Tafsir SURAT(86) AT-THARIQ (Yang Datang Pada Waktu Malam)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di kota suci Mekkah, dan didalam surat ini tekanan utama diletakkan pada kenyataan bahwa amal itu tak pernah musnah. Dalam surat ini selanjutnya kita juga mengenal bahwa Allah telah menyediakan aturan yang diperlukan demi persiapan hidup masa depan manusia dan untuk mengungkap kebenaran inilah maka Nabi Suci s.a.w. diturunkan ke dunia ini.

at_thariq

 

Selengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih;

  1. Demi langit yang datang pada waktu malam!
  2. Dan apakah yang mebuat engkau tahu apakah yang datang pada waktu malam itu?
  3. (Yaitu) bintang yang mempunyai sinar tembus.
  4. Tiap-tiap jiwa tak ada satu pun yang tak mempunyai penjaga.

Di sini ”penjaga” atau ”pemelihara” menunjukkan pengamatan atas tingkah-laku kita sebagaimana nyata dari ayat Qur’an Suci berikut ini: ”Dan sesungguhnya bagi kamu ada penjaga. Juru tulis yang mulia”(82:10-11).

Dalam bahasa Arab, at-ta-riq berarti seseorang yang datang pada waktu malam dan mengetuk pintu untuk membangunkan seseorang yang sedang tidur, tak memandang apakah dia seorang tamu ataukah datang untuk keperluan yang lain. Para mufassir Qur’an Suci yang terkemuka, telah menetapkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah Nabi Suci Muhammad s.a.w. karena dia muncul pada saat dunia sedang meluncur ke lubang kegelapan dan tanpa petunjuk. Ini agaknya benar, tetapi apakah yang dimaknakan dengan sumpah yang menyangkut bukti dari langit? Seperti halnya at-Tariq (Yang datang pada waktu malam) memberi bukti suatu kemuliaan dari Nabi Suci s.a.w., yakni dengan cara yang sama langit membabarkan segi lain dari cahayanya yang gemilang. Seorang yang datang pada waktu malam dan mengetuk pintu bisa mempunyai dua maksud: dia datang untuk keperluannya sendiri, atau mengingatkan orang lain atas datangnya suatu hal yang akan terjadi. Seseorang datang pada waktu malam bisa mempunyai dua alasan yang memaksa: dia bisa datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, atau memberi manfaat kepada seseorang yang sedang tidur nyenyak di balik pintu tertutup.  Dan setelah menyadari hal ini, seseorang bisa datang pada saat yang tepat untuk memberikan peringatan serta kewaspadaan bagi orang-orang yang tertidur dengan mengetuk pintu.

Tekanan kedatangan Nabi Suci Muhammad s.a.w. pada malam penuh kesalahan dan kesesatan, menunjukkan tugas beliau membangunkan umat manusia agar sadar dari kelalaiannya dan tidurnya yang nyenyak, serta bukan untuk keuntungan beliau sendiri. Namun, demi kemurahan dan kecintaan Sang Pencipta alam inilah yang memerintahkan agar beliau mengetuk pintu mereka yang lalai serta membangunkan mereka dari tidurnya dan memperingatkan mereka akan akhir yang buruk; karena hendaknya diketahui bahwa begitu kuat hubungan Nabi Suci dengan Allah Ta’ala dan begitu jauhnya beliau terbebas dari ambisi serta nafsu duniawi, sehingga beliau disebut sebagai ”Langit”, yakni berkenaan dengan peningkatannya yang agung serta keterikatan dirinya kepada Allah, dan ini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Begitu halnya tak ada kerusakan yang menimpa langit akibat kehancuran di bumi, maka begitu pula bagaimanakah cacat-cela bisa mengenai diri Nabi Suci Muhammad s.a.w. dari kerusakan serta penyelewengan umat manusia di dunia ini? Sesungguhnya, karena sangat besar kasih saying dan kemurahan kepada makhluk Allah, itu telah mengatasi kesenangan dan kemudahan untuk diri-pribadinya, beliau datang ditengah gelap-gulita kerusakan untuk membangunkan orang yang lalai dari tidur nyenyaknya dengan berulang-kali mengetuk pintunya, dan berusaha tanpa kenal lelah agar orang-orang yang abai ini terhindar dari akhir yang sengsara.

Hazrat Shah Wali’ullah menceriterakan visiun tentang beliau sebagai berikut: “Mula-mula muncul di hadapan saya suatu segi-tiga yang puncaknya dibawah dan dasarnya diatas seperti ini Gambar itu kemudian lenyap dan muncullah segi-tiga yang lain, tetapi kali ini puncaknya diatas dan dasarnya dibawah seperti ini. Selanjutnya, gambar ini juga lenyap dan muncullah suatu gambar persegi-panjang seperti ini: Kemudian, ini juga lenyap dan sesudahnya, Nabi Suci s.a.w. muncul ke pemandangan. Beliau bertanya: ’’Tahukah engkau apa arti dari gambar-gambar ini?’. Saya mengiakan dan berkata bahwa gambar-gambar itu sesungguhnya melambangkan Nabi Suci sendiri; dan ketika beliau meminta penjelasan. Saya terangkan gambar pertama, yakni bahwa Yang Mulia (Nabi Suci) telah membina suatu hubungan yang sedemikian kuat dengan Yang Diatas, yakni, Allah, sehingga lenyap pribadinya yang begitu sempurna dan begitu tinggi derajat kefanaan dirinya, sehingga Nampak beliau seolah tidak punya hubungan lagi dengan wilayah yang lebih rendah, yakni ciptaan Allah di bumi.

Gambar kedua, berarti bahwa Yang Mulia begitu penuh kecintaan dan kemurahan kepada segenap makhluk Allah. Sehingga seolah–olah tidak punya hubungan lagi dengan dunia yang lebih atas.

Lambang ketiga, menunjukkan hubungan Yang mulia dengan Allah di satu fihak, dan welas-asih serta kesejukannya bagi umat manusia pada segi yang lain, yang telah mencapai suatu titik kesempurnaan sehingga seolah kasih-sayang keduanya telah bersatu, dan ini adalah hubungan sejati dan sempurna yang luar-biasa.

Setelah menerima jawaban ini, Nabi Suci s.a.w. tersenyum dan berkata: ’Wahai Wali’ullah, engkau sungguh sangat cerdas dan pemahamanmu sungguh sangat bagus.”

Jadi di sini, demi langit dan dia yang datang pada waktu malam, kita temukan suatu manifestasi sempurna dari dua aspek kemuliaan Nabi Suci – di satu fihak, begitu sempurnanya hubungan beliau dengan Allah dan keterikatan pribadi beliau kepadaNya sehingga, seperti Langit, yang dianggap secara spiritual, dan begitu sempurna kemandiriannya terhadap kebutuhan duniawi – sesungguhnya, kecintaannya kepada kemanusiaan sedemikian besar, sehingga beliau menjadikan tugas ini yang paling utama mengatasi segenap kebutuhan pribadinya – sehingga pada waktu malam yang penuh kesesatan dan dosa, beliau meninggalkan kedamaian dan kenyamanan pribadinya untuk berlari kesana-kemari mengetuk pintu-pintu mereka yang terlena, manusia yang tertidur nyenyak sehingga mereka tidak dibinasakan dan selamat hidupnya baik di dunia ini maupun dalam kehidupan mendatang.

Bangsa Arab itu terkenal sejak dulu atas keramahannya, tetapi ketika tamu Allah muncul di antara mereka, maka mereka berusaha membunuh dan memperlakukannya dengan kasar, meskipun beliau datang untuk kemaslahatan mereka dan pada saat yang paling tepat pula! Pada saat ini, disaat dunia terantuk pada gelap-gulita dosa dan ada suatu kebutuhan penting akan cahaya langit, beliau tiba dan membuat kehadirannya bagaikan bintang di langit dengan cahayanya yang cemerlang, dan membawa besertanya penerangan dan petunujuk dari langit, dan intisari dari ayat ini ialah ”Tiap-tiap jiwa tak ada satupun yang tidak mempunyai penjaga”, menyatakan kepada dunia, bahwa walaupun dia telah mati sekali pun, dia tidak akan musnah, tetapi sesungguhnya, kehadirannya di akhirat itu tercatat dalam amal perbuatan, sehingga dia harus memperbaiki dan memperkuat amal salehnya agar dalam kehidupan di akhirat yang abadi akan dipenuhi dengan kedamaian serta kebahagiaan bagi dirinya.

Inilah titik utama dimana setiap orang harus mengingat dan menjadikannya sebagai ambisi nuraninya. Jadi, sebagaimana diterangkan di atas, maksud dari diturunkannya Nabi Suci ke dunia ini adalah menekankan kepada umat manusia agar mereka memusatkan perhatian kepada amal saleh, karena di sinilah tergantung nasibnya dalam kehidupan di masa depan.

Inilah yang selanjutnya menjadi petunjuk serta cahaya dalam nurani manusia di dunia yang gelap-gulita sepenuhnya, sehingga bak bintang cemerlang yang di mana orang lain pun akan menerima cahayanya untuk mencari arah dalam kegelapan.

  1. Maka hendaklah manusia suka memperhatikan dari apakah ia diciptakan
  2. Ia diciptakan dari air yang memancar
  3. Yang keluar dari antara punggung dan iga.

Ada suatu alasan mengapa dihubungkan ayat di atas dengan gambaran tersebut, yakni sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya, bahwa telah ditunjukkan amal perbuatan manusia itu disimpan rapat untuk kehidupannya di masa depan. Amal perbuatan kita inilah ibarat biji yang tersembunyi untuk kehidupannya di masa depan, maka baik itu seperti benih yang tampak pada saat dia hadir ke dunia fana, maupun benih yang tertanam untuk kehidupan akhiratnya akan dibentuk dari sini.

Manusia yang dalam kelalaiannya, telah memperlakukan kedua benih ini secara ceroboh dan bersikap abai. Bahkan sangat sedikit dia menaruh perhatian esensi seorang makhluk manusia itu berasal dari setitik air mani, yang bila mana terawat dengan baik di dalam rahim, maka akan menelurkan lahirnya suatu kehidupan baru. Dengan demikian hendaknya ia bersikap yang sama dengan menaruh perhatian atas amal perbuatannya.

Setiap hari ia menyaksian bahwa seperti halnya manusia yang tidak memandang penting atas lahirnya benih yang nampak ini, menunjukkan kurangya perhatian dan kewaspadaan dalam menebar benih ini. Demikian halnya menyangkut amal perbuatan, maka ia harus bersungguh-sungguh melakukan amal perbuatannya sebagaimana benih yang tersembunyi untuk kehidupan akhiratnya, dan bilamana dia dijaga dengan selamat seperti sperma dalam alam fisik, maka itu akan membangun dasar kehidupan akhirat yang akan terbentuk.

Setiap orang pasti mengetahui bahwa bila air mani itu selamat dari kehancuran, dan dirawat dalam rahim maka akan menjadi penyebab lahirnya kehidupan baru di dunia. Berarti, kehidupan baru dari setitik sperma tergantung semata-mata atas terjaga dan keselamatannya. Begitu pula, di sini Allah menyatakan bahwa untuk menciptakan kehadiran kita di akhirat, Dia telah menyediakan persiapan yang berbeda dan sangat luas demi terjaganya amal perbuatan kita, yakni suatu rekaman yang maha sempurna diatas kemampuan yang telah dilakukan manusia, dan ini akan terpelihara sebaik-baiknya. Jadi, manusia harus merenung atas air mani dan kehidupan yang muncul darinya, dan hendaknya ia melaksanakan tugas kewajiban dengan sepenuh perhatian serta kehati-hatian, karena setiap gerak dari amal perbuatannya adalah bagaikan benih untuk kehidupannya di akhirat dan setiap tingkah-lakunya ini sangat terinci dan terjaga. Dan karena kelahiran di dunia dan kehadiran kita di akhirat telah disiapkan dengan sebaik-baiknya, maka dengan berat hati saya ulangi bahwa berdasarkan analisa dari para peneliti ilmiah telah membuktikan bahwa setiap kata dan gerak kita ternyata telah direkam di udara.

Tak ada suatu pun yang dihancurkan. Malahan, segala sesuatu direkam sempurna. Dan inilah yang difirmankan oleh Yang Maha Perkasa, merupakan suatu kenyataan bahwa perekaman amal perbuatan itu berjalan serupa dengan benih sperma kita untuk kehidupan di masa mendatang. Dan ini adalah kenyataan, karena penyimpanan atas amal perbuatan kita itu pasti ada maksud dan akibatnya, dan inilah yang dinamakan kehidupan akhirat itu.

  1. Sesungguhnya Ia kuasa untuk mengembalikan dia (hidup kembali).

Hari ini, kaum ilmuwan dengan sedih menerima kenyataan, bahwa mereka tidak memiliki sarana untuk membaca catatan tersembunyi dan terekam di udara; sebab bilamana telah dapat dilakukan, maka dia akan bisa menceriterakan kisah yang sebenarnya dari dunia ini. Bayangkan saja bilamana bisa, maka betapa rumitnya Allah Yang Maha-kuasa telah memberi tahu kita bahwa untuk mereproduksi seluruh kitab catatan amal perbuatan kita adalah sangat mudah bagiNya dan tak ada sedikitpun kesulitannya dalam menyajikan kembali sesuatu yang sudah tersimpan dan dijaga rapi.

Ambil misalnya suatu piringan hitam yang menyimpan suara kita. Pada suatu cakram yang direkam kata-kata lembut tak terbaca oleh seorang pun jua, tetapi bila itu diletakkan dalam perangkat suara dan diputar, setiap kata akan ditampilkan kembali dan seolah hidup serta setiap kata yang diucapkan atau dinyanyikan bisa terdengar.

Dan bila, manusia saja sanggup menampilkan lagi suaranya yang terekam, maka apakah sulitnya bagi Tuhan Yang Maha Perkasa untuk menyajikan kembali kitabNya yang terjaga dari seluruh rekaman makhlukNya? Sesungguhnya, ini adalah suatu misteri yang sampai kini tak seorangpun manusia bisa mengungkapnya.

  1. Pada hari tatkala yang tak kelihatan ditampakkan
  2. Lalu ia tak mempunyai kekuatan dan tak (pula) penolong.

Allah berfirman bahwa suatu hari rahasia ini akan diungkapkan, dan kitab amal perbuatan akan dibuka. Dan pada hari itu, manusia tidak mempunyai kekuatan intrinsik lagi untuk menyelamatkan diri dari akibat perbuatannya itu, ataupun tak ada penolong lain yang sanggup menyelamatkannya dari pembalasan buruk atas kelakuannya. Maka, setiap orang harus berhati-hati pada saat dia memasukkan catatan perbuatannya. Bahkan pada saat mengucapkan pidato biasa pun, lihatlah betapa berhati-hatinya dia. Dan pada saat pembuatan suatu film layar-lebar, lihatlah betapa penuh perhatiannya seorang aktor karena dia tahu bahwa setiap langkahnya akan dipertontonkan kembali, dihadapan umum. Maka pertimbangkanlah, betapa besar kebutuhan untuk berhati-hati bagi manusia guna menghadapi rekaman Ilahi yang luar-biasa hebat ini, karena itu ingatlah, bahwa Qur’an Suci telah menyatakan: ”Maka barangsiapa berbuat kebaikan sebesar atom, ia akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat keburukan sebesar atom, ia akan melihatnya” (99:7-8).

  1. Demi langit yang memberi hujan
  2. Dan demi bumi yang membuka (dengan tumbuh-tumbuhannya)
  3. Sesungguhnya itu adalah sabda yang Memutuskan
  4. Dan itu bukanlah senda-gurau.

Allah berfirman di sini bahwa penjagaan dan penyimpanan atas amal perbuatan kita adalah perkara yang serius serta menentukan, dan sungguh bukanlah suatu sisipan tanpa dasar. Di dunia fana ini, Dia telah mengungkapkan kepada kita seberapa jauh akibat dari perbuatan kita. Misalnya, seketika setelah hujan turun maka biji benih yang ada di bawah tanah menyembul ke permukaan dan berkembang menjadi tanaman yang indah-permai, maka demikian pula di saat Nabi Allah turun ke dunia ini, maka beliau membawa hujan samawi yang menghidupkan dan menyebabkan berkembangnya kapasitas laten yang tersembunyi di hati manusia, yang baik maupun buruk. Maka, amal perbuatan manusia, apakah itu baik ataukah buruk, berkembang di dunia fana ini dan mengakibatkan dalam skala tertentu buahnya, atau akibatnya sendiri.

Jadi, pada batas tertentu, gambaran Hari Pembalasan itu Nampak tepat di sini, dan di dunia inilah kita mendapatkan penglihatan atas kemenangan dan keberhasilan yang berkait dengan amal saleh dan kebinasaan serta kehinaan sebagai akibat amal yang buruk. Dan semua kejadian ini adalah untuk memberi keyakinan dan bukti yang tak terbantahkan atas akibat perbuatan serta realitas pada kehidupan akhirat. Maka, demi kemaslahatan kita, contoh yang paling indah adalah yang sudah dicontohkan dalam kehidupan Nabi Suci Muhammad s.a.w.

  1. Sesungguhnya mereka merencanakan suatu rencana
  2. Dan Aku pun merencanakan suatu rencana
  3. Maka berilah tangguh kepada orang-orang kafir, biarkanlah mereka sejenak.

Allah berfirman bahwa orang-orang kafir senantiasa terlibat dalam rencana siasat yang licik untuk menghancurkan Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan dakwahnya, tetapi Dia, Allah, juga senantiasa mempunyai rencana untuk menjaga dan memenangkan Islam. Maka sesudahnya akan nampak akibatnya – yakni siapa yang akan menjadi pemenang dan siapa pula yang sia-sia dan binasa.

Memang memakan waktu untuk sebuah biji tumbuh berkembang menjadi sebatang pohon. Karenanya, beberapa waktu diberikan kepada kaum kafir untuk berkembang dan menuai hasilnya, dan dari catatan atas tingkah-lakunya itulah mereka akan mengetahui bahwa pencatatan atas perbuatan itu adalah suatu fakta tak terbantahkan.

Oleh sebab itu, betapapun singkatnya, suatu pembalasan harus diberikan. Sekarang juga, sudah menjadi fakta tak terbantahkan bahwa kemenangan menyeluruh dan cepat dari Nabi Suci Muhammad s.a.w. terhadap musuh-musuh beliau, merupakan kesuksesan yang tak ada bandingannya dalam sejarah agama. Sesungguhnya, pembalasan ini tidak lama, tetapi dalam jangka waktu yang pendek mereka akan memikul buah perbuatannya.

Pendeknya, mengenai pencatatan atas amal perbuatan kita, dalam surat ini dikemukan alasan filosofis dan ilmiah beserta contoh dari fenomena alam dan hukum yang tersaji yang mereka taati, sebagai bukti dari Allah. Kemudian Dia menyatakan proklamasi bagi kaum yang melawan serta membangkang bahwa dalam kehidupan fana ini pun Dia akan membukakan, dalam batas tertentu, konsekwensi dari rencana jahat apa pun yang mereka lancarkan terhadap Rasulullah Muhammad s.a.w. Dan Dia akan menyebabkan mereka merasakan serta melihat, di dunia fana ini, sedikit dari buah perbuatan yang mereka peroleh dari pengetahuan tertentu, yakni bahwa perbuatan itu pasti membawa akibatnya sendiri. Maka, agar akibat ini tidak dinisbahkan diwaktu yang lain, Dia karenanya telah memberikan ramalan ini jauh hari sebelumnya.

Pada saat bersamaan telah memberi tantangan, cobalah mereka melancarkan seluruh daya dalam rencana rahasia dan siasat liciknya ke depan untuk menghadapi pembalasan yang sudah diramalkan. Sebaliknya, Dia sendiri mempunyai suatu rencana dan sederhana saja, dalam jangka pendek mereka akan segera merasakan, tepatnya di dunia ini, sedikit dari akibat perbuatan mereka. Setelah pernyataan ini, Anda akan mengamati bahwa dengan mengabaikan segala usaha itu, pada akhirnya amal perbuatan mereka runtuh menjadi abu. Yang jahat menemui nasibnya dan yang baik menerima pahalanya – yang menjadi bukti nyata bahwa amal kita itu dicatat dan tingkah-laku kita akan mendapatkan buahnya – dan semuanya ini dibuat dengan pernyataan jauh hari sebelum peristiwa itu terjadi.

Sebagai tambahan arti yang lebih mendalam dari ayat yang kami sajikan di atas, adalah:

  1. Demi langit yang memberi hujan
  2. Dan demi bumi yang membuka (dengan tumbuh-tumbuhannya)

berisi banyak bukti-bukti mendalam, serta cerdas berkaitan dengan sifat kehidupan manusia dan juga akibat amal perbuatannya. Dengan turunnya hujan berkali-kali dari langit, maka suatu bukti yang tak terbantahkan bahwa sebagaimana air berubah menjadi uap dan tak pernah lenyap, tetapi hanya bentuknya saja yang berubah. Dan bila Allah menghendaki, uap air itu berubah menjadi hujan dari awan, dan jatuh ke bumi sebagai air lagi; begitu pula, ruh manusia, bila terpisah dari jasadnya, tidak lenyap tetapi hanya keadaannya saja yang berubah dan ruh itu akan kembali kepada Allah pada saat yang ditentukan.

Sesungguhnya, sebagaimana air hujan yang berasal dari unsur-unsur bumi, maka ia juga berisi unsur langit yang terkandung di dalamnya sebuah kehidupan dan potensi untuk tumbuh. Dengan cara yang sama, ruh manusia, pada waktu kembali kepada Tuhannya, ia juga mengandung unsur dunia dan langit. Hal kedua sebagai perbandingan adalah bahwa sebagaimana biji benih itu menyembul dari bumi dan bila bercampur dengan air hujan akan tumbuh dengan indahnya serta mengandung buah sesuai dengan fitrah yang diberikan oleh Tuhannya. Dengan cara yang sama, di Akhirat , biji benih amal perbuatan bersama dengan ruh manusia yang berisi potensi kehidupan langit, akan bergabung dan menyembul serta berkembang serta akan menghasilkan buahnya, masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya, dan demikianlah kehidupan sesudah mati itu terbentuk.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: