Tafsir SURAT (90) AL-BALAD : KOTA

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

 Surat ini termasuk golongan Surat Makkiyah. Didalam surat sebelumnya, yakni Al-Fajr (Waktu Fajar), kabar baik diberikan kepada orang-orang yang berjuang di jalan Allah, yang pada akhirnya akan mencapai keberhasilan. Dalam surat ini, Al-Balad atau Kota, kita diingatkan bahwa tanpa usaha yang tekun, seseorang tak akan dapat mencapai tujuan besarnya. Inilah sebabnya mengapa perintah yang diberikan kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. yakni agar beliau berusaha sekeras-kerasnya dan tak kenal menyerah meskipun beliau telah dijanjikan kemenangan yang pasti akan tiba, karena beliau diberi tanggung-jawab yang besar untuk menyiarkan risalah yang berisi kebebasan dan persamaan yang amat penting bagi kehidupan umat manusia.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tafsir SURAT (78) AN-NABA’ (PEMBERITAHUAN) Bagian II

  Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Hidup sesudah mati akan berdasar hasil dari amal perbuatan kita didalam hidup ini. Inilah sebabnya mengapa setiap orang akan menghadapi konsekwensi dari kelakuannya dengan mata-kepalanya sendiri. Betapa pun, manusia telah melakukan banyak kesalahan dan tersembunyi dari mata manusia, karena kebodohan atau kejahatan, dia terus-menerus melakukan perbuatannya itu, sehingga ketika berhadapan dengan pertanggung-jawabannya, begitu besar rasa malu dan penyesalannya sehingga ia ingin agar dia bisa berubah menjadi debu daripada mengalami kehinaan dan rasa malu yang diderita sebagai konsekwensinya. Baca lebih lanjut

Tafsir SURAT (78) AN-NABA’ (PEMBERITAHUAN) Bagian I

 Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini adalah wahyu Makiyah permulaan yang menekankan segi bahwa manusia itu diciptakan untuk beramal di dunia ini dan bahwa balasan atas amal perbuatannya, apakah berupa kenikmatan atau siksaan, merupakan hasil dari perbuatan yang tak terhindarkan baginya.

Kini, akibat dari setiap dosa atau pelanggaran, merajalelanya materialisme atau kemalasan, berasal dari kenyataan bahwa manusia itu tidak memiliki keyakinan di hatinya jika perbuatannya akan berbuah di kelak kemudian hari. Sebaliknya, bila dia sepenuhnya yakin bahwa seluruh kata-kata dan amal perbuatannya, serta gerak-geriknya dalam setiap keadaan akan meninggalkan suatu kesan permanen dan akibat yang berkepanjangan, maka pasti dia akan sangat berhati-hati atas segala apa yang dikatakan dan diperbuatnya.  Baca lebih lanjut

Tafsir SURAT (89) AL – FAJR (WAKTU FAJAR)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah. Didalam surat sebelumnya, Al-Ghashiyah (Peristiwa menakutkan yang melingkupi), tekanan utama diletakkan pada topik – agama fitrah yang bekerja sesuai dengan perintahNya – yang berakibat akan digelarnya amal perbuatan kita di kemudian hari. Nabi Suci Muhammad s.a.w. telah diberitahu untuk mengajak manusia menuju agama ini tidak dengan paksaan. Sebaliknya, kewajiban beliau hanyalah mengajak umat manusia kepada agama ini dan mengingatkan mereka atas fitrah mereka yang sesuai dengan Islam. Namun, para penolak dan mereka yang berkeberatan untuk mendengarkan kebenaran yang disiarkan oleh Nabi Suci serta para sahabatnya tidak diperkenankan untuk memaksakan penggunaan kekerasan untuk menyampaikan kebenaran ini kepada mereka, akan tetapi justru para penentang itu tidak pernah bosan menggunakan kekerasan dalam melakukan aksinya untuk mencegah beliau membawakan risalah dakwahnya.

Akibatnya, sebagai sarana untuk mempertahankan Islam tersebut Nabi Suci saw. dan para sahabat dipaksa menggunakan tindakan yang tidak biasa, yang dalam istilah Islam disebut jihad fi sabil-lil-Lah (berperang di jalan Allah). Yakni, demi menjaga dan mempertahankan kebenaran maka diperlukan perjuangan (Perang) dimana untuk mengatasi segala macam kesulitan diperlukan segala jenis pengorbanan baik harta maupun jiwa dan beribadah untuk memohon kekuatan dengan doa kepada Allah, Yang Maha-tinggi. Sebagai tambahan atas perkara ini, selain pada masa Nabi Suci, sesungguhnya pada setiap abad diperlukan pula suatu  jihad (perjuangan) kaum muslimin yang lain, yakni suatu mandat untuk senantiasa berjuang melawan hawa-nafsunya sendiri untuk menegakkan Islam. Dalam rangka menaklukkan hawa nafsu dan dorongan jahat yang memerintahkan kejahatan pada dirinya, kaum Mukmin harus mengalami berbagai macam cobaan dan penderitaan dengan melakukan segala macam pengorbanan. Dan diatas segalanya dia harus melakukan ibadah dan berdoa dengan sungguh-sungguh yang merupakan sarana yang paling utama untuk mendekatan diri kepada Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu ingat untuk terus menerus berjuang mengendalikan hawa nafsu dalam dirinya seperti yang disebutkan dalam surat ini, Al-Fajr (Waktu Fajar), dan merenungkan perjuangan yang telah dilakukan oleh Nabi Suci beserta para Sahabat.  Begitu pula surat ini membawakan berita gembira yang akan diberikan kepada mereka menyangkut sukses yang setinggi-tingginya yang akan diraih. Diterangkan pula metode yang dijalankan oleh seorang mukmin yang bertempur melawan hawa-nafsunya sendiri dan mencapai keberhasilan akan bisa dicontoh oleh setiap Muslim yang lain yang berjihad di jalan Allah dan karenanya dia juga akan mencapai sukses dalam perjuangan tersebut, baik dalam menaklukkan nafsunya maupun terhadap kaum kafir. Inilah jalan, yang harus dilalui oleh manusia, yang akan menolongnya mendaki ketingkat spiritual yang lebih tinggi dalam perjalanannya untuk menuju kepada Allah dan mencapai keridhaanNya. Baca lebih lanjut

Tafsir SURAT (88) AL – GHASYIYAH (PERISTIWA YANG MELINGKUPI)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah dan berhubungan sangat erat dengan surat sebelumnya , yakni Al-A’la (Yang Maha-tinggi). Dan begitu pentingnya topik yang dibahas di sini, sehingga Nabi Suci Muhammad s.a.w. sering membacanya dalam shalat Jum’at berjamaah dan membacanya dalam kedua salat Ied. Maksudnya ialah di saat orang banyak berkumpul merupakan kesempatan yang baik untuk meresapkan dalam ingatan mereka masalah pokok didalam surat ini. Dalam surat Al-A’la (Yang Maha-tinggi), kita diperintahkan untuk mengagungkan Allah dan selanjutnya dinyatakan bahwa kesempurnaan dari doa ini dapat dicapai melalui surat Al Ghashiyah, yakni bahwa kita harus bertindak sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah kepada kita sehingga dapat memenuhi tujuan untuk apa kita diciptakan. Dalam surat ini (Al Ghashiyah) kita diberi tahu bahwa kita harus bertanggung-jawab atas amal perbuatan kita dan karenanya kita harus berusaha membentuk tingkah-laku sesuai dengan pola petunjuk yang diberikan Allah kepada kita didalam Qur’an Suci. Kemudian bila kelakuan kita baik dan teguh berlandaskan petunjuk Ilahi ini, maka kita akan mencapai tujuan dari kehadiran kita didunia ini dan kehidupan pada masa depan kita akan membahagiakan. Jika tidak, kita akan celaka. Baca lebih lanjut

Tafsir SURAT(87) AL-A’LA (Yang Maha-Luhur)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah. Didalam surat At-Tariq (Yang datang pada waktu malam), kita diberitahu bahwa kehidupan kita di masa depan tergantung kepada catatan amal perbuatan kita. Surat ini memberi alasan mengapa hal itu dikemukakan, yakni, tujuan paling utama dari kehadiran manusia di dunia ini adalah berbuat amal saleh, dan karenanya lafal tersebut adalah bumbu yang diperlukan dalam pengagungan asma  Tuhan Yang Maha Tinggi, maka kita senantiasa diperintahkan mengucapkan: “Sabbihisma Rabbikal A’la” (Maha Sucikanlah nama Tuhan dikau, Yang Maha-luhur). Baca lebih lanjut

Tafsir SURAT(86) AT-THARIQ (Yang Datang Pada Waktu Malam)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di kota suci Mekkah, dan didalam surat ini tekanan utama diletakkan pada kenyataan bahwa amal itu tak pernah musnah. Dalam surat ini selanjutnya kita juga mengenal bahwa Allah telah menyediakan aturan yang diperlukan demi persiapan hidup masa depan manusia dan untuk mengungkap kebenaran inilah maka Nabi Suci s.a.w. diturunkan ke dunia ini. Baca lebih lanjut