Serial Islamologi – BAB VI – Akherat (III)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

“Dan mereka berkata: Setelah kami menjadi tulang dan busuk, apakah kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan baru? Katakan: Jadilah batu atau besi, atau makhluk lain yang menurut angan-angan kamu terlalu sukar (untuk menerima hidup). Tetapi mereka akan berkata: Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali? Katakan: Dia Yang menciptakan kamu pertama kali” (17:49-51).

 

Hari Kebangkitan tak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern

Pengertian hidup sesudah mati begitu asing bagi kebanyakan orang, hingga Qur’an Suci berulangkali harus menjawab pertanyaan: Bagaimana itu akan terjadi? Dan jawabannya diberikan dalam segala keadaan, bahwa Tuhan Pencipta sekalian makhluk, Yang menciptakan alam semesta yang luas ini dari tidak ada, pasti mendatangkan ciptaan baru. Qur’an berfirman:

“Apakah Kami lelah karena ciptaan pertama? Namun mereka ragu-ragu tentang ciptaan yang baru” (50:15).
“Dan mereka berkata: Setelah kami menjadi tulang dan busuk, apakah kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan baru? Katakan: Jadilah batu atau besi, atau makhluk lain yang menurut angan-angan kamu terlalu sukar (untuk menerima hidup). Tetapi mereka akan berkata: Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali? Katakan: Dia Yang menciptakan kamu pertama kali” (17:49-51).
“Dan mereka berkata: Apakah setelah kami menjadi tulang dan sesuatu yang busuk, apakah kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan yang baru? Apakah mereka tak melihat bahwa Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, berkuasa untuk menciptakan yang serupa dengan itu?” (17:98-99).
“Dan jika engkau heran, maka lebih mengherankan lagi ialah ucapan mereka: Apakah setelah kami menjadi debu, kami akan dibangkitkan menjadi makhluk baru?” (13:5).
“Apakah engkau tak melihat bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan benar? Jika Dia kehendaki, Dia akan melenyapkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan ini tak sukar bagi Allah. Dan mereka akan menghadap Allah semua” (14:19-21).

Pokok persoalan ini begitu kerap diulangi oleh Qur’an Suci sehingga kami tak perlu mengutip ayat yang menguraikan masalah ini; akan tetapi pengertian universal yang dapat ditarik pengertiannya dari ayat-ayat itu ialah, bahwa ciptaan lama berupa bumi dan langit, yaitu tata-surya atau alam semesta, akan diganti dengan ciptaan baru. Orde lama akan diubah seluruhnya menjadi orde baru. Akan tiba waktunya “tatkala bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian pula langit” (14:48). Sebagaimana alam semesta ini terjadi dari kabut yang kacau-balau dan bertumpuk-tumpuk menjadi susunan bintang-bintang sekarang ini, maka pada gilirannya, alam semesta itu akan diubah menjadi susunan yang lebih tinggi lagi setahap demi setahap. Pengertian ini sesuai sekali dengan ilmu pengetahuan yang pada dewasa ini diketahui oleh manusia, yaitu pengertian tentang evolusi, keadaan teratur dari keadaan kacau-balau, tertib tinggi dari tertib rendah; dan dengan teraturnya alam semesta ini, umat manusia akan mengalami tertib hidup yang lebih tinggi lagi, yang sekarang tidak dapat dibayangkan oleh akal pikiran kita.

Apakah Kebangkitan itu jasmaniah?
Masalah lain yang amat penting sehubungan dengan Hari Kebangkitan ialah: Apakah yang dibangkitkan itu jasmaniyah? Sepanjang mengenai pengalaman kita di dunia ini, jiwa itu mengalami perasaan enak atau sakit melalui tubuh kita. Kenyataannya, menurut ilmu pengetahuan kita di dunia ini, kita tak dapat merasakan adanya jiwa tanpa tubuh kita. Tetapi apakah di Hari Kebangkitan, jiwa kita akan mendapatkan kembali tubuh kita yang kita tinggalkan di dunia?. Ini persoalan lain. Dalam Qur’an Suci tak ada satu ayat pun yang menerangkan hal ihwal tubuh kita yang kita tinggalkan akan kembali lagi. Sebaliknya ada diterangkan yang menunjukkan bahwa di sana akan terjadi ciptaan yang baru samasekali. Beberapa ayat yang kami kutip dalam paragraf sebelumnya memberi petunjuk yang terang bahwa yang dikembalikan pada Hari Kebangkitan bukanlah ciptaan yang lama. Bahkan langit dan bumi yang lama pun akan dilenyapkan, dan akan ditukar dengan langit dan bumi yang baru (14:48). Jika di Hari Kebangkitan itu langit dan bumi akan diganti dengan ciptaan yang baru, mengapa tubuh manusia masih menggunakan tubuh yang lama? Sebenarnya, Qur’an telah menerangkan sejelas-jelasnya bahwa tubuh yang akan dipakai kelak adalah tubuh yang baru samasekali. Di satu tempat, Qur’an menerangkan bahwa di Hari Kebangkitan manusia akan disebut serupa dengan yang sekarang: “Apakah mereka tak berpikir, bahwa Allah Yang menciptakan langit dan bumi, berkuasa untuk menciptakan yang serupa dengan semua itu?” (17:99). Kata-kata yang serupa dengan semua itu bahasa Arabnya mitslahum; di sini kata ganti (dlamir) hum ditujukan kepada manusia dan bukan kepada langit dan bumi. Di tempat lain di dalam Qur’an, ayat yang menerangkan tubuh-tubuh akan diganti, nampak lebih jelas lagi. Mula-mula Qur’an menguraikan pertanyaan kaum kafir: “Apakah setelah kami mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, akankah kami dibangkitkan?” (56:47), lalu dijawab: “Apakah kamu melihat benih manusia? Kamukah yang menciptakan ataukah Kami Yang menciptakan? Kamilah yang menentukan kematian di kalangan kamu, dan tak seorang pun dapat menghalang-halangi Kami agar Kami dapat mengubah sifat-sifat kamu, dan menumbuhkan kamu menjadi sesuatu yang kamu tak tahu. Dan kamu tahu pertumbuhan pertama, dan mengapa kamu tak ingat?” (56:58-62). Di sini segala sesuatu menjadi jelas. Apakah yang akan terjadi setelah orang mati menjadi tanah dan tulang-belulang? Mereka akan dibangkitkan, tetapi “sifat-sifat” mereka akan “diubah” samasekali, dan mereka akan ditumbuhkan menjadi ciptaan yang baru, “yang kamu tak tahu”, padahal, “kamu tahu pertumbuhan yang pertama”. Tubuh manusia pada Hari Kebangkitan bukan saja berupa pertumbuhan baru, melainkan pula pertumbuhan yang sifat-sifatnya diubah samasekali; dan pertumbuhan dengan perubahan sifat-sifatnya inilah yang tak dapat diketahui oleh indera kita sekarang. Dan di Akhirat nanti, ini berlaku, baik bagi manusia maupun bagi segala sesuatu, baik kenikmatan Sorga maupun siksaan Neraka, semuanya adalah sesuatu yang menurut Hadits “mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas di hati seseorang” (Bu. 59:8). Oleh karena itu, tubuh pada Hari Kebangkitan tidaklah sama dengan tubuh di dunia ini kecuali nama atau bentuknya saja yang mengingatkan kepribadiannya.

Tubuh yang terbuat dari amal perbuatan manusia di dunia
Untuk mengerti, dari bahan apakah dibuat tubuh rohani di alam Akhirat 3, marilah kita buka halaman-halaman Qur’an Suci. Dalam Qur’an terdapat ayat yang menerangkan bahwa malaikat ditugaskan untuk menulis segala perbuatan manusia, baik yang buruk maupun yang benar. Dalam permulaan Surat 13, terdapat ayat yang berbunyi: “Apakah setelah kita menjadi tanah, kita akan dibangkitkan menjadi ciptaan yang baru?” (13:5); lalu pertanyaan ini mendapat jawaban: “(Bagi Dia) sama saja siapakah di antara kamu yang merahasiakan ucapan dan siapa pula yang terus terang dengan (ucapan) itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari, dan siapa yang pergi keluar di siang hari. Dia mempunyai malaikat yang terus mengikutinya, di depannya dan di belakangnya, mengawasinya atas perintah Allah” (13:10-11). Pertamakali diterangkan bahwa bagi Allah sama saja, apakah mereka menyembunyikan ucapannya ataupun terang-terangan mengucapkan itu, apakah mereka berbuat baik atau buruk di malam hari ataukah di siang hari; lalu ditambahkan bahwa ada malaikat yang mengawasinya, di depannya dan di belakangnya. Mengawasi orang dan mengawasi perbuatannya adalah sama. Sebenarnya ini dijelaskan lagi dalam Surat yang diturunkan terlebih dulu yang berbunyi: “Tidak, tetapi kamu mendustakan Pembalasan. Dan sesungguhnya ada yang menjaga kamu, juru tulis yang mulia, mereka tahu apa yang kamu lakukan” (82:9-12). Para malaikat yang di sini disebut “yang menjaga kamu”, yang dalam ayat 13:11 disebut malaikat pengawas, adalah malaikat yang dilukiskan sebagai “juru-tulis yang tahu apa yang dilakukan oleh manusia”. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa batin manusia tak ada henti-hentinya dikembangkan dengan perbuatannya, dan inilah yang dimaksud mengawasi manusia dalam satu segi, dan mengawasi perbuatannya di segi lain. Batin manusia yang dikembangkan inilah yang sesudah mati akan berbentuk tubuh, dan mula-mula berbentuk tubuh di alam barzakh, lalu akan berkembang menjadi tubuh di alam Akhirat.
Di tempat lain dalam Qur’an terdapat pula ayat yang menerangkan orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbunyi: “Apa setelah kita mati dan menjadi tanah?” (50:3). Ini ditangkis dengan kata-kata: “Sesungguhnya Kami tahu apa yang bumi mengurangi mereka, dan di sisi Kami ada buku catatan yang terpelihara” (50:4). Di sini diakui bahwa tubuh benar-benar menjadi tanah dan inilah yang dimaksud dengan kalimat “apa yang bumi mengurangi mereka”; tanah kembali menjadi tanah, tetapi di sisi Allah ada buku catatan yang terpelihara guna pertumbuhan di Akhirat. Adapun buku catatan yang dipelihara ialah catatan tentang perbuatan baik ataupun buruk, yang dicatat oleh malaikat pengawas, sehingga di sini kita diberitahu, bahwa tubuh yang kita pakai yang berasal dari tanah akan kembali menjadi tanah, tetapi jiwa kita akan tetap terpelihara dan akan mebentuk basis kehidupan tinggi di Akhirat.

Mematerialisasikan hal-hal yang serba rohaniah
Mematerialisasikan hal-hal yang serba rohaniah ini berkali-kali diuraikan dalam Qur’an Suci dan Hadits. Yang dimaksud dengan mematerialisasikan di sini bukanlah materialisasi dalam arti yang lazim di dunia, melainkan materialisasi alam baru yang dikembangkan dari alam dunia sekarang ini. Misalnya, orang yang terpimpin dengan cahaya keimanan di dunia ini, akan memperoleh cahaya di Akhirat yang memancar di depan dan di belakangnya. Qur’an berfirman: “Apakah orang yang mati, lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu ia berjalan di antara manusia, sama dengan orang yang perumpamaannya seperti orang yang berada dalam kegelapan yang ia tak dapat keluar dari sana?” (6:123). “Pada hari tatkala engkau melihat kaum mukmin laki-laki dan dan kaum mukmin perempuan cahayanya berseri-seri di depan dan di belakang mereka” (57:12). Dan buah perbuatan baik mereka dikatakan oleh Qur’an sebagai buah-buahan Sorga: “Dan berilah kabar baik kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa mereka akan diberi sebagian buah-buahan Kebun itu, mereka berkata: Inilah buah-buahan yang diberikan kepada kami dahulu, dan mereka diberi yang serupa dengan itu” (2:25). Demikian pula api cinta yang membakar hati manusia di dunia karena percintaan yang luar biasa kepada keduniaan akan menjadi api sungguh-sungguh di Neraka. Qur’an berfirman: “Inilah api yang dinyalakan oleh Allah yang menjilat-jilat di hati” (104:6-7). Dan kebutaan rohani di dunia, akan menjadi buta sungguh-sungguh di Akhirat: “Barangsiapa buta di dunia ini, ia akan buta di Akhirat” (17:72). Perbuatan jahat selama tujuhpuluh tahun, jika diambil dari rata-rata umur manusia di dunia, akan berbuah menjadi rantai yang panjangnya tujuhpuluh hasta (69:32). Orang yang perbuatannya selaras dengan Kitab Suci Allah, atau yang memegang Kitab Suci itu dengan tangan kanan, pada Hari Kebangkitan akan menerima buku-catatan dengan tangan kanan, dan orang yang selama di dunia, melempar Kitab Suci Allah di belakang punggungnya, di Akhirat akan menerima buku-catatan di belakang punggungnya atau dengan tangan kiri (69:19,25; 84:7,10). Contoh seperti ini banyak pula diberikan dalam kitab Hadits. Hal-hal yang serba rohani di alam dunia, ia akan berwujud benar-benar di Akhirat. Inilah kebenaran yang menjadi dasar sekalian nikmat Sorga dan siksa Neraka.

Buku catatan perbuatan
Sebagaimana telah kami uraikan di muka, menjaga perbuatan baik dan buruk, yang menjadi dasar kehidupan tinggi di Akhirat, ini menurut Qur’an Suci disebut mencatat perbuatan baik dan buruk; dan Qur’an berulangkali menguraikan buku-catatan perbuatan baik dan buruk. Berikut ini beberapa kutipan tentang itu:
“Apakah mereka mengira bahwa Kami tak mendengar apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka percakapkan secara rahasia? Ya, dan Utusan Kami berada di dekat mereka mencatat” (43:80).
“Inilah catatan Kami yang berbicara kepada kamu dengan benar. Sesungguhnya Kami mencatat apa yang kamu lakukan” (45:29).
“Dan buku catatan diletakkan, dan engkau melihat orang-orang yang bersalah merasa takut akan apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata: Aduh celaka sekali kami ini. Buku catatan apakah ini? Tak ada satu pun yang terlewatkan, yang kecil maupun yang besar, melainkan dihitung semuanya” (18:49).
“Maka barangsiapa melakukan perbuatan baik dan ia itu mukmin, maka usahanya tak akan diingkari, dan Kami mencatat itu untuknya”(21:94).

Bukan hanya perorangan saja yang akan menerima buku catatan tentang perbuatan itu, melainkan umat juga akan dipanggil untuk menerima buku catatan. Qur’an berfirman:
“Dan engkau akan melihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat akan dipanggil untuk menerima kitabnya. Pada hari ini kamu akan dibalas tentang apa yang kamu lakukan”
(45:28).

Buku catatan perbuatan umat menjelaskan apa yang dimaksud dengan buku perbuatan orang-perorang. Yang dimaksud buku perbuatan itu tiada lain hanyalah akibat dari perbuatan yang pernah dilakukan oleh perorangan atau oleh suatu umat. Jadi terang sekali bahwa yang dimaksud bukanlah satu buku seperti pengertian kita pada buku sekarang ini, yang menurut istilah ahli bahasa dikatakan: kumpulan lembaran-lembaran yang ditulis dengan pena dan tinta. Keliru sekali jika kata kitab yang berhubungan dengan catatan perbuatan baik dan buruk, diartikan demikian. Kata kitab tidak selalu berarti kumpulan lembaran-lembaran yang ditulis; kadang-kadang kata itu berarti ilmu Allah atau perintah Allah, atau apa yang diwajibkan oleh Allah (R). Dan kata kataba tidak selalu berarti ia menulis di atas kertas dengan tinta dan pena; kata itu berarti pula ia mewajibkan sesuatu, atau memutuskan atau ia menetapkan atau ia memerintahkan (R). Menurut R pula arti kata katibun dalam ayat 21:94 yang menerangkan pencatatan perbuatan baik dan buruk ialah Allah akan memelihara perbuatan itu dan akan memberi ganjaran kepada yang berbuat baik.
Jika orang mempelajari ayat-ayat yang menerangkan catatan perbuatan, atau yang lazim disebut buku perbuatan, orang akan sampai pada suatu kesimpulan, bahwa yang dimaksud buku perbuatan ialah akibat yang dihasilkan oleh perbuatan itu. Misalnya dalam 17:13 yang menerangkan buku perbuatan, di sini tak diterangkan bahwa perbuatan itu ditulis, melainkan diletakkan pada lehernya: “Dan tiap-tiap orang Kami letakkan perbuatannya pada lehernya,dan pada Hari Kebangkitan akan Kami keluarkan berupa kitab yang ia dapati terbuka lebar” (17:13). Nah, terang sekali bahwa yang dimaksud melekatkan perbuatan pada lehernya ialah menampakkan akibat perbuatan itu kepadanya, hingga perbuatan apa pun yang ia lakukan (baik dan buruk), ini meninggalkan bekas atau rekaman pada yang melakukan perbuatan 4. Ini seirama dengan apa yang telah kami uraikan di muka, yakni batin manusia telah disiapkan untuk itu di dunia ini. Batin manusia benar-benar sebagai buku catatan perbuatan yang di dalamnya tercatat segala akibat perbuatan yang dilakukannya. Inilah yang diisyaratkan oleh kalimat terakhir pada ayat tersebut yang menerangkan bahwa buku catatan perbuatan tersebut, yakni batin manusia, di dunia ini tersembunyi dari penglihatan mata. Pada Hari Kebangkitan akan berwujud menjadi satu buku yang terbuka lebar. Dan senada dengan itu, ayat berikutnya berbunyi: “Bacalah buku dikau, pada hari ini dirimu sendiri sudah cukup sebagai juru hitung terhadapmu” (17:14). Dengan kata lain, akibat perbuatan manusia akan berwujud seterang-terangnya pada Hari Kebangkitan, hingga tak diperlukan orang lain untuk menghitungnya. Dia sendirilah yang membaca bukunya sendiri, artinya, ia melihat segala perbuatan yang ia lakukan, terekam dalam dirinya, dikatakan bahwa dia sendirilah yang akan menghitungnya, ini jelas karena perhitungan itu sudah nampak pada dirinya.
Seirama dengan itu, ada dua ayat lagi yang tercantum dalam satu Surat yang diturunkan lebih awal lagi: “Sesungguhnya buku orang durhaka itu dalam penjara” (83:7); ”
Sesungguhnya buku orang-orang tulus itu di tempat yang tinggi” (83:18). Berlawanan dengan orang-orang tulus yang dikatakan berada di tempat yang tinggi, maka orang durhaka seharusnya dikatakan berada di tempat yang rendah, tetapi dalam Qur’an, orang-orang ini dikatakan berada di dalam penjara; ini berarti mereka terhalang untuk berbuat kemajuan; oleh sebab itu, dalam ayat berikutnya mereka dikatakan: “tertutup dari Tuhan mereka” (83:15), sedangkan orang-orang tulus terus meningkat menuju ke tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Dalam ayat itu, kata kitab berarti batin manusia; jika diartikan lain, maka ditempatkannya buku itu dalam penjara, tak ada artinya samasekali. Dari beberapa uraian tentang buku perbuatan, terang sekali bahwa yang dimaksud ialah akibat dari perbuatan baik maupun perbuatan buruk, yang mempercepat atau memperlambat kemajuan rohani manusia, dan bahwa tulisan yang terdapat dalam buku itu hanyalah berarti bekas perbuatan yang terekam dalam diri manusia setelah ia melakukan perbuatan baik maupun buruk, yang tak terlihat oleh mata wadag manusia, akan tetapi bagi orang ahli pikir yang cermat, tak menyangsikan sedikit pun adanya kenyataan ini.

 

Berlanjut ke Serial Islamologi – Bab VI – Akherat (IV)

Sumber: Islamologi, (The Religion of Islam) oleh Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: