Ahmadiyah Lahore tidak Terkena Aturan SKB

Terkait diterbitkannya SKB tiga menteri, Menteri Agama menjelaskan, SKB tidak berlaku bagi Ahmadiyah Lahore dengan organisasinya di Indonesia bernama GAI. “Karena itu, Ahmadiyah Yogyakarta tenang-tenang saja karena Lahore,” katanya.

Menag mengatakan, dalam perkembangannya, Ahmadiyah terpecah menjadi dua, yaitu Ahmadiyah Qodian yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan Ahmadiyah Lahore yang tetap mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan hanya mengakui Mirza Ghulan Ahmad sebagai pembaharu.

KESRA–12 JUNI: Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan, dari dua aliran Ahmadiyah yaitu Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore, aliran Ahmadiyah Lahore tidak terkena aturan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Medagri dan Jaksa Agung tentang Ahmadiyah pada 9 Juni 2008.
Baca selebihnya »

PENGERTIAN HAKIKI GERAKAN AHMADIYAH

Maulana Muhammad Ali, MA LLB

This article was taken out from Ahmadiyya Movement translated by H.E. Koesnadi in 1981. Some contents from this article were edited by editional staff to have some writting put in “Studi Islam”. Any reader who has great will and wants to get further more complete information can contact us. Our address is on “BUKU TAMU”

Ahmadiyah bukan suatu agama tersendiri.

Banyak sekali pengertian salah tentang Gerakan Ahmadiyah yang  dipahami oleh khalayak ramai. Pengertian yang amat tidak benar adalah, bahwa Ahmadiyah dikatakan sebagai suatu agama yang sama sekali terpisah dari agama Islam, seperti “Babisme atau Bahaisme”. Dasar pemikiran keliru ini, berasal dari anggapan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari Qadiyan, Pendiri Gerakan Ahmadiyah ini telah melakukan pendakwahan pada tingkat kenabian. Pernyataan ini terbukti tidak benar, sebagaimana dijelaskan dalam halaman-halaman sebelumnya. Tetapi ada pula orang-orang yang melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa para Ahmadi memiliki kalimat syahadat dan cara bershalat yang berlainan dengan kaum muslimin lainnya, mempunyai kitab suci lain disamping Qur’an Suci, dan berbeda pula Kiblatnya1. Semua tuduhan itu tidak beralasan sama sekali. more

Pandangan Tokoh Nasional terhadap pemikiran Gerakan Ahmadiyah

H.O.S Tjokroaminoto – Pahlawan Nasional  (1882 – 1934)

biar berapapun “modern” nya keterangan-keterangan dalam karangan Maulwi Muhammad Ali itu, berapapun takluknya kepada ilmu pengetahuan (wetenschappelijk), akan tetapi sepanjang pendapatan penyelidikan saya, selamat ia daripada paham kebendaan (materialisme) dan daripada paham “ke-aqlian” (rationalisme), paham keghaiban (mistik), yang menyimpang daripada iman dan taukhid Islam yang benar. Tegasnya terpelihara ia daripada kesesatan Dahriyah, Mu’tazilah dan Batiniyah.

 

KUTIPAN PENGANTAR DARI HAJI AGUS SALIM*

“Tatkala pertama kali saya diajak bermusyawarah oleh saudara Haji ‘Oemar Sa’id Tjokro Aminoto tentang maksudnya dengan beberapa saudara bangsa kita daripada kaum Muslimin, akan mengusahakan salinan kepada bahasa Melayu daripada salinan dan tafsir Qur’an, karangan “Maulwi Muhammad ‘Ali”, seorang kaum terpelajar bangsa Hindi, yang telah beroleh gelaran M.A. dan L.L.B. daripada sekolah-sekolah tinggi Inggris, pada waktu itu tidak sedap hati saya.
Baca selebihnya »

Menag: Ahmadiyah Qadiyan yang Sesat

Suryadharma Ali (Menag RI 22-10-2009 s.d. Sekarang)

Jakarta (Pinmas)–Ahmadiyah terbagi menjadi menjadi dua aliran, Qadiyan dan Lahore. Namun Menteri Agama, Suryadharma Ali (SDA) hanya menyatakan Ahmadiyah Qadiyan yang sesat.

“Yang sesat adalah Ahmadiyah Qadiyan. Baca selebihnya »

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-b], Ke-Esaan Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Keesaan Allah

Semua pokok ajaran Islam dibahas sepenuhnya dalam Qur’an Suci, demikian pula ajaran iman kepada Allah, yang intinya adalah beriman kepada Keesaan Allah (tauhid). Kalimah Tauhid yang sudah terkenal ialah laa ilaaha illallah. Kalimah ini terdiri dari empat perkataan, yakni la (tidak), ilaaha (Tuhan), illa (kecuali), Allah (nama Tuhan yang sebenarnya). Jadi, kalimah itu yang biasa diterjemahkan tak ada Tuhan selain Allah,mengandung arti, bahwa tak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Kalimah syahadat inilah yang jika digabungkan dengan syahadat Rasul -Muhammadur-Rasulullah- orang sudah diakui sah sebagai orang Islam. Baca selebihnya »

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-a], Adanya Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Pengalaman jasmani, batin, dan rohani manusia

Dalam semua Kitab Suci, adanya Allah dianggap sepenuhnya sebagai kebenaran axioma. Akan tetapi Qur’an Suci mengemukakan banyak bukti untuk membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Dalam uraian ringkas ini, kami hanya bisa menyebutkan tiga bukti yang amat penting, yang terutama sekali dibahas di dalam Qur’an Suci. Pertama, bukti yang diambil dari peristiwa alam, yang dapat disebut pengalaman rendah atau pengalaman jasmani manusia. Kedua, bukti tentang kodrat manusia, yang disebut pengalaman batin manusia. Ketiga, bukti yang didasarkan atas Wahyu Ilahi kepada manusia, yang dapat disebut pengalaman tertinggi atau pengalaman rohani manusia. Baca selebihnya »

Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Kekinian [6a]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tafsir dalam konteks sejarah dan dalam konteks ayat dan surat di atas sebenarnya tetap relevan dan signifikan dengan tafsir dalam konteks kekinian, karena Al Fatihah merupakan intisari Al Quran petunjuk bagi umat manusia untuk sepanjang zaman di mana saja ia berada. Signifikasi hidayah Al Fatihah dewasa ini terutama sebagai surat permohonan (sûratud-du’â’) dibagi menjadi dua bagian yang saling berhubungan. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah pernah Tuhan menurunkan sebuah kitab seperti Al Fatihah yang tujuh ayatnya ini, baik dalam Injil maupun dalam Taurat, dan Allah Ta’ala berfirman bahwa surat ini terbagi antara Aku dan hamba-hamba-Ku dan mereka yang berdoa serta mengamalkan isi surat itu pastilah Kuterima dan Kuwujudkan kehendak mereka” (H. R. Nasa’i dari Ubay bin Ka’ab r.a.).

Kedua bagian itu, pertama mengenai aspek Tuhan, kedua mengenai aspek insan, baik secara individual maupun kolektif. Keduanya saling berhubungan. Hubungannya sebagai berikut: Baca selebihnya »

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 4 – 7 [5]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Akhirnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa kenikmatan Ilahi tertinggi, berupa wahyu Ilahi, tidak hanya dikaruniakan kepada para Nabi saja, tetapi juga dikaruniakan kepada orang-orang tulus yang mengikuti jalan yang benar. Al-Quran memberikan contoh, wahyu Ilahi dikaruniakan kepada orang-orang tulus yang bukan Nabi, misal-nya: kepada ibu Nabi Musa (20:38) dan kepada murid-murid Nabi Isa (5:111), dan wahyu-wahyu dalam bentuk seperti itu dijanjikan pula kepada orang-orang tulus di antara umat Islam sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw.: “Di antara mereka terdapat orang yang diberi firman Allah, sekalipun mereka bukan Nabi” (Bukhari)

Ayat keempat Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, artinya kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kata na’budu artinya kami mengabdi, mengandung pengertian ketaatan yang disertai dengan segenap kerendahan hati (TA), yakni ketaatan kepada perintah Ilahi, pandangan, hukum, norma, dan nilai yang termaktub dalam Al-Quran, agar akhlak Ilahiyah menyerap ke dalam hati sanubari kita, Baca selebihnya »

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 2 dan 3 [4]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Singkatnya, tak ada satu perbuatan pun, baik atau jahat, tanpa akibat mengadakan perubahan yang halus sekali pada kepribadian kita (10:63; 34:3). Jika manusia tak melihatnya dalam kehidupan di dunia ini, maka di akhirat pun masih ada ‘hari pembalasan’. Tiap-tiap jiwa bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya (6:52; 52:21), dan “tiada pemikul beban memikul beban orang lain” (6:165; 53:38). Manusia tak mungkin melakukan pelanggaran hukum Ilahi tanpa memperlakukan jiwanya tak adil (65:1; 69:25-32) dan tanpa menghukum dirinya sendiri (30:9, 10), sebab dia tak dapat menyembunyikan atau melarikan diri dari akibat perbuatan pada jiwanya (17:13-14). Sekalipun kesalahannya tak diketahui orang lain atau dia menutup-nutupi, memperkecil atau memperelok-elok kejahatannya – misalnya dengan dalih “kebanyakan orang berbuat begitu, mengapa saya tidak?” – namun struktur fitriah jiwanya sedemikian rupa sehingga dalam batinnya selalu ada yang mengusahakan agar dia dihukum juga tanpa disadarinya (36:4). Dalam beberapa hal, misalnya jika ada penyesalan mendalam akan suatu pelanggaran yang telah dilakukannya (2:167) atau jika dia dalam keadaan merana karena kesedihan (14:17) atau jika dia menurut kepada hawa nafsunya saja, sehingga akhirnya ada dalam belenggu kejahatan (2:81), maka perbuatannya itu dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang sama sekali tak mungkin disadarinya, karena proses-proses itu berlangsung dalam akhfâ’, yaitu dalam apa yang lebih tak mungkin lagi ditangkap dengan indera-indera (20:7)

Ayat kedua, arrahmânir-rahîm. Di sini Rububiyah Ilahi, yakni perbuatan Ilahi memelihara, mengatur, dan memimpin ciptaan-Nya ke arah kesempurnaan – termasuk manusia – dinyatakan dengan dua kata, Arrahmân dan Arrahîm. Keduanya berasal dari kata rahmat yaitu riqqatun taqtadil-hisâna ilal marhûm, kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti perbuatan baik terhadap yang disayangi. Digubah menjadi Rahmân – mengikut wazan fa’lân untuk menunjukkan tingkat perbandingan yang tertinggi – berarti rahmat yang tertinggi, Yang Maha-pengasih. Artinya, Kasih-sayang-Nya demikian besar, sehingga Dia telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk, yang sesuatu itu telah diciptakan sebelum adanya, yang diciptakan dan disediakan, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa, Baca selebihnya »

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 1 [3]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Ayat pertama, Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, yang biasanya diterjemahkan segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian Alam. Dalam ayat ini ada empat kata kunci, yaitu: alhamd, Allah, Rabb, dan al’âlamîn.

Kata alhamd, segala puji yang dipakai oleh Allah SWT, bukan kata syukur, madah dan tsana. Syukur berarti menyatakan terimakasih untuk segala macam karunia yang telah diterima; tsana menunjukkan pikiran terimakasih supaya diumumkan, dan madah mengandung arti pujian yang diwujudkan bukan dengan ikhlas, seperti dalam sabda Rasulullah saw. “Ihsu’turaba fi wujuhil-madahina” artinya “Curahkanlah abu di muka orang-orang yang memuji dengan rasa palsu!” Baca selebihnya »

Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Sejarah [2]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tiga ayat pertama menerangkan tentang nama diri Tuhan, Allah, dengan empat sifat utamanya, yaitu: Rabb, Rahmân, Rahîm, dan Mâliki yaumiddîn, yang semuanya menyatakan keagungan dan kemuliaan serta keterpujian Dzat Tuhan. Tiga ayat terakhir membeberkan hasrat jiwa manusia yang menyala-nyala di hadapan Tuhan Yang Maha-pencipta lagi Maha-pengasih dan penyayang, untuk berjalan di jalan yang benar, yaitu jalan mereka yang telah dikaruniai nikmat Ilahi, yakni para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin, bukan jalan yang menyimpang ke kanan, sebagaimana kaum Yahudi, dan bukan pula jalan yang menyimpang ke kiri, sebagaimana kaum Kristiani.

Ada berbagai pendapat tentang pewahyuan surat ini. Sementara pakar berpendapat surat ini diwahyukan dua kali, di Mekah dan Madinah. Tetapi menurut jumhur ulama diwahyukan di Mekah pada zaman permulaan kenabian. Muhammad Izah Darwazah menempatkan pada urutan nomor lima, sesudah surat nomor 74 Al-Muddatstsir, wahyu ke-4. Sesudah surat Al-Fatihah, diwahyukan surat nomor 111, Al-Lahab. Jadi dalam menafsirkan surat ini dalam Konteks Sejarah sekurang-kurangnya perlu memahami surat Al-Muddatstsir yang mendahuluinya dan surat Al-Lahab yang mengikutinya, wahyu ke-6. Baca selebihnya »

Serial Islamologi – Rukun Iman; Iman Kepada Para Nabi [3]

 Iman Kepada Para Nabi

Oleh: Maulana Muhammad Ali MA. LLB.

Iman dan Islam

Kata iman makna aslinya keyakinan hati, sedang kata Islam makna aslinya tunduk, maka dari itu, Islam terutama sekali bertalian dengan perbuatan. Perbedaan makna asli ini diuraikan seterang-terangnya dalam Qur’an dan Hadits, walaupun dalam penggunaan sehari-hari, dua-duanya mengandung arti yang sama, dan kata mukmin dan muslim acapkali digunakan dalam Qur’an dan Hadits silih berganti. Contoh penggunaan kata iman dan islam dalam Qur’an Suci diuraikan dalam 49:14: “Para penduduk padang pasir berkata: Kami beriman (amanna dari kata iman); katakanlah: Kamu tidaklah beriman, tetapi katakanlah: kami tunduk (aslama dari kata islam); Baca selebihnya »

Tafsir Surat Al-Fatihah: Pengantar [1]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Dengan nama Allah Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih
Segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian alam
Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang
Yang memiliki Hari Pembalasan
Kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan
Pimpinlah kami pada jalan yang benar
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang-orang yang terkena murka dan bukan pula (jalan) orang yang sesat

Surat Alfâtihah, lengkapnya Fâtihatul-kitâb artinya Pembukaan Kitab. Surat ini dikenal dengan berbagai nama, misalnya:

  1. Sab’un minal-matsâni, tujuh ayat yang selalu diulang (15:87), karena tujuh ayatnya selalu diulang oleh setiap orang Islam dalam salatnya. Menurut Zajjaj dan Abu Hayyan, nama ini mengandung puji-pujian kepada Tuhan. Baca selebihnya »

Hakekat Shalat dan Doa

Oleh: MAULANA KALAMAZAD MOHAMMED

Tidak ada di dunia ini, dimana Allah Yang Maha-tinggi telah menunjukkan tidak saja kesenangan, melainkan juga satu kenikmatan yang mencolok. Seperti halnya orang sakit yang tidak dapat mencecap kenikmatan dari hidangan yang paling nikmat, lalu menganggapnya pahit atau kehilangan selera; dengan cara yang sama, orang-orang yang tidak menemukan kesenangan dalam ibadah mereka hendaknya merenungkan penyakitnya ini. (Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)

Setiap agama mengajarkan pentingnya doa dan tak seorang nabi pun datang ke dunia tanpa menyeru umatnya agar berdoa dengan sungguh-sungguh. Meskipun demikian, dengan mengabaikan hal ini, banyak orang, khususnya di zaman modern ini, tidak sadar akan esensi atau hakekat doa; yakni, bagaimana berdoa sedemikian rupa sehingga jiwa kita bisa mengadakan hubungan dengan Rabb dan Tuhan kita. Hal ini tidak berlebihan  jika dikatakan bila hubungan dengan Tuhan ini dilakukan, banyak masalah kita – baik pribadi maupun masyarakat – agaknya akan  bisa dikelola lebih baik daripada yang nampak saat ini dan apa yang tampaknya bagaikan kegelapan akan berubah menjadi cahaya terang. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.