Serial Islamologi – Bab I, Qur’an Suci (1)

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Daya kemampuan para Nabi untuk menerima Firman Allah begitu tinggi perkembangannya hingga mereka mampu menerima risalah Ilahi, yang ini bukan hanya berbentuk angan-angan yang dimasukkan ke dalam kalbu, atau berbentuk kata-kata yang diucapkan atau didengar dibawah pengaruh Roh Suci, melainkan pula benar-benar risalah Tuhan dalam bentuk kata-kata yang disampaikan melalui Roh Suci (malaikat Jibril). Menurut istilah Islam, ini disebut wahyu matluw atau wahyu yang dibaca dan dalam bentuk inilah Qur’an Suci dari awal hingga akhir disampaikan kepada Nabi Suci.

Bagaimana dan bilamana Qur’an Suci diturunkan

Sumber asli (1)dari semua ajaran dan syari’at Islam ialah Kitab Suci yang disebut al-Qur’an (2) Kata Qur’an berulangkali disebutkan dalam Kitab itu sendiri (2:185; 10:37, 61; 17:106 dan sebagainya) yang menguraikan pula kepada siapa, bilamana, dalam bahasa apa, serta bagaimana dan mengapa Qur’an itu diturunkan. Qur’an diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Qur’an berfirman: “Dan yang beriman kepada apa yang diwahyukan kepada Muhammad, dan ini kebenaran dari Tuhan mereka” (47:2). Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan, pada suatu malam yang sejak saat itu mendapat julukan Lailatul-Qadar atau Malam nan Agung. (3) Qur’an berfirman: “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an” (2:185). “Kami menurunkan itu pada suatu malam yang diberkahi” (44:3). “Sesungguhnya Kami menurunkan itu pada malam yang agung” (97:1). Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab: “Maka Kami membuat itu mudah bagi lisan dikau, agar mereka mau ingat” (44:58). “Sesunguhnya Kami membuat Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti” (43:3). Qur’an diturunkan sepotong-sepotong dan setelah penggalan-penggalan itu diturunkan, segera ditulis dan dihapalkan. Adapun jangka waktu diturunkannya al-Qur’an meliputi masa hidup Nabi Suci selama duapuluh tiga tahun, yang selama itu beliau sibuk memperbaiki dunia yang dilanda kegelapan. Qur’an berfirman: “Dan inilah Qur’an yang Kami buat beda, agar engkau membacakan itu kepada manusia dengan perlahan-lahan, dan Kami menurunkan itu sepotong-sepotong” (17:106). Qur’an bukanlah sabda Nabi yang bersabda dibawah pengaruh Roh Suci. Qur’an adalah firman Tuhan yang dibawa oleh Roh Suci atau Malaikat Jibril (4), dan disampaikan dalam bentuk kata-kata (matluw) kepada Nabi Suci untuk disampaikan kepada umat yang diucapkan manusia. Qur’an berfirman: “Sesungguhnya ini adalah wahyu dari Tuhan sarwa sekalian alam. Ruhul-Amin (malaikat Jibril) menurunkan ini dalam hati engkau, agar engkau menjadi seorang juru ingat, (diwahyukan) dalam bahasa Arab yang terang” (26:192-195). “Siapakah yang memusuhi Jibril, padahal ia benar-benar menurunkan itu dalam hati engkau atas perintah Allah” (2:97). “Roh Suci (malaikat Jibril) telah menurunkan itu dari Tuhan dikau dengan benar” (16:102).

Qur’an bentuk wahyu yang paling tinggi

Meskipun, Qur’an itu diturunkan sepotong-sepotong melalui malaikat Jibril, namun seluruh wahyu Qur’an adalah kesatuan yang bulat, yang disampaikan dengan cara yang sama. Qur’an adalah Firman Allah yang diturunkan melalui Roh Suci, yakni malaikat Jibril. Qur’an Suci menjelaskan kepada kita bahwa wahyu itu dikaruniakan kepada manusia dalam tiga macam. Qur’an berfirman: “Dan tiada manusia yang Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tirai, atau dengan mengutus seorang utusan, dan mewahyukan apa yang Dia kehendaki dengan izin-Nya” (42:51). Cara yang pertama disebut wahyu, yang di sini dipakai menurut makna aslinya yaitu: al-isyaratusy-syari’ah artinya, isyarat yang cepat, yang dimasukkan ke dalam kalbu seseorang, atau ilqa’un fil-rau’i. Sebenarnya inilah yang dimaksud dalam hal para Nabi atau orang-orang tulus berbicara dibawah pengaruh Roh Suci. Dalam hal ini suatu angan-angan disampaikan dalam kalbu, dan persoalan yang diangan-angankan itu menjadi terang seakan-akan diterangi oleh sinar kilat. Ini bukanlah ilham dengan kata-kata, melainkan satu angan-angan yang menghilangkan keraguan dan kesulitan, dan ini bukan pula hasil dari meditasi (5). Cara yang kedua, digambarkan sebagai ucapan dari belakang tirai. Yang dimaksud di sini ialah penglihatan pada waktu tidur, atau dalam keadaan setengah sadar (in trance); cara kedua ini dapat disebut ru’yah (impian) atau kasysyaf (visiun). Cara yang ketiga ialah, mengutus utusan (malaikat yang mengemban risalah) kepada yang menerima wahyu, dan risalah Tuhan ini disampaikan dengan kata-kata yang diucapkan, dan ini adalah bentuk wahyu yang tertinggi. Sebagaimana telah kami terangkan di muka, malaikat yang mengemban risalah Ilahi dalam kata-kata yang diucapkan ialah Jibril atau Roh Suci. Cara pemberian wahyu yang nomor tiga ini hanya terbatas bagi para Nabi, yaitu orang yang ditugasi mengemban risalah Ilahi untuk disampaikan kepada manusia; sedang bentuk wahyu pertama, yang jika dibandingkan dengan wahyu yang khusus diberikan kepada para Nabi, tergolong jenis wahyu rendah, ini bisa dialami oleh para Nabi maupun bukan Nabi. Untuk menyampaikan risalah agung yang bertalian dengan kesejahteraan manusia, dipilihlah bentuk wahyu yang tertinggi, yang dalam bentuk itu risalah Tuhan bukan hanya berbentuk angan-angan, melainkan benar-benar digunakan kata-kata. Daya kemampuan para Nabi untuk menerima Firman Allah begitu tinggi perkembangannya hingga mereka mampu menerima risalah Ilahi, yang ini bukan hanya berbentuk angan-angan yang dimasukkan ke dalam kalbu, atau berbentuk kata-kata yang diucapkan atau didengar dibawah pengaruh Roh Suci, melainkan pula benar-benar risalah Tuhan dalam bentuk kata-kata yang disampaikan melalui Roh Suci (malaikat Jibril). Menurut istilah Islam, ini disebut wahyu matluw atau wahyu yang dibaca, dan dalam bentuk inilah Qur’an Suci dari awal hingga akhir disampaikan kepada Nabi Suci. Kutipan ayat-ayat tersebut di atas, membuat keterangan ini lebih jelas lagi. Qur’an tak berisi bentuk wahyu lain. Seluruh Qur’an berisi wahyu matluw atau wahyu yang dibacakan kepada Nabi Suci dengan kata-kata yang terang. Dengan demikian seluruh Qur’an adalah bentuk wahyu yang paling tinggi.

Bentuk wahyu Ilahi yang lain kepada manusia

Sebagaimana telah kami terangkan di atas, para Nabi juga menerima bentuk wahyu rendah. Misalnya dalam satu Hadits kita diberitahu bahwa sebelum risalah agung diberikan kepada Nabi Suci, yaitu sebelum beliau menerima wahyu Qur’an yang pertama, kerapkali beliau mendapat ru’yah yang begitu terang bagaikan terangnya siang hari: “Yang mula-mula datang kepada Rasulullah di antara sekalian wahyu, ialah impian yang baik; tiada beliau melihat suatu impian, melainkan itu nampak bagaikan fajar di waktu subuh” (Bu. 1:1). Pengalaman Nabi Suci mendengar suara, sebagaimana diuraikan dalam Hadits, ini tergolong jenis wahyu rendah, sedang perincian mengenai hukum syari’at seperti yang diterangkan oleh beliau, dan yang terdapat dalam Sunnah, ini tergolong jenis wahyu yang pertama, yaitu angan-angan yang dimasukkan ke dalam kalbu, ini disebut wahyu khaffiy atau wahyu batin. Bentuk wahyu rendah diberikan pula kepada orang tulus di antara para pengikut Nabi Suci, bahkan dikaruniakan pula kepada orang awam, karena, sebagaimana kami terangkan nanti, bentuk wahyu yang paling rendah adalah pengalaman manusia sejagat. Bermacam-macam sekali cara orang menerima berbagai jenis wahyu. Bagi orang yang menerima dua macam jenis wahyu rendah, baik dalam keadaan jaga maupun dalam keadaan tidur, ia hanya akan mengalami sedikit perubahan jasmani, dan hanya kadang-kadang saja ia dipindahkan dalam keadaan setengah sadar (intrance); akan tetapi orang yang menerima bentuk wahyu yang tinggi, yang ini khusus diberikan kepada para Nabi, nampak sekali adanya perubahan jasmani yang menyolok. Memang dalam hal bentuk wahyu yang tinggi, benar-benar diperlukan perpindahan yang sebenarnya dari alam yang satu ke alam yang lain, sedang si penerima itu sendiri benar-benar dalam keadaan sadar. Wahyu yang terasa berat itu bukan saja dirasakan oleh orang yang menerima, melainkan pula oleh orang yang melihatnya.

Pengalaman Nabi Suci menerima wahyu

Pengalaman Nabi Suci menerima wahyu jenis tinggi yang pertama, ialah pada waktu beliau di Gua Hira seorang diri. Sebelum itu, beliau kadang-kadang melihat kasyaf (visiun), namun pada waktu malaikat Jibril datang dengan mengemban risalah agung, beliau merasa kehabisan tenaga: “Ia (malaikat Jibril) memelukku dan menekan aku begitu kuat hingga aku tak bertenaga samasekali, dan peristiwa ini diulangi sampai tiga kali” ((Bu. 1:1). Bahkan setelah beliau sampai di rumah pun, akibat kehabisan tenaga, masih sangat terasa, dan beliau merebahkan diri di tempat tidur sambil menyelimuti seluruh tubuh sebelum beliau menceritakan apa yang beliau alami kepada Siti Khadijah. Pengalaman kedua yang sama beratnya ialah pada waktu beliau menerima wahyu yang kedua, setelah terjadinya fatrah (masa terhentinya wahyu sementara) beberapa bulan lamanya. Bahkan lama sesudah itu, pengaruh Roh Suci itu masih terasa begitu berat hingga pada hari yang sangat dingin pun peluh beliau masih tetap bercucuran di dahi: “Aku melihat”, kata isteri beliau, Siti ‘Aisyah, “beliau menerima wahyu pada hari yang kelewat dingin, dan setelah selesai, peluh bercucuran di wajah beliau” (Bu. 1:11) (6). Sahabat lain menceritakan bahwa ketika wahyu datang kepada Nabi Suci, ia sedang duduk, dan secara kebetulan pahanya berada di bawah paha Nabi Suci, dan Sahabat itu merasa pahanya seperti remuk redam seakan terhimpit barang berat (Bu. 8:12).

Sifat wahyu Nabi Suci

Soal berikutnya ialah tentang sifat wahyu itu sendiri. Pada suatu waktu, Harits bin Hisyam bertanya kepada Nabi Suci, bagaimana bila wahyu datang kepada beliau, yang ini dijawab: “Tempo-tempo wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng, dan ini yang paling berat bagiku, lalu ia meninggalkan aku, dan aku ingat apa yang ia katakan, dan kadang-kadang malaikat datang kepadaku seperti seorang laki-laki dan ia berbicara kepadaku, dan aku ingat apa yang ia katakan” (Bu. 1:1). Ini dua bentuk wahyu Qur’an yang datang kepada Nabi Suci dan beliau melihatnya. Dalam dua peristiwa tersebut, malaikat menyampaikan ayat dalam bentuk kata-kata yang seketika itu dihapalkan oleh Nabi Suci. Inilah inti seluruh persoalan. Adapun perbedaan antara dua peristiwa itu ialah, dalam peristiwa yang satu, malaikat muncul dalam bentuk manusia dan mengucapkan kata-kata dengan suara halus seperti orang yang bercakap-cakap dengan orang lain, tetapi dalam peristiwa lain, ini tak diterangkan dalam bentuk apa malaikat datang kepada Nabi Suci, kita hanya diberitahu bahwa kata-kata yang diucapkan itu seperti suara bunyi lonceng, yaitu suara keras dan nyaring, yang suara itu terasa berat sekali bagi Nabi Suci untuk menerimanya. Tetapi terang sekali bahwa malaikatlah yang mengemban ayat-ayat itu sebagaimana ditunjukkan oleh kata ganti dia dalam bagian pertama Hadits ter-sebut. Dalam dua peristiwa tersebut seakan-akan Nabi dipindahkan ke alam lain, dan perpindahan itulah yang menyebabkan beliau mengalami pengalaman berat yang membuat beliau mandi peluh sekalipun dikala cuaca sangat dingin. Pengalaman itu bertambah berat lagi jika malaikat yang menyampaikan ayat tak muncul dalam bentuk manusia, dan tak ada pertautan antara yang menyampaikan dengan yang menerima. Tetapi apakah malaikat muncul dalam bentuk manusia atau tidak, dan apakah ayat itu disampaikan dengan suara keras ataupun dengan suara lemah, satu hal sudah pasti, ayat itu disampaikan dalam bentuk kata-kata. Oleh karena itu, seluruh wahyu Qur’an adalah risalah yang disampaikan dalam satu bentuk. Dan kita tak boleh lupa bahwa Nabi Suci sering menerima wahyu selagi beliau duduk bersama para sahabat; namun demikian, para sahabat tak pernah melihat malaikat, dan tak pernah pula mendengar wahyu yang dibacakan, (7) sekalipun wahyu itu kadang-kadang datang kepada Nabi Suci seperti bunyi lonceng. Oleh karena itu Nabi Suci melihat malaikat dan mendengar suaranya bukanlah dengan indra biasa, melainkan dengan indra lain, dan pemberian indra lain inilah yang disebut perpindahan beliau ke alam lain.

Penyusunan Qur’an Suci

Walaupun Qur’an Suci diwahyukan sepotong-sepotong, namun keliru sekali jika dikira bahwa Qur’an tetap berbentuk penggalan-penggalan sampai bertahun-tahun lamanya. Sebagaimana diisyaratkan oleh namanya, Qur’an adalah Kitab, yang walaupun itu belum lengkap sebelum ayat terakhir diwahyukan, namun sudah dari permulaan Qur’an tak pernah tanpa susunan. Kami mempunyai bukti, baik intern maupun extern, yang membutkikan seterang-terangnya bahwa setiap ayat atau bagian ayat, demikian pula setiap Surat yang diwahyukan, mempunyai tempat sendiri-sendiri dalam Qur’an Suci (8) . Ini dijelaskan oleh Qur’an sendiri: “Dan orang-orang kafir berkata: Mengapa Qur’an tak diwahyukan kepadanya sekaligus? Demikianlah agar dengan itu Kami teguhkan hati engkau, dan Kami susun itu dengan susunan yang baik” (25:32). Jadi, penyusunan Qur’an adalah bagian rencana Ilahi. Ayat lain yang menerangkan bahwa pengumpulan Qur’an adalah bagian rencana Tuhan, berbunyi demikian: “Sesungguhnya menjadi tanggungan Kami mengumpulkan itu dan membacakan itu” (75:17). Dari ayat ini terang sekali bahwa karena Qur’an itu dibacakan oleh Roh Suci kepada Nabi Suci, maka demikian pula pengumpulan berbagai penggalannya dilakukan oleh Nabi Suci atas petunjuk Roh Suci. Sejarah membuktikan benarnya hal ini; karena bukan hanya riwayat yang menerangkan bahwa penggalan Qur’an yang ini atau yang itu, ditulis dibawah perintah Nabi Suci, melainkan pula kita diberitahu seterang-terangnya oleh Sayyidina ‘Utsman, Khalifah ketiga, bahwa tiap-tiap penggalan Kitab Suci ditulis dan diberi tempat masing-masing atas petunjuk Nabi Suci. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw bahwa apabila penggalan berbagai Surat diwahyukan, atau apabila suatu ayat diwahyukan kepada beliau, beliau selalu memanggil salah seorang yang ditugasi menulis Qur’an Suci (9), dan berkata kepadanya: “Tulislah ayat ini di dalam Surat yang di dalamnya terdapat ayat anu dan ayat anu” (AD. 2:121; AH. 1:57, 69). Jadi seluruh isi Qur’an disusun sendiri oleh Nabi Suci dibawah petunjuk Roh Suci.

Penyusunan Qur’an dengan bacaan lisan

Sebenarnya jika kita mau memperhatikan betapa luas digunakannya Qur’an Suci, kita tak mempunyai angan-angan sedikit pun, bahwa pada zaman Nabi Suci Qur’an beredar tanpa tersusun ayat-ayat dan Surat-suratnya. Qur’an bukan saja dibaca pada waktu shalat, melainkan pula dihapalkan dan selalu dibaca dengan teratur untuk memelihara kesegaran ingatan. Nah, seandainya pada waktu itu tak ada susunan ayat dan Surat, niscaya orang tak akan dapat membaca itu dalam shalat jama’ah, atau menghapalkan itu. Salah sedikit saja dalam membaca ayat oleh Imam, seketika itu pula orang-orang yang bermakmum di belakangnya membetulkan kesalahan itu, sebagaimana ini dilakukan hingga zaman sekarang. Oleh karena orang tak mempunyai kebebasan untuk merobah perkataan atau tempat perkataan itu dalam suatu ayat, maka ia tak mempunyai kebebasan pula untuk merobah ayat dalam suatu Surat. Demikian pula Qur’an tak mungkin dapat dihapalkan dan dibaca secara teratur oleh para sahabat sekiranya tak ada susunan yang teratur. Nabi Suci tak mungkin dapat mengajar itu kepada orang lain, demikian pula tak mungkin Nabi Suci atau orang lain dapat mengimami shalat berjama’ah dengan membaca ayat atau Surat yang panjang-panjang jika tak ada susunan yang teratur.

Naskah Qur’an yang ditulis secara lengkap

Jadi pada zaman Nabi Suci, Qur’an talah beredar dalam susunan yang lengkap dan rapi dalam ingatan para sahabat, tetapi pada saat itu naskah yang ditulis secara lengkap belum ada, dan memang naskah semacam itu tak mungkin dibuat selagi Nabi Suci masih hidup dan masih menerima wahyu. Akan tetapi seluruh Qur’an yang tersusun menjadi satu telah tersimpan aman dalam ingatan para sahabat yang disebut qurra (ahli membaca Qur’an). Namun, sekali peristiwa, banyak para qurra gugur dalam pertempuran Yamamah yang termasyhur pada zaman Khalifah Abu Bakar. Pada saat itu Sayyidina ‘Umar mendesak kepada Abu Bakar tentang perlunya disusun naskah standard berbentuk tulisan, sehingga tak ada lagi penggalan Qur’an yang hilang, kendatipun semua qurra meninggal dunia. Naskah itu disusun bukan dari beratus-ratus naskah yang dibuat oleh para sahabat untuk kepentingan sendiri, melainkan disusun dari manuskrip yang ditulis dibawah petunjuk Nabi Suci sendiri, dan susunan yang diikuti adalah susunan bacaan-bacaan lisan yang sudah lazim pada zaman Nabi Suci. Dan kini selesailah pembuatan naskah standard berbentuk tulisan yang pemeliharaannya diserahkan kepada Siti Hafshah, puteri sayyidina ‘Umar dan isteri Nabi Suci (Bu. 66:3). Namun demikian, masih diperlukan tindakan pengamanan terhadap sejumlah besar naskah yang sudah beredar di luar. Ini dilakukan oleh Sayyidina ‘Utsman dengan menyuruh membuat berpuluh-puluh naskah yang disalin dari naskah standard yang dibuat pada zaman Abu Bakar, dan salinan naskah itu dikirim ke berbagai pusat penyiaran Islam di mana-mana agar semua naskah yang dibuat oleh seseorang harus dicocokkan dengan naskah standard di pusat-pusat penyiaran Islam.

Standarisasi Qur’an Suci

Jadi, Sayyidina Abu Bakarlah yang menyuruh membuat naskah standard yang diambil dari manuskrip yang ditulis di hadapan Nabi Suci dengan menganut susunan Surat yang lazim dianut oleh para qurra yang menghapalkan itu dibawah petunjuk Nabi Suci, lalu Sayyidina ‘Utsman menyuruh membuat beberapa salinan dari naskah standard itu. Jika sekiranya ada penyimpangan dari naskah standard, maka penyimpangan itu tak lebih dari ini, yakni, kaum Quraisy menulis suatu perkataan secara logat mereka, sedangkan Zaid menulis itu secara logat lain; tetapi Sayyidina ‘Utsman memerintahkan agar semua perkataan ditulis secara logat Quraisy. Ini disebabkan sahabat Zaid orang Madinah, sedangkan rekan-rekannya orang Quraisy. Berikut ini satu riwayat yang pernah terjadi: “Sahabat Annas bin Malik meriwayatkan bahwa pada suatu hari, sahabat Hudhaifah menghadap Sayyidina ‘Utsman, dan ia baru saja mengikuti pertempuran di Armenia bersama orang-orang Syria, dan di Azerbaijan bersama orang-orang Iraq, dan ia amat terkejut mendengar cara membaca Qur’an yang berbeda, kemudian ia melaporkan kepada Sayyidina ‘Utsman: “Wahai Amirul-mu’minin, hentikanlah mereka sebelum mereka berselisih tentang Kitab Suci sebagaimana kaum Yahudi dan kaum Nasrani berselisih tentang Kitab Suci mereka. Kemudian Sayyidina ‘Utsman melaporkan hal itu kepada Siti Khafshah dan mohon kepada beliau agar Qur’an yang ada pada beliau dikirim kepada Sayyidina ‘Utsman, dan setelah nanti dibuat beberapa salinan, naskah aslinya akan dikirim kembali kepadanya. Atas permohonan itu Siti Khafshah mengirimkan naskah asli kepada ‘Utsman, kemudian menyuruh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan Abdul-Rahman bin Harits supaya membuat beberapa salinan yang dikutip dari naskah asli. Kepada tiga orang dari golongan Quraisy, (hanya Zaid saja yang berasal dari Madinah), Sayyidina ‘Utsman berkata: “Jika kamu berselisih dengan Zaid mengenai apa pun tentang Qur’an, tullislah itu menurut logat Quraisy. Mereka mentaati perintah itu, dan setelah mereka membuat sejumlah salinan yang disalin dari naskah asli, Sayyidina ‘Utsman mengambalikan naskah asli kepada Siti Khafshah, lalu salinan naskah itu dikirim ke berbagai pusat penyiaran Islam diiringai dengan perintah agar semua naskah di luar itu, dan lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Qur’an dibakar semuanya” (Bu. 66:3). Sambil membubuhkan keterangan tambahan pada Hadits tersebut, Imam Tirmidhi menjelaskan apa yang diperselisihkan oleh golongan Quraisy dan sahabat Zaid: “Mereka berselisih tentang kata tabut dan tabuh. Golongan Quraisy berkata tabut, sedangkan Zaid berkata tabuh. Perselisihan ini dilaporkan kepada Sayyidina ‘Utsman dan beliau memberi petunjuk kepada mereka supaya ditulis tabut, sambil menambahkan. bahwa Qur’an diwahyukan dalam logat Quraisy”. Dari penjelasan itu nampak sekali bahwa perbedaan bacaan atau tulisan tidaklah seberapa, namun oleh karena para sahabat yakin bahwa tiap-tiap perkataan atau tiap-tiap huruf Qur’an itu firman Allah, maka kendati perbedaan itu tak seberapa, ini dianggap begitu penting, hingga mereka menganggap perlu untuk melaporkan itu kepada Khalifah. Perlu kiranya ditambahkan di sini bahwa selama di Madinah, Nabi Suci terutama sekali selalu memanggil Zaid untuk menulis wahyu Qur’an, dan kata tabut tercantum dalam Surat Madaniyah (2:248). Sahabat Zaid menulisnya tabuh seperti halnya orang-orang Madinah; tetapi karena menurut logat Quraisy harus ditulis tabut, maka Sayyidina ‘Utsman mengubah tulisan itu menurut logat Quraisy. Peristiwa itu menunjukkan seterang-terangnya bahwa mushaf yang ada pada Siti Khafshah berisi manuskrip yang ditulis di hadapan Nabi Suci. Dua Hadits tersebut merupakan bukti yang tak dapat dibantah lagi, bahwa seandainya ada perbedaan antara naskah standard Sayyidina ‘Utsman dan naskah yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar, perbedaan itu hanyalah dalam cara menulis kata-kata tertentu saja; dan sekali-kali tak ada perbedaan kalimat, perubahan ayat, dan tak ada pula perubahan susunan Surat.

Perbedaan Qira’at (bacaan)

Kami merasa perlu menambah sedikit keterangan tentang yang disebut beda-bedanya qira’at (bacaan) dalam Qur’an Suci. Dalam berbagai kabilah terdapat sedikit perbedaan dalam mengucapkan kata-kata Arab, tetapi yang dijadikan model bahasa sastra ialah logat Quraisy. Qur’an Suci itu diwahyukan dalam logat Quraisy sebagai bahasa sastra di negeri Arab. Tetapi menjelang akhir hidup Nabi Suci, orang-orang dari berbagai kabilah Arab datang berbondong-bondong memeluk Islam, dan ternyata mereka tidak bisa mengucapkan kata-kata tertentu menurut logat Quraisy karena sejak dari kecil mula mereka sudah terbiasa menggunakan logat mereka sendiri, pada saat inilah Nabi Suci mengizinkan mereka mengucapkan beberapa kata menurut logat mereka sendiri. Izin ini semata-mata diberikan untuk memudahkan mereka membaca Qur’an. Qur’an yang ditulis adalah satu; segala sesuatunya ditulis menurut logat Quraisy yang murni; tetapi kabilah-kabilah yang lain diperbolehkan mengucapkan itu menurut logat mereka, dan izin hanya diperuntukkan bagi kabilah itu saja. (10) Ada beberapa ayat yang orang diizinkan membaca itu menurut qira’at yang ia pilih. Qira’at yang termasuk golongan ini hanya dapat diterima berdasarkan dalil yang tak dapat dibantah lagi, dan kesahihan Hadits yang memuat qira’at semacam itu jangan diragukan. Tetapi walupun demikian, qira’at semacam itu tak diperbolehkan bagi ayat yang selamanya tetap satu dan sama. Nilai qira’at itu hanya bersifat penjelasan, artinya, qira’at itu hanya menunjukkan apakah arti yang harus diterapkan terhadap perkataan yang dicantumkan dalam ayat itu. Qira’at tak boleh sekali-kali bertentangan dengan ayat itu. Qira’at yang dimaksud hampir-hampir tak dikenal orang, sekalipun orang terpelajar, apalagi orang awam; dan itu dianggap mempunyai penilaian dari Hadits sahih dalam menjelaskan arti kata-kata tertentu yang tercantum dalam suatu ayat. Jadi yang disebut beda-bedanya qira’at ialah beda-bedanya logat, yang ini tak sekali-kali dimaksud untuk selama-lamanya, dan hanya dimaksud untuk memudahkan bacaan Qur’an bagi seseorang saja, demikian pula perbedaan yang bersifat penjelasan tetap mempunyai nilai yang sama seperti yang sudah-sudah.

Kesaksian kitab Hadits tentang kemurnian teks Qur’an Suci

Bila ada Hadits yang secara serampangan menerangkan bahwa suatu Surat atau suatu ayat yang tak terdapat dalam Qur’an Suci, merupakan bagian dari Qur’an, ini tak ada nilainya samasekali karena bertentangan dengan kesaksian kitab-kitab Hadits yang tak dapat dibantah lagi kesahihannya yang menetapkan kemurnian teks Qur’an Suci. Di satu segi, Hadits tersebut bikinan para musuh yang sengaja ingin melemahkan kedudukan Islam (11). Di segi lain, ini mungkin terjadi karena kesalah-pahaman perawi ini atau perawi itu saja. Tetapi bagaimanapun juga perlu dicari dalilnya, apakah suatu ayat menjadi bagian teks Qur’an ataukah tidak. Adalah suatu kenyataan bahwa tiap-tiap ayat Qur’an, setelah itu diwahyukan, segera diundangkan dan diumumkan bahwa ayat itu menjadi bagian dari shalat berjamaah dan dibaca berulang-ulang siang dan malam untuk didengar oleh beratus-ratus orang. Pada waktu manuskrip yang berisi tulisan Qur’an untuk pertama kali dihimpun menjadi satu jilid pada zaman Khalifah Abu Bakar, yang kemudian pada waktu itu disalin menjadi beberapa mushaf dari mushaf asli pada zaman Khalifah ‘Utsman, seluruh sahabat dengan suara bulat membuktikan bahwa tiap-tiap ayat yang terdapat dalam mushaf adalah penggalan wahyu Qur’an. Kesaksian dari orang banyak itu tak dapat begitu saja disingkirkan oleh kesaksian dari satu atau dua orang. Tetapi nyatanya, semua Hadits yang menentang kemurnian teks Qur’an Suci, hanya diriwayatkan oleh satu orang saja, dan tak pernah ada orang kedua yang memperkuat keterangannya. Jadi, jika sahabat Ibnu Mas’ud membuat pernyataan yang isinya bertentangan dengan kemurnian teks Qur’an, kesaksian sahabat Ubayya bersama seluruh sahabat, bertentangan dengan sahabat Ibnu Mas’ud; demikian pula jika sahabat Ubayya membuat pernyataan yang sama seperti tersebut di atas, sahabat Ibnu Mas’ud bersama seluruh sahabat memberi kesaksian yang bertentangan dengan pernyataan Ubayya. Jadi tak ada satu pernyataan pun yang bertentangan dengan kemurnian teks Qur’an Suci, yang ini dikuatkan oleh seorang saksi.(12)

Teori nasikh-mansukh

Bila ada pendapat bahwa beberapa ayat Qur’an dihapus oleh ayat yang lain, ini adalah teori yang sudah usang. Dua ayat Qur’an yang dianggap sebagai landasan dari teori nasikh-mansukh itu sebenarnya bertalian dengan penghapusan wahyu kitab suci yang sudah-sudah, yang kini tempatnya diambil alih oleh Qur’an Suci, dan sekali-kali tidaklah bertalian dengan penghapusan ayat-ayat al-Qur’an. Yang pertama, ayat 101 Surat al-Nahl (diturunkan di Makkah) yang berbunyi: “Dan apabila Kami mengubah suatu ayat sebagai pengganti ayat yang lain, dan Allah itu Yang Maha-tahu akan apa yang Ia wahyukan, mereka berkata: Engkau itu hanya membuat-buat saja”(16:101). Suatu kenyataan yang diakui kebenarannya oleh semua pihak, bahwa perincian syari’at Islam itu diwahyukan di Madinah; dan sehubungan dengan perincian syari’at itulah, maka teori tentang penghapusan (nasikh-mansukh) diundangkan. Oleh sebab itu, wahyu Makkiyah pasti tak membicarakan nasikh-mansukh. Tetapi yang dimaksud penghapusan oleh ayat 16:101 tersebut bukanlah penghapusan ayat-ayat al-Qur’an, melainkan penghapusan wahyu atau risalah para Nabi yang sudah-sudah, dan memasukkan itu dalam al-Qur’an. Ini dapat dilihat dengan jelas dalam hubungan ayat itu dengan ayat sebelum dan sesudahnya, karena dalam 16:101 tersebut para musuh berkata bahwa Nabi Suci adalah tukang membuat-buat. Nah para musuh menyebut Nabi Suci tukang membuat-buat, ini bukan disebabkan beliau mengumumkan tentang dihapusnya beberapa ayat al-Qur’an, melainkan karena beliau mengundangkan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang diturunkan untuk mengganti wahyu yang sudah-sudah. Mereka membantah bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu: “Yang mengajar kepadanya hanyalah manusia biasa” (16: 103). Jadi, mereka menuduh bahwa seluruh al-Qur’an adalah bikin-bikinan, dan bukan hanya satu ayat saja. Oleh sebab itu, teori nasikh-mansukh tak dapat didasarkan atas ayat 16:101 yang hanya menerangkan bahwa suatu wahyu atau suatu syari’at mengganti syari’at lain. Ayat lain yang dianggap menguatkan teori nasikh-mansukh ialah ayat 2:106 yang berbunyi: “Ayat apa pun yang Kami hapus atau Kami lupakan, pasti Kami datangkan yang lebih baik dari itu atau yang sama dengan itu” (13). Jika kami tela’ah hubungan ayat ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya, maka terang sekali bahwa yang dituju oleh ayat ini adalah kaum Yahudi atau para pengikut Kitab Suci yang sudah-sudah. Berulangkali mereka disebutkan dalam Qur’an Suci: “Kami beriman kepada apa yang diwahyukan kepada kami; dan mereka mendustakan apa yang di luar itu” (2:91). Maka dari itu mereka diberitahu bahwa jika suatu wahyu (syari’at) dihapus, ini hanyalah untuk diganti dengan wahyu (syari’at) yang lebih baik. Ayat tersebut bukan hanya menerangkan penghapusan saja, melainkan pula menerangkan apa yang telah dilupakan. Nah, kata-kata “atau yang dilupakan” itu yang dituju bukanlah Qur’an Suci, karena tak ada satu pun ayat Qur’an yang dikatakan “telah dilupakan”lalu diganti dengan wahyu yang baru. Sungguh tak pantas sekali untuk menganggap bahwa mula-mula Allah membuat Nabi Suci melupakan suatu ayat, lalu menggantinya dengan ayat yang lain. Jika beliau benar-benar lupa akan suatu ayat, mengapa Tuhan tak mengingatkan beliau terhadap ayat yang dilupakan itu? Tetapi jika seandainya kita menduga bahwa ingatan beliau pernah mengalami ketidakmampuan dalam mengingat suatu ayat (yang ini sebenarnya tak pernah terjadi), ayat itu telah tersimpan dengan aman dalam tulisan, dengan demikian ketidak mampuan beliau dalam mengingat-ingat suatu ayat, ini tak memerlukan penggantian ayat baru. Bahwa Nabi Suci tak pernah lupa akan apa yang dibacakan oleh malaikat Jibril kepada beliau, ini dijelaskan seterang-terangnya dalam Qur’an Suci: “Kami akan membacakan kepada engkau, maka engkau tak akan lupa” (87:6). Sejarah juga membuktikan bahwa beliau tak pernah lupa akan bagian apa saja dari wahyu al-Qur’an. Tempo-tempo Surat yang amat panjang diwahyukan kepada beliau sekaligus, seperti misalnya Surat al-An’am (Surat 6), yang meliputi duapuluh ruku’. Dalam hal ini beliau menyuruh supaya para sahabat supaya menghapalkan itu dan membaca itu dalam shalat berjamaah, dan semua itu dikerjakan tanpa perubahan apa pun, sekalipun hanya satu huruf, walaupun beliau tak dapat membaca sendiri naskah yang ditulis, dan menurut kebiasaan, naskah yang ditulis itu tak disimpan oleh beliau. Sungguh suatu keajaiban, bahwa beliau tak pernah lupa akan suatu bagian dari al-Qur’an sekalipun beliau dapat lupa akan hal-hal lain; dan kelupaan beliau akan hal-hal lain itulah yang dituju oleh ayat yang berbunyi: “selain apa yang Allah kehendaki” (87:7). Sebaliknya banyak sekali bagian wahyu al-Qur’an, untuk mengganti wahyu zaman dahulu yang sudah dihapus dan dilupakan oleh dunia.

Footnote:

1. Pada umumnya, ulama mengajarkan bahwa sumber agama Islam ada empat, yaitu Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas. Qur’an dan Sunnah (Hadits) disebut al-adillatul-qat’iyyah atau dalil yang mutlak benar, sedang ijma’ atau kesepakatan pendapat di antara jamaah kaum Muslimin, dan Qiyas atau penggunaan akal disebut al-adillatul-ijtihadiyyah artinya dalil yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Tetapi oleh karena menurut pengakuan ulama, ijma dan qiyas itu didasarkan atas Qur’an dan Hadits, sedangkan Hadits itu sendiri hanya merupakan pejelasan Qur’an Suci, (hal ini akan kami terangkan nanti), maka Qur’an Suci benar-benar merupakan asas hakiki yang di atas itu berdiri seluruh bangunan Islam, dan merupakan satu-satunya dalil yang mutlak dan menentukan dalam setiap pembahasan yang berhubungan dengan ajaran dan syari’at Islam; dan tak salah jika dikatakan bahwa Qur’an adalah satu-satunya sumber yang dari sumber ini diambil segala ajaran dan amalan agama Islam.

2. Kata Qur’an adalah isim masdar (bentuk infinitif) dari akar qoroa yang makna aslinya mengumpulkan barang-barang menjadi satu (LL). Kata ini berarti pula membaca, karena dalam membaca, huruf dan kata-kata dihubungkan satu sama lain menjadi susunan kalimat (R). Menurut sebagian ulama, Kitab ini dinamakan Qur’an di antara kitab suci Allah di dunia, karena dalam Qur’an ini terhimpun sekalian hasil kitab suci yang sudah-sudah, malahan merupakan pula kumpulan hasil segala ilmu yang diisyaratkan dalam ayat: “Satu Kitab yang menjelaskan segala sesuatu” (12:111) (R). Qur’an berarti pula kitab yang dibaca atau tetap dibaca; satu nama yang mengandung ramalan bahwa Qur’an adalah “kitab yang paling luas dibaca” (Enc. Br.) di seluruh dunia. Qur’an Suci menamakan diri dengan berbagai nama yang lain. Qur’an disebut al-Kitab (2:2) artinya, Tulisan yang lengkap dengan sendirinya; al-Furqan (25:1) artinya, Yang membedakan antara yang benar dengan yang salah dan antara kebenaran dan kepalsuan; al-Dhikra, al-Tadhkirah (15:9) artinya, Peringatan atau sumber kemuliaan dan keagungan bagi manusia; al-Tanzil (26:192) artinya, Wahyu yang diturunkan dari atas; Ahsanal-hadits (39:23) artinya, Firman yang amat baik; al-Mauidhah (10:57) artinya, Teguran; al-Hukum (13:37) artinya, Hukum; al-Hikmah (17:39) artinya, Kebijaksanaan; as-Syifa (10:57) artinya, Yang menyembuhkan; al-Huda (72:13) artinya, Petunjuk; al-Rahman (17:82) artinya, Kemurahan; al-Khair (3:103) artinya, Kebaikan; al-Ruh (42:52) artinya, Roh atau Daya hidup; al-Bayan (3:127) artinya, Penjelasan; al-Nikmah (93:11) artinya, Nikmat; al-Burhan (4:175) artinya, Bukti yang terang; al-Qayyim (18:2) artinya, Yang memelihara; al-Muhaimin (5:48) artinya, Yang menjaga; al-Nur (97:157) artinya, Cahaya; al-Haqq (17:81) artinya, Kebenaran. Selain itu, Qur’an disebut pula dengan berbagai nama lain; ada pula nama yang menunjukkan sifatnya, misalnya Qur’an disebut Kariim (56:77) artinya, Yang mulia; Majid (85:21) artinya, Yang agung; Hakim (36:2) artinya, Yang bijaksana; Mubarraq (21:50) artinya, Yang diberkahi (makna aslinya, sesuatu yang kebaikannya tak pernah diputus); Mubin (12:1) artinya, Yang membuat sesuatu menjadi terang; al-‘Aliyyi (43:4) artinya, Yang luhur; Fashl (86:13) artinya, Yang menentukan; ‘Azhim (39:67) artinya, Yang maha penting; Mukarram artinya Yang dihormati; Marfu’ artinya Yang ditinggikan; Muthhaharah artinya, Yang disucikan (80:3-14); Mutasyabih (39:23) artinya, Yang bersesuaian dengan berbagai bagian

3. Lailatul-Qadar atau Malam nan Agung adalah salah satu dari tiga malam di bulan Ramadlan, antara tanggal 25, 27, atau 29, yaitu pada malam hari menjelang salah satu dari tanggal tersebut (Bu. 32:4). Pada waktu wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Suci, usia beliau empatpuluh tahun.

4. Hendaklah diingat bahwa secara silih berganti, Qur’an Suci menggunakan kata-kata Roh Suci dan Jibril. Dalam salah satu Hadits yang menerangkan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Suci, malaikat yang membawa wahyu itu disebut Namusul-Akbar, artinya Namus besar. Kata Namus artinya Malaikat yang kepadanya dipercayakan rahasia Tuhan (N). Rahasia Tuhan ialah Risalah Tuhan yang diturunkan kepada manusia melalui para Nabi. Hadits itu menambahkan bahwa malaikat yang mengemban wahyu al-Qur’an ialah malaikat yang mengemban wahyu kepada Nabi Musa as. Jadi, baik Qur’an Suci maupun Hadits, dua-duanya menjelaskan bahwa malaikat yang mengemban wahyu Ilahi kepada Nabi Suci dan kepada para Nabi sebelumnya adalah malaikat Jibril yang dinamakan pula Roh Qudus, Ruhul-Amin atau Namus Akbar. Ini menghilangkan segala keraguan tentang siapa sebenarnya yang dimaksud Roh Qudus menurut agama Islam, dan sesuai keterangan para Nabi yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama, demikian pula keterangan Yesus Kristus, arti Roh Qudus itu sama seperti tersebut di atas. Memang benar bahwa keterangan mereka tak sama gamblangnya seperti dalam Islam, akan tetapi benar pula bahwa konsepsi Kristen Orthodox tentang Roh Qudus, tak dikenal samasekali oleh kaum Yahudi, padahal Yesus Kristus sendiri seratus persen orang Yahudi, dimana istilah yang beliau gunakan seluruhnya diambil dari kaum Yahudi. Menurut istilah Kitab Perjanjian Lama, bentuk kata-kata yang digunakan ialah Roh, atau Roh Tuhan. Dalam Kitab Mazmur 51:11, dan Kitab Nabi Yesaya 3:10-11, bentuk kata-kata yang digunakan ialah Roh Qudus, yang bentuk kata ini digunakan pula dalam Talmud dan Midrash. Kata Roh Suci khusus digunakan oleh para penulis. Kitab Perjanjian Baru. Kaum Yahudi menganggap ini sebagai makhluk; ia termasuk sepuluh barang yang diciptakan oleh Allah pada hari pertama (En. J.). Tugas Roh Suci itu dilukiskan sebagai berikut: “Menurut pengertian kaum Yahudi, hasil pekerjaan Roh Suci yang nampak ialah Kitab Bebel, yang sekalian Kitab disusun dengan ilham Roh Suci. Semua Nabi berkata: “dalam Roh Suci”, dan pertanda hadirnya Roh Suci yang paling menonjol ialah kecakapan meramal, dalam arti, orang yang ketempatan Roh Suci tahu akan hal-hal yang sudah lampau dan akan datang. Dengan meninggalnya tiga Nabi terakhir, yaitu Hajai, Zakaria dan Maleakhi, Roh Suci berhenti menjelma di kalangan bangsa Israel” (En. J.). Dari uraian tersebut terang sekali bahwa menurut pendapat kaum Yahudi, Roh Suci mengemban wahyu kepada para Nabi; satu-satunya perbedaan antara pengertian kaum Yahudi dan pengertian Islam, ialah, Islam memandang wahyu sebagai Firman yang keluar dari sumber Ketuhanan, sedang kaumYahudi menganggap wahyu sebagai kata-kata yang keluar dari para Nabi yang berbicara dibawah pengaruh Roh Suci. Sebenarnya Yesus Kristus dan murid-murid beliau menggunakan kata Roh Suci dalam arti yang sama. Pengalaman Yesus tentang Roh Suci yang pertama berupa seekor burung merpati adalah hasil dibaptisnya beliau oleh Nabi Yahya (Matius 3:16) yang agaknya ini mengisyaratkan hubungan Roh Suci dengan tahap tertentu dalam perkembangan rohani manusia. Roh Suci tak turun kepada beliau, sampai beliau dibaptis terlebih dulu. Pengertian Roh Suci yang menyerupai burung merpati, ini juga terdapat dalam perpustakaan Yahudi. Selain itu, Yesus Kristus berkata, bahwa Roh Suci memberi ilham kepada hamba Allah yang tulus: “Kalau begitu, bagaimana Daud itu sendiri memanggil Dia Tuhan dengan ilham Roh” (Matius 22:43).”Karena Daud itu sendiri sudah berkata dengan jalan Rohul-Kudus” (Markus 12:36). “Rohul-Kudus akan diberikan kepada orang yang memohon dari padanya” (Lukas 11:13). Pengalaman pertama para murid Nabi ‘Isa tentang Roh Suci, ini pun merupakan ulangan kepercayaan kaum Yahudi zaman dahulu. Oleh karena menurut kepercayaan Yahudi Roh Suci itu datang dengan “suara yang amat gempita” (Kitab Yehezkiel 3:12), maka demikianlah dalam hal para murid Nabi ‘Isa. “Maka sekonyong-konyong turunlah dari langit suatu bunyi seolah-olah serbuan angin yang besar” (Kisah perbuatan para Rasul 2:2). Jadi, Roh Suci menurut pengertian Yesus dan para muridnya sama seperti pengertian para Nabi dalam Kitab Perjanjian Lama, hampir sama pula dalam pengertian Islam. Adapun pendapat kaum Kristen Orthodox bahwa Roh Suci merupakan salah satu dari Tiga Oknum Ketuhanan yang sama kekalnya dengan Tuhan, ini baru timbul belakangan saja.

5. Imam Raghib memberi keterangan yang agak berlainan, beliau berpendapat bahwa wahyu bukan hanya mencakup inspirasi atau angan-angan yang masuk ke dalam kalbu saja, melainkan mencakup pula tasykhir yaitu membuat ssesuatu mengikuti jalan yang selaras dengan hukum alam; misalnya wahyu yang diberikan kepada lebah (16:68), dan mencakup pula manam atau impian. Adapun bentuk wahyu yang disebut dari belakang tirai, Imam Raghib berpendapat bahwa ini diterapkan kepada Nabi Musa yang menurut pendapat beliau, Cara Allah berfirman kepada Nabi Musa adalah berlainan dengan Cara Dia berfirman kepada para Nabi lain, dikatakan Dia berfirman kepada Nabi Musa, sedangkan Dia tidak kelihatan. Pendapat Imam Raghib tentang wahyu kepada lebah adalah keliru karena ayat 42:51 hanya menerangkan, bagaimana cara Allah berfirman kepada manusia. Demikian pula tentang cara Nabi Musa menerima wahyu, ini juga keliru, karena Qur’an menerangkan dengan jelas bahwa bentuk wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad sama dengan bentuk wahyu yang diberikan kepada para Nabi sebelumnya, termasuk pula kepada Nabi Musa. Qur’an berfirman: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepada engkau sebagaimana Kami mewahyukan kepada Nuh dan para Nabi sesudahnya” (4:163). Dan sehubungan dengan itu, dalam ayat 164, Nabi Musa disebutkan secara khusus. Oleh sebab itu, bentuk wahyu yang nomor dua, yakni dari belakang tirai, ini ditujukan kepada ru’yah atau impian dan kasyaf atau visiun, karena dalam hal ini orang diperlihatkan impian yang mempunyai arti yang lebih dalam daripada apa yang terlihat dalam impian itu. Impian atau visiun mengandung suatu arti, tetapi arti itu seakan-akan diselubungi, dan arti impian itu harus dicari dari belakang tirai, sebagai misal ialah impian yang disebutkan dalam Qur’an Surat 12, Nabi Yusuf melihat matahari dan bulan dan sebelas bintang bersujud kepada beliau, dan impian ini mengandung arti kebesaran dan ketajaman penglihatan beliau akan sesuatu. Raja melihat tujuh ekor sapi kurus menelan tujuh ekor sapi gemuk, dan arti impian ini ialah, tujuh tahun kelaparan dan kesukaran akan terjadi sesudah tujuh tahun penuh makanan dan menelan habis gudang gandum negeri itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman dari belakang tirai, artinya Ia mewahyukan suatu kebenaran dalam mimpi atau visiun. Menurut Hadits Nabi, wahyu semacam itu disebut mubasysyarat. Rasulullah saw bersabda: “Tiada lagi tersisa wahyu nubuwwat (wahyu kenabian), kecuali mubasysyarat”. Pada waktu ditanyakan, apakah arti mubasyarat itu? Nabi Suci menjawab: “Impian yang baik” (Bu. 91:4). Dalam golongan ini tercakup pula kata-kata yang diucapkan oleh sebagian hamba Allah yang tulus, atau yang didengar olehnya dibawah pengaruh Roh Suci

6. Beberapa kritikus sesat menggambarkan pengalaman Nabi Suci dikala menerima wahyu yang luar biasa itu sebagai terkena serangan penyakit ayan. Masalahnya, apakah orang yang sakit ayan, kalau benar diserang penyakit itu, mengapa ia dapat mengucapkan kebenaran-kebenaran ajaran agama yang luhur yang terdapat dalam Qur’an Suci, atau dapat membuat pernyataan yang berpautan satu sama lain (coherent) atau dapat mempunyai kemauan keras, yang akhirnya mampu membuat seluruh tanah Arab tunduk kepadanya, atau dapat memiliki kekuatan yang tak ada taranya yang kita saksikan pada setiap segi kehidupan Nabi Suci, atau memiliki akhlak yang luhur, atau menjadi satria utama yang karena daya tariknya yang begitu besar, dapat membersihkan seluruh negeri Arab dari penyembahan berhala dan kepercayaan tahayul yang amat keji menjadi berbudaya dan berakhlak tinggi, atau dapatkah beratus-ratus ribu orang Arab yang memiliki watak berbeda, mengangkat beliau sebagai pemimpin mereka yang perintah-perintahnya sangat ditaati sampai-sampai tingkah lakunya yang sekecil apapun diikuti; atau dapatkah ia menghasilkan orang-orang yang berwatak dan bercita-cita luhur seperti Abu Bakar dan ‘Umar dan beribu-ribu sahabat lainnya, yang kerajaan-kerajaan besar hancur luluh menghadapi mereka? Dongeng tentang buih yang keluar dari mulut beliau pada waktu beliau menerima wahyu, adalah isapan jempol belaka. Dalam buku The Religion of Islam, halaman 8, Tuan F.A. Klein, membuat keterangan yang katanya berdasarkan Hadits Bukhari sebagai berikut: “Hadits yang lain mengatakan bahwa buih keluar dari mulutnya, dan ia menguak seperti anak unta”. Terus terang Imam Bukhari tak pernah membuat pernyataan seperti itu, seperti yang beliau tunjukkan dalam Haditsnya (Bu. 1:2). Di lain tempat dia berkata: “Wajah Rasulullah merah dan mulut beliau mendengkur” (Bu. 25:17). Pernyataan seperti itu banyak ditemukan dalam Hadits-Hadits lain yang menyerupai seperti Hadits yang dikutip Imam Bukhari. Misalnya dalam Sahih Muslim, ada satu Hadits yang berbunyi: “Apabila wahyu datang kepada Nabi Suci, beliau nampak seakan dalam keadaan susah dan wajah beliau nampak pucat.” Dan menurut Hadits lain, apabila wahyu datang kepada Nabi Suci, beliau menundukkan kepala, dan para sahabat juga berbuat demikian, dan setelah itu selesai, beliau mengangkat kepala kembali. Semua pernyataan tersebut, dan pernyataan semacam itu yang termuat dalam Kitab Hadits lain, hanya menunjukkan bahwa turunnya wahyu menyebabkan perubahan sungguh-sungguh pada diri Nabi Suci, yang ini banyak disaksikan oleh para sahabat. Masih ada salah paham lain yang perlu pula dilenyapkan. Tatkala Nabi Suci menceritakan pengalaman pertama kepada isterinya, Siti Khadijah, beliau menambahkan kata-kata seperti ini: “Laqad khasyitu ‘ala nafsi, artinya:”Aku sungguh merasa takut pada diriku sendiri” (Bu. 1:1). Ucapan ini disalah-mengertikan oleh salah seorang kritikus dengan arti bahwa Nabi Suci merasa takut kemasukan roh jahat. Ada lagi riwayat yang agak menggelikan dari ibnu Hisyam, yang ini digunakan oleh kritikus tersebut untuk memperkuat pendapatnya, yaitu, setelah Siti Khadijah membuka selimutnya, lalu pergilah malaikat. (Satu cerita yang tak ada dasarnya samasekali dan bertentangan dengan fakta sejarah Nabi Suci). Bagi kami, cerita tersebut sangat menggelikan karena, malaikat menampakkan diri bukan di hadapan Siti Khadijah, akan tetapi di hadapan Nabi Suci sewaktu di Goa Hira yang sunyi. Jika kita mau memperhatikan sejenak, kata-kata yang tercantum dalam Hadits tersebut, terang sekali bahwa Hadits itu tak mungkin ditafsirkan begitu. Nabi Suci tahu benar bahwa beliau menerima risalah Ilahi untuk memperbaiki kebobrokkan umat manusia, apa yang beliau takutkan ialah ketidak-berhasilan beliau dalam melaksanakan perbaikan yang didambakan. Demikian pengertian Siti Khadijah mengenai Hadits tersebut, karena seketika itu juga Siti Khadijah menghibur Nabi Suci dengan kata-kata: “Tidak, demi Allah! Allah tak mungkin menyusahkan dikau, karena engkau sungguh-sungguh berbuat baik kepada sanak kerabat, dan memikul beban kaum lemah, dan menjalankan pekerjaan untuk orang lain yang tak mampu. Engkau bersikap ramah terhadap tamu, dan memberi pertolongan jika ada kesengsaraan” (Bu. 1:1). Isteri yang setia, yang mengenal beliau dari dekat selama limabelas tahun, menyebut satu demi satu sifat-sifat luhur yang ada pada beliau, ini untuk membuktikan bahwa orang yang mempunyai sifat semacam itu pasti tak akan gagal dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya, yaitu tugas memperbaiki kebobrokkan manusia.

7. Hanya ada satu Hadits yang agaknya mengandung arti, bahwa pada suatu hari para sahabat yang sedang duduk bersama Nabi Suci melihat malaikat Jibril dalam bentuk manusia, tetapi peristiwa itu tidaklah diriwayatkan sehubungan dengan wahyu Qur’an. Menurut Hadits itu, ada seorang laki-laki yang tak seorang sahabat pun mengenalnya, ia datang kepada Nabi Suci dan menanyakan kepada beliau berbagai persoalan tentang iman, Islam dan ihsan, dan yang terakhir, bilamanakah terjadinya Hari Kiamat. Setelah selesai, ia menghilang secara ajaib, dan Nabi Suci diriwayatkan bersabda: “Dia adalah malaikat Jibril yang datang untuk mengajar kamu tentang agama kamu” (Bu. 2:37). Boleh jadi yang dimaksud beliau ialah, jawaban-jawaban beliau adalah ajaran malaikat Jibril. Jadi bukan berarti orang yang mengajukan pertanyaan kepada beliau itu malaikat Jibril.

8. Masalah ini dibahas seterang-terangnya dalam Mukaddimah Terjemah Qur’an Suci dan Tafsir yang kami tulis dalam bahasa Inggris (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), demikian pula buku kecil sari Qur’an Suci dengan judul Collection and Arrangement of the Holy Qur’an.

9. Di antara para sahabat yang biasa dipanggil oleh Nabi Suci untuk menuliskan penggalan-penggalan Qur’an Suci setelah itu diwahyukan, ialah Zaid bin Tsabit, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zubair, Ubbayy, Hanzala, Abdullah bin Sa’d, Abdullah bin Arqam, Abdullah bin Rawahah, Syarhubail, Khalid dan ‘Abas bin Sa’id dan Mu’aiqab (FB. IX, hal. 19). Setelah zaman Madinah, terutama sekali Zaid bin Tsabit yang dipanggil untuk tugas penulisan wahyu, dan jika berhalangan, ia diganti oleh juru tulis yang lain, dan itulah sebabnya mengapa sahabat Zaid yang dipilih untuk mengumpulkan naskah Qur’an pada zaman Khalifah ‘Utsman. Pada zaman Makkah permulaan, orang yang ditugasi menulis penggalan-penggalan Qur’an yang diwahyukan ialah Abu Bakar, ‘Ali, Siti Khadijah, isteri Nabi Suci, dan beberapa sahabat lainnya. Dalam segala keadaan Nabi Suci amat memperhatikan agar seorang juru tulis dan alat tulis-menulis selalu tersedia, bahkan pada waktu beliau sedang hijrah ke Madinah pun, beliau tak lupa membawa alat tulis (Bu. 63:45).

10. Di sini kami berikan beberapa contoh tentang beda-bedanya qira’at (bacaan). Misalnya, kata hatta (artinya, sampai), oleh kabilah Hudhail diucapkan ‘atta. Kata ta’lamu (artinya kamu tahu) oleh kabilah Asad diucapkan ti’lamun. Huruf hamzah salah satu huruf Arab, dibaca terang oleh kabilah Tamim, tetapi oleh kabilah Quraisy tidak. Arti itu dijelaskan dalam satu Hadits dimana Nabi Suci menambahkan keterangan: “Oleh sebab itu, bacalah itu menurut cara yang engkau anggap mudah membacanya” (Bu. 66:5). Dengan kata lain, Nabi Suci memberi izin untuk mengucapkan suatu perkataan menurut cara yang ia anggap paling mudah. Dalam arti kata yang sesungguhnya perbedaan-perbedaan itu bukan hanya mengenai qira’at saja. Dalam hal yang luar biasa, orang yang tak dapat mengucapkan suatu perkataan, dapat menggantinya dengan perkataan yang sama artinya. Namun, ini bukanlah masalah perbedaan qira’at, karena izin itu hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja dan perbedaan semacam itu tak pernah dimasukkan dalam teks Qur’an yang sudah ditulis.

11. Misalnya, Imam Muslim menguraikan suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa, yang menerangkan bahwa ada surat yang panjangnya dan pentingnya sama dengan surat 9, yang dari surat itu ia hanya ingat satu ayat saja. dalam kitab Mizanu-l-I’tidal, sebuah kitab yang menyelidiki keadaan orang yang meriwayatkan Hadits (rawi), diterangkan bahwa Suwaid yang meriwayatkan Hadits tersebut kepada Imam Muslim, adalah orang Zindiq (orang yang menyembunyikan kekafirannya), dan hanya lahirnya saja beragama Islam; dengan demikian, jelaslah bahwa Hadits itu hanya bikin-bikinan, sebagaimana ditunjukkan oleh inti persoalannya. Empat Hadits lainnya yang menerangkan bahwa ada beberapa ayat yang tak dimuat dalam teks Qur’an Suci, dapat digolongkan sebagai Hadits bikin-bikinan.

12. Dalam banyak hal, kesaksian intern pun menunjukkan bahwa Hadits itu tak dapat dipercaya. Misalnya ada satu Hadits yang katanya diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah yang menerangkan sebagai berikut: “Pada zaman Nabi Suci, Surat al-Ahzab (Surat 33), terdiri dari 200 ayat. Pada waktu sayyidina ‘Utsman menulis mushaf, beliau hanya dapat mengumpulkan ayat yang sekarang terdapat di dalam Surat itu”. Siti ‘Aisyah tak pernah mengucapkan kata-kata itu karena beliau tahu benar bahwa Sayyidina ‘Utsman tak pernah menghimpun mushaf, beliau hanya menyuruh menyalin beberapa mushaf dari mushaf yang ada pada Siti Khafshah. Pengertian yang salah bahwa Sayyidina ‘Utsman menghimpun Qur’an Suci, ini timbul belakangan, dan ini membuktikan seterang-terangnya bahwa Hadits itu hanya bikin-bikinan. Demikian pula kata-kata yang diakukan sebagai kata-kata Sayyidina ‘Utsman tentang hukum rajam (si terhukum dilempari batu sampai mati) bagi orang yang menjalani perbuatan zina, ini juga bikin-bikinan. Diriwayatkan bahwa Sayyidina ‘Umar berkata: Jika aku tak kuatir terhadap orang-orang yang melancarkan tuduhan, bahwa ‘Umar menambahkan sesuatu pada Kitab Suci Allah, niscaya aku akan menulis tentang hukum rajam itu dalam Qur’an Suci” (AD. 37:23). Dalam pernyataan itu sendiri terdapat pertentangan, yakni jika hukum rajam itu merupakan bagian Qur’an, mengapa orang mesti melancarkan tuduhan bahwa Sayyidina ‘Umar menambahkan sesuatu kepada Kitab Suci Allah?

13. Terjemahan yang diberikan oleh Tuan Sale terhadap ayat itu amatlah menyesatkan dan memperdayakan kebanyakan pengarang tentang keIslaman yang tak mengerti kata-kata. Kata nunsiha beliau terjemahkan: Kami menyebabkan engkau lupa. Dalam ayat itu dicantumkan perkataan yang berarti engkau. Karena kesalahan yang sedikit ini, membuat ayat itu berarti Allah telah menyebabkan Nabi Suci melupakan suatu ayat, padahal kata-kata aslinya tak menerangkan Nabi Suci telah melupakan suatu ayat; kata-kata aslinya hanyalah mengandung arti bahwa dunia telah melupakan itu.

Sumber:  Islamologi, (The Religion of Islam) oleh  Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: