Tafsir Surat (83) At-Tatfif (Melalaikan kewajiban)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini, At-Tatfif (Melalaikan kewajiban), termasuk golongan wahyu permulaan yang turun pada masa awal Mekkah. Jika dalam surat sebelumnya, Al-Infitar (Terbelah), mengungkapkan rahasia pencatatan amal perbuatan kita baik berupa amal kebaikan dan kejahatan yang terekam rapi dan tiada yang terlewat sedikitpun sehingga manusia dapat dibagi dalam dua klasifikasi golongan, yakni golongan manusia yang  tulus atau manusia golongan jahat, maka didalam surat ini kita disajikan tentang gambaran lebih lanjut dari dua klasifikasi golongan tersebut.

al_mutafifin

Tafsir selengkapnya sebagai berikut:

1. Celaka sekali bagi orang yang curang.

Mutaffifin (orang yang curang) merujuk kepada mereka yang menakar lebih dari apa yang seharusnya mereka dapat, apakah hal ini menyangkut kewajiban mereka kepada Allah ataupun kewajiban kepada sesama manusia. Lebih lanjut dikatakan mengenai sikap mereka dalam ayat-ayat berikutnya;

2. Yang jika mereka menakar dari orang lain, mereka menakar dengan penuh.

3. Dan jika menakar untuk orang lain atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi itu.

Gambaran diatas merupakan penjelasan yang indah tentang perilaku curang manusia dalam pemenuhan kewajibannya kepada Allah dan sesamanya, karena, kecurangan itu sepanjang menahan hak orang lain yang dilakukan akan menjadi akar yang menumbuhkan segala cabang kejahatan yang lainnya didunia ini – penjualan produk bermutu rendah dengan harga yang setinggi mungkin, atau dengan cara lain, si penjual berusaha membodohi si pembeli, sedangkan yang lain berusaha memperoleh komoditi terbaik dengan harga yang serendah-rendahnya.

Pendeknya, masing-masing golongan berusaha memperdayai yang lain sehingga segala siasat digunakan dan hal ini lumrah terjadi di segala macam komoditas perdagangan – mulai dari toko daging, hingga kios kelontong di pasar, sampai outlet permata. Di dunia modern, pariwara dan kemasan yang nampak mewah adalah sarana untuk menyebarluaskan praktek penipuan ini karena sering terjadi klaim yang berlebihan dilakukan menyangkut produk tersebut dengan iklan yang penuh daya tarik, tetapi ketika si pembeli memeriksa produk yang dibelinya baru dia sadar bahwa dia terjerat tipu dayanya.

Kelakuan ini bertolak-belakang dengan perilaku Nabi Suci Muhammad SAW. yang bahkan sebelum pengangkatannya sebagai nabi, beliau telah berniaga ke Syria dalam kafilah dagang Siti Khadijah r.a. dimana barang dagangan dipercayakan sepenuhnya kepada beliau. Praktek perniagaan beliau adalah memberi tahu pembeli tentang kualitas komoditas yang pasti dari barang dagangannya – bila komoditas itu kelas satu, beliau pujikan sebagai barang kelas satu; bila komoditas itu mengandung kekurangan tertentu, beliau menunjukkannya dengan cermat dan benar, sehingga hasilnya orang-orang segera tumbuh kepercayaannya kepada beliau sedemikian besar sehingga seluruh barang dagangannya akan segera habis terjual.

Begitu pula, contoh perilaku yang mulia ini diikuti oleh mereka yang senang bersahabat dengan beliau yakni para Sahabat Rasulullah. Suatu ketika seorang pemuda mendekati seorang sahabat Nabi Suci dengan seekor kudanya  dan pemuda itu ternyata ingin menjual kudanya pada harga tertentu. Sahabat itu berkata kepada si pemuda : “Coba suruh kudamu berjalan”. Si pemuda  itu menurutinya, lalu sahabat itu berkata: “Anakku, engkau tidak tahu nilai sebenarnya dari kudamu. Binatang ini berharga seratus dirham (koin emas) lebih mahal dari permintaanmu”. Kemudian dia meminta pemuda tadi menunjukkan bagaimana kuda itu ditunggangi. Ketika beliau melihat betapa nyaman kuda tersebut ditunggangi, maka beliau menambah lagi seratus dirham atas harganya. Setelah itu, beliau meminta agar kudanya berjalan, si pemuda tersebut berbuat sesuai dengan yang diminta, dan melihat hal itu  sahabat Nabi Suci menambah lagi seratus dirham atas harganya sambil berkata: “Anak muda, kuda ini harga  pasarannya jauh lebih mahal daripada yang kautawarkan tetapi engkau tidak mengetahuinya. Namun, saya tidak mau mengambil untung haram dari ketidak-tahuanmu”. Dan demikianlah, dengan membayar beberapa kali lipat dibanding harga yang ditawarkan, beliau membeli kuda itu.

Sungguh ini adalah contoh akhlak yang mulia dan luhur dari ketulusan, namun, setidaknya dalam berdagang kita jangan memberi lebih sedikit dari yang diminta oleh komoditas itu, sebab kalau kita ingin barang kita dibayar penuh, mengapa kita tidak memperlakukan orang lain dengan sama?

Kita harus ingat bahwa mengukur dan menimbang yang disebutkan dalam ayat-ayat ini tidaklah dibatasi untuk biji-bijian dan barang dagangan atau menakar cairan, tetapi, sesungguhnya, mencakup segala aspek hak kewajiban kita dalam hubungan sosial. Menghambat ukuran yang benar adalah suatu racun terhadap segala cabang kehidupan. Orang lain meminta hak mereka dari kita dan bila mereka merasa kurang, maka mereka cepat-cepat memprotes dan menjadi marah dan bahkan bertengkar. Tetapi sebaliknya bila menguntungkan kita, mereka tidak memperlihatkan keinginan sedikitpun untuk berbuat demikian. Apa yang terjadi dengan kita juga menemukan pasangannya dalam pelayananpada institusi Pemerintah. Misalnya, seorang pejabat kesehatan pemerintah membawa isterinya jalan-jalan dengan mobilnya di suatu senja dan kemudian meminta ganti untuk biaya perjalanan dengan menyatakan secara tidak benar bahwa dia ditunjuk untuk pergi ke suatu desa tertentu  untuk keperluan dinas. Ini sesungguhnya adalah penipuan dan korupsi.

Begitu pula, seorang isteri meminta hak dari suami yang sebaliknya mengharapkan yang sama darinya tetapi keduanya tidak ingat akan kewajibannya kepada yang lain. Dan hal yang sama terdapat  antara orang-tua dengan anak-anaknya, begitu pula dengan teman, kerabat maupun tetangga. Bila kita sedang sakit atau mengalami semacam kesedihan atau berkabung, kita mengharap mereka memberikan pertolongan serta belasungkawa dan kita mengucapkan sejuta keluh-kesah bila mereka sedikit saja tidak memenuhi harapan kita. Tetapi bila kita dalam posisi yang sama, kita tidak menunjukkan sedikitpun kecenderungan untuk membalas budinya dan memberikan alasan tak terhitung karena tidak beserta mereka. Dengan perkataan lain, bila orang lain kurang memenuhi kewajibannya kepada kita, maka kita mencari-cari kesalahan dan keberatan dan membuat berbagai macam keluh-kesah tetapi kita tidak menerapkan ketelitian yang sama terhadap perbuatan kita sendiri. Sesungguhnya, sebagai ganti mencari-cari kesalahan  dan melihat seberapa jauh orang lain melakukan kewajibannya sebagai prajurit Yang Maha-kuasa, lebih baik kita memeriksa terlebih dahulu perbuatan kita sendiri untuk melihat apakah kita sudah memenuhi kewajiban kepada orang lain yang diperintahkan ataukah belum, karena kita hanya akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung-jawab kita.

Sikap yang sama juga mencakup  kewajiban kita terhadap Allah Ta’ala. Kita berharap atas segala rahmat dan kasih-sayang dari-Nya tetapi kita secara terang-terangan kurang menjalankan kewajiban kita kepada-Nya. Jika, barangkali  kita menderita musibah yang telah ditetapkan Ilahi, kita melupakan segala rahmat dan ampunan-Nya yang tak terhingga kepada kita siang dan malam, serta naudzubillah, kita siap untuk berperang melawan-Nya. Sebaliknya, kita tidak menganalisa perbuatan kita untuk menemukan sampai seberapa derajat ketaatan kita kepada-Nya. Sungguh, betapa benar firman yang Maha-kuasa bahwa Dia menurunkan wahyu-Nya kepada kita dalam ayat-ayat di atas berkaitan dengan keadaan celaka orang-orang yang curang. Dia mengatakan selanjutnya bahwa orang semacam itu tidak ingat bahwa mereka akan mati dan harus berdiri di hadlirat Tuhannya serta mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya.

4.  Tidakkah mereka mengira, bahwa mereka akan dibangkitkan?

5.  Pada hari yang besar.

6.  Pada hari tatkala manusia berdiri di hadapan Tuhan sarwa sekalian alam.

Dengan menyebut Hari Kebangkitan itu sebagai yaumin ‘azim (hari yang besar) maksudnya adalah untuk menekankan fakta bahwa ini akan menjadi hari kejayaan dan kehormatan yang tak tertandingi ketika semuanya harus berdiri di hadapan Tuhan semesta alam dan memberikan  tanggung-jawabnya. Tuhan sarwa sekalian alam telah berjanji bahwa pada hari itu setiap orang akan menerima ganjaran dari Pemeliharanya dengan adil dan seimbang. Tak seorangpun akan diberikan privilese spesial pada hari itu, baik tinggi ataupun rendah, kaya atau miskin. Sebaliknya, semua akan diperlakukan dengan adil karena itu akan menjadi Hari Pengadilan dan Dia akan menjadi Tuan dan Tuhan dari semuanya – tinggi atau rendah secara sama.

7. Tidak, sesungguhnya buku (catatan) orang-orang jahat itu di dalam penjara.

Sijjin (dalam isim fa’il, yakni, intensif) berasal dari sijn dan berarti penjara, dimana Qur’an Suci sendiri menerangakan:

8. Dan apakah yang membuat engkau tahu apakah penjara itu?

9. Yaitu Kitab yang ditulis.

Dari hal di atas nampak bahwa rujukannya adalah kepada suatu buku yang berhubungan dengan penjara, yakni, suatu daftar pencatatan dimana nama para pembuat kejahatan itu ditulis bersama-sama dengan kejahatan mereka. Dengan perkataan lain, mereka akan dipenjara akibat perbuatan salah mereka, lengkap dengan nama dan bentuk kejahatannya yang tercatat dalam sebuah buku tersebut.

Maka, pada saat nama dan kesalahan dari si pelanggar hukum itu dicatat dalam register resmi dari penjara, tak ada keraguan lagi di sana bahwa orang-orang ini sesungguhnya menjalani hukuman di penjara, karena dalam setiap kasus, kondisi dan perlakuan yang diterima akan sesuai dengan yang dicatat dalam buku resmi. Dan ini adalah penjara yang diusung oleh mereka sendiri akibat amal perbuatannya.

Di dunia ini, barangsiapa  mentaati perintah Ilahi  yakni menggunakan bakat dan kemampuannya di jalan yang seimbang dan sangat berkehendak untuk mengendalikan nafsunya serta menjaga diri dari berlebih-lebihan, akan dianugerahi dengan kemajuan dan kesempurnaan. Namun, bila manusia tidak dengan sukarela menahan atau “memenjarakan” nafsu rendahnya dan menjadi berlebihan dalam tindak-tanduknya karena diperbudak oleh nafsu hewaninya, maka otoritas Ilahi akan membawanya ke penjara sebagai bentuk hukuman. Tetapi ingatlah bahwa maksud dibalik tindakan Ilahi ini adalah untuk memperbaiki si pendosa dan tidak hanya sekedar menghukumnya.

Hal yang sama terdapat dalam pemerintahan duniawi dimana institusi hukum yang  bertindak mengatur perilaku manusia, atau, dengan perkataan lain, mereka membawanya ke penjara, kalau boleh kita katakan. Mereka yang mematuhi hukum, atau mencermati guna mengendalikan diri dari pelanggaran hukum, akan dihormati sebagai warga yang cinta damai, taat hukum dan terhormat. Sebaliknya, mereka yang tidak memperhatikan kontrol ini sehingga melanggar hukum akan dikirim oleh pemerintahnya kedalam penjara, yang kali ini, adalah hukuman yang dipaksakan – rumah tahanan – dengan  tujuan kembar  yakni hukuman dan perbaikan.

Nasib yang sama akan menimpa mereka yang mengabaikan Hukum Ilahi dan tidak menujukkan nafsunya kepada perintah Allah yang didiktekan dan karenanya melanggar batas keseimbangan. Di Akhirat, Allah akan mengasingkan mereka ke sijjin(penjara) agar bisa memperbaiki kesalahan mereka melalui hukuman.

10. Pada hari itu celaka sekali bagi orang-orang yang mendustakan.

11. Yang mendustakan Hari Keputusan.

Apakah seseorang itu menolak hari Kebangkitan sebagai masalah kepercayaan atau mengingkarinya dengan perbuatan adalah sama saja bagi kedua golongan itu, dampaknya adalah jatuh ke dalam kategori yang sama, yakni para penentang. Mereka yang menentangnya dengan sarana perbuatan adalah orang yang secara terbuka mengakui dengan lisannya bahwa mereka percaya kepada kebenaran hari Kebangkitan tetapi bila itu sampai kepada tindakan, ini menjadi perkara lain. Maka bagi keduanya ini digolongkan sebagai penentang, sehingga hari itu akan menjadi hari penuh penyesalan dan kebinasaan seperti yang diterangkan dalam ayat-ayat selanjutnya:

12. Dan tiada yang mendustakan itu kecuali setiap orang yang melampaui batas, yang berdosa.

13. Tatkala ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, ia berkata: Dongengan orang-orang kuno.

Yakni, setiap pendusta yang tidak taat kepada hukum Allah dan melanggar batas, sesungguhnya menolak keimanan kepada hari Kebangkitan dengan amal perbuatannya itu dan penolakan ini dapat diperkirakan dalam beberapa bentuk.

Pertama, ketika pengingkar itu mendengar wahyu dibacakan, dia mengejek dengan marah atasnya dan menganggapnya sekedar dongengan kuno. Yakni, dalam pandangannya, abad dimana pengajaran semacam itu berguna sudah lama lewat masanya. Ini tambahnya, sekarang adalah era pengetahuan, kemajuan dan pencerahan, maka dia tidak ingin diganggu oleh apa yang dianggapnya cerita fabel dan meracau tanpa arti yang hanya cocok untuk masa yang telah silam. Tidak saja dia tidak percaya kepada firman Allah,melainkan dia bertindak lebih jauh lagi sampai titik dengan marah menolaknya, dan, dengan menganggap hal itu sebagai tipuan masa lalu, dia memasang sikap berbeda total dengannya dan karena itu sepenuhnya acuh tak acuh atas tanggung-jawabnya terhadap amal perbuatannya. Ini adalah sikap banyak orang di masa kini yang menamakan diri manusia berbudaya yang ikut mode dan anggun yang kelihatannya sangat terpukau oleh trend dan fesyen yang terbaru.

Dalam kelompok kedua terdapat mereka yang percaya kepada wahyu Allah, tetapi mereka merasa bahwa ini hanya digunakan bagi mereka yang hidup di masa lampau dan bukan untuk mereka, maka mereka tidak pernah memeriksa amal perbuatannya dalam cahaya ayat-ayat suci al-Qur’an. Dalam golongan ini termasuk tidak hanya orang awam melainkan juga para alim-ulama dan ada banyak mereka dari  golongan ini. Misalnya, ketika Qur’an Suci berbicara tentang dosa dalam menyekutukan Allah, maka orang-orang dari golongan ini merasa bahwa ayat-ayat ini hanya merujuk kepada penyembah berhala di Mekkah dan mereka tak pernah berfikir bahwa ancaman dan peringatan ini bisa melebar kepada mereka serta sikap politeistis mereka. Ketika Qur’an Suci memperingatkan konsekwensi atas perlawanan kepada kebenaran, lagi-lagi mereka membatasi penggunaannya kepada para penentang di zaman Nabi Suci s.a.w. sedangkan siang dan malam mereka terlibat dalam perbuatan yang sama nilainya dengan penolakan terhadap Kebenaran dan mereka tak pernah sedikitpun merasa terusik oleh ancaman azab yang terdapat dalam ayat-ayat ini. Sesungguhnya, orang semacam itu, dengan kelakuan mereka, mengalihkan seluruh Al-Qur’an kedalam kategori “dongeng kuno”.

Sungguh suatu karunia yang besar dari Mujaddid abad ini, Masih Ma’uud, Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, bahwa beliau membuktikan relevansi praktis dari ajaran  Qur’an Suci ke dalam abad ini dan karenanya orang-orang mulai faham dan memuji kenyataan bahwa Qur’an Suci adalah Kitab pedoman bagi kita hari ini maupun dimasa lampau, dan bahwa keimanan dan amal salih kita diukur dalam cahaya petunjuk yang terdapat didalam halamannya. Dengan cara lain, para pemimpin agama masa kini (maulawi) tidak punya alasan lagi untuk melempar batu dalam usaha mereka untuk memperlakukan ayat-ayat Qur’an Suci sebagai “dongengan kuno”.

Sekarang, betapa nikmat yang kita alami ketika membaca Qur’an Suci, setiap satu ayat yang kita anggap sebagai pemberi kehidupan, merasuk sebagai akibat langsung dari keyakinan kita bahwa ini mengandung pengaruh langsung terhadap kehidupan kita. Kini, kita beriman kepada ancamannya dan janjinya serta mengharapkan penggenapannya dengan cara yang sama seperti yang diimani oleh kaum Muslim pada masa permulaan dan berharap serta takut ketika itu pertama kali diwahyukan. Jadi, Qur’an Suci bagi kita adalah kitab yang hidup.

Sesungguhnya mendekati kebenaran bahwa bila kita tidak menjadikan ajaran Qur’an Suci ke dalam praktek hidup keseharian kita maka kita tak akan pernah faham atas artinya yang lebih dalam atau memetik manfaat dari petunjuknya. Agar bisa memetik kesenangan dan kegairahan dari membaca dan mengamalkan Qur’an Suci, kita harus membiarkannya merasuk dan menyebar dalam kehidupan kita serta rahmat dan karunianya akan turun kepada kita. Pendeknya, mereka yang menganggap ayat-ayat Qur’an Suci sebagai “dongengan kuno” tidak hanya mereka yang menganggap agama seperti begitu banyak dongeng masa lalu, melainkan yang termasuk dalam kategori ini juga mereka yang membatasi ajaran Kitab Suci itu kepada orang-orang yang hidup di zaman dulu dan menganggap diri mereka terkecualikan dari setiap pengaturan Hukum Ilahi yang diwajibkan kepada mereka dan yang tampaknya menggembirakan kalau mereka tidak peduli kepada setiap janji atau peringatan.

14. Tidak, malahan apa yang mereka usahakan menjadi karat pada hati mereka.

Ayat ini secara efektif menolak catatan keliru bahwa ayat-ayat Qur’an Suci adalah “dongeng kuno”. Sebaliknya, dikatakan bahwa perbuatan jahat orang-orang akan menghasilkan karat yang menetap di hati dan membunuh hati nurani mereka serta mereka tidak merasa tersentuh sedikitpun oleh rasa takut menyangkut tanggung-jawab atas tingkah-laku mereka. Nabi Suci s.a.w. suatu kali ditanya sifat dari karat ini dan beliau menerangkannya demikian:

“Pada waktu seorang hamba melakukan perbuatan dosa, suatu titik noda hitam terbentuk di hatinya. Bila dia bertaubat, hatinya menjadi bersih, tetapi bila tidak, dan dia malah berbuat dosa lagi, maka Kemudian titik noda yang lain akan terbentuk di hatinya lagi hingga keseluruhan hatinya menjadi hitam”.

Maka, ketika hati seseorang itu menjadi hitam karena perbuatan dosanya, maka hati nuraninya mati dan tak ada ajaran ataupun nasehat yang ditujukan kepada akal sehatnya bisa mengesankan baginya, karena perasaan perasaan terdalamnya yakni bahwa harus bertanggung-jawab terhadap amal perbuatannya pelan-pelan berkurang hingga lenyap sama-sekali.

15.Tidak, sesungguhnya pada hari itu mereka tertutup dari Tuhan mereka.

Yakni, mereka akan terasing dari Rububiyyat-nya Allah (Pemelihara) dimana manusia menggantungkan diri demi kemajuan, kesempurnaan dan pemeliharaannya dalam segala hal. Dengan perkataan lain, pintu kepada semua sikap untuk kemajuan dan kemuliaan akan tertutup baginya. Tabir utama yang tergantung antara mereka dengan Tuhannya dalam kehidupan ini akan tergelar dihadapannya di akhirat kelak. Selanjutnya mereka tidak punya bagian lagi dalam anugerah yang tak terbatas dari Tuhannya, ataupun mereka bisa menangkap bahkan secercahpun dari keagungan-Nya yang penuh cahaya, suatu penglihatan yang mebuat manusia merasa bahagia, nikmat dan gairah, yang melebihi segala macam bonus yang dapat ditangkap oleh akal fikiran manusia. Tabir yang menutup mata setiap pembuat  kejahatan dan menghitamkan penglihatannya dalam kehidupan ini adalah sama dengan yang mencegahnya dari melihat keridlaan Tuhannya di Akhirat. Mata hati yang tidak dapat melihat Allah dalam kehidupan ini akan ditutup tabir dari melihatnya di kehidupannya kelak, dan orang itu akan berakhir sebagai seorang yang paling celaka. “Agar dengan itu Kami menguji mereka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhannya, Dia akan memasukkannya kedalam siksaan yang menyusahkan”(72:17).

16. Lalu sesungguhnya mereka akan masuk ke Neraka yang menghanguskan.

Yakni, mereka akan diputus dari Kemurahan Allah. Dengan kata lain, di satu sisi mereka telah terasing dari segala macam kemajuan dan kemuliaan. Di sisi lain, ada azab dan sakitnya neraka yang diciptakan oleh nafsu rendah serta keinginan hewani mereka sendiri.

Betapa menakutkannya kemudian hasil catatan ini di penjara:

17. Lalu dikatakan: Inilah yang dahulu kamu dustakan.

Mereka akan diberi tahu bahwa inilah konsekwensi atas amal perbuatannya – suatu akibat dimana mereka dengan lambannya melalaikan ketika mereka terlibat dalam perbuatan haram.

18. Tidak, sesungguhnya buku (catatan) orang-orang yang tulus adalah di tempat yang tinggi (‘illiyyin).

‘Illiyyin  berarti stasiun yang paling tinggi atau orang-orang dengan peringkat sangat terhormat. Gambaran selanjutnya diberikan dalam ayat-ayat berikut:

19.Dan apakah yang membuat engkau tahu apakah tempat yang tinggi itu?

20. Yaitu Kitab yang ditulis.

Dari sini nampaknya ‘illiyyin itu merujuk kepada satu kitab yang dihubungkan dengan tempat yang tinggi atau orang-orang dengan status bangsawan. Dengan perkataan lain, ini adalah daftar dari orang-orang yang dimuliakan. Sekarang, jelaslah bahwa seseorang yang nama dan amalnya terdapat dalam buku yang sama dimana tempat yang tinggi atau nama dari pribadi bangsawan itu ditulis di dalamnya akan menemukan dirinya dalam kumpulan elite yang sama atau tempat  mulia dan luhur yang sama seperti mereka. Inilah mereka yang menahan keinginan dan nafsunya dalam kehidupan ini demi ketaatan kepada Hukum Ilahi dari Yang Maha-kuasa dan yang perilakunya mengikuti garis keseimbangan dan moderasi. Hasil dari pengendalian diri mereka adalah kemajuan dan kemuliaan, peringkat yang  unggul dan tempat yang luhur di mana mereka bertempat-tinggal, dan kemajuan yang tidak mengenal akhir. Sesungguhnya, mereka akan maju ke stasiun yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

21. Orang-orang yang dekat kepada Allah menyaksikan itu.

Artinya yakni bahwa didalam daftar nama-nama orang terhormat ini, dimana nama orang tulus akan ditulis, juga akan di dapati mereka yang terdekat peringkatnya kepada Allah Yang Maha-tinggi (muqarrabun). Dan karena namanya ada dalam kitab ini, mereka akan menjadi pewaris dari kebahagiaan abadi. Dalam kehidupan ini, jika seorang warga itu cukup beruntung mendapatkan namanya termasuk dalam daftar aristokrat, dia akan bisa mengisi hatinya dengan kegembiraan. Bayangkan saja betapa besar kesenangan ini ketika mendapati namanya tercantum dalam daftar diantara penghuni kerajaan Allah, atau di antara mereka yang ditarik dekat kepada-Nya!

22. Sesungguhnya orang-orang yang tulus ada dalam kenikmatan.

23. Di atas sofa yang empuk, mereka memandang.

Ini adalah sofa atau singgasana kehormatan. Seperti halnya di dunia ini, suatu tempat duduk kehormatan dalam Majelis adalah suatu indikasi kedekatannya dengan raja, begitupun kelak  di Akhirat, bagi orang yang tulus akan disediakan tempat khusus dalam Majelis Allah singgasana yang jauh lebih unggul dalam  kehormatan di banding sekedar tempat duduk atau kursi dalam hidup ini. Adakah sesuatu yang lain yang mengilhami kegembiraan yang lebih besar dalam hati manusia? Namun ini belum semuanya. Ini akan menjadi nasib baik bagi orang  saleh bahwa mereka juga akan dianugerahi dengan pandangan tentang kejayaan Allah yang  ridla. Dari semua  rahmat yang disebutkan di sini bagi orang tulus, kebahagiaan utama yang terbawa adalah pandangan dari Yang Paling Dicintai. Pandangan yang akan bertemu dengan mata mereka sebagaimana terdapat dalam kata yanzurun (memandang) adalah suatu rukyah dari Keagungan Ilahi serta keluhuran dan kegagahan yang mengikutinya.

24. Engkau mengenal dalam wajah mereka ada sinar kenikmatan.

Di saat hati dan fikiran manusia itu mengalami perasaan kebahagiaan, maka pancaran kegembiraan bersinar diwajahnya.

25. Mereka diberi minuman yang jernih, yang disegel.

26. Segelnya adalah kasturi.

“Rahiq” berarti minum, atau anggur murni yang tidak menimbulkan pusing akibat mabuk, atau yang bebas dari ketidak-sucian ataupun barang yang haram. Anggur itu sesungguhnya kasih sayang dari Allah. Kasih sayang di sini dibandingkan dengan anggur. Sebagaimana anggur itu menyegarkan segenap kemampuan manusia, dan ketika dia dalam pengaruhnya maka bisa bekerja dengan sepenuh hati demi tujuan dan keputusan besar untuk apapun pekerjaan itu dilakukan, dan tidak ingat kepada segala hal akibat sampingannya, dia membaktikan kekuatan dan kecakapannya demi tugas yang dipilihnya, dengan cara yang sama, cinta itu membentuk semacam kemabukan. Dan mabuk ini menstimulir semangat serta energi manusia, dan demi memenangkan yang dicintainya maka dia melupakan segala sesuatu yang lain dan memusatkan seluruh tenaganya kepada tujuan itu.

Namun, bila anggur lahiriah dari dunia ini didalamnya mengandung pengaruh yang merugikan, yakni  setelah bangkitnya energi yang besar lalu ada rasa melayang dan akibatnya lemah dan tertekan, dan setelah kuat  maka timbul rasa ngantuk, dengan cara yang sama, kecintaan kepada kehidupan dunia ini akhirnya mendorong kepada keadaan merosot. Aroma cinta ini menyusut setelah tak berapa lama. Sesungguhnya, banyak kejadian malah tergantikan dengan kebencian dan kemarahan. Jadi, cinta kepada dunia ini membentuk semacam rasa mabuk yang menyebabkan kerugian besar bagi manusia. Sebaliknya, kecintaan kepada Allah tidak berisi kualitas rendah semacam itu. Sesungguhnya, ini menghasilkan rasa mabuk yang  tidak pernah surut dan pengaruhnya terhadap kapasitas alami manusia itu teguh dan konstan. Kegairahan dan tenaga yang kasih-sayang Allah tanamkan kedalam bakat manusia tidak pernah berkurang sedikitpun tetapi  sebaliknya, dari hari kehari akan semakin meningkat  kekuatannya. Dengan cara yang sama, gelas kecintaan yang diterima oleh hamba yang sejati sebagai pahala dari Yang Maha-tinggi atas kecintaannya kepada Allah akan bebas dari semua kepusingan yang menyakitkan atau yang merugikan ataupun  kemerosotan  dalam akhlak dan kesehatan.

Penggunaan kata “disegel” berarti bahwa hal ini akan menjadi hadiah istimewa bagi hamba yang tulus persis seperti paket  yang disegel yang khusus untuk diperembahkan kepada siapa paket itu dikirimkan. Dan perkara ini dianggap lebih penting bila berasal dari Raja, karena lantas akan  menjadi peristiwa yang memberinya kehormatan yang tak terbatas.

Jadi, apa pun gelas piala yang dianugerahkan kepada hamba-Nya dari majelis Raja akan disegel. Yakni khusus untuk yang ditujunya, dan ukuran dari gelas itu akan  sebanding dengan tingkat kecintaan dan ketulusannya yang dimiliki oleh hamba itu dalam hatinya kepada Penciptanya. Dengan cara apapun hubungan antara hati dengan Yang Benar-benar  Dicintai adalah unik, demikian pula, gelas kecintan Allah kepada hamba-Nya. Ini adalah khusus baginya dan karena itu disegel.

Qur’an Suci juga menyatakan bahwa segelnya terbuat dari kasturi. Pada saat Allah menaikkan seorang hamba melalui cinta-Nya kepadanya, meskipun hamba itu menjaga cintanya secara tersembunyi dari manusia lainnya sebisa-bisanya karena dia tidak suka orang lain itu mengetahui sedikitpun akan kecintaan dan ketulusannya,  dengan cara yang sama, gelas kecintaan Allah itu akan disegel ketika hamba-Nya menerima itu. Ini akan tersembunyi dari dunia dan akan dijaga rapat khusus untuknya.

Namun, karena segelnya itu dibuat dari kasturi, maka akibatnya akan menyebarkan bau harum kemana-mana. Ada pertanda di sini bahwa betapapun tersembunyi rahasia kecintaan Allah itu adanya, keharumannya akan terus menyebar. Juga di dunia ini, jika seorang hamba yang bertaqwa mencapai ukuran kecintaan dan kedekatan kepada Yang Maha-Kuasa, maka kemudian keharumannya akan menyebar ke segenap penjuru.

Dan dalam hal itu, hendaklah orang yang mempunyai cita-cita, hendaknya bercita-cita demikian.

Artinya adalah bahwa di dunia ini setiap orang yang menyukai sesuatu menunjukkan keinginan yang dalam untuk menggapai yang dicintainya itu dan mengadakan usaha yang sungguh-sungguh untuk berjuang mendapatkannya dan bahkan bertanding untuk menguasainya. Iri hati ini hanyalah menunjukkan dirinya berada dalam beberapa pilihan: kompetisi dalam busana yang trend, atau demi permata, atau demi perniagaan atau demi kepemilikan kekayaan. Seringkali hal ini diungkapkan dalam ambisi untuk memperoleh status atau kehormatan yang tinggi.

Allah Ta’ala menasehati manusia bahwa bila ada didunia ini ada sesuatu yang berharga yang patut untuk dicemburui, maka hal itu hanyalah mabuk dalam cinta kepada Penciptanya begitu pula dalam berusaha mencapai tingkat peringkat yang tertinggi. Bila dia akan bertanding, dia harus berkompetisi dalam sesuatu yang mendatangkan manfaat yang abadi dalam kehidupannya karena tak ada untungnya dalam berusaha mati-matian untuk memiliki sesuatu yang bersifat sementara.

27. Dan itu dicampur dengan air yang turun dari atas.

28. Satu sumber yang diminum oleh orang-orang yang terdekat kepada Allah.

“Tasnim” datang dari sanam (punuk seekor unta). Ini berasal dari sanima: tinggi, atau diangkat tinggi, dan maka sanam (punuk) dari sesuatu itu selalu bagian yang tertinggi dari bagian yang lain. Tasnim berarti semacam air yang mengalir bagi orang tulus yang muncul dari tempat yang tinggi diatas yang lain. Diterimanya gelas oleh mereka yang menjadi pencinta sejati dari Yang Maha-kuasa – gelas yang bercampur dengan tasnim – menunjuk pada kenyataan bahwa kecintaan manusia kepada Allah itu memiliki kualitas intrinsik yang menaikkan kehormatan dan keluhuran. Setelah seseorang itu minum dari air ini dia menerima suatu kehidupan yang lebih suci daripada sebelumnya. Peningkatan kualitas dari air ini berarti bahwa dalam ukuran manusia yang minum atau akan minum dari air ini, dalam proporsi yang sama dia akan terus mewarisi rahmat berupa peringkat dan kemajuan rohani yang tinggi. Dan karena gelas ini tidak ada batasnya, maka kemajuan serta perkembangan dalam peringkatnya yang tinggi itu tidak ada akhirnya.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa di langit, seorang hamba yang tulus akan melihat suatu posisi yang mulia dan akan memohon kepada Tuhannya atas posisi itu, maka ia berjanji bahwa bila dirinya diberi kedudukan itu maka dia tak akan meminta apa-apa lagi. Tetapi ketika dia dikaruniai oleh Tuhannya, dia akan menjadi tahu stasiun lain yang lebih tinggi dari yang satu ini dan dia akan mulai memohon untuk itu lagi. Maka dia berjanji sama seperti sebelumnya tetapi ketika dia dianugerahi dengan dikabulkannya permintaannya yang kedua itu dia akan melihat lagi kedudukan yang lebih tinggi lainnya sehingga dia ingin mencapainya lagi. Pendeknya, dia akan terus-menerus mengalami kemajuan dan akan meningkat ke tempat yang lebih dan lebih tinggi lagi sebagaimana Qur’an Suci menjamin kita: “Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya, mereka memperoleh tempat yang tinggi, di atasnya terdapat tempat yang lebih tinggi, yang dibangun (untuk mereka); di dalamnya mengalir sungai-sungai. (Itu) janji Allah. Allah tak akan mengingkari janji”.(39:20).

Alasan ia berjanji tidak menginginkan yang lain setelah permohonannya dikabulkan adalah bahwa penglihatan manusia itu terbatas. Dia akan melihat kedudukan yang tinggi dan mengira bahwa tak ada lagi yang lebih dari itu. Tetapi ketika dia mencapai puncak maka dia akan menyadari bahwa ada suatu puncak lain yang lebih mulia lagi yang menjadikan posisinya sekarang tampak rendah dan inferior sehingga dia ingin mencapai ketinggian yang baru ini karena hal itu  sesuai dengan permohonan fitrahnya (sifat terdalam karunia Allah dalam dirinya) dan ini juga suatu bonus dari Tuhannya yang terus-menerus membuatnya menanjak dari satu tingkat ke tingkat lainnya.

29. Sungguh orang-orang yang berdosa menertawakan orang-orang yang beriman.

30. Dan jika mereka melalui (orang-orang beriman), mereka saling mengerlingkan mata.

Ini adalah puncak ejekan. Para pengabdi kehidupan duniawi yang mereka itu terus-menerus terlibat dalam pengejaran segala macam kemesuman tertawa mengejek dengan pahit dan tajam terhadap kaum Muslim yang malang dan bahkan saling mengerling dan menaikkan alis matanya dengan penuh kebencian. Mereka tidak memiliki sedikitpun kemanusiaan atau kehormatan sehingga tidak merasa malu atas apapun yang mereka lakukan. Tidak, sebaliknya, mereka dengan berani menganggap dirinya lebih unggul dari yang lain!

31. Dan jika mereka kembali kepada golongan mereka sendiri, mereka kembali dengan bersorak-sorai.

Yakni, ketika mereka berkawan dengan orang-orang dekatnya mereka memburuk-burukkan dengan membanggakan betapa mereka telah mengejek dan mencemoohkan kaum mukmin serta mentertawakan perbuatan mereka. Dengan perkataan lain, mereka membanggakan pepesan kosong mereka dan juga merasa kagum atas hal itu. Tetapi hal ini belum semuanya. Mereka melangkah lebih jauh dengan melancarkan fatwa takfir terhadap kaum mukmin, sebagaimana ayat selanjutnya mengungkapkan:

32. Dan jika mereka melihat (orang-orang yang beriman), mereka berkata:

Sesungguhnya mereka orang sesat.

Dengan kata lain, mereka menuduh kaum Muslim sebagai kehilangan petunjuk dan bahkan mengumumkan mereka sebagai orang kafir.

33. Dan mereka tidak disuruh sebagai penjaga atas mereka.

Pertanyaan yang timbul adalah: Siapa yang memberi hak untuk mencap kaum Muslimin sebagai tanpa petunjuk dan keluar dari keimanan? Allah sendiri yang tahu siapa yang salah jalan dan siapa yang kafir. Bukanlah urusan manusia untuk mengeluarkan fatwa kafir terhadap orang lain, dengan memaksa. Peristiwa berikut yang diriwayatkan dalam sebuah hadist  Nabi Suci s.a.w. akan menyajikan pencerahan atas  kesalahan kondisi ini. Suatu ketika, seorang sahabat Nabi Suci s.a.w. membunuh seseorang di dalam peperangan bahkan meskipun orang itu, tepat sebelum dibunuh, telah mengucapkan syahadat (kesaksian iman). Ketika Nabi Suci diberitahu tentang insiden ini beliau sangat sedih dan mencari tahu  siapa diantara sahabat yang melakukannya, lalu sahabat yang mengakuinya itu  berdalih bahwa orang yang menyatakan syahadat  itu hanya karena takut kehilangan nyawanya saja, padahal sesungguhnya dia seorang penyembah berhala. Jawaban ini membuat Nabi Suci s.a.w. sangat marah dan bertanya kepadanya:

“Apakah sudah kaubelah dadanya untuk melihat (apakah dia seorang muslim atau bukan)?”

Betapa luhurnya tuntunan ini! Apakah kaum ulama kita masa kini mau mengambil dari  peringatan ini?

Allah Yang Maha-tinggi bertanya: “Apakah engkau telah ditunjuk sebagai penjaga dan pengawas atas mereka, yakni, kaum mukmin, sehingga engkau menyombongkan diri sebagai orang yang berwenang  untuk menerbitkan fatwa pengkafiran terhadap mereka?”

Dan Nabi Suci s.a.w. bertanya: “Apakah engkau telah membuka isi hatinya untuk melihat di dalamnya sehingga engkau bisa menentukan siapa yang muslim atau bukan?”

Malangnya, para ulama kita menjawabnya secara begini: “Jika kami meninggalkan praktek menerbitkan fatwa takfir, lalu senjata apa lagi yang kita punyai agar kaum muslimin tetap dijalan yang benar?”

Semoga Allah memberkati para pemimpin agama kita dengan pemahaman agar mengambil peringatan dari ayat berikut ini:

34. Maka pada hari ini orang-orang beriman menertawakan orang-orang yang kafir.

Kata-kata ini digunakan secara kiasan. Sesungguhnya, kata “tertawa” tidak digunakan secara harfiah karena bahkan di dunia inipun orang mukmin tidak menertawakan orang kafir namun sebaliknya menaruh simpati kepadanya dan menarik pelajaran dari kesusahan mereka. Apa yang diartikan di sini yakni bahwa pada hari itu, orang-orang itu yang dalam kesombongan dan kebenciannya, mengejek kaum mukmin, akan menemukan balasan yang sepadan terhadapnya dan dalam keadaan demikian itu, yang telah disebabkan oleh perilakunya sendiri, akan sedemikian rupa sehingga mengundang tawa dan bahkan kutukan. Dengan kata lain, hasilnya adalah bahwa mereka yang mencemoohkan kaum muslim akan menderita nasib yang terhina dan mereka sendiri yang akan menjadi bahan tertawaan bagi semuanya. Ayat selanjutnya dengan jelas menerangkan sifat sebenarnya dari tertawa ini:

35. Di atas sofa yang empuk mereka memandang.

Kaum mukmin akan duduk di sofa kehormatan, memandang kesengsaraan yang tanpa harapan dan penuh duka-cita dari mereka, yang dalam kehidupannya di dunia, biasa menertawakan mereka. Dengan perkataan lain, keadaan yang dialami kini sesungguhnya – kehormatan mereka berhadapan dengan penghinaan dari mereka yang teraniaya oleh mereka sebelumnya – akan berbicara sendiri terhadap ejekan yang tak ada jaminannya belakangan.  Tertawa ini yang merasuk dalam perubahan suasana dari para penganiaya akan membangun suatu kebenaran yang mendalam  sebagaimana firman Allah.

36. Sesungguhnya orang-orang kafir akan diberi pembalasan mengenai apa yang mereka lakukan.

Apapun pembalasan yang akan mereka terima akan sepadan dengan perbuatan mereka. Jadi, apapun yang terjadi pada hari Keputusan itu akan berdasarkan prinsip yang ketat dari keadilan dan persamaan.  Wallahu’alam bi sawwab, Subhanallahi walhamdulillahi, wala illa hailallahu Allahu Akbar.

 

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: