Tafsir SURAT (78) AN-NABA’ (PEMBERITAHUAN) Bagian II

  Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Hidup sesudah mati akan berdasar hasil dari amal perbuatan kita didalam hidup ini. Inilah sebabnya mengapa setiap orang akan menghadapi konsekwensi dari kelakuannya dengan mata-kepalanya sendiri. Betapa pun, manusia telah melakukan banyak kesalahan dan tersembunyi dari mata manusia, karena kebodohan atau kejahatan, dia terus-menerus melakukan perbuatannya itu, sehingga ketika berhadapan dengan pertanggung-jawabannya, begitu besar rasa malu dan penyesalannya sehingga ia ingin agar dia bisa berubah menjadi debu daripada mengalami kehinaan dan rasa malu yang diderita sebagai konsekwensinya.

RUKUK  2

31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan memperoleh keberhasilan.

Taqwa berarti sangat berhati-hati dalam menjalankan kewajiban kita terhadap Allah dan sesama manusia. Mereka yang takut kepada Allah dan menaruh penghormatan atas risalah yang dibawa oleh para nabi serta sadar akan tanggung-jawabnya terhadap amal perbuatan mereka, dan mempunyai keyakinan terhadap petunjuk Allah yang diwahyukan serta menjadikannya contoh-teladan, mereka dijanjikan dengan suatu kemenangan sempurna. Sebagai bukti atas kemenangan ini dalam kehidupannya yang mendatang, Allah Ta’ala menganugerahkan bagi orang-orang tulus pada masa Nabi Suci s.a.w. suatu kemenangan yang tak ada tandingannya dimana kebenaran atas pertanggung-jawaban terhadap amal perbuatan itu jelas nampak seperti dalam cermin yang terang. Meskipun  kekurangan sumber daya serta perlawanan dari bangsa Arab dan penguasa di sekitarnya, Nabi Suci s.a.w. beserta para sahabatnya telah mencapai suatu kemenangan yang bergema ke mana-mana, baik material maupun spiritual, hal serupa belum pernah ada di dunia. Sesungguhnya, adalah tetap benar bahwa prinsip-prinsip Qur’an Suci itu begitu berpengaruh sehingga setiap orang yang mengikatkan dirinya dalam hidup ini tanpa bayangan keraguan sedikitpun, akan memperoleh sukses baik di dunia maupun di akhirat.

  1. Taman-taman dan kebun anggur.

Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa karena keimanan dan amal salihnya maka taman-taman akan disiapkan bagi orang tulus di akhirat, yakni, suatu kehidupan yang penuh kedamaian dan kebahagiaan akan disediakan bagi mereka. Taman adalah tempat tinggal yang penuh keindahan. Inilah sebabnya mengapa kata ‘taman’ itu tidak selalu diambil secara harfiah karena ini juga berarti perumpamaan, bagi setiap persediaan untuk kehidupan yang nikmat dan tenteram di Akhirat. Suatu taman yang berbuah keimanan dan amal salih pastilah suatu ganjaran yang adil bagi orang yang baik budi, tetapi penyebutan khusus tentang anggur di sini, membawa suatu arti kiasan khusus yakni bahwa jus anggur itu berisi sejenis gula istimewa yang disebut glukosa yang menyegarkan hati dan emosi manusia. Kekhususan ini lebih jelas kejutannya dalam pengaruh anggur yang dibuat dari jus buah anggur terhadap manusia.

Karena itu, sama seperti anggur yang membangkitkan emosi dan kemampuan manusia, begitu pula, kecintaan kepada Allah atau cintanya kepada melayani agama, menguatkan kemampuan ‘dalam’ manusia dan mendorong hati dan jiwanya dengan tenaga rahasia serta menyuntikkan tenaga dan kegairahan untuk berjuang dan berkurban di jalan Allah. Dengan kata lain, kecintaan kepada Allah menciptakan anggur ruhani dalam kehidupan akhirat, karena, kenyataannya, akhirat itu dibentuk dari kehidupannya di alam fana ini dan merupakan suatu penggelaran dari iman dan amal salih di dunia ini. Sesungguhnya, ini adalah fakta tak terbantahkan bahwa jika manusia itu tidak memiliki cinta sejati kepada Allah, maka perbuatannya akan memancarkan akhlak mulia dari kegairahan, perjuangan, tanpa pamrih pribadinya serta pengorbanannya sebagaimana yang diminta Qur’an Suci berulang yakni agar manusia selalu meresapkan dalam hatinya.

  1. Dan (teman) yang muda-muda yang sebaya umurnya.

Jika kenikmanatan kehidupan Akhirat itu tidak ada padanannya dengan kehidupan didunia, lalu adakah kenikmatan yang lebih besar dalam hidup itu selain ditemani seorang isteri yang sebaya usianya?

Sungguh sulit dimengerti kenapa orang-orang berkeberatan atas hal ini dan mengapa mereka mesti berfikir bahwa bagi seseorang yang mulia serta tulus dengan diberi isteri di akhirat akan bertentangan dengan kesuciannya bahkan akan berbahaya!. Jika, dalam hidup ini seseorang diberi isteri yang sebaya mudanya dan salih, adakah sesuatu yang kurang suci di sana? Namun terlebih lagi, kemana perginya para perempuan di dunia ketika mereka meninggal dunia? Apakah mereka akan dilenyapkan sepenuhnya bahkan hingga benar-benar tiada, atau akankah dunia lain diciptakan bagi mereka? Apakah perempuan itu dianggap kotor hingga langit dilarang menerimanya? Untuk menerangkan mengapa tak ada kaum perempuan di surga, suatu khutbah yang aneh diedarkan yang menyatakan bahwa kaum lelaki tidak boleh masuk ke langit dimana kaum perempuan yang salihah berada!

Marilah kita periksa persoalan kenikmatan kebahagiaan surge itu. Dengan sarana penglihatan, kita memperhatikan suatu pemandangan yang indah, tetapi agar kita mendapatkan kenikmatan darinya, manusia diberkahi dengan jiwa atau ruh untuk melakukannya, karena jiwanyalah yang menerima kepuasan berkat sarana berupa semua pancaindera jasmaninya. Karena alasan inilah, maka jiwa dan badan adalah partner dalam masalah perasaan dan sentimen. Jadi, pada saat jiwa atau ruh meninggalkan jasadnya, maka dia akan menerima suatu kehidupan baru yang berbeda, bahkan lebih tinggi nilainya dari hidupnya kini, jadi, bila dia harus mengalami kesenangan dalam hidupnya yang baru ni, maka indera baru yang sama dimana ruh dan badan saling berperan dan sebagai sarana merasakan kenikmatan tersebut sebagaimana kehidupan di dunia ini, sehingga ruh bisa menikmati kesenangannya. Dengan perkataan lain, dia akan mempertahankan kemampuannya untuk melihat, mendengar, mencium, menyentuh dan mencicipi. Ruh itu akan tetap menikmati hidup bercinta meskipun bentuknya akan lebih canggih dan lebih nikmat daripada yang dirasakan di alam fana ini. Namun, hal ini hanya akan terjadi sepanjang garis berikut, yang alasannya adalah karena dengan cara ini bisa diperoleh kesenangan di dunia ini; maka di alam akhirat, satu-satunya cara  bagi ruh manusia untuk mencapai ekstasi adalah jalan yang telah diajarkan kepada jasad manusia selama hidupnya yang sementara di bumi ini. Kehidupannya atau kehadirannya, apapun itu, adalah suatu gabungan dari nafsu dan sensasi. Maka dia tak dapat menyerap kebahagiaan melalui indera lain kecuali yang telah dilatih dalam hidup sebelumnya.

Inilah sebabnya dalam dunia impian dan rukyah, apa pun yang kita lihat yang sifatnya ruhani, hal itu selalu diperlihatkan dalam bentuk fisik tertentu. Misalnya, ketika kita merasakan buah ruhani, maka itu selalu dirupakan bentuk suatu buah-buahan duniawi dan kita mencicipinya dengan indera perasa kita. Bahkan meskipun kita telah menyukai buah semacam itu dalam pelbagai kesempatan di dunia ini, toh ruh atau jiwa kita hanya dapat memperoleh kenikmatannya di dunia impian, seolah buah itu datang ke mulut kita seperti buah dari dunia ini dan kita mencicipi kenikmatannya lewat indera perasa kita. Selain itu, tak ada jalan lain dimana kita bisa menikmati buah ruhani itu.

Jika dibantah bahwa hidup di akhirat itu tidak ada rasa atau indera, maka ini sama juga dengan mengingkari hidup sesudah mati, karena bila perasaan dan indera itu tak ada dalam kehidupan mendatang, maka bagaimana manusia merasakan kehidupan surga atau neraka itu, akankah tak ada bahagia atau derita.

  1. Dan gelas yang suci (dihaqa).

Dihaqa berarti gelas yang penuh dengan kesucian dan kebersihan.

Orang-orang tulus yang menjalani kehidupan suci di dunia ini pasti akan diberi satu gelas kesucian di akhirat. Fakta bahwa itu akan diisi penuh adalah suatu pertanda pasti bahwa dambaan fitrah mereka akan dipuaskan sepenuhnya dan secukup-cukupnya. Dengan kata lain, tak akan ada kekurangan atasnya dan apapun rahmat yang mereka peroleh adalah lengkap-sempurna. Tambahan pula, apapun yang diberikan untuk minumnya adalah bersih dan murni.

  1. Di sana mereka tak akan mendengar cakap-kosong, dan tak pula cakap-dusta.

Apakah kesia-siaan itu? Beberapa hal itu berguna dan yang lainnya lagi merugikan, tetapi perkara yang tidak berguna dan tidak merugikan itulah disebut kesia-siaan yang tidak disukai dalam Islam, karena Islam itu menginginkan agar manusia menghabiskan seluruh waktunya dalam beramal salih. Seseorang bisa membantah bahwa bila di surga itu tidak kedengaran cakap-kosong, lalu kenapa disebutkan pengaruhnya yang merugikan? Begitu pula, bila sesuatu itu bahkan tak pernah terdengar di masyarakat, bagaimana hal tentang itu bisa dipertanyakan?

Ayat ini memberi contoh bagaimana sifat mulia dari kaum Muslim itu diinginkan oleh Qur’an Suci agar diulang-ulang dalam hidupnya. Jadi hal ini menggambarkan suatu lukisan dari masyarakat yang terdiri dari abdi dan individu Muslim yang tulus dan beriman, model ini digelar dimana omong-kosong bahkan tak pernah terdengar, ataupun kita terlibat sesedikit mungkin. Ini menyajikan suatu masyarakat ideal yang demikian terhormat sehingga bahkan di masyarakat Barat dengan budayanya yang modern dengan segala kecanggihannya tetap tidak mampu untuk membantu manusia agar mencapai tingkat semacam ini. Bahkan masyarakat masa kini yang meniru model Barat terjebak dalam segala macam konvensi yang sia-sia dan omong-kosong. Betapa pun, gambaran suatu masyarakat yang tulus beriman yang bisa ditarik dari Qur’an Suci adalah menghindari usaha yang tak ada gunanya.

Sifat luhur lain yang diinginkan Qur’an Suci agar diingat selalu dalam fikiran kita adalah bahwa seorang mukmin itu harus mencintai kebenaran sedemikian rupa sehingga mustahil baginya untuk berkata dusta apapun yang terjadi pada keadaan sekitarnya. Haram baginya untuk berkata bohong. Dalam segala hal, seorang mukmin tak akan mengucapkan hal yang palsu.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa Nabi Suci s.a.w. sekali waktu ditanya sebagai berikut: “Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut?”; beliau mengiyakan. Si penanya lalu melanjutkan: “Bisakah dia seorang yang menyakitkan?” Sekali lagi, Nabi Suci setuju. Kemudian beliau ditanya: “Mungkinkah seorang mukmin itu berdusta?”. Atas hal ini Nabi Suci s.a.w. menjaawab: “Seorang mukmin tak mungkin berdusta”.

Jadi, dalam cahaya Qur’an Suci, sikap yang paling kasar adalah bicara bohong satu sama lain. Suatu masyarakat dimana penyakit ini meraja-lela tidak mungkin bisa mencapai sifat akhlak yang luhur. Jadi, model dari suatu masyarakat yang tulus yang digambarkan untuk kita adalah yang paling sublim dan berdasarkan dua prinsip ini: pertama, dalam masyarakat itu, jauh dari perbuatan yang sia-sia, bahkan omong-kosong pun tak akan terdengar, dan kedua, tingkat moralitas dan budaya dusta semacam itu tak mendapat tempat di masyarakat.

  1. Ganjaran dari Tuhan dikau, suatu pemberian yang cukup (hisaba).

Hisab berasal dari hasaba yang berarti cukup.

Karena amal perbuatan manusia itu terbatas, maka, begitu pula ganjaran bagi mereka. Begitu pula, hukuman bagi perbuatan jahat juga terbatas. Namun, mengenai pahala terbatas bagi amal salih, Qur’an Suci menyatakan: ‘ata’an hisaba’ (pemberian yang cukup), karenanya membuat hal itu tak ada batasnya. Yakni, balasan atas amal salih itu  dibatasi oleh keluhuran sifatnya. Tetapi karena Allah itu bebas dan sangat pemurah dalam rahmat-Nya, maka Dia memberikan pahala ini mengalir terus menerus.

Marilah kita periksa perbedaan kedua kasus ini dimana ganjaran itu disebutkan. Ketika membicarakan kejahatan, kata ‘jaza’an wifaqa’ (suatu pembalasan yang setimpal, ayat 26) digunakan, dan di sini kata-kata ‘ata’an hisaba (suatu pemberian yang cukup) digunakan, yang menandai bahwa kebaikan itu tidak hanya akan dibalas kembali sesuai timbangannya, tetapi melalui anugerah Allah dan pemberiannya yang tak terikat serta kemurahannya, maka pahala itu akan jauh melebihi ukurannya. Dalam ayat lain Qur’an Suci, ini mengacu kepada kata-kata berikut: ‘ata’an ghaira majdhuz (suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya, 11:108).

  1. Tuhannya langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya; Tuhan Yang Maha-pemurah; mereka tak mampu berbicara dengan Dia.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan kita ialah Allah, Tuhan dari langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya, Pemilik dari semua kejayaan dan keluhuran. Ini adalah satu bagian dari Pemelihara-Nya (Rububiyyat) dimana Dia telah menganugerahkan kepada manusia melalui sifat Rahmaniyyat-Nya. yakni, Pemberi dari hadiah cuma-cuma. Ini tidak diberi sebagai pahala atas perbuatan seseorang. Demikian luhur dan agung derajat-Nya sehingga tak seorang pun berwenang untuk berbicara dihadapan-Nya. Sebaliknya, demikian besar rahmat-Nya yang dikaruniakan kepada hamba-Nya yang terpilih sehingga mereka diperbolehkan untuk berdiri dihadapan-Nya dan berbicara kepada-Nya lima kali sehari. Sesungguhnya, mereka boleh berbicara kepada-Nya setiap saat yang mereka inginkan sehingga mereka bisa memohon bantuan-Nya dan memperoleh kemurahan-Nya dengan terus-menerus.

Orang-orang yang ingkar diberi tahu bahwa Tuhan mereka adalah Tuhannya langit dan bumi dan tak satu makhluk pun di langit dan di bumi yang berdaya untuk berbicara di hadapan-Nya. Sekarang ini, mereka tidak menghormati-Nya dengan penghormatan yang benar, namun mereka diperingatkan bahwa suatu hari pasti akan tiba dimana mereka akan menyaksikan terbabarnya sepenuhnya kekuatan, kejayaan dan kekuasaan-Nya. Betapa pun, pada hari itu, sebagai ganti Tuhan yang menyantuni alam semesta (Rabb), sifat-Nya sebagai Tuan dari hari Pembalasan (Maliki yaumid-din) akan terlihat dengan benderang. Berikut ini adalah gambaran dari hari itu:

  1. Pada hari tatkala Ruh dan Malaikat berdiri bersaf-saf.

Ar-ruh dapat berarti jiwa manusia, tetapi di sini, dalam pandangan penulis, ini merujuk kepada malaikat yang turun membawa wahyu yang meniupkan kehidupan ruhani kepada manusia. Dengan ‘mala’ikah’ berarti para malaikat yang mengilhami hati manusia kepada kebaikan. Dengan perkataan lain, pada hari Penentuan, untuk menggelar di hadapan manusia bukti yang tak terelakkan, maka akan hadir seluruh kumpulan abdi langit yang biasa digunakan untuk memberi petunjuk baginya dan melalui mana hatinya disuntik dengan himbauan mulia, sehingga tak ada ruang bagi terpidana untuk berkelit.

Kemuliaan dari Majelis pengadilan lantas diberikan pada hari itu. Tak seorang pun mampu bicara kecuali dia yang diizinkan oleh Yang Maha-pemurah dan dia tak bisa berkata apa-apa.

Ayat ini memberi kita suatu manifestasi lengkap dari Keesaan Yang Maha-kuasa dan keagungan-Nya yang sempurna. Tak disebutkan di sini adanya perantara.

Ya, hanya mereka, yang setelah mendapatkan izin, berbicara dengan kata-kata yang lurus dan jujur. Inilah ciri istimewa dari Majelis Tuan hari Keadilan. Di dalamnya, tak seorang pun berdaya atau berwenang untuk menggumamkan kata-kata tanpa seizin Yang Maha-kuasa. Di dunia ini, sifat Pemelihara dari Ilahi (Rububbiyyat) dilonggarkan, sehingga perkenan diberikan pada setiap orang untuk bermohon seketika itu juga. Namun, pada hari Kebangkitan, asma-Nya sebagai Tuan hari Kebangkitan (Maliki yaumid-din) akan tiba dan dijalankan sepenuhnya. Inilah mengapa, tanpa perkenan, tak seorang pun boleh berbicara pada hari itu.

“Berbicara dengan izin” dapat ditafsirkan dengan arti “perantara setelah diizinkan itu dihadiahkan oleh Allah”. Yakni, bila Allah Yang Maha-tinggi, ingin mengampuni seseorang, dan memberi seorang hambanya yang mulia izin untuk menjadi perantara baginya dengan Tuhannya untuk permohonan yang berharga, maka hal itu bisa masuk dalam gambaran ayat “kecuali dia yang diizinkan oleh Yang Maha-pemurah dan yang berbicara dengan benar”.Jadi jelaslah tanpa ragu sedikitpun bahwa perantara semacam itu sesungguhnya adalah manifestasi dari asma Allah yang pengampun. Namun, tanpa izin Allah, mustahil berbicara bahkan untuk menjadi perantara atau memberi rekomendasi.

  1. Itulah Hari yang Benar; maka barangsiapa menghendaki, ia boleh mengambil perlindungan kepada Tuhannya.

Ini berarti bahwa hari itu pasti datang. Faktanya, tak ada keraguan lagi atas kehadirannya. Sungguh, ini tak terhindarkan. Jadi, siapa pun bisa mendapatkan Kemurahan Tuhan  dan menemukan tempat perlindungan dengan-Nya.

Perkara yang dibahas sebagai awal dan akhir surat dalam Qur’an Suci adalah begitu rupa sehingga seseorang yang membacanya dengan mata jeli akan menemukan bahwa salah satu (awal atau akhir surat) adalah saling menjelaskan. Karena itu kita bisa melihat, bahwa dalam tafsir surat ini suatu pengumuman yang menggetarkan telah diserukan dan orang-orang berkeberatan atas hal itu. Setelah memberi semua alasan demi proklamasi ini, sekarang Qur’an Suci menyatakan pada akhir surat ini bahwa berita besar yang diumumkan pada pembukaan surat ini sungguh-sungguh benar begitu pula janji hari penggenapannya. Karenanya, perkara penting yang harus dilakukan seseorang adalah memanfaatkan pengumuman ini dan menyusun persiapan yang bulat untuk menghadap Ilahi dengan penuh percaya diri.

Qur’an Suci menyesalkan orang-orang yang begitu rupa melayani bahkan kepada para penguasa kecil di dunia ini,  sebaliknya…… “Dan mereka tak menghargai Allah dengan penghargaan yang pantas diberikan kepada-Nya….” (6:92) dan karenanya mereka menunjukkan pengabaian sepenuhnya atas undangan dari Se-adil-adil Hakim.

  1. Sesungguhnya Kami memperingatkan kamu tentang siksaan yang sudah dekat;

Yakni, keraguan apa yang bisa timbul lagi berkenaan dengan kebenaran atas berita ini yang telah diberikan oleh para Nabi ketika Allah Sendiri memberi tahu kepada mereka yang ingkar, melalui Nabi-Nya ini, akan siksa yang tak lama lagi akan segera tiba. Dengan perkataan lain, penggenapannya itu sudah dekat. Di sini, ada suatu rujukan yang jelas dari hukuman itu yang akan tiba dengan Perang Badar, perang Parit dan penaklukan Mekkah yang mula-mula dibawakan Allah bagi mereka yang menolak risalah untuk membenarkan kepastian dari hari Keputusan yang sesungguhnya. Dalam pelbagai peperangan itu, kebaikan mendapatkan pahalanya sedangkan kejahatan menuai pembalasannya, jadi membuktikan, tanpa ragu, fakta bahwa setiap perbuatan itu mengusung konsekwensinya masing-masing. Maka, seorang bijak adalah dia yang bisa menarik pelajaran dan peringatan dari hal ini.

(Lanjutan ayat 40) Pada hari tatkala orang melihat apa yang telah ia lakukan oleh

tangannya dahulu; dan orang kafir akan berkata: Aduh, sekiranya aku dahulu debu!

Hidup sesudah mati akan berdasar hasil dari amal perbuatan kita didalam hidup ini. Inilah sebabnya mengapa setiap orang akan menghadapi konsekwensi dari kelakuannya dengan mata-kepalanya sendiri. Betapa pun, manusia telah melakukan banyak kesalahan dan tersembunyi dari mata manusia, karena kebodohan atau kejahatan, dia terus-menerus melakukan perbuatannya itu, sehingga ketika berhadapan dengan pertanggung-jawabannya, begitu besar rasa malu dan penyesalannya sehingga ia ingin agar dia bisa berubah menjadi debu daripada mengalami kehinaan dan rasa malu yang diderita sebagai konsekwensinya.

Pada hari Kebangkitan, tak seorang pun bisa lolos dalam menyaksikan konsekwensi seutuhnya dari setiap tindak-tanduknya. Namun, bahkan dalam hukuman yang lebih cepat yang diterapkan terhadap kaum kafir di masa hidup nabi Suci, manifestasi ini diperagakan dengan terang benderang. Pada hari Mekkah ditaklukkan, begitu dalam penghinaan kepada kaum kafir Mekkah sehingga mereka berharap agar bumi ini terbuka dan menelan mereka. Kita harus ingat bahwa bangsa Arab itu adalah kaum yang sangat membanggakan dirinya. Besarnya rasa bangga diri ini sangat terpukul dalam peristiwa berikut ini: Pada Perang Badar, Abu Jahal, kepala kabilah Mekkah, ditaklukkan oleh dua pemuda dari Madinah dan ketika mereka mau memotong kepalanya, dia menanyai mereka: “Kalian berasal dari kabilah mana?”. “Kami dari Ansar (penolong Nabi Suci dari Medinah)”, jawab mereka.

Menyadari bahwa mereka itu rakyat kecil, Abu Jahal berkata kepada mereka: “Kamu tidak cukup berharga untuk meotong kepalaku. Saya seorang bangsawan dari keluarga terhormat, maka panggilkan seseorang dari kabilah Quraish (yang terkemuka) untuk membunuhku”.

Namun, para pemuda itu mengabaikan permintaan ini dan sadar bahwa mereka cenderung untuk membunuhnya, Abu Jahal mencoba taktik lain: “Baiklah, kalau kalian berkeras, tetapi ketika kaupotong kepalaku, pastikan bahwa itu terpotong agak ke bawah, sehingga kalau dijajarkan dengan kepala-kepala lain yang terpotong, punyaku akan terlihat tinggi dibanding kepala pemimpin yang lain”, pintanya.

Inilah kesombongan merata yang menjadi ciri utama orang-orang itu. Namun, pada hari penaklukan Mekkah, pada saat orang-orang yang sangat sombong dan mabuk pujian itu, yang telah mengusir Nabi Suci serta para sahabatnya dari Mekkah, berdiri dalam kekalahan di hadapan Nabi Suci dan beliau bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian harapkan dariku?” Mereka menjawab: “Engkau adalah susu dari kebaikan kemanusiaan sehingga kami mengharap belas kasihmu”.  Lalu Nabi Suci menjawab: “Pergilah dengan damai. Tak ada pembalasan untukmu hari ini karena aku telah memaafkan kalian sepenuhnya”.

Bayangkan betapa kehinaan yang menyakitkan dari pengampunan yang mereka terima ini! Tidakkah mereka, dalam rasa malu dan penyesalan ini, seandainya mereka bisa ingin masuk ke dalam bumi? Dan tidakkah ingatan atas kejahatan mereka di masa lalu serta kesewenang-wenangannya kembali menghantui mereka ketika mereka menyaksikan tindakan rahmat dan pengampunan dari Nabi Suci s.a.w.?  Dan tidakkah mereka mengharapkan agar saat itu bumi terbelah dan menelan mereka?

Berita tentang hari yang dijanjikan dimana Nabi Suci memberi pengumuman akhirnya terjadi. Gambaran yang sama akan terlihat pada hari Kebangkitan, tetapi dengan ukuran yang jauh lebih agung. Ketepatan proklamasi Nabi Suci akan dibenarkan dan tiada sesuatu pun yang tertinggal dari mereka yang mengingkarinya kecuali ingin agar bisa masuk tenggelam ke dalam bumi!.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: