Enam Tingkatan Perkembangan Rohani dan Jasmani

 Oleh: Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad compares each spiritual stage with its physical counterpart as is given in the beginning of chapter 23 of the Holy Quran:

Six Spiritual Stages. Stage 1, Successful are the believers, who are humble in their prayers. Stage 2, And who shun what is vain. Stage 3, And who give their zakah (Charity) or act for the sake of purity. Stage 4, And who restrain their sexual passions, except in the presence of their mates, or those whom their right hands possess, for such surely are not blame able. But whoever seeks to go beyond that, are transgressors. Stage 5, And those who are keepers of their trusts and covenants. Stage 6, And Those who keep a guard on their prayer

Six Physical Stages. Stage 1, And certainly We create man of an extract of clay. Then We make him a small life germ in a firm resting place. Stage 2, Then We make the life germ a clot. Stage 3, Then We make the clot of a lump of flesh. Stage 4, Then We make (in) the lump of flesh bones. Stage 5, Then We clothe the bones with flesh. Stage 6, Then We cause it to grow into another creation. So blessed be Allah, the Best of all creators

 Kali ini kami akan membahas enam tingkatan perkembangan rohani. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala di dalam Qur’an Syarif (Al-Mu’minun 23 :1-9) sebagai berikut:

  1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.
  2. (Yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya.
  3. Dan orang yang menjauhkan diri dari apa saja yang tak ada gunanya.
  4. Dan orang yang melakukan perbuatan demi kesucian.
  5. Dan orang yang mengekang syahwatnya.
  6. Kecuali terhadap isterinya atau apa yang dimiliki oleh tangan kanannya, karena sesungguhnya jika demikian mereka tak tercela.
  7. Tetapi barangsiapa yang mencari di luar itu, mereka adalah orang yang melanggar batas.
  8. Dan orang yang memenuhi amanatnya dan janjinya.
  9. Dan orang yang memelihara shalatnya.

Bersamaan dengan itu, juga telah ditetapkan enam tingkatan perkembangan jasmani. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam Quran Suci (Al-Mu’minun, 23:13-14)

13. Lalu itu Kami jadikan benih manusia dalam sebuah tempat yang kokoh.

14. Lalu benih manusia itu Kami jadikan segumpal darah, lalu itu Kami jadikan segumpal daging, lalu (dalam) segumpal daging itu Kami buat tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging, lalu Kami menumbuhkan itu menjadi makhluk yang lain. Maha berkah Allah, sebaik-baik Tuhan Yang Menciptakan

TINGKATAN PERTAMA PERKEMBANGAN ROHANI DAN JASMANI

Seperti telah kami terangkan di atas, jelas kiranya bahwa tingkatan pertama perkembangan rohani adalah sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

Yakni: Telah beruntung (telah mendapatkan keselamatan) orang-orang yang beriman, yang khusyuk’, patuh dan rendah hati di dalam salatnya serta di dalam mengingat Ilahi

Sesuai dengan itu, dikemukakan pula tingkatan pertama perkembangan jasmani yang tersebut di dalam ayat:

Yakni: Kemudian Kami jadikan benih manusia (nutfah) dalam sebuah tempat yang kokoh.

Maka setelah Allah Ta’ala menciptakan Adam, secara jasmaniah ditetapkan bahwa nutfah termasuk tingkatan pertama wujud manusia. Jelas, bahwa nutfah adalah semacam benih yang secara global merupakan kumpulan dari segala kekuatan, sifat, anggota tubuh bagian dalam dan bagian luar, bentuk serta warna yang akan nampak secara jelas dan terinci pada tingkat perkembangan kelima. la akan kelihatan secara lengkap dan sempurna pada tingkat perkembangan keenam.

Lain daripada itu, nutfah adalah wujud tingkat perkembangan yang paling penuh bahaya daripada tingkat perkembangan yang lain, karena nutfah itu baru semacam benih yang belum mengikat hubungan dengan tanah. Dan nutfah itu belum bertemu dengan rahim yang memiliki daya tarik. Ada kemungkinan, nutfah itu musnah setelah jatuh di dalam vagina wanita. Sebagaimana sekali tempo benih bisa rusak setelah jatuh di atas tanah yang tandus dan berbatu. Atau ada kemungkinan nutfah itu pada dasarnya memang cacat, yakni di dalamnya terdapat kerusakan sehingga tidak mampu berkembang serta tidak memiliki daya dan kekuatan untuk meluncur ke arah rahim. Nutfah semacam itu seperti barang mati tak mempunyai daya gerak. Hal tersebut bagaikan benih busuk ditaburkan di atas tanah. Karena benih itu pada dasarnya tidak dapat tumbuh kendati tempat penaburannya subur  Atau mungkin juga karena suatu penyakit (yang tak perlu kami uraikan), nutfah tidak bisa berhubungan dengan rahim, bahkan daya tarik rahim ­menjadi sia-sia. Hal ini sebagaimana benih, pada suatu saat terinjak oleh telapak kaki, dipatuk burung atau rusak karena musibah-musibah yang lain.

Demikian pula keadaan tingkat pertama perkembangan rohani orang-orang yang beriman, yaitu mereka khusyuk”, penuh kepatuhan, kerendahan hati serta kelembutan hati di dalam salatnya dan di dalam mengingat Ilahi. Dan mereka senantiasa asyik di dalam mengingat Allah dengan sepenuh gejolak hatinya. Hal ini sebagaimana dinyatakan di dalam ayat:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang yang khusyuk’ dalam salatnya” (Al-Mu’minim, 23:1 -2).

Inilah keadaan khusyuk’ yang pengertiannya telah diisyaratkan di atas. Yaitu sebagai tingkatan pertama untuk mempersiapkan wujud rohani. Atau katakanlah bahwa khusyuk’ itu “benih pertama” yang ditaburkan di atas tanah ibadah. Secara ringkas di dalam khusyuk’ itu terkandung segenap kekuatan, sifat, bentuk, warna dan keindahan rohaniah, yang pada tingkat perkembangan kelima dan keenam akan nampak dengan jelas bagi insan kamil dan akan muncul dalam bentuknya yang memikat hati.

Oleh karena khusyuk’ ibarat nutfah, sedangkan khusyuk’ itu merupakan tingkatan pertama wujud rohani, maka di dalam ayat Qur’an ditempatkan pada tahap pertama dan diperlihatkan bersamaan dengan nutfah. Sehingga orang yang memperhatikan dan merenungkan Qur’an Syarif akan mengerti bahwa keadaan khusyuk’ di dalam shalat adalah semacam nutfah untuk keberadaan rohani. Sama halnya dengan nutfah, secara rohaniah di dalam “keadaan khusyuk'” tersimpan semua kekuatan, sifat, bentuk dan warna insan kamil. Seperti nutfah, selama nutfah itu belum mengikat hubungan dengan rahim, masih berada dalam keadaan bahaya. Begitu pula dalam
hal rohani, selama orang yang dalam keadaan khusyuk’ itu belum menggalang hubungan akrab dengan Ar-Rahim (Allah Swt), tentu ia tidak sunyi dari bahaya. Ingatlah, semua anugerah Tuhan yang tanpa perantaraan usaha atau perbuatan seseorang itu semua timbul dari sifat Rahmaniah (sifat Maha Murah Tuhan) Misalnya bumi, langit dan segala apa yang berada di langit maupun di bumi serta di antara keduanya termasuk manusia sendiri; semuanya itu telah diciptakan oleh Allah SWT untuk keperluan manusia. Semua karunia tersebut timbul dari sifat Rahmaniah (sifat Maha Murah Tuhan). Sebaliknya anugerah yang timbul karena sebagai balasan atau buah dari amal-usaha, ibadah atau pengabdian serta perjuangan seseorang, itu disebut anugerah Rahimiah (anugerah yang timbul dari sifat Maha Kasih Tuhan). Inilah Sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku bagi bani Adam. Singkatnya, apabila manusia berusaha untuk khusyuk’ di dalam shalat dan mengingat Ilahi, maka berarti ia mempersiapkan diri untuk menerima karunia Rahimiah.

Jadi perbedaan antara nutfah dengan khusyuk’ yang merupakan tingkatan pertama wujud rohani hanyalah: nutfah membutuhkan daya tarik rahim, sedangkan khusyuk’ memerlukan daya tarik Ar-Rahim (Allah SWT). Sebagaimana nutfah, mungkin dapat musnah sebelum tersentuh oleh daya tarik rahim. Demikian pula untuk tingkatan pertama wujud rohani yakni keadaan khusyuk’ mungkin bisa hilang-musnah sebelum menyentuh daya tarik Ar-Rahim (Allah SWT) dan berhubungan dengan-Nya Sebagaimana banyak orang yang pada keadaan permulaan, dalam salat mereka menunjukkan kesungguhan, merintih dan meneteskan air mata menampakkan kegilaan dalam mencintai Allah dan menampakkan keadaan yang begitu asyik di hadapan Ilahi. Namun karena belum tercipta hubungan erat dengan Dzat sumber karunia yang namanya Ar-Rahim (Allah) dan karena pancaran daya tarik-Nya yang khas belum menyentuh mereka, maka segenap keadaan khusyu’nya tanpa fondasi. Sehingga sering kali di antara mereka tergelincir dalam kesesatan bahkan sampai-sampai di antara mereka ada yang jatuh dalam keadaan yang lebih buruk daripada mulanya.

Pendeknya, ini persamaan yang menakjubkan Sebagaimana nutfah, tingkatan pertama wujud jasmani; selagi nutfah belum mengikat hubungan dengan rahim, itu belum berarti. Begitu pula keadaan khusyuk , tingkatan pertama wujud rohani; selama itu belum tercipta hubungan dengan Ar-Rahim (Allah), maka keadaan khusyuk’ itu belum ada artinya. Oleh karena itu, kalian akan menemukan ribuan orang yang dalam sebagian usianya pernah menikmati rasa khusyuk’ dan bergairah dengan disertai tangis hati, yang menimbulkan deraian air mata di dalam mengingat Ilahi dan di dalam salatnya. Namun kemudian laknat menerpanya sehingga seketika itu pula ia tergelincir ke arah gejolak hawa nafsu dan terhanyut oleh daya tarik dunia. Inilah posisi yang memprihatinkan, kebanyakan keadaan khusyuk’ itu musnah sebelum bertalian dengan Rahimiah. Dan keadaan khusyuk’ itu lenyap sebelum daya tarik Allah Ar-Rahim berperan. Dengan demikian keadaan tingkatan pertama wujud rohani itu tak ubahnya semisal nutfah yang musnah sebelum mengikat hubungan dengan rahim. Pendek kata, tingkatan pertama wujud rohani (keadaan khusyuk’) mempunyai persamaan dengan tingkatan pertama wujud jasmani (nutfah) dalam hal: tingkatan pertama wujud jasmani yakni nutfah akan sia-sia tanpa daya tarik rahim. Begitu pula tingkatan pertama wujud rohani yakni keadaan khusyuk’ akan tiada guna tanpa daya pikat Ar-Rahim (Allah Ta’ala). Sebagaimana di. dunia ada ribuan nutfah yang menjadi korban dan lenyap-binasa sebelum bersentuhan dengan rahim. Begitu pula di dunia ini ada ribuan keadaan khusyuk’ yang musnah sebelum tercipta hubungan dengan Allah Ar-Rahim. Beribu-ribu orang jahil merasa gembira dengan kekhusyu’annya,’ kegairahan batinnya dan kelembutan hatinya yang hanya beberapa hari saja dan kemudian mengira bahwa mereka telah menjadi wali, telah menjadi ghouts (istilah Sufi: semacam wali – pent.) telah menjadi quthub (istilah Sufi: semacam wali – pent.) dan termasuk abdal (istilah Sufi: semacam wali, pent.) serta menjadi pilihan Tuhan. Padahal mereka belum apa-apa, baru seperti semacam nutfah. Mereka belum menyentuh Tuhan. Sayang sekali, karena pandangan mereka yang sempit, dunia menjadi hancur. Ingatlah bahwa tingkatan pertama keadaan rohani yakni keadaan khusyuk’ mungkin dapat musnah karena berbagai sebab. Sebagaimana nutfah yang merupakan tingkatan pertama keadaan jasmani, ada kemungkinan bisa musnah lantaran bermacam-macam gangguan, di antaranya gangguan karena cacat dari asalnya. Misalnya di dalam khusyuk’ itu tercampuri dengan syirik, bid’ah, diikuti dengan hal-hal yang tiada guna, seperti gejolak hawa nafsu dan luapan nafsu kotor, atau hati terikat oleh hubungan-hubungan rendah serta dikuasai oleh nafsu duniawi  Jadi karena semua penyakit kotor inilah dapat menyebabkan keadaan khusyuk’ tidak mampu lagi mengulurkan tali hubungan dengan Allah Ar-Rahim. Sebagaimana nutfah yang cacat tidak akan dapat berhubungan dengan rahim. Inilah sebabnya keadaan khusyuk’ dari para jogi Hindu (petapa Hindu) dan pendeta Kristen tidak membuahkan manfaat. Meskipun dalam luapan hatinya di hadapan Tuhan semakin menjadi-jadi dan walaupun tubuh mereka seolah-olah tinggal tulang dan kulit, namun Allah Ar-Rahim tetap tidak berhubungan dengan mereka. Karena di dalam keadaan khusyuk’ mereka terdapat cacat dari asalnya. Demikian juga para maulwi Islam yang meninggalkan tuntunan Qur’an Syarif dan bergelimang di dalam ribuan bid’ah. Sampai-sampai mereka tak merasa malu kendati meneguk minuman keras dan kefasikan yang lain pun bagi mereka dirasa seperti air susu ibu, karena keadaan mereka sedikit pun tak ‘sambung’ dengan Allah Ar-Rahim. Bahkan semua keadaan itu amat menjijikkan menurut pandangan Allah Ar-Rahim. Maka meskipun penampilan mereka dalam mengucapkan kalimah-kalimah thoyyibah begitu asyik, bergairah sembari menggeleng-gelengkan kepala, tetapi mereka sedikit pun tak dapat menyentuh benang penghubung dengan Allah Ar-Rahim. Keadaan mereka bagaikan nutfah yang musnah karena penyakit sipilis atau penyakit kusta, sehingga tidak mampu berhubungan dengan rahim.

Jadi ada atau tidaknya hubungan dengan rahim dan Ar-Rahim sangat  tergantung pada ada tidaknya penyakit-penyakit atau cacat-cacat jasmani dan rohani. Sebagaimana nutfah tidak mampu lagi berhubungan dengan rahim dan tidak dapat lagi tertarik ke arah rahim karena penyakit atau cacat dari asalnya. Demikian pula keadaan khusyuk’ yang diibaratkan nutfah, tidak mampu lagi mengikat hubungan dengan Allah Ar-Rahim disebabkan adanya cacat dari asalnya seperti takabur, ujub, riya’ (suka pamer), syirik atau karena penyimpangan-penyimpangan yang lain. Jadi terciptanya hubungan hakiki antara keadaan khusyuk’ dengan Allah Ar-Rahim adalah mutlak penting. Hal itu sebagaimana terciptanya hubungan antara nutfah dengan rahim juga mutlak penting. Bila keadaan khusyuk’ itu tidak ada dan tidak mungkin ada hubungan hakiki dengan Allah Ar-Rahim, maka keadaan yang demikian itu ibarat nutfah kotor dan mati yang tidak dapat menciptakan hubungan hakiki dengan rahim.

Hendaknya diingat, keadaan khusyuk’, kegairahan dan ketenangan batin yang diperoleh dan dirasakan manusia di dalam salat dan mengingat Ilahi bukanlah sebagai dalil atau ‘patokan’ bahwa manusia itu telah memiliki hubungan hakiki dengan Allah Ar-Rahim. Hal ini sebagaimana perasaan nikmat yang dialami manusia pada saat masuknya nutfah ke dalam vagina, tidak berarti bahwa nutfah itu pasti berhubungan dengan rahim. Tetapi untuk “hubungan” itu ada pertanda dan pengaruh tersendiri. Jadi kegairahan dan keheningan di dalam mengingat Ilahi yang dengan kata lain disebut keadaan khusyuk’ itu bagaikan keadaan nutfah tatkala jatuh ke dalam vagina yang menimbulkan kenikmatan sempurna di alam jasmani. Namun hanya dengan masuknya tetesan air mani ke dalam vagina belum tentu berarti bahwa nutfah itu terus meluncur dan berhubungan dengan rahim. Maka keadaan khusyuk’ dan kegairahan rohani itu belum tentu menunjukkan adanya jalinan hubungan antara orang yang khusyuk’ itu dengan Allah Ar-Rahim. Seperti nutfah yang memancar ke dalam vagina wanita tuna susila lewat perbuatan zina pun dapat menimbulkan rasa nikmat, tak ubahnya seperti kalau nutfah itu memancar ke dalam vagina istrinya sendiri. Demikian pula keadaan khusyuk, khudu’ dan kegairahan seorang penyembah patung dan penyembah makhluk, itu bagaikan keadaan laki-laki penzina yang sedang asyik menikmati kelezatan bercampur dengan wanita tuna susila

Sebagaimana nutfah yang menjadi kesaksian bagi alam rohani, jika ada seseorang bercampur dengan istrinya, dengan memancarnya air mani ke dalam vagina wanita, ia akan memperoleh kelezatan sempurna. Hal ini bukanlah sebagai dalil bahwa wanita itu pasti hamil. Begitu pula keadaan khusyuk’ dan hening di dalam salat dan mengingat Ilahi, kendati terasa lezat dan sejuk di hati, itu belum tentu sebagai pertanda bahwa ia benar-benar telah berhubungan dengan Allah. Memang mungkin sekali keadaan khusyuk’ ini dialami oleh seseorang, namun dia belum juga memiliki ikatan hubungan dengan Allah Ta’ala. seperti tidak sedikit kesaksian yang membuktikan bahwa banyak orang yang, terenyuh hatinya dan menangis terisak-isak di tengah-tengah pertemuan yang dihujani dengan nasihat-nasihat dan peringatan ataupun di dalam keadaan salat dan mengenang Ilahi. Bahkan ada yang tangisnya susul menyusul, setiap mendengar satu kalimat peringatan atau nasihat spontan disambut dengan tangis dan tangis. Namun dia masih belum juga terlepas dari hal-hal yang tiada guna. Masih banyak perbuatan dan perkataan sia-sia yang melekat pada kuduknya. Dari keadaan yang demikian dapat ditarik garis kesimpulan bahwa dia sebenarnya belum dapat menghubungkan diri dengan Allah, dan belum mampu menanamkan keagungan dan keperkasaan Ilahi di dalam hati. Memang hal ini nampaknya aneh dan lucu, nafsu yang begitu kotor kok dapat berpadu dengan keadaan khusyuk’ dan gelora hati nan suci. Hal ini sebagai peringatan dan sekaligus sebagai pembuktian bahwa hanya dengan khusyuk’ dan tangis hati yang tanpa terhindar dari hal-hal yang sia-sia, bukan merupakan kebanggaan. Dan hal ini bukanlah merupakan perlambang adanya hubungan dan kedekatan dengan Allah. Kami pernah menatap dengan mata kepala kami sendiri, banyak wali dan ulama semu yang mudah mencucurkan air mata di kala membaca syair-syair yang menyentuh hati, melihat kejadian yang menyayat hati atau mendengar kisah-kisah yang mengundang rasa iba. Memang pada suatu zaman keadaan khusyuk’ dan peka hati sebagai ciri khusus untuk hamba-hamba yang saleh. Namun pada masa sekarang tidak sedikit orang-orang licik dan pendusta pandai mengolah sikap serta gaya, menampakkan diri seperti khusyuk’ hanya untuk mengelabui mata. Mereka mengenakan pakaian hijau, rambutnya panjang, untaian butir-butir tasbih senantiasa berada dalam genggaman tangannya, bibirnya bergerak-gerak ringan seakan-akan mereka berzikir sepanjang waktu dengan diselubungi deraian air mata yang membasahi pipi. Namun sebenarnya hati mereka busuk, penuh penyakit dan sebenarnya mereka bukan kekasih Ilahi. Inilah orang yang bertipe kedondong, nampaknya dari luar halus memikat hati, namun sebenarnya di dalamnya terdapat biji yang berserabut kasar dan tajam.

Kini terbukti bahwa kekhusyu’an, kekudlu’an dan kesyahduan bukanlah merupakan tanda khusus bagi hamba yang saleh. Melainkan ini adalah semacam kekuatan di dalam diri manusia yang dapat bergerak pada tempat yang semestinya dan pada tempat yang bukan semestinya. Sekali tempo ada orang membaca sebuah kisah rekaan. la mengerti benar bahwa itu sebetulnya cerita rekaan, semacam novel. Walaupun demikian, setelah ia membaca bagian cerita yang menyedihkan, maka gejolak hatinya tak terkendalikan, dan tanpa sengaja air matanya terus mengalir, tak dapat dibendung lagi. Cerita itu begitu menyedihkan dan mempunyai daya pengaruh yang besar. Sehingga pembawa cerita itu sendiri tatkala tengah menyampaikannya, perasaannya ikut terbawa hanyut oleh cerita itu. Sehingga dengan tak disadari titik-titik air mata mulai berjatuhan membasahi pipi dan suaranya pun mulai serak seperti suara orang yang sedang menangis. Sampai titik puncaknya ia benar-benar menangis tersedu-sedu. Di balik tangis itu ia merasakan kelegaan dan ketenangan, seolah-olah lenyaplah sudah beban batinnya. Padahal ia tahu benar bahwa tangisnya bukan timbul dari dasar yang benar, bukan timbul dari dasar adegan senyatanya. Tetapi timbul dari dasar yang salah, timbul dari dasar kisah rekaan belaka. Lalu mengapa dan apa sebabnya sampai bisa terjadi demikian? Sebab kekuatan syahdu dan sedih yang terdapat di dalam diri manusia bisa saja muncul baik pada tempat dan keadaan yang benar maupun pada tempat dan keadaan yang salah  Setiap ada rangsangan yang dapat menggerakkan kekuatan itu, maka secara spontan kekuatan syahdu dan sedih itu muncul, baik itu bagi orang yang beriman maupun bagi orang kafir. Oleh sebab itu, dalam suatu majelis atau pertemuan banyak orang yang tak tahu batas, yang menampakkan dirinya dengan pakaian wali, tetapi mereka terlibat dalam amalan-amalan yang menerjang syariat dan tergelincir dalam berbagai bentuk bid’ah. Mereka mengheningkan suasana hati dan bersedih-sedih dengan mendengar syair-syair dan nyanyian-nyanyian yang menyentuh dasar kalbu. Dengan cara begitu mereka merasakan kelezatan, dan mengira bahwa mereka telah bertemu dengan Allah. Padahal kelezatan yang mereka rasakan itu ibaratkan kelezatan yang dialami seseorang ketika bercampur dengan wanita tuna susila.

TINGKATAN KEDUA PERKEMBANGAN ROHANI DAN JASMANI

Selanjutnya perlu dijelaskan bahwa tingkatan kedua wujud rohani semisal pula dengan tingkatan kedua wujud jasmani. Tingkatan kedua wujud rohani itu dijelaskan dalam ayat karimah yang berbunyi sebagai berikut:

Artinya: Dan orang yang menjauhkan diri dari apa saja yang tak ada gunanya (Al-Mu’minun, 23:3).

Berkenaan dengan itu, dijelaskan pula tingkatan kedua wujud jasmani yang di dalam kalam Ilahi disebut ‘alaqoh. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah Ta’ala:

Artinya: Lalu benih manusia (nutfah) itu Kami jadikan segumpal darah (Al-Mu’minun, 23:14).

Tegasnya, Allah menyelamatkan nutfah dari kemusnahan yang sia-sia. Kemudian dari hubungan nutfah dengan rahim terciptalah ‘alaqoh (segumpal darah). Sebelumnya nutfah itu berada pada posisi yang dilingkupi penuh bahaya. Serta belum dapat diketahui apakah itu nanti bisa menjadi wujud manusia atau bahkan musnah. Namun setelah nutfah itu bertalian dengan rahim, ia selamat dari kemusnahan. Bahkan di situ terjadi satu perubahan yang sebelumnya tidak pernah terjadi, yakni nutfah itu berubah menjadi segumpal darah yang berada di dalam rahim wanita. Dengan demikian wanita itu dapat dikatakan hamil. Berkat benteng rahim yang kuat, nutfah dapat terus berkembang. Namun dalam keadaan demikian nutfah belum mencapai kesucian yang sempurna. Baru berbentuk segumpal darah dan karena pertaliannya dengan rahim maka ia terlindungi dari kemusnahan.

Berkaitan dengan ‘alaqoh (segumpal darah) yang merupakan tingkatan kedua wujud jasmani, dijelaskan pula tingkatan kedua wujud rohani. Sebagaimana yang diisyaratkan di dalam Qur’an Syarif sebagai berikut:

Artinya: Dan orang yang menjauhkan diri dari apa saja yang tak ada gunanya (Al-Mu‘minun, 23:3).

Jelasnya, mukmin yang selamat ialah orang yang dapat menjauhkan diri dari perbuatan, perkataan, gerakan, pertemuan, persahabatan, hubungan dan semangat yang tak ada gunanya. Mukmin yang merdeka ialah orang yang imannya mulai memuncak, sehingga dia begitu mudah membentengi diri dari hal-hal yang tak ada gunanya. Karena perkembangan iman itu sangat dipengaruhi oleh tingkat keakraban hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Pengasih. Hal itu sebagaimana keadaan segumpal darah (‘alaqoh) bisa terjadi karena begitu eratnya hubungan nutfah dengan rahim. Jadi pada tingkatan kedua wujud rohani telah tercipta hubungan antara seseorang dengan Allah Ar-Rahim. Sehingga ia memiliki daya tahan yang kuat untuk menyingkiri semua hal yang tak ada gunanya. Begitu pula, pada tingkatan kedua wujud jasmani telah terjadi hubungan antara nutfah dengan rahim, sehingga terbentuklah ‘alaqoh (segumpal darah). Sebelum mencapai tingkatan kedua, wujud rohani itu belum dapat terhindarkan dari hal-hal yang tak ada gunanya. Tingkatan pertama wujud rohani, yakni keadaan khusyuk’ masih ada kemungkinan mengalami kehancuran dan melahirkan akibat buruk. Demikian juga nutfah yang merupakan tingkatan pertama wujud jasmani. Sebelum terbentuk ‘alaqoh (segumpal darah) sering kali nutfah musnah dengan sia-sia. Kemudian tatkala Allah telah menghendaki bahwa nutfah itu selamat dari kemusnahan secara sia-sia maka atas izin-Nya nutfah itu berubah bentuk menjadi segumpal darah (‘alaqoh) di dalam rahim. Barulah keadaan semacam itu dapat dikatakan sebagai tingkatan kedua wujud jasmani.

Singkatnya tingkatan kedua wujud rohani, yakni keadaan rohani yang dapat terhindar dari segala hal yang tak ada gunanya, ini dapat dicapai manakala telah tercipta hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Rahim. Karena dalam hubungan inilah terkandung kekuatan serta daya penghancur yang dapat menghancurkan hubungan-hubungan yang lain, terutama hubungan dengan hal-hal yang kotor dan menyesatkan. Sehingga manusia dapat selamat dari kehancuran. Meskipun manusia di dalam salatnya bisa mencapai keadaan khusyuk’ yang merupakan tingkatan pertama wujud rohani, namun keadaan khusyuk’ belum juga dapat menghentikan berbagai perkataan, perbuatan dan semangat yang tak ada gunanya, selagi manusia itu belum bertalian dengan Allah SWT. Hal itu semisal orang yang meskipun setiap hari berulang kali bercampur dengan istrinya, namun nutfah yang dipancarkan tak dapat dihindarkan dari kemusnahan selagi nutfah itu belum berhubungan erat dengan rahim istri. Jadi firman Ilahi yang berbunyi:

“Dan orang yang menjauhkan diri dari apa saja yang tidak ada gunanya” 

mengandung makna bahwa mukmin yaitu orang yang dapat memisahkan diri dari hubungan-hubungan yang tak ada gunanya. Dengan memisahkan diri dari berbagai hubungan yang tak ada gunanya, dapat membuahi hubungan yang semakin akrab dengan Allah Ta’ala  Seolah olah dengan menghilangkan hal-hal yang tak ada gunanya dari lintasan pikiran, berarti menanamkan “fondasi hubungan dengan Allah” yang lebih kokoh di dalam hati Karena manusia diciptakan untuk Allah semata-mata difirmankan di dalam Qur’an Syarif:

“Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku (kepada Allah)” (Al-Dhariyat, 51:56)

Secara kodrati di dalam hati manusia terdapat kecintaan kepada Allah Ta’ala. Karena memang ada hubungan azali (hubungan abadi) antara roh manusia dengan Allah Ta’ala. Sebagaimana diungkapkan dalam ayat berikut:

“Bukankah Aku Tuhan kamu? Mereka berkata: Ya kami menyaksikan”. (Al-A ‘raf, 7:172).

Hubungan dengan Allah dicapai manusia lagi dengan melalui ibadah kepada-Nya. Taraf awal hubungan dengan Allah itu ditandai dengan adanya iman kepada-Nya serta adanya kesanggupan diri untuk menghindari segala perkataan, perbuatan, pertemuan, gerakan, hubungan dan semangat yang tak ada gunanya. Hubungan dengan Allah itu sebenarnya merupakan penampakan kembali hubungan azali yang semula masih tersembunyi, bukan merupakan hal baru. Pernah kami jelaskan, tingkatan pertama wujud rohani yakni keadaan khusyuk’, hening dan bergairah di dalam salat dan mengingat Ilahi, belumlah merupakan tingkatan yang pasti dan meyakinkan. Yakni dengan tercapainya keadaan khusyuk’ oleh seseorang, belum berarti bahwa dia juga telah mampu meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Lebih dari itu, dengan tercapainya keadaan khusyuk’ oleh seseorang tidak berarti bahwa dia telah mampu mewarnai diri dengan akhlak yang mulia dan kebiasaan yang terpuji. Ada kemungkinan orang yang salatnya khusyuk’, hening dan bergairah, hatinya masih belum bersih juga dari hal-hal yang tak berguna. Mungkin saja dia belum mampu menyelamatkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Karena keadaan khusyuk’ yang timbul di dalam hati atau kegairahan dan kesejukan hati yang diperoleh di dalam salat, ini bukanlah persoalan yang harus dianggap sama dengan kesucian nafsu. Jadi seseorang yang belum mencapai tingkatan kedua perkembangan rohani, walaupun barangkali kekhusyu’annya bersih dari campuran bid’ah dan syirik, itu barulah berarti bahwa dia dalam taraf cenderung berkiblat pada rohani, ia belum menempuh jalan yang pasti. Dan dalam perjalanannya ia masih harus melewati rimba berduri, padang pasir yang gersang dan lereng-lereng gunung yang terjal dengan disertai taufan yang dahsyat. Serta hampir dalam setiap langkahnya dihadang oleh musuh-musuh iman.

Ingatlah seseorang yang khusyuk’ dan rendah hati bukanlah berarti ia tentu telah mencapai hubungan hakiki dengan Allah SWT. Melainkan sering kali orang-orang jahat pun bisa juga khusyuk’ lantaran melihat kemurkaan Allah yang nyata, meskipun sebenarnya mereka belum menyentuh tali penghubung dengan Allah Ta’ala dan belum terbebas dari berbagai hal yang tak ada gunanya. Misalnya: Peristiwa gempa bumi pada tanggal 4 April 1905 (di Hindustan – pent.). Pada waktu terjadi gempa bumi itu, nampak perubahan hebat dalam berjuta-juta hati manusia. Hati mereka diliputi dengan penuh kekhusyu’an dan kepasrahan. Seakan-akan tidak ada kegiatan lain selain menyebut-nyebut asma Allah sembari menangis. Sehingga orang-orang atheis pun lupa akan kebiasaannya ingkar kepada Allah. Namun tatkala gempa bumi itu telah berlalu dan keadaan bumi telah tenang kembali, maka keadaan khusyuk’ lenyap seketika. Sampai-sampai kami pernah mendengar, beberapa orang atheis yang pada saat itu telah cenderung kepada Allah, kini mereka dengan lancang berani mengatakan bahwa mereka telah terperdaya hatinya sehingga takut pada gempa bumi, padahal Allah tidak ada. Pendek kata, sebagaimana berkali-kali telah kami tulis, besar kemungkinannya keadaan khusyuk’ dapat bercampur dengan hal-hal yang kotor. Memang benar khusyuk’ itu seperti benih untuk mencapai kesempurnaan nantinya. Namun sungguh mengelabui jiwanya sendiri, bila ada orang menganggap sempurna keadaan semacam itu. Sebenarnya sesudah keadaan khusyuk’ masih ada tingkatan rohani yang lebih tinggi lagi. Orang yang beriman hendaknya berupaya mencapai tingkatan itu dan jangan sekali-kali istirahat serta merasa malas sebelum mencapainya. Tingkatan itu ialah sebagaimana yang di dalam kalam Ilahi dinyatakan dengan kalimat:

Arti bebasnya: Mukmin yaitu orang yang selain khusyuk’ dan khudlu’ di dalam salatnya, juga dapat menjauhkan diri dari segala macam perkataan, perbuatan dan hubungan yang sia-sia. Demikian pula ia tak akan menghancurkan keadaan khusyu’nya dengan mencampur kekhusyu’an itu dengan hal-hal yang tanpa guna. Dengan cepat ia akan bersiaga untuk memisahkan diri dari berbagai hal yang sia-sia. Di dalam hatinya tumbuh kebencian terhadap perkataan dan perbuatan yang tanpa arah serta tanpa manfaat. Hal-hal tersebut membuktikan bahwa telah terjadi jalinan hubungan yang erat antara ia dengan Allah. Karena manusia akan berpaling dari satu sisi, selama ia berhubungan dengan sisi yang lain. Jadi hati manusia tak akan hanya terpaku pada masalah-masalah duniawi yang tak seberapa gunanya, apabila hati manusia itu telah bertaut dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, apabila hati manusia itu telah dilingkupi oleh keagungan dan keperkasaan Ilahi.

Sebagaimana nutfah akan selamat dari kebinasaan secara sia-sia, apabila ia telah bertalian dengan rahim serta pengaruh rahim telah menguasainya. Selanjutnya setelah ada hubungan antara nutfah dengan rahim, maka terciptalah ‘alaqoh (segumpal darah). Demikian juga tingkatan kedua wujud rohani, yakni terhindar dari hal-hal yang tiada guna. Karena pada tingkatan itu di dalam hati mukmin telah tertanam kuat keagungan dan keperkasaan Ilahi yang dapat menjauhkan ia dari perbuatan-perbuatan yang tak berguna. Keadaan semacam itu dalam kata lain disebut “hubungan dengan Allah” (ta’alluq billaah). Akan tetapi hubungan yang hanya bisa mencegah manusia dari hal-hal yang tiada guna, itu baru merupakan hubungan kendur. Karena pada taraf itu mukmin baru bisa menghentikan diri dari hal-hal yang tak ada gunanya. Namun sampai sejauh ini hati manusia masih bertalian dengan hal-hal yang menghidupi hawa nafsu. Sudah barang tentu di dalam hati manusia masih ada bagian yang kotor. Itulah sebabnya Allah Ta’ala mengibaratkan tingkatan rohani semacam ini seperti ‘alaqoh (segumpal darah). “Alaqoh adalah darah yang menggumpal yang di dalamnya masih terdapat bagian yang kotor. Pada tingkatan rohani yang kedua masih terdapat kelemahan, yaitu orang pada tingkatan itu belum bisa takut kepada Allah Ta’ ala secara bulat dan belum mampu mengabadikan keagungan serta keperkasaan Ilahi di dalam hatinya. Oleh karenanya ia hanya mampu melepaskan hal-hal yang tiada guna saja. Sedangkan untuk Allah Ta’ala ia belum mampu menghentikan secara total perbuatan yang dirasa enak dan menyenangkan bagi hawa nafsu. Jelasnya, hanya dapat menyingkiri hal-hal yang tiada guna bukanlah merupakan suatu hal yang patut diandalkan bagi manusia. Melainkan keadaan ini baru merupakan taraf permulaan perkembangan rohani. Ya memang keadaan ini setaraf lebih maju daripada keadaan khusyuk’.

TINGKATAN KETIGA PERKEMBANGAN ROHANI DAN JASMANI

Tingkatan ketiga wujud jasmani berkaitan dengan tingkatan ketiga wujud rohani. Jelasnya, tingkatan ketiga wujud jasmani itu seperti yang diungkapkan dalam ayat:

Artinya: Lalu itu Kami jadikan segumpal daging. (AI-Mu’minun, 23:14).

Pada tingkatan ini wujud jasmani manusia keluar dari keadaan kotor, dan menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Sedangkan pada tingkatan sebelumnya, yakni nutfah dan segumpal darah (‘alaqoh), masih mengandung sedikit kotoran di dalamnya. Struktur unsur-unsurnya pun lebih lemah dan ringkih bila dibandingkan dengan segumpal (mudighoh). Sebaliknya segumpal daging sudah dalam nutfah dan segumpal darah.

Demikian pula tingkatan ketiga wujud rohani, sebagaimana -diungkapkan dalam ayat:

Artinya: Dan orang-orang yang menunaikan zakat (AI-Mu’minun, 23:4). Tegasnya, seorang mukmin yang tingkatan rohaninya setaraf lebih maju daripada keadaan sebelumnya, dia bukan hanya menjauhi hal-hal yang tak ada gunanya, melainkan juga memberikan zakat untuk menghilangkan kotoran kikir atau pelit yang secara alami terdapat dalam setiap manusia. Dinamakan zakat (kesucian) karena dengan pemberian sebagian harta yang sangat dicintai hanya demi Allah, itu dapat menyucikan jiwa manusia dari kotoran kikir. Setelah kotoran kikir yang secara alami banyak melekat pada manusia itu dapat dikeluarkan dari dalam diri manusia, maka sampai batasan tertentu manusia akan mencapai kesucian kemudian ia dapat berhubungan dengan Allah Dzat Yang Maha Suci

Siapapun yang ingin berhubungan dengan Dzat Yang Maha Suci, hendaknya ia menyucikan diri dulu, tentu ia akan berjumpa dengan-Nya. Hal semacam itu tidak dapat dicapai dalam kedua tingkatan rohani sebelumnya. Karena orang-orang yang telah memperoleh keadaan khusyuk’ dan khudlu’ serta bisa menjauhi hal-hal yang tak ada gunanya pun kadang-kala di dalam dirinya masih terdapat kotoran kikir. Akan tetapi apabila manusia bersedia melepaskan harta yang dicintainya untuk Allah semata-mata, meskipun harta itu merupakan tunjangan hidup dan kehidupan serta diperolehnya dengan usaha keras dan cucuran keringat, maka akan keluarlah kotoran-kotoran kikir dari dalam dirinya. Bersamaan dengan itu imannya pun akan menjadi lebih kuat dan kokoh. Adapun dua keadaan rohani yang disebutkan terdahulu belum mencapai kesucian, melainkan masih tersembunyi kotoran di dalamnya. Maksudnya, menyingkiri hal-hal yang tak berguna itu hanyalah berarti mencegah diri dari keburukan. Sedangkan keburukan itu sedikit pun tak diperlukan untuk keabadian hidup. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tak berguna bukanlah merupakan hal yang amat sulit. Tetapi menyerahkan harta yang telah diupayakannya dengan bersusah payah hanya untuk memperoleh perkenan (ridho) Allah adalah perbuatan yang amat baik dan mulia. Dengan jalan itulah kotoran jiwa yakni kikir, yang paling kotor di antara sekalian kotoran akan terjauhkan. Oleh karena itu keadaan ini termasuk tingkatan iman ketiga, yang lebih unggul daripada dua tingkatan iman sebelumnya. Sebagai persamaannya di alam jasmani ialah tingkatan “segumpal daging”, yang juga lebih unggul daripada dua tingkatan sebelumnya, yakni nutfah dan segumpal darah. Baik nutfah maupun segumpal darah, keduanya masih tercampur dengan sedikit kotoran atau najis. Sedangkan segumpal daging dalam keadaan suci. Sebagaimana segumpal daging (mudhghoh) di dalam rahim pada posisi selangkah lebih maju daripada nutfah dan segumpal darah (“alaqoh), baik dalam hal kesuciannya, kuatnya ikatan dengan rahim maupun dalam hal kekokohan dan kerasnya. Begitu pula keadaan rohani pada tingkatan ketiga. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam Qur’an Suci:

Artinya: Dan orang-orang yang menunaikan zakat. (Al-Mu ‘minun, 23:4). Yakni, mukmin ialah orang yang memberikan harta kesayangannya di jalan Allah, untuk menyucikan jiwa dari sifat kikir serta guna memperoleh perkenan Allah SWT.

Pendek kata, dalam rohani tingkatan ketiga ini terdapat tiga macam keistimewaan, sebagaimana yang terdapat dalam wujud jasmani tingkatan ketiga (segumpal daging). Tiga keistimewaan yang terkandung dalam rohani tingkatan ketiga itu ialah: kesucian jiwa, hubungan dengan Allah yang semakin erat dan kekuatan iman.

Penjelasan selengkapnya seperti berikut: Seseorang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah untuk menyucikan jiwa dari sifat kikir, serta memberikan sebagian penghasilan dari usahanya kepada orang lain demi Allah semata, itu lebih tinggi nilainya daripada hanya menjauhi berbagai perkataan dan perbuatan yang tak ada gunanya. Di sini jelas bahwa dengan tercapainya kesucian dari kotoran-kotoran kikir akan semakin menambah eratnya hubungan dengan Allah Yang Maha Pengasih. Melepaskan harta kesayangan hanya demi Allah itu terasa lebih berat bagi nafsu manusia daripada meninggalkan hal-hal yang tanpa guna. Oleh karenanya, dengan lebih banyak memikul kesulitan ini akan lebih mempererat pula hubungan dengan Allah SWT.  Selain itu dengan semakin berat tugas kebaikan yang diemban, akan membuat semakin kuat dan kokoh iman seseorang.

TINGKATAN KEEMPAT PERKEMBANGAN ROHANI DAN JASMANI

Selanjutnya kita bicarakan tingkatan keempat wujud rohani, sebagaimana telah dinyatakan Allah Ta’ala dalam ayat karimah:

Artinya: Dan orang yang mengekang syahwatnya. (Al-Mu’minun, 23:5). Setaraf lebih maju daripada tingkatan rohani ketiga, mukmin ialah orang yang dapat mengendalikan gelora syahwat (nafsu birahi) yang terlarang. Tingkatan ini dikatakan lebih tinggi daripada tingkatan ketiga, sebab pada tingkatan rohani ketiga seorang mukmin cuma memberikan harta yang amat dicintai di jalan Allah Ta’ala. Sedangkan pada tingkatan rohani keempat, seorang mukmin harus mengorbankan sesuatu yang lebih dicintai daripada harta (yakni syahwat) di jalan Allah. Karena manusia begitu cinta terhadap syahwatnya, dia sanggup mengeluarkan hartanya dengan mudah seperti air yang mengalir untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya. la habiskan jutaan rupiah hanya untuk memenuhi syahwatnya. Guna memuaskan syahwat, harta pun dianggap seperti sesuatu yang tak memiliki nilai apa-apa. Kita menyaksikan ada seseorang yang karena begitu kikirnya, ia sepeser pun tidak mau memberi kepada seorang peminta-minta yang kelaparan. Tetapi sebaliknya untuk syahwatnya ia bersedia mengosongkan harta yang memenuhi rumahnya, dengan jalan membelanjakan uangnya berjuta-juta rupiah untuk wanita yang diinginkannya. Pendeknya, dapat diketahui bahwa banjir syahwat itu begitu kencang, sehingga kotoran kikir pun terhanyutkan. Oleh sebab itu terang sekali bahwa kekuatan iman yang dapat menyelamatkan manusia dari taufan syahwat itu jauh lebih kuat daripada kekuatan iman yang bisa melenyapkan sifat kikir serta yang mampu memacu manusia untuk menyerahkan harta kesayangannya demi Allah semata-mata. Kekuatan iman yang dapat membentengi manusia dari taufan syahwat itu tangguh dan tahan lama dalam bertanding melawan setan. Karena sesungguhnya tugas kekuatan iman ini adalah menaklukkan nafsu amarah. Memang sifat kikir alias pelit itu kadang kala dapat terjauhkan sewaktu manusia ingin memenuhi gejolak syahwatnya, serta manakala orang ingin memamerkan diri atau ingin memperoleh popularitas diri. Tetapi taufan syahwat itu lebih hebat dan dapat tahan lama, sehingga tidak mungkin dapat terjauhkan tanpa kasih sayang Tuhan. Sebagaimana tulang itu yang paling keras daripada keseluruhan unsur jasmani manusia, dan umurnya pun sangat panjang. Begitu pula kekuatan iman yang membentengi dan menyelamatkan manusia dari taufan syahwat itu juga amat kuat dan memiliki umur panjang. Sehingga dapat tahan lama bertempur melawan musuhnya (syahwat) serta mampu mengalahkannya. Untuk bisa mengalahkan syahwat itu pun tidak terlepas dari belas kasih Tuhan. Sebab taufan syahwat itu taufan yang begitu dahsyat dan sangat berbahaya. Tanpa belas kasih Tuhan Yang Maha Esa, mustahil taufan itu dapat dihentikan. Oleh sebab itu, Nabi Yusuf pun terpaksa menyatakan:

Artinya: Dan aku tak menyebut diriku bebas dari kesalahan; sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh (orang) berbuat jahat, kecuali orang yang mendapat rahmat Tuhanku (Yusuf, 12:53).

Di dalam ayat tersebut terkandung lafaz:  “kecuali orang yang mendapat rahmat Tuhanku”. Lafaz itu senada dengan lafaz yang tersebut dalam kisah taufan pada masa Nabi Nuh as. Berkaitan dengan kisah itu. Allah Ta’ala berfirman:

Artinya: Dia (Nuh) berkata: Pada hari ini tak seorangpun akan selamat dari perkara Allah, kecuali orang yang la berbelas kasih (Hud 11:43). Ayat ini mengisyaratkan bahwa kedahsyatan taufan syahwat itu seperti taufan pada masa Nabi Nuh as

Tingkatan keempat wujud rohani ini sesuai dengan tingkatan  keempat wujud jasmani. Firman Allah dalam Quran Syarif:

Artinya: Lalu dari segumpal daging itu Kami buat tulang (Al-Mu ‘minim, 23:14).

Jelas bahwa tulang itu jauh lebih keras daripada segumpal daging. Lagi pula bila dibandingkan dengan segumpal daging, tulang itu lebih tahan lama. Bahkan sampai beribu-ribu tahun pun bekas-bekasnya masih dapat ditemukan. Jadi tingkatan keempat wujud rohani itu ada persamaan dengan tingkatan keempat wujud jasmani. Karena iman seseorang pada tingkatan rohani yang keempat itu lebih kuat dan tangguh daripada iman seseorang pada tingkatan rohani yang ketiga, ikatan hubungannya dengan Allah Yang Maha Pengasih pun akan lebih dekat dan erat. Demikian juga pada wujud jasmani tingkatan yang keempat (tulang), karena secara jasmaniah itu lebih keras dan tangguh daripada wujud jasmani tingkatan yang ketiga yang hanya berupa segumpal daging, hubungannya dengan rahim juga akan lebih erat.

 

TINGKATAN KELIMA PERKEMBANGAN ROHANI DAN JASMANI

Selanjutnya kita bahas tingkatan kelima wujud rohani, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala, tercantum dalam ayat karimah:

Artinya: Dan orang yang memenuhi amanatnya dan janjinya (Al-Mu’minun, 23:8).

Jelasnya, seorang mukmin yang mencapai tingkatan rohani kelima, ia bukanlah sekedar mampu menaklukkan syahwatnya dan dapat mencapai kemenangan besar terhadap nafsu amarahnya. Melainkan ia senantiasa berupaya melangkahkan kakinya diatas jalan takwa yang rumit dengan memperhatikan setiap amanat Allah dan amanat sesama makhluk, serta selalu berusaha secara maksimal untuk memenuhi semua janjinya.

Yang dimaksud janji dengan Allah adalah janji imani yang dinyatakan oleh seorang mukmin pada saat bai’at dan pengikraran iman, seperti tak akan berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan apapun), tak akan mencuri, tak akan berzina, tak akan membunuh sesama secara tidak benar, tak akan mendatangkan fitnah, tak akan durhaka, dan sebagainya, (Q.S. Al-Mumtahanah, 60:12). Lafaz roo’uuna   seperti tercantum dalam ayat di atas yang berarti memenuhi, menurut kaidah bahasa Arab lafaz itu dinyatakan manakala ada seseorang yang berupaya melakukan suatu perkara yang rumit sesuai dengan kekuatannya, serta perkara itu sangat memerlukan penuh ketelitian sehingga tak ada satu bagian pun yang tertinggal. Selanjutnya, inti makna ayat ini ialah bahwa mukmin yang mencapai tingkatan rohani kelima yaitu orang yang sebisa mungkin, sesuai dengan kekuatan yang ada berusaha berjalan di atas jalan takwa yang rumit dan sulit. Tak ada sedikit pun bagian takwa, misalnya masalah amanat dan janji yang ditinggalkan begitu saja sehingga keadaannya kosong ompong. Seolah-olah memenuhi perkara takwa itu baginya selalu merupakan pusat perhatiannya. Ia tidak puas hanya dengan memproklamirkan diri sebagai orang yang memenuhi amanat (AI-Amiin), dan sebagai orang yang memenuhi janji (shoodiqu-l‘ahdi). Sebaliknya ia senantiasa takut jangan-jangan dirinya terlibat dalam khianat dan kebohongan. Maka sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya ia selalu berhati-hati dalam segala masalah yang dihadapinya. Jangan sampai ada cacat dan kerusakan batiniah. Memenuhi sesuatu yang rumit dan sulit itu disebut pula “takwa”

Singkatnya, seorang mukmin yang mencapai tingkatan rohani kelima ia tidak akan berbuat dengan semaunya sendiri, tidak akan begitu mudah melepaskan diri bebas tanpa mengenal batas dalam segala urusan, baik urusan dengan Allah maupun urusan dengan sesama makhluk dengan penuh hati-hati, jangan sampai melanggar batas-batas Ilahi jauh-jauh memikirkan setiap amanat dan senantiasa memperhatikan janji janjinya. Ia selalu memantau kondisi batiniah atau rohaniahnya dengan teleskop takwa, agar tidak mengalami kekurangan dalam pemenuhan segenap amanat dan janjinya. Dengan sangat hati-hati ia berusaha semaksimal mungkin mempergunakan semua amanat yang telah diserahkan Allah Ta’ala kepadanya, seperti seluruh kekuatan dan kemampuan, seluruh anggota tubuh, jiwa dan harta, kehormatan, dan sebagainya. Semuanya digunakan sebagaimana mestinya yang dikehendaki oleh Tuhan. la senantiasa berupaya memenuhi janji imani dengan Allah Ta’ala dengan tulus hati dan penuh semangat. Demikian juga untuk memelihara takwa, ia selalu bertekad untuk memenuhi amanat-amanat sesama makhluk yang diberikan kepadanya, atau menepati hal-hal lain yang dianggap sebagai amanat. Apabila terjadi suatu perselisihan, ia putuskan perselisihan itu dengan pertimbangan takwa, meskipun barangkali ia harus menanggung kerugian dari keputusan itu. Tingkatan rohani ini lebih tinggi daripada tingkatan rohani keempat, karena di sini semua perbuatan sedapat mungkin dilakukan melalui jalan takwa yang rumit, yang memerlukan sikap hati-hati secara bulat. Sedangkan pada tingkatan rohani keempat hanya ada satu perkara besar, yaitu menjauhi perbuatan zina dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Setiap orang dapat mengerti bahwa zina memang satu perbuatan yang tak senonoh dan memalukan. Orang yang menjadi budak syahwat (nafsu birahi) itu buta mata rohaninya. Sehingga ia melakukan perbuatan begitu jorok yang dapat mencampuradukkan antara keturunan manusia yang halal dengan keturunan yang haram dan menyebabkan hancurnya silsilah keturunan. Oleh karena itu syari’at telah menetapkan bahwa zina termasuk dosa besar. Di dunia ini pula telah ada ketetapan hukuman menurut syari’at bagi para penzina itu. Jadi jelas bahwa untuk kesempurnaan seorang mukmin tidak cukup dengan menyingkiri perbuatan zina saja. Karena memang zina merupakan pekerjaan orang-orang yang berwatak rusak dan tak tahu malu. Sebodoh-bodoh orang pun mengetahui bahwa itu tergolong perbuatan buruk. Tak ada seorang pun yang berani berbuat seperti itu, kecuali orang yang benar-benar durhaka pada Tuhan. Maka orang yang dapat mencegah zina itu baru mencapai kemuliaan yang biasa saja, belum mencapai puncaknya kemuliaan. Sedangkan seluruh keindahan rohani itu dapat dicapai dengan menelusuri jalan takwa yang rumit. Sekali lagi, jalan takwalah yang dapat mewujudkan keindahan bentuk rohani. Pemenuhan amanat-amanat Ilahi dan janji imani sebatas kemampuan adalah langkah yang dapat mewujudkan keindahan rohani. Begitu pula penggunaan secara benar semua kekuatan dan unsur-unsur lahiriah seperti mata, telinga, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh yang lain, serta kekuatan dan unsur-unsur batiniah seperti hati, akal, dan sebagainya serta kewaspadaan terhadap serangan batiniah (rayuan setan dan gejolak hawa nafsu), dan perhatian yang bulat terhadap hak-hak sesama manusia termasuk sarana untuk terwujudnya semua keindahan rohani.

Di dalam Qur’an Syarif, Allah Ta’ala menyebut takwa sebagai nama pakaian. Terbukti dalam Qur’an Syarif ada lafaz “libaasy-t takwa” (pakaian takwa) (Q.S. Al-A’rof, 7:26). Ini mengisyaratkan bahwa keindahan rohani itu tercipta karena takwa. Takwa ialah memenuhi semua amanat Tuhan dan janji imani dengan-Nya dengan sepenuh kemampuan serta menepati semua amanat dan janji dengan sesama makhluk dengan segenap kekuatan yang ada.

Begitulah tingkatan kelima wujud rohani. Berkaitan dengan itu ada pula tingkatan kelima wujud jasmani, sebagaimana dinyatakan dalam ayat karimah:

Artinya: Lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging (Al-Mu’minun 23:14).

Betapa indah dan menakjubkan adanya persamaan antara penciptaan jasmani dengan rohani. Sebagaimana di satu tempat Allah Ta’ala menyatakan bahwa takwa itu pakaian secara rohaniah. Demikian pula lafadz kasauna yang diambil dari kuswatun (pakaian), ini juga menunjukkan bahwa daging yang membungkus tulang-tulang pun menunjukkan semacam pakaian untuk tulang itu. Jadi kedua lafaz ini membuktikan bahwa seperti halnya pakaian takwa memperindah rohani begitu pula daging yang membungkus tulang juga menambah keindahan bagi tulang. Pendeknya, maksud takwa dan daging adalah untuk memperindah. Sebagaimana bila pakaian takwa dilepas dari rohani manusia, maka rohani itu nampak jelek. Demikian pula jika daging yang digunakan Allah untuk membungkus tulang manusia itu dilepas, niscaya akan nampak jelek bentuk jasmani manusia itu. Namun perlu diingat bahwa dalam tingkatan kelima wujud jasmani maupun tingkatan kelima wujud rohani belum tercipta keindahan yang sempurna (kamil khubshurti). Karena pada saat itu nyawa belum berfungsi. Telah terbukti bahwa seorang manusia betapapun cantik atau tampannya, tatkala la meninggal dunia dan nyawa telah meloncat dari dalam tubuhnya, maka bersamaan dengan itu kecantikan atau ketampanan yang telah dikaruniakan Allah Yang Maha Kuasa akan berubah pula. Padahal seluruh anggota tubuh dengan berbagai bentuk dan warnanya masih terwujud. Tetapi, hanya dengan keluarnya nyawa, maka “rumah jasmani” manusia itu nampak sunyi dan kosong. Demikian pula keadaan tingkatan kelima wujud rohani. Telah  terbukti dan teruji bahwa selama roh (nyawa rohani, pent.) dari Allah Ta’ala yang memberikan kekuatan mukjizati dan kehidupan dalam diri seorang mukmin, maka selama itu pula mustahil la dapat melakukan amanat-amanat Ilahi secara benar, Mustahil ia bisa memenuh janji imani dengan tulus. Serta tak mungkin ia dapat memenuhi hak-hak sesama makhluk dan janji-janji dengan mereka secara sempurna. Selama dalam diri manusia belum ada roh yang dapat mempertunjukkan keindahan rohani secara murni dan sempurna, maka keindahan takwa yang benar-benar menarik hati dan menakjubkan belum dapat terwujud. Bahkan sebaliknya takwa itu masih bercampur dengan perbuatan-perbuatan yang formalitas  belaka. Sungguh benar, langkah seorang mukmin yang masih kosong dan roh itu belum dapat tegak dalam kebaikan secara sempurna Melainkan itu ibarat bangkai yang bagian-bagian tubuhnya ada yang dapat bergerak karena hembusan udara, dan tatkala hembusan udara menghilang maka bangkai itu kembali diam seperti keadaan semula. Begitu pula keadaan tingkatan kelima wujud rohani, karena pada tingkatan itu rahmat  Allah baru dapat menggerakan manusia ke arah perbuatan takwa, namun roh kebaikan belum tertanam di dalamnya, maka perbuatan baik yang permanen belum bisa terwujud. Perbuatan itu akan terwujud setelah dihembuskannya roh ini.

Tegasnya, meskipun tingkatan kelima wujud rohani itu satu tingkatan yang belum sempurna, yang dicapai dari keindahan takwa, namun keindahan yang sempurna tetap akan nampak pada tingkatan keenam wujud rohani. Yakni tatkala Allah Ta’ala menurunkan “kecintaan hakiki-Nya” yang seperti roh dalam hati manusia untuk kehidupan rohani, dan tatkala Allah Ta’ala mencegah semua kejahatan. Manusia tidak mungkin mencapai kesempurnaan hanya dengan kekuatannya sendiri, kecuali bila Allah Ta’ala telah menurunkan roh kepadanya.

TINGKATAN KEENAM PERKEMBANGAN ROHANI DAN JASMANI

Selanjutnya tingkatan keenam wujud rohani yaitu sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam ayat karimah:

Artinya: Dan orang yang memelihara salatnya (Al- Mu ‘minun, 23:9)

Jelasnya, mukmin yang berada pada tingkatan rohani keenam ialah orang yang tidak begitu memerlukan ingat kepada yang lain (selain Allah) kecuali sekedarnya. la telah menciptakan hubungan begitu akrab dengan Allah, sehingga baginya ingat Allah itu seperti ingat kekasihnya yang secara spontan muncul dalam situasi yang bagaimanapun. Allah baginya benar-benar sebagai sumber ketenangan dan sumber hidup. Setiap saat ia senantiasa mengingat Ilahi. Barang semenit pun ia tidak ingin terlepas dari ingat pada-Nya.

Kini jelas, mukmin yang mencapai tingkatan rohani keenam selalu berusaha sekuat tenaga untuk memelihara dan menjaga salatnya. Ia merasa bahwa dengan hilangnya salat itu merupakan kehancuran baginya. Sebagaimana seorang musafir yang sedang mengadakan perjalan jauh di tengah-tengah padang pasir. Ia tentu akan menjaga bekal makanan dan minumannya sedemikian rupa. Sehingga ia anggap bekal itu seperti nyawanya. Dan ia yakin bahwa dengan hancur atau hilangnya bekal itu  berarti kematian baginya.

Jadi orang yang seperti musafir itu senantiasa akan menjaga salatnya. Ia tidak akan meninggalkan salat meskipun mungkin mengalami kerugian harta, kerugian kedudukan atau mendapatkan marah dari seseorang karena salatnya. Ia sangat gelisah karena takut jangan-jangan salatnya rusak. Ia tidak ingin lepas dari mengingat Ilahi meskipun hanya satu detik. Ia menganggap salat dan mengingat Ilahi itu laksana makanan yang amat penting baginya dan merupakan kebutuhan primer kehidupannya.

Keadaan seperti yang telah tergambarkan di atas akan tercipta manakala Allah Ta’ala mencintai seseorang. Dan “cinta sejati” Allah padanya seperti pancaran nyala api yang sebaiknya dikatakan sebagai satu roh untuk wujud rohani. Roh itu diturunkan dalam hatinya dan memberikan kehidupan baru. Roh itu memancarkan sinar terang pada seluruh bagian rohani seorang mukmin. Sehingga ia senantiasa mengingat Allah bukan hanya secara formalitas. Kehidupan manusia secara jasmaniah sangat tergantung pada makanan dan minuman. Begitu pula untuk kehidupan rohani yang lebih dicintai, seorang mukmin juga tidak dapat terlepas dan makanan dan minuman rohaniah yakni “ingat Allah”. Karenanya, ia lebih suka makanan dan minuman rohaniah ini daripada makanan dan minuman jasmaniah seperti nasi dan air. Ia senantiasa takut kehilangan makanan dan minuman rohaniah itu. Keadaan semacam ini terwujud merupakan pengaruh roh yang seperti nyala api, dimasukkan dalam hati seorang mukmin yang menyebabkan ia menjadi mabuk cinta pada Ilahi. Sehingga ia tak ingin melepaskan diri dari mengingat Ilahi barang semenit pun, Meskipun ia harus memikul penderitaan dan masuk dalam lembah musibah, namun ia tetap tidak mau berpisah dengan-Nya walaupun hanya sebentar. Baginya sudah merupakan hal yang otomatis untuk tergerak ke arah kebaikan. Ia senantiasa menjaga dan memelihara salatnya. Karena sesungguhnya cinta kasih Allah itu melimpah ruah. “Ingat Allah” yang dengan kata lain disebut salat bagi mukmin yang mencapai tingkatan rohani keenam dianggap sebagai satu makanan yang mutlak penting. Karena cinta sejatinya, ia benar-benar merasakan nikmat dalam mengingat Ilahi. Maka ia hargai “ingat Ilahi” itu seperti menghargai jiwanya, bahkan lebih dari itu. Cinta sejati Allah adalah satu roh baru yang memancar dalam hati seorang mukmin seperti nyala api. Karenanya, ia yakin bahwa seakan-akan hidupnya bukanlah karena nasi dan air, tetapi ia hidup karena salat dan ingat Ilahi.

Singkatnya, ingat Ilahi yang disebut pula salat pada hakikatnya makanan bagi orang yang sedang mabuk cinta dengan Allah SWT dan ia tak dapat hidup tanpa itu. la menjaga salat itu tak ubahnya seperti seorang musafir yang menjaga bekal makanan yang hanya pas-pasan. Ia benar-benar menghargai bekal itu seperti menghargai jiwanya.  Untuk perkembangan rohani, Allah Ta’ala telah mengantarkan manusia sampai taraf puncak “cinta sejati” kepada-Nya. Sesungguhnya pada taraf ini bagi manusia penuh dengan cinta kasih. Ingat Ilahi yang menurut istilah syari’at disebut salat telah menjadi makanan rohani baginya. Bahkan sering ia rela mengorbankan nyawa demi makanan rohani ini.  Dia tak dapat hidup tanpa makanan rohani ini. Hal ini sebagaimana ikan tak bisa hidup tanpa air. Berpisah dengan Allah kendatipun satu menit ia anggap kematiannya. Setiap waktu rohnya senantiasa bersujud di hadapan Ilahi. Semua ketenangan dan kesenangan baginya terletak pada Allah SWT. Telah bulat keyakinannya bahwa lebih baik mati dari pada berpisah dengan-Nya. Sebagaimana makanan itu dapat menyegarkan tubuh memperkuat daya penglihatan, daya pendengaran dan anggota-anggota tubuh yang lain. Demikian pula bagi mukmin pada tingkat ini, ingat Ilahi yang merupakan pertanda luapan cinta kasih  itu menambah kekuatan rohani. Dengan ingat Ilahi maka mata rohani dapat memiliki kekuatan kasyaf yang awas sekali.  Telinga mendengarkan kalam Tuhan dan lisan pun akan lebih lancar mengucapkan kata-kata dengan fasih dan terang. Ingat Ilahi membuat seseorang sering mengalami mimpi yang benar (ru’yash shodiqoh) dengan cemerlang. Karena hubungan cinta yang suci dengan Allah SWT, menikmati mimpi indah. Pada tingkatan rohani inilah seorang mukmin merasakan bahwa cinta kasih Allah baginya berfungsi sebagai makanan dan minuman. Hidup baru ini terwujud setelah tubuh rohaniah benar-benar siap secara bulat. Kemudian roh yang menciptakan satu percikan cinta sejati Ilahiah turun dalam hati seorang mukmin. Dan seketika itu pula fitrah manusiawinya diangkat setinggi-tingginya. Tingkatan inilah yang secara rohaniah disebut “qholqon aaqhor” (makhluk yang lain). Pada tingkatan ini Allah Ta’ala menurunkan percikan cinta sejati-Nya yang disebut pula roh pada hati seorang mukmin. Sehingga ia mampu menjauhkan diri dari semua kegelapan, kotoran dan kelemahan hidup. Dengan dihembuskannya roh, maka ia dapat mencapai kesempurnaan keindahan rohani. Selain itu mukmin itu akan merasakan bahwa di dalam dirinya telah tertanam satu roh baru yang sebelumnya tidak ada. Dengan hembusan roh baru itu, seorang mukmin memperoleh satu ketenangan yang menakjubkan, dan cinta sejatinya kepada Allah memancar deras seperti sebuah mata air. Hembusan roh baru itu juga merupakan siraman yang menyegarkan bagi tunas pengabdian kepada Allah Ta’ala. Dengan roh baru, api rohaniah yang semula tidak seberapa panasnya, kini menjadi panas sekali. Api itu membakar semua kotoran rohani seorang mukmin, kemudian mukmin itu masuk dalam medan ketuhanan. Api itu mengepung seluruh bagian tubuh mukmin, sehingga seluruh bagian tubuh itu menjadi seperti besi yang begitu panas dan warnanya berubah menjadi merah seperti warna api. Pengaruh ketuhanan nampak benar pada seorang mukmin. Sebagaimana besi yang disentuh api terus menerus, pada suatu saat bisa menunjukkan “sifat-sifat api” (warnanya merah seperti api dan mampu membakar sesuatu). Namun besi itu tetap bernama besi, bukan berubah menjadi api. Begitu pula seorang mukmin yang begitu dekat dengan Tuhannya, karena hatinya setiap saat bersentuhan dengan Tuhan, lama-kelamaan ia juga memperoleh percikan sifat ketuhanan. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa mukmin itu telah menjadi Tuhan. Karena kecintaan Ilahi padanya dan cintanya pada Ilahi, ia diwarnai dengan sebagian sifat-sifat Ilahiah. Namun demikian dalam batinnya masih dipenuhi semangat pengabdian pada Ilahi dan kelemahan manusiawinya masih tetap ada. Pada tingkatan rohani ini, ingat Allah merupakan makanan rohani bagi seorang mukmin dan kehidupannya sangat tergantung pada itu. Minuman rohani bagi seorang mukmin juga ingat Allah yang dengan meminumnya ia dapat selamat dari kematian. Allahlah hawa sejuk baginya, dengan Allah jua ia dapat mencapai ketenangan batin. Pada tingkatan rohani ini secara isti’aroh (secara kiasan) tidak salah kiranya jika dikatakan bahwa “Allah menyusup di dalam diri mukmin”. Ia menyusup sampai pada seluruh urat nadinya, dan hati mukmin sebagai takhta-Nya. Sehingga mukmin itu melihat bukan dengan rohnya tetapi dengan roh Tuhan, ia mendengar dengan roh Tuhan, ia berbicara dengan roh Tuhan, ia berjalan dengan roh Tuhan dan ia menyerang musuh dengan roh Tuhan pula. Karena ia dalam posisi lebur dengan Allah, roh Allah terpadu dengan cinta sejatinya, kemudian menimbulkan kehidupan baru. Secara rohaniah keadaan itu digambarkan dalam ayat sebagai berikut:

Artinya: Lalu Kami menumbuhkan itu menjadi makhluk yang lain. Maha Berkah Allah, sebaik-baik Dzat Yang menciptakan (Al-Mu’minuun 23:14)

Demikianlah tingkatan keenam wujud rohani. Bersamaan dengan itu disebutkan pula tingkatan keenam ciptaan jasmani. Untuk tingkatan keenam ciptaan jasmani ini dijelaskan dalam ayat yang sama seperti untuk tingkatan keenam wujud rohani, yakni tercantum dalam surat Al-Mu’minun, 23:14 seperti tersebut di atas.

Lafaz aaqHor dimaksud untuk memberi pengertian bahwa roh adalah ciptaan di atas jangkauan pemahaman manusia dan di luar kemampuan akal manusia. Roh yang di luar jangkauan indera manusia itu dihembuskan pada rohani maupun jasmani manusia. Semua penggemar filsafat dunia yang kering akan merasa heran memikirkan roh itu Dan tatkala mereka tidak menemukan jalan menuju kebenaran hakiki, maka mereka hanya main perkiraan. Ada sebagian di antara mereka yang ingkar terhadap wujud atau adanya roh. Dan sebagian yang lain menganggap bahwa roh itu bukan makhluk dan qodim adanya (tidak ada permulaan)

Singkatnya, Allah Ta’ala di sini menyatakan bahwa roh juga merupakan ciptaan Allah, tetapi di luar jangkauan pemahaman dunia. Sebagaimana ahli filsafat dunia tidak mengetahui roh (nyawa) yang merupakan anugerah dari Allah Ta’ala pada tingkatan keenam wujud jasmani, begitu pula ia tak akan mengerti tentang roh yang diperoleh seorang mukmin dari Allah Ta’ala pada tingkatan keenam wujud rohani. Berkaitan dengan hal ini mereka berupaya menempuh berbagai jalan. Banyak di antara mereka mulai memuja manusia yang memperoleh hembusan roh untuk rohaninya. Mereka mengira bahwa ia bukan makhluk lagi, melainkan Tuhan. Sementara itu ada pula sebagian di antara mereka ingkar terhadap adanya manusia yang bisa memperoleh roh untuk rohaninya yang dihembuskan oleh Allah SWT. Namun sebenarnya orang yang berakal cerdas dengan cepat akan dapat mengerti bahwa manusia itu makhluk yang paling mulia. Allah telah memberinya keunggulan di atas sekalian makhluk di permukaan bumi. Manusia memperoleh kepercayaan untuk menguasai semua makhluk dan mendapat karunia akal sehingga ia senantiasa haus pengetahuan dan kebenaran. Semua perbuatan Tuhan itu menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk dicintai dan mencintai Allah SWT. Lalu mengapa ada orang bisa ingkar terhadap kenyataan bahwa manusia karena cinta sejatinya (pada Allah) dapat mencapai tingkatan rohani tertentu.Yakni tingkatan yang menggambarkan bahwa di atas cintanya terdapat cinta Allah yang seperti roh turun di dalam hatinya dan menyirnakan semua kelemahannya.

Sehubungan dengan tingkatan keenam wujud rohani, Allah Ta’ala telah berfirman      

Terjemahannya: Dan orang yang memelihara salatnya. (Al-Mu’minuun 23:9).

Demikianlah ketundukan, kerendahan hati dan pengabdian dari manusia (mukmin) yang abadi. Dengan demikian berarti ia telah memenuhi tujuan hidupnya. Sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala:

Artinya: Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku (Al-Dhariyat 51-56)

Ya, memang tidak mungkin seseorang bisa beribadah dan bersujud di hadapan Allah secara abadi, tanpa adanya cinta sejati. Cinta yang dimaksud bukanlah cinta dari satu arah saja, melainkan kecintaan Khaliq dan kecintaan makhluk, keduanya terpadu menjadi satu. Sehingga seperti api listrik yang menyentuh orang mati (rohaninya), kemudian mampu membakar semua kelemahan manusiawi. Paduan dua cinta itu akhirnya menguasai seluruh bagian rohani.

Demikianlah keadaan yang sempurna. Pada tingkatan kelima wujud rohani, manusia dapat melaksanakan semua amanat dan janji dengan sempurna pada kesempatan yang berbeda-beda. Adapun bedanya, pada tingkatan rohani kelima manusia hanya dengan pertimbangan taqwa selalu memperhatikan baik amanat Allah dan makhluk maupun janji dengan Allah dan sesama makhluk. Sedangkan pada tingkatan rohani keenam, karena dorongan cinta sejati dengan Allah, kecintaan manusia terhadap sesama makhlukpun semakin menggebu-gebu. Dan karena dorongan roh dari Allah Ta’ala yang diturunkan dalam hatinya, dengan sendirinya ia dapat melaksanakan semua kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dalam tingkatan rohani ini dapat dicapai titik maksimal keindahan batiniah yang sejajar dengan keindahan lahiriah. Sedangkan pada tingkatan kelima wujud rohani, karena roh yang tercipta dari cinta sejati dengan Allah belum merasuk dalam diri manusia, keindahan rohani juga belum dapat terwujud dengan sempurna. Namun setelah masuknya roh, maka segeralah nampak keindahan rohani dalam bentuk yang sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: