Tafsir SURAT (88) AL – GHASYIYAH (PERISTIWA YANG MELINGKUPI)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diturunkan di Mekkah dan berhubungan sangat erat dengan surat sebelumnya , yakni Al-A’la (Yang Maha-tinggi). Dan begitu pentingnya topik yang dibahas di sini, sehingga Nabi Suci Muhammad s.a.w. sering membacanya dalam shalat Jum’at berjamaah dan membacanya dalam kedua salat Ied. Maksudnya ialah di saat orang banyak berkumpul merupakan kesempatan yang baik untuk meresapkan dalam ingatan mereka masalah pokok didalam surat ini. Dalam surat Al-A’la (Yang Maha-tinggi), kita diperintahkan untuk mengagungkan Allah dan selanjutnya dinyatakan bahwa kesempurnaan dari doa ini dapat dicapai melalui surat Al Ghashiyah, yakni bahwa kita harus bertindak sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah kepada kita sehingga dapat memenuhi tujuan untuk apa kita diciptakan. Dalam surat ini (Al Ghashiyah) kita diberi tahu bahwa kita harus bertanggung-jawab atas amal perbuatan kita dan karenanya kita harus berusaha membentuk tingkah-laku sesuai dengan pola petunjuk yang diberikan Allah kepada kita didalam Qur’an Suci. Kemudian bila kelakuan kita baik dan teguh berlandaskan petunjuk Ilahi ini, maka kita akan mencapai tujuan dari kehadiran kita didunia ini dan kehidupan pada masa depan kita akan membahagiakan. Jika tidak, kita akan celaka.

Hari Kebangkitan telah disebutkan dengan beberapa istilah yang berbeda dalam Qur’an Suci. Misalnya, ini juga disebut As-Sa’ah (Saat), Al-Qari’ah (Malapetaka), Al-Haqqah (Kebenaran yang sudah pasti), As-Sakkah (Jeritan yang memekakkan) dan Al-Akhirah (Hari Akhirat). Betapa pun, di setiap tempat di mana suatu istilah tertentu diberikan, hal itu dilakukan karena mengandung suatu kepentingan khusus dan merujuk kepada suatu keadaan istimewa yang bersesuaian sepenuhnya dengan peristiwa atau keadaannya.

Di sini istilah Al-Ghashiyah (Peristiwa yang melingkupi) diberikan, karena di sini kita harus tetap ingat bahwa ada suatu kepentingan khusus yang mengharuskan kita untuk mendalaminya. Hari Kebangkitan disebut peristiwa yang melingkupi segala sesuatu. Kenapa demikian (?), kita bertanya. Untuk memahaminya kita harus tetap ingat suatu prinsip penting dalam Qur’an Suci. Apa pun tema atau tesisnya, dia ingin agar kita memusatkan perhatian kita pada makna surat yang menjadi nama khusus sebagai judul dari surat itu. Lalu memberikan penjelasan kepada kita bermacam peristiwa yang berbeda dan segala macam gambaran untuk mendukung tema itu. Kemudian, subyek yang sama di ketengahkan pada akhirnya untuk menutup surat itu.

Analogi  dari dunia musik  cukup memberi penerangan kepada kita. Musik, yang dipandang sebagai sistem yang paling terorganisir di dunia, komposisinya adalah berdasarkan prinsip yang sama dari Qur’an Suci. Pada saat seorang penyanyi ingin menyanyikan sebuah lagu (misalnya lagu yang sedang populer) dia membuka dengan nada-nada yang khusus untuk jenis musik itu. Kemudian dia naik dan turun nadanya seirama dengannya, dan setelah semuanya dinyanyikan dia menutupnya dengan nada yang sama persis seperti waktu dia memulainya.

Begitulah, menyangkut aturan dan sistem musik itu tiada bandingnya. Tetapi seseorang yang tidak paham komposisi musik tidak akan bisa memahami sistemnya yang rumit, dan akan menganggap macam-macam nada yang naik turun dari lagu yang dinyanyikan itu seperti sajian yang tak teratur dan mungkin akan mentertawakannya. Namun, seorang ahli musik yang memahami rumitnya aransemen musik itu akan mengalami ekstasi jiwa dari sajian yang sama.

Begitu pula, seseorang yang kurang pengetahuan dan pemahaman terhadap tatanan dan sistem yang rumit yang mendasari pengaturan ayat-ayat al-Qur’an akan tersesat dan, semoga Allah mengampuni! Dia mungkin menganggapnya sebagai susunan yang tak teratur. Sebaliknya, seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Qur’an Suci dan sadar akan hubungan yang kuat dari ayat-ayat dalam Qur’an Suci, akan menikmati kenyataan atas unggulnya komposisi Qur’an Suci yang jauh melebihi aransemen musik yang terbaik sekalipun dan akan menyerap kenikmatan yang setinggi-tingginya dari Qur’an Suci. Pendeknya. Semacam itulah rangkaian yang ada dari permulaan hingga akhir setiap surat sehingga seseorang bisa menyatakan bahwa yang satu menjadi penjelasan terhadap yang lain.

al-Ghasiyyah

Selengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih;

  1. Apakah telah datang kepada engkau riwayat Peristiwa yang melingkupi?

Dalam pembukaan surat ini, kata al-Ghashiyah berarti ”Peristiwa menakutkan yang melingkupi” digunakan, dan ini diterangkan pada akhir kalimat ”Lalu menjadi tanggung-jawab Kami perhitungan mereka”. Dengan perkataan lain, tanggung-jawab atas perbuatan kita harus diberikan oleh setiap orang dan tak seorang pun yang bisa lolos sesuai keinginannya. Sungguh, tak ada cobaan atau kesulitan yang lebih besar selain memberikan pertanggung-jawaban atas amal perbuatan kita.

Para pegawai negeri sipil dari berbagai departemen pemerintah bisa memberi kesaksian atas cobaan berat di saat mengalami datangnya atasannya atau auditor yang memeriksa kerja dan pembukuannya. Demikian berat beban pertanggung-jawaban ini merasuki hati dan fikirannya sehingga sulit baginya untuk tidur selama berhari-hari bahkan meskipun auditor duniawi ini tidak melingkupi segala tindakan yang dilakukannya dan mereka hanya memeriksa selembar dua lembar dan bahkan pengetahuan mereka tidak menyeluruh. Bahkan, kenyataannya mereka pun bisa ditipu. Sebaliknya, lihatlah betapa Allah meneliti selengkap-lengkapnya untuk pemeriksaan peri laku manusia – tak suatu pun bisa tersembunyi dariNya dan setiap perbuatan yang dipertanggung-jawabkan harus diberikan bersama-sama dengan niat dibalik amalnya itu, bahkan rahasia tersembunyi dari lubuk hatinya yang paling dalam. Bila manusia bisa memperoleh rahmat dan ampunan dari Allah, dia dapat mengatasi hambatan ini, sebaliknya orang yang celaka tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Tidak ada ghashiyah (peristiwa menakutkan yang melingkupi) yang lebih besar dari ini.

Seseorang suatu kali melihat Khalifah ’Umar r.a. dalam mimpi dua belas tahun setelah kematiannya. Dia terlihat peluhnya bercucuran dan ketika ditanya alasannya beliau menjawab: ”Saya baru saja menyelesaikan pertanggung-jawaban saya”. Jadi, memberikan pertanggung-jawaban adalah peristiwa yang sangat menakutkan.

Allah, Yang Maha-tinggi, bertanya kepada kita: ”Apakah telah datang kepada engkau riwayat Peristiwa yang melingkupi?” Tetapi Dia tidak memberikan definisi dari kata ini. Sebagai gantinya, Dia menyajikan kepada kita pengaruh serta akibatnya. Sedemikian rupa sehingga dari sini kita bisa memahami buat diri kita sendiri betapa adegan itu akan terjadi.

Marilah sekarang kita lihat lebih dekat gambaran ini dengan ayat berikut:

  1. Pada hari itu wajah-wajah akan menunduk
  2. Bekerja berat, membanting tulang.

Gambaran ini memberi-tahu kita bahwa Neraka adalah juga suatu penjara di Akhirat dan gambaran keadaan seorang pendosa dapat dengan jelas dilihat dalam skala kecil di penjara dunia ini. Kesan pertama bagi setiap pengamat yang bisa dilihat dari wajah para narapidana adalah tanda-tanda kehinaan. Betapa pun tinggi atau terhormatnya seseorang itu, segera setelah dia masuk penjara untuk menjalani hukuman, seseorang dapat mencirikan tanda kehinaan yang besar tertulis di wajahnya. Selanjutnya, dari matahari terbit hingga terbenam dia dipaksa untuk bekerja keras. Betapapun, usahanya itu tidak berbuah apa-apa baginya kecuali di petang hari dia roboh kelelahan. Dengan perkataan lain, di penjara dia bekerja dan berusaha tetapi dia tidak menerima balasan kecuali kesedihan

dan kelelahan sedangkan kalau di luar penjara dia melakukan pekerjaan yang sama tetapi di sini dia menuai buah perbuatannya.

Begitu pula, di penjara Akhirat wajah-wajah penghuninya akan di cap dengan penuh rasa malu dan kehinaan. Sebagai sarana pembinaan, seorang terpenjara akan dipaksa bekerja di sana sebagai hukuman tetapi dia tidak mendapat upahnya untuk kerja kerasnya kecuali kesusahan yang besar dan kelelahan yang sangat. Jika dia melaksanakan pekerjaannya itu di dunia ini dengan kehendaknya sendiri, maka dia akan mendapatkan hasilnya yang adil tetapi di penjara Akhirat dia harus melakukan pekerjaan yang sama dengan paksaan tetapi bedanya disana dia tidak memperoleh hasil atas apa yang dikerjakan.

Kebenarannya adalah bahwa Akhirat itu mencerminkan dunia fana ini. Apa pun juga keadaan yang dibentuk dengan tak nampak bagi dirinya di sini dengan jelas akan terlihat di sana. Mereka semua yang menempatkan hidupnya dalam penjara nafsu dan keinginannya serta menjadi budaknya akan menemukan penjara  yang tersembunyi ini dengan sangat benderang di kehidupan yang akan datang berbentuk penjara. Sesungguhnya, kehinaan dari mereka yang terpenjara oleh keinginan dan ambisi rendahnya dengan mudah terlihat di dunia fana ini oleh mereka yang mempunyai ilmu dan memiliki kedalaman pandangan terhadap sifat manusia .

  1. Masuk ke Neraka yang menghanguskan.

Adalah sutu fakta bahwa mereka yang menempatkan dirinya di penjara nafsu badaniah mereka serta keinginan rendahnya akan menemukan bahwa hawa-nafsunya itu sesungguhnya merupakan api di hatinya. Maka, kelak di Akhirat penjara ini tidak berupa api, lalu apa? Karena itu, jelaslah bahwa api penjaranya di dunia ini akan menyertai si pendosa ke kehidupan mendatang.

  1. Diberi minum dari sumber air yang mendidih.

Usaha untuk memenuhi hawa nafsu serta keinginan duniawi ini tidak pernah dapat memberi kesejukan serta kepuasan dalam hati manusia. Karena, apapun juga obyek yang didambakannya yang dikira dapat membawa kedamaian serta kesenangan dan yang dianggapnya sarana untuk memuaskan kedahagaannya atas kehidupan di dunia ini – maka benar-benar barang itulah, di saat didapatkan, menjadi ibarat air mendidih yang semakin menambah kegelisahan dan kesakitan serta bukannya menjadi pengobat lebih lanjut sumber kedamaian dan ketenteraman. Bukannya memberikan kedamaian hal itu hanya meniupkan api yang terbit dari fikiran duniawi dan ini akan muncul baginya di Akhirat seperti air mendidih yang tidak memuaskan rasa haus ataupun membawa kesejukan dan kenyamanan.

  1. Mereka tak mendapat makanan kecuali hanya duri
  2. Yang tak mengandung gizi dan tak pula menghilangkan lapar.

Makanan itu bermanfaat bagi kita dalam dua perkara. Pertama, dia dicerna dalam perut dan menjadi bagian dari tubuh serta mengandung gizi yang menyehatkan karenanya. Kedua, ketika dia masuk ke perut, dia memuaskan rasa lapar. Bila makanan itu terlalu berat atau rendah kualitasnya dan tidak dicerna, atau bila tak bergizi, maka akibatnyastidak- setidaknya hantaman rasa lapar bisa dikurangi.

Namun, Qur’an Suci menyatakan, bahwa di kehidupan mendatang santunan yang akan diterima seorang pendosa adalah seperti duri yang tidak ada gizinya untuk pertumbuhan manusia, maupun tidak bisa mendinginkan derita kelaparan. Ini, sesungguhnya, suatu gambaran yang cocok untuk keadaan seseorang yang memburu kehidupan dunia, dan ini sepenuhnya akan tergelar dalam kehidupan mendatang.

Jadi, penjara di Akhirat sesungguhnya adalah suatu penyajian atas konsekwensi dari seseorang yang tunduk kepada hawa-nafsu rendahnya serta keinginan dasariahnya. Dan api Neraka, sesungguhnya, adalah suatu manifestasi dari api yang menyala di hati orang yang berfikir duniawiah sebagai akibat bergolaknya hawa nafsu yang sama dimuka bumi ini. Di sana, air mendidih dan duri adalah sesungguhnya menjadi balasan atas nafsu terhadap kesenangan duniawi yang sementara ini yang tak pernah terpuaskan yang menjadi dambaan manusia ataupun dapat menenteramkan serta memberi kesejukan ruhaninya; atau pun bisa memuaskan rasa laparnya sehingga dia bisa mengakhiri keinginannya untuk memburu kesenangan syahwatnya, atau pun dia bisa menyenangkan ruhaninya hingga dia bisa memperoleh kebahagiaan di Akhirat.

  1. Pada hari itu wajah-wajah akan berseri-seri,
  2. Merasa puas karena perjuangan mereka.

Ini adalah mereka yang lulus ujian. Bila anda melihat wajah seorang siswa yang berhasil, anda bisa melihat betapa senang dan gembiranya dia. Tak seorangpun yang dapat mencegah keceriaan, kesenangan dan ekstasi yang muncul dari wajahnya ketika dia berhasil dari kerja-kerasnya dan mulai memanen pahala dari apa yang ditanamnya. Ini adalah suatu pemandangan yang semuanya bisa ditangkap bahkan hanya dengan melihatnya sekilas saja. Karena orang-orang ini tidak menjadi budak hawa nafsu dan keinginan duniawinya, karena itu, seperti halnya yang bisa bermanfaat bagi orang yang bebas, maka amal perbuatannya akan menghasilkan buahnya sendiri di Akhirat. Ini sungguh suatu fakta nyata bahwa bila hasil dari sukses yang diusahakan seseorang itu sesuai dengan yang diharapkan, maka kesenangan dan kebahagiaan akan menggantikan kelelahan dari kerja kerasnya, dan sebagaimana orang semacam itu diridhai oleh Allah di dunia ini, begitu pula, Allah akan meridhainya dalam kehidupan mendatang. Dia tidak akan masuk ke Neraka tetapi akan menjadi penghuni Syurga karena Allah akan menghadiahi amal perbuatannya dengan suatu taman yang telah dibangunnya sendiri dengan amal salehnya.

  1. Dalam suatu taman (Surga) yang tinggi.

Mereka yang telah berhasil mengubah api nafsu dan keinginannya menjadi suatu taman yang rimbun di dunia ini dengan siraman rahmat Allah serta biji amal salehnya sendiri akan melihat kebun mereka dalam bentuk Surga dalam kehidupan mendatang, dan semakin tinggi surga itu, maka akan semakin besar pula bukti kemajuan ruhaninya serta ketinggian maqamnya.

Dalam Masnawinya, Maulana Rumi merangkai suatu puisi berdasar sabda Nabi Suci Muhammad s.a.w. dimana beliau menuliskan bahwa ketika para penghuni surga tiba di pintu Langit dan mereka akan berkata kepada para malaikat: ”Katanya kita akan lewat di atas Neraka sebelum kita mencapai Surga, tetapi sepanjang jalan tadi kita tidak melihat tanda-tanda adanya Neraka”. Para malaikat akan bertanya: ”Apakah kaulihat beberapa taman sepanjang jalan ke sini?” Atas jawaban bahwa mereka telah melihat empat taman, maka para malaikat kemudian menerangkan: ”Taman-taman itu sesungguhnya Neraka, tetapi bagi kalian yang sudah bisa mengubah hawa nafsu dan keinginan yang menyala didalam hati menjadi suatu taman dari kehidupan duniamu, maka mereka tampak seperti taman-taman; tetapi bagi para penghuni Neraka taman-taman itu memang benar-benar api yang menyala.

Maulana Rumi selanjutnya menerangkan makna empat taman ini yang mewakili empat nafsu yang telah bisa dikendalikan oleh seorang yang tulus dalam kehidupan dunia ini, yakni keserakahan, nafsu syahwat, marah dan iri-hati.

  1. Di sana tak mendengar cakap kosong

Ada beberapa perkara yang dapat merugikan kita serta orang lain yang perlu. Tetapi ada suatu perkara tertentu, yang meskipun tidak merugikan orang lain, juga tak ada gunanya bagi kita; hal itu adalah bergunjing (bicara sia-sia atau cakap kosong). Dalam ayat berikutnya, Qur’an Suci memberi-tahu kita bahwa keberhasilan seorang mukmin tiba, bila dia dapat menghindari perkara sia-sia. ”Dan orang yang menjauhkan diri dari apa saja yang tak ada gunanya” (23:3), karena seorang mukmin itu menjaga dirinya dari mengejar sesuatu yang tak bermanfaat bagi dirinya.

Sesungguhnya, setiap orang menganggap adalah suatu kewajiban pribadinya untuk menghindari perkara yang merugikan dirinya, tetapi seorang mukmin melangkah lebih jauh dengan menghindari bahkan kegiatan yang tak bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Pendeknya, setiap detik dari hidupnya seseorang harus terlibat dalam amal saleh. Karena itu, mereka yang menghindari cakap kosong dalam kehidupan didunia ini akan terjauh juga di kehidupan akherat dari kerugian.

  1. Di sana terdapat sumber yang mengalir.

Sumber ini berisi air yang mengairi amal perbuatan manusia yang sesuai dengan perintah Allah dan begitu penuh dengan kesejukan serta kepuasan sehingga dari sumber air ini ruh manusia mencapai maqam terhormat, yakni nafs-ul-muthma’innah (jiwa yang tenang) dan karenanya dia mewarisi kebahagiaan abadi, karena suatu kehidupan yang baru – yakni kehidupan surgawi – telah dianugerahkan kepadanya.

  1. Di sana terdapat singgasana yang ditinggikan
  2. Dan gelas minuman yang siap di tempat
  3. Dan bantal yang berderet-deret
  4. Dan permadani yang digelar.

Keempat ayat ini memotret suatu gambaran dari kehormatan yang akan dikaruniakan kepada para penghuni Surga dari Tuhannya. Bila seseorang itu mendapatkan singgasana yang ditinggikan baik dalam majelis atau sidang, hal itu menunjukkan posisi kedudukannya yang tingginya dimana raja atau tuan rumah menganugerahkan kepadanya dalam pandangan yang sempurna  dari para tetamunya. Kaca yang indah-indah serta keramik dan alat makan serta minum semacam itu menunjukkan kecintaan sang raja atau tuan rumah kepada tamunya, sedangkan bantal yang besar-besar, dan sebagainya, adalah lambang dari kenyamanan serta penempatannya dimana raja atau tuan rumah itu ingin menyediakan baginya. Permadani adalah tanda dari kegembiraan serta kebahagiaan hati dari raja atau tuan rumah menanggapi para tamunya yang memenuhi undangannya.

Di sini Qur’an Suci menyebut empat hal berbeda yang akan diterima oleh para penghuni Surga sebagai ganti atas kualitas moral dan spiritual mereka:

  1. Singgasana yang ditinggikan – ini menunjukkan kehormatan di Majelis Allah.
  2. Bejana keramik – ini adalah lambang kecintaan Allah bagi para hambaNya yang tulus.
  3. Bantal-bantal besar – ini berarti manifestasi kebahagiaan dan kesenangan Allah di saat Dia memusatkan diri pada para hambaNya yang taat.
  4. Permadani – ini adalah perwujudan dari kegembiraan dan kesenangan Allah di saat Dia menemui para hambaNya yang patuh.

Sesungguhnya, empat macam pahala ini adalah akibat dari tetap teguhnya para penghuni surga dalam memegang empat prinsip dalam menghabiskan hidupnya di dunia fana ini, dan empat prinsip ini adalah inti-sari dari apa yang disebut agama Islam.

Empat prinsip agama ini diterangkan dalam empat ayat berikut:

  1. Apakah mereka tak melihat unta (awan), bagaimana itu diciptakan?
  2. Dan langit, bagaimana itu ditinggikan?
  3. Dan gunung, bagaimana itu ditegakkan ?
  4. Dan bumi, bagaimana itu dibentangkan?

Syariat (Hukum) Islam itu dibagi menjadi dua bagian:

  1. Kasih-sayang kepada ciptaan Allah. Yakni, sayang dan simpati kepada ciptaan Allah serta berkorban demi kesejahteraan mereka.
  2. Menghormati perintah Allah. Yakni menunjukkan ketaatan sempurna kepadaNya dan mengembangkan hubungan yang sempurna denganNya sedemikian kuat sehingga menjadi mudah bagi kita untuk meninggalkan segala sesuatu di dunia ini demi untuk mencari ridhaNya.

Begitu pula, ketentuan Allah itu dibagi menjadi dua bagian:

  1. Kesedihan.
  2. Kebahagiaan, yang dialami oleh manusia berselang-seling sepanjang masa.

Sekarang, empat ayat di atas itu bersangkut-paut dengan topik ini satu persatu. Dua ayat pertama ditujukan kepada dua prinsip Syariat sedangkan dua ayat selanjutnya adalah dua keadaan manusia yang berkenaan dengan ketentuan Allah itu digambarkan dalam kitab alam semesta ini, karena Allah, dengan cara ini menginginkan agar kita memahami dan menggenggam inti-sari dari sifat agama. Karena, dalam empat skenario dari alam ini Dia telah memberi kita petunjuk berkenaan dengan empat topik yang diberikan diatas sehingga kita dapat belajar dari mereka karena bila empat prinsip ini tidak terserap dalam diri pribadi kita maka kita tak bisa dianggap sebagai penganut Islam yang sempurna. Cara yang paling efektif untuk menerangkan dasar-dasar agama adalah melalui pengamatan terhadap kitab alam semesta ini, sehingga baik para filsuf besar atau pun manusia yang paling primitif, bisa mengambil persamaan dengan dasar-dasar kebenaran agama.

Marilah kita renungkan sejenak gambaran berikut ini dalam bayangan kita. Jazirah Arab itu adalah gurun pasir luas yang membentang sejauh mata memandang dan pada satu sisi yang lain adalah serangkaian pegunungan yang besar dan tandus. Sekarang, marilah kita bayangkan seorang Arab primitif yang berdiri di tempat yang berpasir, gersang dan tandus ini. Dia baru saja turun dari untanya dan terputus dari seluruh dunia. Tak satu makhluk pun yang dapat dilihatnya, baik burung maupun binatang buas atau manusia maupun tetumbuhan. Di depannya dia hanya bisa melihat empat hal: untanya yang berdiri di dekatnya, langit tinggi di atasnya, deretan pegunungan besar yang tandus, serta padang gurun sejauh mata memandang. Dengan empat macam benda ini, Qur’an Suci mengajarinya prinsip dasar agama, karena, dari buku alam ini, dia diajarkan sifat dari agama.

Hal ini seolah Allah mengatakan kepadanya (dan diperluas lagi, kepada kita semua): ”Wahai manusia, prinsip pertama dari agama, yakni, Islam, adalah kasih-sayang kepada ciptaan Allah, dan kalian bisa memetik pelajaran dari contoh unta ini. Lihatlah betapa dia bekerja keras dan berkurban, betapa siang malam dia membawa beban orang lain dan tak pernah merasa lelah. Dia memanggul bebannya melintasi gurun yang sangat jauh dimana mustahil seseorang atau seekor binatang lainnya bisa melintas sendirian.

Mereka yang bebannya dibawakan menyukai barang-barang yang baik di dunia ini, sedangkan dia cukup puas dengan semak berduri sebagai makanan; mereka minum air untuk beberapa hari dan seringkali berminggu-minggu dia tidak menemukan air, tetapi bila pemiliknya kekurangan makanan dan minuman, maka disembelihnya, dan disamping mereka bisa memakan dagingnya, mereka juga menemukan air di perutnya dalam kantung-air yang ditempatkan dengan rahmaniyah Allah yang tak terbatas di sana, sehingga mereka bisa menyegarkan diri mereka dengan itu, dan karenanya bisa menyelamatkan hidupnya. Dapatkah kautemukan suatu model yang lebih baik atas pengorbanan terpendam serta kerja keras yang telah dilakukan selain yang kami beri dari contoh dengan binatang ini?

Lalu, dari titik pandang yang lain, lihatlah betapa ratusan unta berjalan dengan damai dengan berbaris lurus sepanjang perjalanan yang jauh tanpa berkelahi satu sama lain. Jadi, wahai manusia, belajarlah dari binatang ini agar anda menegakkan dihadapanmu prinsip pertama dari agama yakni agama fitri, Islam, yakni, kasih-sayang kepada makhluk Allah. Pikullah beban makhluk lain dengan kesulitan dan penderitaan ke tempat dimana yang lain tidak punya kekuatan untuk mencapainya dan dengan derita bagi dirimu untuk memberikan santunan kepada yang lain dengan tak kenal lelah. Laparkanlah dirimu untuk memberikan yang lain makanan dan bila mesti terjadi bahwa kalian harus mengorbankan hidupmu demi melayani dan mensejahterakan umat, janganlah kamu ragu barang sekejap. Bila bekerja dalam satu kelompok, bak unta, berperan-sertalah dengan tenang dan keputusan yang kuat, saling bersimpati dan bersatu. Dengan perkataan lain, pelajarilah setengah dari agama alami ini dari binatang ini.

Untuk mempelajari bagian kedua dari agama, yakni bersatu dengan Allah dan kepatuhan yang penuh hormat kepada perintahNya, lihatlah ke atas, wahai manusia; ke langit dan lihatlah betapa itu dibangun tinggi di atasmu. Karena itu, dalam ketaatan kepada perintah Allah dan dalam membentuk ikatan yang tak terputus dengan Dia, yakni, memutuskan dirimu dengan segala sesuatu selainNya, maka cobalah meningkatkan kesempurnaan serta keindahan dengan cara yang sama seperti langit yang tinggi di atas bumi dan bebas dari segala hambatan. Karena itu, kamu pun, dalam mendaki jalan kepada Allah harus terbang tinggi seperti langit, mengatasi segala keinginan dan nafsu rendah, serta, jauh dari sebagai makhluk Allah, angkau harus meluncur tinggi ke langit. Hendaknya selalu diingat, bahwa seseorang yang lebih condong kepada kesenangan duniawi tidak akan pernah bisa menggapai langit dengan keyakinan yang penuh kepada Keesaan Allah ataupun mempengaruhi persatuan denganNya.

Setelah menyempurnakan ajaran Hukum, Allah meminta perhatian kita kepada dua keadaan yang memancar dari ketentuanNya. Pertama dia mengkaitkan dengan kesedihan, dan menasehati manusia sebagai berikut:

  1. Bila engkau menghadapi penderitaan dan kesulitan, maka tegakkanlah dirimu seteguh perbukitan. Betapapun dahsyatnya badai serta gel;ombang kesukaran dan bencana, jangan mundur setapak pun namun tetap tak tergoyahkan ibarat gunung-gunung dan jangan pernah bergeser sedikitpun dari posisi dan prinsip anda. Dengan kata lain, di masa susah, belajarlah bersabar dan tabah hati seperti diibaratkan dengan gunung-gunung.
  2. Kedua, bila kebahagiaan serta kenyamanan dan kekayaan mengunjungimu, maka rendah-hatilah seperti bumi dan jangan menunjukkan kebanggaan atau kesombongan melainkan cobalah sekuat tenaga untuk menumbuh-suburkan sifat kesederhanaan, rendah-hati, penyantun, dermawan dan murah hati sebagaimana ditunjukkan oleh bumi yang rendah dan rata sejauh mata memandang. Sungguh, siang dan malam, dia diinjak oleh kaki teman dan musuh, namun dia tak pernah menghambatnya – baik si kaya maupun si miskin, sahabat ataupun musuh, semuanya beristirahat di pangkuannya sebagaimana mereka menggunakan untuk makanannya biji-bijian,buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, air, udara dan segala sesuatu yang disajikannya. Karena itu, waktu bahagia dan sukses belajarlah sifat mulia dari bumi. Ke-rendah-hatian dan kesederhanaan, kesantunan dan kedermawananmu, kehormatan dan tak mementingkan diri sendiri hendaknya berdasarkan contoh bumi ini”.

Pendeknya, keempat prinsip di atas, yang membentuk dasar agama akan dianugerahakan kepada kaum mukmin dalam kehidupannya di masa datang sebagai pahala atas usahanya. Keindahannya di sini adalah bahwa keempat prinsip agama ini adalah begitu mudah dan begitu jelas dalam kitab alam sehingga bahkan seorang primitif di padang gurun yang terasing pun bisa belajar dari lingkungannya. Selanjutnya, bila seseorang itu tetap tak bisa mengambil manfaat dari ajaran Rasulullah, Nabi Suci Muhammad s.a.w., dan tak bisa mengambil inti agama yang penting ini, dan dia tetap lalai, maka dia tak lain harus menyalahkan dirinya sendiri atas nasibnya yang celaka.

Karena itu, Qur’an Suci berfirman:

  1. Maka peringatkanlah. Engkau hanyalah orang yang harus memperingatkan.

Yakni, disamping kenyataan bahwa Nabi Suci itu memperingatkan umatnya kepada agama alam, yakni, yang terdapat baik dalam diri pribadi manusia maupun dalam buku alam semesta; maka jika mereka menolak Qur’an Suci berfirman dengan ayat-ayat berikut:

  1. Engkau bukanlah penjaga atas mereka,
  2. Tetapi barang siapa berpaling dan kafir
  3. Allah akan menyiksanya dengan siksaan besar.

Nabi Suci s.a.w. diberitahu bahwa tugasnya hanyalah mengingatkan umat dan menyampaikan risalah Allah kepada mereka; dia tidak memaksa mereka. Bila seseorang berpaling dan mengingkari kebenaran, Allah sendiri yang akan menetapkan hukuman atasnya karena amal perbuatannya.

  1. Sesungguhnya kepada Kami kembali mereka,
  2. Lalu menjadi tanggung jawab kami perhitungan mereka.

Ayat-ayat ini menunjukkan janji atas pertanggung-jawaban seperti yang disebut dalam permulaan surat  dengan kata Al-Ghashiyah, yang berarti peristiwa yang melingkupi segala sesuatu, dimana tak seorangpun yang dapat meloloskan diri. Allah Ta’ala mengatakan kepada Nabi Suci s.a.w. agar mengajarkan agama kepada umat dan bila mereka tidak menerimanya, maka beliau tak dipersalahkan karena pada akhirnya mereka seluruhnya harus kembali kepada Allah dan Dia, Dia sendirilah, Yang Akan Menjadi Dzat yang akan meminta tanggung-jawab atas segala amal perbuatannya. Bagi mereka yang percaya atau menyebarkan propaganda bahwa Islam itu disiarkan dengan pedang, di sini dalam ayat-ayat ini adalah penolakan yang nyata dengan jawaban yang amat menggentarkan ini.

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: