TAFSIR SURAT (94) : AL INSYIRAH (KELAPANGAN DADA)

Oleh : DR. Basharat Ahmad

Setelah memberi nikmat kelapangan, maka Allah pun memberi janji bahwa setelah kesukaran pasti datang kemudahan. Di ayat berikutnya memberi tahu caranya agar kemudahan itu dapat terus berlangsung, yakni dengan kerja keras dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan

Surat ini adalah adalah wahyu Mekkah permulaan. Ini merupakan suatu catatan tambahan terhadap surat sebelumnya, Ad-Dluha (Terangnya waktu siang), karena di sini tema yang sama dilanjutkan. Jadi ini menyoroti janji Ilahi bahwa sepanjang masa depan kehidupan Nabi Suci s.a.w., maka dakwahnya pasti akan lebih unggul dari sebelumnya, dan bahwa agamanya pasti akan menjadi pelopor, serta nama beliau pun akan dimuliakan. Sebagai pertanda atas peristiwa di masa depan, maka beliau diminta untuk menimbang kehidupan masa lalunya, dan bercermin atas besarnya nikmat Allah yang secara mukjizat telah dikaruniakan kepadanya.

Nabi Suci karenanya harus merasa tenteram atas janji Allah ini,  bahwa aliran rahmat tak kan terputuskan. Fakta masa lalu beliau,  telah menyajikan bukti kuat atas berlanjutnya rahmat Ilahi di masa depan. Demikianlah, maka surat ini dimulai dengan ayat berikut ini:

Terjemah dan Tafsir selengkapnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih

  1. Bukankah Kami telah melapangkan dada engkau?
  2. Dan menghilangkan beban engkau,
  3. Yang memberatkan punggung engkau?
  4. Dan Kami tinggikan sebutan dikau?

Mengenai inshirah sadr ini, yakni, melapangkan dada,  maka kebanyakan para mufasiir merujuk kepada peristiwa yang terjadi tiga kali semasa hidup Nabi Suci  – di masa kanak-kanak, sesudah remaja, dan pada waktu mi’raj (kenaikan)- nya. Dan itu adalah ru’yah dimana Nabi Suci diperlihatkan bahwa dadanya dibelah lalu hatinya dibasuh dengan segala macam kekotoran. Dari sini, tak seorangpun dapat mengingkari, bahwa Allah Ta’ala telah membersihkan hati Nabi dari segala jenis pencemaran. Tetapi peristiwa itu agaknya tidak mengandung kaitan dengan subyek perkara yang dibicarakan di sini.

Kesempitan dan kelapangan adalah dua keadaan hati manusia. Di saat seseorang itu mengemban beban yang lebih besar dari daya kekuatan yang dia mampu, dan menganggap tugasnya itu melebihi kemampuannya, maka hatinya menjadi sesak dan keadaan itu disebut inqibaz (kesempitan). Namun, pada waktu dia mulai mengalami kemudahan sebagai akibat diangkatnya yang membebani, dan mengira bahwa dia dapat menjalani tugas itu serta menyelesaikannya, maka hatinya akan menjadi lapang dan itu dikenal sebagai inshirah sadr (kelapangan hati). Qur’an Suci telah menjelaskan bahwa kenabian itu adalah tanggung-jawab yang luar-biasa beratnya. Memanggul beban mereformasi seluruh dunia yang digantungkan ke leher beliau bukanlah suatu perkara main-main. Memperbaiki dan menumbuh-kembangkan watak seseorang itu sendiri sudah merupakan tugas yang sangat besar. Maka dapatkah seseorang membayang kan keadaan pribadinya jika di pundaknya telah dijatuhi tugas mereformasi

Pada saat Nabi Suci diberi perintah Ilahi dalam surat Hud: “Maka tetaplah pada jalan yang benar seperti yang diperintahkan kepada engkau, demikian pula orang yang bertobat bersama engkau. Dan janganlah kamu melampaui batas (wahai manusia)!”(11:112), ayat ini begitu besar pengaruhnya kepada Rasulullah.

Diriwayatkan dalam sebuah Hadist bahwa tekanan berat yang diletakkan ayat ini untuk mereformasi orang-orang lain disamping beliau sendiri telah meningkatkan beban tanggung jawab atas pemikiran Nabi Suci sedemikian hebat sehingga sebagian dari janggutnya menjadi  uban  sampai-sampai beliau menggumam: “Surat Hud telah membuatku jauh lebih tua”.

Pada waktu kenabian menyapa Nabi Musa a.s., beliau pun demikian cemas atas tugas yang  harus penuh kehati-hatian, sehingga pertama-tama beliau mohon rekomendasi untuk saudaranya Harun demi tugas itu dengan berkata: “Dan saudaraku, Harun, ia lebih lancar bicara daripadaku”(28:34), jadi, beliau mencoba menghindar dari tanggung-jawab itu. Ketika usahanya ini ditolak, maka beliau memohon kepada  Allah dengan kata-kata berikut: “Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah simpul dari lidahku, (agar) mereka dapat mengerti ucapanku. Dan berilah aku seorang pembantu dari keluargaku: Harun, saudaraku”(20 : 25-30).

Lihatlah betapa gelisahnya beliau oleh beban tanggung-jawab kenabian ini, sehingga dia berseru agar beban berat yang dipanggulnya ini diminta untuk dapat dibantu bersama saudaranya, Harun!

Maka, perkara di sini sesungguhnya menceriterakan tanggung jawab besar kenabian bagi Nabi Suci s.a.w. dan keprihatinan akan reformasi tidak saja terhadap kaumnya sendiri melainkan juga ke seluruh dunia yang sudah terbenam kejahatan jauh lebih dalam. Luasnya kewajiban yang harus sanggup dipenuhinya di mata Allah juga menjadi sebagian dari kekhawatirannya. Pada waktu beban kenabian ini diletakkan di punggungnya, beliau sangat terusik dan waktu pulang ke rumahnya beliau bersabda kepada isterinya yang mulia, Sitti Khadijah “Selimuti aku, selimuti aku” dan setelah menceriterakan seluruh pengalamannya beliau  mengakui “Saya takut kalau-kalau saya tidak mampu memikul tugas ini”. Di saat itu pula  Khadijah sangat meneteramkan dia dan sambil merinci kebajikannya yang mulia, dia menyatakan: “Allah tak akan pernah menghancurkan jiwa semulia anda”.

Beliau pun mulai merasa bahwa perkara ini diluar kemampuannya. Beliau tak bisa membayangkan dengan jalan bagaimanakah dia dapat menyelamatkan dan merombak masyarakat yang merosot itu, atau bagaimana beliau dapat menghitung  tanggung-jawabnya di hadapan Yang Maha-kuasa. Namun, cahaya Allah, ketenteraman fikiran dan wahyu Ilahi yang mulai turun tanpa terputus, mengisi hatinya yang diberkati dengan kedamaian. Segala macam ilmu dan argumen yang rasional dibukakan kepadanya dan bantuan yang tak ternilai diterimanya dari Allah untuk perbaikan dunia (hal yang sangat menakutkan dalam hatinya sebelumnya), membawa ke hadapannya begitu banyak kemudahan dan kenyamanan, dan begitu banyak pintu dibukakan baginya, sehingga beban itu menjadi ringan dan hatinya mulai berasa lapang. Dengan perkataan lain, beliau tidak meminta penolong bagi beban yang di sandang di punggungnya. Namun, Tuhan telah merengkuhnya dengan pertolongan-Nya dan Dia Sendiri-lah yang membantunya untuk menyingkirkan beban ini dan karenanya menyebabkan hatinya menjadi lapang penuh suka-cita dan rasa ringan datang atas misi kenabiannya.

Allah Yang Maha-tinggi tidak saja mengangkat bebannya, namun lebih dari itu, Dia meninggikan namanya dan menjadikan seluruh dunia bersalawat demi kemuliaannya padahal tadinya beliau adalah seorang yang tak dikenal dan sederhana. Jika seseorang membaca riwayat awalnya dan merenung betapa beliau sendirian, tak menarik  perhatian, tanpa daya serta keadaan sekitar yang terasing lalu kemudian dapat menarik perhatian orang atas kemuliaan dan keagungan yang dianugerahkan Allah kepadanya dalam waktu hanya beberapa tahun, maka kekaguman manusia sungguh akan melintasi semua pembatas.

Di Mekkah, beliau adalah seorang yang tak terdidik, tuna-aksara, tanpa daya, terasing dan orang yang tak dikenal. Namun Allah menempatkannya di singgasana mulia yang penuh wibawa dan keagungan  sehingga bahkan seorang penguasa yang kuat saja menunjukkan kehormatan untuknya sebagaimana tercermin dari surat Kaisar Roma ini membuktikannya. Katanya dalam bagian suratnya: “Saya harap saya bisa melayani Anda dan diberi tugas bahkan sekedar melepas tali sandal anda”.

Sebagai tambahan atas hal ini, begitu lengkap perbendaharaan ilmu serta hikmah yang dianugerahkan kepada orang  yang buta-huruf ini, sehingga bahkan para tokoh dan filsuf yang memiliki banyak ilmu dan hikmah menganggapnya sebagai tanda kehormatan jika mengambil ilmu dari beliau. Sesungguhnya, yang sebenarnya adalah bahwa beliau menyiarkan ke seluruh penjuru dunia prinsip cemerlang dari ilmu dan hikmah  yang menjadi sumber mata-air dimana semua pencari kebenaran dapat meminumnya.

  1. Sesungguhnya beserta dengan kesukaran adalah kemudahan
  2. Sesungguhnya beserta dengan kesukaran adalah kemudahan

Ayat ini berisi prinsip emas untuk mengangkat ruhani manusia dan menguatkan fikiran serta menciptakan dalam dirinya semangat kesabaran, keteguhan hati dan kerja keras. Janji Ilahi ini, yakni bahwa setelah setiap kesulitan itu akan datang masa kemudahan, mencegah manusia menjadi gelisah  bahkan di saat menghadapi cobaan yang paling berat. Hazrat Ali menyatakan, bahwa alif lam mim  ditempatkan di depan ‘usr (kesulitan) supaya kelihatan kekhususan nya dan keutamaannya, sedangkan yusr (kemudahan) digunakan dalam pengertian umum. Maka, pengulangan ungkapan ini tidak saja menekankan seruan itu, melainkan juga menunjukkan fakta bahwa dalam kedua ayat itu, ‘usr adalah kata depan yang mendahuluinya dan yusr adalah majemuk. Dengan kata lain, ada suatu janji tersirat di sini bahwa setiap kesulitan itu akan diikuti dengan dua takaran kemudahan. Yakni, kelegaan yang mengikuti setiap bencana  itu adalah dua kali lebih besar daripada kesulitan hidupnya.

Di samping dua pembedaan yang cerdas ini, ada janji lain dalam ayat-ayat ini yakni, bahwa ketika Nabi Suci mengalami kedamaian setelah kedukaan menerpanya akibat beban kenabian dan gelombang cobaan yang beruntun, maka Allah Ta’ala pun telah mengangkat beban yang memberatinya dan melegakan kedukaannya serta datang suatu masa di mana kehormatan Nabi dikenal secara universal serta ajarannya diterima orang. Begitu pula, pada saat agama Nabi s.a.w. mengalami masa sulit di kemudian hari, dan cobaan serta guncangan akan marak, maka kedamaian akan turun setelah badai ini, dan kesukaran akan diubah menjadi kemudahan, serta ketenaran Nabi Suci akan meningkat lebih tinggi daripada sebelumnya.

Sekarang pun, Islam telah jatuh ke masa sulit dan segala macam serangan keji dan fitnah jahat dilemparkan oleh para pendeta Kristen serta Arya Samaj kepada Nabi Suci s.a.w. serta segala macam bacaan  mesum  disebar-luaskan terhadap agama ini. Kekuasaan politik kaum Muslimin telah cerai-berai, sehingga  tak ada batu lagi yang tersisa untuk dilempar menghina Islam. Tetapi Allah telah menjanjikan bahwa kemudahan itu pasti akan datang setelah kesulitan, dan kehormatan Nabi Muhammad s.a.w. pasti akan lebih diluhurkan lagi. Tanda-tanda untuk ini telah jelas nyata. Misalnya, alasan di balik penunjukan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid Abad ini adalah bahwa kemudahan akan datang sesudah kesukaran hidup dan nama Nabi Suci kita akan menjadi lebih cemerlang. Karenanya, dunia dengan jelas dapat menatap melalui buku-buku Mujaddid serta para muridnya, bahwa abad kenyamanan telah mulai dan telah membentuk dirinya pada saat-saat ini. Memang benar bahwa ini masih berupa benih tetapi dengan kehendak Allah, saatnya akan tiba pada waktu benih itu berkembang menjadi pohon raksasa yang bisa ditatap oleh semua orang.

Inilah apa yang diartikan oleh Mujaddid pada saat dia berbicara dengan nyaman kepada Maulana Nuruddin, yang saat itu sedang dalam keadaan duka (mengenang nasib negara-negara Islam yang pantas dikasihani).

Beliau menenangkan fikirannya dengan kata-kata berikut: “Maulawi Sahib”, katanya, “pada waktu bulan itu terbit, hanya mereka yang diberi pandangan mata jeli yang dapat menatapnya pada malam pertama. Tak ada orang lain yang bisa. Tetapi di saat dia menjadi bulan purnama, maka seluruh dunia akan menyaksikannya. Dengan cara yang sama, saya telah melihat bulan terbit kebangkitan Islam. Allah berkehendak, saatnya akan tiba ketika dia akan bersinar dalam keagungannya yang penuh agar seluruh dunia bisa melihatnya”.

Dengan ide yang sama dia mengungkapkan nya  dalam bentuk puisi di bait-bait berikut ini:

A rahi hai ab to khusbu mere Yusuf ki mujhe

Aroma Yusufku telah datang kini kepadaku.

 Go kaho diwana lekin main karunga intezar

Bahkan bila kau sebut aku ini gila, aku akan terus tetap menatapnya dengan penuh harap.

Di sini “Yusuf” berarti kepastian akan bangkit dan majunya Islam di mana Mujaddid  menunggu dengan penuh harap; sama seperti Nabi Yakub yang sangat mengharapkan puteranya, Nabi Yusuf.

Jadi Allah Yang Maha-tinggi sekarang dengan bertahap mengungkap tanda-tanda kemajuan Islam dan bahkan di Eropa sendiri, yang sangat bersemangat berusaha menghancur kan Islam, seseorang bisa melihat bahwa prinsip-prinsip Islam secara pelan tetapi pasti telah mulai menarik hati rakyat sedemikian rupa sehingga Bernard Shaw, penulis Inggris termasyhur dan seorang yang penuh pendalaman serta kebijaksanaan, meramal kan bahwa kemenangan ruhani Islam akan sempurna dalam waktu seratus tahun. Dan mengenai Nabi Suci, dia membuat pengumuman bahwa jika beliau turun kembali dan memimpin dunia ini, maka pastilah dunia ini akan lepas dari  keadaan krisis yang dialaminya  sekarang ini.

Dengan perkataan lain,  kemudahan dan kesulitan hidup serta diluhurkannya nama Nabi Suci s.a.w. adalah janji Ilahi dimana Allah menghendaki akan terpenuhi.

  1. Maka jika engkau sudah bebas (dari keprihatinan), bekerjalah sekeras-kerasnya
  2. Dan jadikanlah Tuhan dikau sebagai satu-satunya tujuan

Lihatlah betapa meyakinkan Qur’an Suci menyatakan akan datangnya kelegaan setelah kesulitan hidup. Ketika dikatakan bahwa bila kita telah bebas dari keprihatinan, yakni, ketika kesulitan itu digantikan oleh perdamaian, maka kita harus melibatkan diri dalam kerja produktif. Dengan kata lain, datangnya kemudahan setelah kedukaan adalah suatu kepastian. Betapa pun, di dunia ini, keadaan orang itu berubah sebagai akibat atas amal perbuatannya. Karena itu, beberapa mekanisme diperlukan untuk menjamin bahwa ketika kedamaian itu menggantikan kesulitan hidup, maka hal itu harus dijaga agar tetap lestari. Jadi surat ini mengajarkan suatu resep untuk mencegah kembalinya masa kesedihan setelah suatu masa ketenteraman datang.

Adalah sangat umum diketahui bahwa setelah seseorang itu bangkit dari suasana  yang  sangat  sulit dan sempit,  serta mulai menikmati kemakmuran dan kenyamanan dan mendapatkan kekuasaan, kekayaan serta kepuasan akan berbeda. Setelah keadaan kedukaan dan ketidak-nyamanan itu berganti, dia pun cenderung kepada kemalasan, hidup enak-enakan dan tidak aktif serta menjadi puas diri serta tidak produktif. Dia pun meninggalkan untuk berkarya dan jatuh dalam jebakan berdiam diri serta bermalas-malasan yang akan selalu membawa manusia ke arah kemerosotan yang akhirnya menjadi induk derita dan kedukaan. Inilah apa yang diperingatkan oleh ‘Umar Faruq ketika dia berkata: “Di saat kita dicoba dengan kekurangan, kita menunjukkan kesabaran dan keteguhan hati, tetapi pada waktu kita dicoba dengan kemudahan serta kekayaan, maka kita kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri”.

Mereka yang kehilangan kemampuannya ini adalah kaum Muslimin belakangan ini, yang, ketika diberkahi dengan kekuasaan dan kekayaan, lalu tidak menjalankan usaha yang sungguh-sungguh serta ketakwaan (takut akan Tuhannya dan kesalehan) mereka. Sebagai akibatnya, mereka menyusuri jalan yang mendorong ke arah dekadensi bangsa dan dengan demikian menciptakan sebab-sebab kembalinya kesulitan hidupnya.

Jadi, ada satu cacat yang ditimbulkan oleh rasa puas diri, yakni bahwa manusia itu membuat dirinya sendiri tak berguna dengan meninggalkan kerja kreatif serta jatuh dalam hidup bermewah-mewah serta foya-foya, yang merupakan landasan kemerosotan serta siksaan.

Cacat lain yang timbul dari suasana enak ialah manusia itu lalu lupa kepada Yang Maha-kuasa, dan menyerahkan dirinya pada hidup mewah dan senang, dia menjadi terlibat dalam segala macam kemesuman dan tak bermoral, dan ini menjadi batu sandungan kedua dari  dekadensi serta kesusahan.

Maka, demi menyelamatkan manusia dari bahaya dua jalur kehancuran ini, Qur’an Suci telah meletakkan petunjuk prinsip berikut ini. Pertama, pada waktu kemudahan datang setelah kesulitan, maka akan ada lebih banyak waktu senggang yang bisa digunakan. Di sini, manusia tidak boleh manjadikan dirinya tidak produktif, tetapi sebagai gantinya dia harus menggunakan waktu senggangnya untuk mengambil pekerjaan yang lebih serius, sehingga dapat membuat kemajuan yang lebih besar dan menjadi pewaris dari ketenteraman serta kenyamanan. Kedua, dia harus mengabdikan dirinya lebih dan lebih lagi untuk mengingat Allah sehingga kemajuan lahiriah dan batiniahnya bisa berjalan bergandeng-tangan. Jika dia melakukan kedua hal ini, maka keadaan kemudahan itu tak dapat merosot atau hilang.

Jika suatu bangsa melakukan kerja keras yang bermanfaat di saat dia mengalami suasana yang mudah dan  nyaman, maka masa senggang dan berkuasa akan dimanfaat kan ke arah yang lebih besar lagi. Yakni dengan mengejar kemajuan lebih lanjut, menghindari mabuk kekuasaan serta jabatan, dan dia juga tak pernah melupakan Yang Maha-kuasa dengan mengambil manfaat yang lebih dari kekuasaan dan kekayaannya untuk mengabdi lebih banyak kepada ibadah serta kasih sayang kepada ciptaan Allah, maka bangsa seperti itu tidak akan pernah menderita kemerosotan kemakmurannya. Kenyamanan dan kesulitan tak akan pernah menunjukkan mukanya. Ini juga pegangan yang baik buat keluarga maupun individual.

Kaum Muslimin kehilangan eksistensinya yang nyaman hanya ketika diri mereka meninggalkan kerja keras dan karenanya lupa kepada Allah, maka mereka pun jatuh kepada kehidupan penuh dosa dan ketidak-salehan. Bangsa-bangsa Eropa hanya mengikuti satu aspek saja dari resep ini sehingga hari ini mereka diliputi kemudahan dan kemewahan. Dengan kata lain, kekayaan dan kekuasaan mereka tidak menjadikan mereka malas. Sesungguhnya, usaha mereka yang terus-menerus dari bangsa Eropa serta akibatnya yang berupa suasana makmur sudah terang kita lihat bak di siang hari.

Tetapi marilah kita periksa sisi kedua dari resep di atas, yakni tidak melupakan Yang Maha-kuasa. Bangsa Eropa telah melupakan Dia, maka orang-orang bijak dan cerdas di antara mereka pun telah bersatu pandangan bahwa meskipun kerja keras telah menyokong mereka  hidup makmur dan mewah, namun dengan mereka melupakan Allah telah mendatangkan suatu keadaan dimana keserakahan terhadap barang-barang duniawi, pendewaan diri dan kemesuman serta keadaan tak bermoral pada akhirnya akan mendominasi kehidupannya. Akibat dari hal ini, mereka pun tidak pernah hidup tentram, gelisah, ketakutan, dan ini akan membawa kesulitan hidup selamanya.

Jadi, bila manusia ingin melindungi dirinya dari kesusahan, maka pada saat dia bebas dari rasa cemas dan menikmati kedamaian, yakni, pada saat yusr (kemudahan) dia tidak boleh meninggalkan kerja produktif dan duduk bermalasan, tetapi sebagai gantinya dia harus lebih membaktikan enersinya untuk lebih dan lebih lagi demi karya yang bermanfaat yang datang melalui rahmat kekayaan dan kekuasaan, dan waktu senggang serta kemudahan, sehingga dia bisa berjalan sepanjang jalan kemajuan yang semakin besar.

Sebagai tambahan, dia pun tidak boleh melupakan Allah. Dengan mengambil manfaat dari hadiah berupa kebebasan dan perdamaian, maka dia harus lebih mengabdi kepada Allah dan melayani makhluk-Nya dengan lebih bersemangat lagi, karena, ini juga merupakan jalan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah serta rahmat-Nya, dan tanpa rasa syukur ini, suatu bangsa tidak akan bisa mencapai kemuliaan moral maupun spiritual. Jadi, kemudahan tidak mungkin akan meninggalkan suatu bangsa yang mengikuti jalan ini karena ini adalah kiat yang cerdas baik bagi kemajuan duniawi maupun agamawi.

Jika kaum Muslimin telah bekerja sepanjang garis ini, maka pasti masa kemudahan mereka tak akan pernah lenyap. Bahkan hari ini pun bila mereka menepati prinsip di atas, maka sebagaimana pastinya malam itu digantikan oleh  siang, kesulitan pun yang dialami sekarang ini pasti akan berubah menjadi kemudahan dan kedamaian.

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra, Sulardi Np.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: