Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (I)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Tahukah kamu benih hidup yang kecil? Kamukah yang menciptakan itu, atau Kami yang menciptakan? Kami menentukan mati di antara kamu, dan tak seorang pun dapat menghalang-halangi Kami; agar Kami mengubah keadaan kamu dan menumbuhkan kamu menjadi sesuatu yang kamu tak tahu” (56:58-61)

Akhirat

Beriman kepada hidup sesudah mati adalah ajaran pokok agama Islam yang terakhir. Perkataan yang biasa digunakan oleh Qur’an Suci untuk menyatakan hidup sesudah mati ialah al-Akhirat. Kata akhir adalah lawan dari kata awwal, artinya, permulaan. Jadi kata akhir berarti kesudahan atau kemudian atau terakhir. Selain kata al-akhirat, digunakan pula kata yaumul-akhir artinya hari akhir (2:8, 62). Kadang-kadang digunakan pula kata darul-akhirah artinya tempat tinggal terakhir (28:77; 29:64; 33:29); dan hanya sekali digunakan perkataan nasy’atul-akhirah, artinya hidup yang akan datang, yang ini adalah arti yang sebenarnya bagi semua istilah tersebut di atas (R) 1. Menurut ajaran Qur’an, mati itu bukan akhir hidup manusia; mati hanyalah satu pintu untuk memasuki hidup yang lebih tinggi. Qur’an berfirman: “Tahukah kamu benih hidup yang kecil? Kamukah yang menciptakan itu, atau Kami yang menciptakan? Kami menentukan mati di antara kamu, dan tak seorang pun dapat menghalang-halangi Kami; agar Kami mengubah keadaan kamu dan menumbuhkan kamu menjadi sesuatu yang kamu tak tahu” (56:58-61). Dari benih hidup yang kecil (air mani), tumbuh menjadi manusia, dan ia tak kehilangan kepribadiannya sekalipun mengalami berbagai perobahan. Demikian pula dari manusia ini dijadikan manusia yang lebih tinggi dengan diubah sifat-sifanya dan ditumbuhkan menjadi sesuatu yang sekarang tak dapat dibayangkan. Bahwa hidup sesudah mati itu bentuk hidup yang lebih tinggi, ini dijelaskan oleh Qur’an Suci: “Lihatlah bagaimana Kami membuat sebagian mereka melebihi sebagian yang lain. Dan sesungguhnya Akhirat itu lebih besar derajatnya dan lebih besar kemuliaannya” (17:221).

Pentingnya iman kepada Akhirat
Qur’an Suci setuju untuk menempatkan pentingnya iman kepada Akhirat langsung di bawah iman kepada Allah. Berkali-kali Qur’an Suci menyimpulkan ajaran iman, seakan-akan hanya terdiri dari iman kepada Allah dan iman kepada Akhirat saja. Qur’an berfirman: “Dan sebagian manusia ada yang berkata: Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir; dan mereka tidaklah beriman” (2:8). “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan ia berbuat baik, mereka akan memperoleh ganjaran dari Tuhan mereka” (2:62).
Surat al-Fatihah bukan saja dipandang sebagai inti Qur’an Suci, melainkan pula satu Surat yang benar-benar memegang peran penting dalam membentuk mental kaum Muslimin. Oleh karena itu, kaum Muslimin dalam menjalankan shalat sehari-hari harus membaca Surat al-Fatihah ini lebih dari tigapuluh kali dalam sehari. Dalam Surat itu Allah disebut “Yang memiliki Hari Pembalasan”; dengan demikian kaum Muslimin terus menerus diingatkan bahwa setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan. Ide balasan atas setiap perbuatan yang terus menerus diingatkan itu memberi kesan mendalam pada batin manusia tentang hakikat kehidupan Akhirat, di mana setiap perbuatan akan memperoleh pembalasan penuh. Mengapa kehidupan di Akhirat itu dianggap penting? Karena semakin besar kepercayaan orang bahwa perbuatan baik atau buruk akan mendapat balasan, maka semakin besar pula kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan atau menjauhi suatu perbuatan. Jadi beriman kepada Akhirat mengandung arti, bahwa setiap perbuatan, baik dilakukan secara terang-terangan maupun secara tersembunyi, pasti ada akibatnya, dengan demikian kepercayaan ini memberi dorongan kuat untuk menjalankan perbuatan baik dan mulia, dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat dan sewenang-wenang. Jadi beriman kepada Akhirat dapat menimbulkan kesadaran yang dalam tentang akibat suatu perbuatan, yang akibat ini akan terus dirasakan sekalipun setelah mati. Tetapi di atas itu, beriman kepada Akhirat dapat membersihkan niat seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Iman kepada Akhirat membuat seseorang bekerja tanpa pamrih, karena segala perbuatan yang ia lakukan ditujukan untuk kehidupan yang lebih tinggi dan lebih mulia lagi, yaitu kehidupan Akhirat.

Hubungan antara kehidupan dunia dan Akhirat
Qur’an Suci bukan saja menerangkan bahwa kehidupan Akhirat merupakan kemajuan baru bagi manusia, yang kemajuan di alam dunia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan itu, melainkan juga menerangkan bahwa landasan hidup Akhirat sudah dimulai sejak dalam hidup kita di dunia ini. Alam Akhirat bukanlah alam gaib di belakang kubur, tetapi sudah dimulai sejak dari kehidupan di dunia sekarang ini. Orang tulus akan mengalami kehidupan Sorga, dan orang jahat akan mengalami kehidupan Neraka. Kedua hal ini sudah dimulai dan terasa sejak sekarang juga walaupun batas-batas kehidupan sekarang tak memungkinkan sebagian orang untuk menyadari kehidupan yang akan datang. Qur’an berfirman:
“Dan orang yang merasa takut di hadapan Tuhannya, akan memperoleh dua Sorga”(55:46).
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan dikau dengan perasaan senang dan mendapat perkenan-Nya; maka masuklah di kalangan hamba-hamba-Ku, dan masuklah dalam Sorga-Ku”(89:27-30).
“Tidak! Jika kamu tahu dengan keyakinan ilmu, niscaya kamu akan melihat Neraka!”(102:5-6).
“Api yang dinyalakan oleh Allah, yang menjilat-jilat dalam hati” (104:6-7).
“Dan barangsiapa buta di dunia ini, juga buta di Akhirat” (17:72).
“Demikianlah siksaan. Dan siksaan di Akhirat pasti lebih besar sekiranya mereka tahu” (68:33).

Alam Barzakh
Jangka waktu antara mati dan Hari Kiamat, manusia akan mengalami keadaan yang disebut barzakh, makna aslinya, sesuatu yang terletak di antara dua barang, atau suatu halang- rintangan (LL). Kata barzakh yang berarti halang-rintangan tercantum dua kali di dalam Qur’an, yakni di 25:53 dan 55:20. Pada dua tempat itu kata barzakh berarti tabir antara dua laut. Adapun kata barzakh yang berarti keadaan antara mati dan Hari Kiamat, ini tercantum dalam ayat yang berbunyi: “Sampai tatkala mati mendatangi salah seorang di antara mereka, ia berkata: Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku melakukan perbuatan baik yang telah aku lalaikan. Tidak! itu hanyalah kata-kata yang ia ucapkan belaka, dan di hadapan mereka ada tabir (barzakh) hingga mereka dibangkitkan” (23:99-100). Alam antara mati dan Hari Kiamat juga disebut alam qubur, tetapi kata qubur digunakan dalam arti yang lebih luas lagi. Ayat berikut ini menerangkan tiga keadaan, yaitu: mati, qubur, dan Hari Kiamat, yang qubur di sini sama artinya dengan barzakh: “Lalu Dia mematikannya, lalu mengquburkannya, lalu Hari Kiamat dikatakan sebagai kebangkitan mereka dari qubur”, sebagaimana diuraikan dalam 100:9 dan 22:7. Adapun yang dimaksud ialah kebangkitan sekalian manusia, baik mereka dikuburkan dalam qubur maupun tidak. Oleh karena itu, alam qubur adalah sama dengan alam barzakh, yaitu suatu alam yang setiap orang akan mampir di sana setelah ia mati dan sebelum terjadi Hari Kiamat.

Barzakh adalah tingkat perkembangan hidup yang kedua
Dalam Qur’an Suci jelas sekali diterangkan tentang perkembangan hidup menuju kehidupan yang lebih tinggi lagi, dan ini dimulai dari kehidupan di dunia ini. Dengan demikian, pengalaman rohani manusia adalah tingkat perkembangan hidup yang pertama menuju kepada kehidupan yang lebih tinggi. Namun kebanyakan manusia lalai terhadap pengalaman rohani ini, dan hanya orang yang mempunyai perkembangan rohani tinggi sajalah yang sadar terhadap kehidupan yang lebih tinggi itu. Barzakh itu sebenarnya tingkat kedua dari perkembangan hidup untuk menuju kepada kehidupan yang lebih tinggi, dan di alam barzakh ini semua orang mulai mempunyai kesadaran terhadap kehidupan yang lebih tinggi itu, walaupun saat perkembangan yang lebih sempurna belum datang.
Di dalam Qur’an Suci diterangkan bahwa kehidupan jasmani pun mengalami tiga tingkatan. Tingkat pertama ialah kehidupan pada waktu masih berada dalam tanah; tingkat kedua, pada waktu berada dalam kandungan atau rahim ibu; dan tingkat ketiga setelah lahir ke dunia. Qur’an berfirman: “Dia tahu benar tatkala Dia menumbuhkan kamu dari tanah, dan tatkala kamu berupa janin dalam perut ibu kamu” (53:32). Selanjutnya: “Dan mula-mula Dia menciptakan manusia dari tanah, lalu Dia membuat keturunannya dari sari air yang hina. Lalu Dia sempurnakannya dan Dia tiupkan di dalamnya sebagian ruh-Nya” (32:7-9). Ayat selanjutnya: “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari sari tanah liat; lalu Kami buat itu menjadi benih manusia yang kecil dalam tempat penyimpanan yang kokoh … lalu Kami tumbuhkan itu menjadi ciptaan lain. Maha-berkah Allah, sebaik-baik Dzat Yang menciptakan” (23:12-14). Seirama dengan tiga tingkatan perkembangan jasmani manusia, yaitu dari sari tanah, menjadi janin, lalu lahir menjadi bayi, Qur’an Suci menguraikan pula tiga tingkatan perkembangan rohani manusia. Pertama, tumbuhnya kehidupan rohani yang dimulai sejak di dunia ini, tetapi biasanya orang tak menyadari terhadap tingkatan ini, sama halnya seperti dalam tingkatan tanah dalam perkembangan jasmani. Lalu datang kematian, dengan datangnya ini, masuklah manusia ke dalam tingkat perkembangan rohani yang kedua, yaitu alam barzakh atau alam qubur, ini seirama dengan tingkat janin dalam tingkat jasmani manusia. Dalam tingkatan ini, kehidupan rohani telah mempunyai bentuk yang definitif, dan kesadaran terhadap kehidupan rohani telah berkembang, tetapi belum sadar sepenuhnya terhadap perkembangan terakhir, dan ini baru akan terjadi setelah datangnya Hari Kiamat, perkembangan terakhir ini sama seperti manusia lahir ke dunia ini, yang kemudian akan meneruskan perjalanan hidupnya menuju kepada perkembangan yang sesungguhnya, yaitu kesadaran terhadap Kebenaran Hakiki. Di alam rohani, perkembangan kehidupan rohani di alam barzakh itu sama tingkatannya dengan perkembangan kehidupan jasmani di alam mudighah dalam kandungan ibu. Jadi perbandingan kedua tingkat itu persis sama.

Pengalaman rohani di alam barzakh
Dari berbagai uraian Qur’an Suci, terang sekali bahwa segera setelah orang meninggal dunia, terjadi semacam kesadaran akan adanya pengalaman rohani yang baru. Misalnya, dalam ayat 23:99-100 yang menerangkan alam barzakh, di sana diuraikan pengalaman rohani orang jahat, yang tiba-tiba menginsafi perbuatan jahat yang ia lakukan di dunia yang mengganggu perkembangan rohaninya, oleh sebab itu ia menghendaki untuk dikembalikan ke dunia, sehingga ia dapat melakukan perbuatan baik yang dapat membantu perkembangan kehidupan rohaninya. Ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap perkembangan rohaninya timbul setelah ia meninggal dunia. Di tempat lain di dalam Qur’an Suci terdapat ayat yang menerangkan bahwa di alam barzakh orang jahat akan mulai merasakan hukuman akibat perbuatan jahatnya, sekalipun hukuman yang sebenarnya baru akan dirasakan pada Hari Kiamat. Qur’an berfirman: “Dan siksaan yang buruk akan menimpa orang-orang Fir’aun, (yaitu) Neraka. Mereka akan diperlihatkan neraka itu setiap pagi dan sore, dan pada hari tatkala terjadi Hari Kiamat: Masuklah orang-orangnya Fir’aun dalam siksaan yang pedih” (40:45-46).
Perlu kiranya dicatat di sini, bahwa jika dalam Qur’an Suci dikatakan bahwa orang-orang berdosa akan mendapat siksaan di alam barzakh, di dalam Hadits dikatakan bahwa siksaan itu disebut adhabu-qabri, artinya siksaan yang diberikan di alam kubur. Kitab Bukhari bab ‘Adhail-qabri (Bu. 23:87), diawali dengan ayat Qur’an yang menerangkan siksaan kaum Fir’aun di alam barzakh, sebagaimana tercntum pada penutup paragraf tersebut di atas. Ini menunjukkan bahwa Imam Bukhari menganggap siksaan alam barzakh itu sama dengan siksaan alam qubur, jadi barzakh itu sama dengan qubur. Selanjutnya dalam Kitab Bukhari bab 90, diberi judul: “Orang yang sudah mati akan diperlihatkan tempat tinggalnya pada setiap pagi dan sore” (Bu. 23:90). Di bawah judul itu, ada satu Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Nabi Suci bersabda: “Jika orang meninggal dunia, tempatnya (di Akhirat) akan diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan sore; jika ia ahli Sorga, maka akan diperlihatkan Sorga kepadanya, dan jika ia ahli Neraka, maka akan diperlihatkan Neraka kepadanya” (Bu. 23:90). Hadits ini menunjukkan pula bahwa yang dimaksud ‘adhabul-qabri ialah keadaan rohani orang-orang berdosa di alam barzakh.
Selanjutnya Qur’an menerangkan, bahwa orang-orang tulus akan segera merasakan ganjaran perbuatan baiknya setelah ia meninggal dunia. Qur’an berfirman: “Dan janganlah engkau mengira bahwa orang yang dibunuh di jalan Allah itu mati. Tidak, mereka hidup dengan mendapat rezeki dari Tuhan mereka. Mereka bersuka-cita karena Allah telah memberikan kepada mereka sebagian anugerah-Nya, dan mereka bersukahati terhadap orang-orang di belakang mereka yang belum berjumpa dengan mereka, tak ada ketakutan akan menimpa mereka dan mereka tak akan susah” (3:168-169). Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggal juga sadar akan apa yang mereka tinggalkan, dan ini membuktikan adanya hubungan antara alam dunia dengan alam qubur atau alam barzakh.

Lamanya alam barzakh
Semua persoalan yang menyangkut kehidupan di alam barzakh dan di alam Akhirat, rumit dan pelik sekali, karena ini bukan perkara yang dapat dilihat oleh panca-indera; ini adalah perkara gaib yang hanya diketahui setelah orang meninggal dunia (32:17), yang menurut Hadits dikatakan “perkara yang mata belum pernah melihat dan telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas oleh hati seseorang” (Bu. 59:8). Sebagaimana akan kami terangkan nanti, pengertian tentang ruang dan waktu yang berhubungan dengan alam barzakh dan alam Akhirat adalah berlainan dengan pengertian tentang ruang dan waktu di alam dunia ini. Oleh karena itu, kita tak dapat membayangkan lamanya alam barzakh menurut ketentuan waktu di dunia sekarang. Selain itu, perkembangan yang sempurna menuju kehidupan rohani yang tinggi, baru akan terjadi pada Hari Kiamat, oleh sebab itu alam barzakh seakan-akan alam setengah sadar. Itulah sebabnya mengapa alam barzakh kadang-kadang dipersamakan dengan keadaan tidur, ini untuk membandingkan dengan kebangkitan besar yang terjadi pada Hari Kiamat kelak. Dalam hal ini Qur’an Suci menceritakan kaum kafir yang akan berkata: “Celaka sekali kami ini. Siapakah yang membangkitkan kami dari tidur kami?” (36:52). Menurut penjelasan Qur’an Suci, kesudahan alam barzakh bagi orang yang menyia-nyiakan kesempatan di dunia ialah sampai Hari Kiamat. Qur’an berfirman: “Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai mereka dibangkitkan” (23:100). Adapun persoalan mengenai jangka waktu di alam barzakh, apakah bagi segolongan orang terasa lama, ataukah bagi segolongan lain terasa sebentar, ini tak akan timbul, karena di sana tak mempunyai kesadaran akan jangka waktu. Qur’an berfirman: ”
Dan pada hari tatkala terjadi Sa’ah (Hari Kiamat), orang-orang berdosa akan bersumpah, bahwa mereka tak akan menanti (kecuali) hanya satu jam. Demikianlah mereka selalu dipalingkan. Dan orang-orang yang diberi ilmu dan iman akan berkata: Sesungguhnya kamu akan menanti sesuai dengan keputusan Allah sampai Hari Kebangkitan, maka inilah hari Kebangkitan, tetapi kamu tak tahu” (30:55-56). Adapun orang yang telah mengembangkan kehidupan rohaninya di dunia, kesadaran mereka di alam barzakh pasti akan lebih jelas. Ada satu Hadits yang menerangkan bahwa orang-orang tulus, setelah empatpuluh hari di alam barzakh, mereka akan dinaikkan derajatnya (rufi’a), dengan demikian di alam barzakh orang-orang tulus akan membuat kemajuan.

Berlanjut ke Serial Islamologi – Bab VI – Akherat (II)

Sumber: Islamologi, (The Religion of Islam) oleh Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: