Serial Islamologi – Bab I, Qur’an Suci (2)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Buku manakah yang bukan saja selama tigabelas abad dalam sejarah manusia, tetap diakui menjadi standard bahasa yang ditulis dalam buku itu, bahkan menjadi sumbernya perpustakaan yang luas di dunia? Buku-buku yang baik yang usianya hanya separoh usia Qur’an Suci, kini tak lagi menjadi standard bahasa dari bahasa yang ditulis di dalam buku itu. Prestasi yang dicapai oleh Qur’an Suci benar-benar tak ada taranya dalam seluruh sejarah bahasa yang ditulis.

Hadits tentang nasikh-mansukh

Imam Tabrasi berkata: “Semua Hadits yang menerangkan nasikh-mansukh itu lemah sekali (dla’if)“. Tetapi aneh sekali bahwa teori nasikh-mansukh itu masih tetap dipakai oleh para pengarang yang satu lepas pengarang yang lain tanpa pernah dipikir bahwa tak satu Hadits pun, betapa pun lemahnya Hadits yang menyentuh persoalan nasikh-mansukh ini, dapat ditelusuri sampai kepada Nabi. Tak pernah terpikir oleh para ulama yang mengangkat teori nasikh-mansukh ini, bahwa ayat-ayat Qur’an diundangkan oleh Nabi, dan beliaulah yang memiliki wewenang untuk memansukh ayat-ayat tertentu, bukan sahabat dan bukan pula Abu Bakar ataupun ‘Ali yang boleh mengatakan bahwa suatu ayat dimansukh. Nabi Suci sendirilah yang berhak mengatakan itu, namun tak ada satu Hadits pun yang menyatakan bahwa Nabi Suci pernah berkata demikian. Hanya beberapa sahabat saja atau para ulama akhir-akhir ini sajalah yang selalu dijadikan patokan tentang nasikh-mansukh tersebut. Dalam banyak hal, ada Hadits yang sanadnya bisa ditelusuri sampai kepada salah seorang sahabat yang mengatakan bahwa suatu ayat dimansukh, namun ada lagi Hadits lain yang sanadnya pun bisa ditelusur sampai kepada seorang sahabat bahwa ayat yang dimaksud, itu tidak dimansukh (14) Ini menunjukan seterang-terangnya bahwa pendapat dari seseorang sahabat tentang dihapusnya suatu ayat, pasti disanggah oleh sahabat yang lain. Bahkan di kalangan para pengarang akhir-akhir ini pun, tak satu ayat pun yang dijatuhi keputusan mansukh oleh pengarang yang satu, lalu tak disanggah oleh pengarang yang lain. Sementara pengarang ada yang dengan mudah menjatuhkan keputusan mansukh kepada ratusan ayat, sedang pengarang yang lain berpendapat bahwa yang dihapus itu tak lebih dari lima ayat saja, namun demikian, dalam lima ayat yang diputuskan sebagai dimansukh tersebut, ditentang sungguh-sungguh oleh pengarang sebelumnya.

Penggunaan kata naskh

Sebenarnya, teori nasikh-mansukh itu timbul karena kesalah-pahaman dalam menggunakan kata naskh oleh sebagian sahabat. Apabila makna suatu ayat dibatasi oleh ayat yang lain, tempo-tempo lalu dikatakan bahwa ayat itu dihapus (nusikhat) oleh ayat yang lain. Demikian pula apabila kata-kata dalam suatu ayat menimbulkan salah-paham, dan ayat yang diturunkan belakangan, menghilangkan kesalahpahaman itu, maka sehubungan dengan itu, digunakanlah kata naskh secara kiasan. Pangkal pikiran digunakannya kata naskh bukanlah karena ayat yang pertama dihapus, melainkan pengertian yang menimbulkan kesalahpahaman itulah yang dihapus (15). Para ulama terdahulu mengakui penggunaan kata-kata: “Mereka yang menerima naskh ayat 2:109, mengartikan itu sebagai penjelasan secara kiasan”(RM. I, hal. 292); selanjutnya: “Kata naskh harus diartikan secara kiasan, yaitu menjelaskan dan membuat terang artinya” (ibid, hal. 508). Memang benar bahwa kata naskh berarti pula penghapusan, tetapi bukan penghapusan ayat Qur’an. Sebenarnya, ini hanya penghapusan tentang kesalahpahaman mengenai arti ayat-ayat itu. Ini dijelaskan oleh penerapan kata naskh bagi ayat-ayat yang mengandung arti pekabaran (akhbar); padahal kata naskh yang berarti penghapusan, itu dikenakan terhadap ayat yang mengandung perintah atau larangan (amar atau nahi). Dalam arti kata biasa, tak mungkin ada penghapusan (naskh) terhadap pernyataan yang diberikan dalam bentuk firman Allah, karena jika demikian, ini berarti Allah mula-mula membuat pernyataan yang salah, lalu Allah menariknya kembali. Penggunaan kata naskh oleh para pengarang kuno mengenai berbagai pernyataan (16) menunjukkan bahwa mereka menggunakan kata itu dalam arti menghilangkan pengertian yang salah, atau menempatkan pembatasan tentang arti suatu ayat. Di samping itu, benar pula bahwa penggunaan kata naskh segera menjadi kacau, dan apabila orang tak mampu menghubungkan dua ayat, ia segera menyatakan bahwa ayat yang satu dihapus oleh ayat yang lain.

Sendi teori nasikh-mansukh

Sendi yang menjadi dasar teori nasikh-mansukh tak dapat diterima, karena ini bertentangan dengan ajaran Qur’an yang terang benderang. Suatu ayat dianggap dimansukh oleh ayat yang lain apabila dua ayat itu tak dapat dihubungkan satu sama lain, atau dengan kata lain, apabila dua ayat nampak bertentangan satu sama lain, maka ayat yang satu dianggap dihapus oleh ayat lain. Tetapi sendi dasar itu dihancurkan oleh Qur’an sendiri tatkala Qur’an menyatakan dengan kata-kata yang terang, yakni tak ada ayat Qur’an yang bertentangan dengan ayat Qur’an yang lainnya. Qur’an berfirman: “Apakah mereka tak merenungkan Qur’an? Dan sekiranya itu bukan dari Allah, niscaya mereka dapati di dalamnya pertentangan yang banyak” (4:82). Karena kurang merenungkan Qur’anlah orang menganggap suatu ayat bertentangan dengan ayat lainnya. Itulah sebabnya mengapa dalam banyak hal, apabila suatu ayat menurut ulama yang satu dianggap dihapus, ulama yang lain dapat menghubungkan dua ayat itu dan menyangkal penghapusan itu.

Imam Sayuthi tentang nasikh-mansukh

Hanya di kalangan mufassir akhir-akhir ini sajalah kami melihat kecenderungan untuk menambah besarnya jumlah ayat yang mereka anggap dimansukh, bahkan menurut sebagian mufassir, jumlah ayat yang dimansukh mencapai limaratus. Menanggapi masalah ini, Imam Sayuthi dalam kitab Itqan menulis sebagai berikut: “Orang-orang yang memperlipat-gandakan jumlah ayat yang dihapus, mereka telah memasukkan di dalamnya banyak jenis – satu di antaranya ialah apa yang termasuk jenis penghapusan, dan tak pula satu pengkhususan (dari pernyataan Qur’an yang bersifat umum), dan tak pula mempunyai hubungan dengan salah satu jenis tersebut, karena berbagai sebab. Misalnya, firman Allah berikut ini: “Dan orang yang membelanjakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka” (2:3). “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang Kami berikan kepada kamu” (63:10), dan sebagainya. Sebagian mufassir berpendapat bahwa ayat itu dihapus oleh ayat yang menerangkan zakat. Padahal tidak demikian. Ayat itu semuanya tetap berlaku” (It. II, hal. 22). Imam Sayuthi sendiri menurunkan jumlah ayat yang beliau anggap dimansukh menjadi duapuluh satu (ibid, hal. 23), yang sebagiannya beliau anggap benar-benar dimansukh, sedang yang sebagian lagi, beliau berpendapat bahwa itu hanyalah pengkhususan dari perintah umum yang diberikan oleh ayat yang diturunkan belakangan. Tetapi beliau mengakui bahwa tentang ini pun masih ada perbedaan pendapat.

Syah Waliyullah menetapkan lima ayat yang dimansukh

Seorang penulis kenamaan baru-baru ini, Syah Waliyullah dari India, menerangkan dalam kitab Fauzul Kabir, bahwa dari dua puluh satu ayat yang oleh Imam Sayuthi dianggap telah dimansukh, yang enambelas ayat tak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi mengenai sisanya, yaitu lima ayat, Syah Waliyullah berpendapat bahwa ayat itu benar-benar dimansukh. Adapun lima ayat itu kami bahas di bawah ini.

(1) Ayat 2:180: “Ditetapkan kepada kamu, apabila kematian mendekati salah seorang di antara kamu, jika ia meninggalkan kekayaan untuk ayah-ibu dan kaum kerabat, agar ia membuat wasiyat dengan cara yang baik”. Sebenarnya Imam Baidhawi dan Imam Ibnu Jarir, dua-duanya mengutip beberapa dalil yang menerangkan ayat itu tak dimansukh. Sungguh mengherankan sekali, mengapa ayat itu dianggap dihapus oleh ayat 4:11-12 yang menerangkan bahwa barang warisan harus dibagi “setelah dibayar lunas wasiyat yang diwasiyatkan dan pinjaman”. Ini menunjukkan bahwa wasiyat yang diterangkan dalam ayat 2:180 masih tetap berlaku. Sebenarnya ayat 2:180 hanya menerangkan wasiyat untuk tujuan amal, yang hingga sekarang dibenarkan oleh kaum Muslimin, yang jumlahnya meliputi sepertiga dari seluruh kekayaan yang ditinggalkan.

(2) Ayat 2:240: “Dan orang-orang di antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri, hendaklah membuat wasiyat untuk isteri mereka berupa perawatan satu tahun tanpa menyuruh mereka pergi”. Tetapi kami mempunyai dalil yang tak kalah kuatnya daripada Imam Mujahid bahwa ayat ini tidak dimansukh yang berbunyi sebagai berikut: “Allah memberikan kepadanya (yaitu janda yang ditinggal mati) perawatan satu tahun; yang tujuh bulan duapuluh hari bersifat manasuka berdasarkan wasiyat; jika ia suka, ia boleh tinggal sesuai dengan wasiyat (yaitu, perawatan dan perumahan untuk satu tahun), dan jika ia tak suka, ia boleh pergi (kawin lagi) sebagaimana Qur’an berfirman: “Lalu jika mereka pergi, maka tak ada cacat bagi kamu” (Bu. 65:39). Oleh sebab itu, ayat 2:240 tak bertentangan dengan ayat 2:234. Selain itu, ada bukti yang menunjukkan bahwa ayat 2:240 diturunkan sesudah ayat 2:234, dengan demikian tak dapat dikatakan bahwa ayat 2:240 dihapus oleh ayat 2:234.

(3) Ayat 8:65: “Jika di antara kamu terdapat duapuluh orang tabah, mereka akan mengalahkan duaratus, dan seterusnya”. Ayat ini dikatakan dimansukh oleh ayat berikutnya yang berbunyi: “Kini Allah meringankan beban kamu, dan Dia tahu bahwa di dalam kamu terdapat kelemahan. Maka dari itu jika di antara kamu terdapat seratus orang tabah, mereka akan mengalahkan duaratus” (8:66). Di sini tak perlu terjadi nasikh-mansukh, ini nampak jelas dari kata-kata yang diuraikan dalam ayat 8:66 yang menerangkan seterang-terangnya tentang zaman permulaan pada waktu kaum Muslimin masih lemah; mereka tak memiliki persenjataan yang cukup dan tak mempunyai pengalaman bertempur; selain itu di antara orang yang berangkat bertempur, terdapat pula yang sudah lanjut usia dan anak-anak yang belum dewasa. Sedangkan ayat 8:65 berhubungan dengan zaman kemudian tatkala pasukan Islam telah diorganisir dan dipersenjatai secukupnya.

(4) Ayat 33:52: “Tak diperkenankan bagi engkau untuk mengambil isteri sesudah ini”. Ini dikatakan dimansukh oleh ayat yang jelas diturunkan sebelumnya yang berbunyi: “Wahai Nabi, Kami menghalalkan kepada kamu isteri kamu” (33:50). Seluruh perkara dijungkir balikkan. Sebagaiman kami terangkan di muka, suatu ayat tak dapat dimansukh oleh ayat yang diturunkan sebelumnya. Sebenarnya kejadian itu demikian. Setelah ayat 4:3 diturunkan, yaitu ayat yang membatasi jumlah isteri sampai empat saja, sekiranya keadaan yang luar biasa menghendaki, Nabi Suci diberitahu supaya jangan menceraikan kelebihan isteri beliau, dan hal ini dikemukakan oleh ayat 33:50 tersebut. Tetapi di samping itu, beliau diberitahu agar sesudah itu beliau jangan mengambil isteri lagi, dan ini diterangkan dalam ayat 33:52.

(5) Ayat 58:12: “Wahai orang-orang beriman, jika kamu minta nasehat kepada Rasul, maka berilah sedekah sebelum kamu minta nasehat. Ini baik bagi kamu dan lebih suci. Tetapi jika kamu tak menemukan sesuatu untuk disedekahkan, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.” Ayat ini dikatakan dimansukh oleh ayat berikutnya yang berbunyi: “Apakah kamu takut bahwa kamu tak mampu memberikan sedekah sebelum kamu minta nasehat? Maka apabila kamu tak melakukan itu, dan Allah memberi tobat kepada kamu, maka tegakkanlah shalat dan bayarlah zakat” (58:13). Sukar sekali dipahami mengapa salah satu dari perintah itu dimansukh oleh yang lain, mengingat tak ada perbedaan sedikit pun mengenai perintah-perintah itu. Ayat nomor dua hanyalah menambah penjelasan untuk menunjukkan bahwa perintah itu hanyalah bersifat anjuran, artinya, orang dapat memberikan sedekah apa saja yang dapat ia sisihkan dengan mudah, sedangkan zakat, atau sedekah wajib, adalah sedekah yang wajib dijalankan. Jadi berdasarkan pertimbangan tersebut, teori nasikh-mansukh itu tak benar samasekali.

Aturan tentang penafsiran al-Qur’an

Aturan tentang penafsiran Qur’an diterangkan oleh Qur’an Suci sendiri sebagai berikut: “Dialah Yang menurunkan Kitab kepada engkau, sebagian ayat-ayatnya bersifat menentukan (muhkamat), inilah landasan Kitab, dan yang lain bersifat kalam ibarat (mutasyabihat). Adapun orang-orang yang hatinya busuk, mereka mengikuti bagian yang bersifat ibarat karena ingin menyesatkan dan ingin memberi tafsiran sendiri. Dan tak ada yang tahu tafsirnya selain Allah dan orang-orang yang amat kuat ilmunya.[17] Mereka berkata: Kami beriman kepadanya, semua itu dari Tuhan kami. Dan tak ada yang memperhatikan itu selain orang yang mempunyai akal” (3:6). Pertama, dalam ayat itu diuraikan bahwa dalam Qur’an Suci terdapat dua macam ayat, yaitu yang bersifat menentukan (muhkamat) dan bersifat kalam ibarat (mutasyabihat). Ayat mutasyabihat ialah ayat yang dapat ditafsirkan bermacam-macam. Selanjutnya kita diberitahu bahwa ayat muhkamat ialah landasan Kitab, artinya, ayat itu berisi qaidah-qaidah agama Islam. Oleh sebab itu, perbedaan tafsiran yang bagaimana pun tak akan menggoyahkan qaidah-qaidah itu, karena perbedaan tafsiran hanyalah mengenai hal-hal di luar qaidah. Soal ketiga ialah, sebagian orang ingin memberi tafsiran semaunya sendiri terhadap ayat-ayat mutasyabihat, dengan demikian, tafsiran itu bisa menyesatkan. Dengan kata lain, kesalahan-kesalahan akan timbul apabila orang memberi tafsiran keliru terhadap ayat-ayat yang dapat diartikan dua macam. Akhirnya, pada penutup ayat diberi petunjuk, bagaimana cara penafsiran yang benar terhadap ayat-ayat mutasyabihat, yaitu: “Semua itu adalah dari Tuhan kami”, artinya, tak ada pertentangan sama sekali antara berbagai ayat Qur’an Suci. Sebenarnya, pernyataan itu telah diuraikan di tempat lain dalam Qur’an Suci (lihatlah 4:82) yang telah kami kutip dalam bab nasikh-mansukh. Oleh sebab itu, prinsip penting dalam menafsirkan Qur’an Suci yang harus selalu kita ingat, ialah arti suatu ayat haruslah dicari dalam Qur’an itu sendiri, dan suatu ayat tak boleh sekali-kali ditafsirkan begitu rupa hingga bertentangan dengan ayat lain. Dalam menafsirkan ayat mutasyabihat terutama sekali harus disesuaikan dengan kaidah pokok yang digariskan dalam ayat muhkamat. Prinsip ini diikuti benar-benar oleh mereka yang menurut istilah Qur’an disebut “orang yang amat kuat ilmunya”. Berikut ini adalah aturan yang dapat dijadikan pedoman untuk menafsirkan ayat Qur’an:

1. Kaidah agama Islam itu diundangkan dalam Qur’an Suci dengan kata-kata yang bersifat muhkamat (menentukan). Oleh sebab itu, janganlah orang mencoba menetapkan kaidah berdasarkan ayat mutasyabihat yang dapat diartikan bermacam-macam.

2. Penafsiran ayat Qur’an harus dicari lebih dulu dalam Qur’an itu sendiri, karena yang diterangkan di satu tempat hanya singkat, atau hanya disinggung saja, sedangkan di tempat lain diterangkan dengan panjang lebar dan luas.

3. Hendaklah diingat bahwa dalam Qur’an terdapat ayat yang bersifat ibarat dan kiasan (mutasyabihat), berdampingan dengan ayat yang terang dan bersifat menentukan (muhkamat), maka satusatunya cara yang paling aman untuk tidak disesatkan oleh ayat yang bersifat mutasyabihat, orang harus menafsirkan ayat itu dengan hati-hati dan disesuaikan dengan ayat yang terang artinya dan bersifat muhkamat (menentukan), dan sekali-kali tak boleh bertentangan dengan ayat muhkamat tersebut.

4. Apabila suatu undang-undang atau hukum syari’at telah ditetapkan oleh Qur’an Suci dengan kata-kata yang terang, maka suatu ayat yang artinya agak samar-samar atau nampak bertentangan dengan hukum syari’at yang telah ditetapkan itu, maka cara menafsirkan ayat yang agak samar-samar itu harus ditundukkan kepada hukum syari’at yang telah ditetapkan itu. Demikian pula semua ayat Qur’an yang bersifat khusus, harus dihubungkan dan ditundukkan kepada ayat yang bersifat umum.

Nilai Hadits dan Kitab Tafsir dalam menerangkan al-Qur’an

Sehubungan dengan itu, kami hanya ingin menambahkan bahwa Hadits juga penting sekali dalam menafsirkan Qur’an, tetapi yang dapat diterima hanyalah Hadits sahih dan tak bertentangan dengan ayat Qur’an yang terang artinya. Adapun mengenai Kitab Tafsir, perlu kami ingatkan agar orang tak cenderung untuk menganggap bahwa apa saja yang termuat dalam Kitab Tafsir itu adalah keterangan yang tak dapat diganggu-gugat lagi. Karena jika orang beranggapan demikian, perbedaan ilmu yang dialirkan oleh Qur’an Suci dengan memaparkan yang berkaitan dengan kemajuan zaman, akan tertutup samasekali, dan Qur’an akan menjadi Kitab yang mati bagi generasi sekarang. Para ulama zaman dahulu semuanya bebas menafsirkan Qur’an menurut ijtihad mereka sendiri, dan generasi sekarang pun mempunyai hak yang sama untuk menafsirkan Qur’an menurut ijtihad sendiri. Perlu kami tambahkan di sini bahwa kendati Kitab Tafsir merupakan gudang ilmu Qur’an yang amat berharga, namun berhubung banyaknya ceritera dan dongeng yang dimasukkan ke dalamnya, maka orang harus berhati-hati dalam menerima uraian Kitab Tafsir tersebut, dan harus diteliti terlebih dulu dengan seksama. Kebanyakan dongeng-dongeng itu diambil dari ceritera kaum Yahudi dan kaum Nasrani, dan mengenai hal ini kami persilahkan para pembaca untuk membaca ulasan kami yang berjudul “Laporan tentang Riwayat Hidup dan Tafsir” dalam bab yang akan datang, di sana kami terangkan bahwa para ulama kenamaan telah mengutuk bahan-bahan ceritera itu, dan dianggap sebagai dongeng kosong kaum Yahudi dan Nasrani.

Pembagian Qur’an Suci

Qur’an Suci dibagi menjadi 114 bab, yang masing-masing disebut Surat, yang makna aslinya Luhur atau Derajat tinggi, dan berarti pula Tingkatan suatu bangunan (LL). Panjang Surat itu tak sama dan Surat yang paling panjang meliputi seperduabelas Kitab Suci itu. Semua Surat, kecuali tigapuluh lima Surat terakhir, dibagi dalam ruku’; biasanya tiap-tiap ruku’ membahas suatu masalah, dan ruku’-ruku’ itu berhubungan satu sama lain. Tiap-tiap ruku berisi sejumlah ayat. Kata ayat makna aslinya tanda bukti atau pekabaran dari Allah. Jumlah ayat Qur’an seluruhnya 6240 [18] atau 6353 [19] jika di dalamnya dimasukkan 113 kalimat basmallah atau bismillah yang mengawali Surat-surat tersebut. Untuk tujuan membaca, Qur’an Suci dibagi menjadi tigapuluh bagian yang sama panjangnya, yang masing-masing disebut juz, artinya, bagian; dan tiap-tiap juz dibagi lagi menjadi empat bagian yang sama panjangnya. Qur’an dibagi lagi menjadi tujuh manzil, yang ini dimaksud untuk menyelesaikan pembacaan Qur’an dalam tujuh hari. Tetapi pembagian ini tak ada hubungannya dengan pokok persoalan Qur’an Suci.

Surat Makkiyyah dan Surat Madaniyyah

Pembagian Qur’an Suci yang penting lagi adalah yang bertalian dengan Surat Makkiyah dan Surat Madaniyyah. Setelah Muhammad diangkat menjadi Nabi, beliau tinggal di Makkah selama tigabelas tahun, kemudian berhijrah ke Madinah dengan para sahabat beliau, dimana beliau menghabiskan masa hidupnya selama sepuluh tahun. Dari jumlah 114, yang 92 diturunkan selama zaman periode Makkah, dan 22 lagi diturunkan selama periode Madinah (20). Akan tetapi biasanya Surat Madaniyyah itu lebih panjang, dan ini hampir meliputi sepertiga Kitab Suci. Dalam susunan Surat Makkiyah diselang-seling dengan Surat Madaniyyah. Jumlah Surat Makkiyah dan Madaniyyah berselang seling seperti berikut: 1, 4, 2, 2, 14, 1, 8, 1, 13, 3, 7, 10, 48. Mengenai pokok persoalan yang dibahas oleh Surat Makkiyah dan Surat Madaniyyah terdapat tiga ciri khas yang membedakan dua macam Surat itu. Pertama, Surat Makkiyah terutama sekali membahas iman kepada Allah, teristimewa untuk mendasari kaum Muslimin dengan iman itu, sedang Surat Madaniyyah terutama sekali dimaksud untuk mewujudkan iman dalam perbuatan. Memang benar bahwa dalam Surat Makkiyah terdapat pula anjuran untuk berbuat baik dan mulia, dan dalam Surat Madaniyyah terdapat pula ajaran iman yang harus dijadikan dasar bagi amal saleh, tetapi pada dasarnya, Surat Makkiyah meletakkan tekanan pada iman kepada Allah Yang Maha-kuasa dan Yang Maha-wujud, Yang membalas tiap-tiap perbuatan baik maupun buruk, sedang Surat Madaniyyah terutama sekali membahas apa yang disebut baik dan buruk itu, dengan kata lain, membahas perincian hukum syari’at. Ciri khas nomor dua tentang perbedaan dua Surat itu ialah, pada umumnya Surat Makkiyah berisi ramalan, sedang Surat Madaniyyah membahas terpenuhinya ramalan tersebut. Yang nomor tiga, Surat Makkiyah menerangkan bahwa kebahagiaan sejati hanya diperoleh dengan berhubungan kepada Allah, sedang Surat Madaniyyah menerangkan bahwa hubungan antara sesama manusia merupakan sumber nikmat dan kesenangan bagi manusia. Oleh karena itu, susunan Qur’an Suci secara ilmiah didasarkan atas perpaduan antara dua macam Surat itu, yaitu perpaduan antara iman dan perbuatan, antara ramalan dan terpenuhinya ramalan itu, antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Perlu ditambahkan di sini bahwa angan-angan untuk menyusun berdasarkan urutan turunnya wahyu, adalah salah. Kebanyakan Surat diturunkan sepotong-sepotong. Oleh sebab itu, susunan Qur’an menurut urutan turunnya wahyu akan merusak samasekali susunan Surat. Ambillah misalnya Surat yang harus disusun pertama kali menurut urutan turunnya wahyu, ialah Surat ke 96 susunan sekarang. Padahal Surat ke 96 itu hanya 5 ayat permulaan saja yang diturunkan pertamakali kepada Nabi Suci, sedangkan selebihnya tak diturunkan sebelum tahun Bi’tsah keempat. Demikian pula mengenai Surat kedua dalam susunan sekarang, sebagian besar ayat-ayatnya diturunkan pada tahun Hijrah kesatu dan kedua, sedangkan ada beberapa ayat yang diturunkan menjelang akhir hidup Nabi Suci. Oleh karena itu, menyusun Qur’an menurut susunan turunnya wahyu, itu tak mungkin.

Kedudukan Qur’an dalam kesusastraan dunia

Memang tak ayal lagi bahwa Qur’an menduduki tampat yang tertinggi dalam kesusastraan Arab, yang ini tak dimiliki oleh kitab-kitab lain; tetapi lebih dari itu dan dengan segala keyakinan, kami dapat berkata bahwa tempat yang diduduki oleh Qur’an Suci tak dapat dijangkau oleh kitab-kitab lain, kapan saja dan di mana saja. Buku manakah yang bukan saja selama tigabelas abad dalam sejarah manusia, tetap diakui menjadi standard bahasa yang ditulis dalam buku itu, bahkan menjadi sumbernya perpustakaan yang luas di dunia? Buku-buku yang baik yang usianya hanya separoh usia Qur’an Suci, kini tak lagi menjadi standard bahasa dari bahasa yang ditulis di dalam buku itu. Prestasi yang dicapai oleh Qur’an Suci benar-benar tak ada taranya dalam seluruh sejarah bahasa yang ditulis. Qur’an mengubah logat yang hanya diucapkan amat terbatas di daerah terpencil di pojok dunia, yang ini menjadi ibu-bahasa dari negara raksasa dan kerajaan besar, dan menghasilkan perpustakaan yang menjadi dasarnya kebudayaan dari bangsa-bangsa besar dunia dari ujung ke ujung. Memang, sebelum Qur’an Suci tak ada kesusastraan Arab; beberapa syair yang beredar pada waktu itu tak dapat disebut sastra karena isinya tak lebih tinggi dari sekedar memuji-muji anggur, perempuan, kuda, atau pedang saja. Hanya Qur’anlah yang menciptakan kesusastraan Arab, dan dengan melalui Qur’an inilah, maka bahasa Arab menjadi bahasa yang ampuh yang dipakai di banyak negeri dan mempengaruhi sejarah ilmu sastra di negeri-negeri lain. Tanpa Qur’an, bahasa Arab tak akan ada di dunia. Dr. Steingass berkata sebagai berikut: “Tetapi kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, apakah jadinya bahasa ini tanpa Muhammad dan Qur’annya? Ini bukanlah renungan kosong belaka yang tak ada ujung pangkalnya. Memang benar bahwa bahasa Arab telah menghasilkan banyak model puisi yang indah dan membumbung tinggi, tetapi puisi semacam itu semata-mata dan terutama sekali tersimpan dalam ingatan orang … Selain itu, puisi itu tak sama dengan literatur … Bangsa Arab yang terpecah-belah menjadi beberapa kabilah yang selalu terlibat dalam pertempuran satu sama lain dan mempunyai bermacam-macam dialek, yang semakin hari semakin bertambah renggang, puisi pasti akan mengikuti jejaknya, dan penduduk Arab akan terpecah menjadi banyak suku yang masing-masing mempunyai penyair tersendiri, yang syair-syair cinta dan kepahlawanannya dihimpun oleh para musafir zaman sekarang yang berusaha menghimpunnya …”

“Jadi rupanya hanya pekerjaan Qur’anlah yang dapat mengembangkan bahasa Arab kuno menjadi bahasa sastra …” “Bahkan bukan hanya mengangkat logat Arab ke tingkat bahasa yang hebat dengan melazimkan dan memutlakkan itu dengan penggunaan tulisan, yang ini telah dilakukan oleh Qur’an Suci dalam memimpin perkembangan literatur Arab; susunan Qur’an itu sendiri menyumbangkan dua faktor yang amat berguna bagi perkembangan literatur Arab, yaitu, Qur’an telah menambahkan kepada puisi, sumber-sumber retorik (penggunaan kata dan daya yang indah) dan juga prosa …”

“Bahkan Muhammad telah membuat langkah yang lebih besar dan lebih mantap ke arah terciptanya kesusasteraan bagi bangsanya. Dalam surat-surat Qur’an yang mengatur kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat umat Islam, ia untuk pertama kali membuat satu prosa yang semenjak itu tetap menjadi standard kemurnian klasik” (Hughes: Dictionary of Islam, artikel Qur’an, hal. 528-529). Ada beberapa pertimbangan lain yang membuat Qur’an Suci berhak memperoleh tempat luhur, yang ini tak dapat dijangkau oleh Kitab lain. Qur’an menerangkan sejelas-jelasnya sekalian sendi dasar agama, yaitu adanya Allah. Keesaan Allah, pembalasan perbuatan baik dan buruk, kehidupan Akhirat, Surga dan Neraka, Wahyu dan sebagainya. (Soal ini dibahas tuntas dalam jilid dua buku ini). Akan tetapi disamping menjelaskan kepada kita rahasia alam gaib, Qur’an menyajikan pula pemecahan masalah-masalah dunia yang amat rumit, seperti misalnya pembagian kekayaan, masalah seks dan masalah lain yang sedikit banyak menyangkut kebahagiaan dan kemajuan umat manusia. Dan kekayaan ide-ide ini lebih meningkat lagi nilainya jika orang tahu bahwa Qur’an tak menghadapkan orang kepada dogma, melainkan memberi alasan bagi tiap-tiap pernyataan yang ia kemukakan, baik yang berhubungan dengan kehidupan rohani maupun kehidupan jasmani. Beratus-ratus persoalan telah memperkaya perpustakaan dunia, apakah itu persoalan yang menyangkut kehidupan rohani maupun yang menyangkut kehidupan dunia, Qur’an selalu menempuh jalan argumentasi yang meyakinkan dan bukan dengan dogma. Masih banyak lagi hasil yang lebih mengagumkan akibat pengaruh Qur’an Suci. Perubahan yang dilaksanakan oleh Qur’an Suci sungguh tak ada taranya dalam sejarah dunia. Perubahan yang menyeluruh nampak benar di seluruh kehidupan bangsa, dan ini hanya terlaksana dalam jangka waktu yang relatif pendek, yaitu dalam jangka waktu tak lebih dari duapuluh tiga tahun. Qur’an menjumpai bangsa Arab sebagai penyembah berhala, baik berupa batu ataupun kayu yang tak dipahat maupun tumpukkan pasir, namun dalam jangka waktu seperempat abad, penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa menguasai seluruh Arab, sedangkan penyembahan berhala disapu bersih dari negeri itu dari ujung ke ujung. Qur’an menyapu bersih segala kepercayaan tahayul; dan sebagai gantinya Qur’an memberi agama yang paling rasional yang diimpikan dunia. Bangsa Arab yang membanggakan dirinya sebagai bangsa ummi (bodoh),dirobah bagaikan disulap tongkat ajaib menjadi bangsa yang cinta ilmu pengetahuan dengan meminum sepuas-puasnya dari tiap-tiap sumber ilmu yang dapat dijangkau olehnya. Inilah hasil langsung ajaran Qur’an Suci yang bukan hanya berulang kali minta perhatian, melainkan menyatakan bahwa kehausan bangsa Arab terhadap ilmu pengetahuan tak dapat dipuaskan. Dan bersamaan dengan lenyapnya kepercayaan tahayul, lenyap pula kebiasaan yang paling buruk di kalangan bangsa Arab, dan sebagai gantinya, Qur’an menanamkan semangat yang menyala-nyala untuk berbuat kebajikan dan kemuliaan kepada sesama manusia. Bahkan yang dilaksanakan oleh Qur’an Suci bukan hanya perobahan orang seorang, melainkan pula perobahan di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa. Unsur-unsur pertempuran di kalangan bangsa Arab ditempa oleh Qur’an Suci menjadi bangsa yang bersatu penuh semangat dan enerji, sehingga serbuan dari kerajaan yang paling besar di dunia saat itu pun, hancur luluh bagaikan mainan anak-anak menghadapi kebenaran agama baru. Bukan itu saja, bahkan Qur’an Suci membawa perubahan sekalian umat manusia baik di lapangan materiil, moril, intelektual maupun spiritual. Tak ada Kitab Suci lain yang dapat membawa perubahan begitu mengagumkan dan menakjubkan dalam kehidupan manusia.

Para penulis Eropa tentang Qur’an Suci

Buku tentang kedudukan Qur’an Suci dalam perpustakaan dunia, telah dikemukakan oleh para penulis Eropa, sekalipun oleh mereka yang penuh prasangka. Di bawah ini kami hanya mengutip beberapa saja: “Pada umumnya gaya bahasa Qur’an itu indah dan fasih … dan di banyak tempat, teristimewa ayat yang menggambarkan keagungan dan sifat-sifat Allah, nampak agung dan megah … Qur’an begitu berhasil dan begitu memikat hati para pendengarnya, hingga banyak sekali musuh-musuh yang mengira bahwa itu adalah pengaruh ilmu sihir dan guna-guna” (Sale, Preliminary Discourse, hal. 48). “Para penulis bangsa Arab yang terbaik tak pernah berhasil mengarang sesuatu yang jasanya menyamai Qur’an Suci, ini tak mengherankan” (Palmer, Introduction, hal. 55). “Wahyu Makkiyah permulaan adalah wahyu yang mengandung sesuatu yang tertinggi dalam agama besar, dan yang paling suci dalam orang besar” (Lane, Selections, Introduction, hal. cvi). “Setiap kali kami membuka Qur’an, pertamakali kami selalu merasa muak, tak lama kemudian merasa tertarik, takjub dan akhirnya Qur’an memaksa kami untuk menghormatinya … Gaya bahasanya, sesuai dengan isi dan tujuannya, tegas, megah, hebat, kadang-kadang agung sungguh-sungguh … Dengan demikian, Kitab ini akan selalu memberi pengaruh yang kuat di sepanjang zaman” (Geothe – Hughes, Dictionary of Islam, hal. 526). “Boleh kami katakan Qur’an adalah salah satu Kitab yang paling agung yang pernah ditulis … Maha mulia dan suci, dimana Keesaan Tuhan yang Maha tinggi dikumandangkan. Sangat merangsang imajinasi para penyair, melukiskan pembalasan abadi terhadap orang yang tunduk kepada kehendak Allah yang suci, atau berontak menantangnya, semuanya digambarkan; sentuhannya yang sederhana, hampir bersahaja, Qur’an mengharukan sekali jika berkali-kali membesarkan hati atau menghibur Utusan Allah, dan peringatan yang sungguh-sungguh kepada siapa beliau diutus. Di dalam sejarah para Nabi yang sudah-sudah, bahasa Qur’an seirama benar dengan kebutuhan hidup manusia sehari-hari, apabila kehidupan sehari-hari ini disesuaikan dengan sendi dasar agama baru, baik dalam kehidupan pribadi maupun bersama. “Oleh karena itu, jasa Qur’an sebagai karya literair, hendaklah, barangkali, jangan diukur dengan beberapa patokan yang telah ditentukan sebelumnya mengenai perasaan yang bersifat subjektif dan perasaan keindahan, melainkan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh orang yang sezaman dengan Muhammad dan penduduk sesamanya. Jika Qur’an berbicara begitu ampuh dan begitu meyakinkan hati para pendengarnya, hingga dapat menempa unsur-unsur yang hingga saat itu saling bertentangan menjadi satu kesatuan yang kompak dan teratur, yang dihayati oleh cita-cita yang jauh lebih tinggi, hingga saat itu menguasai jiwa bangsa Arab, maka kefasihan Qur’an itu paling sempurna, karena Qur’an telah menciptakan bangsa biadab menjadi beradab, dan memasukkan arah baru kepada jalur sejarah lama” (Steingass – Hughes, Dictionary of Islam, hal. 527-528). “Sejak zaman purbakala, Makkah dan seluruh jazirah, tenggelam dalam kemorosotan rohani. Pengaruh yang tak seberapa dan sebentar dari agama Yahudi, Nasrani maupun filsafat terhadap jiwa bangsa Arab, persis seperti ombak kecil yang menerpa permukaan danau di sana sini yang di bawahnya tetap tenang dan tak bergerak. Bangsa Arab tenggelam dalam kepercayaan tahayul, berbuat sewenang-wenang dan jahat … Agama mereka berupa penyembahan berhala kasar, dan mereka sangat percaya sekali terhadap pengaruh makhluk jahat yang tak kelihatan … Tigabelas tahun sebelum Hijrah, Makkah mati dalam kehinaan. Alangkah menakjubkan perubahan yang dibuat selama tigabelas tahun itu … Agama Yahudi lama terdengar oleh telinga penduduk Madinah, tetapi mereka baru mau bangun dari tidur mereka setelah mendengar ajaran yang menggetarkan hati dari Nabi tanah Arab, dan seketika itu pula mereka meloncat ke kancah hidup baru yang penuh makna” (Muir, Life of Mahomet, hal. 155-156). “Amatlah sukar untuk menemukan bangsa yang lebih berpecah-belah sampai tiba-tiba terjadilah suatu keajaiban! Orang, yang karena kepribadiannya dan pengakuannya menerima pimpinan langsung dari Allah, bangkit dan benar-benar melaksanakan sesuatu yang mustahil, yaitu mempersatukan semua golongan yang suka saling bertempur itu” (Ins and outs of Mesopotamia). “Itulah satu-satunya mukjizat, yang Muhammd berhak mengakunya – ia menyebut itu “mukjizat yang kekal”; dan itu memang sungguh-sungguh mukjizat” (Bosworth Smith, Mohammed, hal. 920). “Tak pernah ada bangsa yang terpimpin begitu cepat ke arah peradaban, seperti halnya bangsa Arab oleh Islam” (Hirschfeld, New Reseaches, hal. 5). “Qur’an tak ada taranya dalam hal daya meyakinkan, gaya bahasanya dan bahkan susunannya … Dan perkembangan yang mengagumkan dari segala cabang ilmu pengetahuan di seluruh dunia Islam, ini secara tidak langsung disebabkan Qur’an” (ibid, hal. 8-9).

Terjemahan Qur’an Suci

Para ulama Mesir berpendapat bahwa Qur’an Suci tak boleh diterjemahkan ke lain bahasa, tetapi terus terang pendapat ini tak dapat dipertahankan. Qur’an Suci itu terang sekali diperuntukkan bagi sekalian bangsa. Qur’an berulangkali menyebut: “Peringatan bagi sekalian bangsa” (68:52; 82:27) dan banyak lagi; dan Nabi Suci dikatakan sebagai “Juru ingat bagi sekalian bangsa” (25:1). Tak mungkin peringatan disampaikan kepada suatu bangsa kecuali dalam bahasa sendiri, dan Qur’an Suci tak mungkin dikatakan sebagai peringatan bagi sekalian bangsa, kecuali jika risalahnya dimaksud untuk diberikan kepada mereka dalam bahasa mereka. Oleh karena itu, penerjemahan Qur’an Suci ke berbagai bahasa dipikirkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Sebenarya penerjemahan Qur’an Suci ke berbagai bahasa, ini telah dikerjakan oleh kaum Muslimin sendiri. Penerjemahan Qur’an Suci ke dalam bahasa Persi dilakukan oleh Syeikh Sa’di, sedang penerjemahan ke dalam bahasa Persi yang lain dikerjakan oleh seorang Wali kenamaan di India, Syah Waliyullah, yang wafat 150 tahun yang lalu. Penerjemahan ke dalam bahasa Urdu dilakukan oleh anggota keluarga Syah Waliyullah, yaitu Syah Rafiuddin dan Syah Abdul-Qadir, sedang tambahan baru banyak dilakukan baru-baru ini. Selain itu terdapat pula terjemahan dalam bahasa Pushto, Turki, Jawa, Malaya, Gujarat, Benggali, Hindi, Gurmukhi, dan yang sedang dikerjakan saat ini ialah ke dalam bahasa Tamil. Terjemahan yang mula sekali oleh orang Eropa ialah terjemahan dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh orang Inggris, yakni Tuan Robert dari Retina, dan oleh orang Jerman, Tuan Hermann dari Dalmatia. Terjemahan itu dilakukan atas permintaan Peter, Kepala Biara di Clugny pada tahun 1143 M.; ini tetap tersimpan hampir 400 tahun lamanya, sampai ini diterbitkan di Balse pada tahun 1543 oleh Theodore Blibliander, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Itali, Jerman dan Belanda. Terjemahan ke dalam bahasa Prancis yang tertua dilakukan oleh M. Du Ryer (Paris 1647). Terjemahan dalam bahasa Rusia, terbit di St. Petersberg tahun 1776. Qur’an bahasa Inggris yang pertama adalah terjemahan Tuan Alexander Ross dari Qur’an terjemahan bahasa Prancis terjemahan Du Ryer ((1649-1688). Karya Tuan Sale yang termasyhur muncul pertama kali tahun 1743. Terjemahan Pendeta J.M. Rodwell dicetak tahun 1861. Professor Palmer dan Cambridge menerjemahkan tahun 1880. (Hughes, Dictionary of Islam, hal. 523). Belum lama ini Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam, Lahore, telah menerjemahkan Qur’an Suci ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Terbitan dalam bahasa Inggris, muncul untuk pertama kali pada tahun 1917, dan terjemahan ke dalam bahasa Belanda terbit tahun 1935, sedang terjemahan ke dalam bahasa Jerman juga telah selesai.

 

Footnote:

14. Di sini dapat dikemukakan beberapa contoh. Oleh sebagian ulama dikatakan bahwa ayat 2:180 dihapus, sedangkan ulama yang lain menyangkal penghapusan itu (IJ-C). Sahabat Ibnu ‘Umar menganggap bahwa ayat 2:184 dihapus, sedang sahabat ibnu ‘Abbas mengatakan ayat itu tidak dihapus (Bu.). Menurut sahabat Ibnu Zubair, ayat 2:240 dihapus, sedang mujahid berkata, ayat itu tak dihapus (Bu.). Contoh ini hanya kami ambil dari Surat al-Baqarah.

15. Di sini dapat kami kutip beberapa contoh. Dalam ayat 2:284 dikatakan: “Baik kamu lahirkan apa yang ada dalam batin kamu atau pun kamu sembunyikan, Allah akan membuat perhitungan dengan kamu selaras dengan itu”. Sedangkan menurut ayat 2:286 dikatakan: “Allah tak membebani suatu jiwa kecuali menurut kemampuannya”. Satu riwayat dalam Kitab Bukhari menerangkan bahwa salah seorang sahabat, muingkin Abdullah bin ‘Umar, mempunyai pendapat bahwa ayat 2:284 dimansukh (nusikhat) oleh ayat 2:286. Dalam hal ini, apa yang dimaksud dengan naskh itu dijelaskan oleh riwayat lain yang diuraikan dalam kitab Musnad Imam Ahmad. Menurut riwayat, pada waktu ayat 2:284 diturunkan, para sahabat mempunyai pikiran yang tak mereka miliki sebelumnya, (atau menurut riwayat lain, susah sekali) dan mengira bahwa mereka tak mempunyai kekuatan untuk menanggung itu. Tatkala hal itu dilaporkan kepada Nabi Suci, beliau bersabda: “Lebih baik kamu berkata: Kami telah mendengar, dan kami taat, dan kami tunduk.” dan demikianlah Allah menanamkan iman dalam hati mereka. Menurut riwayat tersebut, apa yang terjadi adalah demikian: Beberapa sahabat mengira bahwa ayat 2:284 memberi beban baru kepada mereka karena tiap-tiap pikiran jahat yang masuk ke dalam kalbu, sekalipun ini tak berakar dalam jiwanya, atau tak pernah diamalkan dalam perbuatan, namun ini sama-sama mendapat beban seperti jika ini diamalkan dalam perbuatan. Ayat 2:286 menjelaskan bahwa bukan itu yang dimaksud oleh ayat 2:284, karena menurut ayat itu Allah tak memberi beban kepada orang yang tak mampu memikulnya. Terhapusnya kesalahpahaman itu oleh sahabat Ibnu ‘Umar disebut naskh (penghapusan). Dapat kami tambahkan di sini bahwa tak ada dalil yang menunjukkan bahwa ayat 2:286 diwahyukan lebih belakangan daripada ayat 2:284. Sebaliknya digunakannya kata-kata kami telah mendengar dan kami taat oleh Nabi Suci untuk menghilangkan pengertian yang salah yang menghinggapi sebagian sahabat, yang kata-kata itu termuat dalam ayat 2:285, menunjukkan seterang-terangnya bahwa ayat 284, 285 dan 286 tiga-tiganya diturunkan bersamaan. Oleh sebab itu, menurut arti kata naskh yang sudah lazim, penghapusan ayat 284 oleh ayat 286 itu tak ada artinya. Satu contoh lagi, dimana ayat yang diturunkan belakangan dianggap dihapus oleh ayat yang diturunkan sebelumnya. Tetapi bagaimana mungkin ayat yang diturunkan belakangan dihapus oleh ayat yang diturunkan sebelumnya? Atau dengan maksud apakah memberikan perintah yang sebelumnya telah dibatalkan? Sebaliknya, apabila kata naskh itu diambil dalam arti membatasi arti suatu ayat, atau menghilangkan kesalahpahaman yang menyangkut ayat itu, pasti tak akan timbul kesulitan, karena orang dapat saja mengatakan sekalipun terhadap ayat yang diturunkan sebelumnya, bahwa ayat yang dimaksud membatasi arti ayat yang diturunkan belakangan, atau ada kesalahpahaman yang timbul dari ayat itu yang harus dihilangkan.

16. Contoh tentang pernyataan yang dikatakan telah dihapus oleh pernyataan yang lain, ialah pernyataan ayat 2:284 yang dikatakan telah dihapus oleh ayat 2:286. (Lihatlah catatan kaki sebelum ini). Contoh yang lain ialah pernyataan ayat 8:65 yang telah dikatakan telah dihapus oleh ayat 8:86, dimana dinyatakan dalam ayat 8:65 bahwa dalam pertempuran, kaum Muslimin akan mengalahkan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat, sedang dalam ayat 8:66, setelah menerangkan kelemahan kaum Muslimin – karena kurangnya pasukan yang terlatih dan kurangnya perlengkapan dan alat-alat perang – mereka hanya akan mengalahkan musuh yang jumlahnya dua kali lipat saja. Nah, dua ayat itu menceritakan dua keadaan yang berlainan, dan dua ayat itu boleh dikatakan menempatkan pembatasan terhadap arti masing-masing, tetapi ini tak dapat dikatakan bahwa ayat yang satu menghapus ayat yang lainnya. Pada zaman Nabi Suci, tatkala kaum Muslimin masih lemah, tatkala setiap orang Islam, baik tua maupun muda, dipanggil untuk bertempur dan persenjataan mereka sangat kurang, kaum Muslimin hanya dapat mengalahkan musuh yang jumlahnya dua kali lipat atau tiga kali lipat saja. Tetapi pada waktu mereka bertempur melawan kerajaan Persi dan Romawi, mereka dapat mengalahkan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat. Dua pernyataan ayat tersebut sama-sama benarnya, hanya keadaan saja yang berlainan, dan ayat yang satu menempatkan pembatasan terhadap ayat yang lain dalam arti saja. Tetapi tak sekali-kali menghapus ayat yang lain.

17. Soal penafsiran ayat Qur’an, tepat sekali dibahas dalam ayat pertama Surat ketiga, yang dimulai dengan pembahasan para pengikut agama Kristen; karena hendaklah diingat bahwa sendi ajaran Kristen itu sebenarnya didasarkan atas penafsiran yang salah terhadap uraian-uraian yang bersifat ibarat. Sendi ajaran semua Nabi yang diuraikan dalam Kitab Perjanjian Lama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid); tetapi dalam Kitab itu terdapat sejumlah ramalan yang diungkapkan dalam bentuk kalam ibarat sehubungan dengan datangnya Kristus. Orang-orang Kristen yang seharusnya menafsirkan ramalan itu atas dasar prinsip Ketuhanan yang Maha Esa, malah meletakkan sendi agama Kristen berdasarkan ramalan-ramalan yang bersifat kalam ibarat; dengan demikian, karena mereka mengabaikan aturan penafsiran yang benar, mereka tersesat labih jauh, hingga mereka tak kenal lagi akan ajaran pokok para Nabi. Kristus (Nabi ‘Isa) diimani sebagai Allah berdasarkan pernyataan-pernyataan yang bersifat ibarat, dengan demikian, Trinitas dijadikan ajaran pokok agama baru. Dalam kitab-kitab Yahudi, sebutan “anak Allah” digunakan seluas-luasnya, dan selamanya mengandung arti kiasan. Sejak zaman dahulu, dalam Kitab Kejadian 6:2 terdapat istilah yang berbunyi: “Segala anak laki-laki Allah” mengambil segala anak perempuan manusia sebagai isteri. Istilah itu dicantumkan pula dalam Kitab Ayub 1:6 dan 38:7, dan tidak syak lagi bahwa yang dimaksud oleh dua ayat itu ialah orang-orang yang baik. Dalam Kitab Keluaran 4:22 dan di tempat-tempat lain, orang Bani Israel dikatakan sebagai anak Allah: “Bahwa Israel itulah anakku laki-laki, yaitu anakku yang sulung”. Dalam Kitab Injil, sebutan anak Allah digunakan pula dalam arti kiasan. Sekalipun dalam Kitab Injil keempat, dimana ungkapan ketuhanan Kristus dianggap lebih kuat daripada ungkapan Kitab Injil Synoptik (Matius, Markus dan Lukas), Yesus Kristus dalam menjawab tuduhan orang yang menuduh beliau menghina Tuhan karena mengatakan dirinya sebagai anak Allah, berkata: “Bukankah dalam Tauratmu telah tersurat demikian: Aku sudah berfirman, kamulah Alihah? Jika kepada orang-orang yang sudah disampaikan firman Allah itu dipanggil Alihah, (padahal isi alkitab itu tak dapat dibatalkan), patutkah kamu ini mengatakan kepada Dia itu yang dikuduskan oleh Bapak, dan yang disuruhnya ke dalam dunia: “Engkau ini menghujat Allah”, sebab kataku: “Aku ini anak Allah?’ (Yahya 10:34-36). Jadi, terang sekali bahwa menurut Yesus istilah anak Allah adalah kiasan belaka. Oleh karena Gereja mengambil istilah itu dalam arti harfiah, maka Gereja telah merusak sendi dasar agama yang sebenarnya. Sehubungan dengan kesalahan fundamental agama Kristen itulah maka Qur’an Suci menggariskan aturan tentang penafsiran ayat yang bersifat kalam ibarat pada waktu Qur’an membahas agama Kristen.

18. Ada sedikit perbedaan dalam menjumlah ayat Qur’an di masing-masing pusat penyiaran Islam. Para pembaca Kufah menghitungnya 6239, Basyrah 6204, Syria 6225, Makkah 6219, Madinah 6211. Tetapi perbedaan tersebut hanyalah taksiran belaka, karena sebagian pembaca ada yang memberi tanda akhir pada ayat tertentu, sedangkan pembaca yang lain tidak.

19. Tiap-tiap Surat Qur’an Suci diawali dengan bismillah, terkecuali Surat kesembilan.

20. Surat 110 diturunkan di Makkah selama Haji Wada’, oleh karena itu Surat ini tergolong Surat Madaniyyah.

 

Sumber:  Islamologi, (The Religion of Islam) oleh  Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: