Tafsir SURAT (89) AL – FAJR (WAKTU FAJAR)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah. Didalam surat sebelumnya, Al-Ghashiyah (Peristiwa menakutkan yang melingkupi), tekanan utama diletakkan pada topik – agama fitrah yang bekerja sesuai dengan perintahNya – yang berakibat akan digelarnya amal perbuatan kita di kemudian hari. Nabi Suci Muhammad s.a.w. telah diberitahu untuk mengajak manusia menuju agama ini tidak dengan paksaan. Sebaliknya, kewajiban beliau hanyalah mengajak umat manusia kepada agama ini dan mengingatkan mereka atas fitrah mereka yang sesuai dengan Islam. Namun, para penolak dan mereka yang berkeberatan untuk mendengarkan kebenaran yang disiarkan oleh Nabi Suci serta para sahabatnya tidak diperkenankan untuk memaksakan penggunaan kekerasan untuk menyampaikan kebenaran ini kepada mereka, akan tetapi justru para penentang itu tidak pernah bosan menggunakan kekerasan dalam melakukan aksinya untuk mencegah beliau membawakan risalah dakwahnya.

Akibatnya, sebagai sarana untuk mempertahankan Islam tersebut Nabi Suci saw. dan para sahabat dipaksa menggunakan tindakan yang tidak biasa, yang dalam istilah Islam disebut jihad fi sabil-lil-Lah (berperang di jalan Allah). Yakni, demi menjaga dan mempertahankan kebenaran maka diperlukan perjuangan (Perang) dimana untuk mengatasi segala macam kesulitan diperlukan segala jenis pengorbanan baik harta maupun jiwa dan beribadah untuk memohon kekuatan dengan doa kepada Allah, Yang Maha-tinggi. Sebagai tambahan atas perkara ini, selain pada masa Nabi Suci, sesungguhnya pada setiap abad diperlukan pula suatu  jihad (perjuangan) kaum muslimin yang lain, yakni suatu mandat untuk senantiasa berjuang melawan hawa-nafsunya sendiri untuk menegakkan Islam. Dalam rangka menaklukkan hawa nafsu dan dorongan jahat yang memerintahkan kejahatan pada dirinya, kaum Mukmin harus mengalami berbagai macam cobaan dan penderitaan dengan melakukan segala macam pengorbanan. Dan diatas segalanya dia harus melakukan ibadah dan berdoa dengan sungguh-sungguh yang merupakan sarana yang paling utama untuk mendekatan diri kepada Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu ingat untuk terus menerus berjuang mengendalikan hawa nafsu dalam dirinya seperti yang disebutkan dalam surat ini, Al-Fajr (Waktu Fajar), dan merenungkan perjuangan yang telah dilakukan oleh Nabi Suci beserta para Sahabat.  Begitu pula surat ini membawakan berita gembira yang akan diberikan kepada mereka menyangkut sukses yang setinggi-tingginya yang akan diraih. Diterangkan pula metode yang dijalankan oleh seorang mukmin yang bertempur melawan hawa-nafsunya sendiri dan mencapai keberhasilan akan bisa dicontoh oleh setiap Muslim yang lain yang berjihad di jalan Allah dan karenanya dia juga akan mencapai sukses dalam perjuangan tersebut, baik dalam menaklukkan nafsunya maupun terhadap kaum kafir. Inilah jalan, yang harus dilalui oleh manusia, yang akan menolongnya mendaki ketingkat spiritual yang lebih tinggi dalam perjalanannya untuk menuju kepada Allah dan mencapai keridhaanNya.

Dengan mengikuti jalan ini akan menjadikan dia seorang yang mendapatkan kedudukan nafs-ul-mutma’innah (jiwa yang tenang) dan ia akan menjadi seorang yang disayangi Allah dan akan mewarisi kerajaan Surga.

al-Fajr

Selengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih;

  1. Demi waktu fajar!
  2. Dan demi sepuluh malam!
  3. Dan demi genap dan ganjil!
  4. Dan demi malam tatkala berlalu!
  5. Sesungguhnya dalam hal ini adalah sumpah bagi orang yang mempunyai akal.

Sumpah Allah ini menunjukkan potongan-potongan peristiwa yang dijabarkan untuk berperan guna meletakkan tekanan pada satu titik yang khusus. Al-Hijr adalah sesuatu yang mencegah seseorang itu menjadi budak dari keserakahan serta nafsu. Inilah sebabnya kenapa akal manusia itu secara kiasan disebut hijr karena itu dimaksudkan untuk mengendalikan emosi kita dan membimbingnya. Jadi, arti harfiah dari hijr (hijr berasal dari hajara yang berarti memisahkan diri seseorang dari, atau meninggalkan, tidak melakukan, pergi dari) adalah elemen yang menahan manusia dari mengikuti godaan keserakahan dan hawa nafsu. Dan arti dari ayat di atas ”Sesungguhnya dalam hal ini adalah sumpah bagi orang yang mempunyai akal”, adalah bahwa ada suatu bagian peristiwa yang sangat penting dalam pernyataan ini bagi mereka yang menjaga dirinya dari godaan kejahatan yang berasal dari dasar dirinya yang menarik kepada keserakahan serta nafsu seksual yang tidak tepat. Marilah kita lihat pada peristiwa yang disajikan dalam ayat berikut ini:

Demi fajar digunakan sebagai bukti dimulainya keberhasilan atau kebahagiaan atau terbitnya fajar hari ’Id. Sepuluh malam menunjukkan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, termasuk Malam Lailatul Qadar dimana Qur’an Suci diturunkan dan di saat mana Nabi Suci s.a.w. biasa terus terjaga dan melakukan salat sunnah. Ini juga berarti sepuluh malam pertama dari Dhul Hijj dimana ibadah Haji serta rukunnya dilakukan dan dimana shalat khusus dijalankan.

Kedua rujukan ini mengandung makna yang sangat dalam. Mereka merujuk kepada salat di bagian akhir dari malam, yang disebut tahajjud, yang dibaca dalam jumlah genap; yakni dua-dua, dan setelah sepuluh raka’at dibaca satu raka’at ganjil (witr) dan ini membuat seluruhnya menjadi ”ganjil”. Namun, dengan menggunakan kata genap dan ganjil, arti sebenarnya seolah terselimuti kabut misteri, apa sesungguhnya artinya hal ini: ciptaan Allah itu dianggap ”genap” sebagaimana Qur’an Suci sendiri menyatakan: ”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang, agar kamu suka memperhatikan” (51:49). Dengan kata lain, ciptaan itu dipandang ”genap” dan Pencipta itu disebut ”Ganjil” atau ”Esa” sebagaimana dicatat dalam hadist:  “Allah itu Esa dan Dia mencintai kesatuan”.

Karena itu, dengan menggunakan kata ‘genap’ dan ‘ganjil’ berarti bahwa Allah menciptakan makhlukNya agar setiap orang hendaknya bersatu serta menjadi berpasangan; yakni, di antara umat manusia hendaknya ada kerja-sama, persatuan, simpati dan kasih-sayang tepat sesuai dengan keridhaan Allah karena itulah tujuan sejati dari penciptaan manusia. Sebaliknya, sifat menonjol dari Pencipta ialah bahwa Dia itu Witr atau Esa, yakni, para makhlukNya hendaknya tidak menerima ajaran lain kecuali prinsip Keesaan dari Penciptanya.

Dengan sempurna prinsip ini maka makna ‘genap’ akan menjadi ‘ganjil’ atau satu, yakni, semuanya akan menerima satu kewenangan, karena Allah itu Esa, dan supaya para hambaNya itu menyempurnakan ketaatannya, kecintaannya serta keyakinannya dalam KeesanNya mereka harus membentuk hubungan yang kuat dengan Dia sehingga yang ‘ganjil’ menjadi ‘genap’. Dengan perkataan lain, hamba tidak boleh terpisah dari Tuhannya.

Bisa dilihat dari sini bahwa kemajuan ruhani manusia dan kesempurnaannya tergantung dua faktor. Pertama, hendaknya diantara umat manusia terjalin persahabatan dan kecintaan sehingga disamping ‘genap’ atau ‘ganjil’ mereka menjadi padu dalam saling peduli dan harmoni. Kedua, Allah itu Esa tetapi para hambaNya harus maju ke depan dengan sepenuhnya untuk berhubungan dengan Dia, sehingga Dia, dari yang ‘ganjil’ secara bertahap menjadi ‘genap’. Ini yang disebut stasiun antara dan dalam salat di bagian akhir malam disebut tahajjud. yang terdiri dari sepuluh rakaat genap dan satu rakaat ganjil pada akhirnya, tujuan yang mendasarinya adalah manusia hendaknya tidak membolehkan perhatiannya teralihkan bahkan sedetik pun dari arti penting yang tersebut di atas yakni ‘genap’ dan ‘ganjil’, karena dalam ‘genap’ dan ‘ganjil’ inilah terletak realitas tertinggi dari tujuan penciptaannya disamping kemajuannya menuju kesempurnaan.

“Dan demi malam tatkala berlalu!” Ayat ini merujuk ke bagian terakhir dari malam yakni ketika itu menjelang pagi, khususnya sepertiga terakhir dari malam di saat nikmat dan makbulnya doa khusus ditekankan dalam Hadist.

Hubungan antara matahari terbit dan sepuluh malam yakni bahwa Allah telah menetapkan fajar Hari ‘Id sesudah sepuluh malam ibadah ekstra, karena, setelah ibadah khusus dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan dan sesudah usaha yang kuat dan pelaksanaan kewajiban berpuasa, maka muncullah fajar ”Id-ul-Fitr yang membawa pesan kebahagiaan. Begitu pula, sesudah ibadah ekstra dalam sepuluh malam pertama dari ibadah haji dan setelah ibadah yang sungguh-sungguh dan berdoa serta dijalankannya kewajiban haji maka terbitlah fajar ’Id-ul-Adha, yang juga membawa risalah kegembiraan serta kebahagiaan.

Bagi kaum Muslimin, ada dua hari raya ’Id dan keduanya diadakan hanya sesudah dijalankannya dua ibadah wajib yang meminta pengabdian yang sungguh-sungguh. Fajar ’Id-ul-Fitri datang sesudah berpuasa di bulan Ramadhan dan I’tikaf yang sangat ketat pada sepuluh malam terakhir dari bulan tersebut. Begitu pula, fajar ’Id-ul-Adha datang setelah dijalankannya ibadah haji dan ibadah ekstra serta doa di sepuluh malam pertama dari musim haji itu. Karena itu, dapat dicermati, bahwa ’Id dari seorang Muslim itu jatuh pada hari dimana dia melengkapi pelaksanaan kewajibannya dan bebas dari tugas tambahan. Dari sini kita bisa melihat bahwa hari raya ’Id itu tidak dilangsungkan untuk memperingati kelahiran atau kematian seseorang, ataupun untuk memperingati kegembiraan atas kemenangan militer, atau untuk berduka-cita atas peristiwa musibah.

Jadi, seseorang yang berusaha keras untuk menahan nafsu serakah dan syahwatnya akan menemukan segenap kebenaran ruhani ini sebagai bukti, ketika sepanjang sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan dan sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, dia berjuang terhadap diri pribadinya sendiri dan meninggalkan tempat tidurnya pada waktu malam untuk salat. Dan bila dia mulai menggapai kenyataan dari perkara ini dalam salat tahajjud-nya, maka dia akan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dengan sepenuh pengabdian dalam ’genap’ dan ’ganjil’ (rakaat) dan dia menjaga setinggi-tingginya dalam fikirannya titik penting ini – bahwa hubungan yang kuat itu diciptakan diantara simpati serta kasih-sayang pada umat manusia dan ketaatannya kepada Allah serta keyakinannya kepada KeesaanNya – kemudian Dia akan memperoleh bukti yang jelas, bahwa sebagai hasil dari latihannya itu, Allah pasti dan tak terelakkan lagi akan mengaruniai dia dari DiriNya sendiri fajar terbitnya kegembiraan dan kebahagiaan.

Sekarang, bila ide itu merasuk ke fikiran bahwa karena kekuatan kekafiran yang memusuhi itu begitu kuatnya sehingga mustahil kiranya bagi kita untuk mengakhiri gelap-gulitanya malam kesesatan dan dosa, maka renungkanlah di lubuk hati atas fakta di masa lampau, negara-bangsa yang perkasa dan adi-daya telah langsung berhadapan dengan agama Allah, dan lantas apa yang terjadi? Mereka semuanya hancur dan dibinasakan. Maka, kini, di saat kita memiliki seluruh kebenaran dalam bentuk Qur’an Suci dan Nabi Suci Muhammad s.a.w., bisakah kekuatan musuh di dunia ini mengungguli kita?

Sekarang Qur’an Suci memberi kita beberapa contoh dari kaum  terdahulu yang memusuhi kebenaran:

  1. Apakah engkau tak memperhatikan bagaimana Tuhan dikau bertindak terhadap kaum ’Ad?
  2. (Yaitu bangsa) Iram, yang mempunyai bangunan yang menjulang tinggi.
  3. Yang persamaannya tak pernah diciptakan di negeri lain.

Ada dua suku-bangsa Arab kuno yang pertama disebut ’Ad dan yang kedua disebut ’Ad dari Iram yang adalah ’Ad yang kedua. Tetapi Iram juga nama dari nenek-moyang ’Ad yang pertama dan ibukota mereka disebut Iram. Mungkin nenek-moyang inilah yang diketemukan di kota tersebut. Istilah dhatul ’imad (mempunyai bangunan yang menjulang tinggi) digunakan merujuk kepada mereka untuk beberapa alasan:

  1. Mereka kuat badannya dan tinggi-besar tubuhnya. ’Imad berarti ’bangunan’ dan kata ini digunakan untuk menekankan keperkasaannya, dan mereka seolah-olah tinggi dan lebar seperti bangunan .
  2. Sebagai tanda dari kemenangan pasukan dan kekuasaannya mereka biasa membangun istana-istana yang menjulang tinggi seperti raja dan kaisar di India yang biasa membangun monumen yang tinggi, misalnya bangunan memorial dari Ashoka dan Feroze Shah yang sekarang masih berdiri di Delhi.
  3. Suku-bangsa ini tinggal di Arab Selatan dan berkembang di Hadhramaut dan biasa membangun gedung-gedung tinggi. Penelitian modern telah menunjukkan fakta bahwa kebudayaan Mesir kuno yang mendasari budaya India akan tetapi yang lebih tua dari budaya Mesir itu adalah dari Yaman. Penelitian purbakala mutakhir tersebut telah menemukan di wilayah itu yang terdapat plakat bukan dari tanah dimana nama Nabi Hud dituliskan bersama beberapa peristiwa dalam kehidupannya. Plakat tersebut bisa membungkam para pendeta Kristen yang mengingkari kesejarahan Nabi Hud dan menguatkan kebenaran Qur’an Suci sebagai kitab pertama yang menyebut-nyebut Nabi Hud. Pendeknya, kaum ini di masanya memiliki kebudayaan yang telah maju sehingga Qur’an Suci sendiri memberi kesaksian atas hal itu dalam ayat di atas. Yang serupa itu (bangunan dan kota-kota) diciptakan di tempat lain di dunia.

Lihatlah betapa rasa budaya dan estetika yang dimiliki oleh raja-raja Muslim hingga seluruh surat ini, Al-Far (Waktu Fajar), ditulis di pintu Taj Mahal di Agra dalam model huruf mosaik yang indah. Dan ini dilakukan hanya karena adanya kata-kata ini: ”Yang persamaannya tak pernah dilakukan di negeri lain”.

Ide dibalik menaruh ayat ini di pintu Taj Mahal adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dalam segi keindahan yang luar-biasa elegan Taj Mahal itu tidak tertandingi sampai hari ini seperti Iram pada masanya. Dan kita semua tahu bahwa Taj Mahal dipandang sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia.

  1. Dan kaum Tsamud, yang memahat batu di lembah.

Suku-bangsa ini tinggal di Hejaz, suatu daerah yang berbatu di mana mereka bermukim dan untuk alasan kekuatan dan pertahanan, mereka membangun rumah-rumah mereka dengan memahat batu pegunungan. Bukti atas kebudayaan mereka tetap ada selama berabad-abad dan rumah-rumah pahatan dari batu ini masih tetap ada hingga sekarang. Sebenarnya, belum lama ini suatu kota yang menakjubkan yang dibuat pada pahatan batu merah telah ditemukan. Foto-foto dari kota ini dan sejarahnya baru-baru ini telah diterbitkan dalam ”The Times of India”.

Rumah-rumah pahatan dari batu ini sungguh amat kuat. Di Aden, ada bukit berbatu yang tandus di laut dan Inggris telah memotongnya untuk menjadi benteng di jantung perbukitan itu. Bila ada kapal perang yang mencoba melewatinya tanpa permisi maka meriam besar yang tersembunyi di gua batu itu akan ditembakkan untuk menenggelamkannya.

  1. Dan Fir’aun yang mempunyai pasukan. (atau ikatan tenda-tenda).

Fir’aun adalah gelar raja-raja Mesir. Jumlah besar pasukannya digambarkan sebagai autad (ikatan tenda-tenda) karena bila angkatan perang itu bermalam di suatu wilayah maka mereka bisa terlihat sebagai kelompok besar kuda-kuda serta ikatan tenda-tenda.

Di sini, tiga bangsa disebutkan. Pertama adalah suku ‘Ad yang tinggal di selatan kota Mekkah, kedua adalah bangsa Tsamud yang tinggal di sebelah utara Mekkah, dan ketiga merujuk kepada Fir’aun yang merupakan musuh nabi Bani Israil, nabi pembawa syariat, Musa, dimana Nabi Suci Muhammad s.a.w. menyatakan mempunyai kemiripan. Dan dalam membicarakan ketiganya, Qur’an Suci telah menyebutkan segenap kekuatan utama dan sumber daya yang pernah ada di tangan manusia. Hal Ini adalah:

  1. Tubuh tinggi besar serta kekuatan fisik dari suatu kaum.
  2. Bangunan, perbentengan dan monumen besar serta kokoh untuk memperingati kemenangannya dalam peperangan.
  3. Pembangunan hunian yang besar dan kekar di pahat dari batu.
  4. Pemilikan angkatan perang yang perkasa.

Namun, dengan segala kemajuan yang dimiliki ini, bila mereka memberontak melawan Allah dan menentang kebenaran, akibatnya adalah bahwa semua yang dikira menjadi sumber daya yang tak ada tandingannya ini tidakmempunyai arti apa-apa. Karena itu, Qur’an Suci menyatakan:

  1. Yang melampaui batas di kota-kota
  2. Dan mereka membuat banyak kerusakan di sana.

Dua masalah disebutkan adalah  mereka menyebarkan kerusakan di bumi karena melampaui batas dan berlaku kejam serta pembangkangan mereka kepada Allah, dan kedua, mereka berani melawan kebenaran dari Allah.

  1. Maka Tuhan dikau menuangkan sebagian siksaan di atas mereka.

Seperti halnya bila beberapa perusuh menyebabkan keributan di suatu tempat dan petugas yang berwenang datang lalu memukuli dan mengusir mereka, begitu pula Allah mengatur pemukulan atas mereka yang menentang para utusanNya dan menebar kerusakan di muka bumi sehingga mereka dikalahkan dan menjadikan mereka lari lintang-pukang hingga tak seorang pun yang tersisa. Karena itu, bahkan hingga saat ini, Qur’an Suci menegaskan:

  1. Sesungguhnya Tuhan dikau itu mengawasi.

Tak ada suatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala, dan seperti seorang jendral angkatan perang mengawasi lalu secepatnya setelah ada kesempatan dia memukul daya kekuatan musuh dan menghancurkannya, maka, begitu pula, Allah itu senantiasa awas dan waspada. Dia sepenuhnya sadar akan kerusakan yang ditimbulkan oleh para penjahat dan bila kesempatannya tiba, Dia akan segera mencengkeram mereka di tengah kemaksiatan mereka dan mereka tak kan bisa bergerak lagi.

  1. Adapun manusia, jika Tuhannya mengujinya, lalu memberi kehormatan kepadanya, dan memberi kenikmatan kepadanya, ia berkata: Tuhanku menghormati aku.
  2. Tetapi jika Ia mengujinya, lalu meyempitkan rezekinya, ia berkata: Tuhanku menghinakan aku.

Dalam kedua ayat ini, Qur’an Suci telah menjawab pertanyaan dibalik perbedaan kekayaan serta  keadaan yang menyesakkan, kekayaan dan kemiskinan di dunia. Di saat manusia itu mabuk kekayaan dan kekuasaan, mereka tidak suka mendengar setiap nasehat atau pelajaran dari orang lain. Khususnya, agama dari kaum melarat, sangat tidak menarik hatinya. Sebaliknya, kebanggaan atas kepemilikan kekayaan serta kedudukan duniawi menciptakan dalam diri mereka sikap berlebihan sehingga mereka mulai berfikir, atau setidak-tidaknya mereka merasa, bahwa Allah itu menyukai dan berkenan terhadap mereka sehingga Dia mengaruniai mereka dengan anugerahNya sehingga kemanapun mereka pergi maka kekayaan dan keuasaan mengikutinya.

Dalam hubungan ini, kami ceriterakan di sini suatu ceritera yang sangat menarik. Bertahun-tahun yang lalu pada masa almarhum Maulana Nur-ud-Din, pengganti pertama Pendiri Gerakan Ahmadiyyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, dan segera setelah Perang Balkan, suatu delegasi pendeta Kristen pergi ke Lahore dan mulai melakukan serangkaian propaganda. Masalah utama yang mereka ketengahkan adalah, bahwa berkat karunia Tuhan, Isa Almasih, maka Kerajaan Kristen itu penuh sukses dan menguasai nyaris seluruh dunia, dimana keadaan kaum Muslimin begitu buruk sehingga bahkan satu-satunya Sultan mereka dari Turki, telah mengalami kehancuran. Mendengar hal ini, Maulana Nur-ud-Din mengirimkan

satu delegasi Ahmadi kepada mereka dengan pembekalan agar mereka membantu para pendeta Kristen itu bila mereka berkata benar tetapi harus menolaknya bila mereka menyebarkan kepalsuan. Mereka juga diminta menyampaikan pesan kepada para pendeta itu bahwa alasan kenapa Kristen itu dominan tidaklah benar sama sekali. Sebaliknya, alasan yang sebenarnya itu terdapat dalam satu peristiwa yang tercatat dalam Alkitab, yang menurut mereka itu kitab yang otentik. Peristiwa yang diingatkannya kepada mereka adalah bahwa setelah Isa Almasih berpuasa selama empat puluh hari beliau digoda oleh Setan yang membawanya melintasi hutan dan gunung-gunung. Akhirnya dia membawanya ke puncak sebuah gunung dan menggelar di hadapannya seluruh kerajaan dunia ini. Kemudian dia berkata kepada Jesus: ”Jika engkau menundukkan diri kepadaku, maka seluruh kerajaan ini akan menjadi milikmu”.

Isa Almasih menolak tunduk kepada Setan dan menolak kerajaan dunia ini. Tetapi bangsa-bangsa Kristen melihat bahwa akibatnya sepanjang hidupnya beliau menderita kemiskinan dan kekurangan. Karena itu, mereka berfikir bahwa untuk masalah ini tidaklah bijak mengikuti Jesus sehingga mereka menyembah Setan dan sebagai balasannya mendapatkan kerajaan duniawi. Dengan perkataan lain, fakta membuktikan bahwa mereka mewarisi seluruh kerajaan dunia kalau menurut Alkitab adalah karena mereka tunduk kepada Setan. Para pendeta Kristen itu tidak dapat menjawab pesan ini dan beberapa hari kemudian mereka pergi dari kota itu.

Dengan singkat, dalam dua ayat Qur’an Suci itu telah dipecahkan teka-teki yang tak terjawab oleh Alkitab. Dikatakan di situ bahwa kekayaan yang melimpah dan kemiskinan itu tiada lain adalah cobaan. Dengan kata lain, cobaan terus-menerus datang dari Allah dengan tujuan untuk menguji karakter dari para hambaNya. Karena itu, menganggap bahwa banyaknya kekayaan serta kehormatan itu sebagai tanda bahwa Allah berkenan kepada kita bahkan lebih dari itu, Dia memberikan kehormatan kepada kita karena karunianya yang khusus, adalah suatu kesalahan yang berbahaya. Begitu pula, menganggap bahwa kemiskinan dan kekurangan adalah bukti kemarahan Allah atau ketidak-sukaanNya hingga Dia menjauhkan kita dari harta dan kekayaan adalah juga suatu kesalahan besar. Dua keadaan ini menyapa kita sebagai suatu bentuk cobaan. Lihatlah betapa Umar Faruq r.a. mengungkapkan perasaan ini ketika beliau berkata: ”Di saat keadaan sulit atau sempit, kita harus menunjukkan ketabahan, tetapi di waktu kita dicoba dengan kekayaan dan kelebihan, kita tidak bisa mempraktekkan pengendalian diri”. Dia menerapkan pernyataan ini pada dirinya sendiri dengan penuh kerendah-hatian dan hasilnya adalah bahwa baik di waktu kekurangan maupun kelimpahan beliau menjadi teladan keteguhan hati yang tak tertandingi. Namun celakanya pernyataan ini cocok dengan kaum Muslimin belakangan sehingga kata-kata beliau nyaris seperti ramalan yang menimpa kaum Muslimin mengenai sifatnya sesudah kerajaan dan kekayaan datang kepadanya, mereka gagal untuk memegang teguh agamanya seperti yang telah ditunjukkan oleh para pendahulunya.

Pendeknya, kekayaan dan kekurangan harta adalah dua keadaan yang menjadi cobaan bagi manusia. Hingga Allah Sendiri yang akan memberi-tahu kita bahwa kemujuran, sukses, kekuasaan atau kekayaan telah menyapa kita karena amal saleh kita dan adalah rahmat karunia yang diberikan kepada kita sebagai pahala atas amal perbuatan kita, atau, bila kita menderita kehinaan dan kemerosotan, Allah tidak menyatakan kepada kita bahwa penderitaan itu sebagai hukuman atas perbuatan buruk kita, maka setiap individu atau bangsa yang menganggap bahwa kekayaan dan kekuasaan adalah keridhaan Allah atau kemiskinan dan kemerosotan adalah kemurkaan Allah itu adalah kesalahan serius dan sungguh-sungguh pendapat yang naif.

Karena itu, para musuh Islam jangan menganggap kekayaan dan kekuasaan mereka sebagai indikasi bahwa Allah itu meridhainya sehingga Dia tak akan menghukum mereka. Qur’an Suci menegaskan penolakannya atas kepercayaan ini dan menjanjikan alasan sebaliknya, karena keridhaan Allah itu hanya bisa dimenangkan dengan berbuat baik serta akhlak yang tinggi. Maka, menganggap kekayaan mereka sebagai bukti bahwa Allah berkenan pada mereka dan menghormati mereka adalah suatu kesalahan yang sangat buruk. Kekayaan itu sendiri tidaklah mesti melambangkan tanda persetujuan dari Allah.

  1. Tidak, tetapi kamulah yang tak menghormati anak yatim.
  2. Dan kamu tak saling mendesak untuk member makan kepada orang miskin.
  3. Dan kamu makan harta warisan dengan rakus.
  4. Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang melebihi batas.

Dalam empat ayat ini Qur’an Suci menerangkan mengapa kekayaan itu sendiri tidak mesti menjadi tanda keridhaan Allah karena termaktub di sini empat kesalahan besar yang segera mendatangi dalam sikap orang-orang yang berfikir materialistis. Qur’an menuduh mereka tidak menghormati anak yatim dan tidak saling mendesakkan satu-sama-lain untuk memberi makan si miskin. Dua kata ini, yatim dan miskin, perlu sedikit penjelasan. Yatim berarti seseorang yang tinggal sendiri di dunia ini dan keadaannya adalah sedemikian rupa sehingga dia tak bisa memelihara dirinya sendiri sehingga pemeliharaannya harus bergantung kepada orang-orang lain. Yakni, dia tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya  maka amat perlu bagi mereka ada  yang menyediakan santunan untuknya dan memelihara untuk kehidupannya lebih lanjut. Karena itu, anak yang kehilangan ayahnya disebut yatim.

Miskin berasal dari sakana (tenang, istirahat) dan ini berarti suatu pekerjaan yang sedang berlangsung dan tiba-tiba terhenti. Ini diterapkan untuk seseorang yang mempunyai ilmu dan pengalaman kerja untuk dirinya serta bisa memelihara dirinya tetapi telah kehilangan sarana atau peralatan untuk mengerjakannya. Karena itu, seseorang yang terpisah dari sumber-sumber penghasilannya disebut seorang miskin.

Tak ada masyarakat di dunia ini yang dapat membuat suatu landasan kemakmuran serta mengklaim kehormatan buat dirinya sepanjang umat itu bisa menerapkan dengan cerdas untuk menemukan sarana yang bisa menghapuskan keadaan dua golongan masyarakat ini dari tengah-tengah mereka yakni yatim dan miskin. Adalah karena kelalaian terhadap dua kelompok inilah yang menyebabkan kemakmuran dan kehormatan itu jauh dari suatu masyarakat. Jika umat itu mendukung dan memelihara dua golongan ini dalam masyarakat, maka mereka tidak perlu merasa takut kehilangan kekayaan dan kesejahteraan mereka maupun kehormatan dan ketenaran mereka. Lihatlah betapa indahnya Qur’an Suci dalam membuka cara untuk menyantuni mereka:

  1. Anak yatim. Yatim dapat diperlakukan dengan dua cara: dia bisa diperlakukan dengan terhormat atau terhina. Inilah sebabnya perintah diberikan di sini agar menghormati anak yatim. Dengan kata lain, hak-hak mereka harus dijaga dan pendewasaan mereka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga mereka

tidak merasa direndahkan. Qur’an Suci menekankan bahwa setiap anak yatim, baik dia dari keluarga kaya atau miskin, harus dihormati – hak-haknya harus dijaga dan pendewasaannya, pendidikan serta pelatihannya, pertimbangan yang tepat harus diberikan atas statusnya sehingga dia tidak boleh melihat ke bawah dengan rendah-diri ataupun mengembangkan kebiasaan rendah. Jadi, dia bisa menjadi seorang warga yang penuh manfaat buat masyarakat. Mengenai pemeliharaan anak yatim semacam ini, Nabi Suci s.a.w. diriwayatkan telah bersabda: ”Aku dan dia yang bertanggung-jawab memelihara anak yatim, baik itu kerabatnya atau bukan, akan di surga seperti ini” dan dia menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan. (HR.Bukhari).

  1. Miskin. Memberi makan orang miskin tidak hanya berarti memberi mereka makanan tetapi perintah itu sesungguhnya mendorong satu-sama-lain agar menemukan sarana kehidupan (suatu pekerjaan atau jabatan) bagi orang yang membutuhkan. Memang suatu perbuatan mulia untuk memberi makanan kepada yang membutuhkan tetapi kata ta’am (makan) tidak hanya menunjuk masakan tertentu tetapi juga berarti suatu sumber penghidupan dan disini maknanya membawa arti kedua-duanya, karena perintahnya adalah ”saling mendesak untuk memberi makan kepada orang miskin”.

Arti yang melandasinya adalah bahwa sampai masyarakat atau bangsa itu bermusyawarah dan dengan mufakat menciptakan suatu sistem yang akan menolong golongan miskin agar memperoleh sumber penghidupan, maka masyarakat atau bangsa itu tidak dalam bahaya untuk kehilangan pengaruh dan kehormatan. Jika suatu bangsa itu ingin menjaga posisinya sebagai bangsa yang makmur dan terhormat, maka , untuk memperbaiki kesejahteraan dari golongan yang menderita, adalah wajib bagi rakyat negeri itu dengan melalui perencanaan dan konsultasi untuk membuat suatu institusi nasional yang akan mencadangkan santunan bagi penghidupan orang-orang yang miskin di antara mereka. Dan bukankah maksud zakat dan bait-ul-mal (lembaga keuangan publik) itu untuk mengumpulkan pajak dari si kaya dan menempatkannya di badan terpusat, dan demi melenyapkan penderitaan anak yatim dan orang miskin; membentuk suatu institusi yang akan menyediakan sarana untuk memelihara dan mendidik mereka secara terhormat?

Bila perbendaharaan semacam itu ada dan kaum Muslimin mempercayakan zakatnya ke badan terpusat tersebut serta membelanjakannya untuk mengatasi penderitaan, maka dengan berlalunya waktu keadaan bangsa Muslim akan membaik dan sebagai ganti kesulitan hidup mereka akan menikmati kemudahan, dan dari kehinaan akan meningkat ke kemuliaan.

Dalam ayat di atas, maka ayat ”Tidak, tetapi engkau tidak menghormati anak yatim”, diteruskan dengan ”Dan kamu makan harta warisan dengan rakus” dan ”Dan kamu tak saling mendesak untuk memberi makan kepada orang miskin”, dikaitkan dengan, ”Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang melebihi batas”, menyoroti kenyataan bahwa kehinaan itu menimpa suatu bangsa yang tidak saja tak menghormati anak yatim, tetapi juga mengingkari hak mereka atas warisannya; dan bukannya menyediakan sarana penghidupan untuk yang memerlukan, mereka malah mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan serta dosa karena kikir. Orang-orang semacam ini tidak saja hina dalam pandangan Allah tetapi juga dalam kehidupan di dunia ini sungguh-sungguh menjadi orang yang hina dan bobrok moralnya.

Pendek kata, dalam ayat-ayat di atas, tujuan utama Allah ta’ala adalah membuat manusia faham bahwa bila dia dicoba dengan kekayaan yang berlimpah dia tidak boleh jatuh menjadi korban kesombongan dan berbangga diri berlebihan. Selanjutnya, dia tak boleh menganggap kekayaannya itu sebagai bukti penghormatan Tuhan kepada dirinya karena pemikiran semacam itu sangat pasti bisa mendorongnya kepada kehancuran. Sebaliknya, bila manusia dicoba dengan keadaan kesempitan dia tidak boleh punya gagasan bahwa dia sudah ditakdirkan untuk hidup penuh penderitaan dan kehinaan karena ide semacam ini adalah hambatan besar bagi perkembangan dan kemajuan manusia. Kemiskinan tidak perlu menjadi tanda kemerosotan. Tanda-tanda sejati dari hilangnya kehormatan ialah mereka yang dasar moral dan perbuatan mesumnya mengakibatkan manusia itu berdosa. Moralnya adalah, karena itu, bahwa manusia itu tidak boleh gembira berlebihan karena kekayaannya maupun tenggelam dalam rasa kecil hati karena kemiskinannya. Sebaliknya, mereka harus mengembangkan kualitas moral yang tinggi yang merupakan inti-sari dari kehormatan sejati.

  1. Tidak, malahan tatkala bumi dihancurkan berkeping-keping,
  2. Dan Tuhan dikau datang dengan barisan para Malaikat. berbanjar-banjar

Seorang yang berfikir sederhana akan mengira bahwa tak seorang pun yang melihat perbuatan jahatnya ataupun perbuatannya yang keji tidak disaksikan seorang pun. Tetapi Allah berfirman bahwa Dia dan para MalaikatNya adalah sangat dekat, tetapi Dia tidak nampak sebab di antara Dia dan seorang yang jahat ada sebuah tabir. Suatu masa pasti akan tiba dimana tabir ini akan diangkat dan segenap tipu daya mereka akan dibukakan serta Allah akan muncul dari ketinggian serta menangkap si penjahat di tengah-tengah perbuatan buruknya.

Misalnya, ambillah contoh seorang pencuri yang mengambil buah-buahan dari kebun dan mengira tak seorangpun yang melihatnya, padahal si pemilik kebun dan pelayannya memperhatikan dari suatu tempat yang tersembunyi dan segera setelah si pencuri mulai bergerak untuk membawa buah curiannya, mereka muncul dari tempat persembunyiannya atau dari balik pepohonan dan menangkap basah dia dengan barang curiannya. Begitulah contoh persamaan antara manusia dengan Tuhannya.

Tabir duniawi antara manusia dengan Allah ini berlangsung dalam tiga peristiwa:

  1. Pertama terjadi pada saat kematian dan disebut Kiamat kecil.
  2. Saat kedua ketika tabir itu disingkap adalah pada kehidupan seorang nabi waktu para pengikutnya mendapat pahala sukses sedangkan mereka yang ingkar memanen kehinaan dan kebinasaan. Dalam hal ini Qur’an Suci menyatakan dalam ayat yang lain: ”Tetapi Allah datang kepada mereka dari arah yang tak mereka perkirakan, dan Ia melemparkan kecemasan dalam hati mereka” (59:2). Kaum kafir dengan kesombongannya dan ketergantungan mereka kepada kekuasaan duniawi ingin melenyapkan kaum mukmin tetapi mereka sendiri menderita kekalahan yang sama, kehinaan dan kehancuran yang direncanakan terhadap kaum mukmin; sebab tangan Allah menjadi nyata dan Dia, bersama dengan malaikatNya, datang untuk membantu kaum mukmin dan menghukum kaum kafir dari tempat yang tak terlihat. Contohnya, Fir’aun ketika mengejar Bani Israil untuk menangkap mereka tetapi dia, dia sendiri yang terperangkap dan tenggelam di laut Merah. Kaum kafir Mekkah, juga menyerbu Madinah untuk melenyapkan kaum Muslimin, tetapi, mereka juga menderita kekalahan di tangan kaum muslimin dalam Perang Badar. Perjanjian Hudaibiyah kelihatannya memperkuat tangan kaum kafir terhadap kaum muslimin tetapi perjanjian yang terlihat sangat berat-sebelah itu telah menyebabkan jatuhnya Mekkah dan kekalahan permanen bagi kaum kafir Mekkah. Penyingkapan tabir yang kedua ini disebut Kiamat Menengah.
  3. Peristiwa ketiga saat tabir itu diangkat yakni pada Hari Kebangkitan dimana segala perkara yang tersembunyi akan digelar. Ini disebut Kiamat Besar.
  4. Dan pada hari itu, Neraka ditampakkan. Pada hari itu, manusia akan ingat, tetapi apakah gunanya ingatan itu?

Qur’an Suci menyatakan, bahwa ketika tabir dunia itu dirobek, dan hamba itu ditangkap serta dibawa ke hadapan Tuhannya untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya yang buruk, dan neraka yang dibangun dengan tangannya sendiri dibawakan ke depan matanya, maka barulah dia menyadarinya. Tetapi kemudian kepasrahan dan kesadarannya akan tiada gunanya sama seperti seorang siswa yang membuang-buang waktu dan tidak mengerjakan ujiannya dengan sebaik-baiknya maka langsung gagal.

Menangis penuh penyesalan ketika hasilnya sudah diterbitkan adalah perkara sia-sia.

  1. Ia berkata: Oh, sekiranya aku dahulu melakukan (perbuatan baik) untuk hidupku (sekarang ini).

Dalam ayat ini, Qur’an Suci menunjukkan kepada kita kehidupan sejati yakni kehidupan Akhirat. Karenanya, bijaklah seseorang yang mempersiapkan sebelumnya kehidupan itu karena itu adalah hidup

yang sebenarnya.

  1. Tetapi pada hari itu tak seorang pun dapat menyiksa seperti siksaan-Nya.
  2. Dan tak seorang pun dapat mengikat seperti ikatan-Nya.

Semua yang diciptakan Allah itu unik. Rahmat karunia-Nya tak terbatas. Hukuman-Nya agaknya sama juga, maka cengkeraman-Nya sedemikian sehingga tak seorang pun dapat menjangkau totalitasnya. Manusia dapat lolos dari tangkapan manusia bahkan lepas dari jerat hukum; hukuman untuk manusia juga bisa dinodai dengan kesalahan dan kekurangan. Tetapi tak seorang pun dapat lolos dari cengkeraman Allah atau pun menghindar dari hukuman ini. Hukumannya sungguh sangat sesuai dengan kejahatannya dan kesempurnaannya tak tertandingi. Karena itu, adalah tindakan bijak bagi manusia untuk berusaha menghindari azab Allah. Sungguh ironis bahwa seorang bijak itu berusaha lolos dari hukuman hakim dunia dan bahkan seringkali berhasil, namun dia tidak memperhatikan sedikitpun atas hukuman Allah meskipun cengkeramannya begitu menyeluruh sehingga tak seorang pun bisa menghindar. Maksud dari pernyataan ini adalah menasehati manusia bahwa hendaknya dia berusaha untuk memikul segala kesulitan di dunia ini, tetapi dia harus berusaha menyelamatkan dirinya dari azab Allah dan demi perkara ini dia hendaknya mau menanggung semua hukuman dari hakim dunia jika dia memang pantas menerimanya, karena hukumannya tak ada artinya dibandingkan azab Allah.

  1. Wahai jiwa yang tenang!
  2. Kembalilah kepada Tuhan dikau, dengan perasaan ridha, amat memuaskan di hati.
  3. Masuklah di antara hamba-hamba-Ku,
  4. Dan masuklah ke Taman-Ku!

Keadaan buruk dari para kafir pada saat tabir dari sumber-sumber duniawi ini diangkat telah kita gambarkan. Fokus kita sekarang adalah keadaan dari kaum mukmin yang pada waktu malam meleburkan dirinya dalam ibadah dan berjuang untuk menaklukkan nafsu rendah dalam dirinya, yang pada zaman penuh dosa dan lalai dari petunjuk ini, telah mengikatkan diri dalam penyiaran agama serta berjuang di jalan Allah, sepanjang waktu berusaha keras untuk mengembangkan akhlak yang luhur dan kenikmatan ruhani.  Sebagai hasilnya, mereka dikaruniai rangking yang tinggi yang disebut nafs-ul-mutma’innah (jiwa yang tenang).

Qur’an Suci telah memberi kita tiga tahapan dalam perkembangan ruhani manusia. Pertama adalah yang disebut nafs-ul-ammarah (jiwa yang dimotori kejahatan). Pada tahap ini, nafsu rendah manusia cenderung kepada kejahatan dan di bawah dorongan nafsu serta keinginannya untuk melakukan perbuatan buruk bahkan tanpa rasa malu.

Tahap kedua adalah nafs-ul-lawwamah (nafsu yang menyalahkan dirinya sendiri). Pada tingkat ini, ada suatu perang terus-menerus antara manusia dengan Setan. Manusia ingin menyelamatkan dirinya dari kejahatan dan dari bujuk-rayuan Setan yang keji begitu pun dari nafsu dan naluri hewaninya. Kadang-kala dia berhasil dan selamat dirinya dari kejahatan tetapi seringkali pula dalam menghadapi dorongan setan dia mendapati dirinya tak berdaya untuk bertindak demikian sehingga dia melakukan dosa, disamping nafsu dalam dirinya atau kesadarannya pada saat yang sama mempersalahkan dia.

Tingkat ketiga yakni nafs-ul-mutma’innah (jiwa yang tenang) pada tahap ini perang antara Setan dengan manusia telah berakhir. Akhirnya Setan menderita kekalahan permanen seperti dalam kasus Nabi Suci Muhammad s.a.w. ketika beliau bersabda: ”Jinn saya (yakni, Setan) telah menjadi seorang Muslim”. Dalam keadaan ini, amal saleh mulai mengalir keluar dari seseorang secara bebas dan spontan seolah telah menjadi sifat kedua baginya untuk berbuat kebajikan.

Arti dari jiwa yang tenang telah diterangkan oleh Allah sendiri dengan firman, ’dengan perasaan ridha, amat memuaskan di hati’. Dengan ’perasaan ridha’ berarti bahwa hamba itu dalam hidupnya di dunia ini telah dengan riang menerima ketentuan Allah dan telah mentaati Syariah (Hukum), dan ’amat memuaskan di hati’ menunjukkan bahwa manusia telah memenangkan keridhaan Allah melalui kepatuhannya kepada perintahNya dan penyerahannya atas ketentuanNya. Betapa kita sangat iri kepada hamba ini yang dalam keadaan damai serta nyaman dan senantiasa ridha atas setiap perintah dan tindakan Allah dan dengan kata dan perbuatan, Allah juga karenanya, meridhainya.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut dari dua ungkapan yang disebut di atas:  ’Radiyah’ (dengan perasaan ridha) berarti senang dengan perintah Allah serta ketentuanNya. Manusia itu gembira begitu dia memperoleh apa yang dikehendakinya. Bila seseorang mencapai kedudukan ’jiwa yang tenang’ dia mencermati bunyi syariat, yakni, perintah dan larangan dari Allah tanpa kesulitan. Bahkan lebih jauh, ketaatannya menimbulkan perasaan gembira dan nyaman dalam hatinya sehingga ketidak-patuhan adalah mustahil baginya karena Ini akan menyebabkan dia sakit dan menderita. Ini adalah stasiun ’ubudiyyah (penuh pengabdian) yang adalah titik tertinggi kesempurnaan manusia. Pada tingkat ini, ketaatan menjadi sifat kedua dan membawa surganya sendiri. Inilah sebabnya mengapa Nabi Suci s.a.w. bersabda: ”Salat adalah penyejuk mataku”, dan Sayyid Abdul Qadir Jaelani menerangkan bahwa bila tingkat ini dicapai, maka mencari pahala salat tidak lagi menjadi tujuan ibadah manusia, karena salat itu sendiri menjadi suatu sumber kenikmatan buat dirinya sehingga dia tidak mencari pahala yang lain lagi. Pahala salat itu terdapat dalam salat itu sendiri, sehingga jika pada titik ini dari Allah datang panggilan kepadanya: ”Masuklah di antara hamba-hamba-Ku”, itu sungguh yang paling tepat baginya. Begitu pula, apa pun yang Allah tentukan bagi hamba-Nya, misalnya, berubahnya keadaan senang dan susah, atau bahagia dan kesedihan, dipikul dengan penyerahan yang ceria oleh seseorang yang telah mencapai tingkat ’jiwa yang tenang’.

Suatu reaksi yang patut dipuji atas kesedihan dan penderitaan ialah bahwa disamping beban berat bagi ruhani seseorang, manusia itu tidak mengeluh atau menangis terhadap ketentuan Allah tetapi diam-diam menanggung segala sesuatu yang menghalang di jalannya. Ini disebut stasiun ’tawakkal’ yang harus diusahakan untuk dicapai oleh setiap Muslim. Namun, ada lagi suatu tempat yang lebih tinggi yang disebut stasiun ridha dan ini adalah yang disediakan bagi ’jiwa yang tenang’. Pada tingkat ini, seorang mukmin menikmati perasaan bahagia dan nyaman dari kesedihan dan kesakitan yang dideritanya, karena dia merasa bahwa kehendak Allah telah dipenuhinya. Para Sufi telah menulis bahwa bila Allah memperkenankan sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan kita, maka kita biasanya gembira karenanya, tetapi lebih membahagiakan lagi bila Allah menentukan bahwa suatu perkara harus terjadi sesuai dengan kehendak-Nya sehingga kita harus meninggalkan keinginan pribadi kita demi kehendak-Nya.

Demikianlah, tertulis dalam Hadist bahwa bila seorang hamba Allah memohon doa yang tidak dijawab sesuai dengan keinginannya dan sebaliknya Allah menetapkan kehendak-Nya dengan mana hamba-Nya itu ridha, maka besarnya anugerah atas kepasrahan hamba ini yang akan diterimanya di Hari Kebangkitan akan begitu luar-biasa sehingga dia berharap agar seluruh permohonan doanya selama ini tetap tidak dijawab.

Suatu kali seseorang bertanya kepada sufi Rabiah al adawiah dari Basra, apakah dia pernah merasa sedih, dimana dia menjawab: ”Ya, ketika tak ada kesedihan dalam hatiku”. Adalah wajar bila seorang itu merasakan kesedihan pada keadaan tertentu, tetapi di tengah penderitaan, bila seseorang itu mengalami kebahagiaan karena berfikir bahwa ini adalah kehendak Tuhannya sehingga dia menjadi ridha atas keridhaan-Nya, maka sesungguhnya dia telah mencapai suatu keadaan yang paling luhur dimana ruhaninya menikmati kedamaian dan kenyamanan. Keadaan ini disebut Surga dan bila dalam hubungan ini dia diberi-tahu ”Masuklah dalam Taman-Ku”, maka betapa sangat menjanjikan itu baginya.

Mardi’ah (amat memuaskan di hati) merujuk kepada mereka yang telah memperoleh nikmat dan pujian dari Allah. Dan bagimana ini bisa dicapai? Ada dua cara terbuka buat manusia: ketaatan kepada hukum Allah dan tawakkal dengan ceria dan menerima ketentuanNya. Karena itu, bila seseorang memenuhi dua syarat ini dan gembira serta puas dengan itu, maka sebagai balasannya Tuhan akan menanggapinya dengan sikap yang sama. Karena itu, seseorang harus berfikir betapa untungnya seseorang yang telah memenangkan keridhaan Tuhannya. Di dunia keseharian ini, ketika seseorang menerima satu sertifikat rekomendasi dari seorang penguasa, bahkan meski kedudukannya itu bersifat sementara, dia sulit menahan rasa gembiranya.. Maka cobalah berfikir sejenak betapa bahagia yang tak terbayangkan bagi seseorang yang menerima suatu tanda pujian dari Yang Sebaik-baik Penguasa, Tuhan seru sekalian alam! Di sini ’perasaan ridha’ ditempatkan sebelum ’amat memuaskan di hati’ karena yang depan adalah merupakan balasan bagi sang hamba, sedangkan yang belakangan adalah akibatnya, karena sesungguhnya, adalah kelakuan seorang hamba yang menarik keridhaan Allah Ta’ala.

Ridha kepada Tuhannya di dunia ini adalah suatu tugas yang sulit sehingga sangat sedikit mereka yang bisa  mencapai ini. Jika seorang hamba menerima perintah Tuhannya, dan selanjutnya, ridha dengan itu, bagaimana kemudian dia bisa tidak taat? Tetapi bila setiap hari seorang hamba itu menggerutu terhadap ketentuan Tuhannya, dan bila dia menderita sedikit kesakitan dan sesuatu terjadi yang berlawanan dengan keinginan dan harapannya, dia kehilangan akalnya lalu meninggalkan keyakinan dan agamanya serta bertambah keterlibatannya dalam kekufuran, maka sesudahnya mustahil baginya untuk ridha kepada Tuhannya.

Jadi bisa dilihat bahwa tetap ridha kepada Allah tanpa mengeluh sedikit pun adalah suatu tujuan yang sangat sulit untuk dicapai. Inilah sebabnya mengapa Hadist menyatakan kepada kita bahwa bila setiap hari seseorang dengan tulus menyatakan ungkapan tertentu, Allah akan ridha kepadanya pada Hari Kebangkitan.

Kata-kata berikut ini adalah: ”Saya ridha Allah sebagai Tuhanku, Muhammad s.a.w. sebagai UtusanNya dan Islam sebagai agamaku”.

Akar dari semua kesulitan adalah bahwa kebijaksanaan yang melatari perintah Allah serta konsekuensi dalam berbuat yang sesuai dengan itu bagi mereka adalah tersembunyi dari pandangan manusia sehingga dia terantuk sepanjang jalan. Maka, ridha kepada Tuhannya adalah titik tertinggi dalam keyakinan kepada Yang Ghaib dan karena alasan inilah mengapa nikmat Allah dan ridhaNya sebagai balasan adalah anugerah tertinggi dan tak tertandingi dari semua pahala. Tak diragukan lagi bahwa seorang penerima kemuliaan semacam itu telah menunjukkan pelayanannya kepada Allah sekuat kemampuannya dan, bersama dengan kesejukan dan kenyamanan ruhaninya, dia telah menjadi pewaris surga. Karenanya dia menerima undangan, ”Maka masuklah di antara hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Taman-Ku”, adalah keluhuran yang sesuai untuk seorang hamba semacam itu.

Dua titik lebih lanjut untuk pertimbangan.

Pertama, Qur’an Suci telah meneguhkan kesalahan filosofis dari panteisme, karena, menurut Qur’an Suci , tingkat tertinggi dari kesempurnaan manusia adalah dalam ’ubudiyyah-nya (pengabdian) dan bukannya menjadi sejenis Pencipta, betapa pun hebatnya dia menemukan dan mengendalikan daya-daya alam. Ini didukung dengan ayat ”Masuklah di antara hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam Taman-Ku”, dari mana kita dapat melihat bahwa ikatan yang paling kuat di antara manusia dan Tuhannya adalah dalam penyerahan total. Kemajuannya menuju kedudukan hamba Allah meningkat secara proporsional atas ketaatannya sehingga fanafil-lah (penyatuan diri dalam Allah), yakni, bersatunya dia dengan Allah, menjadi semakin kuat semakin dia menyusuri lebih lanjut jalan kepada penyerahan diri, karena tak ada jalan lain yang tersedia bagi manusia untuk dapat bersatu dengan Allah kecuali dengan ketaatan. Karena inilah mengapa stasiun kehormatan terbesar bagi manusia di Majelis Allah yakni sebagai hamba Allah seperti yang telah dipastikan oleh Qur’an Suci. “Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku” (51:56).

Ini menjelaskan kenapa jabatan yang paling mulia yang diberikan kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. adalah ’hamba Allah’. Ini diperkuat pertama-tama dengan ayat Qur’an Suci berikut ini: “Dan jika kamu ragu-ragu tentang apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami” (2:23). dan kedua dengan kesaksian ini: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah ’abd (hamba) Allah”.

Tanpa menjadi seorang abdi dia tak bisa menjadi seorang nabi. Karena seperti halnya rangking tertinggi dalam hubungan dengan Allah itu adalah hamba, maka rangking tertinggi kita dalam hubungannya dengan Nabi Suci s.a.w. adalah sebagai ummati (pengikut). Dan semakin bertambah ketaatan kita kepada Nabi Suci s.a.w. dalam ukuran yang sama status kita sebagai pengikut meningkat. Dengan kata lain, leburnya-diri kita dalam mencontoh Nabi Suci (fana-firrasul) adalah nama lain dari ummatiyyah (murid yang sempurna) dan ini diperkuat dengan ayat Qur’an Suci berikut ini: “Katakanlah: Jika kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku; Allah akan mencintai  kamu”. (3:30). Dengan perkataan lain, semakin kita menjadi murid dari Nabi Suci s.a.w., yakni, ummati (para pengikut), semakin Allah akan mencintai kita.

Hal kedua ialah bahwa dari ayat ini, Kembalilah kepada Tuhan dikau, ini kelihatannya segera setelah kematian, dalam alam barzah, karunia Surga ini mulai terjadi. Namun, bagi mereka yang telah mencapai keadaan ’jiwa yang tenang’ dan telah maju ke tingkat ’ubudiyyah (pengabdian), mulai mengalami kelezatan Surga di sini, di dunia ini, karena ayat, ”Masuklah di antara hambahamba- Ku, dan masuklah ke dalam Taman-Ku”, menunjukkan kepada kita bahwa menjadi seorang hamba dan memasuki Taman itu berlangsung secara bersamaan. Yakni, siapa yang menjadi seorang hamba maka dia langsung seketika masuk kedalam kehidupan Surga.

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: