Tafsir SURAT (80) ‘ABASA : IA BERMUKA MASAM

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Sekarang, kita diberi-tahu dalam surat ini bahwa kemuliaan ruhani  dapat dicapai  secara sama oleh semua manusia – baik kaya ataupun miskin, raja atau rakyat, tunanetra atau bisa melihat, tunarungu atau bisa mendengar – tak satu pun cacat  lahiriah seseorang ataupun kemiskinan, yang  menjadi hambatan di jalan menuju Majelis Kerajaan Allah, jalan kepada kesempurnaan ruhani dan keluhuran yang terbuka sama lebar bagi setiap orang.  Selanjutnya, amal perbuatan  masing-masing diri kita akan membawa konsekwensi  yang jelas sebagaimana prinsip universal yang bisa diterapkan kepada semua manusia. Tidak ada pengecualian dalam hal ini dan tak ada privilege istimewa yang bisa dinikmati oleh keturunan seorang penguasa, gubernur, seorang nabi ataupun wali. Bila  mereka terlibat dalam perbuatan jahat maka tak bisa lari dari tanggung-jawab perbuatannya, dan apakah ia orang miskin, orang kaya atau bangsawan tidak akan bisa mengelak dari  pembalasan yang sama yang akan diterimanya. Semua sama dalam pandangan Allah. Tidak, bahkan mungkin  seorang yang miskin bisa mengungguli si kaya karena ketulusannya dalam beriman serta beramal salih  dan sikap serta akhlaknya yang lebih baik. Allah Ta’ala menyukai keimanan, ketulusan, amal salih, dan perilaku yang baik serta moral yang tinggi, bahkan meskipun orang yang menunjukkan watak ini boleh jadi amat miskin atau tidak penting dalam ukuran duniawi.

Surat ini diturunkan pada periode Mekkah awal. Kita diberi-tahu dalam surat 78, An-Naba (Pemberitahuan) bahwa semua perilaku itu ada balasannya.

Dalam surat 79, An-Nazi’at (Orang yang merindukan), kita diberi nasehat tentang bagaimana berusaha dan mengusung amal perbuatan kita hingga titik kesempurnaan yang tertinggi.

Jadi, dalam mengajarkan risalah Allah kepada orang lain, seseorang tak perlu gelisah apakah orang yang dituju itu kaya ataukah miskin. Umumnya, ambisi orang ingin menarik kepada agamanya agar supaya beberapa orang yang mempunyai kedudukan sosial yang tinggi bisa masuk kedalam Islam atau bergabung dalam organisasinya, meskipun kebijakan yang demikian itu salah karena tak seorangpun bisa mendalami hati manusia dan mengukur hasratnya dalam mencari kebenaran, kesadaran akan Tuhan dan ketulusannya. Hanya orang yang datang dengan maksud tulus untuk mencari kebenaran  sajalah yang bisa memetik manfaat dari penyeru kepada  agamanya. Apakah dia rendah atau tinggi kelasnya, orang semacam itu berhak untuk diberi perhatian lebih, dan bahwa risalah Allah harus diberikan kepada mereka.

Konsekwensinya, Allah Yang Maha-tinggi telah membicarakan masalah ini dan memberi petunjuk tentangnya dalam surat ini.

Ibnu Ummi Maktum (Abdullah bin Syuraih) adalah seorang sahabat yang mulia dari Nabi Suci s.a.w. Beliau seorang tuna-netra. Suatu kali, dia bertemu dengan Nabi Suci tepat ketika Beliau sedang menyampaikan risalah kepada para bangsawan Quraish. Tidak menyadari apa yang sedang terjadi, mungkin karena kebutaannya, dia mulai menginterupsi percakapan Rasulullah dengan meluncurkan pertanyaan-pertanyaan. Nabi Suci sedang bersungguh-sungguh dalam dakwahnya dan agaknya kurang berkenan dengan interupsi ini di tengah percakapan yang serius sehingga Beliau tidak memperhatikan Ibnu Maktum. Peristiwa inilah yang digambarkan oleh Allah Taa’ala sebagai berikut:

1.   Ia bermuka masam dan berpaling,

2.   Karena orang buta datang kepadanya.

‘Abasa berarti melengos atau merasa terganggu. Ini menunjukkan betapa dekat Allah Ta’ala mencermati perilaku Nabi Suci. Memang tidak diragukan lagi bahwa budi pekerti serta akhlak Nabi Suci itu demikian mulia dan luhur sehingga Allah Yang Maha-tinggi telah memuji akhlak beliau yang luhur dalam Qur’an Suci itu sendiri dengan menyatakan: “Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang agung”(68:4). Meskipun demikian, bahkan perbuatan yang nampaknya kurang penting, yang dilakukan oleh pemilik akhlak dan sopan-santun yang agung itu; dianggap kurang berkenan oleh Allah.

Bahkan kini, kita punya kesepakatan yang sama karena adalah dipandang kurang tepat bila kita memotong atau menginterupsi percakapan orang lain, dan seseorang yang melakukan hal yang demikian akan dianggap kurang sopan. Maka bila interupsi yang kurang pada tempatnya ini menyebabkan kurang senangnya Nabi Suci s.a.w. maka hal itu sesuai dengan sopan-santun masyarakat beradab. Namun, karena Ibnu Maktum adalah seseorang yang miskin, buta lagi, yang melakukan pelanggaran terhadap perilaku beradab ini, maka Allah Yang Maha-tinggi memandang tidak diharapkan bila Nabi Suci sama-sekali mengabaikan orang semacam ini dan tetap berbicara dengan kaum elit saja. Untuk menghibur dan memberi semangat kepada orang miskin, maka adalah penting untuk tidak membedakan mereka dalam majelis Nabi Suci; bahkan, si miskin harus diberi keutamaan daripada si kaya, karena Islam datang untuk mengajar umat prinsip luhur perilaku kemanusiaan dengan akhlak mulia dimana orang-orang yang sangat miskin ini bisa mencapai tingkat yang agung.

Ibnu Maktum berbicara beberapa kali, tetapi melihat Nabi Suci sibuk dalam dakwah menyampaikan risalahnya, dia bangun dan pulang. Karena itu, wahyu di atas turun: suatu wahyu yang mengagetkan Nabi Suci! Buru-buru beliau pergi ke rumah Ibnu Maktum, mengundangnya ke rumah Beliau, dan membentangkan kain untuk tempat duduknya. Ibnu Maktum tidak mau duduk karena merasa sungkan dengan Nabi Suci, tetapi Nabi Suci s.a.w. mendesak dan mendudukkannya, dan kemudian bersabda: “Sekarang, tanyakanlah kepadaku apa yang ingin kauketahui”.

Secara kebetulan, bukankah ini memperagakan keyakinan mutlak dari Nabi Suci kepada wahyu yang diterimanya? Betapa keliru dan salahnya catatan yang disajikan oleh almarhum Sir Syed Ahmad Khan yang menyatakan bahwa wahyu itu suatu ide yang mula-mula mencerahkan pribadi manusia lalu turun ke dalam fikiran sadarnya. Bila demikian halnya, setidak-tidaknya pastilah ayat-ayat semacam ini tidak terdapat dalam Qur’an Suci.

Adalah pribadi Rasulullah sendiri yang memutuskan untuk tidak menanggapi Ibnu Maktum yang menginterupsi pada saat yang tidak tepat, sehingga bagaimana dapat dipahami suatu ide yang bertentangan dengan pandangan ini bisa muncul dari pribadi yang sama yang bisa menangkap ide ini pada awal pertamanya? Kedua, tak seorangpun yang menyukai gagasan bahwa suatu laporan yang mencela tingkah-laku pribadinya akan menjadi sesuatu yang diulang-ulangi oleh umatnya. Tetapi dengan mengabaikan pertimbangan ini, celaan ini selalu ada sebagai bagian dari Qur’an Suci dan akan seterusnya demikian. Ini juga menjadi  bagian yang diulang-ulang dalam pengajian umatnya. Ini menunjukkan bahwa celaan ini tidak memancar dari hati Nabi Suci sendiri. Tidak, ini adalah wahyu dari Allah yang berisi elemen ketidak-setujuan, dan karenanya seorang nabi pun tidak dapat merahasiakan wahyu Ilahi yang diterimanya, maka ditulis dalam Qur’an Suci dan ini akan tetap di sana seterusnya sebagai sarana petunjuk bagi Ummah Nabi Suci s.a.w.

Bila seseorang memperhatikan dengan cermat, maka dia akan menyadari bahwa tindakan Nabi Suci ini tidaklah perlu diberikan begitu banyak perhatian. Sesungguhnya, maksud dibalik banyaknya tekanan terhadap peristiwa ini karena hal itu untuk memberi petunjuk kepada umat, sebab kalau tidak, maka Allah akan memberikan pesan yang sama kepada Nabi Suci s.a.w. sebagai wahyu yang rahasia dan tidak resmi (suatu wahyu yang tidak dicatat dalam Qur’an Suci sebagai bagian dari kitab suci yang diwahyukan).

Jadi, dalam kenyataannya, maksud dimasukkannya celaan ini dalam wahyu resmi (yang menjadi bagian Qur’an Suci) adalah agar umat mengerti bahwa kita tidak boleh memberikan keistimewaan kepada kaum bangsawan di atas orang-orang awam ketika mengajarkan dan menyampaikan risalah. Sebaliknya, kita harus memberikan apresiasi dan penyampaian yang sama kepada segenap pencari kebenaran dan tidak menimbang-nimbang bahwa orang miskin itu tidak penting. Kita harus tahu bahwa ketulusan dalam hati manusialah yang diperhitungkan dalam Majelis Allah.

3.   Dan apakah yang membuat engkau tahu, bahwa ia boleh jadi akan menyucikan

dirinya?

4.   Atau ia mau ingat, sehingga Peringatan itu berguna bagi dia?

Allah menyatakan kepada Nabi Suci s.a.w. bahwa maksud kedatangannya begitu pula turunnya Qur’an Suci adalah untuk menyucikan manusia. Yakni, bahwa kemampuan ruhani terdalam mereka harus tumbuh dan berkembang serta hati mereka harus dibersihkan dan disucikan dari semua kekotoran.

Hanya dua jenis manfaat itulah yang bisa dipetik dari seruan dan ajaran seorang nabi: yakni; bahwa seseorang itu harus belajar meniti jalan mulia dalam pengembangan dan penyempurnaan ruhani dari seorang nabi, jalan dimana dia bisa meraih penyucian diri dan kedekatan kepada Allah. Ini sesungguhnya adalah suatu tujuan yang sangat luhur. Yang lainnya adalah bahwa seseorang itu harus meninggalkan cara-cara hidup yang buruk dengan mengambil manfaat dari ajaran yang murni dari seorang nabi. Kedudukan ini, meski lebih rendah dari yang pertama, adalah juga besar manfaatnya bagi seseorang. Karena itu Allah Yang Maha-tinggi, berkata: Adalah sangat mungkin, wahai Nabi, bahwa orang buta itu bisa meraih kedudukan yang tinggi dari penyucian diri, atau setidak-tidaknya dia bisa menarik manfaat sedemikian rupa sehingga dia bisa menghindari cara hidup yang salah serta bisa menyusuri jalan yang lurus.

Tetapi pada titik ini suatu kesalah-fahaman muncul dalam fikiran seseorang: apakah juga tidak mungkin bagi kaum bangsawan Quraish itu untuk mengambil manfaat dari ajaran Nabi Suci? Untuk hal ini Allah berfirman:

5.   Adapun orang yang menganggap dirinya tak memerlukan apa-apa.

6.   Kepadanya engkau menaruh perhatian.

Di sini Allah menyatakan kepada Nabi Suci s.a.w. bahwa orang-orang terkemuka ini kepada siapa beliau menaruh perhatian besar bahkan tidak peduli akan risalahnya, namun, terhadap mereka, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menyampaikannya.

7.   Dan tak ada cacat bagi engkau jika ia tak mau menyucikan dirinya.

Yakni, meskipun kenyataannya mereka tidak menaruh perhatian atas risalahmu, namun engkau harus tetap menyampaikannya kepada mereka.

Maksud dari kebijakan ini jelas bahwa adalah hasrat yang besar dari Nabi Suci agar para tokoh ini menggunakan sarana penyucian diri setelah menerima risalahnya. Atas hal ini, Allah berkata: Engkau tidak perlu ambil pusing. Jika mereka tidak mau beriman dan tidak ingin menyucikan dirinya, tinggalkan saja mereka sendirian. Engkau tak akan dipersalahkan karenanya.

8.    Adapun orang yang datang kepada engkau dengan usaha keras,

9.    Dan takut,

10. Kepadanya engkau tak menaruh perhatian.

Ini adalah suatu hal yang patut direnungkan. Betapa suatu prinsip berharga dari tabligh (menyampaikan risalah) telah diajarkan kepada kita dalam ayat-ayat ini. Allah Ta’ala berkata: Engkau memusatkan perhatian kepada mereka, yang mabuk dengan statusnya yang tinggi, yang bahkan tidak menaruh perhatian sedikitpun atas apa yang kau ceriterakan kepada mereka. Engkau boleh menyatakan bahwa maksudmu hanyalah kalau-kalau mereka mau disucikan, tetapi jawabannya adalah ini, bahwa mereka memilih untuk tidak menyucikan diri, maka tak ada salahmu, wahai nabi. Jadi memberi perhatian yang besar kepada mereka itu tidak benar karena hal itu bisa membelokkan penyampaian kepada mereka yang datang kepadamu karena takut kepada Allah.

Hal lain yang pantas dicatat di sini yakni bahwa doktrin reinkarnasi, sebagaimana yang diajukan oleh kaum Arya Samaj berkenaan dengan disparitas status manusia di dunia ini, telah ditolak oleh ayat-ayat ini (Kaum Arya Samaj menggambarkan status kita sekarang yang tinggi atau rendah itu karena perbuatan kita dalam hidup terdahulu).

Di sini, Qur’an Suci jelas mengumumkan bahwa bukan karena cacat bawaan atau kemiskinan dan kepapaan yang dapat menghambat jalan kemajuan ruhani seseorang. Disparitas kedudukan manusia dalam hidupnya di dunia ini terjadi atas kemurahan Ilahi karena tanpa perbedaan semacam itu maka amal salih tidak akan berperan. Disparitas dalam masyarakat ini perlu sebab kalau tidak maka masyarakat tidak dapat berfungsi.

Betapa pun, perbuatan seseorang itu akan dinilai dengan memandang lingkungan dimana dia hidup. Dengan perkataan lain, dunia ini adalah panggung dimana setiap orang itu bermain dengan peran yang terpisah dan berbeda-beda. Setiap orang yang menjalankan perannya dengan baik dan sesuai dengan maksud Tuhannya adalah dia yang akan mewarisi kemudahan serta kemajuan dalam hidupnya di masa mendatang, yang adalah kehidupan sejati. Tak ada perbedaan dalam hal ini antara yang kaya dan yang miskin, ataupun yang buta dan yang melihat.

Sebaliknya, marilah kita cermati pujian melimpah yang telah dicurahkan untuk ketulusan dan keimanan dari seorang tuna-netra dalam ayat-ayat ini, dan betapa orang-orang yang berkuasa serta bangsawan telah menolak rahmat-Nya. Karenanya, adalah sangat mungkin bahwa si miskin dan si buta bisa mencapai derajat tinggi dan berkuasa dalam kehidupan mendatang dan menjadi pewaris surga sedangkan dia yang tinggi dan berkuasa bisa menjadi umpan neraka. Jadi, disparitas dalam status yang kita lihat di dunia ini adalah sementara dan tersaji hanya sebagai pendahuluan dari drama yang sebenarnya di kehidupan mendatang. Tambahan lagi, mereka ada sehingga masyarakat dunia ini bisa berfungsi dengan effektif dengan sifat mulia dari perbedaan ini sehingga seseorang memiliki ksempatan untuk beramal salih. Dengan kata lain, ketidaksamaan status duniawi ini berfungsi sebagai suatu dasar dari kehidupan dunia ini.

Karena itu, amal kita adalah hasil usaha dari disparitas ini dan bukannya seperti yang difikirkan oleh kaum Arya Samaj, bahwa perbedaan dalam status kita ini sebagai akibat dari perbuatan kita dalam kehidupan sebelumnya.

11. Tidak, sesungguhnya itu Peringatan.

Tadzkirah berasal dari akar kata dzikr yang berarti suatu perkara dimana seseorang itu bisa mencapai kehormatan dan kemuliaan. Allah berkata: Qur’an ini adalah sarana bagi umat manusia untuk mencapai keluhuran ruhani. Ini adalah sebuah kitab yang akan membuat penganutnya luhur secara spiritual, baik mereka itu tinggi atau rendah, buta atau melihat. Seseorang yang menjadikan Qur’an ini tuntunannya dan menahan dirinya dari syahwat serta nafsu rendah dan menundukkan kepalanya dalam ketaatan kepada perintah Qur’an Suci, akan meningkat kepada ketinggian yang agung di dunia ini.

Kata-kata dalam teks ini mengandung berita gembira bahwa Qur’an Suci akan membawa orang-orang golongan rendah ini kepada ketinggian yang agung. Begitu pula, catatan dari sejarah menyaksikan kebenaran dari kata-kata Qur’an Suci ini. Qur’an Suci mengusung para pengikutnya kepada kemuliaan yang jaya dan ketika orang-orang yang sederhana ini beramal sesuai dengan perintahnya, maka berita dari kemasyhurannya serta kemuliaannya menggema ke empat penjuru dunia dan mereka menjadi pewaris dari anugerah berbagai macam sejak di dunia hingga di Akhirat. Sungguh, ketika delegasi kaum Muslimin tiba di majelis Chosroes dari Persia dengan risalah Islamiyah, raja itu dengan berang berkomentar: “Orang-orang Arab ini, yang minum susu unta dan menelan kadal telah menjadi begitu beraninya untuk meraih mahkota Kayanis. Cih kepadamu! Wahai langit yang berputar. Cih kepadamu!”

Ultimatum dari rakyat pinggiran seperti bangsa Arab – yang berdiri dengan penuh ketakutan menghadapi bangsa Persia sehingga sekelompok serdadu Persia yang berjalan kaki saja sudah cukup untuk menawan bangsawan Arab tertinggi dan membawanya ke Persia – menyampaikan kepada Raja Chosroes dari Persia dengan penuh keagungan, bahwa, “Keselamatan dan keamanan Saudara sekarang terletak hanya dengan menerima Islam”, maka keberanian semacam itu cukup mengejutkan dan diluar keyakinan bangsa Persia.

Tetapi akhirnya hal yang sama yang dinyatakan dalam risalah ini datang melintas dan kekaisaran Chosroes hancur total. Tidak hanya Persia, melainkan juga banyak kekaisaran yang lebih besar terjungkal dan jatuh ke kaki bangsa Arab yang miskin ini yang telah dinaikkan oleh Qur’an Suci ke derajat yang elit dan terhormat. Bahkan kepala kabilah yang sombong serta tokoh-tokoh suku Arab telah tunduk di hadapan kaum Muslimin yang rendah ini.

12. Maka, barangsiapa suka, hendaklah memperhatikan itu.

Yakni, jalan untuk mencapai kehormatan dan kebesaran ini hanyalah dengan beramal sesuai dengan al-Qur’an, terbuka sama lebar untuk semua manusia, tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang buta dan yang melihat, ataupun yang Arab dan bukan Arab. Siapa pun yang  bisa berfikir dan berbuat menurut al-Qur’an itu, akan meraih ketinggian dan kehormatan di dunia, baik spiritual maupun moral, karena Qur’an Suci itu dimaksudkan untuk diingat dan diamalkan oleh semuanya, sehingga mereka bisa memperoleh kehormatan dan keutamaan.

Kini, ada dua macam cara yang bisa dilakukan dimana perintah untuk mengingat Qur’an Suci itu dapat diterapkan. Pertama yaitu dengan menghafal al-Qur’an. Akibatnya, ribuan huffaz (penghafal Qur’an Suci) dilatih dalam setiap masyarakat Muslim untuk menghayati seluruh Qur’an dalam ingatannya, dan hanya kitab Qur’an sajalah yang memiliki ciri yang menonjol ini. Tak ada kitab lain di seluruh dunia ini yang begitu luas diingat orang dari depan sampai belakang seperti Qur’an Suci. Semua kitab suci yang diwahyukan telah kita kenal dan tak ada satu pun dari mereka yang pernah mempelajari dalam hati dari depan ke belakang yang begitu seringnya, dan dengan cara yang demikian terorganisir. Ciri yang menonjol ini hanya terdapat dalam Qur’an Suci saja.

Di sini, ada satu hal yang menarik akan perasaan puitis kita. Dalam surat ini, dimana banyak pujian Ilahi diberikan kepada seorang buta, terdapat perintah tentang mengingat al-Qur’an sehingga kebutaan dan mengingat al-Qur’an itu seolah berjalan bersama berkat rahmat atas penyebutannya secara bersamaan dalam surat ini. Jadi, nasib baik menjadi seorang hafiz itu telah jatuh kepada sejumlah besar orang tuna-netra dengan frekwensi yang paling banyak. Kita juga mesti ingat bahwa ingatan seorang tuna-netra itu biasanya tajam sekali. Dalam suatu kasus, tak ada keraguan sedikitpun atas hal itu sehingga seorang buta tidak saja menerima curahan dari karunia Ilahi karena keimanan dan ketulusannya melainkan juga karenanya, maka anugerah untuk mempelajari al-Qur’an dalam hati itu jatuh ke banyak orang buta lainnya.

Cara lain agar al-Qur’an itu selalu di hati adalah dengan mengawetkannya dalam bentuk sebuah kitab sehingga mereka yang tak bisa menghafalnya bisa menarik manfaat darinya.

13. Dalam Kitab yang dimuliakan.

Ada suatu nubuat yang sangat besar dan kuat dalam kata mukarramah (yang dimuliakan).

Allah berfirman, bahwa al-Qur’an ini akan selalu dimuliakan. Kemuliaan yang diterimanya di Asia dan Afrika, yakni, di Timur, sudah jelas, namun sekarang adalah giliran Eropa dan Amerika. Di sini, pada saat ini, orang-orang tetap belum bisa membaca dan memahami teks asli dari Qur’an Suci. Namun, para sarjana Barat, dengan mengkaji terjemahan al-Qur’an yang dilakukan oleh kaum Orientalis, telah sampai kepada kesimpulan bahwa kecuali Alkitab, maka Qur’an Suci adalah kitab terbesar di dunia. Tetapi, insya Allah, bila mereka membaca terjemahan yang telah dilakukan oleh komunitas kita (yakni, Gerakan Ahmadiyah Lahore), atau bila mereka mengembangkan kemampuannya untuk memahami teksnya yang aktual, adalah kesimpulan pasti bahwa di masa depan Qur’an Suci akan menjadi nomor satu posisinya dalam ranking. Karena keunggulannya di atas segala kitab agama, akhlak, filosofi, sosial dan budaya telah diterima di dunia, maka mengambil alih kedudukan Alkitab dalam rating adalah hanya masalah waktu saja. Mereka yang mengenal keduanya, baik Qur’an Suci maupun Alkitab akan mengetahui bahwa Alkitab itu tak ada artinya dibanding dengan al-Qur’an.

Pendeknya, ini adalah nubuat yang berani tentang ilmu dan kebijaksanaan yang terdapat dalam al-Qur’an yang mengumumkan bahwa betapa pun ilmu dan pengetahuan sekuler boleh berkembang di dunia ini, namun kemuliaan dan prestise Qur’an Suci akan senantiasa meningkat karena dunia baru yang berorientasi ilmiah akan menemukan al-Qur’an sebagai sumber mata-air ilmu dan hikmah.

Maka, seperti yang dapat kita lihat sendiri, semakin maju ilmu dan pengetahuan, akan semakin redup kitab wahyu yang diturunkan ke berbagai macam agama di dunia dan pelbagai bangsa, namun sebaliknya dengan cahaya Qur’an Suci akan menjadi semakin cemerlang dari hari ke hari. Setiap penemuan ilmiah baru yang dilakukan membuktikan kebenaran al-Qur’an serta menundukkan diri dalam penghormatan dan kejayaan Kitab Suci tersebut.

14. Yang diluhurkan, yang disucikan.

Kini, kaum Muslimin menganggap bahwa istilah marfu’ah (yang diluhurkan) itu hanyalah permintaan agar mereka menempatkan kitab Qur’an Suci  di rak atau platform yang tinggi, dimana pada akhirnya Kitab itu jadi berdebu. Jika mereka sesekali mengambilnya untuk dibaca, yang jarang terjadi, mereka tidak peduli untuk memahami akan artinya, apalagi untuk beramal mengikutinya. Cara ini sama saja dengan melemparkan Qur’an Suci ke balik punggungnya. Tak diragukan memang, bahwa Qur’an Suci itu mesti disimpan di tempat yang tinggi, tetapi arti dari marfu’ah itu tidak sekedar ini. Sesungguhnya, arti nyatanya adalah al-Qur’an’itu datang untuk meninggikan segala perkara.

Ajarannya lebih tinggi dari semua kitab agama terdahulu serta semua logika dan filsafat dunia saat ini sehingga inilah titik keunggulannya begitu pun statusnya. Lantas mengapa hukum dan perintahnya tidak didahulukan dan dianggap tidak lebih tinggi dibanding semua adat kebiasaan dan tata-cara setempat serta segala keinginan rendah kita?

Tetapi wahai manusia, kini kita menjadikan perintah Qur’ani ini tunduk kepada adat kebiasaan dan tata-cara serta pamrih pribadi kita. Untuk menggenapi permintaan ayat ini, maka sudah seharusnya status al-Qur’an harus lebih tinggi dari segala perkara lain dan perintahnya harus didahulukan daripada perkara lain, sedemikian besar sehingga al-Qur’an itu harus dipandang lebih tinggi dan mengatasi bahkan Hadist dan Fiqih (Hukum Islam).

Namun malangnya, para ahli fiqih telah memberi superioritas dan status yang lebih tinggi atas yurisprudensinya (fiqh) diatas al-Qur’an dan al-Hadist, dan Ahli Hadist menaikkan derajat Hadist di atas al-Qur’an, meskipun ranking al-Qur’an itu mengatasi semuanya ini dan harus didahulukan dibanding mereka semua. Pendeknya, arti sesungguhnya dari kata marfu’ah (yang diluhurkan) haruslah bahwa posisi al-Qur’an itu adalah yang paling luhur dibanding semuanya dan perintahnya harus meliputi segala perintah dari yang lainnya.

Selanjutnya, Qur’an Suci itu tidak hanya menjadikan lebih indah dan berharga melainkan juga memurnikan dan mensucikan jiwa serta isinya membimbing seseorang kepada penyucian dan pembersihan diri. Di sisi lain, dalam Alkitab, ada ayat-ayat yang bisa menerbitkan rasa malu yang besar bagi perempuan yang beradab bila mereka membacanya. Beberapa kata-kata yang sangat mesum serta ungkapan yang tak bermoral terdapat juga di beberapa tempat. Kitab Weda juga berisi bait-bait yang membuat seseorang merah padam karena malu dan hina dalam membacanya. Tetapi, betapapun rumitnya masalah yang dibahas, Qur’an Suci telah menggunakan cara yang sangat suci dan bermoral dalam menyampaikannya.

15. Di tangan para penulis,

16. Yang mulia, berbudi baik.

Kata safarah berarti baik seorang utusan dan seorang penulis atau penyalin.

Allah Ta’ala berfirman, bahwa semua penyalin Qur’an Suci itu adalah orang yang terhormat, terkemuka, unggul dan saleh. Tidak, bahkan para sahabat yang suci selebihnya yang bertindak sebagai perantara dan utusan antara nabi Suci dan umatnya (karena melalui tangan mereka itulah maka Qur’an Suci sampai kepada umat), semuanya sangat terhormat dan saleh. Akibatnya adalah bahwa karena al-Qur’an itu dijadikan dalam bentuk tertulis oleh tangan segolongan sesepuh dan diteruskan kepada umat oleh orang-orang dengan kepribadian semacam ini yang semuanya terhormat, saleh, tulus dan berakhlak mulia, maka Qur’an Suci itu tetap seluruhnya selamat dan tak ternoda.

Di sini, ada suatu hal yang patut direnungkan oleh kaum Syi’ah dan Khawarij. Yakni, bahwa Allah Ta’ala Sendiri, telah berdiri saksi atas fakta bahwa orang-orang yang menulis al-Qur’an dan menyiarkannya kepada yang lain (termasuk di antaranya Hazrat Abu Bakar, Umar, Ali dan Usman, serta mereka yang secara khusus termasuk dalam penghimpun dan penulis  al-Quran), semuanya adalah hamba Allah yang terhormat, terpercaya, saleh dan tulus. Maka, barang-siapa yang mempertanyakan integritas dari teks al-Qur’an serta ketulusan dari para Sahabat yang suci maka mereka itu sesungguhnya menolak kesaksian yang terang dari Allah Sendiri.

Memang benar bahwa karena al-Qur’an itu adalah kitab yang terhormat dan suci, lalu mengapa para penyalinnya yang menyampaikan kepada yang lain tidak murni dan suci pula? Jadi, apa maksud dibalik menulis kitab ini dengan sangat hati-hati serta pengaturannya dalam menyampaikan kepada umat kecuali agar setiap Muslim bisa menarik manfaat dari itu dan harus menganggap perintahnya lebih tinggi dan lebih unggul di banding segala perintah yang lainnya?

17. Celaka sekali manusia itu! Alangkah tak berterima kasihnya dia!

Siapakah yang lebih tak bersyukur daripada seseorang yang setelah diberi warisan serta menemukan anugerah seperti Qur’an Suci lalu tidak berbuat menurut itu dan menghindar dari petunjuk yang besar itu, suatu petunjuk dimana bergantung kehormatan dan kejayaan seluruh umat manusia? Orang semacam itu sesungguhnya secara ruhani sudah mati. Ungkapan “qutilal amanu” berarti “Celaka sekali manusia itu”. Ini juga bisa berarti “semoga matilah manusia semacam itu” tetapi ini rasanya kurang cocok untuk menerapkan suatu doa kutukan dari Yang Maha-kuasa.

Allah Ta’ala sekarang menerbitkan peristiwa dari dunia fisik untuk memperagakan kejatuhan manusia dari kedudukan yang terhormat serta terkemuka menjadi seorang yang terkucil akibat tidak tahu berterima-kasih.

18. Dari barang apakah Ia menciptakan dia?

19. Dari benih manusia yang kecil. Ia menciptakan dia, lalu Ia menentukan ukurannya.

20. Lalu Ia menjadikan jalan mudah baginya.

Inilah gaya Qur’an Suci: dia menarik argumen dengan menggambarkan analogi antara dunia materi dengan kerajaan ruhani atau dari kehidupan di luar dengan kehidupan di dalam.

Ini adalah konsep yang bisa diterima diantara ilmuwan dan ahli jiwa bahwa dunia yang nampak dan dunia bawah sadar itu mengandung suatu persamaan yang intens dan kemiripan satu sama lain serta paralel kepada yang lain. Karena itu, tak ada cara yang lebih baik selain daripada mengajukan berbagai bukti analogi dan argumen yang menunjukkan suatu persamaan antara dunia luar dengan dunia ruhani. Di sini, Allah telah menarik perhatian manusia atas kelahirannya dengan mengatakan: lihatlah dari bahan apa kalian diciptakan – dari sebuah sel sperma!

Nutfah harfiahnya berarti suatu benda yang menjijikan dan tidak penting. Pendeknya, Allah Ta’ala telah menarik perhatian manusia kepada fakta bahwa dia telah diciptakan dari benda yang sangat tidak penting, nutfah (sel sperma) yang bahkan ketika dia membentuk diri dalam rahim seorang ibu, ini demikian kecil dan sepele sehingga ini bahkan tak bisa dilihat kecuali dengan pertolongan mikroskop. Namun, Allah Yang Maha-tinggi, dalam pengetahuan-Nya yang meliputi segalanya telah mengaruniai sel yang kecil ini dengan kekuatan yang tertanam dan unggul di dalamnya serta kemampuan yang ketika itu mulai tumbuh setelah membangun suatu hubungan dengan rahim, maka manusia mengembangkan kekuatan fisik dan mental yang menakjubkan, yang dengan memanfaatkan kemampuan tersebut maka dia bisa menguasai lautan, angin, kilat, pendeknya, terhadap segala ciptaan Allah di alam semesta ini.

Maka, bila benar bahwa Allah telah menyiapkan sarana untuk pertumbuhan dan pengembangan jasad fisik manusia dari kondisi yang tidak penting dan lemah serta dengan kekuasaan-Nya membuat anggota badannya tumbuh, lalu Dia menjadikannya berubah menjadi makhluk yang penuh kekuatan, maka Dia pasti juga menyediakan bagi pertumbuhan dan pengembangan ruhani manusia, dan meletakkan suatu jalan baginya dan dengan menyusuri jalan tersebut manusia dapat menjadikan kemampuan spiritualnya tumbuh dan berkembang. Jalan ini tiada lain adalah al-Qur’an ini. Bila manusia menolak kitab ini dan mengingkari petunjuknya maka dia ditakdirkan untuk binasa. Dengan kehancurannya berarti bahwa kemampuan ruhaninya tidak tumbuh dan berkembang dan dia tetap tersingkir dari kehormatan dan kejayaan spiritual, suatu kedudukan yang seharusnya diraih demi tujuan penciptaannya.

Suatu hal yang perlu dipertimbangkan di sini adalah bahwa dalam ayat-ayat ini Allah telah berfirman: “fa qaddarahu” (Dia menumbuhkan sesuai ukurannya) setelah menyatakan “khalaqahu” (Ia menciptakan dia). Huruf fa diselipkan antara dua kata ini, yang berarti bahwa benda yang penciptaannya disebutkan dalam khalaqahu adalah sama dengan benda yang dibuat rujukannya dalam ungkapan “fa-qaddara-hu”, yakni, mendapatkan kekuatan dan tenaga. Tetapi belakangan, ketika disebutkan: membuatkan jalan yang mudah baginya, di sana Allah menggunakan kata “thumma” sebagai ganti “fa”, yakni, Dia berfirman: “Kemudian membuat jalan mudah baginya”.

Alasan untuk ini ialah bahwa dalam kata “thumma” (kemudian) di dalamnya juga mengandung implikasi suatu perubahan keadaan. Jadi, dengan menggunakan kata “thumma”, maksudnya adalah untuk membuat kita mengetahui bahwa jalan yang ditempuh selanjutnya, yakni, Kemudian dia membuat jalan mudah baginya, adalah satu hal yang berbeda dengan satunya lagi yang dibicarakan dalam ayat sebelumnya: Ia menciptakan dia, lalu ia menentukan ukurannya. Yakni untuk menyatakan, bahwa jalan kedua ini adalah spiritual dan bukan fisik.

Sebelum kata “thumma”, ayat itu berbicara tentang pertumbuhan dan perkembangan jasmani. Setelah kata ini, Allah ingin menarik perhatian kita kepada perkara lain, yakni, bahwa bila Allah telah membuat sel sperma itu tumbuh dan berkembang menjadi orang kuat yang memerintah ciptaan yang lain di alam semesta ini, lantas kenapa Dia tidak membuat persiapan untuk aspek yang lain, sebutkanlah pertumbuhan dan pemeliharaan ruhani manusia tersebut? Untuk hal ini Dia juga menyediakan suatu jalan, dan membuatnya mudah. Yakni untuk dikatakan, meskipun Allah telah menganugerahi manusia dengan kemampuan yang menjadikan dia mampu membedakan antara baik dan buruk, namun bila manusia telah meninggalkannya dan hanya bergantung kepada kecerdasan, persepsi dan pemahaman sendiri saja, jalan ini akan menjadi sangat sukar baginya, karena petunjuk yang didapat dari kecerdasan saja tidak akan cukup dan bebas dari jebakan serta kesesatan. Karena itu, langkah ini dibuat mudah baginya melalui wahyu Ilahi.

Dengan kata lain, Allah Ta’ala, dalam ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, datang untuk membantu manusia dan Qur’an Suci mengambil rantai wahyu Ilahi ini menuju kesempurnaannya.

Jadi, seperti halnya sperma kehidupan, bila dia tiba di bawah pembentukan rencana hukum Allah, disamping keadaannya yang sangat tak berarti dan kecil, bisa berkembang menjadi makhluk manusia yang jaya dan berkuasa, begitu pula, bila pribadi manusia itu menapak menyusuri jalan yang telah ditunjukkan oleh wahyu dari Allah, serta mematuhi perintah dan hukum-Nya, maka tak ada alasan mengapa ini juga tak bisa meraih kesempurnaan.

Betapa indahnya Mujaddid zaman ini, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Almasih Yang Dijanjikan, telah melukiskannya dalam versi bahasa Persia hal yang diperbincangkan di atas:

Dia Yang telah membuat manusia keluar dari suatu titik cair.

Dan mengubah beberapa genggam biji-bijian menjadi kebun.

Yang memberi sperma kehidupan itu wajah yang bercahaya,

Dan Yang mengubah batu menjadi permata dari Badakshan.

21. Lalu Ia mematikan dia, dan menentukan kuburnya,

22. Lalu, jika ia menghendaki, Ia membangkitkan dia.

Allah berfirman: Di dunia ini ada persediaan bagi pertumbuhan dan perkembangan jasad fisik manusia di satu fihak, dan di fihak lain, suatu jalan telah dibangun dan terbuka bagi manusia guna perkembangan ruhaninya.

Sekarang, renungkanlah, kepada kenyataan bahwa jasad yang material ini, dimana guna pertumbuhan dan perkembangannya begitu banyak persediaan telah disiapkan dan untuk pemeliharaannya manusia telah berusaha siang dan malam, suatu hari akan menjadi debu dari debu. Namun, perkembangan ruhani dan pertumbuhan dari pribadi manusia atau jiwanya adalah sesuatu yang bakal bertahan abadi dan yang sesudah kematiannya akan muncul dalam bentuk kehidupan yang baru, Insya Allah.

Dengan perkataan lain, sesungguhnya kematian dari jasad manusia itu, seperti prolog kebangkitan kembali manusia dalam bentuk suatu kehidupan yang baru. Karenanya, sungguh bijak seorang manusia yang memahami bahwa Allah Yang Maha-tinggi telah menyediakan begitu banyak persediaan demi pertumbuhan dan pengembangan jasad fisik yang sangat singkat ini , maka betapa jauh lebih banyak lagi yang disediakan-Nya untuk pertumbuhan dan pengembangan ruhani serta penyempurnaan dari jiwa yang bertahan abadi ini. Jika manusia berusaha keras demi pertumbuhan dan perkembangan badannya yang tidak permanen ini, lantas betapa dia harus lebih jauh berusaha dan tekun demi pertumbuhan dan pengembangan rohaninya. Selanjutnya, bila kemajuan yang dibuat oleh tubuhnya yang sementara ini nampak begitu menakjubkan yang begitu rupa meninggikan kebanggan diri kita, lalu betapa lebih tinggi dan besarnya usaha yang harus dikerahkan untuk mencapai kemajuan dari jiwanya yang akan abadi selamanya?

Maka, adalah wajib bagi kita semua untuk memuji dan meninggikan anugerah yang diberikan kepada kita dalam bentuk Qur’an Suci, dengan menjalani langkah-langkah yang ditunjukkan oleh al-Qur’anSuci sehingga kita akan menjadi pewaris dari kesempurnaan dan kemajuan, di mana kemuliaan, kehormatan dan ketinggian akhlak manusia itu bergantung.

23. Tidak, tetapi dia tidak menjalankan apa yang Dia perintahkan kepadanya.

Yakni, alasan bagi merosotnya ruhani dan degradasi moral adalah karena dia tidak beramal sesuai dengan perintah Allah. Karena itu, Qur’an Suci telah diwahyukan guna menjamin kemajuan serta pertumbuhan dan pengembangan yang lestari dari manusia. Bila manusia mematuhi perintah Qur’an Suci, maka tanpa memandang asal-usulnya yang berasal dari benda sepele seperti sel sperma, maka dia kemudian bisa mencapai kekuasaan serta kehormatan dalam hidup di dunia ini maupun nanti, dan bahkan akan menjadi pewaris dari kemajuan serta kesempurnaan pribadi baik di luar maupun di dalamnya. Di sinilah terdapat pelajaran bagi kaum Muslimin abad ini. Alasan utama bagi kemerosotan mental serta spiritual mereka adalah karena mereka tidak condong dengan ketaatan sejati kepada perintah Qur’an Suci. Tidak peduli berapa banyak mereka bisa menyebarluaskan terbitan Kitab Suci ini, jika mereka belum benar-benar melaksanakannya, maka hal itu tak akan bermanfaat baginya. Jika seorang pasien itu tidak menelan obat yang diresepkan oleh dokter yang merawatnya, lantas apa pengaruh dari tulisan resep yang didapatkannya? Suatu penyakit tak bisa diobati dengan sekedar membawa resep itu kemana-mana.

Kaum Muslim hari ini mungkin tak terlihat sebagai sebuah kaum yang penting seperti sel sperma tersebut, tetapi bila mereka mulai beramal sesuai dengan perintah al-Qur’an, mereka akan segera menjadi bangsa yang kuat dan berkuasa. Di atas segalanya, lihatlah betapa kaum Muslimin pada masa awal Islam bangkit ke puncak ketinggian kekuasaan  dari keadaan yang sangat lemah. Namun, bila ajaran Qur’an Suci itu tidak diikuti, maka haruslah diingat bahwa suatu bangsa yang lemah dan sepele akan menjalani risiko dimarginalisasi oleh bangsa yang lain, persis seperti sel sperma, bila dia tidak tumbuh, maka dia menjadi mubazir sia-sia.

24. Maka hendaklah manusia melihat kepada makanannya.

25. Bagaimana kami tuangkan air yang melimpah-limpah.

26. Lalu Kami membelah bumi, terbelah.

27. Lalu Kami tumbuhkan di sana biji-bijian.

28. Dan pohon anggur dan sayur-mayur.

29. Dan pohon zaitun dan pohon kurma.

30. Dan taman-taman yang rimbun.

31. Dan buah-buahan dan rumput-rumputan

32. Persediaan makanan bagi kamu dan bagi ternak kamu.

Makanan adalah sarana penting bagi pertumbuhan dan pengembangan fisik para makhluk hidup. Renungkanlah betapa Allah telah menaruh langit dan bumi ini supaya bekerja guna mencapai tujuan ini, yakni, untuk memproduksi makanan.

Pertama-tama, faktor langit dan bumi digelar bersama-sama untuk menghasilkan hujan dari awan. Kemudian bumi ini dibelah terbuka untuk menumbuhkan biji-bijian serta pengembangannya, persediaan makanan yang berjenis-jenis diproduksi bagi makanan manusia: ada biji-bijian, ada anggur (yang menyediakan gula), ada sayur-mayur dan ada pula zaitun yang minyaknya sangat baik untuk nutrisi, ada kurma dan tandan buah-buahan, kemudian ada pula rerumputan bagi ternak untuk melangsungkan hidup mereka sehingga manusia bisa mendapatkan mentega, margarin, kepala susu dan daging. Dia tidak saja menyiapkan makanannya, melainkan Dia juga menciptakan bermacam-ragam barang sebagai makanan manusia sehingga segala macam nutrisi yang dibutuhkan manusia demi pertumbuhan dan perkembangan jasmaniahnya bisa diperoleh. Dengan menarik perhatian terhadap segala perkara ini, Allah menyatakan kepada manusia bahwa hendaknya dia merenungkan persiapan yang telah dilakukan-Nya untuk persediaan makanannya dan kemudian hendaknya dia mengambil analogi dari hal ini berkaitan dengan pertumbuhan serta pemeliharaan ruhaninya dan persediaan yang harus ada untuk mencapai tujuannya itu.

Hujan dari langit yang turun dalam bentuk wahyu Ilahi bergabung dengan “bumi” yakni hati Nabi, telah menghasilkan dan menyediakan santapan ruhani ini, yang sangat penting bagi pemeliharaan spiritual serta kemajuan manusia. Karena Allah Ta’ala mengetahui setiap kebutuhan ruhani manusia, maka apa pun “makanan ruhani” yang disediakan-Nya  dalam bentuk kitab wahyu, berisi segenap sarana yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan serta permohonan bagi pertumbuhan dan pengembangan ruhaninya.

Seperti halnya berbagai macam biji-bijian, buah-buahan, sayur-mayur, minyak, gula, dan sebagainya itu dibutuhkan bagi kehidupan dan ketahanan dari segala kemampuan jasmaniah serta anggota badan manusia, maka demikian pula, berbagai jenis santapan  ruhani diperlukan bagi pertumbuhan dan pengembangan kemampuan spiritual manusia. Adalah Allah sendiri, Yang telah mempunyai pengetahuan sepenuhnya dari kebutuhan alami manusia, dapat dan telah menyediakan segala macam santapan ruhani didalam wahyu-Nya, dengan mengikutinya maka berbagai macam kekuatan bisa berkembang hingga sempurna.

Dengan menyimpulkannya dengan ayat, “Persediaan makanan bagi kamu dan bagi ternak kamu”, Allah juga telah menunjukkan bahwa manusia hendaknya merenungkan makanannya supaya menyadari bahwa bila tujuan hidup itu berakhir hanya dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik semata, maka status manusia itu diredusir tidak lebih dari sekedar binatang berkaki empat, karena hewan itu juga menjadi partner manusia dalam mengerjakan persediaan bagi makanan lahiriahnya. Mengisi perut dan memelihara badan itu hal biasa bagi keduanya. Dalam hal ini tak ada perbedaan atau ciri yang menonjol antara manusia dengan binatang ternak. Karena itu, kemanusiaan menuntut bahwa kehidupannya haruslah mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekedar hal tersebut, dan itu adalah kehidupan spiritual, suatu hidup yang abadi. Jadi, adalah demi kecocokan atas hal ini maka persediaan telah dibuat demi santapan ruhaninya oleh Allah Ta’ala, juga, untuk mencocokkan dengan makanan jasmaninya – santapan ruhani yang akan menyajikan pemeliharaan atas pribadi dan kemampuan “dalam” dirinnya, yang membuatnya tumbuh dan berkembang serta mencapai kenikmatan dari kehidupan abadi telah tersedia.

Jadi, berbahagialah dia yang mengembangkan serta melatih kemampuan dan tenaga ruhaninya dengan menyantap “manna” dari langit, yakni Qur’an Suci, dan dengan itu memenuhi tujuan hidup manusia. Dan terasinglah dia,  bahkan matilah ruhaninya  dia yang tidak mengambil manfaat dari santapan ruhani ini. Penyebab dari keterasingan ini adalah kelalaian manusia sendiri serta terjebak menjadi budak  nafsu rendah dan seksualnya, kebiasaan yang abai dalam mendengarkan nasihat atau saran yang menguntungkan. Allah Yang Maha-tinggi selanjutnya berfirman: “Hari ini mereka berlagak tuli tetapi saatnya akan tiba ketika mereka akan mendengar”.

33. Tetapi tatkala datang teriakan yang memekakkan telinga,

“Sakh-khah” berarti suatu bencana yang memekakkan telinga karena ledakan dahsyat yang mengikutinya. Di sini berarti hari Kebangkitan. Sebelumnya telah dinyatakan bahwa Qur’an Suci itu memakai banyak nama bagi Hari Penghabisan, dan dimanapun al-Qur’an memberi nama baru, maka nama itu selalu cocok dan tepat untuk konteks yang digunakan, dan ini berarti semacam kondisi yang istimewa. Di sini, pengungkapannya dilakukan bagi kelalaian dan kemasa-bodohan orang-orang, mereka yang tidak menaruh perhatian sama-sekali kepada anugerah seperti Qur’an Suci ini, dan yang menyingkirkan manfaat spiritualnya. Betapa pun banyaknya kaunasehati mereka, dengan berbagai argumen yang masuk akal, dan berusaha agar mereka faham, mereka tidak mau mendengarkan meski mempunyai telinga, dan mereka bersikap seolah-olah mereka itu tuli.

Allah Yang Maha-tinggi berfirman: “Suatu masa akan tiba ketika akibat dari kelalaian dan kemasa-bodohannya ini akan menghadang mereka. Untuk itu mereka akan bisa mendengar; dan mengapa mereka tak bisa mendengar, karena bencana itu akan memukul telinga seperti sebuah ledakan dan akan menghunjam dalam-dalam di hati dan fikiran mereka”.

Akhirnya, inilah bagaimana supaya orang yang tuli itu bisa mendengar, yakni dengan berteriak. Begitu pula, bencana Hari Penghabisan yang akan menimpa telinga orang-orang yang mati ruhaninya adalah dengan suatu ledakan keras sehingga pada hari itu mereka akan memperhatikan dengan sepenuh hati kepada perkara yang tak ingin didengarnya dalam kehidupan duniawi. Tetapi apa gunanya mendengar pada hari itu karena ini akan menjadi hari Pengadilan dan saat itu sudah sangat terlambat. Suatu gambaran keadaan manusia pada hari itu diberikan dalam ayat-ayat berikut:

34. Pada hari tatkala orang lari dari saudaranya,

35. Dan ibunya dan ayahnya.

36. Dan isterinya dan anaknya.

Yakni untuk dikatakan, bahwa manusia akan dicekam oleh ketakutan dan kecemasan yang amat sangat dan ini adalah suatu keadaan dimana setiap orang fokus dengan dirinya sendiri, sehingga manusia tidak peduli lagi dengan saudara laki-lakinya, ataupun orang tuanya, isteri dan anak-anaknya. Selain itu, dia akan lari dari mereka dan berusaha membebaskan diri dari bebannya. Allah telah mempertontonkan keindahan dan keanggunan yang menakjubkan dalam frase bahasa ketika Dia menyebutkan pelbagai macam hubungan kemanusiaan, dimana hubungan kasih sayang ini disebutkan dengan susunan yang bertingkat dalam arti menjadi semakin dalam dan erat.

Pertama, Dia telah menyebut saudara laki-laki, dari siapa orang akan lari. Biasanya, seseorang tidak begitu sayang kepada saudara lelakinya, maka adalah mungkin bahwa seseorang itu lari dari saudara lelakinya namun pasti bukan dengan orang tuanya, karena hubungan kasih sayang dengan mereka lebih erat daripada dengan saudara laki-lakinya. Toh Allah berfirman: (Bahkan) mereka akan lari dari orang tuanya. Tetapi mungkin juga dia lari dari orang tuanya, tetapi tidak mungkin dari isteri dan anak-anaknya karena saat itu ikatan kasih-sayang dengan pasangannya itu sangat kuat dan penuh nafsu; sedangkan dengan anak-anaknya, tak ada simpul yang lebih erat lagi daripada hubungan seseorang dengan anak-anaknya. Karenanya, Allah berfirman: Dia juga akan lari dari isteri dan anak-anaknya. Yakni untuk dikatakan, bahwa dia akan berdiri tanpa dukungan seorangpun; dia akan lari dari mereka semuanya. Alasan untuk ini diberikan Allah dalam ayat berikutnya:

37. Pada hari itu tiap-tiap orang di antara mereka mempunyai kesibukan yang membuatnya tak peduli kepada orang lain.

Yakni untuk dikatakan, tak seorangpun akan peduli kepada orang lain dalam keadaan yang demikian. Teror pertanggung-jawaban atas amal perbuatannya membuat manusia lupa akan ikatan kasih sayang dan relasi keluarga; setiap orang akan menyelamatkan dirinya sendiri dan sangat ketakutan akan nasibnya. Kita dapat saksikan adegan ini bahkan dalam kehidupan saat ini juga. Ketika seseorang ditimpa penyakit yang serius, atau sedang jatuh dalam kesulitan atau ditimpa oleh kepapaan, maka dia cenderung kehilangan selera kepada isteri, anak-anak dan kerabatnya.

Ayat-ayat ini juga mengindikasikan bahwa setiap orang itu akan diminta untuk menjawab atas perilakunya sendiri dan catatan salah yang dipegang olehnya, bahwa ada pengecualian terhadap keturunan Nabi Suci s.a.w. atau putera dari orang suci tertentu akan bisa lolos dari azab pada hari Pengadilan karena nenek-moyangnya yang sangat terhormat, yang akan bisa menjadi perantara (wasilah) serta penyelamatnya, jelas ditolak di sini. Betapa benar dan terus-terang Nabi Suci s.a.w. ketika beliau bersabda kepada anak perempuannya, Sayidatina Fatimah r.a.: “Kenyataan bahwa aku adalah bapakmu tidak akan bisa menolongmu. Hanya amal perbuatanmulah yang bisa menyelamatkanmu”.

Begitu pula, beberapa orang telah menaikkan derajat putera Mujaddid atau Imam kepada kedudukan yang penuh kuasa dan mempercayakan masalah agama serta spiritual kepadanya. Setiap orang harus menjawab perilakunya sendiri-sendiri dan akan ditanyai tentang hal itu. Pada saat dia sendiri, harus tergusur dengan terburu-buru mundur dari isteri dan anak-anaknya sendiri, orang tua dan sanak-kerabatnya, maka bagaimana bisa dia menjadi perantara dan mengulurkan tangan pertolongan kepada para muridnya yang berfikir sederhana dan setia kepadanya? Hanya rahmat Allah saja yang dapat memberi uluran tangan kepada manusia, dan hanya amal salehnya sendiri yang dapat membuat dia berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh.

38. Pada hari itu wajah-wajah akan bersinar,

39. Tertawa, gembira.

Ini adalah mereka yang mengambil manfaat dari wahyu Allah serta petunjuk-Nya dan

muncul dengan penuh sukses dari ujian atas amal perbuatannya.

40. Dan pada hari itu wajah-wajah akan penuh debu.

41. Kegelapan menutupi (wajah) itu.

Ini adalah mereka yang tidak peduli kepada wahyu dan petunjuk Allah serta terus-menerus berbuat kejahatan serta gagal dalam ujian atas amalnya. Bahkan ujian yang dilangsungkan dalam kehidupan di dunia ini menyajikan adegan yang sama dengan kenyataan yang sangat jelas. Siswa yang berhasil menunjukkan kegembiraan, wajah yang ceria yang mencerminkan rasa senang di hati. Mulutnya tersungging penuh senyuman dan kebahagiaan serta tertawa memancar dari wajahnya. Sebaliknya, muka dari siswa yang gagal itu tertutup oleh debu kesusahan, kecemasan serta rasa malu dan wajahnya bak berselimut warna gelap. Begitu pula keadaan orang-orang yang tidak berhasil pada hari Pengadilan nanti, tetapi ingatlah bahwa kegagalan dan kehinaannya jauh lebih besar dan tak terbatas. Mengenai orang-orang ini yang telah gagal dengan mengenaskan, Allah menggambarkan alasan kegagalannya sebagai berikut:

42. Mereka adalah orang-orang yang kafir, yang jahat.

Mereka disebut kafir (tak beriman) karena mereka menolak beriman kepada kebenaran dan menunjukkan kekufuran kepada kemurahan Allah. Yakni, mereka tidak mau menerima santapan ruhani dan rahmaat Allah dalam bentuk Qur’an Suci, serta bergelimang dalam cara hidup mereka yang jahat. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang beriman kepada Qur’an Suci sebagai firman Ilahi tetapi tidak beramal sesuai dengannya. Pendeknya, akar masalah dari kegagalan itu adalah mendustakan firman Allah dan petunjuk-Nya serta tidak berbuat sesuai dengan petunjuk itu.

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Satu Tanggapan

  1. Thanks for this writing. It necessarys for me to commplete my assignment.
    Thank You.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: