Tafsir SURAT (84) AL-INSYIQAQ (PECAH BELAH)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini adalah salah satu dari wahyu Mekkah permulaan. Dalam dua surat terdahulu (Al Infithar dan Al Tathfif) , mengenai amal saleh, kebaikan dan kejahatan itu diperiksa terpisah dan konsekwensinya dengan jelas digelar. Dalam surat ini, pentingnya mengusahakan diri dengan sepenuh tenaga dalam berbuat kebaikan itu ditekankan, karena kemalasan dan kelalaian tidak pernah membawa keberhasilan.

al-InsyiqaqSelengkapnya terjemah dan tafsirnya sebagai berikut:

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih

  1. Tatkala langit terbelah,

Inshiqaq (terbelah) tidak mesti berarti terpisahnya atau terbelahnya benda yang padat. Sebaliknya, ini mempunyai konotasi yang lebih luas dan dapat digunakan baik untuk benda material maupun non-material. Di sini, hal ini merujuk kepada jungkir-baliknya tatanan langit dan musnahnya benda-benda langit serta menggambarkan suatu adegan dari hari Kebangkitan yang Agung.

  1. Dan patuh kepada Tuhannya, dan dibuatnya pantas,

Ini memberitahu kita bahwa runtuhnya langit itu akan tiba dengan perintah Allah di mana segera setelah perintah diberikan, prosesnya segera menyusul tanpa sedikitpun penundaan. Dengan perkataan lain, perintah Allah itu wajib ditaati.

  1. Dan tatkala bumi dibentangkan,
  2. Dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, dan menjadi kosong.

Ini adalah adegan lain dari hari Kebangkitan. Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa bumi akan dibentangkan  melebihi batas normal dan apapun hiasan diatasnya akan dilempar keluar hingga menjadi kosong.

  1. Dan (bumi) patuh kepada Tuhannya, dan dibuatnya pantas.

Segala sesuatu yang akan terjadi menimpa bumi ini sebagaimana diwahyukan dalam ayat di atas akan terjadi sesuai dengan dekrit Allah dan bumi tak ada pilihan lain kecuali menurut.

  1. Wahai manusia, engkau harus berjuang dengan perjuangan yang keras untuk bertemu dengan Tuhan dikau, sampai engkau bertemu dengan Dia.

Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa manusia itu diciptakan untuk mencapai semacam kemajuan dan kesempurnaan  yang memungkinkan dia bertemu dengan Tuhannya, tetapi agar hal ini bisa terjadi, maka dia harus bekerja dengan usaha yang keras. Ini, sesungguhnya, sama nilainya dengan kebangkitan dimana manusia membawa dirinya melalui ketaatan kepada hukum-hukum Tuhan. Kemudian, setelah matinya, dia akan menerima suatu kehidupan baru dan bertemu dengan Tuhannya. Kebangkitan yang diminta untuk diusung oleh manusia dalam kehidupannya di bumi ini digambarkan dalam adegan yang diambil dari perisiwa yang terjadi pada hari Kebangkitan. Disamping itu, kita disajikan dengan gambaran terbelahnya langit di bawah perintah Allah, dan selain itu, dikatakan bahwa bumi akan mentaati dekrit dari Tuhannya dan akan membentang selebar-lebarnya dan akan mengeluarkan seluruh kekayaan yang ada di dalamnya hingga menjadi kosong.

Artinya adalah bahwa manusia itu dalam dirinya sendiri adalah seluruh dunia dan mikrokosmos yang sempurna dari seluruh alam semesta dan selanjutnya berisi dalam dirinya, dalam ukuran kecil, segala elemen dari alam semesta ini, kemudian ketika dia harus bekerja demi kebangkitan dirinya, ini harus tepat sepanjang jalur kebangkitan yang akan dialami oleh alam semesta yang lebih besar.

Past tense digunakan untuk menggambarkan suatu lukisan dari peristiwa mendatang dari alam semesta yang besar sedemikian sehingga manusia bisa dengan lebih baik membentuk suatu konsep mental dari gambaran ini dan karenanya bisa menggunakannya sebagai sumber petunjuk bagi dirinya. Dalam fikirannya, dia akan bisa menangkap bayangan yang disajikan kepadanya – bahwa alam semesta ini akan terbelah dalam kepatuhannya kepada kehendak Penciptanya, dan begitu pula, bumi akan dibentangkan ke batas terpanjangnya dan akan memuntahkan segala isinya dan akibatnya menjadi kosong.

Manusia kemudian dihimbau dan diberi-tahu bahwa adalah ikatan kewajiban dari langit dan bumi untuk berbuat demikian karena dengan cara ini, mereka berbuat sesuai dengan kehendak Tuhannya. Manusia, yang berusaha dengan berbagai cara, kemudian akan ditanya mengapa dia tidak mendengarkan perintah Tuhannya dan menaatinya dengan sikap yang sama seperti langit dan bumi, karena kepatuhan kepada kehendak Allah itu adalah kewajiban di atas segalanya yang lain di alam semesta ini. Selanjutnya, terhadap penyesuaian  dengan kehendak-Nya inilah tergantung segenap faset dari kemajuannya.

Jadi, bila manusia dalam peringkat dan kejayaannya itu seperti langit baik dalam tinggi maupun keluhurannya, maka dia hendaknya menundukkan diri kepada kehendak Ilahi, dan sedemikian rendah hatinya dia sehingga dia bersedia kehilangan identitasnya sendiri demi Tuhannya. Sesungguhnya, dalam ketaatan kepada perintah Penciptanya, dia harus menerima semacam kematian (terhadap hawa-nafsunya) karena adalah kewajibannya untuk menunjukkan penghormatan terus-menerus kepada Tuhannya.

Di samping itu, jika, dalam tenaga maupun sumber dayanya, dia itu seperti bumi, yakni, dia dermawan dan lapang seperti bumi, maka ketaatannya kepada dekrit Tuhannya bahkan harus lebih luas dan dermawan, dan melalui kesederhanaan dan kerendah-hatiannya, manfaat dan pemberiannya, dia harus bermanfaat terhadap ciptaan Tuannya, karena kasih-sayang kepada sesama adalah kewajiban besar yang lain untuk apa dia diciptakan. Karenanya, sebagai tanggapan terhadap perintah Penciptanya, dia harus mengusir dari hatinya kecintaan terhadap apapun dari hatinya di dunia yang sementara ini, atau apapun juga di samping Allah tidak boleh mengakar di hatinya. Sesungguhnya, hatinya harus dikosongkan dari setiap hal yang main-main dan sia-sia supaya membuat hati itu siap menerima kecintaan Allah dan kilauan cahaya spiritual-Nya karena mengabdi tiada yang lain kecuali Allah adalah kewajibannya yang terutama.

Jadi, ketika manusia menyusuri setiap tahap dari perjalanannya, yakni, kecintaan kepada Allah dan kebajikan terhadap sesama makhluk-Nya, seperti juga tidak mengabdi tuhan lain di samping Allah, dan dalam ketaatan kepada hukum-hukum Allah dia menciptakan kebangkitan dalam dirinya sendiri, kemudian dia akan menerima suatu hidup baru dan berjumpa dengan Tuhannya serta melalui kerja kerasnya dia akan mencapai tujuan kesempurnaan dan puncak keberhasilan.

  1. Adapun orang yang kitabnya diberikan kepadanya di tangan kanannya,
  2. Maka ia akan diperhitungkan dengan perhitungan yang mudah.
  3. Dan ia akan kembali kepada keluarganya dengan bersuka-ria.

Mereka yang memegang kitabnya di tangan kanannya pada hari itu adalah mereka yang memegang Kitabullah (Qur’an Suci) di tangan kanannya di alam fana ini, yakni, mereka yang menegakkan itu dengan teguh dalam kehidupannya sehari-hari dan berperilaku sesuai dengan ajarannya dengan kuat dan mantap. Bicara secara umum, cengkeraman tangan kanan itu kuat sedangkan tangan kiri, lemah. Jadi, ungkapan “memegang dengan tangan kanannya” digunakan secara kiasan, berarti bahwa dalam perkara ini orang itu bertindak dengan sekuat tenaganya.

Maka, mereka yang memegang Hukum Kitabullah di tangan kanannya dalam kehidupan ini akan menerima buku amalnya di tangan kanannya pada hari Kebangkitan. Dengan perkataan lain, ini akan menjadi pertanda bahwa mereka mengikuti Kitabullah sampai batas kemampuannya. Karena itu, mereka akan diberi perhitungan yang mudah, karena, ketika pertanggung-jawabannya dipertimbangkan, bila kesalahan seseorang itu sedikit, bencana yang harus dihadapinya juga sedikit.

Adalah suatu pengetahuan umum, bahwa bila keadaan seseorang itu bersih, atau hanya sedkit kesalahan saja di dalamnya, atau bila seseorang itu lulus ujian, maka dia akan  kembali penuh dengan sukacita dan bahagia kepada keluarganya. Misalnya, bila hasil ujian universitas diterbitkan, mereka yang sukses akan menemukan namanya ditulis dalam daftar mahasiswa yang lulus ujian dan seseorang bisa membayangkan kegairahan dengan mana mereka akan kembali kepada keluarganya masing-masing. Dari sini, kita bisa menyusun perkiraan tentang akibat keberhasilan di akhirat – sukses yang permanen dan nyata.

  1. Adapun orang yang kitabnya diberikan kepadanya di belakang punggungnya,
  2. Maka ia akan menyeru untuk dibinasakan.
  3. Dan ia masuk ke Neraka yang menghanguskan.

Mereka yang di alam fana ini melemparkan Kitabullah di belakang punggungnya, yakni, mereka yang tidak berperilaku sesuai dengannya, akan menerima kitab amalnya di belakang punggungnya di Akhirat. Dengan perkataan lain, ini akan memberikan suatu tanda yang pasti bahwa mereka tidak mengikuti petunjuknya ketika mereka hidup. Orang-orang semacam itu sungguh ingin agar kematian mendatangi mereka untuk meringankan penderitaan mereka, tetapi Allah berfirman bahwa mereka tak akan memperoleh apa yang mereka inginkan. Sebaliknya, mereka akan masuk ke api sebagai balasan atas perbuatan mereka. Api nafsu dan keinginannya sendirilah yang mereka nyalakan di alam fana ini yang akan dimasukinya di akhirat.

  1. Sesungguhnya ia dahulu bersuka-ria di antara keluarganya.
  2. Sungguh ia mengira bahwa ia tak akan kembali (kepada Allah).
  3. Ya, sesungguhnya Tuhannya senantiasa Melihat kepadanya.

Artinya ialah, apapun juga kesenangan dalam hidup ini yang dikaruniakan Allah kepada para penentang, mereka menikmatinya beserta keluarganya. Mereka tak pernah berhenti untuk berfikir bahwa keadaan semacam itu tak akan berlangsung selamanya dan bahwa mereka harus menghadapi  nasib balasan yang tak terelakkan dalam kehidupan seperti orang-orang lainnya dan mereka harus merasakan konsekwensi atas amal perbuatan mereka di dunia. Tetapi bahkan biarpun mereka bisa menghindar dari penderitaan akibat perilakunya di dunia, mereka mengabaikan kenyataan bahwa tetaap ada suatu hari dimana mereka harus kembali kepada Tuhannya – hari dimana manusia harus menjawab kelakuannya di bumi. Jadi, sungguh bijak orang yang menganggap waktu itu sebagai hadiah berharga dan menggunakannya sebaik mungkin dengan cermat mengikuti petunjuk yang dicerahkan oleh Kitab Suci Allah. Tetapi bila dengan kelalaian dan hidup bermewah-mewah dia melempar Kitab itu di balik punggungnya, maka keadaan nyaman dan lalai itu tidak akan berlangsung selamanya dan suatu hari akan datang dimana tindak-tanduknya akan menuai pembalasannya sendiri. Allah itu memegang rekaman dari setiap perbuatannya dan tiada amal yang tersembunyi dari-Nya, maka, pada hari itu apa yang diterima sebagai nasib para pembuat kejahatan kecuali azab yang berat? Perubahan tak terelakkan. Betapapun, karena seorang mukmin itu tidak menjalani cara hidup yang lalai dan tanpa disiplin, maka dia dalam kedudukan yang mulia dalam memanfaatkan perubahan itu sedangkan orang yang lalai akan menderita kerugian dalam menghadapi perubahan suasana itu.

  1. Tetapi tidak, Aku bersumpah demi merahnya senja-kala.
  2. Dan demi malam dan apa yang diburunya,
  3. Dan demi bulan tatkala purnama,
  4. Engkau pasti akan naik ke suatu keadaan, lepas keadaan yang lain.

Penggunaan sumpah dalam Qur’an Suci telah sepenuhnya diterangkan dalam surat 79 (An-Nazi’at), tetapi cukuplah untuk dikatakan bahwa suatu sumpah itu diambil untuk menekankan dengan kuat suatu peristiwa atau kesaksian. Di sini, tiga perkara telah dihadirkan sebagai peristiwa: merahnya senja-kala, malam dan apa yang diburunya, yakni, kegelapan, dan matahari ketika pelan-pelan menjadi purnama.

Shafaq adalah kemerahan yang terlihat pada waktu senja di ufuk barat.

Ilmuwan dan peneliti telah menerangkan sifat dari fenomena alam ini sebagai berikut: mereka berkata bahwa atom dan uap air naik dari bumi dan pada senja-kala ketika bumi kehilangan cahaya matahari dan kegelapan menyelimuti daratan, maka kemudian, karena naiknya mereka itu, atom dan uap air ini mulai bercahaya sebagai akibat dari sinar yang jatuh kepada mereka oleh matahari yang mulai tenggelam dan refleksi dari cahaya matahari yang menimpanya itu ditandai oleh gelapnya daratan.

Kini, bila kita periksa ayat-ayat ini dengan cermat, kita akan melihat bahwa mereka sesungguhnya mengungkapkan kepada kita penyebab dari akhir pahit yang menimpa manusia akibat dia bertahan dalam kelalaian dan perubahan serta pancaroba kehidupan tidak ada pengaruhnya baginya.

Sebaliknya, karya seorang mukmin itu menghargai hadiah ajaib berupa waktu dan sebelum setiap balasan atas kesenangan itu menyerangnya, dia harus merubah keadaan hidupnya melalui kerja keras dan usaha yang gigih sedemikian rupa sehingga ketika cobaan dan musibah datang maka dia akan tetap berhasil mengatasinya. Dia juga harus menjaga dirinya dari mengejar sesuatu yang tak berguna dan  sia-sia karena sesungguhnya perubahan nasib itu adalah memang manifestasi lain dari konsekwensi atas perbuatan seseorang.

Setelah mengikrarkan sumpah (la uqsimu), ayat-ayat ini melanjutkan dengan berkata bahwa seseorang yang duduk dengan riang-gembira di rumahnya dan mengira bahwa dia terisolir dari perubahan dan keguncangan adalah dalam kesalahan serius. Dia diberitahu untuk bercermin kepada peristiwa yang dihadirkan kepada kita oleh fenomena alam. Waktu senja menyajikan suatu contoh dari perubahan nasib yang menghentak:

Sama seperti bumi yang pelan-pelan membalikkan wajahnya dari matahari yang merupakan sumber cahaya langit yang berakibat kegelapan dan kesusahan pelan-pelan meningkat karenanya, maka, demikian pula, orang yang  membalikkan diri dari para nabi serta petunjuk Ilahi yang dibawakannya, yakni, matahari petunjuk, dan yang melemper Kitabullah di balik punggungnya, berarti membawa dirinya ke dalam kegelapan dan kesesatan secara pelan tetapi pasti serta terlibat dalam pekerjaan yang tak ada hasilnya dan tak berharga.

Berbeda sepenuhnya adalah mereka yang meningkat dirinya di atas makhluk bumi dan secara ajek maju dalam kedekatannya kepada Allah Ta’ala. Sungguh, ketika mereka meningkatkan diri di atas nafsu rendahnya dan menyelimuti dirinya dengan pakaian surgawi, mereka memetik cahaya langit sebagai hasil peringkatnya yang luhur dan kemilaunya cahaya langit. Dan ketika cobaan serta terbaliknya keadaan hidup itu mencapai puncaknya, cahaya langit dari orang tulus itu pada saat bersamaan akan meningkat dalam kilauannya dan akhlak mulia mereka akan menjadi lebih benderang. Sebagai fakta nyata, sifat anggun dari keindahan mereka, cahaya ruhani  Sebagai fakta nyata, sifat anggun dari keindahan mereka, cahaya ruhani mereka dan manifestasi keindahan ‘dalam’ mereka bahkan tampak lebih mengkilatkan warna yang lebih sempurna di waktu bencana, dan pada saat seperti itu kegelapan tidak menyelimuti mereka. Sebaliknya, karena mereka dipenuhi dengan cahaya langit, kalbu spiritual mereka bahkan menjadi lebih cemerlang.

Di samping itu, orang-orang duniawi membalikkan wajahnya dari matahari petunjuk dan karenanya secara pelan mereka mendapati dirinya dicekam oleh berbagai macam kesulitan dan penderitaan. Namun, yang langsung bertolak-belakang dengan ini adalah orang yang saleh, yang seperti bulan, menghadapkan mukanya tetap ke matahari petunjuk dan karena menerima rahmat Ilahi, mereka makin bersinar dan bersinar sehingga  sepenuhnya berkilauan.

Orang-orang kafir atau penyeleweng bersikap seperti bumi dan membalikkan wajahnya dari cahaya langit yang berakibat bahwa mereka melangkah lebih dan lebih dalam lagi ke kegelapan. Namun, orang mukmin itu seperti bulan. Mereka menghadapkan wajahnya lebih dan lebih lagi kepada Allah serta cahaya Ilahi-Nya sehingga dari hari kehari mereka meningkat dalam kesempurnaan. Ini semua terjadi dengan pelan-pelan seperti akhir setiap hari ketika malam datang dan rembulan menghadap matahari serta menjadi semakin bersinar dan semakin penuh daripada malam sebelumnya.  Begitu pula, orang mukmin maju dengan teguh menghadapi setiap cobaan dan bencana serta terus maju kepada kesempurnaan, dan mengalami setiap kekurang-beruntungan maupun perubahan situasi dia menjadi semakin dan semakin sempurna.

Jadi, setelah menarik perhatian akan perubahan dan revolusi serta akibatnya dan naik atau turunnya manusia sesuai dengan amal perbuatannya, maka ayat berikutnya bertanya:

  1. Tetapi ada apakah dengan mereka hingga mereka tak beriman?
  2. Dan apabila Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tak bersujud (kepada-Nya)?

Artinya ialah bahwa Qur’an Suci adalah sumber cahaya langit, maka mereka yang kafir terhadapnya dan menaruh di belakang punggungnya mendorong kepada bertambahnya kegelapan sedangkan menaati ajarannya meningkatkan seseorang kepada kesempurnaan. Maka, menolak ajaran yang indah semacam itu yang begitu penuh dengan cahaya serta tuntunan sempurna adalah penyebab kekacauan. Sesungguhnya, adalah suatu fakta bahwa bila manusia di dunia ini membaca Qur’an Suci dengan pemikiran mendalam dan pemahaman, mereka akan dipaksa untuk menerima kebenarannya seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf terkemuka dari Eropa yang mengakui: “Saya duduk membaca Qur’an Suci dengan perasaan benci dan marah. Tetapi ketika saya mulai membacanya, saya mulai merasakan kekuatan dari perasaannya yang luhur yang merasuk dalam dada saya, sehingga ketika saya menamatkannya, hatiku meluap dengan kecintaan padanya”.

Karena Qur’an Suci itu adalah cahaya sejati dan memiliki kebenaran dan tuntunan semacam itu, maka dia mengisi hati setiap insan yang cerdas. Jadi, ini adalah semacam kitab yang agung dimana manusia harus menundukkan diri dengan penyerahan kepada kebenarannya dan jangan pernah menunda atau ragu-ragu untuk mematuhi perintahnya. Betapa pun, inilah apa yang terjadi:

  1. Tidak, malahan orang-orang kafir itu mendustakan.

Tetapi bukannya menaati, orang-orang yang kufur tidak puas dengan sekedar menolak kebenaran dari Kitab Suci, tetapi mereka melangkah lebih lanjut dan menggunakan segala daya fikirnya dalam berusaha  menemukan sarana untuk menghapus dan menghancurkannya sepenuhnya seperti ayat berikut mengumumkan:

  1. Dan Allah tahu benar apa yang mereka sembunyikan.

Tetapi Allah sepenuhnya sadar akan rencana rahasia mereka untuk menghapus Qur’an Suci bahkan meskipun mereka menyembunyikan rencana jahat ini dalam hatinya.

  1. Maka beritahukanlah kepada mereka tentang siksaan yang pedih.

Dengan perkataan lain, katakanlah kepada mereka bahwa mesin rahasia mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, mereka akan menderita konsekwensi buruk karena usahanya itu. Dan demikianlah sesungguhnya kasusnya, karena bagi mereka yang mencoba menghancurkan Qur’an Suci akan mengalami pembalasan yang paling menyakitkan dan akhirnya tiada suatupun kecuali suatu kegagalan, kerugian dan kehinaan. Maka, begitu pula, hari ini, mereka yang mencoba menghilangkan dan mendiskreditkan ajaran Qur’an Suci dapat memastikan nasib yang sama di masa depan, insya Allah.

  1. Terkecuali orang-orang yang beriman dan berbuat baik; mereka akan mendapat ganjaran yang tak ada putus-putusnya.

Illa (‘kecuali’ atau ‘tetapi’) digunakan di sini sebagai bagian pengecualian. Yakni, ini digunakan untuk menunjukkan bahwa tak ada hubungan di sini dengan apa yang mendahuluinya. Sebaliknya, ini adalah perkara yang terpisah.

Kita diberi-tahu bahwa mereka yang beriman kepada Kitab Suci dan berperilaku menurutnya dengan mengikuti jalan petunjuk yang diletakkan di dalamnya pasti akan membuat kemajuan dan mencapai kesempurnaan serta pahala, perkembangan dan penyempurnaan yang akan, melalui rahmat Allah, tak akan pernah terputuskan. Suatu contoh yang nampak di dunia adalah keadaan dimana rembulan pelan-pelan menjadi penuh, dan ini dicerminkan oleh pencapaian dan penyempurnaan manusia dengan pelan tetapi ajek melalui rahmat Allah yang Pemurah. Namun, yang lebih utama dari segalanya adalah kemajuan dan penyempurnaan tanpa akhir yang ditakdirkan bagi kaum mukmin dalam kehidupan mendatang.

 

Penerjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: