Tafsir SURAT (78) AN-NABA’ (PEMBERITAHUAN) Bagian I

 Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini adalah wahyu Makiyah permulaan yang menekankan segi bahwa manusia itu diciptakan untuk beramal di dunia ini dan bahwa balasan atas amal perbuatannya, apakah berupa kenikmatan atau siksaan, merupakan hasil dari perbuatan yang tak terhindarkan baginya.

Kini, akibat dari setiap dosa atau pelanggaran, merajalelanya materialisme atau kemalasan, berasal dari kenyataan bahwa manusia itu tidak memiliki keyakinan di hatinya jika perbuatannya akan berbuah di kelak kemudian hari. Sebaliknya, bila dia sepenuhnya yakin bahwa seluruh kata-kata dan amal perbuatannya, serta gerak-geriknya dalam setiap keadaan akan meninggalkan suatu kesan permanen dan akibat yang berkepanjangan, maka pasti dia akan sangat berhati-hati atas segala apa yang dikatakan dan diperbuatnya. 

Misalnya, bila seseorang itu punya sedikit saja kecurigaan bahwa dalam makanannya mungkin terdapat racun yang bisa membawa akibat sakit atau bahkan bisa menyebabkan kematiannya, maka lihatlah betapa cepat dia akan menarik tangannya menghindar dari situ! Jadi mengapa kemudian, dia tidak mencoba menghindar dari racun perbuatan jahat dengan kecepatan yang sama? Adalah cukup jelas dari sini bahwa satu-satunya alasan kenapa dia bertahan dengan kelakuan jahatnya adalah karena dia tidak yakin bahwa perbuatannya itu akan mendapatkan pembalasan yang pasti. Jika dia benar-benar yakin atas kenyataan ini, maka dia akan sangat berhati-hati dalam segala tindak-tanduknya.

Maka kita bisa melihat, betapa tugas para nabi itu adalah suatu pekerjaan yang sangat rumit, karena suatu hal yang harus dikerjakannya ialah memberi manusia itu ilmu dan petunjuk yang memungkinkan dia membuat kemajuan dan mencapai kesempurnaan serta mendapatkan keridhaan Allah. Mereka juga harus menekankan kedalam fikiran umat atas fakta bahwa amal-perbuatan itu mengandung konsekuensi balasan dan bahwa manusia harus berdiri di hadapan Allah kelak pada kehidupannya di masa datang, yang abadi, dan memberikan pertanggung-jawaban atas kelakuannya di dunia ini, karena kenyamanan atau penderitaannya terikat dengan amal perbuatannya didunia ini. Jadi, ini adalah berita besar yang harus disampaikan oleh para nabi kepada dunia dan karena alasan inilah maka mereka itu disebut nabi.

an-Naba

Selengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih;

Naba’ merujuk kepada pengumuman yang berisi manfaat luar-biasa kepada umat. Kata depan “alif  lam” digunakan disini untuk menunjukkan bahwa ini adalah suatu pengumuman khusus di mana Nabi Suci Muhammad s.a.w. telah datang ke dunia ini untuk memproklamasikan kepada manusia, bahwa berita khusus itu adalah peringatan akan datangnya suatu hari yang pasti akan tiba, dimana manusia akan menjadi saksi atas amal perbuatannya.

Kualifikasi kata “‘azim” (kuat) menunjukkan fakta bahwa ini bukanlah suatu pengumuman yang main-main, melainkan satu-satunya jalan tempat bergantung masa depan manusia itu yakni kedamaian ataukah kesengsaraan. Idenya adalah untuk menekankan kedalam fikiran manusia betapa pentingnya amal perbuatan itu.

Pengumuman yang menggentarkan ini adalah apa yang oleh Qur’an Suci beberapa kali disebut sebagai Sa’ah. Yakni, waktu yang sudah ditetapkan dimana manusia akan melihat dengan mata-kepalanya sendiri pembalasan atas tingkah-lakunya dan saat itu akan tiba setelah kematiannya dimana dari seluruh amal perbuatannya akan diperiksa dengan sangat cermat.

Betapa pun, ketika berita ini disampaikan, adalah satu kondisi yang istimewa dan luar biasa penting yang akan menjadi dasar manusia dalam melakukan perbuatan baik dan menyuntikkan kedalam hatinya konsep pertanggung-jawaban.  Oleh karena itu, Allah Yang Maha-tinggi, guna menggaris-bawahi kepastian atas proklamasi ini, telah menunjukkan pada masa kehidupan setiap nabi besar sebagai suatu pandangan awal atas Sa’ah yang dijanjikan ini. Yakni, suatu gambar miniatur dari Sa’ah ini diberikan kepada manusia sepanjang masa kehidupan setiap nabi tersebut di mana kebaikan dan keburukan mendapatkan pembalasan yang setimpal didunia fana ini, karena Allah ingin menekankan kenyataan bahwa setiap perbuatan itu mengandung konsekuensinya masing-masing. Sebagai akibatnya, bila Allah menghendaki, Dia memperagakan suatu contoh atas hal itu kepada dunia sehingga hal itu bisa menjadi suatu pelajaran dan bukti akan Akhirat.

Jadi, di zaman para nabi, manifestasi dari akibat atas perbuatan itu diberikan kepada umat di dunia ini dikemukakan agar hal itu dapat membentuk suatu tanda-bukti yang nyata atas kebenaran akan Akhirat. Bila hal ini dianggap sebagai suatu mukjizat dari para nabi maka mungkin hal itu sangat tepat, karena tujuan sesungguhnya di belakang turunnya para nabi adalah agar manusia mengembangkan suatu keyakinan yang tak tergoyahkan atas kehidupannya sesudah mati, dan, menjadi sadar atas tanggung-jawabnya terhadap amal-perbuatannya, dia bisa memilih untuk menjalani kehidupan yang tulus dimuka bumi ini. Untuk mendorong keyakinan ini jauh ke lubuk hati manusia, Qur’an Suci berulang-kali menceriterakan kisah-kisah kehidupan dari para nabi di saat mana konsekuensi atas amal-perbuatan itu dengan jelas bisa disaksikan.

Qur’an Suci itu bukanlah sebuah kitab dongeng. Tujuan utama dari kisah di dalamnya adalah untuk menancapkan dalam fikiran kita pelajaran ini: seperti halnya Sa’ah itu datang melintas di dunia ini, dalam ukuran kecil, di masa hidup setiap nabi, dan baik kebajikan maupun kejahatan diberikan ganjarannya yang setimpal dalam batas tertentu pada kehidupan fana ini, maka, demikian pula, suatu hari akan tiba dimana, dalam ukuran yang lengkap dan sempurna, amal-perbuatan akan dipertanggung-jawabkan dan manusia akan menerima balasan sepenuhnya.

Secara umum dikatakan, akibat dari kelakuan kita itu tersembunyi dari mata manusia di dunia ini, dan karena kecerdasan manusia itu tidak mampu untuk menggapai setiap aspek dari realitas ini, karenanya, adalah penting bahwa beberapa bagian dari tabir itu harus dikuakkan pada masa hidup seorang nabi sehingga ilmu yang benar, serta realisasi dari akibat perbuatan itu bisa dialirkan ke hati manusia. Jadi, inilah mukjizat kenabian yang bersinar bagaikan suatu tanda yang berkilauan atas kenabian dari setiap para nabi.

Pada masa Nabi Musa a.s., tirani Fir’aun serta kehancuran akibat perbuatan dosanya dan pembebasan para pengikutnya membangun suatu manifestasi dari ilham yang menggetarkan atas keajaiban kenabiannya. Tetapi keindahan dan keagungan tertinggi dari keajaiban ini terjadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. pada saat akibat dari kebaikan dan kejahatan itu begitu jelas diperagakan sehingga hasil dari hal ini ialah tiadanya keraguan yang tersisa dalam fikiran manusia menyangkut datangnya Sa’ah di mana  konsekuensi amal-perbuatan itu terlihat nyata. Mengenai peristiwa ini, tujuannya adalah disampaikannya suatu pengumuman yang menggetarkan, yang diberikan untuk hal itu agar manusia diingatkan sebelumnya terhadapnya agar mereka berusaha untuk memperoleh suatu ilmu yang lebih mendalam tentangnya. Namun, pada saat pengumuman yang menggetarkan ini diproklamirkan kepada manusia di dunia, kelakuan jahat dan kelalaian mereka telah mencegah hatinya dari menerimanya dan menyerah dengan tulus pada pengumuman ini. Sebaliknya, mereka mulai merekayasa segala macam pertanyaan mengenai hal itu. Sebagai suatu kesimpulan, surat ini dimulai dengan menggelar pertanyaan di maksud:

RUKUK 1

  1. Tentang apakah mereka saling bertanya?
  2. Tentang pemberitahuan yang agung,
  3. Yang mereka berselisih tentang itu.
  4. Tidak, mereka akan segera mengetahui.
  5. Sekali lagi, tidak, mereka segera akan mengetahui.

Ayat-ayat ini mempertanyakan ketika kaum kafir bertanya atas proklamasi yang diumumkan Nabi Suci ke dunia ini. Dalam frasa ini Yang Maha-kuasa menyiratkan suatu implikasi penting dari keheranan bercampur dengan kegeraman, suatu alasan bahwa berita ini bukanlah suatu perkara biasa yang bisa disisihkan oleh mereka dengan membuat-buat alasan yang lemah dan keberatan yang konyol. Sebaliknya, ini adalah suatu hal yang harus diperhatikan oleh mereka agar bisa memperbaiki kelakuannya. Tetapi, mereka malahan membangkitkan berbagai macam keberatan yang mentertawakan.

Mereka kemudian dinasehati agar menyimak sekali lagi, karena Sa’ah itu akan segera tiba di saat mereka akan mengetahuinya melalui pengalaman praktis atas kebenaran dari proklamasi ini. Dengan perkataan lain, mereka akan mengetahuinya dengan keyakinan ilmu pada waktu mereka dipaksa untuk menghadapi pembalasan atas tingkah laku mereka.

Di sini, kata-kata:  mereka segera akan mengetahui, digunakan dua kali, mungkin sebagai suatu tekanan yang kuat bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi yang pasti atas amal-perbuatan mereka dua kali, pertama di dunia ini dan sesudahnya sepenuhnya di Akhirat nanti di mana di sana tak akan ada sedikit pun kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan keberatannya.

Ini adalah suatu nubuat yang sangat kuat dan menakutkan. Mereka dengan jelas diberitahu bahwa mereka menentang kebenaran namun suatu hari pasti akan tiba dimana mereka harus menjawab atas kelakuan mereka itu baik di dunia ini maupun dalam kehidupannya nanti.

Setelah ini, mereka diperingatkan atas penolakannya terhadap risalah Nabi Suci, yang menjadi kesalahan mereka, karena bila setiap benda di alam semesta ini diciptakan demi tujuan yang pasti, yang dapat dengan jelas dilihat oleh setiap orang, lalu bagaimana mereka bisa tidak menyadari bahwa manusia itu juga diciptakan demi tujuan yang agung? Manusia itu tidak dilahirkan secara kebetulan. Bila dia adalah sebagian dan obyek dari seluruh penciptaan, lantas bagaimana mungkin mereka diciptakan tanpa suatu tujuan yang istimewa? Dari sini kita dapat melihat bahwa penciptaan manusia itu mempunyai suatu tujuan yang pasti yang menjadikan dia harus bertanggung-jawab atas tingkah-lakunya. Sebagai kesimpulan, segala sesuatu itu periksalah satu demi satu untuk menarik perhatian kita terhadap fakta bahwa bila bumi dan langit serta segala sarana dimana kelahiran dan persediaan bagi manusia itu digantungkan; mereka itu mempunyai suatu tujuan yang harus dipenuhi; maka bagaimana bisa bahwa penciptaan manusia itu tanpa tujuan? Qur’an Suci selanjutnya menerangkan:

  1. Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?

Mihad (hamparan) berarti suatu tempat yang disiapkan, atau suatu tempat dimana orang bisa bergerak. Ardh (bumi) menunjukkan suatu obyek yang bergerak.

Almarhum Hazrat Maulana Nur-ud-Din menafsirkan, bahwa kata ardh (bumi) berarti suatu obyek bergerak yang perputarannya tidak dapat dilihat karena kecepatannya. Adalah suatu pengalaman biasa bahwa bila suatu obyek yang bulat, misalnya gasing, diputar, dan anda meletakkan sesuatu padanya, maka tak mungkin dia bertahan sedetik pun. Karena kecepatan putarannya, maka benda itu akan terlempar jauh dalam sekejap mata. Bandingkanlah ini dengan sikap dimana Allah Yang Maha-tinggi, di samping kecepatan dari revolusi bumi, telah menjadikannya bumi sebagai suatu tempat istirahat untuk kita; yakni bukannya kita terlempar jauh ke ruang angkasa, melainkan kita bisa hidup di atasnya dengan damai dan nyaman. Selanjutnya, lihatlah betapa di alam semesta yang maha luas ini, bumi seperti buaian bagi kita, lengkap dengan matahari sendiri yang bersinar secukupnya untuk kita dari segala jurusan. Bila kita ingin bukti selanjutnya betapa bumi ini seperti permadani yang digelar buat kita, maka lihatlah sepintas ke samudera. Sejauh mata memandang, dia terlihat rata seperti piring dan di samping kebulatannya, maka tak ada penghalang bagi kita untuk bergerak bebas dan mudah di sana. Jadi, kita harus bercermin kepada kenyataan bahwa meskipun bumi itu bulat, atau agak lonjong, ini adalah karpet; dia bergerak, dia berayun seperti buaian, tetapi kemana pun kita pergi, kita bisa menemukan suatu tempat untuk beristirahat dengan damai. Dari sini, kita dapat membuat deduksi yang jelas bahwa ada tujuan pasti di balik terciptanya bumi ini.

  1. Dan gunung-gunung sebagai pasak?

Di sini, kata autad (pasak) digunakan dalam arti kiasan yakni fungsi suatu pasak dengan dipakukannya pada suatu benda agar dia tetap di tempatnya, maka begitu pula yang dilakukan oleh gunung yang berfungsi memaku bumi agar teguh-kuat. Peneliti ilmiah telah membuktikan, bahwa dalam awal penciptaannya, bumi ini adalah benda cair yang panas dan pipih. Dia kemudian mendingin dan permukaannya mengeras menjadi suatu massa yang solid. Namun, karena keraknya itu secara nisbi lebih pipih dibandingkan dengan lapisan magma dalam perut bumi, karenanya, dia bergerak di atas massa cair, warna-warni, bagaikan sebuah perahu yang dihantam gelombang sehingga bergerak ke sana ke mari oleh tekanan gempa yang berturut-turut dengan ajeg. Sebagai akibat dari gerak yang konstan ini, maka bumi tidak layak untuk di huni. Namun, dari tekanan massa yang cair ini, menyembul kepermukaan dan terbentuklah gunung-gunung api yang berfungsi sebagai jangkar untuk menghentikan gerak kerak bumi ini dan menjadikannya layak huni. Pendeknya, dalam pembentukan gunung-gunung yang mengikat bumi seperti paku dan membuatnya diam serta cocok untuk kehidupan, maka ada suatu indikasi yang meyakinkan bahwa Sang Pencipta telah mempunyai suatu rencana khusus dalam menciptakan gunung-gunung ini. Penciptaan mereka bukanlah perkara omong-kosong. Sebaliknya, dia mengandung suatu tujuan yang besar.

  1. Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasang.

Setelah penciptaan bumi dan gunung-gunung, maka hadirlah umat manusia. Penciptaan manusia secara berpasangan adalah demi kesinambungan jenisnya. Tetapi setiap orang yang diberi kecerdasan dapat memperkirakan bahwa penciptaan secara berpasangan itu memerlukan fihak ketiga yang harus memiliki kebijaksanaan serta kekuatan yang besar. Dua makhluk yang berbeda diciptakan dan masing-masing mengandung emosi yang saling mengisi yang dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan terdalam satu sama lain! Selanjutnya, penciptaan manusia dan penyediaan sarana  demi kelangsungannya menunjukkan kesimpulan yang lain: bahwa Dzat Yang menciptakan haruslah Pemilik dari kekuatan Yang Maha-besar, Yang, dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya yang tak terbatas, menciptakan satu golongan demi golongan lainnya dan bahwa Dia mempunyai tujuan yang besar dengan penciptaan yang mengagumkan ini.

  1. Dan Kami membuat tidur kamu untuk istirahat.

Setelah berbicara mengenai penciptaan manusia dan kesinambungan jenisnya, Allah Ta’ala sekarang meminta perhatian atas ketahanan pribadinya. Di atas segalanya, tidur itu seolah perkara tak berguna yang nampaknya menghabiskan waktu saja. Namun, kita diberitahu di sini bahwa ada suatu tujuan yang mendalam di balik tidur itu karena tanpa hal itu maka manusia tak bisa bertahan, ataupun bisa melakukan pekerjaan lain di dunia ini. Karena demi kelangsungan hidupnya, dia memerlukan istirahat setelah bekerja dan tidak ada sarana yang lebih baik untuk beristirahat selain tidur. Dalam pengobatan, tidur bagi seorang pasien dipandang setengah dari pengobatan. Bila manusia itu tidak bisa beristirahat pada waktu malam, dia tidak akan merasa segar untuk bekerja pada esok harinya. Keletihan yang datang  dari kerja seharian dan kelelahan yang masuk ke fikiran begitu pula ke kaki tangan dan anggota badan yang lain bisa disingkirkan dengan istirahat yang akan menghilangkan segala kelelahan serta kehilangan tenaganya.

Setiap organisme hidup yang bekerja di dunia ini membutuhkan istirahat setelah bekerja. Pepohonan, tanaman, binatang, burung-burung, semuanya beristirahat dengan cara masing-masing, dan mereka tidur juga, dan hanya setelah ini mereka dapat kembali bekerja. Pertimbangkan pula, jantung manusia yang seolah bekerja tanpa henti. Bila jam kerja dan istirahatnya terukur, teranglah bahwa sepanjang duapuluh empat jam, dia bekerja penuh selama sembilan jam dan bersantai selama limabelas jam.

Apakah tidur itu? Ini adalah nama lain untuk mereposisikan lagi otak serta organ tubuh lainnya yang bekerja di bawah perintah otak. Jadi ini adalah suatu mekanisme yang membuat manusia segar kembali untuk bekerja pada saat berikutnya.

Jadi, yang lebih penting dari konsep tidur itu sendiri adalah fakta bahwa ini membangun tanpa keraguan bahwa Sang Pencipta itu adalah Dzat Maha-perkasa Yang maksudnya tidak hanya menciptakan manusia, melainkan juga membekali untuk kehadirannya, karena Dia telah menciptakan tidur untuk tujuan khusus yang menjamin kelangsungan hidup manusia.

  1. Dan Kami membuat malam sebagai penutup.

Penciptaan malam pun, mempunyai maksud yang pasti. Kegelapan menurunkan tabir terhadap segala sesuatu, dengan akibat bahwa pusat otak itu yang secara konstan menerima rangsangan terus-menerus yang disajikan oleh mata serta indera yang lain sekarang mendapat kesempatan untuk beristirahat, yang tak diperolehnya pada siang hari. Inilah sebabnya kenapa istirahat yang diperoleh otak dalam kegelapan mencapai kondisi sempurna yang diserap saat tidur dan tidak dapat diperoleh bila masih ada cahaya. Jadi, malam dengan kegelapan sebagai akibatnya adalah kondisi tak ternilai dalam mengembalikan kesegaran fikiran dan anggota tubuh manusia.

Seringkali, keadaan memaksa kita agar tetap terjaga pada waktu malam, tetapi betapa pun kita ingin memulihkan tidur pada siang hari, kita tak pernah memperoleh kualitas tidur yang sama seperti yang kita terima pada waktu malam. Inilah sebabnya mengapa para dokter menekankan agar ada kondisi gelap pada waktu kita tidur dimalam hari, karena bila kita tetap melihat ada cahaya maka pupil mata itu tidak dapat melebar sehingga otak tidak sepenuhnya beristirahat. Jadi, penciptaan malam itu bukanlah perkara main-main. Sesungguhnya, dalam penciptaan malam sebagai selimut, terdapat kebijaksanaan Tuhan yang besar. Di bawah selimut ini, tanaman serta binatang yang begitu penting demi kelangsungan hidup manusia, semua menemukan istirahatnya. Manusia sendiri membutuhkan selimut kegelapan demi kewajiban yang sesungguhnya halal, tetapi yang tidak boleh ditunjukkan secara umum sesuai dengan norma kesantunan, kehormatan dan kebudayaan.

Pendeknya, malam dengan jelas mengakhiri usaha dan karya manusia sepanjang hari dan menghantar selimut tidur dan kelelapan. Tetapi bila kita bercermin mendalam dan menimbang manfaatnya yang bermacam-macam, kita akan terkejut dengan penuh keheranan dan kekaguman. Karena, tersembunyi di balik penciptaan malam ada suatu maksud yang sangat penting dari Sang Pencipta yang berpengaruh demi kemaslahatan umat manusia.

  1. Dan Kami membuat siang untuk mencari mata penghidupan.

Setelah menciptakan malam dengan pemulihan fisik yang nyaman bagi manusia, Allah Ta’ala menciptakan siang untuk bekerja sehingga manusia dapat memperoleh sarana untuk penghidupannya. Orang-orang yang kaya maupun yang paling miskin keduanya mendapat manfaat siang hari ketika mereka berusaha keras dan lama dalam mencari mata pencaharian hariannya. Karena itu, betapa jelasnya maksud Sang Pencipta yang mengungkap hadiah berupa siang hari ini! Sebagai sumber cahaya Allah menciptakan matahari; sekarang perhatian kita bergeser kepada anugerah dari langit.

  1. Dan Kami membuat tujuh (benda) yang kuat di atas kamu.

Apakah benda-benda kuat yang dibangun Allah? Dia berfirman bahwa mereka itu di atas kita. Jelaslah bahwa ini merujuk kepada langit, tetapi di sini kata langit dihilangkan dan hanya kata: diatas kalian,  yang digunakan. Maksudnya ialah menjelaskan kepada kita bahwa bila kita menginginkan suatu gambaran dari langit, kita dapat memperolehnya dari ungkapan di atas kalian. Dengan kata lain, langit itu di atas kepala kita. Suatu penjelasan yang lebih ilmiah dan otentik dari langit itu tak diperoleh. Menurut ilmu pengetahuan, bila kita berdiri di bumi, maka kaki kita akan selalu menunjuk ke pusat bumi yang di sebut “bawah” (taht).

Jadi, gambaran ilmiah dari langit adalah “apa yang di atas kita”. Kata shidad (kuat) digunakan untuk menunjukkan apa pun ciptaan di atas manusia itu sangat kuat dan mustahil ada celah di dalam pengaturannya. Harus kita ingat bahwa kata shidad dan shadid (kuat) tidak selalu merujuk kepada sesuatu yang solid atau kompak. Misalnya, bila kita katakan bahwa sakit flu itu shadid (keras), atau demamnya shadid (kuat), kita tidak mengartikannya untuk benda padat. Lagi pula, bila kita katakan bahwa komposisi sesuatu itu kuat, maka kata shiddat (kuat) tidak dibatasi pada obyek material melainkan mengandung arti berbeda sesuai dengan konteks yang digunakan. Di sini pada waktu kekuatan dari langit itu ditunjukkan, rujukannya ialah kepada tenaga dan kekuatan dari sistem ruang angkasa yang tak seorang pun bisa membalikkannya.

Kata sab’an (tujuh) memberi tahu kita bahwa ada tujuh langit dan informasi ini diberikan kepada manusia hanya dari Allah Ta’ala. Pengetahuan ilmuwan itu terbatas dan meskipun mereka bekerja sampai batas kemampuannya, dan setiap hari membuat kemajuan yang baru, serta menemukan alat atau teleskop yang lebih baru dan kuat dimana mereka bisa menemukan bintang baru serta sistem galaksi yang baru, mereka semua sepakat atas apa yang ditemukan sejauh dari alam semesta, khususnya, dari bukti cahaya bintang serta pengaturannya, bahwa langit itu bisa dibagi menjadi tujuh bagian. Dengan perkataan lain, mereka mengatakan hal yang sama dengan Qur’an Suci yang telah menyebutkannya lebih dari seribu empatratus tahun yang lalu. Namun, Qur’an Suci menyatakan sesuatu yang lebih jauh lagi yakni: “Sesungguhnya Kami menghiasi langit lapisan bawah dengan hiasan bintang-bintang” (37:6).

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa langit yang kita amati berhiaskan bintang-bintang dan mempunyai hubungan dengan planet kita, Bumi, disebut langit bawah. Atau, hal ini disebut demikian karena dibandingkan dengan langit ruhani, maka langit ini adalah langit yang rangkingnya lebih rendah, dan di samping langit ini dan yang berkaitan dengannya adalah tujuh langit lain di mana, atas sifat mereka yang spiritual, menjadi tempat tinggal dari malaikat serta ruh dan yang bersangkut-paut dengannya; maka tujuh langit yang berisi bintang-bintang ini mendapatkan rancang bangun sebagai langit bawah.

Ketika langit di sebut di sini dalam hubungannya dengan planet kita, ini disebut langit bawah dan ini mengacu kepada tujuh bagian atau tujuh langit. Bila kita tidak memiliki langit ini serta pengaturan yang mengiringinya, maka kita akan tidak punya matahari yang menjadi sumber cahaya serta seluruh kehidupan lahiriah dimuka bumi ini. Sebagai kesimpulannya, Qur’an Suci menyatakan dalam ayat selanjutnya:

  1. Dan Kami membuat lampu yang bersinar.

Wah-haj berarti yang memberi cahaya dan panas. Matahari diciptakan untuk menyediakan bagi manusia dengan sinar dan kehangatan dimana bergantung kehidupan seluruh manusia dan binatang. Dari cahaya ini, kita juga mendapatkan siang hari dimana manusia dapat melakukan semua urusan bisnisnya. Bagaimana pun, setelah istirahat, jika manusia tidak mempunyai biji-bijian dan buah-buahan serta lain-lain persediaan, dia akan tidak memiliki sumber ketahanannya dan pasti akan mati. Demi makanan biji-bijian dan buah-buahan, kita memerlukan air dan demikianlah Qur’an Suci berkata:

  1. Dan Kami menurunkan dari awan air yang turun dengan lebat.

Mu’sirat berarti awan hujan di mana thaj-jaj berarti air yang tercurah dengan melimpah.

Panas matahari menimpa laut dan menyebabkan uap air membubung ke angkasa serta membentuk awan dari mana kita mendapatkan hujan yang membasahi bumi. Tujuannya diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:

  1. Agar dengan itu Kami menumbuhkan biji-bijian dan rumput-rumputan.
  2. Dan taman-taman yang rimbun.

Langit dan bumi keduanya bergabung untuk melayani manusia. Disebabkan cahaya mentari, uap air naik. Ini sebaliknya menyebabkan perubahan dalam arah angin dan hujan turun dengan akibatnya benih menjadi tumbuh begitu pula sayuran dan buah-buahan yang bisa dimakan yang menjadi bahan-bahan yang sangat diperlukan bagi hidup serta kesejahteraan manusia itu bergantung. Jadi, penciptaan langit dan mentari, bertiupnya angin dan jatuhnya hujan, tumbuhnya biji-bijian, sayuran dan buah-buahan, semuanya, dari kehadiran mereka masing-masing, mengungkapkan suatu tujuan khusus atas penciptaannya. Semuanya ini dengan jelas menyatakan kepada kita bahwa Pencipta mereka, dalam membawakan  kehadiran semua ciptaan ini, telah mempunyai rencana yang pasti dalam fikiran-Nya yakni dalam penciptaan manusia, bahan persediaan serta kesinambungan dari jenisnya.

Sekarang, bila penciptaan dari segala benda di atas juga memiliki tujuan dasar atasnya, yakni demi kelahiran, persediaan serta kelangsungan hidup manusia, maka jelaslah bahwa  penciptaan manusia sendiri juga mempunyai suatu tujuan yang pasti. Adalah mustahil untuk mengira bahwa setiap ciptaan di dunia ini mempunyai tujuan khusus kecuali penciptaan manusia yang merupakan mikrokosmos dari segenap makhluk ciptaan. Jika penciptaan seorang manusia itu tak ada maksudnya, maka berikutnya adalah bahwa penciptaan segala sesuatu yang disebut di atas tidak ada gunanya pula. Namun, ini adalah jalan fikiran yang salah.

Segala sesuatu yang diciptakan mempunyai suatu tujuan bagi penciptaannya dan dengan merenung atas fakta ini, menjadi sangat gamblang bagi kita bahwa segenap ciptaan ini adalah partner dalam satu tujuan tunggal yang lebih besar dan ini adalah demi melayani manusia. Karena itu, penciptaan manusia harus mempunyai suatu tujuan mulia yang melintasi dan mengungguli segala makhluk lainnya.

Manusia itu tidak diciptakan bukan untuk dunia ini. Sebaliknya, dunialah yang diciptakan demi manusia. Karena itu adalah perlu, bahwa tujuan hidup manusia itu harus sedemikian rupa terpisah dari ciptaan selebihnya dan sifatnya yang berbeda secara mencolok yakni amal perbuatannya.

Manusia, dengan kemuliaannya dari tenaga kecerdasannya serta sifat memilah dan memilih, telah memiliki keunggulan yang menonjol di banding segala makhluk yang lainnya. Dia juga bertanggungjawab atas kata-kata dan tingkah-lakunya. Adalah konsekuensi atas tindak-tanduknya inilah, yang berjalan di bawah hukum pertumbuhan dan perkembangan, yang bertanggungjawab atas kemajuan serta penyempurnaan dari hidupnya di masa depan. Karena itu gambaran utama dari kehidupan manusia yakni pertanggungjawaban atas amal perbuatannya, dimana akan menjadi jelas pada suatu hari yang dirujuk sebagai hari Keputusan.

  1. Sesungguhnya hari Keputusan telah ditentukan.

Dengan perkataan lain, alasan untuk penciptaan manusia akan menjadi jelas diungkapkan pada hari di mana tanggungjawab akan diminta atas perbuatan dan keputusan Allah akan dijatuhkan. Sesungguhnya, suatu saat yang pasti telah ditetapkan bagi manifestasi atas hasil perbuatan dan tibanya keadilan dari Allah, dan demi tujuan untuk memberitahu manusia atas hari yang sangat menentukan inilah maka pengumuman yang menggentarkan telah diberikan, sehingga manusia bisa berhati-hati sebelum Sa’ah ini tiba dan bisa menjadikan amal perbuatannya sebaik-baiknya bekal dalam kehidupan selanjutnya.

Satu pergelaran atas hari Keputusan ini akan terjadi pada hari Kebangkitan, dimana manusia dari awal hingga akhir akan dikumpulkan. Pada hari itu, konsekuensi atas perbuatan ini akan disaksikan dengan jelas sepenuhnya dan tujuan penciptaan manusia akan diungkapkan seluruhnya. Namun, dalam ukuran kecil, kehidupan dari seorang nabi itu menyajikan suatu kesaksian dari hari Keputusan ini dan peristiwa itu tiba sebagai suatu tanda awal atas konsekuensi manusia atas perbuatannya. Dalam masa hidup Nabi Suci Muhammad s.a.w., keagungan dari hari Keputusan ini demikian kuatnya sehingga hal ini mengatasi dan mengungguli jauh melebihi setiap nabi lainnya dalam hal kejelasan dan bandingan keadilannya, sehingga tidak meninggalkan sedikitpun keraguan atas pertanggungjawaban manusia terhadap amal perbuatannya.

  1. Pada hari tatkala terompet ditiup, maka datanglah kamu berbondong-bondong.

Ayat di atas berarti bahwa suatu hari akan tiba dimana terompet akan ditiup atau berbunyi. Tiupan terompet di sini digunakan secara kiasan, berarti bahwa di bawah perintah Allah, suatu revolusi besar akan terjadi. Suatu contoh atas hal ini adalah di medan perang ketika ada suatu perubahan dalam perencanaan dan suatu pasukan harus menggeser gerakan atau lokasinya, maka terompet ditiup dan akibatnya pasukan itu akan bergerak dari satu jurusan ke arah lainnya, atau melancarkan serbuan, atau mundur. Pendeknya, operasi di medan tempur itu berubah tergantung kepada perintah yang disalurkan melalui tiupan terompet.

Begitu pula, ketika perintah Allah diberikan dan terompet di tiup, keadaan alam semesta saat ini juga akan dirombak dan hari Kebangkitan akan tiba. Jadi, tiupan terompet dalam dunia lahiriah ini mempunyai suatu arti kiasan dalam menyatakan kepada kita atas perintah Allah Yang Maha-tinggi bahwa suatu transformasi yang kuat akan terjadi. Tujuan lain dari pengalaman metaforis ini ialah membuat jelas bahwa bila tanda tiupan terompet itu dibunyikan, maka bunyi itu bisa mencapai semua orang. Dengan cara yang sama, revolusi yang akan terjadi bila Allah menetapkan dekrit-Nya akan mencapai ke seluruh atom dari alam semesta ini, dan tak ada suatu pun yang bisa terbebas dari pengaruhnya. Maka, pada hari Kebangkitan, di saat perintah Allah yang meliputi seluruh ciptaan itu diberikan, maka akan ada suatu bunyi seperti dari sebuah terompet yang akan mencakup setiap atom di alam semesta ini dan segala sesuatu akan menunduk dalam ketaatan atas dekrit ini. Inilah hari Keputusan dimana manusia akan menghadirkan dirinya dalam kelompok untuk bertanggungjawab atas  perbuatan yang dijalaninya.

Malangnya, para ulama kita pada masa kini selalu memberikan penafsiran yang sangat membingungkan atas setiap pertanyaan. Mereka menyatakan, bahwa tiupan terompet itu berati malaikat Israfil akan memegang terompet di tangannya yang terbuat dari almunium atau tembaga dan dari alunan nadanya orang-orang akan dipanggil ke pengadilan. Ini jelas kepercayaan yang sesat. Israfil adalah malaikat dari dunia ruhani. Dia tidak punya tubuh jasmani sehingga tidak bisa membawa sebuah terompet di tangannya. Jelas bahwa terompet ini akan mengambil bentuk yang berasal dari mana malaikat itu datang. Dalam wilayah ruhani atau dunia perumpamaan, maka tiupan terompet itu berarti bahwa bila Allah menghendaki hadirnya transformasi, maka perintah itu akan disalurkan kepada ciptaan-Nya melalui instrumen malaikat, yakni Israfil, dan pengaruhnya adalah sangat cepat dan sempurna bagaikan alunan nada yang menyebabkan suatu perubahan atau pergerakan seketika di medan pertempuran.

Sungguh menyedihkan, namun seringkali ulama kita membuat kesalahan semacam ini yang cenderung menyesatkan pemuda kita yang berfikiran modern. Almarhum Maulana Hali, dalam kitabnya Life of Jawad (biografi Sayid Ahmad), menceriterakan peristiwa berikut ini: Dalam khutbah ‘Ied di Aligarh, Imam tersebut mencatat bahwa pada pagi hari ‘Ied, malaikat menyerukan panggilan sebagai berikut: “Wahai saudaraku kaum Muslimin, datanglah ke salat ‘Ied”.

Ketika kembali dari salat ‘Ied, almarhum Maulana berkata bahwa dia mendengar para mahasiswa kolese memperolokkan pernyataan Imam tersebut, dengan menyatakan bahwa memang para malaikat telah menyeru dengan sangat indahnya, namun tak seorang pun yang bisa mendengarnya. Jadi, Imam itu telah memberikan kesempatan sepenuhnya kepada para mahasiswa itu untuk mentertawakan agama. Yakni, dia menerangkannya dengan cara yang bahkan nampak lucu buat kaum Muslimin.

Sangat terang benderang bahwa para malaikat itu bukanlah makhluk jasmani yang membuat pengumuman publik seperti manusia, dengan pergi dari satu tempat ke tempat lain sambil berteriak: “Wahai saudaraku kaum Muslimin, pergilah salat ‘Ied”. Malaikat adalah penghuni dari kerajaan spiritual dan mereka tidak memukul genderang fisik. Ilham mereka merasuk ke hati manusia dan ditangkap tidak dengan telinga fisik melainkan dengan telinga ruhani.

Memang sungguh benar, bahwa pada pagi hari ‘Ied, orang yang paling jahat sekalipun, bahkan mereka yang tidak pernah salat satu kali pun sepanjang tahun akan siap dari awal waktu untuk menjalankan salat ‘Ied yang tidak wajib melainkan sunnah. Bahkan untuk acara salat ini, kaum Muslimin membuat persiapan yang rinci dan menyeluruh yang tidak mereka lakukan pada waktu salat wajib. Pendeknya, rangsangan untuk salat ini yang menggairahkan hati setiap kaum Muslimin, yang baik ataupun yang jahat, pada pagi hari ‘Ied, pastilah suatu ilham dari malaikat yang begitu membumi, sehingga tak ada satupun rumah seorang Muslim yang terlewatkan dari daya tariknya. Jika ini bukan dari panggilan malaikat, lantas dari mana lagi?

Telah dijelaskan bahwa masa hidup seorang nabi adalah suatu miniatur dari hari Kebangkitan dalam ukuran kecil, dan dalam konteks ini, tiupan terompet terjadi pada zaman nabi dan ini menunjukkan berdirinya suatu transformasi yang teguh di dunia ini. Intensitas tiupan ini sebanding dengan kekuatan, keagungan dan kemuliaan ruhani dari nabi pada zamannya.

Begitulah, meskipun tiupan terompet itu sesungguhnya merujuk ke tiupan terompet yang akan terjadi pada hari Kebangkitan yang agung, tetapi hal itu bisa diterapkan kepada masa Nabi Suci dan suatu tanda dari revolusi yang kemudian terjadi. Pendeknya, tanda duniawi ini menyajikan suatu bukti atas tiupan dari terompet langit pada hari Kebangkitan dimana suatu revolusi yang menakjubkan akan terjadi sehingga pemandangan dari orang-orang yang datang berduyun-duyun untuk berdiri di hadapan Tuhannya akan terlihat sepenuhnya. Maka, dalam masa kehidupan Nabi Suci s.a.w., saatnya telah tiba dimana seluruh dunia menyaksikan kebenaran dari ayat berikut dalam Qur’an Suci:

“Tatkala datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia masuk dalam agama Allah berbondong-bondong” (110:1-2).

Begitu kerasnya tiupan dari terompet Ilahi di jazirah Arabia sehingga manusia masuk dalam barisan Islam dalam jumlah besar dan pencerahan spiritual yang demikian masif terjadi sehingga orang-orang itu yang tadinya menyingkir dan menolak Nabi Suci s.a.w. sekarang lebih dari gembira untuk menyerahkan dirinya untuk berbakti dan taat setia serta melayani beliau sepenuhnya.

  1. Dan langit dibuka, maka jadilah itu seperti pintu.

Di sini, kata langit berarti pusat dari dunia ruhani. Langit bukanlah bangunan material dimana pintu-pintunya bisa dibuka. Kata ini digunakan secara kiasan. Begitulah ketika sesuatu itu dibuka dan segala sesuatu dari dalamnya keluar tanpa hambatan, maka, begitu pula, kata ayat tersebut, langit akan dibuka, berarti bahwa malaikat akan turun; pertolongan dan tanda-bukti dari Allah akan turun seperti hujan; pintu-pintu ilmu Ilahi dan ilmu keruhanian yang tersembunyi akan dibukakan kepada manusia dan jalan untuk menggapai kedekatan dengan Yang Maha-kuasa akan menjadi terang buat semua orang.

  1. Dan gunung-gunung digerakkan, maka jadilah itu fatamorgana.

Kata jibal berarti gunung-gunung dalam arti harfiah, tetapi ini digunakan untuk menunjukkan orang-orang kelas elit dan berkuasa, sedangkan secara kiasan, hambatan yang sulit didaki juga disebut gunung-gunung. Ayat di atas memberi tahu kita bahwa saatnya akan tiba dimana bala-bencana, yang sebesar gunung-gunung, akan lenyap, dan para pemimpin yang sangat berkuasa dan di tingkat nasional yang tegak berdiri bak gunung dalam menentang tersebarnya Islam akhirnya akan tersingkir dan kebenaran akan bangkit menunju kemenangan.

Kita semua tahu bahwa pada hari Kebangkitan adegan sebagai berikut akan disaksikan: kelompok demi kelompok manusia akan berdiri dengan penuh ketakutan di hadapan Tuhannya menunggu pengadilan-Nya; pintu-pintu langit akan dibuka; para malaikat akan turun; semua rahasia langit akan dibuka; kesulitan besar seperti gunung akan lenyap dan kekuasaan orang-orang kuat akan dipatahkan.

Betapa pun, di dunia fana ini, sepanjang kehidupan Nabi Suci, adegan ini sungguh tergelar dengan agungnya: seluruh negeri, kabilah demi kabilah, menghadirkan dirinya di hadapan Nabi Suci untuk melayani dan mentaatinya dalam Islam; tanda-tanda dan pertolongan dari langit turun secara melimpah; pintu ilmu keruhanian digelar terbuka; hambatan yang paling besar pun bisa ditiup jauh-jauh; orang-orang kuat dihinakan – semuanya ini membentuk bukti yang tidak terbantah atas hari Kebangkitan yang agung, yakni, hari dimana kebaikan dan kejahatan akan diganjar setimpal.

Karena itu, kita diberitahu bahwa semua perkara ini akan tergenapi – masalah yang akan berlaku seperti cermin untuk pahala kebajikan dan azab untuk kejahatan, kemudian hal  yang berkenaan dengan pembalasan atas kebaikan dan kejahatan harus tetap diingat – sesuatu dimana Nabi Suci datang untuk memberi tahu kita – dan apapun balasan atas kejahatan dan pahala kebaikan terjadi dalam kehidupannya menyajikan bukti yang tak terbantah dalam menegakkan kenyataan yang tak terelakkan dari suatu kejadian istimewa dimana Qur’an Suci menyatakannya dalam dua ayat berikut:

  1. Sesungguhnya Neraka siap menanti.
  2. Suatu tempat bagi orang-orang durhaka.

Yakni, mereka yang melawan agama Islam serta risalah yang dibawa oleh nabi Suci Muhammad s.a.w. dan menunjukkan kebencian terhadap petunjuk Ilahi bahkan hingga berani melawannya dengan memberontak secara keras, akan menemukan Neraka yang menunggu mereka dan demikianlah akhir dari perbuatan jahatnya itu.

  1. Tinggal disana bertahun-tahun lamanya.

Huqub adalah suatu periode antara setahun hingga delapan puluh tahun, sedangkan ahqab, bentuk jamak dari huqub, terbatas pada suatu masa selama sembilan tahun.

Jadi, bila kita mengambil arti huqub yang berarti delapanpuluh tahun di sini, dan ahqab menunjuk sembilan kali huqub, yakni sembilan kali delapanpuluh, maka kita akan mendapatkan waktu tidak lebih panjang dari tujuhratus duapuluh tahun. Namun, boleh jadi bahwa panjang setahun di dunia itu berbeda dengan setahun di akherat. Misalnya, kita telah mengetahui bahwa panjang setahun di planet bumi kita ini jauh berbeda dengan setahun di planet Jupiter dan Saturnus, di mana setahun di sana jauh lebih lama daripada di sini, di Bumi. Begitu pula agaknya, di Akherat, setahun akan jauh lebih lama daripada setahun di dunia. Betapa pun, apa pun yang terjadi dan berapa lama pun tinggal di neraka, pada akhirnya jelas, yakni bahwa, lamanya hukuman di Neraka itu terbatas, dan sesuai dengan itu pula, demi memenuhi kaidah pemintaan keadilan bahwa perbuatan jahat itu terbatas maka hukumannya pun juga terbatas, suatu prinsip dimana Qur’an Suci itu sendiri menetapkannya dengan ayat berikut ini: “Barang siapa datang dengan perbuatan buruk, ia tak akan dibalas melainkan yang setimpal dengan itu” (6:161).

Jadi, balasan atas kejahatan adalah yang setimpal dengan itu, karena itu tak ada alasan mengapa perbuatan yang terbatas harus diganjar dengan siksaan yang tak terbatas karena hal itu akan bertentangan dengan kaidah keadilan.

Sebagai jawaban atas hal ini, seorang ulama tertentu dengan marah berkata dengan ketus kalau perbuatan baik juga terbatas maka pahalanya akan terbatas pula. Penulis setuju sepenuhnya dengannya tetapi menunjukkan bahwa pahala abadi terhadap amal kebaikan itu bukanlah hak manusia, melainkan suatu anugerah Yang Maha-kuasa sebagaimana Qur’an Suci sendiri menjanjikan kepada kita: “suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya” (11:108).

Menghukum seseorang yang bersalah melebihi besarnya pelanggaran tidak lain adalah kejahatan, dan memberi pahala amal kebaikan melebihi ukurannya adalah suatu rahmat dan karunia. Jadi, membatasi hukuman atas perbuatan jahat adalah sari keadilan, sedangkan menerima pahala abadi terhadap amal kebaikan adalah suatu rahmat dan anugerah dari Yang Maha-kuasa.

Mendengar hal ini, ulama tersebut membalas dengan keberatan bahwa karena orang kafir itu akan dibebaskan dari Neraka, lantas apa gunanya menjadi seorang Muslim.

Atas hal ini penulis menjawab: “Saudaraku Maulawi, seandainya anda seorang Wakil Komisaris Polisi dalam suatu wilayah tertentu, dan seorang narapidana tertentu keluar dari penjara setelah menjalani hukuman selama empatbelas tahun, apakah anda akan keberatan atas dibebaskannya narapidana tersebut dan mempertanyakan apa bedanya anda dengan dia?”.

Karena itu, dapatkah kita membandingkan status seorang yang dekat kepada Allah dan seorang hamba-Nya yang terpilih dengan seorang pendosa yang baru selesai menjalani siksa Neraka yang menghinakan?

  1. Di sana mereka tak akan merasakan kesejukan dan tak (merasakan pula) minuman (sharaban).

Bard berarti “kesejukan” dan ini juga berarti suatu kehidupan yang mudah dan nyaman dimana shaarab berarti minuman, suatu kata yang telah menimbulkan salah konsep yang berat di kalangan banyak orang  akibat memberinya suatu kesalahan konstruksi. Dalam bahasa Urdu, sharab berarti anggur tetapi anggur dalam bahasa Arab itu bukan sharab melainkan khamr. Kata sharab sebagai ungkapan sharaban tahara (suatu minuman ringan yang murni) berasal dari sharb yang berarti suatu minuman ringan. Banyak orang, entah karena salah tafsir yang terlalu bebas, atau sejujurnya memang lalai atau karena mau membuat lelucon, menganggapnya sebagai minuman yang memabukkan

Betapa pun, ketika Nabi Yehezkiel diperintahkan dalam Qur’an Suci: “Lihatlah makanan dikau dan minuman dikau” (2:259), apakah ini berarti, semoga Allah mengampuni, bahwa nabi itu berjalan keliling dengan sebotol miras di tangannya? Jadi, menganggap ungkapan sharaban tahura (minuman yang murni) sebagai sesuatu yang berkaitan dengan wiski atau brendi adalah jauh dari yang dimaksud. Arti sesungguhnya yakni “suatu minuman yang murni”.

Pentingnya  kata tahura (murni) sudah terkenal dan dengan digunakannya untuk menggambarkan sharab, maka kemungkinan untuk memasukkan kedalamnya segala macam barang yang tak berguna atau main-main harus disingkirkan jauh-jauh.

  1. Kecuali air yang mendidih dan air yang keliwat dingin.

Dengan kata lain, mereka tak akan pernah menikmati suatu keadaan yang damai dan bahagia. Kesejukan dan air adalah dua lambang kenyamanan dan kelangkaan atasnya merupakan gejala dari kesakitan serta kesulitan yang sangat. Jika mereka memperoleh air, yang merupakan barang tak ternilai bagi kehidupan manusia, maka itu kalau bukan sangat panas mendidih, yang tidak dapat diminum, atau bila mereka paksakan untuk minum maka akan membakar perutnya; atau bila dia mencoba meminumnya maka akan menimbulkan kesengsaraan dan rasa terbakar yang sama yang berasal dari air yang panas mendidih itu.

Seorang pakar tertentu yang melakukan ekspedisi ilmiah ke Kutub Utara telah menulis dalam sebuah buku bahwa di Laut Utara yang membeku, dimana air itu begitu dingin sehingga bisa berubah menjadi es, maka jika seseorang menyentuh sebongkah batu dengan jarinya, maka karena dinginnya yang sangat, jarinya akan ikut membeku.

Pendeknya, baik air itu sangat panas atau dingin berlebihan, kedua keadaan itu tidak bisa memuaskan rasa haus seseorang, ataupun dia bisa mendapatkan santunan bagi jasmaninya untuk melangsungkan kehidupannya. Hukuman ini benar-benar sesuai dengan tingkah-lakunya yang melanggar batas yang ditetapkan Allah atau sangat kurangnya ukuran kebaikannya dalam kehidupan di dunia ini. Inilah sebabnya mengapa Qur’an Suci merujuk hukuman ini sebagai:

  1. Suatu pembalasan yang setimpal.

Ini berarti bahwa semua azab sengsara ini cocok sebagai ganjaran atas perbuatannya. Seperti halnya seorang pendosa itu menyia-nyiakan masa hidupnya di dunia dengan segala hal serba-boleh, maka air kehidupannya akan menjadi serba berlebihan, yakni bila tidak terlalu panas maka dia akan keliwat dingin, sehingga dua-duanya tak ada gunanya baginya.

Maksudnya di sini adalah agar manusia tahu, bahwa dia, dirinya sendirilah, yang menyiapkan kehidupan masa depannya dengan tangannya sendiri. Bila dia berdiri jauh dari jalan lurus yang diungkapkan oleh Allah Ta’ala, dan melakukan tingkah-laku kelewat batas, maka demikian pulalah, balasan untuknya dalam kehidupannya mendatang.

  1. Sesungguhnya, mereka dahulu tak takut akan perhitungan.

Akar dari semua dosa dan segala macam kelalaian terletak dalam penolakan atau keengganan manusia untuk percaya atas pertanggung-jawaban perbuatannya. Bicara secara umum, rupanya manusia itu terbawa oleh filsafat ini: “Reguklah segala kesenangan dan kemewahan yang anda bisa peroleh di dunia ini, karena tak seorangpun pernah melihat kehidupan akhirat itu seperti apa”.

  1. Dan mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan.

Bila manusia itu tidak peduli apapun atas pertanggung-jawaban terhadap amal perbuatannya, lantas bagaimana mereka mau menaruh perhatian terhadap ayat-ayat yang diturunkan Allah dan bagaimana mereka akan menerima kebenaran? Selanjutnya, mereka akan membenci para nabi dan rasul yang membawakan ayat-ayat Allah dan yang mengundang mereka kepada-Nya serta yang ajarannya membuat mereka tertekan. Karena itu, demi pelarian atas hadirnya rasa bersalah mereka, maka mereka mencap ajaran nabi dan rasul itu sebagai dusta dan mereka menenteramkan hatinya dengan obat palsu yang menganggap semuanya ini tidak benar.

  1. Dan segala sesuatu Kami tuliskan dalam buku.

Kitab ini sangat-sangat teliti dalam mencatat setiap kata serta tindak-tanduk manusia sebagaimana Qur’an Suci memberi tahu kita:

“Tiada ia mengucapkan suatu perkataan, melainkan di sebelahnya sudah siap seorang yang mengawasi” (50:18).

Dalam ayat lain, dinyatakan:

“Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom, ia akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom, ia akan melihatnya” (99:1-2)

Dengan perkataan lain, seperti akting seseorang itu direkam dalam sebuah film lalu dipertunjukkan kembali dalam sinema, dengan cara yang sama hasil perbuatannya akan diperlihatkan kepadanya pada hari Kebangkitan. Pula, seperti suara manusia yang direkam dalam cakram lalu dimainkan kembali, demikian juga pada hari pertanggung-jawaban, kata-katanya akan ditampilkan lagi untuknya.

Ini adalah suatu fakta yang kokoh dan bahkan hari ini sains terpaksa mengakuinya. Para pakar dan cendekiawan telah sampai pada suatu kesimpulan bahwa tak ada kata-kata atau perbuatan manusia itu yang pernah hilang. Sebaliknya, segala sesuatu tersimpan di ruang angkasa yang maha luas. Kesulitannya hanyalah bahwa kita belum memiliki perangkat yang memadai untuk menampilkan kembali rekaman itu. Saat dimana kita berhasil melakukan hal itu untuk mempublikasikannya tentu akan menjadi suatu revolusi yang luar-biasa dalam sejarah dunia. Selanjutnya, bila kita meneliti setiap tempat tinggal atau lokasi tertentu, kita akan bisa menemukan dengan keyakinan penuh mengenai siapa yang tinggal di sana di masa lampau, apa yang diomongkannya dan karya apa yang telah mereka lakukan.

Dalam hal apa pun, baik manusia di dunia bisa mengembangkan kemampuan untuk membaca catatan Ilahi ini ataukah tidak, satu hal sudah pasti, yakni bahwa dalam kehidupan mendatang, kitab ini akan disajikan kepada setiap orang, dan masing-masing orang akan bisa melihat dan membaca catatannya menyangkut dirinya sendiri.

  1. Maka rasakanlah, karena Kami tak menambahkan apa pun kepada kamu selain siksaan.

Ini juga suatu ganjaran yang setimpal yang mana merupakan suatu balasan yang cocok dengan tingkah-laku serta amal perbuatan di masa lalu. Seperti halnya manusia yang menolak bertaubat atas cara hidupnya yang buruk, dan sebaliknya malah bertahan dengan ngototnya serta bertambah-tambah pelanggarannya, maka, begitu pula, siksaannya akan meningkat pada saat pembalasan. Ini tidak berarti bahwa hukuman itu akan berlangsung seumur-umur dan bahwa neraka itu tiada akhirnya, karena, seperti telah kita buktikan, lamanya neraka itu merupakan jangka waktu terbatas sebagaimana diterangkan oleh Qur’an Suci kepada kita dalam dua ayat terdahulu: “Bertinggal di sana bertahun-tahun lamanya” (78:23), dan “Suatu pembalasan yang setimpal” (78:26), seperti juga dalam banyak ayat-ayat lain dari Qur’an Suci.

Bersambung ke Bagian ke II …

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: