Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (VI)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Ada yang bertanya apakah hanya dengan masuk Islam saja seseorang bisa masuk syurga atau dengan kata lain apakah seorang non muslim seperti apapun baiknya tidak akan bisa masuk syurga dan akan menjadi penghuni neraka selamanya?, dan bagaimana benarkah keyakinan bahwa siksa neraka itu abadi, disini dalam penjelasannya dengan mengutip ayat Qur’an Suci dan Hadist Nabi Maulana Muhammad Ali menjelaskan dengan gamblang masalah tersebut.

Neraka hanyalah menggambarkan siksaan perbuatan jahat. Tetapi Neraka bukan semata-mata sebagai tempat siksaan bagi perbuatan jahat yang telah dilakukan, melainkan dimaksud pula untuk penyembuhan. Dengan kata lain, Neraka bukan semata-mata dimaksud untuk menyiksa orang, melainkan dimaksud untuk penyucian, sehingga manusia dapat terlepas dari akibat kejahatan yang ia lakukan dengan tangan mereka sendiri, sehingga ia mampu membuat kemajuan rohani. Qur’an Suci menerangkan undang-undang tentang siksaan, sekalipun menimpa manusia di dunia. Qur’an berfirman: “Dan Kami tak mengutus seorang Nabi di suatu kota, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya berbagai kesengsaraan dan kemalangan, agar mereka berendah hati” (7:94).
Dari ayat tersebut terang sakali bahwa Allah menimpakan siksaan kepada penduduk yang berdosa agar mereka mau bertobat; dengan kata lain, agar mereka sadar akan adanya kehidupan yang lebih tinggi. Demikianlah tujuan siksaan Neraka, yakni siksaan itu dimaksud untuk penyembuhan. Sebenarnya, jika orang mau berpikir sejenak, ia pasti akan tahu mengapa orang diperintahkan untuk mengerjakan perbuatan baik, karena perbuatan baik itu membantu manusia dalam mencapai kemajuan; dan mengapa orang dilarang menjalankan perbuatan jahat, karena perbuatan jahat itu menghambat manusia dalam mencapai kemajuan. Jika manusia berbuat baik, maka manusia itu sendiri yang beruntung, sebaliknya, jika ia berbuat jahat, maka ia sendiri yang menderita rugi. Inilah persoalan pokok yang berulangkali ditekankan oleh Qur’an Suci. Qur’an berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang merusaknya” (91:9-10).
“Sesungguhnya usaha kamu ditujukan kepada bermacam-macam tujuan. Adapun orang yang memberi sedekah dan bertaqwa, dan mau menerima apa yang baik, Kami memudahkannya kepada kesudahan yang gampang. Adapun orang yang kikir dan menganggap dirinya cukup dan mendustakan yang baik, Kami memudahkannya kepada kesudahan yang sukar” (92:4-10).
“Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk jiwa kamu, dan jika kamu berbuat jahat, ini juga untuk jiwa kamu” (17:7).
“Barangsiapa berbuat baik, ini adalah untuk jiwanya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, ini pun untuk jiwanya sendiri. Dan Tuhan dikau tak berbuat lalim terhadap para hamba” (41:46).
“Barangsiapa berbuat baik ini adalah untuk jiwanya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, ini pun untuk jiwanya, lalu kamu akan dikembalikan kepada Tuhan kamu” (45:15).

Tujuan manusia di dunia ialah untuk menyucikan jiwa. Orang yang selama hidup di dunia menyia-nyiakan kesempatan ini, akan disiksa di Neraka agar ia menjadi suci. Berbagai macam pertimbangan membawa kita kepada kesimpulan yang sama. Pertama, sifat Allah yang paling menonjol ialah kasih-sayang, sehingga Dia dikatakan di dalam Qur’an sebagai “Yang mewajibkan kasih sayang atas diri-Nya” (6:12, 54). Kasih sayang Allah dilukiskan “meliputi segala sesuatu” (6:148; 7:156; 40:7), sehingga orang yang berbuat berlebih-lebihan hingga merugikan jiwanya pun tak perlu putus asa dari kasih sayang Allah (39:53). Dan akhirnya Qur’an menerangkan bahwa karena kasih-sayang-Nya, Allah menciptakan manusia (11: 119). Tuhan Yang Maha-pengasih tak mungkin menyiksa manusia tanpa adanya tujuan yang besar. Adapun tujuannya ialah untuk mengembalikan manusia pada jalan yang menuju kepada kehidupan yang tinggi setelah ia dibersihkan dosanya di Neraka. Neraka adalah semacam Rumah Sakit untuk menjalankan segala macam operasi agar manusia sehat kembali.
Tujuan hidup manusia ialah untuk mengabdi kepada Allah. Qur’an berfirman: “Dan tiada Kami ciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mengabdi kepada-Ku” (51:56). Orang yang hidupnya penuh dosa, ia terasing dari Tuhan (83:15). Tetapi setelah dosanya dibersihkan dengan api Neraka, ia akan sehat kembali untuk mengabdi kepada Tuhan. Oleh sebab itu, di satu tempat di dalam Qur’an, Neraka disebut maula (kawan) bagi orang-orang berdosa (57:15), dan di tempat lain disebut umm (ibu) (101:9). Dua gambaran tersebut mengandung arti, bahwa Neraka itu dimaksud untuk mengangkat derajat manusia setelah ia dibersihkan dari kotoran kejahatan, bagaikan api membersihkan emas dari kotoran. Untuk menerangkan kebenaran ini, Qur’an Suci menggunakan kata fitnah (yang makna aslinya menguji emas, atau memasukkan emas ke dalam api untuk menghilangkan kotorannya), adapun yang dimaksud ialah, penderitaan yang dialami oleh kaum beriman di dunia (2:191 dan 29:2, 10), dan siksaan yang dialami oleh orang-orang jahat di Neraka (37:63). Jadi kaum mukmin akan dibersihkan jiwanya melalui penderitaan di jalan Allah selama di dunia, sedang orang-orang jahat akan dibersihkan jiwanya dengan api Neraka. Neraka disebut kawan orang-orang berdosa, karena melalui siksaan Neraka orang menjadi mampu untuk mencapai kemajuan rohani; dan Neraka disebut ibu karena melalui air susu Neraka ia akan dibesarkan, sehingga ia mampu berjalan diatas jalan kehidupan baru.
Pertimbangan lain lagi yang menerangkan bahwa siksaan Neraka bersifat penyembuhan ialah, menurut ajaran Qur’an Suci dan Hadits Nabi, semua orang yang ada di Neraka, apabila sudah sehat dan mampu untuk memasuki kehidupan yang baru, mereka akan dikeluarkan dari Neraka. Inilah hal yang banyak disalah mengertikan, bahkan oleh para ulama Islam sendiri. Mereka menganggap beda antara kaum mukmin dan kaum kafir. Mereka berpendapat bahwa kaum Muslimin yang berdosa, akhirnya akan dikeluarkan dari Neraka, tetapi tidak demikian halnya bagi kaum kafir yang berdosa. Baik Qur’an maupun Hadits tak membenarkan pendapat ini. Sehubungan dengan kekekalan Sorga dan Neraka, digunakan kata-kata khulud dan abadan, yang tak sangsi lagi dua perkataan ini dalam Qur’an Suci membuat arti itu menjadi terang. Kata khulud digunakan sebanyak-banyaknya untuk menyatakan kekekalan Neraka, baik bagi kaum Muslimin maupun bagi kaum kafir. Di bawah ini kami hanya akan mengambil satu contoh tentang penggunaan kata khulud tersebut bagi kaum Muslimin yang berdosa. Setelah membentangkan hukum waris, Qur’an berfirman: “Inilah batas-batas Allah. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Utusan-Nya, Dia akan memasukannya dalam Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai untuk menetap di sana (khalidina). Dan inilah hasil yang besar. Dan barang-siapa tidak taat kepada Allah dan Utusan-Nya dan melanggar batas-batas-Nya, Dia akan memasukannya ke dalam Neraka, untuk menetap di sana (khalidan), dan ia akan mendapat siksaan yang hina” (4:13-14). Di sini terang sekali bahwa yang dibicarakan adalah kaum Muslimin yang berdosa, namun demikian kata-kata yang digunakan oleh Qur’an Suci untuk menerangkan diamnya mereka di Neraka ialah khulud.
Marilah kita beralih kepada kata abadan. Kata ini tercantum tiga kali dalam Qur’an Suci sehubungan dengan berdiamnya orang-orang berdosa di Neraka. Biasanya kata ini diartikan selama-lamanya atau kekal, tetapi kadang-kadang hanya berarti waktu yang lama; ini disebabkan adanya kenyataan bahwa perkataan ini mempunyai bentuk tatsniyah (dual) dan jamak. Karena adanya kenyataan ini, Imam Raghib berkata, bahwa perkataan itu digunakan untuk menyatakan sebagian waktu. Dalam menjelaskan bentuk kerjanya ta’abbada, beliau berkata bahwa kata ta’abbada artinya sesuatu yang tetap ada, adapun yang dimaksud ialah apa yang tetap ada sampai lama sekali. Jadi waktu yang lama sebagai arti kata abadan ini dibenarkan oleh kamus bahasa Arab. Abadan dalam arti orang yang ada di dalam Neraka hanyalah berarti lama sekali, bukan berarti selama-lamanya
, ini terang sekali dari adanya kenyataan bahwa di tempat lain dalam Qur’an, orang yang berada di Nereka sekalipun mereka itu kafir, namun dinyatakan pula dengan kata ahqab jamaknya kata huqbah, artinya setahun atau beberapa tahun (LA), atau delapanpuluh tahun (R). Singkatnya, kata abadan mengandung arti jangka waktu tertentu, sehingga dalam hal orang yang berada di Nereka, kata abadan hanyalah berarti lama sekali. Oleh karena kata khulud dan abadan yang biasanya dihubungkan dengan kekekalan Neraka telah selesai dibicarakan, maka kini kita beralih membicarakan ayat-ayat yang biasanya dijadikan dalil, bahwa orang-orang yang ada di Neraka akan mengalami siksaan yang kekal untuk selama-lamanya:

“Demikianlah Allah memperlihatkan perbuatan mereka amat menyesalkan mereka, dan mereka tak dapat keluar dari Neraka” (2:167).
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sekalipun mereka mempunyai apa yang ada di bumi semuanya, dan ditambah dengan sebanyak itu lagi, agar dengan itu mereka dapat menebus siksaan pada Hari Kiamat, ini tak akan diterima; mereka akan memperoleh siksaan yang pedih. Mereka ingin sekali keluar dari Neraka, dan mereka tak dapat keluar dari sana, dan mereka akan mendapat siksaan yang sangat lama” (5:36-37).
“Setiap kali mereka hendak keluar dari sana (Neraka) karena dukacita, mereka dikembalikan lagi ke sana” (22:22).
“Adapun orang-orang durhaka, tempat tinggal mereka ialah Neraka. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana, mereka dikembalikan lagi ke sana, dan dikatakan kepada mereka: Rasakanlah siksaan Neraka yang kamu dustai” (32:20).
Ayat-ayat tersebut sudah menerangkan sendiri. Orang-orang yang ada di Neraka menghendaki untuk keluar dari sana, tetapi mereka tak mampu; sekalipun mereka menawarkan semua yang ada di bumi sebagai tebusan, mereka tak mampu juga untuk keluar dari sana. Hukuman perbuatan jahat tak dapat disingkiri lagi sekalipun orang menghendaki itu. Demikian pula halnya Neraka. Tak seorang pun dapat lepas dari hukuman . Tetapi dalam ayat tersebut tak ada satu pun yang menerangkan bahwa Allah tak akan mengeluarkan mereka dari Neraka, atau siksaan Neraka itu kekal untuk selama-lamanya. Ayat tersebut hanya menerangkan bahwa setiap orang berdosa pasti akan mendapat hukuman atas perbuatan yang telah mereka lakukan, dan mereka tak dapat menyingkiri itu. Tetapi bahwa ia akan dibebaskan setelah menjalani hukuman, atau, bahwa Allah yang berlimpah-limpah kasih sayang-Nya, akan membebaskan hukuman orang-orang berdosa jika Dia kehendaki, ini tak disangkal sama sekali oleh ayat itu.
Bahkan jika abadan itu diartikan kekal selama-lamanya, kekekalan di Neraka pada suatu saat pasti akan berhenti, karena menurut Qur’an Suci ayat 6:129, kekekalan Neraka yang dinyatakan dengan kata abadan diikuti dengan kalimat illa masyaa-allah artinya, jika Allah menghendaki, yang ini mengandung arti, bahwa orang-orang yang menghuni Neraka akhirnya akan dibebaskan. Dalam hubungan ini dua ayat berikut ini dapat dijadikan patokan:

“Dia berfirman: Neraka adalah tempat tinggal kamu, kamu akan tetap di sana kecuali apa yang Allah kehendaki” (6:129).
“Adapun orang-orang yang celaka, mereka akan tinggal di Neraka; di sana mereka akan berkeluh kesah; mereka akan tetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki. Sesungguhnya Tuhan dikau mengerjakan apa yang Dia kehendaki” (11:106-107).

Dua ayat di atas menerangkan bahwa kekekalan Neraka pasti ada akhirnya. Untuk lebih menjelaskan lagi kesimpulan ini, Qur’an menggunakan pula istilah yang sama bagi orang-orang yang ada di Sorga, tetapi kalimat penutupnya amatlah berlainan:
“Adapun orang-orang yang berbahagia, mereka akan tinggal di Sorga; mereka akan tetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki; suatu pemberian yang tak akan ada putus-putusnya” (11:108).

Dua pernyataan tersebut sama. Orang-orang yang ada di Neraka maupun di Sorga akan tetap ada di sana selama langit dan bumi yang masing-masing ditambah kalimat: kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki, yang ini menunjukkan bahwa mereka dapat lepas dari keadaan mereka masing-masing. Tetapi penutup ayat tersebut amatlah berlainan. Dalam hal kemungkinan dikeluarkannya orang-orang yang ada di Sorga, jika Allah menghendaki, diakhiri dengan kalimat: suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya, yang ini menunjukkan bahwa mereka tak akan dikeluarkan dari Sorga. Tetapi dalam hal kemungkinan dikeluarkannya para penghuni Neraka, jika Allah menghendaki, diakhiri dengan kalimat: Tuhan dikau adalah yang mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Kesimpulan ini dikuatkan oleh Hadits. Diriwayatkan bahwa Nabi Suci bersabda: “Lalu Allah berfirman: Para malaikat telah memberi syafa’at, dan para Nabi telah memberi syafa’at, dan kaum mukmin telah memberi syafa’at, dan kini tak ada lagi yang memberi syafa’at selain Tuhan Yang Maha-kasih-sayang. Maka ia mengambil segenggam dari Neraka, dan dikeluarkanlah orang-orang yang tak pernah berbuat kebaikan itu”(Bu. 97:24).
Dalam Hadits tersebut diuraikan tiga macam syafa’at, yaitu dari kaum mukmin, dari para Nabi dan dari malaikat; sudah barang tentu syafa’at dari tiga golongan tersebut diberikan kepada orang-orang yang ada hubungannya dengan golongan masing-masing. Kaum mukmin akan memberi syafa’at kepada orang yang langsung berhubungan dengan mereka; para Nabi akan memberi syafa’at kepada umatnya; dan para malaikat sebagai pendorong ke arah kebaikan, akan memberi syafa’at kepada orang yang menjalankan perbuatan baik. Dalam Hadits itu ditambahkan bahwa Tuhan yang Maha-pengasih dan penyayang bahkan akan mengeluarkan dari Neraka orang yang tak pernah berbuat suatu kebaikan pun. Dengan demikian, di Neraka tak ada sisanya lagi, karena genggaman Allah itu sebenarnya tak meninggalkan sisa lagi. Bahkan ada satu Haits lagi yang dengan tegas mengatakan bahwa semua orang akhirnya akan dikeluarkan dari Neraka. “Sesungguhnya akan tiba waktunya tatkala Neraka akan menjadi seperti ladang gandum kering, setelah tumbuh dengan subur untuk beberapa waktu lamanya” (KU). “Sesungguhnya akan tiba waktunya tatkala dalam Neraka tak terdapat seorang pun” (F. Bn. IV, hal. 372). Dan menurut suatu riwayat, Sayyidina ‘Umar, Khalifah kedua berkata: “Sekalipun orang-orang yang masuk Neraka tak terhitung jumlahnya bagaikan pasir di gurun, namun akan tiba waktunya tatkala mereka dikeluarkan dari sana” (F. Bn. IV, hal. 372). Ucapan serupa diucapkan pula oleh Ibnu Mas’ud: “Sesungguh-ya akan tiba waktunya tatkala pintu Neraka akan tertiup angin, sehingga tak seorang pun berada di sana, setelah beberapa tahun lamanya mereka tinggal di sana” (IJC XII, hal. 66). Banyak lagi para Sahabat yang meriwayatkan seperti itu, misalnya sahabat Ibnu ‘Umar, Jabir, Abu Sa’id, Abu Hurairah dan lain-lainnya, demikian pula para tabi’in (F. Bn).
Jadi tak ada keraguan sedikit pun bahwa Neraka adalah tempat untuk sementara waktu bagi orang-orang berdosa, baik bagi Muslim maupun non-Muslim; dan selain itu, ini juga memperkuat adanya pendapat bahwa Neraka bukanlah tempat penyiksaan, melainkan tempat penyembuhan, untuk menyembuhkan penyakit rohani yang diderita oleh manusia karena kelalaian sendiri, agar setelah sembuh manusia mampu menempuh perjalanan menuju kepada kehidupan yang lebih tinggi. Hal ini telah diakui kebenarannya oleh Qur’an Suci. Namun demikian, kami merasa perlu mengutip satu Hadits yang terang-terangan menerangkan bahwa para penghuni Neraka akan dibuat mampu untuk menempuh perjalanan menuju kepada kehidupan yang lebih tinggi: “Lalu Allah akan berfirman: Keluarlah (dari Neraka) setiap orang yang di dalam hatinya terdapat iman dan kebaikan meskipun seberat biji sawi, maka dikeluarkanlah mereka dan mereka nampak hitam sekali; lalu mereka dilemparkan dalam sungai kehidupan, lalu tumbuhlah mereka bagaikan biji yang tumbuh di pinggir sungai” (Bu. 2:15). Hadits ini cukup membuktikan bahwa Neraka mempunyai sifat penyembuhan, dan menetapkan pula bahwa semua orang akhirnya akan dibuat mampu untuk menempuh perjalanan hidup menuju kepada kehidupan yang tinggi.

Sumber: Islamologi, (The Religion of Islam) oleh Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: