Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-a], Adanya Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Pengalaman jasmani, batin, dan rohani manusia

Dalam semua Kitab Suci, adanya Allah dianggap sepenuhnya sebagai kebenaran axioma. Akan tetapi Qur’an Suci mengemukakan banyak bukti untuk membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Dalam uraian ringkas ini, kami hanya bisa menyebutkan tiga bukti yang amat penting, yang terutama sekali dibahas di dalam Qur’an Suci. Pertama, bukti yang diambil dari peristiwa alam, yang dapat disebut pengalaman rendah atau pengalaman jasmani manusia. Kedua, bukti tentang kodrat manusia, yang disebut pengalaman batin manusia. Ketiga, bukti yang didasarkan atas Wahyu Ilahi kepada manusia, yang dapat disebut pengalaman tertinggi atau pengalaman rohani manusia. Akan terlihat dari penjelasan yang akan terpaparkan nanti, karena ruang lingkup pengalaman itu semakin sempit, maka bukti-bukti itu semakin bertambah efektif. Misalnya bukti yang diambil dari peristiwa alam, ini membuktikan bahwa semesta alam ini pasti ada yang menciptakan, yang sekaligus menjadi pengaturnya; akan tetapi ini belum cukup untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Bukti tentang kodrat manusia lebih maju selangkah, karena di dalamnya terdapat kesadaran akan adanya Tuhan, walaupun kesadaran itu mungkin berlainan karena bermacam-macamnya sifat kodrat itu sendiri; oleh karena itu, ini masih bergantung kepada sinar yang menerangi batin itu sendiri, apakah sinar itu terang ataukah remang-remang. Hanya wahyu Ilahi saja yang dapat menyingkap selubung rahasia Allah dengan cahaya-Nya yang bersinar gemerlap, dan dapat membeberkan sifat-sifat-Nya yang mulia, yang orang harus berlomba memilikinya jika ia ingin mempunyai kesempurnaan, dengan arti, harus disertai sarananya untuk memperoleh hubungan dengan Ilahi itu.

Hukum evolusi sebagai bukti adanya tujuan dan kebijaksanaan

Bukti pertama yang diambil dari peristiwa alam, berpusat di sekitar kata Rabb. Dalam wahyu permulaan yang disampaikan kepada Nabi Suci, beliau diperintahkan supaya “membaca dengan nama Rabb, Yang menciptakan (96:1). Nah, kata Rabb yang biasa-nya diterjemahkan “Tuhan”, ini sebenarnya mengandung makna yang sangat berbeda. Menurut ahli kamus bahasa Arab yang termasyhur, kata Rabb menyimpulkan dua makna, yaitu (1) memelihara, mengasuh atau memberi makan, dan (2) mengatur, melengkapi dan menyempurnakan (LL., TA). Jadi pangkal pikiran yang mendasari kata Rabb ialah, memelihara sesuatu dari keadaan yang paling mentah, sampai kepada tingkat kesempurnaan yang paling tinggi; dengan kata lain, berevolusi. Imam Raghib memberi tafsiran lebih terang lagi mengenai arti ini. Menurut beliau, arti kata Rabb ialah, memelihara sesuatu demikian rupa melalui tingkatan yang satu lepas tingkatan yang lain, hingga ia mencapai tujuan yang sempurna. Jadi, dengan digunakannya kata Rabb terdapatlah petunjuk, bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah, membawa kesan ciptaan Ilahi yang mempunyai ciri khas perkembangan dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang lebih tinggi lagi hingga mencapai kesempurnaannya. Hal ini diuraikan lebih jelas lagi dalam wahyu permulaan yang lain, yang berbunyi: “Muliakanlah nama Rabb dikau Yang Maha-luhur, Yang menciptakan kemudian melengkapi, dan Yang membuat (sesuatu) menurut ukuran, kemudian memimpin itu menuju tujuan kesempurnaan” (87:1-3). Di sini diuraikan pengertian Rabb yang lebih lengkap lagi, yaitu, Ia menciptakan segala sesuatu dan melengkapinya. Ia membuat segala sesuatu menurut ukuran, dan menunjukkan kepadanya jalan, yang dengan melalui jalan itu, sesuatu itu dapat mencapai kesempurnaan. Pengertian tentang evolusi, berkembang sepenuhnya pada dua perbuatan, yang pertama, yaitu menciptakan dan melengkapi, hingga segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pasti dapat mencapai kesempurnaan yang sudah ditentukan. Dua perbuatan terakhir menunjukkan bagaimana evolusi yang sempurna itu dilaksanakan. Yaitu, segala sesuatu dibuat menurut ukuran, artinya, dalam setiap ciptaan Allah terdapat hukum perkembangan yang tak dapat dipisahkan; lalu kepada ciptaan itu ditunjukkan jalan, artinya, ciptaan itu tahu akan jalan-jalan yang harus dilaluinya, hingga ia dapat mencapai tujuan yang sempurna. Jadi terang sekali bahwa daya-cipta itu bukan daya yang buta, melainkan daya yang memiliki kebijaksanaan dan yang bergerak sesuai dengan tujuan, dan tujuan itu ialah bergeraknya seluruh ciptaan dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang paling tinggi. Bagi mata biasa pun dapat melihat adanya tujuan dan kebijaksanaan bagi seluruh ciptaan Tuhan, mulai dari butiran debu yang paling halus, daun rumput yang paling kecil, sampai kepada bola-bola raksasa yang berputar di alam semesta mengedari jalan-jalan yang sudah ditentukan, karena masing-masing bergerak di sepanjang jalan yang sudah ditentukan menuju tujuan kesempurnaan yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, marilah kita perhatikan ciri khas ciptaan Allah yang lain, yaitu, segala sesuatu itu diciptakan berpasang-pasangan:

“Dan langit, Kami meninggikan itu dengan kekuatan, dan Kami Yang meluaskan segala sesuatu itu. Dan bumi Kami membuat itu terbentang; alangkah baiknya itu Kami bentangkan. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu ingat”(51: 47-49).
“Maha suci Dia Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dan dari jenis mereka sendiri, dan dari yang mereka tak ketahui” (36:36).
“Dan Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan”(43:12).
Ini menunjukkan bahwa yang berpasang-pasangan itu bukan hanya binatang saja, melainkan pula “apa yang ditumbuhkan oleh bumi” yaitu alam tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, demikian pula “apa yang kamu tak tahu”. Sebenarnya pengertian berpasang-pasangan itu diperluas lebih luas algi, hingga langit dan bumi pun digambarkan seakan-akan satu pasang, karena yang satu mempunyai sifat aktif, sedang yang lain mempunyai sifat passif. Antar hubungan yang dalam ini membuktikan pula adanya tujuan Ilahi dalam seluruh ciptaan-Nya.

Di jagat raya hanya ada satu undang-undang

Hal selanjutnya yang amat ditekankan oleh Qur’an Suci ialah adanya kenyataan, bahwa sekalipun banyak sekal macam-ragamnya, namun dalam jagat raya hanya ada satu undang-undang.

“Yang menciptakan tujuh langit serupa. Engkau tak melihat keadaan yang tak seimbang dalam ciptaan Tuhan Yang Maha-pemurah. Lalu pandanglah sekali lagi, apakah engkau melihat kekacauan? Lalu pandanglah berulang-ulang, pandangan itu akan berbalik kepada engkau, membingungkan, dan melelahkan”(67:3-4).
Di sini kita diberitahu bahwa dalam ciptaan Tuhan tak ada sesuatu yang tak seimbang, yang jika demikian, segala sesuatu yang sama jenisnya akan tunduk kepada hukum yang berlainan; demikian pula tak ada kekacauan, karena jika demikian, hukum yang ada pada ciptaan itu tak dapat bekerja secara seragam. Teraturnya dan keseragaman hukum yang mengagumkan di tengah-tengah beraneka-ragamnya keadaan yang tidak bisa dibayangkan kesimpangsiurannya di jagat raya ini, jelas membuktikan adanya tujuan dan kebijaksanaan Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu.

Seluruh ciptaan di bawah satu pengawasan

Bukti lain lagi, bahwa dalam jagat raya ada Tuhan yang cakap memimpin, ini terang sekali dari kenyataan bahwa segala sesuatu, mulai dari butiran yang amat kecil hingga bola-bola raksasa langit yang amat besar, semuanya tunduk kepada satu undang-undang dan berada di bawah satu pengawasan. Tak ada sesuatu pun yang merintangi dan menghalangi jalannya sesuatu yang lain; sebaliknya, segala sesuatu itu saling bantu-membantu untuk mencapai kesempurnaan. Berulangkali Qur’an Suci memberi tekanan kepada kenyataan ini dalam firmannya sebagai berikut:

“Matahari dan bulan mengikuti perhitungan, dan rumput dan pohon bersujud (kepada-Nya)”(55:5-6).
“Dan matahari berputar di tempat yang telah ditentukan. Ini adalah ketentuan Tuhan Yang Maha-perkasa, Yang Maha-tahu. Dan kepada bulan Kami tentukan tingkatan-tingkatannya sampai itu kembali seperti pelepah pohon kurma yang sudah tua. Tak mungkin matahari menyusul bulan, dan tak pula malam melampaui siang. Semuanya mengapung pada garis edarnya” (36:38-40).
“Lalu ia menuju ke langit, dan itu adalah uap, maka Ia berfirman kepadanya dan kepada bumi: kemarilah kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa. Dua-duanya (langit dan bumi) berkata: Kami datang dengan sukarela”(41:11).
“Allah ialah Yang menundukkan lautan untuk kamu, agar perahu dapat berlayar di atasnya atas perintah-Nya, dan agar kamu mencari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Ia menundukkan untuk kamu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi, semuanya dari Dia. Sesungguhnya ini pertanda bagi orang yang berpikir”(45:12-13).
“Dan Dia menciptakan matahari dan bulan dan bintang untuk melayani (manusia) atas perintah-Nya. Sesungguhnya daya-cipta dan daya-pimpin itu kepunyaan Dia”(7:54).
Semua ayat tersebut menunjukkan bahwa oleh karena segala sesuatu tunduk kepada perintah dan pengawasan Tuhan guna terpenuhinya suatu tujuan, maka tak boleh tidak pasti Tuhan Yang Maha-bijaksanalah Yang mengawasi seluruh ciptaan-Nya.

Petunjuk yang diberikan oleh kodrat manusia

Bukti nomor dua yang membuktikan adanya Allah, bertalian dengan jiwa manusia. Pertama kali, dalam jiwa itu terdapat kesadaran tentang adanya Allah. Tiap-tiap orang mempunyai cahaya batin yang memberitahukan kepadanya, bahwa Allah Yang Maha-luhur, Yang Maha-pencipta, itu ada. Kesadaran batin ini acapkali diwujudkan dalam bentuk pertanyaan. Ini bagaikan satu seruan kepada batinnya sendiri. Kadang-kadang pertanyaan itu dibiarkan tak terjawab, seakan-akan orang diminta supaya berpikir lebih dalam lagi: “Atau apakah mereka diciptakan bukan untuk apa-apa, atau apakah mereka itu yang menciptakan? Atau merekakah yang menciptakan langit dan bumi?”(52:35-36). Kadang-kadang orang memberi jawaban: “Dan apabila engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Mereka menjawab: Yang menciptakan itu ialah Tuhan Yang Maha-perkasa, Yang Maha-tahu” (43:9). Sekali peristiwa, pertanyaan itu langsung ditanyakan oleh Allah sendiri kepada roh manusia: “Dan tatkala Tuhan dikau mengeluarkan keturunan dari para putera Adam, dari punggung mereka, dan membuat mereka mempersaksikan diri sendiri: Bukankah Aku Rabb kamu? Mereka menjawab: Ya, kami menyaksikan” (7:172). Ini adalah bukti yang seterang-terangnya tentang kodrat manusia, yang di tempat lain dalam Qur’an Suci diuraikan: “Fitrah ciptaan Allah, Yang Ia menciptakan manusia atas (fitrah) itu” (30:30). Kadang-kadang kesadaran jiwa manusia itu diungkapkan dalam bentuk kata-kata yang menggambarkan dekatnya manusia kepada Tuhan: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (50:16). Ayat lain lagi berbunyi: “Kami lebih dekat kepadanya (kepada jiwa manusia) daripada kamu” (56:85). Pengertian bahwa Allah lebih dekat kepada jiwa manusia daripada diri manusia itu sendiri, ini hanya menunjukkan bahwa kesadaran jiwa manusia akan adanya Allah itu lebih terang daripada kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri.
Lalu jika jiwa manusia mempunyai kesadaran begitu terang akan adanya Allah, mengapa banyak sekali orang yang mendustakan adanya Allah? Di sininlah orang harus ingat akan dua hal. Pertama, sinar batin yang membuat sadar akan adanya Allah, ini dalam banyak hal tak sama terangnya. Sebagian orang, misalnya para wali yang datang pada tiap-tiap abad di berbagai negeri, sinar itu memancar lebih cemerlang, dan kesadaran mereka akan adanya Allah menjadi amat kuat. Akan tetapi bagi orang awam, kesadaran itu biasanya lemah dan sinar batinnya suram, bahkan tak jarang terjadi bahwa kesadaran itu dalam keadaan lamban (diam), dan bahkan sinar batin itu nyaris padam samasekali. Kedua, walaupun orang atheis dan orang Agnostik mengakui adanya Sebab Awal atau Kekuatan Tertinggi, namun mereka mendustakan adanya Allah dengan sifat-sifatnya yang khas; kadang-kadang kesadaran itu timbul juga dalam batin mereka, kemudian sinar itu menerangi batin mereka, teristimewa diwaktu mereka sedang menderita atau dikala ditimpa penderitaan dan kemalangan. Rupa-rupanya kesenangan dan kemewahan duniawi itu semacam kejahatan yang menyelimuti sinar batin manusia, dan selimut itu disingkirkan oleh penderitaan. Kenyataan ini diingatkan berulangkali oleh Qur’an Suci:

“Dan jika Kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan mengundurkan diri, tetapi jika Kami icipkan keburukan kepada-nya, ia berdo’a sebanyak-banyaknya”(30:33).
“Dan apabila gelombang yang seperti tenda menelan mereka, mereka bedo’a kepada Allah dengan ikhlas dan patuh kepada-Nya; tetapi setelah Dia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebagian saja yang mau mengikuti jalan yang benar”(31:32).
“Kenikmatan apa saja yang kamu peroleh, ini adalah dari Allah; lalu apabila malapetaka menimpa kamu, kamu berteriak memohon pertolongan kepada-Nya”(16:53).
Dalam jiwa manusia sebenarnya terdapat sesuatu yang lebih tinggi tentang kesadaran akan adanya Allah; yakni dalam jiwa manusia terdapat keinginan keras untuk bertemu dengan sang Khalik (Yang Maha-pencipta); ini adalah naluri (instinct) untuk memohon pertolongan kepada Allah. Dalam jiwa manusia tertanam rasa cinta kepada Allah, yang karena cinta itu, manusia sanggup mengorbankan apa saja. Akhirnya jiwa itu akan mencapai tingkatan di mana ia tak dapat menemukan kepuasan yang sempurna jika tanpa Allah. Tetapi sayang, mengingat sempitnya ruangan yang tersedia, maka sukar sekali untuk membahas masalah ini dan masalah lainnya yang bertalian dengan sifat-sifat roh manusia; maka masalah ini terpaksa kami cukupkan sekian saja.

Petunjuk yang diberikan oleh wahyu Ilahi

Bukti yang paling terang dan paling meyakinkan tentang adanya Allah, ialah Wahyu Ilahi, yang bukan saja membenarkan adanya Allah, melainkan pula menyoroti sifat-sifatnya, yang tanpa ini, adanya Tuhan hanyalah dogma semata. Dengan tersingkapnya rahasia sifat-sifat Tuhan itulah maka iman kepada Allah menjadi faktor yang amat penting bagi evolusi manusia, karena hanya dengan mengetahui sifat-sifat Tuhan itulah yang memungkinkan orang untuk menempatkan cita-cita yang tinggi sebagai idamannya, yaitu mencontoh akhlak Tuhan; jadi hanya dengan mencontoh akhlak Tuhan itulah orang dapat meningkat ke puncak keluhuran akhlak yang tinggi. Allah adalah Rabbul-‘alamin (Yang memelihara dan mengasuh sarwa sekalian alam); maka dari itu mengabdi kepada Allah berarti ia akan bekerja sekuat tenaga guna melayani kepentingan sesama manusia serta mencintai sesama makhluk, sekalipun makhluk itu tak dapat bicara. Allah adalah Yang Maha-pengasih dan Maha-penyayang kepada makhluk-Nya, maka dari itu orang yang beriman kepada Allah akan tergerak perasaan kasih sayangnya terhadap sesama makhluk. Allah adalah Yang Maha-pengampun, maka dari itu orang yang mengabdi kepada Allah pasti akan mengampuni sesamanya.
Beriman kepada Allah yang mempunyai sifat-sifat yang sempurna yang diberitahukan kepada kita melalui Wahyu Ilahi, adalah cita-cita yang paling tinggi yang menjadi idaman setiap manusia, tanpa adanya cita-cita yang tinggi itu, hidup manusia akan mengalami kekosongan yang menguras sekering-keringnya segala kesungguhan hidup dan segala cita-cita luhur.
Sebaliknya, Wahyu Ilahi mendekatkan manusia kepada Allah, dan membuat adanya Allah benar-benar terasa dalam hidupnya, melalui suri tauladan yang diberikan oleh orang sempurna yang telah berhubungan dengan Tuhan. Allah adalah satu-satunya Kebenaran Hakiki, bahkan satu-satunya kebenaran yang paling besar di dunia; manusia dapat merasakan adanya Allah dan mewujudkan-Nya pada tiap-tiap saat dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat mengadakan hubungan yang amat mesra dengan Dia. Bahwa kesadaran akan adanya Allah dapat membawa perubahan dalam kehidupan manusia, dengan menjadikannya suatu kekuatan rohani yang tak tergoyahkan di dunia, ini bukanlah pengalaman pribadi dari orang seorang atau suatu bangsa, melainkan pengalaman manusia sejagat dari bangsa apa saja, di negeri dan di zaman apa saja. Ibrahim, Musa, ‘Isa, Kong Hu Cu, Zaratustra, Rama, Krishna, Buddha dan Muhammad, adalah orang-orang terkemuka yang masing-masing telah melaksanakan revolusi moral di dunia, bahkan ada sebagian yang melaksanakan revolusi duniawi, yang kekuatan gabungan dari seluruh bangsa tak mampu menahannya; bukan itu saja, melainkan pula telah mengangkat manusia dari lembah kebejatan moral ke tingkat akhlak yang paling tinggi, bahkan pula kesejahteraan materiil. Semua itu menunjukkan bahwa rohani manusia dapat meningkat ke puncak yang paling tinggi setelah terjadi hubungan yang sebenar-benarnya dengan Allah.
Ambillah sebagai contoh, Nabi Muhammad saw, beliau bangkit seorang diri di tengah-tengah bangsa yang tenggelam ke dalam segala macam kejahatan dan kebejatan moral. Beliau tak mempunyai kekuatan yang membantu beliau, bahkan tak mempunyai seorang pembantu pun. Tanpa persiapan sedikit pun, beliau mulai menyingsingkan lengan baju untuk melaksanakan tugas pembangunan yang nampak mustahil, karena bukan saja untuk membangun satu bangsa, melainkan membangun seluruh umat manusia. Beliau mulai melaksanakan pembangunan itu dengan satu Kekuatan, yakni Kekuatan Ilahi, yang dapat membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. “Bacalah dengan nama Tuhan dikau”. “Bangunlah dan berilah peringatan; dan Tuhan dikau agungkanlah!”(96:1; 74:2-3). Perkara yang beliau bela adalah perkara Tuhan, oleh karena itu kemenangan perkara itu bergantung kepada pertolongan Tuhan jua. Semakin hari, tugas itu semakin berat, dan perlawanan semakin sengit, sampai-sampai menurut penglihatan orang, tak ada harapan lagi, kecuali hanya kekecewaan di mana-mana. Tetapi apakah ini mempengaruhi semangat beliau? Dengan bertambah hebatnya perlawanan, ketetapan hati beliau semakin bertambah kuat. Memang benar bahwa dalam wahyu permulaan dinyatakan secara garis besar, bahwa perkara beliau akan menang dan pihak musuh akan mengalami kekalahan. Namun jika ditinjau dari sudut kelahiran, ramalan kemenangan yang begitu terang dan mantap itu diimbangi dengan hari depan yang nampak suram. Berikut ini adalah beberapa ayat yang kami kutip menurut urutan turunnya wahyu:
“Dengan karunia Tuhan dikau, engkau itu tak gila. Dan sesungguhnya engkau akan mendapat ganjaran yang tak ada putus-putusnya” (68:2-3).
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau kebaikan yang melimpah-limpah” (108:1).
“Sesungguhnya berserta kesulitan adalah kemudahan” (94:5).
“Apa yang datang kemudian itu bagi engkau lebih baik daripada apa yang datang sebelumnya; dan segera Tuhan dikau akan memberikan kepada engkau hingga engkau akan merasa puas” (93:4-5).
“Sesungguhnya ini adalah sabda Utusan yang mulia, yang memiliki kekuatan, yang berada di sisi Tuhan Yang mempunyai singgasana” (81:19-20).
“Dan pada sebagian malam, bangunlah dengan menjalankan tahajud…..; boleh jadi Tuhan dikau akan mengangkat engkau pada kedudukan yang amat terpuji” (17:79).
“Wahai manusia! Kami tak mewahyukan Qur’an kepada engkau agar engkau celaka!” (20:1-2).
“Dan pada hari itu kaum Mukmin bergembira atas pertolongan Allah” (30:4-5).
“Sesungguhnya Kami menolong para utusan Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tatkala para saksi dibangkitkan” (40:51).
“Maha berkah Dia, Yang jika Dia menghendaki, Dia akan memberi engkau yang lebih baik daripada ini, yakni Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; dan Dia akan memberi engkau istana” (25:10).
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik di antara kamu, bahwa Dia sungguh-sungguh akan membuat mereka penguasa di bumi, sebagaimana Dia telah membuat sebagai penguasa orang-orang sebelum mereka, dan Dia akan menegakkan agama mereka yang Dia pilihkan untuk mereka, dan setelah mereka ketakutan akan Dia berikan perasaan aman kepada mereka sebagai gantinya” (24:55).
“Dia ialah Yang mengutus utusan-Nya dengan pimpinan dan agama yang benar, agar Dia memenangkan itu di atas sekalian agama” (48:28).
Demikian pula selesainya perlawanan, digambarkan lebih terang lagi dalam wahyu yang diturunkan lebih belakangan dari wahyu yang terdahulu, walaupun kian hari perlawanan semakin menghebat. Tiga ayat berikut ini termasuk golongan wahyu yang diturunkan dalam tiga masa yang berlainan:

“Sampai tatkala mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, mereka akan tahu siapakah yang pembantunya lebih lemah dan lebih sedikit bilangannya” (72:24).
“Atau apakah mereka berkata: Kami adalah pasukan gabungan yang saling membantu. Pasukan gabungan akan segera dikalahkan; dan mereka akan berbalik punggung” (54:44-45).
“Katakanlah kepada orang-orang kafir: Kamu segera akan dikalahkan” (3:11).
Semua itu terpenuhi setelah beberapa tahun diramalkan, meskipun pada waktu itu diumumkan, tak ada kejadian yang membuktikan benarnya ramalan itu; bukan itu saja, bahkan keadaan pada waktu itu pun menentang ramalan itu. Tak seorang pun dapat menduga bahwa apa yang diramalkan begitu terang itu, akan terlaksana sungguh-sungguh, dan tak ada kekuatan manusia yang dapat menyebabkan gagalnya seluruh bangsa dengan segala kekayaan yang serempak ditujukan untuk melawan satu orang yang mereka bertekad bulat untuk membinasakannya.
Jadi, Wahyu Ilahi membuktikan seterang-terangnya dan seyakin-yakinnya akan adanya Allah Yang Maha-tahu akan segala sesuatu, baik sekarang, dahulu, maupun yang akan datang, Yang menguasai kekuatan alam dan nasib manusia.

Sumber:  Islamologi, (The Religion of Islam) oleh  Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Penerbit, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: