Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-b], Ke-Esaan Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Keesaan Allah

Semua pokok ajaran Islam dibahas sepenuhnya dalam Qur’an Suci, demikian pula ajaran iman kepada Allah, yang intinya adalah beriman kepada Keesaan Allah (tauhid). Kalimah Tauhid yang sudah terkenal ialah laa ilaaha illallah. Kalimah ini terdiri dari empat perkataan, yakni la (tidak), ilaaha (Tuhan), illa (kecuali), Allah (nama Tuhan yang sebenarnya). Jadi, kalimah itu yang biasa diterjemahkan tak ada Tuhan selain Allah,mengandung arti, bahwa tak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Kalimah syahadat inilah yang jika digabungkan dengan syahadat Rasul –Muhammadur-Rasulullah– orang sudah diakui sah sebagai orang Islam. Menurut Qur’an Suci, tauhid mengandung arti bahwa Allah itu Esa Dhat-Nya, Esa sifat-Nya dan Esa af’al-Nya (perbuatan-Nya). Yang dimaksud Esa dhat-Nya ialah tak ada Tuhan lebih dari satu dan tak ada sekutu bagi Allah; Esa sifat-Nya mengandung arti bahwa tak ada Dhat lain yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat ketuhanan yang sempurna; Esa af’al-Nya mengandung arti bahwa tak seorang pun dapat melakukan pekerjaan yang telah dikerjakan oleh Allah, atau mungkin akan dilakukan oleh Allah 1.  Ajaran tauhid disimpulkan dengan indah dalam wahyu permulaan yang amat pendek: “Katakanlah: Dia Allah, itu Esa. Allah itu yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tak berputera, dan tak diputerakan; dan tak seorang pun menyerupai Dia” (Surat 112).

Bahaya syirk

Lawan keesaan atau tauhid adalah syirk. Kata syirk artinya persekutuan, kata syarik yang jika dijamakkan menjadi syuraka, artinya sekutu. Dalam Qur’an Suci, kata syirk digunakan dalam arti mempersekutukan Tuhan lain dengan Allah, baik persekutuan itu mengenai dzat-Nya, sifat-Nya ataupun af’al-Nya, maupun ketaatan yang seharusnya ditujukan kepada-Nya saja. Dalam Qur’an Suci diterangkan, bahwa syirk itu perbuatan dosa yang paling berat: “Sesungguhnya syirk itu kelaliman yang paling besar”(31:13). “Sesungguhnya Allah tak memberi ampun jika Dia dipersekutukan, tetapi ia memberi ampun selainnya kepada siapa yang Dia kehendaki” (4:48). Tetapi perbuatan syirk yang dianggap sebagai perbuatan dosa yang paling berat, bukanlah disebabkan karena Allah itu iri hati – Menurut Qur’an Suci, iri hati tak mungkin disifatkan kepada Tuhan. Adapun dosa berat itu disebabkan adanya kenyataan bahwa syirk itu merusak akhlak manusia itu sendiri, sedangkan tauhid mengangkat manusia ke tingkat akhlak yang tinggi. Menurut Qur’an Suci, manusia adalah khalifah (wakil) Allah di bumi (2:30), dan ini menunjukkan bahwa manusia diberi kekuasaan untuk menjaga makhluk Allah di bumi. Dalam Qur’an Suci diterangkan sejelas-jelasnya, bahwa manusia diciptakan untuk memerintah di dunia. “Allah ialah Yang menaklukkan lautan untuk kamu agar perahu-perahu berlayar di atasnya atas perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menaklukkan kepada kamu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi, semuanya dari Dia. Sesungguhnya ini pertanda bagi kaum yang berpikir” (45:12-13). Jadi kedudukan manusia itu di atas sekalian makhluk, ya bahkan di atas sekalian malaikat, sehingga malaikat bersujud kepada manusia (2:34). Lalu jika manusia diciptakan untuk memerintah jagat raya, dan diberi kekuasaan untuk menaklukkan segala sesuatu dan mengubah itu guna kepentingan manusia, apakah tak menurunkan derajat sendiri jika manusia mengambil makhluk lain sebagai Tuhan, dan bersujud kepada sesuatu yang sebenarnya manusia diciptakan untuk menaklukkan dan memerintahkan segala sesuatu itu? Inilah alasan yang dikemukakan oleh Qur’an Suci dalam menentang perbuatan syirk. Qur’an berfirman: “Katakan: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah. padahal Dia itu Tuhan segala sesuatu” (6:165). Ayat ini disambung oleh ayat berikutnya: “Dan Dia ialah yang menjadikan kamu penguasa di dunia”. Selanjutnya: “Apakah kamu kucarikan Tuhan selain Allah, padahal Dia telah membuat kamu melebihi sekalian makhluk” (7:140). Oleh karena itu, di antara sekalian perbuatan dosa, syirk-lah yang paling berat, karena syirk menurunkan derajat manusia, dan membuat manusia tak pantas menduduki kedudukan tinggi yang menurut ketetapan Tuhan ditentukan untuknya.

Berbagai bentuk syirk

Berbagai bentuk syirk yang disebutkan dalam Qur’an Suci menunjukkan adanya amanat peningkatan derajat yang melandasi ajaran tauhid. Hal ini disimpulkan dalam Qur’a Suci 3:63: “Bahwa kami tak akan menyembah 2 sesuatu selain Allah dan bahwa kami tak akan menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan bahwa sebagian kami tak akan mengambil sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Inilah tiga bentuk syirk yang sebenarnya. Adapun bentuk syirk yang nomor empat diuraikan tersendiri. Bentuk yang paling menyolok ialah menyembah sesuatu selain Allah, misalnya, patung, pohon, binatang, kuburan, benda-benda langit, kekuatan alam, atau manusia yang dianggap setengah dewa, atau dewa, atau penjelmaan Tuhan, atau anak laki-laki atau anak perempuan Tuhan. Bentuk syirk nomor dua yang kurang menyolok ialah, menyekutukan sesuatu dengan Allah, artinya, menganggap segala sesuatu itu mempunyai sifat-sifat yang sama seperti sifat Tuhan. Kepercayaan ada tiga oknum ketuhanan, dan sang putera dan sang Roh Suci itu kekal, Maha-tahu dan Maha-kuasa seperti Allah, seperti kepercayaan agama Kristen, atau Tuhan itu yang menciptakan kejahatan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakan kebaikan, seperti kepercayaan agama Zaratustra, atau benda dan roh itu sama kekalnya seperti Allah dan maujud sendiri seperti Dia, seperti kepercayaan agama Hindu, semua itu termasuk golongan syirk nomor dua. Adapun bentuk syirk terakhir ialah, sebagian manusia menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan ini, dijelaskan oleh Nabi Suci sendiri sewaktu beliau menjawab satu pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang sahabat sebagai berikut: Pada waktu ayat 9:31 diturunkan, yang berbunyi: “mereka menjadikan pendeta mereka dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”, sahabat Adiyy bin Hatim, seorang Kristen yang telah memeluk Islam, menerangkan kepada Nabi Suci bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak menyembah pendeta dan rahib mereka. Nabi Suci berbalik tanya kepadanya: “Bukankah kaum Yahudi dan Nasrani mengikuti dengan membabi buta apa yang mereka perintahkan dan apa yang mereka larang?” Atas pertanyaan Nabi Suci ini, sahabat Adiyy membenarkannya. Ini berarti bahwa mengikuti dengan membabi buta apa yang diperintahkan oleh pemimpin besar mereka, itu tergolong perbuatan syirk. Adapun perbuatan syirk yang nomor empat, itu diuraikan dalam 25:43: “Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?” Di sini orang yang mengikuti ajakan hawa nafsunya dengan membabi buta juga disebut syirk. Adapun sebabnya ialah, Ketuhanan Yang Maha-esa bukanlah suatu dogma yang harus dipercaya begitu saja, melainkan mempunyai arti yang dalam sebagaimana kami terangkan nanti. Yang dimaksud iman kepada Allah Yang Maha-esa ialah, ketaatan mutlak harus ditujukan kepada Allah semata, dan barangsiapa taat kepada selain Allah, atau kepada hawa nafsu sendiri, melebihi ketaatan kepada Allah, ia benar-benar melakukan dosa syirk.

Penyembahan berhala

Di antara berbagai bentuk syirk, penyembahan berhala adalah yang paling dicela dengan kata-kata yang pedas, dan bentuk syirk ini benar-benar paling sering dibicarakan dalam Qur’an daripada bentuk syirk yang lain. Ini disebabkan adanya kenyataan bahwa penyembahan berhala adalah bentuk syirk yang paling mengerikan dan paling merajalela di dunia pada waktu datangnya agama Islam. Bukan hanya bentuk penyembahan berhala yang kasar saja yang dicela, yang menganggap bahwa berhala dapat mendatangkan keuntungan atau kemalangan, melainkan pangkal-pikiran yang membentuk penyembahan berhala pun dianggap mempunyai suatu arti, ini pun dicela oleh Qur’an Suci. Qur’an berfirman: “Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain Allah, berkata: Kami tak menyembah mereka kecuali agar mereka medekatkan kami kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan mengadili antara mereka tentang yang mereka perselisihkan di dalamnya” (39:3). Pada zaman sekarang, sebagian kaum penyembah berhala modern juga mengemukakan dalih semacam itu. Mereka berkata, bahwa patung itu hanya digunakan untuk memusatkan perhatian (konsentrasi) para penyembah saja, artinya, dengan menghadap patung, ia dapat berkonsentrasi hingga ia lebih khusyu’ dalam tafakurnya kepada Tuhan; pengertian ini dicela oleh ayat tersebut di atas. Bahkan dalam hal ini si penyembah yang percaya bahwa patung yang dianggap bisa memusatkan pikirannya sebagai lambang Dzat Tuhan, ini sebenarnya pengertian salah; lebih-lebih karena patung yang digunakan untuk memusatkan pikiran, bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Keliru pula adanya anggapan, bahwa untuk keperluan konsentrasi, diperlukan adanya lambang kebendaan, karena, pikiran itu setiap saat mudah sekali dipusatkan kepada sasaran (object) spiritual; dan suatu konsentrasi hanya akan menolong perkembangan daya batin apabila sasaran itu bersifat spiritual. Di samping penyembahan berhala, Qur’an Suci juga melarang memberi sesaji kepada berhala (6:137).

Penyembahan benda-benda alam

Bentuk syirk yang sudah lazim di mana-mana yang dicela oleh Qur’an Suci ialah penyembahan matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Pokoknya menyembah apa saja yang dianggap dapat mengatur nasib manusia. Menyembah benda-benda bersinar itu terang-terangan dilarang oleh Qur’an Suci. Qur’an berfirman: “Dan di antara pertanda Allah ialah, malam dan siang dan matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari atau kepada bulan, dan mengabdilah kepada Allah Yang menciptakan itu” (41:37). Alasan larangan itu dikemukakan oleh Nabi Ibrahim, tatkala beliau berbantah dengan kaum beliau, bahwa benda-benda itu dikuasai oleh Yang Maha Kuasa 3.  Alasan yang dikemukakan oleh Qur’an Suci untuk melarang penyembahan matahari dan bulan ini bukan saja berlaku bagi seluruh benda-benda langit, melainkan pula bagi semua kekuatan alam, yang ini sebenarnya acapkali disebutkan dalam Qur’an Suci sebagai barang yang dibuat untuk melayani manusia. Adapun penyembahan kepada Sirius (bintang Syi’ra), dalam ayat 53:49 diuraikan bahwa Allah sendiri adalah Tuhannya Sirius.

Deisme dan Tatslits (Trinitas)

Khusus mengenai ilmu ketuhanan (Deisme), Qur’an Suci berfirman: “Janganlah kamu mengambil dua Tuhan. Dia adalah Tuhan Yang Maha-esa” (16:51). Jin juga disebut-sebut sebagai makhluk yang disamakan kedudukannya dengan Tuhan. Qur’an berfirman: “Dan mereka menganggap jin sebagai sekutu Allah, padahal Dialah Yang menciptakan mereka” (6:101). Dalam Qur’an Suci, tatslits (
Trinitas) dikecam sebagai bentuk syirk. Qur’an berfirman: “Maka berimanlah kepada Allah dan para Utusan-Nya, dan janganlah kamu berkata: Tiga. Hentikanlah! Ini adalah baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Itu Maha-esa” (4:171). Ada juga yang menuduh bahwa paham Trinitas dalam Qur’an keliru, karena menurut Qur’an, ‘Isa dan Maryam dikatakan sebagai dua Tuhan, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: “Wahai ‘Isa bin Maryam! Apakah engkau berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah” (5:116). Yang dimaksud di sini ialah mendewakan Maryam (mariolatry). Bahwa Maryam disembah adalah kenyataan, dan Qur’an Suci menguraikan tentang ini peting sekali artinya 4;  tetapi hendaklah diingat, bahwa dalam Qur’an mau-pun Hadits, tak ada satu ayat pun yang menerangkan bahwa Maryam adalah Oknum Trinitas yang ketiga. Ayat Qur’an yang mengecam Trinitas, di situ hanya menerangkan mengenai ajaran “Tuhan berputera”, dan sekali-kali tak menerangkan pemujaan Siti Maryam, dan ayat yang menerangkan pemujaan Maryam, ini ditujukan kepada ajaran Trinitas.

Ajaran tentang Allah berputera

Bentuk syirk lainnya yang dikecam oleh Qur’an Suci ialah paham Allah mempunyai anak laki-laki atau anak perempuan. Bangsa Arab jahiliyah mengaku Allah mempunyai anak perempuan, sedang agama Nasrani mengajarkan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki. Walaupun ajaran mengakukan Allah mempunyai anak perempuan, diuraikan berulangkali dalam Qur’an, misalnya dalam 16:57; 17:40; 37:149, namun Qur’an Suci memberi tekanan yang berat terhadap ajaran Kristen sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: “Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha-pemurah memungut anak laki-laki. Sesungguhnya kamu mengucapkan sesuatu yang amat keji. Langit hampir-hampir pecah karenanya, dan bumi hampir ter-belah dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mengakukan Tuhan Yang Maha – pemurah mempunyai anak laki-laki” (19:88-91). Ajaran itu dikecam berulang-ulang, misalnya dalam 2:116; 6:102-104; 10:68; 17:111; 18:4-6; 19:35, 91-92; 23:91; 37:151-152; 112:3. Tak sangsi lagi bahwa Surat 112 adalah salah satu Surat Makkiyah permulaan. Ini menunjukkan bahwa sejak dari permulaan sekali Qur’an Suci berusaha merobah kesesatan besar itu. Hendaklah orang suka memperhatikan kata-kata subhanahu, artinya maha suci Allah dari segala kekurangan. Adapun alasannya ialah ajaran “Allah berputera” itu disebabkan adanya dugaan bahwa Allah tak dapat mengampuni dosa, terkecuali jika Allah mendapat tebusan yang memuaskan, dan mereka menduga bahwa tebusan yang memuaskan itu diperoleh dengan jalan menyalib Anak Allah, yang katanya hanya Dialah yang tak berdosa. Jadi, ajaran “Allah berputera” itu sebenarnya mendustakan sifat pengampunan Allah, dan ini sama dengan menuduh Allah sebagai Tuhan yang mempunyai kekurangan. Oleh karena itu, dalam ayat 19:92, setelah didahului kecaman pedas terhadap ajaran “Allah berputera”, kita diberitahu bahwa “tak layak bagi Allah Yang Maha-pemurah (Al-Rahman), Dia memungut anak laki-laki”. Kata al-Rahman makna aslinya Tuhan Yang tak terhingga kemurahan-Nya yang tak memerlukan tebusan dalam mempertontonkan kemurahannya yang tak dapat dipisahkan dari pada-Nya; dan oleh karena Allah itu al-Rahman, maka tak diperlukan lagi ajaran “Allah berputera”.

Sendi dasar arti tauhid

Berbagai macam syirk yang diuraikan dalam Qur’an Suci menunjukkan bahwa ajaran Tauhid menganugrahkan kepada dunia satu amanat tentang peningkatan kemajuan dalam segala bidang, baik jasmani, akhlak, maupun rohani. Manusia bukan saja dibebaskan dari perbudakan oleh benda hidup maupun benda mati, melainkan dibebaskan pula dari penyembahan kepada kekuatan alam yang besar dan mengagumkan, yang menurut Qur’an Suci, justru manusia harus menalukkan itu guna kepentingan mereka sendiri. Selanjutnya ajaran Tauhid menyelamatkan manusia dari perbudakan yang amat besar, yaitu menyembah kepada sesama manusia. Tak seorang pun diperbolehkan menduduki martabat Ketuhanan atau martabat yang melebihi manusia biasa, karena manusia yang paling sempurna pun, yakni Nabi Muhammad, disuruh berkata: “Aku hanya manusia biasa seperti kamu, hanyalah kepadaku diwahyukan bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha-esa” (18:110). Dengan demikian, segala belenggu yang mengikat jiwa manusia diputuskan; dan manusia berjalan di atas jalan yang menuju ke arah kemajuan. Qur’an Suci menerangkan seterang-terangnya, bahwa jiwa budak tak mungkin berbuat sesuatu yang baik dan besar 5;  oleh sebab itu, syarat pertama untuk mencapai kemajuan ialah, dia harus membebaskan jiwanya dari segala macam perbudakan yang membelenggu, dan ini hanya dapat dicapai dengan Tauhid.

Kesatuan umat manusia bersendikan Keesaan Allah

Ajaran tauhid selain melepaskan belenggu perbudakan yang mengikat jiwa manusia hingga terbuka jalan menuju ke arah kemajuan, tauhid mengandung pula arti lain yang sama besarnya, atau bahkan lebih besar lagi, yakni cita-cita persatuan umat manusia. Allah adalah Rabbul ‘alamin (Tuhan sarwa sekalian alam). Rabb artinya memelihara sesuatu demikian rupa melalui tingkatan yang satu lepas tingkatan yang lain, hingga ia mencapai tujuan kesempurnaan. Jadi, kata Rabbul’alamin mengandung arti bahwa sekalian manusia di dunia seakan-akan putera dari satu ayah yang tak membeda-bedakan dalam memelihara puteranya, dengan mengatur dan mengantar mereka tahap demi tahap menuju ke tujuan kesempurnaan. Oleh sebab itu, dalam Qur’an Suci, Allah bukan saja dikatakan sebagai Yang memberi makanan jasmani, melainkan pula memberi makanan rohani berupa Wahyu kepada sekalian bangsa di dunia. Qur’an berfirman: “Tiap-tiap umat mempunyai seorang Utusan” (10:47). “Tak ada suatu umat, melainkan seorang juru ingat telah berlalu di kalangan mereka” (35:24). Selanjutnya kita dapati bahwa Qur’an membela suatu paham, bahwa Allah sebagai Tuhan sarwa sekalian alam, memperlakukan sekalian manusia tanpa pilih-kasih. Allah mendengarkan do’a sekalian manusia tanpa membeda-bedakan agama atau kebangsaan mereka. Allah mengasihi sekalian manusia dan mengampuni dosa mereka. Allah mengganjar perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia, baik orang Islam maupun bukan. Dan Allah bukan saja memperlakukan sekalian manusia tanpa pilih-kasih, melainkan pula Dia menciptakan mereka sama, sesuai fitrah-Nya. Qur’an berfirman: “Fitrah ciptaan Allah, Yang Dia menciptakan manusia atas fitrah itu” (30:30). Jadi, kesatuan manusia adalah akibat mutlak dari Keesaan Allah; hal ini ditekankan oleh Qur’an Suci dengan kata-kata yang terang bahwa “sekalian manusia adalah satu umat” (2:213), dan “manusia itu tiada lain hanyalah satu umat” (10:19).

Sumber:  Islamologi, (The Religion of Islam) oleh  Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: