itu mendatangi Allah selangkah, maka Allah akan maju kepadanya seratus langkah, dan bila dia mendatangi dengan berjalan maka Allah berlari. Hendaknya seseorang mengayunkan langkah dengan tulus dalam berbuat kebajikan dan Allah sendiri yang akan datang membantunya.

  1. Maka berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu berguna.

Tak ada paksaan yang digunakan pada saat menasehati orangorang kepada petunjuk, hingga seorang pengajar tidak boleh bosan dan frustrasi serta harus tetap bertugas mengingatkan umat manusia akan kebenaran agama.

  1. Orang yang takut akan menaruh perhatian.

Siapa yang takut kepada Allah dan gentar atas hari di saat dia dipanggil untuk bertanggung-jawab di hadapan Allah atas segala tindakannya pasti akan memperhatikan dan mengambil manfaat dari nasehat ini.

  1. Dan orang yang paling celaka akan menjauhkan itu.

Penggolongan sa’id (beruntung) dan shaqi (celaka) itu berdasarkan perbuatan seseorang dan tidak karena kelahiran. Tak seorangpun yang diciptakan bernasib baik atau sial sejak lahir. Tidak, akan tetapi seseorang itu menjadi penghuni surga atau neraka sebagai hasil amal perbuatannya; seorang penghuni surga itu beruntung dan penghuni neraka itu celaka. Pendeknya, nasib baik dan celaka adalah akibat dari hasil perbuatan seseorang. Hal yang sama bisa diterapkan di sini. Orang yang celaka atau tidak beruntung itu lari dari petunjuk (siapakah yang lebih rugi dibanding orang yang mengingkari suatu ajaran yang sangat agung seperti Qur’an Suci) dan kecelakaan semacam itu adalah akibat dari kelakuan buruk dan tak adanya rasa takut atas perhitungan Allah.

Dengan menempatkan yang celaka berdampingan dengan seorang yang takut dalam ayat sebelumnya, Allah telah menjelaskan bahwa barangsiapa yang takut kepadaNya dan meresapkan dalam hatinya nasehat yang terdapat dalam al-Qur’an adalah orang yang beruntung. Sebaliknya, barangsiapa tidak takut kepada Allah dan mengingkari Peringatan ini adalah celaka dan tidak beruntung. Diriwayatkan dalam Hadist bahwa sebagai tanggapan atas pertanyaan Allah, para malaikat menjawab bahwa ada sekumpulan orang dalam tempat ini dan itu dimana mereka ingat kepada Allah, dan ada duduk di tengah mereka seorang shaqi (yang celaka dan tidak beruntung); maka Allah Ta’ala berfirman: ”Seseorang yang duduk di tengah pertemuan semacam itu tidak mungkin seorang shaqi”. Yakni, bila seseorang duduk di tengah kumpulan orang yang tulus, bagaimana mungkin dia menjadi seorang shaqi? Hanya dia yang menghindari pertemuan semacam itu cocok disebut shaqi

  1. Yang akan hangus dalam api yang besar.

Yakni, orang semacam itu yang disebut tidak beruntung karena ia berakhir buruk, karena ia akan masuk ke Api, dan ini adalah api yang sangat hebat. Ada berjenis-jenis api yang berbeda di dunia tetapi dalam

pandangan Allah, api yang dinyalakan dalam hati seorang manusia adalah seperti suatu api neraka yang disebabkan oleh nafsu serta keinginan rendahnya; dan ini adalah api yang paling besar dari segalanya. Meskipun ini tak dirasakan begitu kuat di dunia fana, tetapi itu akan terasa sangat marak di Akhirat.

  1. Lalu di sana ia tak akan mati dan tak pula hidup.

Tak ada gambaran lebih baik yang bisa disajikan mengenai hukuman di Neraka, yakni, bahwa dia tidak mati, yang mana dia akan mengakhiri hukumannya, dan tidak hidup, dalam arti kehidupan itu bisa disebut suatu hidup yang wajar. Dengan perkataan lain, itu adalah suatu hidup yang penuh duka dan derita sehingga mati rasanya lebih baik daripada menjalani kehidupan semacam itu. Tetapi kematian itu tidak juga datang, sebagaimana juga suatu kehidupan yang layak disebut hidup yang diinginkan.

  1. Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya

Yakni, bahwa keberhasilan dalam kehidupan maupun keagamaan itu tergantung kepada pensucian diri, suatu pensucian yang membantu manusia untuk berkembang ruhaninya, dan cara untuk mencapai pensucian diri adalah melalui tasbih (pengagungan kepada Tuhan), yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.

  1. Dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu bersalat.

Metode untuk ingat kepada Allah telah digambarkan dalam permulaan surat ini, yakni: ”Mahasucikanlah nama Tuhan dikau, Yang Maha-luhur”. Jadi, bila seseorang me Mahasucikan Tuhan, Yang Maha Agung, baik dalam kata-kata maupun dalam karya, dan bertindak sesuai dengan petunjukNya agar tercapai tujuan penciptaannya, maka langkahnya akan makin meningkat setiap hari di jalan pensucian diri. Dengan dia senantiasa mengumandangkan Kesucian dan Kesempurnaan Allah melalui kata-kata dan amal perbuatannya, Tuhan juga akan senantiasa memberkahinya dengan pensucian dan penyempurnaan diri. Hasil dari me Maha sucikan Allah adalah pensucian diri orang itu sendiri dan melakukan tasbih dengan menyebut asm-Nya yang Maha tinggi, akan meningkatkan seseorang dalam pensucian dirinya. Tetapi manusia itu lemah, sehingga untuk mencapai tujuan penciptaannya dia membutuhkan bantuan dari Tuhannya, karena itulah pentingnya salat, sehingga dia bisa menundukkan dirinya dan mohon pertolongan kepadaNya serta tuntunan ke jalan yang benar. Itulah sebabnya mengapa Surat al Fatihah dipandang sebagai inti sari dari salat. Dengan melantunkan doa ”Kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami pada jalan yang benar”, seseorang memohon petunjuk pada jalan dengan mana orang bisa mencapai tujuan penciptaannya dan juga seseorang bisa memenuhi kewajibannya untuk mengagungkan tasbih kepada Tuhannya. Karena itulah mengapa bila seseorang itu sedang sujud dalam salatnya, suatu kedudukan yang melambangkan kerendah hatian dan kesiapan untuk melayani yang sangat, maka seseorang itu mengucapkan tasbih yang sama yang disebutkan dalam surat ini yakni: Maha-sucilah engkau wahai Allah, Yang Maha tinggi. Dengan kata lain, ketika mengalunkan tasbih kepadaNya, dia mohon pertolongan kepada Allah dalam penyerahan diri sepenuhnya dan dalam seluruh ketulusan dan kehinaan, karena, ini adalah kesempatan untuk membawakan tasbih dalam praktek, suatu tasbih yang didoakan ketika membaca Surat al Fatihah.

  1. Tetapi kamu lebih suka pada kehidupan duniawi,
  2. Padahal Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Dalam ayat-ayat ini Allah telah menunjukkan penyakit yang sesungguhnya – bahwa yang merupakan alasan sesungguhnya atas kecelakaan serta kelalaian kepada petunjuk Allah yakni prioritas seseorang yang diberikan kepada perkara dunia dan hawa nafsunya, meskipun setiap orang tahu bahwa segenap kenikmatan dan kesenangan hidup ini hanya sementara serta terbatas saja. Karenanya, meninggalkan kehidupan Akhirat yang lebih baik dan lestari demi kehidupan yang terbatas dan bakal binasa ini adalah suatu perkara yang paling bodoh dan celaka.

Mujaddid Agung abad ini, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri  Gerakan Ahmadiyah dalam penyiaran Islam, telah membuat suatu diagnosa yang paling tepat dan memberikan obat yang paling manjur untuk penyakit yang menimpa manusia pada saat ini, dengan mencantumkan suatu semboyan yang sangat ditekankan: ”Saya akan mendahulukan Keimanan Islam saya diatas segala perkara dunia” dalam baiat. Suatu bangsa yang tegak untuk mengucapkan tasbih ke seluruh dunia harus memperhatikan hal ini, yakni, bahwa dia harus memberikan prioritas kepada urusan Agama di atas segala perkara lainnya.

  1. Sesungguhnya ini tersebut dalam Kitab Suci yang sudah-sudah.
  2. Kitab sucinya Ibrahim dan Musa.

Ajaran yang sama telah diberikan dalam kitab-kitab suci dari para nabi terdahulu yakni. bahwa: Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya. Manusia hanya bisa mencapai sukses melalui pensucian diri, dan pensucian diri adalah hasil dari tasbih kepada Allah. Dengan kata lain, selalu menjadi ajaran dari semua nabi, bahwa manusia tidak boleh membatasi pandangannya hanya pada urusan dunia. Tidak, dia juga harus selalu membukakan matanya atas tujuan penciptaannya, yakni Akhirat, dimana dia akan menemukan kehidupan yang baru, dan untuk kesuksesan di sana, adalah penting dia harus membawakan pensucian diri ini dengan melantunkan tasbih kepada Tuhannya, baik dengan kata-kata

maupun amal perbuatan.

Nabi Musa a.s. dan Ibrahim  a.s. telah secara khusus disebutkan di sini, karena  Nabi Musa a.s. adalah seorang nabi yang dikenal oleh Bani Israil dan pemimpin mereka, sedangkan Nabi Ibrahim a.s. adalah Penghulu baik kaum Israil maupun Ismail. Karena itu, pada saat kepada kedua bangsa itu khusus dialamatkan, maka menyebut ajaran dari penghulu nabi mereka mengandung efek khusus. Tetapi pernyataan itu tidak terbatas kepada kedua kaum itu saja. Tidak, dengan menyatakan bahwa ini merupakan ajaran dari semua Kitab Suci yang sudah-sudah, maka pesannya diperluas dan argumentasinya dibawa ke rumah segala bangsa di dunia, karena bukanlah seorang bijak yang menolak kesaksian yang tak terbantah ini dan ajaran dari segenap orang tulus yang dikenal di dunia.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: