Tafsir SURAT (79) AL-NAZI’AT : ORANG YANG MERINDUKAN (Bagian 1)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini berjudul An-Nazi’at, yang kata ini dicantumkan dalam ayat pertama; Surat ini melukiskan sekelompok atau segolongan kaum mukmin yang ditentukan untuk melaksanakan pembaharuan didunia. Adapun ciri khas mereka disebutkan dalam empat ayat pertama Surat ini (1) orang yang menyala-nyala rindunya kepada Allah; (2) orang yang pergi dengan gembira menghadapi segala perlawanan; (3) orang yang berlari dengan cepat dalam membela kebenaran; (4) orang yang mendahului semua umat yang dahulu mempunyai kerinduan yang sama kepada Allah, dan mereka adalah orang yang mengatur perkara. Ayat-ayat ini segera diikuti oleh ayat yang menubuatkan (meramalkan) revolusi besar yang akan terlaksana dengan perjuangan.

Surat ini diturunkan di Mekkah pada awal masa dakwah Nabi Suci. dalam Surat 78, (An-Naba) Pemberitahuan; menyatakan kepada kita bahwa setiap amal perbuatan kita akan membawa konsekwensinya masing-masing. Di sini, kita dinasihati bahwa semaksimal mungkin kita harus beramal, dan perbuatan kita karenanya harus dijalankan sampai batas kesempurnaannya.

Ayat-ayat berikut ini menerangkan bagaimana melakukannya:

RUKUK  1 : GETARAN BESAR

1.   Demi orang yang merindukan dengan sangat!

Allah Ta’ala telah menggunakan sumpah dalam Qur’an Suci di beberapa tempat. Namun, ada suatu perbedaan dalam sumpah manusia dan sumpah dari Yang Maha-kuasa. Bila kita bersumpah, kita memanggil Allah sebagai saksi dan bila kita tidak berkata benar, maka kita boleh dihukum berat. Lagi pula, kita selalu memerlukan sarana dan peralatan untuk mendukung klaim kita. Sebaliknya, bila Allah Yang Maha-tinggi bersumpah, Dia menggelar tanda bukti tertentu dari alam semesta ini untuk membuktikan dan menekankan klaim yang di sampaikan-Nya. Tidak ada pertanyaan mengenai hukuman bagi-Nya, atau pun mencari sarana atau peralatan untuk memperkuat sumpah-Nya.

Dalam surat ini, Allah Ta’ala bersumpah dengan lima macam perkara, semuanya menunjukkan tingkatan yang berbeda dalam amal perbuatan kita sebelum mencapai titik kesempurnaan. Ungkapan dalam bahasa Arab “aghraqa fil naza’i” artinya seseorang harus berbuat sesuatu hingga sempurna atau mencapai batas tertinggi dalam usahanya. Maka, ayat: “Wan nazi’ati gharq” Demi orang yang merindukan dengan sangat!; merujuk kepada mereka, yang berarti bila memulai suatu tugas, seseorang harus mempersiapkan diri sepenuhnya dari segala hal yang mengacaukan fikiran dan meresapkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan mereka dengan konsentrasi dan pengabdian yang penuh. Apakah sedang menuntut ilmu atau melaksanakan tugas, mereka terlibat atau “menenggelamkan diri” di dalamnya hingga mereka menyelesaikannya dengan sempurna (Gharaqa secara harfiah berarti tenggelam).

Bangsa Eropa adalah tuan dalam seni ini. Agar menjadi sempurna dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu, mereka meninggalkan semua disiplin ilmu yang lain dan memusatkan dirinya dalam cabang yang bersangkutan serta mengejarnya hingga ke batas akhir. Empat belas abad yang lalu, Qur’an Suci telah mulai mengajarkan manusia jika dia memulai suatu tugas baru, maka dia harus menyerap dirinya sepenuhnya di dalamnya, sebab bila dia tidak memusatkan diri sepenuhnya dengan tujuan dan pemikiran pada satu-satunya hal yang sedang dilakukan, dia tak akan bisa mencapai kesempurnaan terhadap apa yang didambakan. Misalnya, marilah kita ambil contoh dalam tugas penyiaran Islam. Bila kita tidak mengabdikan diri kita sepenuh perhatian terhadapnya dan mengaitkannya dengan bermacam-macam gerakan politik atau memecah energi kita dengan segala macam persoalan politik atau hal-hal yang lain, maka kita tidak akan pernah bisa meraih sukses dalam memekarkan keindahan agama kita.

2. Dan orang yang pergi dengan gembira!

Di awal setiap pekerjaan, jika tidak ada pendalaman dan penyerapan secara total, maka tugas itu akan menjadi beban yang berat bagi orang itu dan dia akan mengerjakannya dengan banyak kesulitan serta perasaan terpaksa. Sebaliknya, bila dia menyelam kedalamnya secara total dan memusatkan perhatian dengan menyingkirkan segala hal yang lain, maka dia akan dapat menumbuhkan rasa cinta atas tugas yang dipilihnya atau bidang ilmu yang ditekuninya, dan alih-alih menganggapnya sebagai beban, bahkan dia akan mengalami suatu rasa suka-cita di dalamnya.

3.   Dan orang yang berlari dengan cepat!

Jika seseorang itu mengabdikan diri kepada tugasnya dengan sikap semacam ini, maka ayat selanjutnya menyatakan kepada kita: “Dan orang yang berlari dengan cepat”, bahwa dia akan memperoleh kecakapan dan pengalaman sedemikian rupa sehingga dia tidak sulit dalam menunaikan tugasnya itu. Dalam kenyataannya, dia akan melaksanakan pekerjaannya dengan effisien, mudah dan cepat sedemikian rupa seolah berenang disungai tanpa usaha dan penuh kegembiraan.

4. Dan orang yang mendahului paling depan!

Partikel “fa” (kemudian) digunakan untuk memberi tahu kita akibat dari perbuatan tertentu dan partikel ini dipakai di sini dalam sumpah yang berikutnya untuk mengungkapkan kepada kita konsekwensi dari perbuatan kita yang disebutkan dalam tiga ayat pertama yang memberikan penjelasan kepada kita prasyarat yang diperlukan demi kesempurnaan setiap perkara. Misalnya, ayat pertama memberi tahu bahwa kita memerlukan penghayatan total dalam tugas dan juga konsentrasi serta pendalaman. Ayat kedua menasihati agar kita mengembangkan rasa cinta terhadap tugas, sedangkan ayat ketiga menyeru kepada kita untuk menyingkirkan setiap hambatan dan mengejar tugas kita dengan mudah, efisien dan cepat.

Kedua ayat berikut mengungkapkan kepada kita hasil dari perbuatan semacam itu.Yakni, setiap pribadi atau siapa saja yang memenuhi persyaratan ini dalam menuntut ilmu atau mengerjakan tugas tertentu akan bisa mengatasi persoalan yang timbul dan akan unggul secara nyata dalam bidangnya dibanding yang lain.

5.   Dan orang yang mengatur perkara.

Yakni, suatu masyarakat atau seseorang semacam itu yang begitu maju sehingga bisa mengatur atau mengelola masalah mereka sendiri. Mereka mendapatkan keahlian semacam itu sehingga bila keahlian untuk mengatur itu diperlukan, maka merekalah yang pertama dipilih karena keunggulan teknis mereka telah menyisihkan semua pesaing lainnya. Inilah sebabnya mengapa dalam jangka pendek duapuluhtiga tahun, Allah Ta’ala telah mengubah masyarakat Nabi Suci s.a.w. yang murni dan tulus menjadi ahli manajemen, karena umat yang diberkahi ini telah melewati setiap tahap dari perjalanan praktis ini dalam sikap yang terbaik dan dengan waktu yang sesingkat mungkin. Mereka telah menjadi mumpuni dalam mengatasi masalah sehingga mereka menjadi pembawa obor reformasi, ilmu dan kebudayaan ke seluruh dunia dan akibatnya secara otomatis baik politik maupun pemerintahan jatuh ke tangan mereka.

Kini, kaum Muslimin meneriakkan perlunya pemerintahan sendiri, tetapi bila mereka tidak menjalani lima tahap menuju kesempurnaan ini, bagaimana mereka benar-benar bisa mengaturnya secara independen? Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam zaman abad ini, suatu kali telah menerima wahyu Allah Ta’ala sebagai berikut: “Bila kaum Muslimin tidak benar-benar menjadi Muslim dalam kata dan perbuatan, maka zaman keemasannya tidak akan bisa muncul kembali”.

Pendeknya, kaum Muslimin bisa menjadi benar-benar Muslim bila dalam kehidupan sehari-harinya, mereka menempuh seluruh lima tahap yang telah kita sajikan dari ayat-ayat di atas. Hari ini, kaum Muslimin menjadi korban kedzaliman dan masa-bodoh. Kualitas konsentrasi dan fokusnya perhatian yang pernah dibanggakan telah lenyap dan karya apa pun yang dilakukan, baik bersifat duniawi ataukah ukhrawi, dilakukan dengan acak-acakan dan akibatnya adalah bahwa dalam derap kemajuan bangsa-bangsa, kita telah jauh tertinggal.

Sungguh sedih untuk dikatakan, bahwa kita tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah, karena bila kita menegakkan salat, maka itu dilakukan dengan setengah hati. Kita agaknya tidak menyadari bahwa bila kita benar-benar mengabdikan diri kita dalam salat dengan penuh perhatian dan konsentrasi maka salat kita akan menjadi sumber mi’raj (peningkatan ruhani) bagi kita, sebagaimana Nabi Suci menyatakan: “Salat adalah mi’raj dari kaum mukmin”.

Untuk mencapai persatuan dengan Allah, para Sufi telah memakai lima langkah yang telah kita uraikan di atas dalam salatnya: (1).   Memutus semua nafsu rendah dan ego dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan pencelupan total dalam cinta-Nya. (2).   Menemukan kebahagiaan dan kegairahan dalam setiap gerak dan setiap aspek salat. (3).   Meraih kemajuan spiritual dan kesempurnaan dalam salat hingga menjadi (4).   Pelopor di depan bagi orang-orang lain, dan (5).   Menjadi begitu berharga dan bermutu hingga mendorong dan membimbing yang lain dalam perjalanannya menuju pencerahan ruhani.

6.   Pada hari tatkala yang menggetarkan bergetar (rajifah)

7.   Suatu akibat akan mengikutinya (radifah)

Kata “rajifah” biasanya dipercaya sebagai tiupan terompet yang pertama pada “Saat” (Kiamat). Pada hari Kebangkitan, seluruh sistim yang ada di dunia ini seluruhnya akan dibinasakan. “Radifah” dipercaya sebagai tiupan terompet yang kedua ketika seluruh bangsa-bangsa di dunia ini, dari awal sampai akhir, akan dikumpulkan bersama-sama dihadirat Allah Yang Maha-kuasa dan pada hari itu bagi mereka yang sempurna amal perbuatannya dalam hidup ini akan menjadi penerima kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Penulis tidak keberatan terhadap kepercayaan ini dan beranggapan bahwa kemungkinan besar penafsiran diatas memang valid. Namun, ada pandangan lain yang dapat dihadirkan. Allah berkata bahwa tak pelak lagi manifestasi dari kesempurnaan amal perbuatan serta konsekwensinya yang telah terjadi pada masa Nabi Suci sungguh tak ada tandingannya dalam sejarah kemanusiaan dan tak ada yang bisa mengunggulinya di kemudian hari.

Karena itu, dalam surat ini, “rajifah” (tiupan pertama dari terompet) merujuk kepada timbulnya gempa bumi yang telah terjadi dalam bentuk perang di jazirah Arab pada saat kedatangan Nabi Suci. Jadi, ayat-ayat ini  juga berarti bahwa suatu hari akan datang dengan cepat suatu gempa  besar yang  akan bergetar. Ini adalah ungkapan kiasan yang cerdas yang menunjukkan bahwa gempa hebat akan mengguncang tanah itu. Yakni, peperangan yang berbahaya, guncangan hebat dan badai dahsyat yang akan menggetarkan seluruh Arab sampai ke akarnya dengan datangnya Islam.

Dalam ayat: “Suatu akibat akan mengikutinya”, Qur’an Suci memberi tahu kita bahwa suatu revolusi yang tak terelakkan akan mengikuti gempa dahsyat  itu. Seperti apa fenomena  yang akan mengikuti sesudah gempa ini? Tak diragukan lagi bahwa hal ini secara tidak langsung menunjuk kepada  transformasi yang agung yang telah berlangsung di negeri yang dibangunkan oleh guncangan gempa itu, suatu revolusi yang didahului dengan guncangan di dalam  yang menimbulkan kegemparan hebat di antara rakyat. Setelah itu lalu menyusul masa-masa damai, sukses dan makmur. Inilah transfigurasi “radifah” ( tiupan kedua) yang datang menyusul jejak “rajifah” (tiupan terompet yang pertama).

Jadi kita diberi tahu bahwa masyarakat yang mengambil manfaat dari revolusi yang mengguncangkan bumi ini adalah orang yang mau menjalani lima langkah tersebut di atas dalam hidup mereka dan karenanya akan mencapai kemuliaan dan kesuksesan diatas yang lain. Dan inilah yang sungguh telah terjadi pada masa Nabi Suci s.a.w. ketika umatnya memperoleh sukses dan kebahagiaan serta menjadi dihargai dan berkualitas untuk mengemban kendali pemerintahan dan administrasi. Sebaliknya, nasib dari mereka yang mengencangkan segenap ototnya dalam usaha untuk melenyapkan umat Muslim tergambar pada ayat berikutnya:

8.   Pada hari itu hati berdebar-debar.

9.   Penglihatannya menunduk.

Ayat-ayat ini menyebut kecemasan dan rasa malu dari para musuh Nabi Suci s.a.w. Bila seseorang itu hanya menderita sedikit sakit atau cemas maka dia masih bisa memikulnya, tetapi bila hal itu bercampur dengan rasa malu dan penyesalan maka beban itu sungguh tak kuasa ditanggungnya. Tak diragukan lagi, ini akan terjadi pada hari Kebangkitan tetapi keadaan ini juga bisa disaksikan di sini di panggung dunia ini setelah “radifah” (tiupan trompet kedua) pada hari ketika kota Mekkah ditaklukkan. Demikian kuat penderitaannya baik oleh rasa malu dan terhinanya kaum kafir Mekkah sehingga kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan kesulitan mereka itu.

10. Mereka berkata: Apakah kami sungguh-sungguh dikembalikan kepada keadaan (kami) yang pertama ?

11. Apakah kami setelah menjadi tulang yang rapuh?

“Hafirah”  berarti mengembalikan sesuatu ke aslinya atau bentuk sebelumnya. Di sini ini berarti menghidupkan kembali.

Setelah berbicara mengenai perombakan yang luar biasa hebat dan berakibat kehinaan bagi kaum kafir, Allah mengangkat suatu topik baru diluncurkan sekarang dengan menggunakan kata “yaquluna” (mereka berkata). Ini mengenalkan keberatan dari kaum kafir yang biasanya untuk lari dari pertanggung-jawaban atas perbuatannya dan juga dari tusukan tajam hati nuraninya serta pengaruh peringatan Nabi Suci. Dan ini adalah kilah yang biasa digunakan untuk menenangkan hatinya ketika Allah memberi tanda akan adanya suatu revolusi besar dan ketika konsekwensi atas amal perbuatan itu dibukakan, maka tiada yang tersisa kecuali rasa malu dan derita yang menghinakan.

Persediaan dalih dari orang-orang ini adalah mereka-reka segala macam alasan yang membantu mereka dalam menghindar dalam menghadapi tanggung-jawab atas perbuatannya. Untuk mendiamkan suara dari hati nuraninya mereka memperlihatkan keraguan dan keheranan atas ide dihidupkan kembali setelah matinya dan setelah tulang-belulangnya melapuk. Karena ini di luar daya nalar atau renungannya, mereka menanamkan dalam hatinya ketenangan palsu bahwa hal semacam itu adalah tak masuk akal. Namun, suara yang unik dari nuraninya akan terus bangkit mendesak dari lubuk hatinya. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa orang-orang ini yang tidak ingin mengambil tanggung-jawab terhadap perbuatannya tidak punya pilihan selain menolak kenyataan adanya hidup sesudah mati karena mereka tak bisa merenungkan apa-apa kecuali kehancuran dirinya dalam kehidupan semacam itu.

12. Mereka berkata: Jika demikian, itu suatu pengembalian yang merugikan.

Ini adalah kata-kata dari hatinya atau suara nuraninya. Dengan kata lain, nurani mereka memberi tahu dia bahwa bila keyakinan kaum Muslimin kepada hidup sesudah mati itu benar, maka mereka akan menderita kerugian besar. Hazrat Ali r.a. suatu kali menarik perhatian beberapa orang ateis tentang perkara ini. Beliau berkata kepada mereka: “Jika tak ada hidup sesudah mati, maka kami kaum Muslimin tidak akan rugi apa-apa. Namun, bila ada, kalian akan menghadapi kesulitan besar”.

Ini adalah benar-benar suara yang timbul dari nurani seorang kafir yang mengatakan kepadanya bahwa bila ada hidup sesudah mati, maka dia akan rugi besar. Faktanya adalah bahwa alasan sebenarnya untuk tidak percaya kepada hidup sesudah mati itu bukan berdasar kecerdasan intelektual tetapi sesungguhnya adalah semacam obat penenang palsu dimana kaum kafir itu menanamkan kedalam hatinya dalam usaha untuk menghindari tanggung jawab atas amal perbuatannya. Padahal, jauh di lubuk hatinya ada suara yang gelisah dan menuduhnya.

Adakah sesuatu yang sulit bagi Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta ini untuk menghidupkan lagi makhluk dari barang yang sudah mati?

13. Itu hanyalah satu teriakan.

14. Tatkala tiba-tiba! mereka bangun.

Di sini Allah, mengungkapkan kepada kita Ke-Maha-kuasaan-Nya. Bila Dia menghendaki sesuatu, Perintah-Nya atau Peringatan-Nya sudah memadai. Dengan kata lain, untuk melawan kaum kafir yang mengatakan bahwa hidup sesudah mati itu sulit, tidak, bahkan hal yang mustahil, maka Allah Yang Maha-tinggi menjawab, bahwa perkara itu sangat mudah bagi-Nya. Yang dikatakan-Nya hanyalah “jadi”, maka itu jadi adanya.

Secercah dari daya sempurna Yang Maha-kuasa ini ditunjukkan kepada dunia pada masa hidup Nabi Suci s.a.w. ketika di bawah perintah Ilahi seluruh jazirah Arabia itu ditaklukkan. Saat berakhirnya tiba ketika kaum kafir yang berkuasa dan sombong itu berkumpul di lembah Mekkah menunggu peradilan Ilahi. Maka, sulit atau anehkah buat Tuhan Yang Maha-kuasa dan Maha-perkasa bahwa atas perintah-Nya seluruh umat manusia harus berkumpul mendengarkan keadilan-Nya dan menghadapi konsekwensi amal perbuatannya pada hari Kebangkitan dalam ukuran yang penuh dan sempurna?

Suatu contoh dari manifestasi sempurna kekuatan Ilahi di dunia telah diberikan sebagai bukti keadilan Yang Maha-kuasa pada hari Pembalasan. Pada saat Allah memutuskan untuk menggelar perkara, Dia membawakan bersama itu dengan sarananya. Misalnya, sebagai perbandingan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir Mekkah adalah seperti semut diadu melawan gajah sehingga kemenangan kaum Muslimin sungguh jauh diluar angan-angan yang paling liar sekalipun. Namun, ketika Allah, Yang Maha-tinggi, memutuskan untuk menggelar peristiwa, Dia mengatur sarana untuk itu, dan begitu cepat Dia melakukan-Nya, sehingga dalam sekejap mata, kaum Muslimin telah bangkit menjadi pemenang, dimana setelah penaklukan Mekkah, sebagai balasan atas kelakuan mereka, kaum kafir yang menjadi pecundang terpaksa memohon pengampunan.

Maka, dengan cara yang sama, manusia boleh mati dan menjadi lapuk, atau apa pun yang lain boleh menimpanya, tetapi bila Allah menghendaki bahwa dia harus dibalas sepenuhnya atas amal perbuatannya, maka di bawah perintah-Nya, sarana-sarana diciptakan bagi manusia agar bisa berdiri dihadapan Tuhannya dalam kehidupan yang baru supaya dapat memanen balasan atas tingkah-lakunya.

Ketika Allah berfirman dengan suatu perintah atau ancaman bagi semuanya agar berkumpul di suatu medan, maka  ini adalah contoh kekuatan dan keperkasaan-Nya dalam memberitahu orang yang lalai dimana yang kelihatannya sulit bagi manusia sungguh sangat mudah bagi-Nya. Namun, Allah Ta’ala tidak pernah membuat klaim tanpa menyodorkan bukti terlebih dahulu dan didalam Qur’an Suci telah penuh tersedia contoh atas hal ini. Dia tidak pernah meminta kepada para pengikut-Nya yang mukmin untuk mencari keaslian atau validitas dari deklarasi-Nya. Di sini, pernyataan Allah adalah bahwa Dia hanya memerintah atau berbicara dan O..o..! perubahan akan datang menjelma dan manusia akan berkumpul di lembah untuk menunggu keadilan-Nya. Dan klaim yang demikian dapat ditegakkan dengan dua macam argumentasi; satu, dengan sarana kenabian, dan kedua dengan cara falsafi.

Ada perbedaan mendasar antara argumentasi seorang nabi dengan seorang filsuf. Nabi itu bekerja dari yang tidak diketahui menjadi diketahui sedangkan kaum filsuf bekerja sebaliknya – dia mulai dari yang sudah diketahui untuk menarik kesimpulan mengenai yang tak diketahuinya. Jadi, seorang filsuf yang berlandaskan pemikirannya dari keadaan atau peristiwa yang diamati hanya sampai pada suatu kesimpulan sejauh misalnya dengan mengatakan: “Perkara semacam ini dan semacam itu bisa saja terjadi”. Sebaliknya bagi seorang nabi yang menerima ilmu langsung dari Allah Ta’ala dan dia dengan penuh keyakinan mengumumkan bahwa suatu perkara semacam itu dan semacam ini adalah suatu  kenyataan. Perumpamaannya adalah bagaikan seorang buta dan seorang yang bisa melihat. Misalnya, seorang buta akan memeriksa sebuah kursi dengan meraba dan merasakannya. Dia menduga-duga dari apa yang dirasakan dengan jari-jarinya dan menarik kesimpulan bahwa ini mestinya sebuah kursi, tetapi seorang yang melihat dengan jelas akan memandang dan memang benar itu sepotong mebel yang adalah sebuah kursi.

Keberatan kaum kafir terhadap hidup sesudah mati dan akibat dari perbuatannya serta pertanggung-jawaban atas tingkah-lakunya yang dianggap hanyalah khayalan dan menipu diri serta merta ditolak dengan dua macam argumentasi didalam surat ini: dengan alasan filosofis dan dengan bukti kenabian.

Argumen dari kenabian khusus dipilih karena semua nabi itu mengajarkan risalah dasar yang sama mengenai keyakinan kepada hidup sesudah mati dimana konsekwensi atas amal perbuatan akan diungkapkan. Contoh masalah ini adalah ajaran Nabi Musa a.s. dikutip karena beliau seperti Nabi Suci Muhammad s.a.w. sebagaimana difirmankan dalam Qur’an Suci: “Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Utusan kepada kamu, sebagai saksi terhadap kamu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Utusan kepada Fir’aun”(73:15).

15. Apakah tak datang kepada engkau riwayat Musa?

Bagian dari Qur’an Suci ini memuat sebuah sketsa singkat namun dengan kata-kata yang melingkupi tentang peristiwa diseputar kehidupan Nabi Musa dan perintah yang diberikan kepadanya oleh Allah Ta’ala.

16. Tatkala Tuhannya menyeru kepadanya di lembah suci, Tuwa?

“Tuwa” berasal dari “taiyyun” dan berarti tergulung. Jadi, “Tuwa” sesungguhnya berarti “kedekatan”  yakni, seseorang yang jaraknya telah “digulung”. Kata  ini merujuk tentang kedekatan kepada Allah SWT yang telah dicapai oleh Nabi Musa AS. dan konsekwensinya adalah beliau dipilih sebagai seorang nabi.

Inilah sebabnya mengapa nama “Tuwa” diberikan kepada lembah ini, bila tidak maka dia tidak akan dikenal selamanya oleh seorang pun di dunia ini. Dengan kata lain, ini disebut “Tuwa” karena di sana Nabi Musa mencapai ciri yang menonjol yakni mencapai persatuan diri dengan Allah serta kedekatan dengan-Nya.

Sebelumnya, beliau telah lari dari Fir’aun di Mesir ke Madian karena dia telah membunuh seorang Mesir dan penguasa sangat ingin membalas pembunuhan itu. Beberapa tahun kemudian, melalui kedekatan dengan Ilahi, beliau melakukan perjalanan rahasia bersama isterinya yang hamil dengan maksud untuk mengunjungi keluarganya, ketika dalam perjalanan menempuh padang yang liar, isterinya dicekam kesakitan untuk melahirkan pada malam yang dingin dan gelap. Betapa rumitnya saat itu! Dalam keadaan gentar semacam itu, beliau melihat didalam rukyah secercah cahaya di kejauhan, namun begitu jelas dan berkilau sehingga Nabi Musa salah mengiranya sebagai api. Beliau pergi mencari api itu, tetapi gambar lain menghadang di depannya! Firman berupa wahyu Ilahi turun kepadanya dan beliau mendapati dirinya ditetapkan sebagai seorang utusan Allah dan lho..!, lihatlah! beliau diperintahkan untuk pergi kepada Fir’aun, penguasa yang sangat ingin mencabut nyawanya!

17. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia mendurhaka.

Dengan mengabaikan Fir’aun yang dikenal pendurhaka serta pelanggar batas yang sewenang-wenang, Nabi Musa diperintahkan pergi kepadanya dengan risalah dari Allah Ta’ala. Apakah risalahnya itu? Ringkasan darinya diberikan dalam beberapa kalimat berikut:

18. Dan katakan: Maukah engkau menyucikan dirimu?

19. Dan engkau kutunjukkan kepada Tuhan dikau sehingga engkau takut (kepada)-Nya.

Renungkanlah sejenak pemandangan dari raja yang sombong, penuh permusuhan dan haus darah ini dan ingatlah keagungan, kejayaan serta serba mencukupi sendiri dari Allah Ta’ala. Apakah arti penting dari pertanyaan ini kepada manusia yang sombong itu: Maukah engkau menyucikan dirimu? Maksud sesungguhnya dibalik pertanyaan ini adalah mengatakan kepada Fir’aun bahwa tak ada sedikitpun jejak kesucian dalam dirinya. Tetapi ini belum seluruhnya. Dia juga diberi tahu bahwa klaimnya sebagai tuhan adalah kesalahan yang sangat besar. Nabi Musa juga menjanjikan untuk menunjukkan jalan kepada Allah Yang Maha-tinggi dan mengajarinya dengan sifat serta keagungan dari Allah yang sejati, karena bila dia mempelajari lebih dalam mengenai diri-Nya, maka dia akan menjadi takut kepada-Nya dan karenanya meninggalkan cara hidup  yang pemberang dan mendurhaka. Takut kepada Allah adalah tanda yang pasti dari kesucian hati dan petunjuk yang benar. Bila seseorang itu tidak memiliki keyakinan yang sempurna kepada Allah dan bukan seorang penerima pertolongan dan bantuan-Nya, pastilah mengeluarkan peringatan dan memberikan risalah yang menggetarkan semacam itu kepada seorang tiran yang kejam merupakan hal yang sangat dihindari.

Sebagai Perbandingan adalah para sahabat yang mulia dari Nabi Suci s.a.w. serta orang-orang tulus dimasa lampau yang dengan gagah berani mengumumkan risalah kebenaran di majelis raja-raja yang terbesar tanpa sedikitpun syak-wasangka atas ketakutan dihatinya. Namun kaum Muslimin kini, agaknya dalam menyiarkan risalah Islam dianggap sebagai suatu tugas yang tabu dan betapa sulit suatu ajakan kepada keimanan meluncur dari bibirnya. Mereka takut kalau-kalau orang yang diajaknya itu menjadi marah atau akan dibalas dengan tanggapan yang dingin misalnya: “Apa hak kamu untuk mencampuri urusan keagamaan saya?”.

Seorang mukmin tak boleh dikhianati oleh kelemahan hati yang semacam itu dalam menyebar-luaskan kebenaran. Allah Taa’ala telah membangkitkan kaum Muslim ini utamanya untuk menyerukan kebenaran dan mencegah kemunkaran, atau, dengan kata lain, menyiarkan agama Islam. Tetapi adalah suatu fakta bahwa kegairahan dalam hati seseorang untuk menyiarkan agamanya itu tergantung kepada kekuatan hubungannya dengan Allah Yang Maha-tinggi. Kata “tazkiyyah” berasal dari kata zaka yang, disamping berarti kesucian, juga memiliki arti pertumbuhan dan kemajuan. Bila seseorang itu maju dalam kesuciannya, maka dia juga akan meningkat kemampuan ruhaninya baik dalam daya maupun kekuatannya untuk menyiarkan kebenaran.

20. Maka ia perlihatkan kepadanya tanda bukti yang besar.

Oleh karena Fir’aun menolak mendengarkan kata-kata yang penuh kebijakan dan penalaran, maka timbul keperluan agar tanda bukti Ilahi ditampakkan kepadanya sebagai penunjang untuk membuktikan bahwa beliau adalah Rasulullah.

21. Tetapi ia mendustakan dan mendurhaka.

Seorang pendurhaka tidak mau mendengarkan akal sehat ataupun menaruh perhatian kepada tanda bukti Ilahi. Fir’aun mendustakan tanda bukti Allah dan dengan penuh kemarahan menolak risalah-Nya.

22. Lalu ia kembali dengan tergesa-gesa.

Dia tidak saja mengabaikan firman Allah, melainkan juga mulai berusaha dan merancang rencana untuk melawan Nabi Musa.

23. Lalu ia mengumpulkan dan menyeru

24. Lalu ia berkata: Aku adalah tuhan kamu yang maha luhur.

Mengapa dia mengumpulkan orang-orangnya? Disamping keinginannya untuk menyerang balik mukjizat tongkat Nabi Musa (yang berubah menjadi ular), dia juga ingin menakut-nakuti mereka dengan kewenangan dan kekuasaan kerajaannya karena para pejabatnya telah mengatakan padanya bahwa permintaan Nabi Musa untuk membebaskan umatnya itu sesungguhnya adalah suatu siasat. Menurut mereka, niat utamanya adalah untuk meraih kendali kerajaan Fir’aun. Karenanya, perlu baginya untuk mengundang orang-orang dan mengumumkan kekuasaan serta ketuhanannya atas mereka dan dengan demikian menenteramkan hatinya setelah menerima janji persetujuan dari mereka.

25. Maka Allah menghukum dia dengan siksaan di akhirat dan di dunia.

Lihatlah betapa hebatnya kekuasaan Fir’aun yang dapat mengundang rakyatnya dan mengumumkan ketuhanannya tanpa seorangpun berani mengungkapkan ketidak-senangannya! Adakah suatu contoh yang lebih besar dibanding tiran ini dalam sejarah dunia? Namun, dengan mengabaikan luasnya kekuasaan, apakah hasil dari akibat kelakuannya itu? Hanya ini, yakni Allah menimpakan kepadanya contoh hukuman di akhirat maupun di dunia ini. Memang benar bahwa pertama dia disiksa di dunia dan kemudian di akhirat, tetapi dalam ayat ini hukuman dalam kehidupannya nanti disebutkan pertama-tama. Ini karena azab yang nyata itu tiba di akhirat. Siksaan di dunia ini datang hanya sebagai suatu pelajaran dan bukti serta suatu peringatan atas derita kaum penentang yang akan dihadapinya dalam kehidupan mendatang.

Marilah kita bercermin kepada ganjaran di dunia ini, ketika Nabi Musa dalam membebaskan umatnya dari perbudakan dan penyanderaan, telah memimpin mereka pergi secara diam-diam dari bangsa Mesir di selimuti kegelapan malam. Raja yang bermusuhan, dalam kebanggaan dan kesombongannya yang tanpa aturan, mengejar mereka dengan pasukannya yang perkasa untuk menangkap mereka dan menyungkurkannya menjadi debu. Sekarang tengoklah hasilnya! Tiran ini ditenggelamkan di laut di hadapan bangsanya dan tubuhnya ditaruh di piramid Mesir dan dengan kehadirannya itu, menyajikan bukti kepada dunia atas kebenaran ajaran bahwa sesungguhnya amal perbuatan itu mempunyai konsekwensi yang tak terelakkan.

26. Sesungguhnya dalam ini adalah pelajaran bagi orang yang takut.

“Ibrat” berasal dari “abara” yang berarti ‘melintasi’ dan karena itu “ibrat” berarti melintas diam-diam dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Apakah pelajaran atau ‘lintasan’ dari insiden ini? Jawabannya adalah bahwa setiap tindakan itu mengandung tanggung-jawab dan risalah dari setiap nabi – bahwa setiap orang suatu hari harus berdiri di hadapan Tuhannya untuk mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya – adalah benar dan tak dapat ditolak.

Begitu pula, Nabi Musa memperingatkan Fir’aun akan hari yang tak terelakkan itu dan menasihatinya bahwa setiap tindakan akan ada buahnya, dan karena itu dia tak boleh lalai atas apa yang diperbuatnya. Selanjutnya dia menyarankan kepadanya bahwa hukuman di dunia ini adalah bukti adanya siksaan di akhirat, maka bila dia tidak menghentikan cara hidupnya yang jahat, dia akan menghadapi kehancuran di depannya. Dan inilah yang benar-benar terjadi. Firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Musa kepada Fir’aun berlangsung, karena seperti yang telah diramalkannya, Fir’aun menderita neraka di dunia atas perbuatannya sehingga kata-kata nabi itu tergenapi, menjadi fakta yang membenarkan bahwa beliau adalah Rasul Utusan Allah. Kisah Nabi Musa di sini, hanyalah suatu contoh kecil atas apa yang terjadi disetiap  bagian dunia ini. Allah Ta’ala mengirimkan para nabinya ke segala bangsa dengan risalah yang sama yakni tentang pertanggung-jawaban atas amal perbuatan. Mereka yang menolak akan mengalami nasib yang pahit didalam kehidupan ini sedangkan mereka yang mengikuti para nabi akan menikmati sukses dan bahagia. Semuanya ini disajikan sebagai suatu peragaan atas apa yang akan terjadi pada hari yang dijanjikan dimana semua nabi telah mengingatkan kepada masing-masing umatnya.

Sekarang, mengenai masa depan, ilmu para nabi itu telah mendatangkan keyakinan yang kuat karena dia turun langsung dari Allah Yang Maha-tinggi, dan karena itu mereka bisa mengumumkannya tanpa ragu sedikitpun, bahwa perkara semacam ini atau semacam itu akan benar terjadi. Sebaliknya, menyangkut masa depan, pencapaian kaum filsuf itu terbatas hanya dari penalaran dan perkiraan dimana satu-satunya kesimpulan yang bisa ditarik adalah adanya kemungkinan besar bahwa suatu perkara tertentu akan terjadi. Mereka tidak dapat memastikan lebih dari itu. Misalnya, dengan perkiraan yang sama bahwa perbuatan itu menuntut tanggung-jawab, dan bahwa setelah kematiannya manusia itu ada kehidupan lain dimana dia akan diminta pertanggung-jawabannya serta bahwa derita serta kebahagiaannya tergantung kepada hasil perbuatannya; untuk itu para nabi bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa kejadian semacam itu pasti terjadi, karena beliau menerima keterangan langsung dari Allah Ta’ala.

Namun, kaum filsuf tak memiliki ilmu tentang masa depan kecuali suatu perkiraan berdasar penyelidikan atau suatu pandangan rasional.

Pendeknya, mengenai pertanyaan yang semacam ini, seorang filsuf bisa beralasan hanya dari dua titik: pertama, apakah Dzat Yang memulai penciptaan ini memiliki kekuasaan untuk mengerjakannya lagi ataukah tidak, dan kedua, adakah suatu keperluan bagi-Nya untuk berbuat demikian ataukah tidak?

Karena Allah itu tidak pernah mengerjakan sesuatu dengan sia-sia, maka pertanyaan ini akan dijawab dalam bagian kedua surat ini.

2 Tanggapan

  1. maaf tapi kenapa arti surohny menyimpang sekali? walau pakai bahasa melayu juga maknanya beda. Di al qur’an yg saya dapati begini

    ”Demi (malaikat-malaikat) yang
    mencabut (nyawa) dengan keras.

    Dan (malaikat-malaikat) yang
    mencabut (nyawa) dengan lemah-
    lembut.

    Dan (malaikat-malaikat)
    yang turun dari langit dengan
    cepat.

    Dan (malaikat-malaikat)
    yang mendahului dengan kencang.

    Dan (malaikat-malaikat) yang
    mengatur urusan (dunia) ”. (QS.
    79: 1-5)

    hati2 hal seperti ini sangat berbahaya, apalagi ini al qur’an. maaf saja saya memang belum rampung membaca artikel ini tapi saat saya baru membaca terjemah ayatnya, saya merasa ada yg tidak beres

    wallahu a’lam

    • Assalamu’alaikum wrwb.
      Sdri Puspita Sari Yth,
      Terimakasih kami ucapkan atas kunjungannya ke webblog kami, mohon maaf kalau baru bisa membalas komentar anda. Berkaitan dengan Tafsir Surat An-Naziat kami melihat di dalam berbagai buku tafsir memang ada beberapa perbedaan, namun menurut kami yang lebih tepat dan pas dalam konteks dan kandungan isi surat tersebut ya Tafsir yang kami kemukakan, lalu bagaimana dengan tafsir yang lain, karena teks agama adalah sesuatu yang ilmu yang bisa dipelajari oleh siapa saja dan orang akan mendapatkan manfaat darinya sesuai dengan ketinggian ilmu yang dimiliki maka acapkali seorang mufasir akan bebeda dalam menafsir suatu ayat dengan mufasir yang lain. Nah menyikapi hal tersebut maka kita diberi pilihan untuk menggunakan tafsir yang mana yang sesuai dengan keimanan kita selama penafsiran tersebut tidak menyimpang dari azas agama Islam yakni Rukun Iman dan Rukun Islam, sedangkan model atau jenis tafsir digunakan untuk memperkaya ilmu sehingga manusia mencapai ketinggian ilmu yang tidak ada batasnya. Inilah fungsi Quran Suci yang memberikan kebebasan dalam memahami dirinya sesuai dengan kemampuan pembacanya. Demikian semoga bermanfaat, wallahu’alam.
      Wasalam wrwb
      Salam RSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: