Nubuat Nabi Musa AS: Nabi Besar Yang Dijanjikan

Serial Mengenal Nabi Suci Muhammad SAW, melalui Nubuat

Oleh : KH. S Ali Yasir

“Orang-orang yang mengikuti Nabi Utusan yang Ummi, yang mereka dapati tertulis dalam Torat dan Injil. Ia menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka berbuat jahat, dan menghalalkan kepada mereka barang-barang yang baik, dan mengharamkan kepada mereka barang-barang yang kotor, dan menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu yang ada pada mereka. Maka dari orang-orang yang beriman kepadanya dan menghormatinya dan membantunya, dan mengikuti sinar terang yang diturunkan bersama dia mereka adalah orang yang  beruntung”. (Al-A’raaf 7:157).

Riwayat Nabi Musa AS.

Nabi Musa AS, dilahirkan kira-kira tahun 1250 sebelum Masehi di Mesir ketika bangsa Israel diperbudak pada zaman Firaun (Ramses III). Pada waktu itu berlaku undang-undang bahwa setiap anak laki-laki yang dilahirkan dari bangsa Israel harus dibunuh; tetapi Musa diselamatkan Ilahi dari bahaya maut itu, bahkan beliau dibesarkan di istana Firaun sendiri yang penuh kejayaan dan kemegahan (20:39-40).

Setelah beliau dewasa, pada suatu hari Musa berjalan-jalan di luar istana, bertemu dengan seorang Israel yang sedang dianiaya oleh bangsa Mesir. Musa menempeleng orang Mesir itu dan matilah ia (28:15). Musa diberitahu bahwa para pembesar Mesir akan membunuhnya sebagai hukuman atas perbuatannya (28:20), maka Musa melarikan diri dari Mesir menuju Madyan (28:21-22). Di Madyan beliau bertemu dengan Nabi Syuaib AS, lalu menikah  dengan salah satu anak perempuan beliau. Selama sepuluh tahun Musa tinggal di Madyan, kemudian kembali lagi ke Mesir (28:23-29). Dalam perjalanan beliau mendapat panggilan Ilahi, bahwa beliau diangkat sebagai Nabi (19:52; 20:11-14; 27:8-9; 28:30) dan ditugaskan agar memperingatkan Firaun dan membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman Firaun (7:103-105; 20:46-48; 26:15-17; 44:18). Untuk melaksanakan tugas tersebut Nabi Musa AS, memohon kepada Allah agar dibantu Harun saudara laki-lakinya (20:25-35; 26:12-14; 28:33-34). Setibanya di Mesir Nabi Musa AS, berdebat dengan Firaun (20:47-55; 26:18-31), Firaun meminta nasehat para pembantunya dan tukang sihir (7:109-112; 10:76-79; 20:59; 26:34-37), tetapi salah seorang pembantu Firaun yang telah beriman secara rahasia membantu Nabi Musa AS,  (40:28-45). Firaun meminta tanda bukti kerasulan Nabi Musa AS, maka dari itu tanda bukti didatangkan oleh Nabi Musa AS, atas izin Allah, yaitu berupa:  Tongkat berubah menjadi ular dan tangan beliau berubah menjadi putih (7:107; 26:32-33; 79:20). Fiiraun memerintahkan para tukang sihir agar melawan Nabi Musa As, tetapi perlawan mereka gagal total (7:113-126; 10:80-82; 20:60-73; 26:38-51) akhirnya mereka beriman kepada Nabi Musa AS, (7:120-121; 20:70; 26:46-48). Selanjutnya Nabi Musa AS, mendatangkan tanda bukti lainnya lagi (7:130-133) sehingga jumlahnya sembilan macam (17:101), yaitu:

  1. Musim kering
  2. Berkurangnya buah-buahan (7:130),
  3. Merajalelanya katak,
  4. Merajalelanya belalang,
  5. Merajalelanya lalat,
  6. Merajalelanya kutu,
  7. Berubahnya air menjadi darah (7:133),
  8. Tangan bersinar putih, dan
  9. Berubahnya tongkat menjadi ular (27:12).

Semua tanda bukti itu merupakan bencana bagi Firaun dan bangsanya. Tatkala itu satu persatu datang menimpa mereka, mereka berkata:

“Wahai Musa mohonlah untuk kami kepada Tuhan dikau seperti yang ia janjikan untuk engkau, jika wabah itu engkau singkirkan dari kami, niscaya kami akan beriman kepada engkau, dan kami akan menyuruh putera Israel pergi bersama engkau” (Al-A’raaf 7:134).

Tetapi setelah wabah disingkirkan, janji mereka akan beriman kepada Allah tak pernah ditepati (3:135; 43:45-50). Mereka malah menghina dan mengolok-olok Nabi Musa AS, (43:51-52), bahkan mengancamnya.

Nabi Musa AS, menasehati kaumnya agar bersabar dan mendirikan shalat (7:128; 10:84). Karena di Mesir tidak aman, Nabi Musa AS, diperintahkan Ilahi agar meninggalkan Mesir pada malam hari dengan melintasi laut Merah. Firaun dan bala tentaranya mengejar dan akhirnya binasa, tenggelam di tengah lautan (2:50; 7:138; 10:90; 20:77-78; 26:53-66). Nabi Musa AS, dan kaumnya selamat, mengembara di padang pasir Sinai. Kemudian Nabi Musa AS, pergi ke gunung Sinai dan melakukan tafakur salama 40 hari. Disana Nabi Musa As, menerima syariat untuk bangsa Israel (2:51; 7:143-145; 20:83-84) dan Kitab Torat (7:142-145) yang diwahyukan kepadanya (2:53; 6:92) sebagaimana kitab suci lainnya yang dikaruniakan kepada para nabi lainnya. Ajaran pokok syariat Nabi Musa AS, terkenal dengan Undang-Undang Sepuluh (Ten Commandmens),  sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran 20:1-7 yang ringkasnya sebagai berikut:

  1. Jangan mempertuhan selain Allah
  2. Jangan menyembah patung atau apapun yang ada dilangit dan dibumi.
  3. Jangan menyebut nama Allah sembarangan
  4. Ingat dan kuduskanlah hari Sabat dengan jalan tidak melakukan suatu pekerjaan pun.
  5. Hormatilah ayah ibumu
  6. Jangan membunuh
  7. Jangan berzina
  8. Jangan mencuri
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta
  10. Jangan mengingini rumah, isteri, hamba dan kekayaan sesama.

Para pemimpin Israel yang mengikuti Nabi Musa AS, ke gunung Sinai, memohon agar Tuhan berkenan menampakkan diri secara fisik (wadag) kepada Nabi Musa AS, (2:55). Demikian pula Nabi Musa AS, juga ingin melihatnya (7:143) yang mengakibatkan mereka jatuh pingsan. Setelah nabi Musa AS, sadar kembali, mendoakan para pengikutnya agar mereka juga sadar kembali (7:155). Doa beliau dikabulkan Ilahi.

Sewaktu Nabi Musa AS, pergi ke gunung Sinai kepemimpinan umat diserahkan kepada Nabi Harun AS. Setelah Nabi Musa As, kembali alangkah terkejutnya beliau karena mendapati kaumnya telah menyembah berhala anak sapi yang terbuat dari emas atas petunjuk Samiri (2:51; 7:150; 20:86-90). Sebenarnya Nabi Harun AS, telah melarang kaumnya menyembah berhala anak sapi, akan tetapi mereka nekad, bahkan menentang nabi Harun AS, (20:90-91). Melihat kenyatan tersebut Nabi Musa AS, sangat marah, bahkan Nabi Harun pun dimarahinya (7:150; 20:92-94). Nabi Musa AS, membakar berhala anak sapi tersebut dan membuangnya ke laut (20:97). Namun demikian Nabi Musa masih memohonkan ampunan bagi kaumnya (7:155-156), tetapi kaumnya malah melontarkan berbagai macam tuduhan palsu (33:69; 61:5). Ketika Nabi Musa AS, menganjurkan kaumnya memasuki tanah suci Kanaan, kaumnya enggan dan menolak untuk bertempur, mereka memilih mengembara dipadang belantara selama 40 tahun (5:21-26).

 

Nubuat Nabi Musa AS.

Menjelang akhir hayatnya, Nabi Musa AS, menubuatkan kedatangan Nabi Suci Muhammad SAW. Nubuat itu tertulis dalam kitab Torat, sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam firmanya:

“Ini akan Aku tetapkan bagi orang yang bertaqwa dan membayar zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, orang-orang yang mengikuti Nabi utusan yang ummi, yang mereka dapati tertulis dalam Torat dan Injil” (Al-A’raaf 7:156-157).

Dalam Torat ada ayat-ayat yang tertulis sebagai berikut:

“Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara mereka dari antara saudara mereka, seperti ini: Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan kutuntut pertanggung jawaban. Tetapi seorang nabi, terlalu berani mengucapkan demi namaKu, perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama Allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18:17-20).

Nubuat tersebut amat populer dan hidup dikalangan orang Israel dari zaman ke zaman. Pada zamannya Nabi Yahya AS, dan Isa Al Masih AS, (abad pertama Masehi), orang-orang Israel bertanya kepada Nabi yahya AS, sebagai berikut:

“Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias”. Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu siapakah engkau, Elia?” dan ia menjawab:”bukan”, “engkaukah nabi yang akan datang?” dan ia menjawab “Bukan!” (Yohanes 1:19-21).

Dari dialog tersebut diatas, dapat diketahui bahwa Bani Israel sampai pada waktu itu sangat mengharapkan tiga tokoh yang dinubuatkan kedatangannya, yaitu:

  1. Mesias
  2. Elia dan
  3. Nabi yang dijanjikan.

Kedua harapan mereka telah dipenuhi Ilahi, yaitu:

  1. Mesias atau Al-Masih yang ditugaskan menegakkan kerajaan Daud, ialah Nabi Isa AS. (Lukas 1:31-33) dan
  2. Elia yang naik ke Syurga (II Raja-raja 2:11) dan akan turun ke dunia menjelang kedatangan Mesias (Meleakhi 4:5) ialah Nabi Yahya AS, yang datang dengan roh dan kuasa Elia (Matius 17:10-13).

Tokoh ketiga, nabi yang akan datang sampai pada waktu itu belum datang juga, bahkan Nabi Isa AS, nabi Bani Israel yang terakhir juga menubuatkan kedatangannya (QS 61:6). Maka dari itu sepeninggal Nabi Isa AS, dari Palestina, bangsa Israel masih tetap mengharapkan kedatangannya. Petrus, murid Nabi Isa AS, pernah memberikan peringatan kepada warga jemaatnya tentang nabi yang dijanjikan sebagai berikut:

“Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan seorang nabi dari antara saudara-saudara, sama seperti aku; Dengarlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakan kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita. Dan semua nabi yang pernah berbicara mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini”. (Kisah para rasul 3:22-24).

Berdasarkan keterangan tersebut jelaslah bahwa umat Kristen zaman permulaan masih mengharapkan kedatangan seorang nabi yang dijanjikan oleh Nabi Musa AS, dalam Ulangan 18:18-22; tetapi umat Kristen zaman sekarang tidak mengharapkan kedatangan Nabi yang dijanjikan oleh Nabi Musa AS, karena mereka beranggapan bahwa Nabi yang dijanjikan Musa itu adalah Isa Al Masih (Yesus Kristus). Anggapan umat Kristen itu jelas tidak benar, sebab:

  1. Isa al Masih tidak menyatakan diri sebagai Nabi yang dijanjikan oleh Nabi Musa, beliau hanya menyatakan diri sebagai Mesias (Kristus) saja. Pada suatu hari Nabi Isa bertanya kepada murid-muridnya: “Menurut kamu siapakah aku ini?” Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias” (Markus 8:29). Hal ini membuktikan bahwa Nabi Isa hanyalah dinubuatkan sebagai Mesias saja, bukan sebagai Nabi yang seperti Nabi Musa AS.
  2. Cirri-ciri Nabi yang dijanjikan oleh Nabi Musa AS, tak dapat diterapkan pada diri Nabi Isa al Masih. Ciri-ciri itu ialah:
  3. Dibangkitkan dari antara saudara Israel (Ulangan 18:18),
  4. Seperti Nabi Musa (Ulangan 18:18),
  5. Allah menaruh firmanNya dalam mulutnya (Ulangan 18:18),
  6. Menyampaikan segala firman Allah (Ulangan 18:18),
  7. Firman Allah disampaikan demi nama Allah (Ulangan 18:19),
  8. Yang menolak dituntut Ilahi (Ulangan 18:19),
  9. Tak sombong dan tak akan manti dibunuh (Ulangan 18:20).
  10. Nabi Isa AS, sendiri meramalkan kedatangannya, sebagaimana dinyatakan dalam Quran Suci Surat As-Shaaf 61:6 dan Perjanjian Baru, Matius 23:43-44; Yohanes 16:12-14 dan sebagainya.

Jika bukan Isa al Masih, lalu siapakah Nabi yang dijanjikan itu? Beliau itu tiada lain ialah Nabi Suci Muhammad SAW, buktinya:

Pertama : Beliaulah satu-satunya Nabi yang menyatakan diri sebagai Nabi yang dinubuatkan oleh Nabi Musa AS, sebagaimana diisyaratkan Ilahi dalam Quran Suci:

“Orang-orang yang mengikuti Nabi Utusan yang Ummi, yang mereka dapati tertulis dalam Torat dan Injil. Ia menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka berbuat jahat, dan menghalalkan kepada mereka barang-barang yang baik, dan mengharamkan kepada mereka barang-barang yang kotor, dan menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu yang ada pada mereka. Maka dari orang-orang yang beriman kepadanya dan menghormatinya dan membantunya, dan mengikuti sinar terang yang diturunkan bersama dia mereka adalah orang yang  beruntung”. (Al-A’raaf 7:157).

Oleh karena itu Nabi Suci Muhammad SAW, diperintahkan oleh Ilahi agar menyatakan kepada  kaum Yahudi  (dan Kristen) sebagai berikut:

“Wahai Ahli Kitab kamu tak mengikuti sesuatu yang baik, sampai kamu menjalankan Torat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu”. (Al-Maidah 5:68).

Jika kaum Yahudi dan Kristen benar-benar menjalankan Torat dan Injil serta menerima nubuat tentang Nabi yang dijanjikan, akan memperoleh petunjuk dan terhindar dari perselisihan, sebab Nabi Suci dan Quran Suci menjelaskan yang samar-samar dalam Torat dan Injil, sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam firmanNya:

“Sesungguhnya Quran ini menceritakan kepada Bani Israel, sebagian besar yang mereka perselisihkan. Dan sesungguhnya ini adalah petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (An Naml 27:76-77).

Kedua : Semua ciri yang diterangkan oleh Nabi Musa AS, dalam Torat cocok dengan ciri-ciri Nabi Suci Muhammad SAW, sebagaimana diterangkan dalam Quran Suci dan Hadits Nabi serta bukti sejarah. Ciri-ciri itu ialah:

a. Nabi itu “dibangkitkan dari antara saudara mereka”. Kata mereka dalam kalimat tersebut ialah bangsa Israel. Jadi yang dimaksud dengan saudara mereka ialah bangsa Arab, karena bangsa Arab itu bersaudara dengan bangsa Israel, sebab keduanya sama-sama keturunan Nabi Ibrahim AS, Bangsa Arab keturunan Nabi Ismail AS, putera sulung Nabi Ibrahim AS dengan Isterinya Siti Hajar, sedangkan bangsa Israel adalah keturunan Nabi Ishak AS, Adik Nabi Ismail AS, putera Nabi Ibrahim AS, dengan isterinya Siti Sarah. Nabi Suci Muhammad SAW, adalah bangsa Arab, kabilah Quraisy, keturunan Kedar, putera Ismail yang kedua.

Ciri ini tak bisa diterapkan kepada Nabi Isa AS, karena beliau berasal dari bangsa Israel juga. Para pemimpin Gereja mengatakan bahwa Isa al Masih (Yesus Kristus) adalah saudara bangsa Israel, karena beliau dilahirkan tanpa bapak manusia. Tafsiran ini bertentangan dengan nubuat Nabi-nabi terdahulu, bahwa Al Masih (Mesias) adalah keturunan Nabi Daud AS, (Mazmur 132:11-12). Jika Nabi Isa AS, dianggap bukan keturunan Israel, maka nubuat yang bertalian dengan kedatangan Mesias tak berlaku bagi beliau.

b. Nabi itu seperti Musa. Antara Nabi Musa AS, dan Nabi Muhammad SAW, mempunyai persamaan yang mencolok. Adanya persamaan itu dinyatakan Ilahi dalam Quran Suci sbb:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Utusan kepada kamu, sebagai saksi terhadap kamu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Utusan kepada Firaun”. (Al Muzammil 73:15).

Dalam suatu Hadist riwayat Imam Bukhari dari Sahabat Abdulah bin Amr bin Ash r.a. berbunyi sebagai berikut: “Ya demi Allah, sesungguhnya beliau (Nabi Suci Muhammad SAW) disifati dalam Torat dengan sebagian sifat dalam Quran Suci”.

Persamaan-persamaan itu ialah:

  1. Nabi Musa As, menerima wahyu pertama di gunung, yaitu gunung Sinai; demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, menerima wahyu yang pertama juga di gunung, yaitu Jabal Nur dimana terdapat Gua Khiro’. Hal ini dinubuatkan dalam Bibel sebagai berikut:

“Inilah berkat yang diberikan Musa, abdi Allah itu, kepada orang Israel sebelum ia mati. Berkatalah ia: “TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia Nampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang kudus” (Ulangan 33:1-2).

  1. Nabi Musa AS, menerima Kitab Suci Torat yang mengandung syariat baru (32:23) yang menggantikan syariat yang lama, demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, juga menerima Kitab Suci Al Quran (25:1) yang mengandung syariat baru, yang menggantikan syariat yang lama (2:106). Hal ini dinyatakan Ilahi dalam Quran Suci secara khusus sebagai berikut:

“Dan sebelumnya adalah Kitab Musa (yakni Torat), sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini adalah Kitab yang membenarkan (itu) dalam bahasa Arab (yakni Quran Suci), agar ini memberi peringatan kepada orang-orang yang lalim, dan memberi kabar baik kepada orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Al-Ahqaaf 46:12).

Sifat ini tak terdapat dalam diri nabi Isa Al Masih, karena beliau tidak mengubah Hukum Torat, sebagaimana dinyatakan:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Torat atau Kitab para nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Torat, sebelum semuanya terjadi.  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Torat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah didalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:17-19).

  1. Nabi Musa AS, mendirikan rumah yang ramai dikunjungi untuk beribadah dan berkorban, yaitu Tabernakel; demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, juga mempunyai rumah yang ramai dikunjungi untuk beribadah dan berkurban, yaitu Ka’bah di kota Mekkah.
  2. Nabi Musa AS, memiliki sifat Jalali (keagungan), dalam menyebarluaskan ajarannya tidak hanya menggunakan dalil, tetapi juga dengan perang jika perlu; demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, dalam menyebarluaskan agamanya tidak hanya menggunakan dalil tetapi juga menggunakan pedang (untuk membela diri); tetapi Nabi Isa Al Masih hanya berjuang dengan dalil saja, beliau melarang menggunakan kekuatan fisik, sebagaimana dinyatakan dalam Injil:

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. (Matius 5:39).

  1. Nabi Musa AS, menjadi panglima dalam peperangan, dan menyaksikan kebinasaan musuh-musuhnya, Firaun dan bala tentaranya di laut Merah; demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, juga menjadi panglima dalam peperangan dan menyaksikan kebinasaan musuh-musuh beliau, Abu Jahal dan bala tentaranya binasa dalam perang Badar. Persamaan (No. 1 sampai dengan No. 5) diterangkan Ilahi dalam firmanNya:

“Demi gunung. Dan demi Kitab yang ditulis, dalam kertas yang tak dilipat. Dan demi Rumah yang ramai dikunjungi. Dan demi langit-langit yang ditinggikan. Dan demi lautan yang pasang naik. Sesungguhnya siksaan Tuhan dikau pasti terjadi”. ( At-Thuur 52:1-8).

Dalam bible juga terdapat ayat yang berbunyi:

“Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapn muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit diantara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah Tuhan ditanah Mesir, terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa didepan seluruh orang Israel”. (Ulangan 34:10-12).

  1. Nabi Musa As, diakui oleh umatnya sebagai Nabi dan juga sebagai penguasa duniawi, demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, juga diakui sebagai Nabi oleh umatnya dan juga sebagai penguasa duniawi.; akan tetapi Isa Al Masih sampai hari ini tak diakui sebagai Nabi oleh kaumnya (Bangsa Israel), dan beliau tak mempunyai kekuasaan duniawi, hanya mempunyai kekuasaan secara ruhani saja, sebagaimana dinyatakan dihadapan Pontius Pilatus:

“KerajaanKu bukan berasal dari dunia ini; Jika kerajaanKu dari dunia ini pasti hamba-hambaKu telah melawan supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi kerajaanKu bukan berasal dari sini”. (Yohanes 18:39).

  1. Nabi Musa As, wafat secara alami dan terhormat, kemudian dikuburkan dibumi; demikian pula Nabi Suci Muhammad SAW, juga wafat secara alami, kemudian juga dikuburkan didalam bumi Madinah, tetapi Isa Al Masih menurut keyakinan Kristen mati secara terkutuk diatas tiang salib, kemudian bangkit dari kubur pada hari ketiga, terus naik ke sorga duduk disebelah kanan Allah.
  2. Setelah Nabi Musa AS. wafat, tugasnya diteruskan oleh para Khalifah, Khalifah Nabi Musa AS, disebut Nabi atau Rasul, demikian pula sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, juga diikuti para Khalifah yang banyak, Khalifah Nabi Suci Muhammad SAW, disebut Mujadid. Persamaan ini dinyatakan Ilahi dalam ayat berikut:

“Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka penguasa (khalifah) di bumi, sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa” ( An Nuur 24:55).

Sesudah Nabi Isa AS. wafat, tak diikuti oleh khalifah, yang ada dan merajalela adalah dajjal dan nabi-nabi palsu, sebagaimana dinubuatkan dalam Matius 24:1-24, Quran Suci juga menerangkan bahwa sesudah Nabi Isa AS, wafat sampai datangnya Nabi Suci Muhammad SAW, dilahirkan kedunia ini tak dibangkitkan seorang nabi pun (5:19).

Ciri Ketiga : Allah menaruh firmanNya dalam mulut Nabi itu. Nubuat ini cocok sekali dengan Quran Suci. Quran Suci bukanlah karangan Nabi Suci Muhammad SAW, atau catatan para sahabat tentang ajaran atau perilaku Nabi Suci Muhammad SAW, melainkan firman Allah atau Kalamullah (9:6) yang diturunkan dalam hati Nabi Suci Muhammad SAW, (2:97), kemudian oleh Nabi diucapkan dengan tepat tanpa perubahan sedikitpun (69:44-47), dan tak ada yang terlupakan sehurufpun (87:6); yang diturunkan Allah

sendiri (26:192; 39:1), dengan perantaraan Malaikat Jibril (2:97), atau Ruhul Amin (26:193), atau Ruhul Qudus (16:102); yang diturunkan secara berangsur-angsur (25:23; 17:106) dalam bahasa Arab yang terang (12:2, 20:113; 13:37; 16:103) karena Nabi Suci Muhammad SAW, adalah orang Arab.

Ciri ketiga ini tak bisa diterapkan kepada Nabi Isa AS, karena semua  kitab Injil yang sekarang ini ada bukanlah kata-kata Tuhan yang ditaruh dalam mulut Nabi Isa AS. Injil hanyalah catatan tentang kisah dan ajaran Nabi Isa AS, dan murid-muridnya, yang ditulis orang yang sebagian belum pernah “berjumpa” dengan Nabi Isa AS, sendiri.

Ciri Keempat: Nabi itu “akan mengatakan kepada mereka segala yang diperintahkan tuhan kepadanya”, Pertama, Nabi yang dijanjikan Tuhan itu akan menerima syariat dan ajaran yang sempurna dari Tuhan.

Kedua, ajaran yang sempurna itu harus disampaikan kepada semua umat manusia di muka bumi ini, termasuk bangsa Israel.

Nubuat ini cocok sekali dengan pribadi Nabi Suci Muhammad SAW, :

  1. karena Beliau menerima syariat dan ajaran yang sempurna dari Tuhan, sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam firmanNya:

“Pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kamu agama kamu dan aku lengkapkan nikmatku  kepada kamu dan aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama”. (Al Ma’idah 5:2)

  1. Beliau diutus untuk menyampaikan risalah Ilahi kepada seluruh umat manusia. Dengan tegas beliau menyatakan:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semuanya”. (Al A’raf 7:158).

Nubuat tersebut tak dapat diterapkan kepada Isa al Masih, karena:

  1. Isa al Masih belum menyampaikan semua perkara Tuhan, sebagaimana dinyatakan kepada murid-muridnya:

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia sudah datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah akan dikatakanNya  dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” .(Yohanes 16:12-13)

  1. Isa al Masih tidak diutus untuk memimpin seluruh umat manusia, melainkan hanya diutus kepada bangsa Israel saja. Kepada murid-muridnya beliau berpesan sebagai berikut:

“Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 10:5-6)

Ciri kelima : “Segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu”. Nubuat ini jelas menunjuk kepada Quran Suci, karena Quran Suci adalah pengejawantahan yang sempurna dari kehendak Ilahi. Tiap-tiap surah dalam Quran Suci selalu dimulai dengan Nama Allah, yang berbunyi: Bismillaahirahmaannirahiim, artinya, Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah Yang Maha Pengasih. Hanya surat nomor 9 (Al Bara’ah) saja yang tanpa Basmalah.

Ciri keenam: Barang siapa yang menolak Nabi itu akan dituntut Tuhan. Ramalan ini juga mengisyaratkan kedatangan Nabi Suci Muhammad SAW. Orang-orang Yahudi dan Kristen yang menolak kerasulan Nabi Suci Muhammad SAW. dituntut Ilahi, yang paling keras menolak Nabi Suci adalah kaum bani Israel (5:82), maka mereka dikutuk Ilahi yang berupa penganiayaan dan pengusiran oleh bangsa lain (7:167-168).

Sebenarnya kaum bani Israel mengenal betul, siapa Muhammad SAW, itu; mereka mengenal Nabi Suci sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri (2:146;6:20). Hanya karena kedengkian sajalah mereka kufur. Sekiranya mereka mau menerimanya, Allah akan melimpahkan kemuliaan di muka bumi ini (Ulangan 28:1-2)

Ciri Ketujuh: “Seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan yang tidak kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama Allah lain, nabi itu harus mati”. Nubuat ini bisa diringkas sebagai berikut:  “Nabi itu tidak sombong dan tidak akan mati dibunuh”. Nubuat yang demikian amat cocok dengan Nabi Suci Muhammad SAW, Karena:

  1. Beliau adalah seorang yang ketulusan dan keluhuran budi pekertinya diakui oleh semua pihak, baik kawan maupun lawan. Lawan-lawan beliau memberi gelar Al Amin, artinya orang yang bisa dipercaya; mereka menentang keras dan memusuhinya bukan karena kesombongannya, melainkan karena salah faham terhadap ajaran beliau .
  2. Beliau tidak mati dibunuh, melainkan mati secara wajar. Beliau wafat setelah menegakkan kedaulatan Tuhan di muka bumi, Jaziratul Arabia.

Ciri tersebut tak bisa diterapkan kepada Isa Al Masih, sebab menurut kaum YahudiNabi Isa AS, mati dibunuh, yakni disalib (5:1570). Hal inilah yang menyebabkan kaum Yahudi menolak kerasulan Nabi Isa Al Masih sampai sekarang.

 

Dikutip dari : Buku Mengenal Nabi Muhammad SAW. melalui Nubuat, Pendidikan Agama Islam sub Bidang Tarikh Islam, Jilid I. Oleh KH. S. Ali Yasir; Penerbit PP Yayasan PIRI, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: