Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Kekinian [6a]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tafsir dalam konteks sejarah dan dalam konteks ayat dan surat di atas sebenarnya tetap relevan dan signifikan dengan tafsir dalam konteks kekinian, karena Al Fatihah merupakan intisari Al Quran petunjuk bagi umat manusia untuk sepanjang zaman di mana saja ia berada. Signifikasi hidayah Al Fatihah dewasa ini terutama sebagai surat permohonan (sûratud-du’â’) dibagi menjadi dua bagian yang saling berhubungan. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah pernah Tuhan menurunkan sebuah kitab seperti Al Fatihah yang tujuh ayatnya ini, baik dalam Injil maupun dalam Taurat, dan Allah Ta’ala berfirman bahwa surat ini terbagi antara Aku dan hamba-hamba-Ku dan mereka yang berdoa serta mengamalkan isi surat itu pastilah Kuterima dan Kuwujudkan kehendak mereka” (H. R. Nasa’i dari Ubay bin Ka’ab r.a.).

Kedua bagian itu, pertama mengenai aspek Tuhan, kedua mengenai aspek insan, baik secara individual maupun kolektif. Keduanya saling berhubungan. Hubungannya sebagai berikut:

 Mengenai Tuhan               Mengenai Insan
Alhamdu lillâhi             =        Iyyâka na’budu
Rabbil ‘âlamîn               =         Iyyâka nasta’în
Arrahmâni                      =        Ihdinashshirâtal mustaqîm
Arrahîmi                          =        Shirâtalladzîna an’amta ‘alaihim
Mâliki yaumiddîn         =        Ghairil-maghdhûbi ‘alaihim waladhdhâllîn

Khawaja Kamaluddin, seorang muballigh dari “The Woking Muslim Mission” London yang pernah berkunjung ke Surabaya (1921), dalam bukunya The Secret of Existence or The Gospel of Action yang telah diterjemahkan oleh H. M. Bachrun dengan judul “Rahasia Hidup”, menjelaskan, “bahwa tiap-tiap doa atau permohonan itu harus terdiri dari tiga syarat. Yang pertama, kita harus alamatkan kepada pejabat yang sesuai dengan sifat permohonan kita. Umpamanya, dan ini sering terjadi, satu orang merangkap jabatan sebagai penguasa urusan sipil dan kriminal. Jika sekiranya perkara kita itu sifatnya kriminal, kita harus mengalamatkan sebagai mangistrat; akan tetapi jika perkara kita itu sifatnya sipil, maka alamatnya sebagai hakim. Syarat kedua, kita harus menyatakan kedudukan kita sebagai pemohon. Dan setelah itu, (syarat ketiga – pen.) baru kita mengemukakan permohonan kita yang sebenar-benarnya di muka pengadilan. Tepat ketiga syarat itu dibeberkan dalam surat Al Fatihah” ( hal. 76). Kita alamatkan Tuhan yang telah menyatakan nama diri-Nya adalah Allah, dengan sebutan empat sifat utamanya Rabb, Rahmân, Rahîm, dan Mâliki yaumiddîn. Kita sebagai pemohon di hadapan-Nya menyatakan:

“Ya Allah Tuhan kami, tak ada Tuhan selain Engkau. Segala puja dan puji adalah milik Engkau. Alhamdulillâh. Demikian pula keagungan, kemuliaan, keindahan, kebaikan dan sesamanya. Firman Engkau walillâhil-asmâ’ul-husna benar-benar kami sadari maknanya, bahwa segala keagungan, kemuliaan, keindahan dan kebaikan yang ada di dunia ini hanyalah refleksi belaka dari keagungan, kemuliaan, keindahan dan kebaikan Engkau. Seseorang atau suatu bangsa menjadi besar, jaya dan terhormat hanyalah karena kodrat dan iradat Engkau, demikian pula mereka yang runtuh dan binasa. Tiada kami dapati sesuatu yang terpuji, baik di langit dan di bumi, melainkan itu semuanya adalah pancaran wajah Engkau juga, karena fitratallâhil-latî fatharan-nâsa ‘alaihâ, fitrah Allah yang Allah menciptakan manusia atas itu. Manusia diciptakan dengan karunia sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Engkau, ya Allah. Potensi inilah wahai Tuhan, yang menjadikan kami pantas menjadi mazhar Engkau.

Maka dari itu ya Allah Tuhan kami, iyyâka na’budu, hanya kepada Engkau kami mengabdi. Kaulah yang bebas dari cacat dan cela. Kami lemah tiada berdaya ya Allah, apalah artinya hidup di dunia ini, kalau kami tidak mencari keridhaan Engkau dan menumbuhkembangkan sifat-sifat Engkau dalam diri kami? Bukankah Engkau telah menyatakan bahwa wamâ khalaqtul-jinna wal-insa illâ liya’-budûn? “Tidaklah Aku ciptakan jin dan mnausia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku?” Ya, Allah Tuhan kami, lewat pengabdian kami inilah kiranya Engkau berkenan melimpahkan rahmat dan karunia yang mendorong kami ke arah kemajuan menumbuhkembangkan sifat-sifat Engkau yang telah tertanam dalam diri kami yang notabene adalah kewajiban asasi kami dan sekaligus menjadi hak asasi sesama kami.

Ya Allah Tuhan kami, permohonan kami itu hanyalah kami tujukan kepada Engkau, karena Engkau adalah Rabbul’âlamîn, Tuhan serwa sekalian alam. Engkau adalah Yang menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, lalu menyempurnakan dan menakdirkan lalu membimbing ke arah kesempurnaan masing-masing ciptaan. Tidak terbatas pada alam manusia, tetapi juga alam: ma’adini, nabati, hewani dan arwahi. Tidak ada batu, pohon, binatang dan manusia, baik bangsa Barat maupun Timur yang tidak merasai limpahan rububiyah Engkau. Kami sadar ya Rabbanâ, tak ada diskriminasi antar umat manusia di hadapan Engkau. Di hadapan Engkau, ketinggian martabat itu bukan karena pangkat, asal-usul, posisi dan tempat tinggalnya, melainkan karena usaha keras yang tiada habis-habisnya untuk menjelmakan sifat rububiyat Engkau dalam segala seginya. Segala yang lahir dan yang batin hidup oleh rububiyat Engkau, sebab segala ini adalah sibghah daripada Engkau, Rabbul’âlamîn.

Oleh karena itu ya Allah, wa iyyâka nasta’în, hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Ajarilah kami ilmu menumbuhkan sifat-sifat rububiyat Engkau itu agar kami dapat menyempurnakan diri kami, mengatur rumah-tangga kami dan menyusun masyarakat kami sebaik-baiknya. Ajarilah kami hikmat menyelesaikan soal demi soal dunia dan diri kami sendiri. Kesanilah kami dengan kemauan yang padu, benar-benar menjadi pendukung sifat-sifat Engkau yang mulia, wahai Tuhan! Sudah amat terlibatlah kami, Tuhan, dalam macam-macam soal, sehingga nampak-nampaknya kepala kami akan pecah menzarrah. Setiap dari kami manusia, Rabbanâ, sudah mempunyai soal tersendiri pula di samping soal-soal kami sebagai umat – soal material, moral dan spiritual – wahai Tuhan, jernihkanlah fikiran kami, lapangkanlah dada kami dan kuatkanlah gerak dan langkah kami untuk menjadi mazhar sifat rububiyat Engkau itu ya Rabbanâ…!

Ya Allah Tuhan kami, Engkau adalah Arrahmân, Yang Maha-pemurah, yakni Yang melimpahkan segala kebutuhan insan yang kebutuhan itu telah Engkau limpahkan sebelum ada usaha insan, bahkan sebelum insan lahir dari rahim ibunya. Telah Engkau sediakan bagi setiap bangsa suatu tanah air dan tempat kediaman tanpa usaha dari bangsa itu terlebih dulu. Demikian pula untuk setiap orang. Udara dan cahaya, tanah dan air, bahan kehidupan dan keperluan, sejak dari rahim ibunya sampai hadir di muka bumi ini telah Engkau sediakan secara cuma-cuma, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa. Wain ta’uddû ni’matallâhi lâ tuhsûhâ, dan jika engkau mencoba menghitung nikmat-nikmat Allah, engkau tak dapat menjumlahkannya (14:34; 16:18) adalah firman Engkau yang menjelaskan betapa banyak tak terbilang rahmaniyat Engkau yang telah Engkau limpahkan kepada kami.

Maka dari itu, ihdinash-shirâtal-mustaqîm, pimpinlah kami ke jalan yang benar, ke jalan yang lurus. Jalan yang menuju ke arah tujuan kejadian kami dan kehidupan kami ini. Betapa banyak rahmaniyat Engkau untuk menyempurnakan diri kami sesuai dengan takdir dan fitrah kami. Tanpa bimbingan dan pimpinan Engkau kami tak akan mampu menempuh jalan lurus, karena kami ini lemah. Seringkali kami terbelit dalam cita dan amal yang kami wujudkan sendiri, bahkan terpengaruh pula oleh cita dan amal orang lain. Oleh sebab itu wahai Tuhan, tunjukkanlah kepada kami jalan keluar dari berbagai macam persoalan dan kesulitan, karena kami sering menyukai sesuatu ternyata itu tidak baik bagi kami dan sering pula membenci sesuatu rahmaniyah Engkau, padahal itu sebenarnya justeru yang baik bagi kami.

Ya Allah Tuhan kami, Engkau adalah Arrahîm, Yang Maha penyayang. Engkaulah yang membalas perbuatan baik hamba yang tak seberapa dengan balasan yang berlipat ganda. Karena rahmaniyat Engkau ya Allah, banyak bangsa menjadi jaya di muka bumi ini. Mereka sukses mendayagunakan alam semesta. Dapat menyelam dalam laut yang dalam bagaikan ikan, dan dapat beterbangan di angkasa raya bagaikan burung. Berkat rahimiyat Engkau ya Allah, kami akan dapat mempertahankan maqam sebagai ahsani taqwîm, baik secara jasmaniah maupun rohaniah, sehingga kami benar-benar menjadi khalifah Engkau di muka bumi ini. Sebagai khalifah Engkau ya Tuhan, kami insyaallah akan tetap dan terus-menerus dalam kodrat dan iradat Engkau, tidak pernah lengah dan lalai memelihara keselarasan dan menyempurnakan alam semesta ini, baik dalam arti makro maupun mikro, makrokosmos dan mikrokosmos.

Oleh karena itu ya Allah, yang kami mohon ialah shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim, jalan orang-orang yang telah Engkau karuniai kenikmatan pada zaman yang silam. Mereka telah Kau karuniai dengan kenegaraan dan kenabian. Antara lain kami ingat Tuhan, kepada ucapan Nabi Musa a.s.: “Hai kaumku, ingatlah nikmat-nikmat Tuhan kepada kamu, bila dijadikan-Nya di antara kamu para Nabi dan para pengendali pemerintahan kenegaraan, dan dilimpahkan-Nya kepada kamu hal-hal yang tak dinikmati oleh umat yang lain”. Wahai Tuhan, jadikan jugalah kami seperti mereka yang telah Kau limpahi nikmat dan karunia. Tetapkanlah langkah dan cita kami di lingkungi hidayah-wahyu Engkau, sehingga kami pantas menjadi golongan mereka yang Kau karuniai nikmat hakiki, yaitu para nabi, para shidiqin, para syuhada’ dan para shalihin.

Ya Allah Tuhan kami, Engkau adalah Mâliki yaumid-dîn, Yang memiliki hari pembalasan. Engkau pasti meng-hisab segala sesuatu yang telah kami lakukan dan lalaikan. Meski Engkau telah banyak melimpahkan ampunan dan maghfirah, karena Engkau adalah Ahlul-maghfirah, tapi kami adalah hamba Engkau yang lemah, yang kelemahan itu sering mendorong kami melebihi batas menyempitkan atau mengkhususkan sifat-sifat Engkau demi kepentingan diri kami sendiri, sebgaimana telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu, misalnya kaum Yahudi yang telah berusaha membunuh utusan Engkau yang mulia, Isa Almasih, atas nama Engkau. Atau umat Kristen, yang demi cinta dan hormat mereka kepada Isa Almasih (Yesus Kristus), mengangkat beliau sebagai Tuhan di samping Engkau.

Maka dari itu, dengan rendah hati dan kesadaran yang mendalam, yang kami mohon ialah ghairil-maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâllîn, bukan jalan orang-orang yang mendapatkan murka Engkau dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar, yang karena kesesatan mereka Engkau haramkan sorga bagi mereka. Ya Allah Tuhan kami, Engkau adalah Rabbul’âlamîn. Kami yakin bahwa Engkau telah menciptakan segala sesuatu yang sangat kami perlukan bagi pemeliharaan dan evolusi kami ke arah kesempurnaan. Engkau telah menciptakan alat-alat yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kami, karena Engkau adalah Arrahmân. Engkau juga Arrahîm, maka tiap-tiap usaha dari pihak kami akan mendapat ganjaran berlipat-lipat, segera setelah kami menggunakan apa yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Di samping itu kami pun tahu bahwa kami tidak layak untuk menerima rahmat Engkau sebagai Arrahîm, terkecuali jika kami berusaha mati-matian. Kami pun yakin bahwa Engkau adalah Mâliki yaumiddîn, Yang memiliki Hari Pembalasan, akan meng-hisab segala sesuatu yang telah kami lalaikan atau kami jalankan. Kami telah mencoba sebaik-baiknya semua alat dan kemampuan kami untuk mencapai suatu tujuan, kini kami datang bersembah sujud kepada Engkau wahai Tuhan, untuk mengisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang masih terdapat dalam usaha-usaha kami. Akan tetapi apa yang kami mohon itu hanya jalan yang benar, bukan jalan yang mengundang murka Engkau dan bukan pula jalan mereka yang tersesat dari jalan yang benar. Wahai Tuhan, hanya Engkaulah yang mampu membersihkan diri kami dari dosa dan melindungi kami dari segala bencana di dunia ini, karena Engkau penguasa sejati alam semesta ini. Walhamdulillâhi rabbil’âlamîn.”[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: