Menag: Ahmadiyah Qadiyan yang Sesat

Suryadharma Ali (Menag RI 22-10-2009 s.d. Sekarang)

Jakarta (Pinmas)–Ahmadiyah terbagi menjadi menjadi dua aliran, Qadiyan dan Lahore. Namun Menteri Agama, Suryadharma Ali (SDA) hanya menyatakan Ahmadiyah Qadiyan yang sesat.

“Yang sesat adalah Ahmadiyah Qadiyan. Baca lebih lanjut

Pandangan Tokoh Nasional terhadap pemikiran Gerakan Ahmadiyah

H.O.S Tjokroaminoto – Pahlawan Nasional  (1882 – 1934)

biar berapapun “modern” nya keterangan-keterangan dalam karangan Maulwi Muhammad Ali itu, berapapun takluknya kepada ilmu pengetahuan (wetenschappelijk), akan tetapi sepanjang pendapatan penyelidikan saya, selamat ia daripada paham kebendaan (materialisme) dan daripada paham “ke-aqlian” (rationalisme), paham keghaiban (mistik), yang menyimpang daripada iman dan taukhid Islam yang benar. Tegasnya terpelihara ia daripada kesesatan Dahriyah, Mu’tazilah dan Batiniyah.

 

KUTIPAN PENGANTAR DARI HAJI AGUS SALIM*

“Tatkala pertama kali saya diajak bermusyawarah oleh saudara Haji ‘Oemar Sa’id Tjokro Aminoto tentang maksudnya dengan beberapa saudara bangsa kita daripada kaum Muslimin, akan mengusahakan salinan kepada bahasa Melayu daripada salinan dan tafsir Qur’an, karangan “Maulwi Muhammad ‘Ali”, seorang kaum terpelajar bangsa Hindi, yang telah beroleh gelaran M.A. dan L.L.B. daripada sekolah-sekolah tinggi Inggris, pada waktu itu tidak sedap hati saya.
Baca lebih lanjut

PENGERTIAN HAKIKI GERAKAN AHMADIYAH

Maulana Muhammad Ali, MA LLB

This article was taken out from Ahmadiyya Movement translated by H.E. Koesnadi in 1981. Some contents from this article were edited by editional staff to have some writting put in “Studi Islam”. Any reader who has great will and wants to get further more complete information can contact us. Our address is on “BUKU TAMU”

Ahmadiyah bukan suatu agama tersendiri.

Banyak sekali pengertian salah tentang Gerakan Ahmadiyah yang  dipahami oleh khalayak ramai. Pengertian yang amat tidak benar adalah, bahwa Ahmadiyah dikatakan sebagai suatu agama yang sama sekali terpisah dari agama Islam, seperti “Babisme atau Bahaisme”. Dasar pemikiran keliru ini, berasal dari anggapan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari Qadiyan, Pendiri Gerakan Ahmadiyah ini telah melakukan pendakwahan pada tingkat kenabian. Pernyataan ini terbukti tidak benar, sebagaimana dijelaskan dalam halaman-halaman sebelumnya. Tetapi ada pula orang-orang yang melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa para Ahmadi memiliki kalimat syahadat dan cara bershalat yang berlainan dengan kaum muslimin lainnya, mempunyai kitab suci lain disamping Qur’an Suci, dan berbeda pula Kiblatnya1. Semua tuduhan itu tidak beralasan sama sekali. more

Ahmadiyah Lahore tidak Terkena Aturan SKB

Terkait diterbitkannya SKB tiga menteri, Menteri Agama menjelaskan, SKB tidak berlaku bagi Ahmadiyah Lahore dengan organisasinya di Indonesia bernama GAI. “Karena itu, Ahmadiyah Yogyakarta tenang-tenang saja karena Lahore,” katanya.

Menag mengatakan, dalam perkembangannya, Ahmadiyah terpecah menjadi dua, yaitu Ahmadiyah Qodian yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan Ahmadiyah Lahore yang tetap mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan hanya mengakui Mirza Ghulan Ahmad sebagai pembaharu.

KESRA–12 JUNI: Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan, dari dua aliran Ahmadiyah yaitu Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore, aliran Ahmadiyah Lahore tidak terkena aturan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Medagri dan Jaksa Agung tentang Ahmadiyah pada 9 Juni 2008.
Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Bab I, Qur’an Suci (2)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Buku manakah yang bukan saja selama tigabelas abad dalam sejarah manusia, tetap diakui menjadi standard bahasa yang ditulis dalam buku itu, bahkan menjadi sumbernya perpustakaan yang luas di dunia? Buku-buku yang baik yang usianya hanya separoh usia Qur’an Suci, kini tak lagi menjadi standard bahasa dari bahasa yang ditulis di dalam buku itu. Prestasi yang dicapai oleh Qur’an Suci benar-benar tak ada taranya dalam seluruh sejarah bahasa yang ditulis.

Hadits tentang nasikh-mansukh

Imam Tabrasi berkata: “Semua Hadits yang menerangkan nasikh-mansukh itu lemah sekali (dla’if)“. Tetapi aneh sekali bahwa teori nasikh-mansukh itu masih tetap dipakai oleh para pengarang yang satu lepas pengarang yang lain tanpa pernah dipikir bahwa tak satu Hadits pun, betapa pun lemahnya Hadits yang menyentuh persoalan nasikh-mansukh ini, dapat ditelusuri sampai kepada Nabi. Tak pernah terpikir oleh para ulama yang mengangkat teori nasikh-mansukh ini, bahwa ayat-ayat Qur’an diundangkan oleh Nabi, dan beliaulah yang memiliki wewenang untuk memansukh ayat-ayat tertentu, Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Bab I, Qur’an Suci (1)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Daya kemampuan para Nabi untuk menerima Firman Allah begitu tinggi perkembangannya hingga mereka mampu menerima risalah Ilahi, yang ini bukan hanya berbentuk angan-angan yang dimasukkan ke dalam kalbu, atau berbentuk kata-kata yang diucapkan atau didengar dibawah pengaruh Roh Suci, melainkan pula benar-benar risalah Tuhan dalam bentuk kata-kata yang disampaikan melalui Roh Suci (malaikat Jibril). Menurut istilah Islam, ini disebut wahyu matluw atau wahyu yang dibaca dan dalam bentuk inilah Qur’an Suci dari awal hingga akhir disampaikan kepada Nabi Suci.

Bagaimana dan bilamana Qur’an Suci diturunkan

Sumber asli (1)dari semua ajaran dan syari’at Islam ialah Kitab Suci yang disebut al-Qur’an (2) Kata Qur’an berulangkali disebutkan dalam Kitab itu sendiri (2:185; 10:37, 61; 17:106 dan sebagainya) yang menguraikan pula kepada siapa, bilamana, dalam bahasa apa, serta bagaimana dan mengapa Qur’an itu diturunkan. Qur’an diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Qur’an berfirman: “Dan yang beriman kepada apa yang diwahyukan kepada Muhammad, dan ini kebenaran dari Tuhan mereka” (47:2). Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Muqadimah; Pengertian “Agama Islam”

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian  dan orang Muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah artinya, berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya, dan damai dengan manusia bukan saja berarti menyingkiri berbuat jahat atau sewenang-wenang kepada sesamanya melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya.

 

Islam bukan Muhammadanisme

Masalah penting yang pertama kali harus diperhatikan dalam membahas agama 1 Islam ialah, bahwa nama agama ini bukanlah Muhammadanisme seperti anggapan orang Barat pada umumnya, melainkan Islam. Muhammad adalah nama Nabi yang kepadanya agama ini diwahyukan. Para penulis Barat mengambil nama beliau sebagai nama agama ini yaitu Muhammadanisme, berdasarkan analogi nama-nama agama seperti Christianity, Buddhisme, Confusianisme dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Tafsir Surat (83) At-Tatfif (Melalaikan kewajiban)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini, At-Tatfif (Melalaikan kewajiban), termasuk golongan wahyu permulaan yang turun pada masa awal Mekkah. Jika dalam surat sebelumnya, Al-Infitar (Terbelah), mengungkapkan rahasia pencatatan amal perbuatan kita baik berupa amal kebaikan dan kejahatan yang terekam rapi dan tiada yang terlewat sedikitpun sehingga manusia dapat dibagi dalam dua klasifikasi golongan, yakni golongan manusia yang  tulus atau manusia golongan jahat, maka didalam surat ini kita disajikan tentang gambaran lebih lanjut dari dua klasifikasi golongan tersebut. Baca lebih lanjut

Tafsir SURAT (82) AL-INFITHAR : TERBELAH

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini termasuk Surat yang turun pada masa awal Mekkah, dan seperti surat sebelumnya, At-Takwir ( yang berarti Melipat), hal ini membuktikan melalui nubuwat, bahwasannya manusia itu pada prinsipnya harus bertanggung-jawab atas semua amal perbuatannya. Meski ada satu perbedaan pada konteksnya. Didalam surat sebelumnya (At-Takwir), tergenapinya nubuatan (ramalan) akan kejayaan yang disebutkan disana menyangkut kejayaan pada Abad Akhir, sedangkan tanda-tanda istimewa yang terdapat dalam surat ini (Al-Infithr) berkaitan dengan kejayaan dan kemenangan yang dicapai pada masa kehidupan Nabi Suci Muhammad s.a.w. Tergenapinya nubuatan tersebut nampak jelas pada masa hidup beliau, sehingga kejayaan serta keagungan tersebut dapat disaksikan hingga melampaui abad-abad sesudahnya hingga saat ini. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-b], Ke-Esaan Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Keesaan Allah

Semua pokok ajaran Islam dibahas sepenuhnya dalam Qur’an Suci, demikian pula ajaran iman kepada Allah, yang intinya adalah beriman kepada Keesaan Allah (tauhid). Kalimah Tauhid yang sudah terkenal ialah laa ilaaha illallah. Kalimah ini terdiri dari empat perkataan, yakni la (tidak), ilaaha (Tuhan), illa (kecuali), Allah (nama Tuhan yang sebenarnya). Jadi, kalimah itu yang biasa diterjemahkan tak ada Tuhan selain Allah,mengandung arti, bahwa tak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Kalimah syahadat inilah yang jika digabungkan dengan syahadat Rasul -Muhammadur-Rasulullah- orang sudah diakui sah sebagai orang Islam. Baca lebih lanjut

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-a], Adanya Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Pengalaman jasmani, batin, dan rohani manusia

Dalam semua Kitab Suci, adanya Allah dianggap sepenuhnya sebagai kebenaran axioma. Akan tetapi Qur’an Suci mengemukakan banyak bukti untuk membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Dalam uraian ringkas ini, kami hanya bisa menyebutkan tiga bukti yang amat penting, yang terutama sekali dibahas di dalam Qur’an Suci. Pertama, bukti yang diambil dari peristiwa alam, yang dapat disebut pengalaman rendah atau pengalaman jasmani manusia. Kedua, bukti tentang kodrat manusia, yang disebut pengalaman batin manusia. Ketiga, bukti yang didasarkan atas Wahyu Ilahi kepada manusia, yang dapat disebut pengalaman tertinggi atau pengalaman rohani manusia. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 251 pengikut lainnya.