Tafsir SURAT (85) AL-BURUJ (BINTANG BINTANG)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini diwahyukan di Mekkah ketika Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya mengalami segala penganiayaan oleh kaum kafir mekkah. Mereka menyulut api penindasan dan secara diam-diam menciptakan segala macam rencana jahat untuk menghabisi Rasulullah dan Para Sahabat sebagaimana dirujuk secara tidak langsung dalam surat terdahulu, Al-Inshiqaq (Terbelah), dimana dinyatakan bahwa Allah sepenuhnya menyadari konspirasi yang disembunyikan dalam hati dan mereka diperingatkan atas konsekwensi hukuman yang akan mendatangi mereka. Didalam surat ini, nubuatan mengenai peristiwa tersebut secara rinci digambarkan dengan argumen yang kokoh dan pasti yang disertai bukti-bukti penunjang sedemikian rupa sehingga hal itu bisa menyajikan argumentasi yang abadi bagi segala zaman sebagai suatu pedoman yang utama dan sebagai contoh dari pekerjaan Tuhan yang tak pernah berubah.

al-Buruj

 

Selengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih;

  1. Demi langit yang penuh bintang!
  2. Dan demi hari yang dijanjikan!
  3. Dan demi saksi dan apa yang disaksikan!

Marilah kita renungkan keadaan kegelapan dan kesesatan yang merata di Arabia pada saat itu, begitu pula terhadap kesukaran serta kekacauan yang merajalela disekitarnya, dan kemudian marilah kita pertimbangkan kuat dan istimewanya nubuatan ini dimana kemenangan kebenaran telah dilukiskan dengan demikian benderang. Kesaksian dari langit yang dihiasi bintang-gemintang dihadirkan disini guna mengumumkan kepada dunia bahwa saatnya telah tiba ketika jazirah Arabia akan menerima ajaran dari langit dan kerajaan Allah yang ada di langit, akan ditegakkan di bumi dengan penuh kejayaan dan keagungan sehingga, bicara secara kiasan, bisa dikatakan bahwa bumi berubah menjadi langit. Dan tepat seperti langit yang penuh bintang, dengan cara yang sama, bumi akan diikat dengan orang-orang, yang seperti bintang-bintang, akan disinari dengan cahaya langit sebagaimana Nabi Suci s.a.w. telah bersabda: “Para sahabatku itu seperti bintang-bintang”.

Demi hari yang dijanjikan itu berarti bahwa demi penggenapan perkara ini, suatu hari yang khusus telah ditetapkan dan suatu janji untuk hari itu telah dengan kuatnya diberikan yakni ketika kebenaran akan menang terhadap kepalsuan. Ini akan membentuk suatu peristiwa yang tak terbantah bahwa tepat sebagaimana kebenaran itu meliputi Arabia pada zaman Nabi Suci, demikian juga dia akan menang pada segala zaman dimasa mendatang.

Saksi yang disebut diatas tiada lain adalah Nabi Suci Muhammad s.a.w. sendiri yang telah memberikan bukti keberhasilan agama Islam dan telah meramalkannya. Ini juga mengacu kepada  mereka yang menyaksikan peristiwa ini, khususnya, para sahabat Nabi Suci , yang melihat dengan mata-kepalanya sendiri penggenapan dari  nubuatan kejayaan ini.

Ungkapan dengan apa yang disaksikan mengacu kepada peristiwa yang diramalkan, yakni, kemenangan Islam .

Ini juga berarti apa yang sebenarnya disaksikan dan ini adalah suatu rujukan tidak langsung kepada manifestasi yang terang kekalahan serta kehancuran dan kehinaan serta kemerosotan dari kaum kafir. Peristiwa ini menyajikan sebagai suatu kesaksian bahwa Islam akan senantiasa terus-menerus menyebar dan menguasai dan ini juga merupakan peringatan kepada mereka yang mencoba menghancurkannya serta menghambat kemajuannya dimasa mendatang bahwa mereka akan menderita nasib yang sama seperti para penentang Nabi Suci s.a.w.

  1. Kehancuran menimpa para penghuni parit,
  2. Api yang dipenuhi dengan bahan bakar,
  3. Tatkala mereka duduk di situ.
  4. Dan mereka menjadi saksi terhadap apa yang mereka lakukan pada kaum mukmin.

Siapakah sahabat dari parit? Para mufassir Qur’an Suci terbelah dalam pandangannya dan banyak kisah yang dikaitkan mengenainya tetapi satu yang merujuk kepada Alkitab yang rasanya populer. Ini menceriterakan betapa seorang raja terkenal dari Babil melempar ke dalam tanur menyala tiga orang Yahudi yang menolak menyembah berhala yang mirip raja itu. Namun, mereka keluar tanpa cedera sedikitpun akibat nyala api tersebut.

Saya tidak keberatan dalam menerima ceritera semacam itu. Namun, mengenai surat ini, arti yang umum diterima adalah bahwa orang-orang yang kasar, tiran dan kepala-batu sedemikian besarnya sehingga mereka akan menggali lubang api untuk melemparkan orang mukmin ke dalamnya, dan akan duduk di sampingnya dan dengan gembira menyaksikan tontonan kematian mereka – jika kaum kafir ini dihancurkan dan menderita azab Allah karena kejahatan mereka dan penganiayaan serta pembunuhan kaum mukmin didunia ini, lalu bagaimana kaum kafir Mekkah bisa dikecualikan? Bila mereka menganiaya dan membantai kaum mukmin, apakah mereka bisa selamat dari cengkeraman Allah serta azab-Nya?

Betapa pun, penjelasan yang disukai oleh mufasir ini berbeda dari yang tersebut di atas. Dalam pandangan Dia, penghuni parit sesungguhnya adalah kaum kafir Mekkah yang biasa menggali segala macam parit di jalan kaum muslimin untuk menghambat kemajuannya. Bicara perumpamaan, menggali parit untuk seseorang berarti menciptakan sarana guna menggagalkan kemajuan orang itu.

Macam-macam parit yang digali kaum kafir Mekkah sebagai hambatan atas jalan kemajuan kaum muslimin ialah penganiayaan dan peperangan. Ini dibuat jelas oleh kata-kata dalam al-Qur’an itu sendiri karena ungkapan, Api yang dipenuhi bahan bakar, digunakan menggantikan parit (ukhdud). Dengan perkataan lain, arti parit itu sebetulnya adalah api. Kita harus catat di sini bahwa bangsa Arab menggunakan api untuk diartikan sebagai peperangan dan ini adalah gambaran yang umum diketahui sebagai pembicaraan di kalangan mereka seperti yang dibuktikan oleh Qur’an Suci dimana dikatakan: Setiap kali mereka menyalakan api untuk perang, Allah memadamkan itu, dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi (5:64).

Dalam rangka menghancurkan dan menghabiskan kaum Muslim, penyembah berhala dari Mekkah menyulut api peperangan di setiap sudut dan guna menempatkan batu sandungan terhadap jalan  kemajuan mereka, mereka menggali lubang api dimana-mana. Dan karena api itu tidak bisa dinyalakan atau bertahan tanpa bahan bakar seperti yang disetujui pula oleh Qur’an Suci ketika dikatakan: Api yang dipenuhi bahan bakar, karenanya, mereka yang memasok bahan bakar untuk api peperangan dan penindasan ini tiada lain adalah kaum bangsawan Mekkah, yakni, kaum kafir Mekkah yang menghasut semua orang, mengajak mereka agar menganiaya kaum muslim serta memerangi dan membunuh mereka. Mereka tidak memberi peluang supaya api peperangan dan penindasan ini tetap menyala dan karenanya, setelah melempar kaum mukmin ke lubang ini, mereka duduk dan sangat menikmati tontonan kesakitan dan penderitaan mereka. Qur’an Suci menyatakan, bahwa orang-orang ini yang memasang rintangan dijalan kemajuan kaum muslim dan yang memasok api peperangan serta menganiaya mereka dan yang, setelah melempar mereka ke dalam lubang kesusahan dan kesakitan, duduk dibelakang dan menikmati pekerjaan tangannya, mereka sendiri akan dibinasakan. Dengan perkataan lain, neraka buat mereka adalah keputusan yang sudah ditetapkan dimuka karena mereka akan jatuh ke dalam parit yang sama yang digali untuk kaum mukmin. Mereka dimakan oleh apinya sendiri yang dinyalakan bagi orang-orang yang tak berdosa, yakni, tanpa ragu mereka akan merasakan kekalahan, kehancuran, rasa malu dan kehinaan.

Bila kita perhatikan dengan cermat, kita akan melihat bahwa ketujuh ayat di atas membentuk suatu jaringan yang berhubungan. Pertama dari semuanya, gambaran bahwa langit penuh bintang ditempatkan di hadapan kita dan suatu nubuatan disajikan tepat ketika langit yang penuh bintang ini, yakni tanah Arabia, akan menjadi langit dan akan dipenuhi dengan umat yang, seperti bintang-bintang ruhani, akan mendapat cahaya dari langit surgawi.

Kemudian kita diberitahu bahwa hari kemenangan kebenaran telah ditetapkan sebagai suatu hari yang dijanjikan dan bahwa hari itu adalah penaklukan Mekkah. Dikatakan bahwa suatu umat akan menyaksikan penggenapan nubuatan ini dan itu merujuk kepada para sahabat Nabi Suci, dimana orang-orang lainnya juga akan ditaklukkan dan penggenapan ramalan itu akan ditunjukkan kepada dunia seluruhnya, dan termasuk dalam gelombang kedua ini ialah kaum kafir Mekkah.

Parit yang digali untuk menghalangi derap kemajuan Islam dan api peperangan serta penganiayaan yang disulut demi menghabisi kaum muslim menjadi penyebab kebinasaan mereka sendiri. Mereka telah menyalakan api ini untuk membakar kaum mukmin dan untuk menyaksikan kebiadaban mereka, tetapi mereka jatuh ke dalam api yang sama dan dilalap oleh itu dan ironisnya, kaum mukmin yang menyaksikan akhir mereka yang menyedihkan. Seluruh kejadian ini menyajikan suatu kesaksian yang meyakinkan atas kenyataan bahwa akhir dari mereka yang berusaha menghancurkan kebenaran, yakni agama Islam, yang diinginkan Allah agar tegak dengan kokoh di bumi ini, dan semuanya yang berusaha untuk menghalangi jalannya, dan para penolongnya juga, akan menemui nasib yang sama seperti penyembah berhala Mekkah. Yakni, mereka yang menyalakan lubang api untuk mengurung kaum mukmin akan jatuh dan terbakar di api yang sama dan nasib buruk mereka akan menjadi peringatan bagi dunia. Karena itu, dalam kaitan ini, ciri yang ditunjukkan ini, penghuni parit, bisa diterapkan secara umum dan tidak terbatas pada kaum tertentu. Mereka yang menggali parit untuk menghambat penyiaran Islam akan menderita nasib yang pahit seperti para penggali parit dalam zaman kehidupan Nabi Suci.

  1. Dan tiada mereka menyiksa orang-orang (mukmin), kecuali hanya karena kaum mukmin itu beriman kepada Allah, Yang Maha-perkasa, Yang Maha-terpuji.
  2. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Yang Maha-saksi atas segala sesuatu.

Ayat-ayat ini mengungkapkan kepada kita alasan sesungguhnya dari kemarahan yang tak terkontrol dari kaum kafir serta penganiayaan mereka terhadap kaum muslim dan bertanya kepada mereka apakah yang belakangan ini bersalah atas kebrutalan yang harus mereka derita. Kita diberi-tahu di sini bahwa kesalahan satu-satunya adalah keimanannya kepada Allah. Dengan kata lain, kejahatan yang dianggap bersalah di mata kaum penyembah berhala dan atas mana mereka layak dibunuh dan dibantai tiada lain dari pada keyakinan mereka yang dalam kepada Allah Yang Maha-tinggi, Yang Maha-perkasa  dan patut mendapat segenap puji dan hormat serta Dia adalah Tuhan langit dan bumi. Sebagai akibatnya, semua insiden ini tiada tersembunyi dari-Nya karena Dia Maha-melihat segala sesuatu.

Kini, mengenai umat ini yang beriman kepada Tuhan Yang Maha-unggul, Maha-terpuji dan Wajib- dihormati  serta Tuhan dari langit dan bumi, keadaan memaksa bahwa mereka juga harus di-cap dengan sifat menonjol seperti yang disebut di sini. Yakni, Allah Ta’ala akan menganugerahi mereka dengan kemenangan dan kehormatan serta akan menjadikan mereka penerima kemuliaan akhlak dan ruhani serta pujian juga akan dihasilkan untuk mereka di dunia serta mereka juga menjadi pewaris baik kerajaan duniawi maupun ruhani.

  1. Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, lalu mereka tak bertobat, mereka mendapat siksa Neraka, dan mereka mendapat siksaan yang menghanguskan.

Di sini, akhir dari para penghuni parit ini yang menambahkan bahan bakar kepada nyala api dengan jelas telah dinyatakan sebagai mendapat siksaan yang menghanguskan. Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa siapa yang menganiaya kaum mukmin laki-laki dan perempuan dan menyakiti serta menganiaya mereka dan yang menceburkan mereka kedalam kekacauan serta peperangan akan mendapatkan kesedihan yang tak terelakkan dengan merasakan api yang sama di Akhirat serta di alam fana ini juga. Yakni, mereka akan masuk ke api neraka pada kehidupannya mendatang dan akan mengalami api penyesalan, kegagalan serta kekalahan total dan frustrasi dalam hidup ini. Selanjutnya, mereka akan jatuh ke parit yang sama yang digalinya dan yang disulut untuk kaum mukmin serta itulah yang membakar mereka.

  1. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik, mereka akan mendapat Sorga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Itulah keberhasilan yang besar.

Mereka yang beriman dan berbuat kebajikan dikatakan bahwa Allah pasti akan memberi mereka di akhirat, surga dimana keyakinan mereka akan diganjar dalam bentuk taman dan amal salih mereka akan berbentuk sungai. Namun, ini belumlah seluruhnya. Dalam kehidupan di sini, mereka akan menerima kebun keberhasilan dan penggenapan. Cobalah bayangkan kebahagiaan serta kegembiraan dari kaum mukmin pada saat ketika Allah memberi mereka kemenangan terhadap musuh mereka yang haus darah dan menunjukkan kepada mereka betapa kuat dan tegak dengan kokoh agama yang mereka cintai; betapa Dia memberikan kekuasaan kepada para penghuni padang pasir ini di atas semua negeri dimana mengalir Sungai Tigris, Efrat dan Nil, dan betapa Dia telah menjadikannya penguasa dari seluruh negeri ini yang dipenuhi dengan taman, dan betapa, disamping janji di Akhirat, Dia telah menganugerahkan kepada mereka keberhasilan yang sangat besar dan paling mencengangkan dalam hidup ini!

  1. Sesungguhnya cekauan Tuhan dikau keras sekali!

Mereka yang menggali parit api bagi kaum mukmin dan tidak berhenti dari menganiaya mereka diperingatkan akan nasib yang menyedihkan bila mereka tidak mencegah kejahatan mereka. Mereka diperingatkan bahwa bila Tuhan dari Muhammad s.a.w. mencekau seseorang, maka tak ada yang bisa lolos dari cengkeraman-Nya yang perkasa.

  1. Sesungguhnya Dia Yang mengawali dan mengulang ciptaan.

“Abda’a” berarti menciptakan dari awal mula sedangkan “I’ada” menunjukkan menciptakan lagi dan lagi. Suatu contoh yang sangat baik terlintas di fikiran kita. Kita amati bahwa seekor anak ayam itu menetas dari sebutir telur dan telur berasal dari seekor ayam. Sekarang, tak seorangpun yakin lebih dulu mana: ayam ataukah telur?

Apa yang kita yakini  ialah bahwa salah satu dari mereka datang terlebih dahulu dan kelahirannya tidaklah sesuai dengan hukum penciptaan yang kita saksikan hari ini. Telur itu, atau anak ayam itu yang datang mula-mula di dunia ini adalah dengan cara yang lain daripada yang kita saksikan hari ini. Hukum dimana telur pertama diciptakan disebut hukum asal-muasal, sedangkan hukum yang menimbulkan rantai peristiwa yang kita dapati sekarang yakni bahwa anak ayam dari telur kemudian ayam bertelur menjadi anak ayam dan seterusnya disebut hukum reproduksi. Mengenai dua hukum inilah Qur’an Suci berfirman: “Sesungguhnya Dia yang mengawali dan mengulang ciptaan”.

Yakni, Allah adalah Pencipta dua macam hukum. Pada permulaannya, Dia menciptakan bumi dengan cara apapun yang dikehendaki-Nya dibawah hukum asal-muasal dan kemudian, dibawah hukum kesinambungan, atau prokreasi Dia menghadirkan semacam hukum yang disebut Sunatullah dimana proses seluruh dunia ini bisa berjalan terus. Ini disebut hukum reproduksi atau pengulangan, atau terkadang disebut hukum sebab dan akibat karena di bawah hukum ini sebab tertentu menimbulkan konsekwensi tertentu dan bila penyebabnya datang lagi maka kemudian, demi kepentingan itu, maka hasilnya akan sama seperti sebelumnya. Inilah sebabnya mengapa hal ini umumnya dikatakan sebagai sejarah terulang kembali. Qur’an Suci menerangkan fenomena ini dengan menggunakan kata “yu’id” (Dia mengulangi), berarti bahwa Allah mereproduksi atau mengulangi peristiwa di masa lampau.

Maksudnya di sini adalah untuk memperingatkan kepada mereka yang tidak menghentikan penganiayaan kepada kaum mukmin bahwa mereka tidak boleh lupa bahwa Tuhan (Rabb) Yang menciptakan Muhammad s.a.w. tidak akan pernah gagal dalam menunjukkan Sifat Pemelihara-Nya (Rububiyyat) padanya hingga dia mencapai tujuan kesempurnaan. Sebaliknya, mereka diberi-tahu bahwa cekauan Tuhannya Muhammad s.a.w. adalah sangat kuat dan Dia akan mengulang praktik-Nya ini juga dalam perkara ini, sebagaimana telah dilakukan-Nya sepanjang sejarah dunia. Yakni, nasib mereka akan sama dengan yang lain, seperti orang-orang sebelumnya yang menyusahkan hamba Allah. Alasan bahwa mereka tidak dibalas secepat mungkin diberikan dalam ayat berikut:

  1. Dan Ia Yang Maha-pengampun, Yang Maha-penyayang.

Mereka diperingatkan bahwa adalah Sifat Allah Yang Maha-pengampun serta Maha-penyayang  yang menyelamatkan mereka dari hukuman secepatnya. Dia ingin agar para hamba-Nya menjaga dirinya dari hukuman karena Dia itu sangat menyayangi mereka. Sekali waktu Nabi Suci bertanya kepada seorang sahabat pertanyaan yang berikut ini:

“Adakah seorang ibu yang menginginkan anaknya masuk ke api?”

Ketika sahabat menjawab tidak, Nabi Suci mencatat:

“Kasih-sayang Allah itu jauh lebih besar daripada seorang ibu”.

Ini adalah konsekwensi kecintaan serta pengampunan Allah sehingga Dia ingin menyelamatkan para hamba-Nya dari azab. Karena alasan inilah maka Dia membangkitkan para nabi dan rasul serta mengirim mereka dengan kitab petunjuk sehingga para hamba-Nya bisa memperhatikan dan menyelamatkan diri mereka dari balasan atas tindak kejahatannya. Orang yang tidak benar melawan kebenaran dan membebankan penderitaan yang tak terkatakan kepada para hamba Allah, namun Allah, dalam rahmat-Nya yang tak terhingga, menangguhkan hukuman-Nya atas mereka sehingga mereka bisa datang kesadarannya serta dengan sukarela mau meninggalkan cara hidup membangkangnya.

Jadi, mereka dikatakan di sini bahwa mereka tidak boleh mengira bahwa setelah menganiaya kaum muslim itu tidak akan terjadi apa-apa terhadap mereka di belakang hari, bahwa mereka itu kebal hukum. Ini hanya karena kasih sayang dan pengampunan Allah sehingga hukuman itu ditangguhkan untuk mereka. Namun, bila mereka tidak berhenti, maka hendaklah diingat bahwa Allah Ta’ala adalah:

  1. Tuhannya ‘Arsy, Yang Maha-mulia.
  2. Yang mengerjakan apa yang Ia kehendaki.

Di dunia ini, seorang raja biasa akan menerapkan balasan untuk pemberontakan atau pelanggaran hukum di kerajaannya tanpa menyisakan seorangpun. Dapatkah kita harapkan, bahwa Allah Yang Maha-tinggi itu tidak menaruh perhatian demi kekuasaan-Nya Sendiri dan kejayaan-Nya? Betapa mungkin orang yang melanggar hukum di kerajaan-Nya bisa lolos tanpa tersentuh?

Lagi, adalah mungkin kadangkala para pemimpin pemerintahan dunia yang sementara ini menginginkan untuk menerapkan rencana tertentu tetapi tidak memiliki kekuatan (atau sumber daya) untuk melaksanakannya. Namun, kekuatan dan keperkasaan Allah adalah begitu sempurna sehingga mustahil bagi-Nya untuk menginginkan sesuatu tanpa bisa memperolehnya.

  1. Apakah tak datang kepada engkau riwayat pasukan
  2. Fir’aun dan Tsamud?

Di sini, sejarah dari dua kaum yang telah lampau diungkap kedalam kisah dan kita diajak untuk memandang secara filosofis kepada sikap kaum Fir’aun dan Tsamud yang telah dibinasakan. Para nabi telah datang kepada mereka tetapi telah diperlakukan buruk dan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan beliau. Di bawah hukum pengulangan, Allah Ta’ala ingin mengusung konsekwensi yang sama di Mekkah seperti yang telah dialami oleh kedua kaum itu. Dengan kata lain, tepat seperti halnya mereka yang merasakan kegagalan dan kehancuran, maka, demikian juga , para kafir Mekkah akan mengalami hal yang sama. Qur’an Suci adalah kitab pertama yang mengajar kita melihat secara filosofis kepada sejarah dunia untuk menemukan penyebab dari jatuh bangunnya bangsa-bangsa. Ini memberitahu kita kenaikan atau kemerosotan, baik individu ataupun nasional, ini semua terjadi di bawah Hukum Ilahi dan bila manusia merenung dengan mendalam maka dia akan dapat memetik manfaat dari hal itu dan menyelamatkan dirinya dari keruntuhan.

Kaum Tsamud tinggal di utara Hijaz dan karenanya adalah tetangga dari kaum Mekkah. Mereka juga telah berusaha untuk membunuh nabi mereka Salih a.s.; sama sikapnya dengan kaum kafir Mekkah yang merencanakan intrik jahat untuk membunuh Nabi Suci s.a.w.

Fir’aun adalah julukan raja Mesir. Dia juga, telah menganiaya Nabi Musa a.s. dan umatnya, seperti Abu Jahal dari Mekkah dan semua kaumnya telah menganiaya Nabi Suci s.a.w. serta umatnya. Kita diberi-tahu bahwa sejarah akan terulang kembali sama seperti perkara yang terjadi di masa lampau terhadap bangsa-bangsa ini juga akan terjadi di Mekkah karena sebab yang sama itu juga ada di sini. Karena itu, akibatnya juga pasti sama.

  1. Tidak, malahan orang-orang kafir mendustakan.
  2. Dan Allah melingkupi mereka di segala sudut.

Bukannya memetik manfaat dari nasib serta keadaan dua kaum di masa lalu ini, penyembah berhala Mekkah setiap hari meningkatkan penolakannya, dan menentang Nabi Suci s.a.w., tidak menyadari fakta bahwa Allah telah mengurung mereka dari segala penjuru. Dengan perkataan lain, mereka tidak dapat mencederai kaum mukmin maupun menghindarkan diri dari kesulitan, karena mereka telah menolak mengambil langkah keselamatan. Sebagai akibatnya, mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dari jebakan kekafiran maupun menimbulkan kerugian kepada Nabi Suci dan para pengikutnya.

  1. Tidak, itu adalah Qur’an yang mulia.
  2. Dalam Loh yang dijaga.

Dalam ayat-ayat ini tiga nubuatan yang sangat kuat diberikan oleh Qur’an Suci dan ini berisi pertama, nama Kitab Suci Al Qur’an, kedua, kata mulia (majid) dan ketiga, dalam frasa Dalam Loh yang dijaga (fi lauhim mahfuz).

Kata Qur’an berarti suatu kitab yang berharga untuk dibaca dan juga satu yang banyak sekali dibaca. Maka dengan memberi nama Qur’an terhadap kitab ini, Allah Ta’ala telah meramalkan bahwa kitab ini akan menjadi buku yang paling sering dibaca di dunia dan ini telah terbukti demikian karena pada setiap salat wajib sendiri sehari-hari  kitab ini telah dibaca sedemikian luasnya sehingga tak ada buku lain di dunia, baik pustaka agama maupun sekuler, yang dibaca melebihinya. Menyangkut buku duniawi, mereka hanya dibaca sekali atau dua kali lalu dibuang, sedangkan menyangkut pustaka samawi dan kitab suci ini, membacanya adalah kewajiban manusia sepanjang hidupnya. Namun, dapatkah seseorang membaca Weda dan Zend Awesta bila cara membaca dan bentuknya sendiri begitu penuh larangan?

Mengenai Alkitab, hanya ada satu buku akan tetapi begitu banyak edisi dan revisi sehingga seseorang akan heran. Bahkan yang lebih menakjubkan lagi adalah fakta bahwa ada begitu banyak edisi, toh Alkitab tidak dibaca secara luas. Tiap Minggu dalam sembahyang mereka membaca sedikit ayat dan kemudian habis perkara.

Sebaliknya, Qur’an Suci dibaca dalam lima kali salat wajib, dalam salat sunnah malam (tarawih) selama bulan Ramadhan dan juga dikaji serta dihafalkan. Pendeknya, banyak kesempatan dan cara dimana Qur’an Suci dibaca dan kaum Muslim menganggap sebagai tugas yang begitu besar bagi mereka untuk membaca Qur’an Suci dan hal seperti itu tak bakal ditemukan untuk kitab lainnya di dunia ini. Jadi, dalam nubuatan ini, kaum kafir diperingatkan bahwa ketika mereka memusatkan diri dengan cara-cara untuk mendiskreditkan dan menghancurkan Qur’an Suci, Allah mengumumkan ke seluruh dunia bahwa begitu luasnya kitab ini akan disiarkan, dan demikian banyaknya dibaca, sehingga tak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia.

Melekat dalam rancangan mulia (majid) adalah suatu nubuat bahwa tidak saja Qur’an Suci itu akan dibaca secara luas, namun ini akan mencapai peringkat kemuliaan yang luhur dan menikmati penghormatan di seluruh dunia. Tak perlu disebutkan pujian dan kewibawaan di dalamnya yang dipegang teguh oleh ratusan juta kaum muslim. Namun, nubuatan ini tidak akan berakhir  dengan sekedar itu karena ada pula suatu ramalan bahwa bahkan kaum non-muslim, dengan kemampuan yang dia peroleh dari ilmu Qur’an Suci, akan menundukkan kepalanya di hadapannya dalam memuji kekuatan dan keagungannya.

Beberapa tahun yang lalu, suatu penelitian telah dilangsungkan di Inggris oleh surat-kabar di antara orang-orang yang berpendidikan tinggi dan bijaksana yang ditanya pendapat mereka atas pertanyaan berikut ini: “Menyangkut tuntunan, ketulusan, ilmu pengetahuan dan ke-Ilahi-an, kitab yang manakah yang paling dihormati dan dipuji di dunia ini?”.

Pada saat itu, Qur’an Suci termasuk nomor enam dari daftar buku besar dunia. Namun, dua tahun kemudian, ketika pertanyaan yang sama diulang sekali lagi, dan tanggapan dari orang-orang yang sangat menonjol, dan berpendidikan itu di-polling, maka Qur’an Suci bergerak ke peringkat kedua, dan Alkitab di kedudukan yang  pertama.

Sekarang, bila orang membaca baik al-Qur’an maupun Alkitab bersama-sama dengan tenang, pasti mereka akan menyadari bahwa mendahulukan Alkitab dari Qur’an Suci hanyalah akibat kekolotan yang kaku dan prasangka buruk yang membabi-buta, karena sesungguhnya, Alkitab itu tidak dapat dibandingkan dengan Qur’an Suci.

Adalah suatu doa yang sungguh-sungguh, bahwa bila Qur’an Suci itu diterjemahkan ke pelbagai bahasa yang sekarang dilakukan oleh Gerakan Ahmadiyah Lahore dan juga oleh para ulama terkemuka, dan jika kepustakaan Islam itu diterbitkan ke segala pelosok dunia, maka inshaa Allah, saatnya tak akan lama lagi ketika kaum non-muslim akan menempatkan Qur’an Suci pada daftar pertama, dan akan mengakui serta menerbitkan perasaan yang sama seperti secara terbuka telah diungkapkan oleh cendekiawan Eropa terkemuka, Goethe, beberapa waktu yang lalu:

“Saya duduk membaca Qur’an Suci dengan perasaan benci dan marah. Tetapi setelah saya mulai membacanya, saya mulai merasakan kekuatan dari rasa kemuliannya yang merasuk ke dada, sehingga pada saat saya menyelesaikan pembacaannya, hatiku melimpah dengan kecintaan kepadanya”.

Jadi, kaum kafir yang berdiri di tepi penolakan pada masa Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan bahkan mereka di masa kini dituju dan diberi peringatan bahwa apapun segala usaha yang mau dipilihnya  untuk dibelanjakan supaya pengaruh Qur’an Suci itu tak ada lagi, mereka akan mengalami kegagalan, karena kitab ini akan selalu mendapatkan tempat mulia dan menjadi kebanggaan kaum muslimin di dunia.

Frasa, Dalam Loh yang dijaga (fi lauhim mahfuz), membentuk suatu ramalan yang berarti bahwa betapapun kerasnya kaum kafir berusaha untuk menghancurkan Qur’an Suci, mereka pasti akan gagal karena kitab ini dijaga dalam lauh mahfuz. Dengan perkataan lain, tak seorangpun bisa menghapus baik kata maupun makna dari Qur’an Suci. Menyangkut kata-katanya, begitu fenomenal penjagaan Allah terhadap Kitab Suci ini dengan sarana ingatan, tulisan dan penerbitan sehingga tak ada kitab lain di dunia ini yang dapat mengklaim penjagaan yang telah dibuat dengan begitu meyakinkan seperti Qur’an Suci.

Mengenai maknanya, penjagaan atasnya merujuk kepada fakta bahwa prinsip-prinsip dalam Qur’an Suci ini membangun kebenaran abadi, kejujuran dan keluhuran darinya tak terbantahkan oleh falsafah duniawi suatupun. Ini adalah hukum Ilahi, konsekwensinya takkan dapat dirubah. Ini berisi amanah sedemikian rupa hingga bila manusia menolaknya, maka tak ada jalan baginya untuk menjadi penerima kebahagiaan dan ketenteraman sejati. Selanjutnya, karena penjelasan dari perkara yang ghaib serta nubuat yang terdapat dalam Qur’an Suci itu datang dari ilmu Yang Maha-kuasa, karenanya, perkara itu selalu digenapi dan akan berlangsung terus pula melintasi masa depan. Sesungguhnya, sejarah dunia menyajikan kesaksian yang tak tertandingi atas kenyataan ini dimana pengalaman serta peristiwa kehidupan telah memberikan segel atas kebenaran perkara ini dan berlanjut demikian seterusnya setiap waktu.

Bangsa-bangsa di dunia tidak akan pernah diberkahi dengan kebahagiaan dan perdamaian sejati dalam kehidupan di alam fana ini dan di Akhirat dan tak akan bisa lolos dari kesakitan serta kesengsaraan hingga mereka mengikuti ajaran sejati dari Qur’an Suci. Jadi, Qur’an Suci diamankan dalam suatu Loh yang terjaga  dan tak seorangpun dapat menghapusnya. Apapun yang ditulis dalam loh di dunia ini dapat terhapus secara alami atau akibat tangan manusia. Namun, tak seorangpun bisa menghapus apa yang ditulis pada Loh Ilahi karena tulisan semacam itu berisi ketulusan abadi yang mustahil diingkari. Ini adalah hukum Allah yang konsekwensinya tak terelakkan. Jadi, apapun yang dikatakan oleh Qur’an Suci adalah kebenaran dan akan selalu terjaga karena dia adalah firman Allah dan tak mungkin bisa dihapus atau dihilangkan oleh manusia.

 

Kita hendaknya ingat di sini bahwa kata loh (lauh) bukanlah merujuk pada sesuatu yang dibuat dari kayu. Sebaliknya, ini digunakan dalam arti ilmu Allah yang sempurna dan loh dari hukum-Nya serta jalan-Nya. Tak seorangpun yang bisa menghapus atau memalsukan firman-Nya karena mereka adalah kebenaran dan kejujuran dimana kepalsuan tak bisa mendekat. Mereka memiliki keagungan dan kekuatan yang unggul dimana tak ada jejak kelemahan maupun kekurangan. Maka, sungguh beruntung manusia yang mau mengambil Qur’an Suci sebagai pedoman harian bagi perilaku dan cara hidupnya.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: