Tafsir SURAT (90) AL-BALAD : KOTA

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

 Surat ini termasuk golongan Surat Makkiyah. Didalam surat sebelumnya, yakni Al-Fajr (Waktu Fajar), kabar baik diberikan kepada orang-orang yang berjuang di jalan Allah, yang pada akhirnya akan mencapai keberhasilan. Dalam surat ini, Al-Balad atau Kota, kita diingatkan bahwa tanpa usaha yang tekun, seseorang tak akan dapat mencapai tujuan besarnya. Inilah sebabnya mengapa perintah yang diberikan kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. yakni agar beliau berusaha sekeras-kerasnya dan tak kenal menyerah meskipun beliau telah dijanjikan kemenangan yang pasti akan tiba, karena beliau diberi tanggung-jawab yang besar untuk menyiarkan risalah yang berisi kebebasan dan persamaan yang amat penting bagi kehidupan umat manusia.

al-Balad

Terjemah dan tafsir selengkapnya sebagai berikut:

  1. Tidak, aku bersumpah demi kota ini!
  2. Dan engkau akan dibebaskan dari tanggungan dalam Kota ini,
  3. Dan demi yang berputera dan yang diputerakan!
  4. Sesungguhnya Kami menciptakan manusia supaya mengatasi kesukaran.

Sudah diterangkan beberapa kali sebelumnya bahwa Allah menggunakan sumpah sebagai bentuk pembuktian dan juga untuk menekankan dengan kuat segi suatu masalah tertentu. Kata-depan la (tidak), menolak ide yang mungkin timbul di hati seseorang bahwa Rasulullah ingin mencapai sukses dalam misinya tanpa kerja keras, atau menapaki jalan yang mendaki. Qur’an Suci menyatakan bahwa penilaian seperti itu adalah tidak benar sama sekali dan mengutip sebagai suatu tanda buktinya yakni kota Mekkah itu sendiri. Kata depan Al dalam Al-Balad (Kota) menunjukkan ciri khusus dan istimewa yang dimiliki yakni kesucian kota Mekkah. Qur’an Suci menyatakan bahwa kota ini suci dan dikenal sebagai tempat perdamaian dimana setiap makhluk berjiwa aman serta terlindung dari cedera yang bahkan sekedar untuk menebang pohon saja dilarang dikota tersebut. Tetapi terhadap Nabi Suci dikatakan, Engkau akan dibebaskan dari tanggungan Kota ini, yang berarti, para penghuninya tidak dapat menerapkan aturan main mereka kepada beliau.

Di sini, ada suatu rujukan terhadap dua keadaan yang berbeda:

Pertama, menyangkut pengalaman Nabi Suci yang berlangsung pada saat beliau di Mekkah, dan yang lain, kepada perubahan keadaan yang akan dijalani dengan gemilang kelak di masa depan. Pada saat Mekkah itu menjadi suatu kota dimana setiap makhluk hidup itu aman dan bahkan sebatang pohon saja tidak boleh ditebang, namun apa yang terjadi terhadap beliau, tiada kedamaian sama sekali bagi beliau di sana. Beliau mengalami segala macam penderitaan yang menyesakkan dan penganiayaan serta di sana ada pula rencana untuk menghabisi hidupnya. Dengan kata lain, meskipun kota itu sebagai suatu tempat yang suci dan sebagai suatu rumah perdamaian bagi seluruh makhluk, namun bagi beliau tiada damai maupun perlindungan. Kaum kafir telah merusak kesucian kota itu dan terus berusaha menganiayanya. Namun, pada akhirnya suatu hari nanti beliau dijanjikan akan memasuki kota itu sebagai seorang pemenang. Hillum berasal dari halla yang berarti ”dikecualikan dari memperlakukan sesuatu sebagai suci” tetapi bisa juga berarti ”memasuki suatu tempat tertentu sebagai seorang penakluk”. Maka saatnya akan tiba dimana beliau akan bebas dari kewajiban atas kota itu, dan bila beliau mau maka dia bisa menghukum para musuhnya yang haus darah. Dan betapa indahnya ramalan itu tepat terpenuhi ketika Mekkah ditaklukkan! Seperti seorang jenderal yang menang perang, Nabi Suci bersama kaum muslimin berbaris memasuki kota tersebut yang sebelumnya tidak pernah ada kedamaian bagi beliau dan hidupnya selalu terancam bahaya. Pada saat itu, jikalau beliau mau, beliau bisa menjatuhkan hukuman penuh sebagai pembalasan terhadap para musuhnya. Tetapi sifat beliau adalah sangat penyayang sehingga mereka semuanya dimaafkan.

Potongan bukti kedua sebagai penguat kesucian kota ini diberikan dalam ayat ”Dan demi yang berputera dan diputerakan”, yakni, berkaitan dengan ayah dan anak. Tetapi siapakah yang diartikan sebagai ayah dan puteranya di sini? Mereka berdua hanya yang mempunyai hubungan sejarah yang kuat dengan kota ini dan mereka adalah Nabi Ibrahim serta puteranya, Nabi Ismail, yang membangun kota ini dan karenanya menjadi kota suci.

Kemudian Qur’an Suci berkata: Sesungguhnya Kami menciptakan manusia supaya mengatasi kesukaran, yakni selama manusia hidup dia tidak dapat menghindar dari usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras, tetapi adalah penting bahwa segala penderitaan dan kerja-kerasnya ini adalah demi kemajuan dari tahap ke tahap selanjutnya dalam jalan pendakiannya. Sebagai hasilnya, Nabi Suci diberi tahu untuk mengambil sebagai contoh peristiwa kota ini, yakni Mekkah, yang terhampar di depan matanya dan yang memegang peran penting dan suci di dunia sampai sekarang ini. Nabi harus menaruh perhatiannya kepada teladan pendiri kota ini yang terkenal itu dan puteranya – betapa, setelah begitu besar pengorbanan mereka di jalan Allah,  mereka menjadi begitu berharga dalam pandangan Allah sehingga Dia mengaruniainya dengan kehormatan di dunia dan di akhirat hingga hari ini, bahkan seluruh dunia menundukkan diri untuk mengakui keagungan mereka. Selanjutnya, sebagai tambahan atas kemasyhurannya, lihatlah betapa kebanggan atas kota ini secara universal telah diterima dan pertimbangkan juga sebagai sebuah pengorbanan seorang ayah dan anak yang telah menghabiskan kerja berat dan kesukaran dalam hidup. Tidak perlu kita merinci tentang penganiayaan Nabi Ibrahim yang berlangsung di tangan Raja Namrud dan kesulitan hebat yang harus dipikulnya. Betapapun, pengorbanan yang harus dilakukannya demi kota Mekkah sendiri tak tertandingi. Dalam usia tua putera pertama beliau yang dilahirkan,yakni  Ismail, menjadi penyejuk matanya.

Kemudian baru terlepas dari mendung kesedihan datanglah perintah Allah untuk meninggalkan dia dengan Ibunya, Siti Hajar, sendirian di padang pasir Hijaz yang kira-kira 1500 mil dari rumahnya. Disini tempat Kakbah, rumah pertama yang didirikan, yang dibangun untuk beribadah kepada Allah. Pada saat itu tinggal pondasinya saja yang tersisa, maka pengorbanan pertama beliau yakni membangun kembali Rumah Allah dan memakmurkan kota Mekkah.

Kita harus ingat betapa dia diperintahkan untuk meninggalkan isteri dan puteranya di suatu tempat dimana tak ada kehidupan, tanpa penghuni, tanpa makanan dan tanpa manusia dan selanjutnya, dia harus meninggalkannya di situ selamanya. Wahai Ibrahim, salam sejahtera atasmu! Betapa mengagumkan keyakinan beliau kepada Allah sehingga beliau tak sedikitpun menunjukkan kebimbangan dalam mengemban perintah ini. Ketika mereka mencapai tempat yang menakutkan dan terasing ini, Siti Hajar terkejut dan takut.

Di sana beliau berdiri bersama bayi dalam gendongannya tanpa melihat rumah ataupun  tempat berlindung. Meninggalkan mereka dengan sedikit makanan dan air, Nabi Ibrahim, demi menjaga ketentuan Allah, maka dikala hendak meninggalkan Siti Hajar, beliau bertanya kepadanya: ”Di tangan pemeliharaan siapa engkau percayakan nasib kami?”.

Terhadap pertanyaan tersebut Nabi Ibrahim menjawab: ”Di tangan Allah”. Kemudian Siti Hajar berkata: ”Engkau boleh pergi sekarang. Saya ridha dengan Allah. Dia tak pernah membuat kita celaka”.  Persediaan makanan dan air mereka segera habis. Dia menahan beban itu dengan bergeming, tetapi si bayi dalam kesulitan yang hebat karena ingin minum. Dia melihat sekitarnya kesana-kemari tetapi tak ada air terlihat. Didekat lembah itu ada dua bukit, Safa dan Marwa. Dengan cepat dia mendaki salah-satu bukit dan melihat ke sekitar namun tetap tak ada tanda kafilah yang lewat atau air yang dapat ditemui. Dia menuruni bukit itu dan ingin mendaki bukit satunya lagi tetapi anaknya yang di lembah tidak kelihatan; maka dia berlari ke bawah. Dengan cepat dia daki bukit satunya lagi namun tetap tak ada tanda setetes air pun di mana-mana.

Datang lagi ide padanya untuk mendaki bukit pertama untuk melihat pandangan yang lain. Barangkali dia melihat sesuatu kali ini. Dari sini dia harus menuruni bukit lagi karena dari sana bayinya tak terlihat. Namun tetap dari puncak bukit pertama dia tidak melihat air. Harapan dan kekhawatiran di hatinya mendorongnya untuk lari dan mendaki bukit-bukit ini beberapa kali untuk melihat tanda-tanda air namun tak ada suatu keberuntungan yang dicarinya. Akhirnya setelah benar-benar kelelahan, dia kembali dan duduk disamping bayinya yang terbaring di tanah, dan dalam kehausan yang sangat, bayi Ismail menggaruk-garukkan kakinya ke tanah. Betapa Siti Hajar tak tahan melihat bayinya dalam keadaan menderita seperti ini; maka dengan merebahkan dirinya ke pintu gerbang kemurahan Allah, ruhnya mengalir dalam doa kepadaNya.

Kini, hanyalah jalan dari Allah bila seorang hamba telah sujud di kakiNya dalam ketidak-berdayaan total, maka Dia berkenan memberikan karuniaNya dari persediaan kasih-sayangNya yang tak terbatas. Tangis Siti Hajar menyebabkan mata-air kasih-sayang Allah menyembur dan dalam kasyaf nampak kepadanya bahwa malaikat datang serta memukul tanah di hadapannya dan seketika satu mata air mulai mengalir. Ketika dia membuka matanya maka dia melihat dari tempat dimana bayinya menggaruk-garukkan kakinya ke pasir telah terkuak dan air mulai merembes ke permukaan. Dengan cepat dia menggali pasir itu lebih lanjut, dan air itu mulai keluar dan memancar dengan kuatnya. Segera dia mengumpulkan bebatuan dari sekitarnya dan membuat suatu kolam di mulut mata air itu, supaya tidak mengalir kemana-mana dan mengumpul.

Nabi Suci s.a.w. diriwayatkan telah bersabda bahwa manusia itu diciptakan lemah. Dengan ditanggulnya air di sekitar mulut mata-air itu maka mengumpulah air dan menjadi sebuah sumur. Sebagai jawaban doanya atas cobaan berat yang dialami bersama Ismail, maka begitu kuat air itu memancar sehingga bila Siti Hajar tidak menghentikan aliran air itu, maka dia akan mengalir di sana seperti anak sungai selamanya, atas kemurahan Allah.

Seseorang yang ditarik mendekat kepada Allah harus bertanggung jawab untuk hal yang kecil sekali pun. Bahkan Siti Hajar, seorang ibu yang begitu unik dalam berserah diri kepada Allah, harus bertanggung-jawab untuk menghentikan mengalirnya air. Di mata manusia didunia ini, tindakannya mungkin di anggap bijak, tetapi sesuai dengan ketinggian serta harapan untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah, mungkin hal ini bisa dianggap suatu kesalahan.

Demikianlah, sekarang dia memiliki persediaan air. Yang Maha Kuasa sekarang harus memberinya persediaan makanan. Kafilah adalah para pedagang yang senantiasa melintasi jazirah Arab waktu itu dan karena air sangat langka di negeri itu, maka mereka hanya berhenti dimana mereka menemukannya. Di daerah ini (sekitar Mekkah) tidak  ada air maka para kafilah tak pernah singgah di situ. Tetapi kini, setelah Sang Pemelihara menyediakannya, maka suatu kafilah yang lewat di sana dan melihat air melimpah dari sebuah mata air, mengundang mereka mendirikan tenda disekitar itu. Ketika mereka mendapati bahwa seorang ibu dengan anaknya ada di sana, mereka menganggapnya suatu karunia yang besar lalu memintanya agar tetap tinggal di sana serta mengurus air itu. Mereka membangun tempat berlindung baginya dan mengatur untuk keperluannya sehari-hari.

Maka sekarang dia mempunyai rumah dan persediaan dari kafilah itu yang telah memberi makanan baginya lebih dari cukup. Kemudian mereka mengumumkannya ke seluruh jazirah Arab bahwa suatu mata air yang sangat ajaib telah diketemukan di suatu tempat tertentu dan akibatnya seluruh kafilah yang lewat akan bermalam di situ dan menyantuni Siti Hajar yang sekarang mulai menikmati hidup yang penuh kemudahan dan kenyamanan.

Tetapi ini bukanlah akhir pengorbanan. Kota Mekkah mulai berkembang sejak didirikannya rumah yang dibangun untuk Siti Hajar dan Ismail. Tetapi untuk menegakkan pondasi Ka’bah, dibutuhkan pengorbanan yang jauh lebih besar lagi dari yang pertama. Peletakan batu pertama Ka’bah meminta pengorbanan puteranya sendiri. Sebagai tambahan, ini adalah kehendak Allah sehingga ayahnya harus terlibat juga dalam cobaan yang keras ini.

Ketika Ismail telah tumbuh menjadi remaja, Nabi Ibrahim ditunjuk Allah untuk melakukan suatu kunjungan singkat ke tempat isteri dan anaknya guna menyaksikan sendiri betapa indahnya Dia dalam melindungi dan menyantuni mereka. Nabi Ibrahim menurut dan sangat heran atas apa yang dilihatnya. Ketika dia melihat bahwa anak muda yang gagah itu adalah puteranya, maka hatinya sungguh berbunga-bunga karena gembira, dan memang benar, betapa hormat dan tulusnya dia! Tak sekilas pun dia mengira bahwa ujian lain dari Allah sedang mengintai dari sudut yang lainnya.

Dia melihat dalam impian bahwa dia menyembelih puteranya. Sekarang, impian seorang nabi dipandang sebagai sebuah perintah dari Yang Maha Kuasa, maka dia beritahukan kepada puteranya impiannya itu dan meminta pendapatnya. Dan ini adalah jawaban dari anak muda itu – sesuatu yang tak ada tandingannya dalam sejarah dunia: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau; insya Allah engkau akan menemukan aku golongan orang yang sabar” (37:102).

Dapatkah kita temukan dalam sejarah dunia suatu contoh yang lebih besar dari hubungan ketaatan serta kemauan menerima perintah Allah untuk melakukan pengorbanan tunggal dan tak ternilai semacam itu? Manusia dikenal telah berkorban demi negara, bangsa, keluarga dan pribadinya, karena semua ini membentuk bagian dan sisi dari ikatan sosial mereka berikut kewajibannya demi keuntungan yang melekat padanya untuk pengorbanannya itu. Tetapi kini, siapa yang mau berkorban demi Allah, terutama bila hal itu nampaknya, jauh dari penerimaan keuntungan duniawi, bahkan kerugian total yang nampak nyata telah menunggu? Ayah dan anak, keduanya siap untuk pengorbanan itu: puteranya terbaring di tanah dan menyiapkan lehernya untuk ditebas pisau, sedangkan ayahnya, yang bertindak di bawah perintah Allah, berdiri siaga untuk memotong leher puteranya. Dia memegang pisau di tangannya tetapi sebagai seorang ayah pasti tahu bahwa pisau yang harus menebas leher puteranya itu pertama-tama pasti akan memotong  urat jantungnya sendiri. Wahai Allah! Wahai Allah! Betapa besar keyakinan yang ia miliki! Dia nyaris menetakkan pisaunya kepada sesuatu yang paling dahsyat dari segala ikatan kecintaan serta perhatian manusiawi; namun dalam saat yang tepat rahmat Allah menahan tangan Nabi Ibrahim dan Dia berfirman: “Cobaan telah berlalu. Pengorbananmu telah diterima.” Arti terdalam dari meletakkan pisau ke leher puteranya ialah dalam mengembangkan cinta sejati kepada Allah dan ketaatan yang tak tergoyahkan kepadaNya kita harus pertama-tama memotong segala hubungan kecuali hanya kepada Allah. Dia yang siap menyembelih puteranya sendiri, sesungguhnya, mempunyai penolakan yang kuat atas loyalitas kepada segala sesuatu kecuali hanya ketaatan kepada Allah, karena secara manusiawi didunia ini tak ada yang lebih dicintainya selain putera laki-laki, khususnya putera pertama yang dilahirkan oleh seseorang yang telah berusia sangat lanjut. Harus kita ingat bahwa pada saat itu Ishak belum dilahirkan.

Setelah terlepas dari cobaan itu, perintah datang kembali kepadanya untuk menegakkan pondasi Ka’bah dan karena penghormatan besar kepada ayah dan puteranya inilah maka kota Mekkah juga menjadi suatu tempat yang sangat dimuliakan. Betapa pun dekatnya seseorang itu kepada Allah dan disayangi olehNya, tanpa kesulitan dan usaha keras tak dapat dia melaju ke depan dalam perjalanan hidupnya. Maka disini, Nabi Suci s.a.w. diberi-tahu bahwa dia adalah ayah ruhani dari umatnya dan mereka itu adalah anak-anak ruhaninya. Benar bahwa mereka tidak menikmati kedamaian di kota itu, namun perlu bagi mereka untuk mengemban segala macam kesulitan dan bahkan melakukan pengorbanan supaya maju ke depan. Sebagai suatu fakta, sampai beliau dan umatnya siap untuk melakukan segala macam pengorbanan seperti yang dijalani oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, mereka jangan mengharapkan sukses dalam misinya. Betapa pun, hari kemenangan akan tiba, Allah telah memberikan jaminan padanya, saat dia akan masuk kota ini sebagai penakluk dan sekali lagi, tempat ibadah ini akan disucikan dari berhala serta dibebaskan dari cengkeraman para penyembahnya. Kota ini kemudian akan menjadi sebuah rumah ibadah kepada Tuhan Yang Esa dan akan menjadi tempat perdamaian hingga Hari Kebangkitan. Tetapi sebelum dia memanen segala keberhasilan itu, pengorbanan seperti ayah dan anak itu, yakni Nabi Ibrahim dan Ismail, harus dilakukan.

  1. Apakah ia mengira bahwa tak ada yang mempunyai kekuasaan melebihi dia?

Ayat ini ditujukan kepada mereka yang menganiaya Nabi Suci di tempat ibadah Ka’bah dan bertanya kepada mereka apakah mereka mengira bahwa tak ada kuasa lain yang melebihi mereka. Jika mereka berpendapat semacam itu, maka mereka dalam kesalahan besar karena waktunya akan tiba dimana mereka dengan sangat menyesal akan berkata:

  1. Ia berkata: Aku telah menghambur-hamburkan banyak harta.

Yakni, orang-orang yang menghamburkan uangnya tak terhitung dalam perlawanan mereka terhadap Nabi Suci s.a.w. dan yang mengira bahwa tak seorang pun yang kuasa untuk mengatasi mereka; suatu hari akan menyesali tindakannya. Mereka akan mengalami penyesalan yang dalam atas kegagalan mereka dan akan menangisi jumlah uang yang luar biasa besar yang telah dihabiskan dalam usaha sia-sia untuk menghancurkan Nabi Suci s.a.w. Betapa benderangnya ramalan ini dan betapa terbukti kebenarannya! Kini bagi mereka, para musuh yang telah menyebar kekayaan luar biasa besar dalam peperangannya melawan Islam hendaknya memperhatikan peringatan dari Yang Maha Kuasa ini.

  1. Apakah ia mengira bahwa tak ada yang melihat dia?

Dengan perkataan lain, ayat ini memberi tahu kita bahwa amal perbuatan itu menentukan konsekwensi suatu perkara. Seseorang itu dalam kesalahan besar bila menyimpang dari jalan dan menindas yang lain serta berusaha dengan sekuat tenaga dan segala cara untuk berkuasa melalui penipuan, kejahatan, agresi dan kekerasan. Allah mengingatkan  bahwa Dia melihat segala sesuatu dan tak ada kejahatan atau agresi yang tersembunyi dariNya dan Dia akan membalas si pendosa itu atas kejahatannya. Namun, sudah menjadi penalaran dari para pelanggar hukum bahwa dia percaya Allah itu seolah-olah tidak menyaksikan perbuatan jahatnya.

  1. Bukankah telah Kami berikan kepadanya dua mata,
  2. Dan lidah dan dua bibir,
  3. Dan Kami tunjukkan kepadanya dua jalan yang terang?

Ketika seseorang melakukan perjalanan, ada tiga prasyarat yang memungkinkan dia mencapai tujuannya dan ini terdapat baik untuk kehidupan didunia ini atau di masa depan. Di dunia ini, bila kita pergi ke suatu tempat tertentu dan kita tidak tahu jalannya, ada tiga sarana untuk mendapatkan penjelasan. Pertama, kita dapat mencari jalan bagi diri kita baik dengan mata lahiriah atau kecerdasan kita atau mata perasaan. Kedua, kita bisa mencari informasi dari orang yang telah mengetahui jalan itu sehingga kita menjadi lebih yakin. Ketiga, Pemerintah bisa membangun suatu jalan menuju tempat yang diinginkan itu dan bila ada jalan bercabang yang bisa menyimpangkan orang dari tujuannya, maka disana diberi petunjuk arah, atau ada beberapa penjelasan-penjelasan tertentu atau tanda-tanda lainnya sebagaimana yang kita dapati kini di perempatan jalan, dimana rambu-rambu itu ditulis guna menunjukkan nama suatu tempat dan tujuannya.

Jadi, adalah tugas dari seorang pejalan untuk menggunakan mata dan kecerdasannya untuk menemukan jalan bagi dirinya, atau mencari informasi dari seseorang yang mengetahui jalan tersebut. Maka, bila dia melihat suatu jalan raya, pemerintah telah memberi rambu-rambu dan ia membaca tanda-tanda yang menjelaskan kepadanya jalan yang berbeda serta tujuannya, maka wajib baginya untuk menggunakan pedoman itu guna membantunya menemukan jalan yang tepat kepada yang ditujunya, apakah jalan itu sulit atau rusak, atau tidak.

Maka di sini, Allah Ta’ala telah menunjukkan tiga metode yang sama bagi perjalanan ruhani manusia atas pengembaraannya di jalan agama. Pertama, manusia harus menggunakan daya pengamatannya serta kecerdasannya dalam menemukan jalan yang membimbingnya kepada Tuhannya; kedua, untuk memperbesar keyakinannya, dia harus mencari ilmu dari orang-orang yang bertaqwa, dan bijak serta berpengalaman, dan ketiga, ketika Allah mengirimkan petunjuk-Nya melalui seorang rasul, yang, di

bawah petunjuk Tuhannya, dengan gamblang membedakan secara nyata jalan yang benar dan salah, dan pengumuman yang tak ada tandingannya yang telah datang dari Allah untuk menunjukkan jalan ketulusan, maka manusia harus memilih jalan itu betapa pun sulitnya.

Najd berarti tanah tinggi atau suatu jalan yang dibangun pada dataran tinggi. Di sini diartikan sebagai jalan yang tinggi dan ini disebut ’tinggi’ karena perbedaan antara jalan kepada amal saleh dan jalan kepada kejahatan yang dengan mudah dibedakan oleh semua orang karena seperti halnya jalan di tempat yang tinggi akan dapat disaksikan oleh semua orang. Betapa indahnya persamaan yang digunakan Allah untuk membangun pentingnya wahyu Ilahi dan jalan ajaib yang sama yang telah dijelaskan sebagai kaitan mendalam antara nalar, pengumpulan informasi dan wahyu dari Yang Maha-kuasa! Maka ketika Qur’an Suci diturunkan ke dunia ini, pengumuman atas petunjuk tersebut diberikan dengan kata-kata:

”Aku, Allah, Yang Maha-tahu. Kitab ini, tak ada keragu-raguan di dalamnya, adalah petunjuk bagi orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan”(2:1-2) Berkenaan dengan jalan yang lurus dan benar ini, Allah, dengan cara mengumumkan ini, telah mengganti kekurangan nalar dan ilmu manusia serta menunjukkan jalan yang paling pasti untuk mencapai tujuannya seperti yang diungkapkan dari ayat: ”Mereka itulah yang berada di jalan yang benar dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang yang beruntung” (2:5).

Karena itu, jalan yang membawa manusia ke tujuannya adalah jalan yang penuh dengan rahmat karunia yang berlimpah. Inilah sebabnya mengapa orang yang menyusuri jalan ini disebut dalam ayat belakangan dari surat ini ”orang-orang tangan kanan”, atau orang-orang yang berjalan di jalan penuh berkah. Sebaliknya, mereka yang melawan kebenaran disebut sebagai ”orang-orang tangan kiri” atau mereka yang menuju kepada kerugian.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa seseorang yang tidak mempunyai ambisi lebih menyukai jalan menurun karena jalan mendaki itu bagi dia nampak sulit karena terlalu banyak tuntutan. Karena jalan kesesatan itu menurun atau jalan yang menuntun kepada kemerosotan, maka seseorang yang lemah fikiran dan lebih mencintai kemudahan hidup didunia ini pasti akan takut segala kesulitan, dia akan cepat-cepat memilih jalan menurun  yang akhirnya mendorong dia jauh dari jalan yang benar dan dengan demikian dia membinasakan dirinya sendiri. Dan karena jalan petunjuk atau jalan kepada tujuan sejati adalah jalan mendaki atau jalan kepada kemajuan dan perkembangan, maka pencinta kesenangan yang lemah hati ini takut untuk mencobanya, meskipun dia sadar baginya ini adalah jalan yang terbaik dan penuh keberhasilan yang dapat membimbingnya ke arah aktualisasi diri, namun dia enggan dan lemah memutuskan untuk menempuhnya.

  1. Tetapi ia tak berusaha untuk mendaki jalan naik.
  2. Dan apakah yang membuat engkau tahu, apakah jalan naik itu?

Bentuk ungkapan ini digunakan untuk menekankan pentingnya suatu masalah. Mendaki atau  jalan naik yang diajarkan Qur’an Suci kepada manusia diterangkan oleh Qur’an Suci itu sendiri dalam beberapa ayat berikutnya yang menyebut satu demi satu rincian dari apa yang dimaksud jalan mendaki atau jalan naik itu:

  1. (Yaitu) memerdekakan budak.

Dengan perkataan lain, langkah pertama dalam mendaki jalan naik menuju kemajuan dan kesempurnaan manusia disebut ‘kesetaraan’ dalam istilah Islam. Betapa berat tuduhan palsu yang dilancarkan orang-orang ketika mereka menyatakan bahwa Islam tidak mempunyai aturan untuk membebaskan sepenuhnya perbudakan. Qur’an Suci telah menunjukkan dua langkah untuk membuka jalan kepada petunjuk dan jalan kepada kesesatan. Qur’an juga telah menekankan bahwa langkah pertama dari jalan petunjuk itu adalah membebaskan budak tidak hanya dari satu macam perbudakan tetapi untuk membebaskan manusia umumnya dari setiap jenis perbudakan yang nampak yang dapat dibagi kedalam sepuluh golongan:

  1. Perbudakan fisik, yang sangat umum sepanjang sejarah umat manusia. Dengan perkataan lain, ini adalah perbudakan dari seseorang atas orang lain.
  2. Perbudaan kepada tuhan-tuhan palsu, atau politeisme.
  3. Perbudakan ras – pembedaan antara yang berkulit hitam dan putih, suku dan bangsa serta atasan dan bawahan.
  4. Perbudakan mental atau pengikut buta dari pemimpin agama dan yang disebut pimpinan spiritual.
  5. Perbudakan kepada adat-istiadat.
  6. Perbudakan pada kejahilan dan tahayul.
  7. Perbudakan politik atau tirani kediktatoran.
  8. Perbudakan ekonomi – eksploitasi pekerja oleh pemodal dan juga jeratan kapitalisme dan riba.
  9. Perbudakan sosial – penindasan wanita oleh laki-laki.
  10. Perbudakan oleh diri sendiri – perbudakan oleh emosi naluriah dan hawa nafsu seseorang.

Sepuluh macam perbudakan ini telah tersaji di fikiran kita tetapi daftar itu tidak cukup melingkupi karena penelitian lebih lanjut bisa mengungkap jenis-jenis perbudakan yang lain. Qur’an Suci telah memerintahkan kita untuk membebaskan segala jenis perbudakan ini dan Nabi Suci kita s.a.w. melalui teladannya yang mulia telah memperagakan kepada kita bagaimana membebaskan setiap jenis perbudakan. Jika, sesudah beliau, manusia masih terlibat dalam salah-satu jenis perbudakan ini, maka Qur’an Suci maupun Nabi Suci s.a.w. tidak dapat dimintakan pertanggung-jawabannya, sebab sebagaimana dituturkan dalam bagian lain dari Qur’an Suci: ”Maka peringatkanlah. Engkau hanyalah orang yang harus memperingatkan. Engkau bukanlah penjaga atas mereka” (88:21-22). Dengan perkataan lain, Nabi Suci s.a.w. tidak bertanggung jawab atas kelakuan orang lain karena beliau bukanlah penjaga mereka . Tugasnya hanyalah seorang yang menyampaikan risalah dengan jelas.

Karena itu betapa mengherankan, kita mendengar banyak ulama dan fuqaha Muslim yang meneriakkan  kebebasan dalam Islam tetapi pada saat yang sama mereka menutup mata terhadap perbudakan bahkan membenarkannya dalam hidup sehari-hari. Jika kebenaran itu diungkapkan, maka mereka memaksakan nalar pubik untuk mengikuti selera mereka dan mereka sendiri telah menjadi budak dari nafsu rendah mereka.

Qur’an Suci memberikan beberapa langkah lain untuk jalan yang mendaki itu:

  1. Atau memberi makan pada hari kelaparan,
  2. Kepada anak yatim yang ada pertalian keluarga,
  3. Atau orang miskin yang berbaring di tanah,

Setelah kebebasan, langkah selanjutnya adalah persamaan dalam Islam dan metode yang disebut dalam ayat -ayat ini jelas sangat praktis. Kita tahu bahwa dalam salat (doa wajib), baik orang besar atau kecil, kaya maupun miskin, semua berdiri bahu-membahu dalam aturan yang sama. Sebagai tambahan, selama ibadah Haji, para peziarah, semua berpakaian ihram yang sama dan menghadapi keadaan yang sama, mukim di padang arafah dalam peragaan persamaan yang di tegakkan oleh Islam di bumi ini. Betapa pun, dari segi praktis, titik pandang keseharian, metode yang dianjurkan dalam ayat-ayat di atas tidak bisa diketemukan di tempat lain karena mereka mengajarkan kita meninggikan kelas akar rumput dalam masyarakat dan menegakkan suatu landasan persamaan buat mereka dalam masyarakat. Karenanya, Qur’an Suci menyatakan kepada kita bahwa pengaturan harus di adakan untuk menjamin kehidupan dari kedua golongan ini, yakni yatim piatu dan orang miskin. Persediaan bagi yatim piatu harus diperhatikan, dan keadaan fakir miskin harus diperbaiki sehingga mereka bisa berguna dan menjadi warga yang sama dalam masyarakat.

Inilah yang membentuk persamaan dalam Islam. Sayangnya, banyak ulama kita yang jatuh ke dalam kesalahan berkenaan dengan arti ayat-ayat ini. Satu salah konsep yang salah ialah mentafsirkan it’am (makanan) berarti memberi makan beberapa siswa di masjid atau memberi santunan beberapa orang miskin lalu merasa bahwa kita telah menunaikan kewajiban. Padahal pengertian demikian itu tidak tepat. Di sini it’am berarti membuat persediaan untuk hidup mereka sehari-hari, karena memberi makan beberapa orang pada suatu hari bukanlah solusi permanen terhadap kebutuhannya. Maka, di sini, arti dari memberi makan pada hari kelaparan berarti membuat pengaturan yang lestari untuk menghapuskan kelaparan dari yatim-piatu dan ini hanya bisa dilakukan dengan suatu cara dimana keadaan lapar mereka itu bisa dihapuskan secara menyeluruh.

Begitu pula, beberapa ulama kita telah memetik istilah ’seorang anak yatim yang ada pertalian keluarga’ diartikan hanya untuk kerabatnya saja seolah simpati dalam Islam itu di batasi oleh famili atau etnis sendiri. Ini sungguh pengaburan yang luar-biasa terhadap nilai universalitas dalam Islam.

Untuk menggambarkan keadaan mereka yang miskin, maka ungkapan ’yang berbaring di tanah’ dan dengan demikian sangat membutuhkan uluran tangan. Keadaannya dimaksudkan untuk digunakan sebagai contoh supaya menciptakan perasaan simpati dalam hati kaum Muslim.

Begitu pula, ungkapan ’pertalian keluarga’ dipilih untuk menerangkan keadaan dari yatim piatu. Dengan kata lain, ada hubungan dekat antara dirinya dengan setiap warga bangsa. Yakni, bahwa yatim-piatu itu adalah keluarga dekat setiap Muslim. Setiap anak tertentu adalah anak dari ayahnya dan kerabat dari keluarga dekatnya. Namun, seorang yatim-piatu adalah anak dari setiap Muslim dan semua kaum muslim adalah ayahnya, bila kita bicara secara agama. Inilah betapa Nabi Suci s.a.w. menafsirkannya dalam praktek sebagaimana peristiwa berikut ini mencontohkannya:

Pada hari itu adalah hari ’Id dan ratusan kaum Muslim pergi ke Madinah untuk melangsungkan salat ’Id. Mereka membawa anak-anaknya yang semua berdandan dengan pakaian bagus serta beberapa dari mereka bahkan ikut membonceng kendaraan ayahnya. Di suatu pojok jalan berdirilah seorang anak. Dia anak yatim. Dia berdiri di sana dengan penuh harap melihat semua yang lewat ketika tiba-tiba datang seseorang yang dikirim sebagai rahmat bagi seluruh alam, yakni Nabi Suci Muhammad s.a.w. Matanya jatuh ke wajah sedih dari anak itu dan sambil menarik ke dekatnya beliau bersabda: ”Mengapa engkau berdiri di sini begitu putus harapan?” Anak itu menjawab: ”Tak seorang pun yang membawaku ke tempat salat ’Id karena ayahku telah meninggal”. Kalbu Nabi s.a.w. penuh kesedihan. Segera beliau memeluknya dan berkata kepadanya: ”Akulah ayahmu dan aku yang akan membawamu ke sana”. Dan demikianlah dia membawa anak itu dalam pelukannya. Ini adalah kejadian yang mencerminkan sikap Nabi suci yang mulia yang lama tak pernah kita lihat hari-hari ini. Hal ini, juga merupakan bagian dari jalan naik yang diinginkan Qur’an Suci agar kita mendakinya dan itu juga sama dengan tingkat kedua dalam pendakian jalan naik dan ini dilakukan sesudah tingkat pertama, yakni penghapusan segala macam perbudakan.

  1. Lalu ia dari golongan orang yang beriman dan saling menasehati supaya berbelas-kasih.

Di sini muncul pertanyaan di kepala kita: Karena Qur’an itu membawakan keimanan kedunia, karenanya, iman harusnya disebutkan terlebih dahulu. Lalu apa alasannya untuk menyatakan keimanan setelah kebebasan dan persamaan disini? Jawabannya adalah: Memang benar bahwa dasar dari agama adalah cara hidup atau agama itu ditegakkan dalam keimanan. Bila tidak ada petunjuk prinsip, lalu atas dasar apa umat bertindak? Namun, alasan iman disebut sesudah kebebasan dan persamaan ialah, bahwa kalau amal perbuatan manusia itu tidak berdasarkan prinsip kebebasan dan persamaan, maka pernyataan keimanannya tiada guna. Jadi, seluruh perjuangannya harus tanpa pamrih dan harus dilakukan hanya demi ridha Allah dan keimanan yang mendalam kepadaNya.

Tetapi manusia tidak akan sukses jika yang menempuh jalan yang mendaki itu hanya dilakukan oleh seorang diri. Dikatakan juga bahwa dia harus menolong orang yang lain untuk berbuat yang sama. Meskipun pendakian itu meminta tenaga luar-biasa, yang menyerap keberanian serta keperkasaan dari manusia, orang kuat itu harus berusaha membawa yang lebih lemah untuk bersama-sama mendaki sampai ke puncak kesuksesan. Inilah mengapa Qur’an Suci menyatakan: ….dan saling menasehati dalam kesabaran dan saling berbelas-kasih.

Di sini hendaklah diingat bahwa seorang mukmin itu harus menjalani nasehat yang diberikannya kepada orang lain dan tidak boleh bersikap seperti yang disebutkan dalam ayat: ”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tak kamu lakukan?”.(61:2), karena hal itu akan menimbulkan murka Allah.

Maka, dua sifat mulia yang harus dipraktekkan olehnya dan yang harus didorong dengan kuat agar orang lain melakukannya, adalah kesabaran dan kasih sayang atau simpati. Adalah suatu fakta bahwa kewajiban yang harus kita lakukan untuk Allah dan bagi sesama manusia dilaksanakan dengan dua sifat mulia ini. Misalnya, dengan kesabaran kita memenuhi kewajiban kita kepada Allah dan bahwa segenap perintah Allah harus kerjakan dengan kesabaran dan keteguhan hati. Yakni, apa pun perintah serta larangan yang kita dapati dalam Syariat (Hukum), harus kita pegang dengan penuh keteguhan dan tidak boleh ada kemunduran dalam ketaatan kita.

Mengenai takdir Allah, yakni kesenangan dan kesusahan, kenyamanan dan kedukaan, pendeknya, apa pun yang menimpa kita dari Allah, kita harus senantiasa ridha kepadaNya dan tidak boleh ada cela sedikitpun dalam keyakinan dan keimanan kita kepada-Nya.

Melalui kesabaran, kita juga harus memenuhi kewajiban kita kepada sesama manusia dengan memberi mereka haknya tanpa sedikit pun menguranginya. Sesungguhnya, betapa pun buruk golongan yang memusuhi dalam memperlakukan kita, kita tidak boleh bergeming dari prinsip kita yang luhur atau pun berkeinginan membalas dendam, atau pun kita  jatuh dari standar moral kita yang luhur. Kita juga harus memikul penganiayaan dari orang-orang dengan kesabaran dan tidak pernah mundur dari kewajiban dan pelayanan kita terhadap sesama.

Dengan marhamah (kasih sayang) kita melakukan kewajiban kita kepada Allah dengan menunjukkan simpati kita kepada yang lemah serta yang terpuruk sebagaimana hadist yang berikut dengan indahnya menyatakan sebagai berikut:

Nabi Suci s.a.w. suatu ketika bersabda: ”Pada Hari Pengadilan, Allah akan berbicara kepada seseorang: Wahai anak Adam! Aku sakit tetapi engkau tidak mengok-Ku. Dengan gemetar, orang ini akan berkata: ’Bagaimana mungkin? Engkau adalah Yang Berkuasa atas segala sesuatu (dan tidak mungkin jatuh sakit)’. Allah akan menjawab: ’Tidakkah kau ingat bahwa si fulan dan si fulanah dari antara hamba-hambaKu jatuh sakit dan berbaring di dekatmu dan kamu tidak menengoknya dengan simpati? Bila engkau datang mengunjunginya, engkau akan menemukan Aku di sampingnya’.

Dengan sikap serupa, Allah akan berkata kepada seseorang yang lain: ’Wahai anak Adam! Aku telah minta kepadamu sepotong roti, tetapi engkau tidak memberikannya kepada-Ku. Orang itu akan menunduk: ’Bagaimana mungkin? Dapatkah Allah merasa lapar dan memerlukan roti?’ Allah akan menjawab: ’Si fulan dan si fulanah di antara hamba-hamba-Ku pada waktu lapar meminta kepadamu sepotong roti, dan bukankah engkau menolak memberinya? Jika engkau memberinya makanan, engkau akan menemukan Aku di sampingnya’.

Begitu pula, Allah akan menuju kepada orang lain lagi, dan berkata kepadanya: ’Wahai anak Adam! Aku haus dan Aku meminta segelas air, tetapi engkau tak mau memberi kepadaKu’. Orang itu akan berseru: ’Betapa mungkin? Bagaimana bisa Allah merasa haus?’ Allah akan menjawab: ’Si fulan dan si fulanah di antara hamba-hambaKu merasa haus dan meminta air kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberinya. Bila kamu memberi minuman kepadanya, engkau akan menemukan Aku di sampingnya” (H.R. Muslim).

Karenanya, menunjukkan kasih-sayang dan kebajikan kepada mereka yang lemah dan tak berdaya merupakan bagian dari kewajiban kita kepada Allah, Sendiri. Dengan kasih-sayang, kita juga memenuhi kewajiban kita kepada sesama manusia dengan memperlakukan setiap warga masyarakat, baik kawan maupun lawan, kaya atau miskin, dengan perlakuan dan perhatian yang sama dan juga membantu setiap orang yang dalam kesusahan. Pendeknya, melalui kesabaran dan kebajikan kita memenuhi kewajiban kita baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia dengan segala cara. Namun, perintah Allah lebih lanjut menyuruh agar manusia tidak berbuat baik hanya untuk dirinya sendiri saja melainkan juga menyeru kepada orang  lain untuk berbuat yang sama. Jelaslah bahwa jika seseorang memutuskan untuk mematuhi perintah dan larangan Allah, dan dengan senang menerima keadaan apa pun yang menimpa dirinya, serta menunjukkan besarnya iman dengan menahan diri dan memikul beban penganiayaan dari orang lain, dan dengan kuat mendorong serta menasehati orang lain untuk berbuat yang sama semacam itu, tidak diragukan lagi bahwa orang itu telah membebaskan dirinya dari hawa nafsunya untuk selamanya, karena dia telah mencapai tingkat dimana dia telah berhasil meredam gejolak semua nafsu dasariahnya. Sebab membebaskan budak adalah titik tertinggi dalam perjalanan ruhaninya dan dia telah mencapainya dengan menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Dan dengan niat demi kasih sayang Allah,  dia menunjukkan kebajikan dan simpati tidak saja kepada si miskin, si fakir, yatim piatu serta orang-orang yang tak berpunya, tetapi juga kepada semua warga manusia; dapatkah kita jumpai seseorang yang membawa persamaan yang lebih baik melebihi ketentuan Islam ini? Begitu pula, bila setiap orang didalam masyarakat mengajak dan memberikan semangat kepada orang-orang lain agar bersabar dan berbuat kebajikan, maka tidak akan ada masyarakat lain yang lebih bersatu, kuat, terhormat dan dinamis dibandingkan masyarakat Islam tersebut.

Maka dengan jelas kita bisa melihat, bahwa Qur’an Suci ingin agar kita mendaki jalan naik yakni kebebasan, persamaan, keimanan, kesabaran dan kebajikan karena ini adalah prinsip-prinsip amal salih yang mustahil dilewatkan. Selanjutnya, kita tidak hanya harus mempraktekkannya bagi diri kita sendiri tetapi kita harus menganjurkan dan menyemangati orang-orang lain untuk menempuh jalan yang sama dalam kehidupan ini. Yakni, kita tidak hanya memanjat bukit sendirian melainkan harus mengajak orang-orang lain untuk ikut mendaki dan membantu mereka di perjalanan ini. Dapatkah orang menggambarkan prinsip kemajuan baik untuk individu maupun bangsa yang lebih baik dibanding prinsip ini?

  1. Itulah orang-orang tangan kanan.

Orang-orang ini memilih jalan di sebelah kanan, yakni, jalan keberkahan, yang menghasilkan nasib baik bagi mereka.

  1. Adapun orang-orang yang mengafiri ayat-ayat Kami; mereka adalah orang-orang tangan kiri.

Bagi orang-orang ini, mereka tidak menggunakan petunjuk Allah dan lebih menyukai jalan di kiri, yakni, jalan yang buruk serta celaka yang hanya menuju kepada kekecewaan dan kehancuran.

  1. Bagi mereka adalah Api yang mengurung.

Yakni, mereka dilempar ke dalam api dan pintunya telah ditutup bagi mereka. Ini adalah api nafsu yang menyala dalam hatinya sewaktu mereka hidup di dunia. Jika seseorang mengabaikan jalan lurus yang diberikan kepada kita dalam Qur’an Suci – jalan yang membimbing kepada kemajuan dan perkembangan menyeluruh – dan memilih jalan kemerosotan, maka hari demi hari, selangkah demi selangkah, dia tanpa belas kasih akan terdorong ke dalam panasnya nafsu. Adalah suatu fakta tak terbantah bahwa sekali seseorang itu terperangkap dalam api keserakahan, syahwat dan naluri dasariahnya, maka sulit baginya untuk membebaskan diri. Ini merupakan rantai tiada putus dari keinginan dan hawa-nafsunya yang  telah menutup pintu untuk lolos. Misalnya, jika seseorang menjadi tergila-gila oleh uang sehingga siang-malam fikirannya terserap dalam merencanakan sarana untuk memperolehnya, lantas menjadi mustahil baginya untuk keluar dari jaring-jaring itu. Hal yang sama terjadi dalam mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, pemalsuan dan sebagainya. Pendeknya, hal itu akan semakin meningkat hingga sulit baginya untuk meloloskan diri dari jaring nafsu dan ambisi duniawi dimana dia terperangkap didalamnya. Gambaran ini yakni api yang mengepung manusia dari segala penjuru dan dari mana dia tak bisa lolos adalah sesungguhnya konsekwensi atas amal perbuatannya yang buruk yang karenanya ia harus dihukum.

Demikianlah keadaan batin yang diciptakannya sendiri dengan amal perbuatannya dalam kehidupan ini akan nampak nyata dalam hidupnya sesudah mati kelak. Ia berkata:  “Aku telah menghambur-hamburkan banyak harta.” Yakni, orang-orang yang membelanjakan uang tak terhitung untuk melawan Nabi Suci s.a.w. dan yang mengira bahwa tak seorang pun yang punya kemampuan mengatasinya, suatu hari akan menyesali tindakannya. Mereka akan mengalami penyesalan mendalam atas kegagalan mereka dan akan menangisi jumlah besar uang yang dihabiskan dalam usahanya yang sia-sia untuk menghancurkan Nabi Suci s.a.w. Betapa benderang ramalan ini dan betapa benar terbukti! Kini, bagi mereka yang menebar kekayaannya untuk memerangi Islam harus memperhatikan peringatan dari Yang Maha Kuasa ini.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: