Serial Islamologi – Bab I, Qur’an Suci (2)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Buku manakah yang bukan saja selama tigabelas abad dalam sejarah manusia, tetap diakui menjadi standard bahasa yang ditulis dalam buku itu, bahkan menjadi sumbernya perpustakaan yang luas di dunia? Buku-buku yang baik yang usianya hanya separoh usia Qur’an Suci, kini tak lagi menjadi standard bahasa dari bahasa yang ditulis di dalam buku itu. Prestasi yang dicapai oleh Qur’an Suci benar-benar tak ada taranya dalam seluruh sejarah bahasa yang ditulis.

Hadits tentang nasikh-mansukh

Imam Tabrasi berkata: “Semua Hadits yang menerangkan nasikh-mansukh itu lemah sekali (dla’if)“. Tetapi aneh sekali bahwa teori nasikh-mansukh itu masih tetap dipakai oleh para pengarang yang satu lepas pengarang yang lain tanpa pernah dipikir bahwa tak satu Hadits pun, betapa pun lemahnya Hadits yang menyentuh persoalan nasikh-mansukh ini, dapat ditelusuri sampai kepada Nabi. Tak pernah terpikir oleh para ulama yang mengangkat teori nasikh-mansukh ini, bahwa ayat-ayat Qur’an diundangkan oleh Nabi, dan beliaulah yang memiliki wewenang untuk memansukh ayat-ayat tertentu, Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Bab I, Qur’an Suci (1)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Daya kemampuan para Nabi untuk menerima Firman Allah begitu tinggi perkembangannya hingga mereka mampu menerima risalah Ilahi, yang ini bukan hanya berbentuk angan-angan yang dimasukkan ke dalam kalbu, atau berbentuk kata-kata yang diucapkan atau didengar dibawah pengaruh Roh Suci, melainkan pula benar-benar risalah Tuhan dalam bentuk kata-kata yang disampaikan melalui Roh Suci (malaikat Jibril). Menurut istilah Islam, ini disebut wahyu matluw atau wahyu yang dibaca dan dalam bentuk inilah Qur’an Suci dari awal hingga akhir disampaikan kepada Nabi Suci.

Bagaimana dan bilamana Qur’an Suci diturunkan

Sumber asli (1)dari semua ajaran dan syari’at Islam ialah Kitab Suci yang disebut al-Qur’an (2) Kata Qur’an berulangkali disebutkan dalam Kitab itu sendiri (2:185; 10:37, 61; 17:106 dan sebagainya) yang menguraikan pula kepada siapa, bilamana, dalam bahasa apa, serta bagaimana dan mengapa Qur’an itu diturunkan. Qur’an diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Qur’an berfirman: “Dan yang beriman kepada apa yang diwahyukan kepada Muhammad, dan ini kebenaran dari Tuhan mereka” (47:2). Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Muqadimah; Pengertian “Agama Islam”

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian  dan orang Muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah artinya, berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya, dan damai dengan manusia bukan saja berarti menyingkiri berbuat jahat atau sewenang-wenang kepada sesamanya melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya.

 

Islam bukan Muhammadanisme

Masalah penting yang pertama kali harus diperhatikan dalam membahas agama 1 Islam ialah, bahwa nama agama ini bukanlah Muhammadanisme seperti anggapan orang Barat pada umumnya, melainkan Islam. Muhammad adalah nama Nabi yang kepadanya agama ini diwahyukan. Para penulis Barat mengambil nama beliau sebagai nama agama ini yaitu Muhammadanisme, berdasarkan analogi nama-nama agama seperti Christianity, Buddhisme, Confusianisme dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-b], Ke-Esaan Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Keesaan Allah

Semua pokok ajaran Islam dibahas sepenuhnya dalam Qur’an Suci, demikian pula ajaran iman kepada Allah, yang intinya adalah beriman kepada Keesaan Allah (tauhid). Kalimah Tauhid yang sudah terkenal ialah laa ilaaha illallah. Kalimah ini terdiri dari empat perkataan, yakni la (tidak), ilaaha (Tuhan), illa (kecuali), Allah (nama Tuhan yang sebenarnya). Jadi, kalimah itu yang biasa diterjemahkan tak ada Tuhan selain Allah,mengandung arti, bahwa tak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Kalimah syahadat inilah yang jika digabungkan dengan syahadat Rasul –Muhammadur-Rasulullah– orang sudah diakui sah sebagai orang Islam. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-a], Adanya Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Pengalaman jasmani, batin, dan rohani manusia

Dalam semua Kitab Suci, adanya Allah dianggap sepenuhnya sebagai kebenaran axioma. Akan tetapi Qur’an Suci mengemukakan banyak bukti untuk membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Dalam uraian ringkas ini, kami hanya bisa menyebutkan tiga bukti yang amat penting, yang terutama sekali dibahas di dalam Qur’an Suci. Pertama, bukti yang diambil dari peristiwa alam, yang dapat disebut pengalaman rendah atau pengalaman jasmani manusia. Kedua, bukti tentang kodrat manusia, yang disebut pengalaman batin manusia. Ketiga, bukti yang didasarkan atas Wahyu Ilahi kepada manusia, yang dapat disebut pengalaman tertinggi atau pengalaman rohani manusia. Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Kekinian [6a]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tafsir dalam konteks sejarah dan dalam konteks ayat dan surat di atas sebenarnya tetap relevan dan signifikan dengan tafsir dalam konteks kekinian, karena Al Fatihah merupakan intisari Al Quran petunjuk bagi umat manusia untuk sepanjang zaman di mana saja ia berada. Signifikasi hidayah Al Fatihah dewasa ini terutama sebagai surat permohonan (sûratud-du’â’) dibagi menjadi dua bagian yang saling berhubungan. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah pernah Tuhan menurunkan sebuah kitab seperti Al Fatihah yang tujuh ayatnya ini, baik dalam Injil maupun dalam Taurat, dan Allah Ta’ala berfirman bahwa surat ini terbagi antara Aku dan hamba-hamba-Ku dan mereka yang berdoa serta mengamalkan isi surat itu pastilah Kuterima dan Kuwujudkan kehendak mereka” (H. R. Nasa’i dari Ubay bin Ka’ab r.a.).

Kedua bagian itu, pertama mengenai aspek Tuhan, kedua mengenai aspek insan, baik secara individual maupun kolektif. Keduanya saling berhubungan. Hubungannya sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 2 dan 3 [4]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Singkatnya, tak ada satu perbuatan pun, baik atau jahat, tanpa akibat mengadakan perubahan yang halus sekali pada kepribadian kita (10:63; 34:3). Jika manusia tak melihatnya dalam kehidupan di dunia ini, maka di akhirat pun masih ada ‘hari pembalasan’. Tiap-tiap jiwa bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya (6:52; 52:21), dan “tiada pemikul beban memikul beban orang lain” (6:165; 53:38). Manusia tak mungkin melakukan pelanggaran hukum Ilahi tanpa memperlakukan jiwanya tak adil (65:1; 69:25-32) dan tanpa menghukum dirinya sendiri (30:9, 10), sebab dia tak dapat menyembunyikan atau melarikan diri dari akibat perbuatan pada jiwanya (17:13-14). Sekalipun kesalahannya tak diketahui orang lain atau dia menutup-nutupi, memperkecil atau memperelok-elok kejahatannya – misalnya dengan dalih “kebanyakan orang berbuat begitu, mengapa saya tidak?” – namun struktur fitriah jiwanya sedemikian rupa sehingga dalam batinnya selalu ada yang mengusahakan agar dia dihukum juga tanpa disadarinya (36:4). Dalam beberapa hal, misalnya jika ada penyesalan mendalam akan suatu pelanggaran yang telah dilakukannya (2:167) atau jika dia dalam keadaan merana karena kesedihan (14:17) atau jika dia menurut kepada hawa nafsunya saja, sehingga akhirnya ada dalam belenggu kejahatan (2:81), maka perbuatannya itu dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang sama sekali tak mungkin disadarinya, karena proses-proses itu berlangsung dalam akhfâ’, yaitu dalam apa yang lebih tak mungkin lagi ditangkap dengan indera-indera (20:7)

Ayat kedua, arrahmânir-rahîm. Di sini Rububiyah Ilahi, yakni perbuatan Ilahi memelihara, mengatur, dan memimpin ciptaan-Nya ke arah kesempurnaan – termasuk manusia – dinyatakan dengan dua kata, Arrahmân dan Arrahîm. Keduanya berasal dari kata rahmat yaitu riqqatun taqtadil-hisâna ilal marhûm, kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti perbuatan baik terhadap yang disayangi. Digubah menjadi Rahmân – mengikut wazan fa’lân untuk menunjukkan tingkat perbandingan yang tertinggi – berarti rahmat yang tertinggi, Yang Maha-pengasih. Artinya, Kasih-sayang-Nya demikian besar, sehingga Dia telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk, yang sesuatu itu telah diciptakan sebelum adanya, yang diciptakan dan disediakan, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa, Baca lebih lanjut