Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 2 dan 3 [4]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Singkatnya, tak ada satu perbuatan pun, baik atau jahat, tanpa akibat mengadakan perubahan yang halus sekali pada kepribadian kita (10:63; 34:3). Jika manusia tak melihatnya dalam kehidupan di dunia ini, maka di akhirat pun masih ada ‘hari pembalasan’. Tiap-tiap jiwa bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya (6:52; 52:21), dan “tiada pemikul beban memikul beban orang lain” (6:165; 53:38). Manusia tak mungkin melakukan pelanggaran hukum Ilahi tanpa memperlakukan jiwanya tak adil (65:1; 69:25-32) dan tanpa menghukum dirinya sendiri (30:9, 10), sebab dia tak dapat menyembunyikan atau melarikan diri dari akibat perbuatan pada jiwanya (17:13-14). Sekalipun kesalahannya tak diketahui orang lain atau dia menutup-nutupi, memperkecil atau memperelok-elok kejahatannya – misalnya dengan dalih “kebanyakan orang berbuat begitu, mengapa saya tidak?” – namun struktur fitriah jiwanya sedemikian rupa sehingga dalam batinnya selalu ada yang mengusahakan agar dia dihukum juga tanpa disadarinya (36:4). Dalam beberapa hal, misalnya jika ada penyesalan mendalam akan suatu pelanggaran yang telah dilakukannya (2:167) atau jika dia dalam keadaan merana karena kesedihan (14:17) atau jika dia menurut kepada hawa nafsunya saja, sehingga akhirnya ada dalam belenggu kejahatan (2:81), maka perbuatannya itu dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang sama sekali tak mungkin disadarinya, karena proses-proses itu berlangsung dalam akhfâ’, yaitu dalam apa yang lebih tak mungkin lagi ditangkap dengan indera-indera (20:7)

Ayat kedua, arrahmânir-rahîm. Di sini Rububiyah Ilahi, yakni perbuatan Ilahi memelihara, mengatur, dan memimpin ciptaan-Nya ke arah kesempurnaan – termasuk manusia – dinyatakan dengan dua kata, Arrahmân dan Arrahîm. Keduanya berasal dari kata rahmat yaitu riqqatun taqtadil-hisâna ilal marhûm, kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti perbuatan baik terhadap yang disayangi. Digubah menjadi Rahmân – mengikut wazan fa’lân untuk menunjukkan tingkat perbandingan yang tertinggi – berarti rahmat yang tertinggi, Yang Maha-pengasih. Artinya, Kasih-sayang-Nya demikian besar, sehingga Dia telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk, yang sesuatu itu telah diciptakan sebelum adanya, yang diciptakan dan disediakan, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa, agar setiap ciptaan-Nya dapat mempertahankan dan menyempurnakan dirinya. Bagi manusia, untuk menyempurnakan jasmaninya Allah telah menciptakan alam semesta, sedang untuk menyempurnakan rohaninya Allah menciptakan malaikat, jin dan setan, serta menurunkan agama dan wahyu-Nya yang berisi Pedoman hidup yang tepat untuk menyempurnakan dirinya.

Arrahîm – mengikuti wazan fa’îl, yang menunjukkan bahwa perbandingan tingkat tertinggi itu dawâm, langgeng – berarti rahmat Ilahi yang tertinggi itu terus menerus tak putus-putusnya diulangi, Yang Maha-penyayang, yakni Yang mengganjar perbuatan baik manusia yang tak seberapa dengan ganjaran yang berlipat ganda. Barangsiapa belajar ia pandai, barangsiapa menanam ia panen, barangsiapa berlatih ia terampil; kepandaian, panenan, dan keterampilan adalah rahimiyah Ilahi. Perbuatan kasih-sayang Ilahi yang dinyatakan dengan kata Rahim merupakan primium mobile, motor penggerak untuk melakukan kebaikan, karena tak ada perbuatan baik yang sia-sia tak berbalas.

Rasulullah saw. bersabda, bahwa Arrahmânu rahmânud-dunya, warrahîmu rahîmul-âkhirah, artinya “Ar-rahmân ialah Tuhan Yang Maha-pengasih yang kasih-sayang-Nya dinyatakan dengan menciptakan seluruh alam semesta, sedang Arrahîm ialah Tuhan Yang Maha-penyayang, yang kasih sayang-Nya dinyatakan dalam keadaan yang kemudian” (AH). Kata âkhirah tidak hanya berarti akhirat pasca dunia, tetapi dapat pula berarti akhir atau kemudian, lawannya awal; dalam hadits tersebut berarti akibat perbuatan yang telah dilakukan. Akibat itu bisa dinikmati di dunia ini atau di akhirat nanti. Perbedaan antara keduanya, Arrahmân bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang Arrahîm umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang; artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam di mana perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Tuhan Arrahmân mengaruniai manusia alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan sifat Tuhan Arrahîm mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang. Rahmaniyah adalah segala benda yang kita perlukan, dan atas nama kehidupan kita bergantung, adalah semata-mata karunia Ilahi, dan sudah tersedia untuk kita sebelum kita berbuat sesuatu, yang menyebabkan kita layak untuk menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang Rahmaniyah adalah segala karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang akan datang akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Arrahmân itu Pemberi Karunia, yang mendahului kita, sedang Arrahîm itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjarannya. Atau singkatnya Arrahman yang mengaruniai bahan mentah, sedang Arrahim yang mengaruniai barang jadi. Akan lebih lengkap jika tulisan Soedewo P. K. kita simak: “Arrahmân ialah Allah sebagai Pencipta makhluk-makhluk-Nya, berangsur-angsur dari tingkat ke tingkat, sedangkan Arrahîm ialah Allah sebagai Penunjuk jalan dan Pemimpin pada jalan yang mengarah kepada kemajuan, kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan” (Intisari Qur’an Suci, hal. 40).

Kendati demikian, banyak orang yang tidak suka menerima Pedoman Hidup Tuhan sebagai Arrahman, apalagi melaksanakannya. Orang semacam ini tak akan menemui Tuhan sebagai Arrahim, melainkan Tuhan sebagai Mâliki yaumiddîn, Yang memiliki hari pembalasan.

Ayat ketiga terdiri tiga kata: mâliki, yaum dan addîn. Biasanya kata Mâlik diterjemahkan Raja dalam bahasa Indonesia, hal ini sebenarnya tidak tepat. Karena di sini ada imbuhan huruf alif dalam kata malik, sehingga ma dibaca panjang mâliki, bukan maliki (ma dibaca pendek). Antara keduanya berbeda, meski akar katanya sama. Mâlik (yang pertama) berarti Yang memiliki, sedang malik (yang kedua) berarti raja. Digunakannya kata Mâliki atau Yang memiliki, ini menunjukkan bahwa Allah bukanlah tak adil jika Ia mengampuni hamba-Nya yang berdosa, karena Ia bukan raja atau hakim yang terikat oleh hukum, melainkan lebih dari itu, yaitu Yang-memiliki, Mâliki.

Kata yaum, seperti diterangkan oleh Maulana Muhammad Ali, bahwa “dalam bahasa Arab digunakan untuk menerangkan jangka waktu, dari satu detik (55:29) sampai seribu tahun (32:5) atau limapuluh ribu tahun (70:4), bahkan waktu yang keliwat pendek atau keliwat panjang. Menurut LL, yaum adalah waktu, baik siang atau malam; waktu yang tak terbatas, baik malam atau bukan, sebentar atau tidak; juga berarti hari, artinya, jangka waktu mulai matahari terbit sampai matahari terbenam. Menurut Raghib, kata yaum berarti waktu, waktu apa saja, dan makna ini adalah yang paling tepat. Oleh karena dalam Qur’an banyak diterangkan bahwa undang-undang pembalasan Allah, bekerja setiap saat, dan tak ada satu ayat pun yang membenarkan pengertian bahwa undang-undang pembalasan tak akan dijalankan sebelum datangnya hari yang ditentukan, maka undang-undang pembalasan yang diisyaratkan dalam ayat ini, merupakan undang-undang yang senantiasa bekerja; adapun Hari Kiamat adalah hari perwujudan yang sempurna dari undang-undang itu. Sebenarnya, Yang memiliki Hari pembalasan itu artinya Yang memiliki undang-undang Pembalasan, karena, undang-undang itu bekerja setiap saat”. Selanjutnya beliau menerangkan: “Kata din mempunyai dua makna, pembalasan danagama, berasal dari kata dâna artinya membalas, mengadili, mematuhi (LL). Dengan melukiskan Allah sebagai Yang memiliki Hari Pembalasan, Alquran menekankan di satu pihak, adanya kenyataan bahwa undang-undang Allah tentang pembalasan, bekerja setiap saat, dengan demikian, membuat manusia mempunyai rasa tanggungjawab atas perbuatan yang mereka lakukan; dan di lain pihak, mengutamakan sifat pengampunan sebagai sifat utama Allah, sehingga undang-undang pembalasan bukanlah seperti hukum alam yang kaku, melainkan seperti perlakuan Dzat Yang memiliki, yang pada hakekatnya ialah Yang Maha-pengasih lagi Maha-penyayang, seperti telah diterangkan di muka. Penempatan sifat Mâliki yaumiddîn sesudah dua sifat Rahman dan Rahim, ini dimaksud untuk menunjukkan bahwa sifat Mâliki yaumiddîn itu sama pentingnya dengan sifat Rahman dan Rahim dalam menyempurnakan diri manusia secara evolutif (Rububiyah). Kemurahan Allah (Arrahmân) diperuntukkan bagi sekalian manusia; Kasih-sayang Allah (Arrahîm) diperuntukkan bagi manusia yang menerima Kebenaran disempurnakan melalui undang-undang pembalasan (Mâliki yaumiddîn). Kadang-kadang hukuman mereka berupa kesusahan dan kesengsaraan di dunia, akan tetapi bentuk hukuman yang sesungguhnya akan dibuktikan pada Hari Kiamat. Baik kesengsaraan di dunia maupun neraka di akhirat, ini sebenarnya adalah tindakan penyembuhan untuk membinasakan penyakit rohani, dan untuk membangkitkan kehidupan rohani manusia.

Selanjutnya, hendaklah diingat bahwa Mâliki yau-middîn dapat pula diterjemahkan Dzat Yang memiliki hari Agama, dalam arti bahwa kebangkitan rohani akan dilaksanakan berangsur-angsur di dunia, sehingga akhirnya sebagian besar manusia akan mengakui kebenaran agama. Sebenarnya, hukum evolusi bekerja pula di alam rohani sebagaimana hukum itu bekerja di alam fisik.

Allah adalah Mâliki yaumiddîn, Yang memiliki Hari Pembalasan berarti Dia bukanlah Tuhan Yang memaksakan kepada manusia suatu beban atau kewajiban yang tak dapat dipikulnya (7:42-43), bukan pula hakim yang harus berpegang teguh kepada undang-undang dan hanya dapat menimbang menurut keadilan, tetapi tak dapat memberi ampun. Dia adalah Yang memiliki pembalasan lagi Maha-bijaksana; karena itu: Dia mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan hamba-hamba-Nya dengan ampunan yang Maha-besar, sebab Dia adalah Ahlul-maghfirah, Yang patut memberi ampun, sekalipun manusia tak memohonnya (74:56); atau memberi waktu (istidrâj) kepada hamba-hamba-Nya yang berdosa untuk memperbaiki hidupnya dengan penuh keadilan dan tanpa meminta korban sebagai tebusan (35:37); atau melakukan pembalasan yang setimpal dengan dosa dan pelanggaran hukum yang telah dilakukan, atau bahkan kemunduran untuk sementara waktu.

Singkatnya, tak ada satu perbuatan pun, baik atau jahat, tanpa akibat mengadakan perubahan yang halus sekali pada kepribadian kita (10:63; 34:3). Jika manusia tak melihatnya dalam kehidupan di dunia ini, maka di akhirat pun masih ada ‘hari pembalasan’. Tiap-tiap jiwa bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya (6:52; 52:21), dan “tiada pemikul beban memikul beban orang lain” (6:165; 53:38). Manusia tak mungkin melakukan pelanggaran hukum Ilahi tanpa memperlakukan jiwanya tak adil (65:1; 69:25-32) dan tanpa menghukum dirinya sendiri (30:9, 10), sebab dia tak dapat menyembunyikan atau melarikan diri dari akibat perbuatan pada jiwanya (17:13-14). Sekalipun kesalahannya tak diketahui orang lain atau dia menutup-nutupi, memperkecil atau memperelok-elok kejahatannya – misalnya dengan dalih “kebanyakan orang berbuat begitu, mengapa saya tidak?” – namun struktur fitriah jiwanya sedemikian rupa sehingga dalam batinnya selalu ada yang mengusahakan agar dia dihukum juga tanpa disadarinya (36:4). Dalam beberapa hal, misalnya jika ada penyesalan mendalam akan suatu pelanggaran yang telah dilakukannya (2:167) atau jika dia dalam keadaan merana karena kesedihan (14:17) atau jika dia menurut kepada hawa nafsunya saja, sehingga akhirnya ada dalam belenggu kejahatan (2:81), maka perbuatannya itu dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang sama sekali tak mungkin disadarinya, karena proses-proses itu berlangsung dalam akhfâ’, yaitu dalam apa yang lebih tak mungkin lagi ditangkap dengan indera-indera (20:7) dan mengakibatkan bangkitnya bermacam-macam penyakit, misalnya: rasa khawatir atau takut yang tak karuan, gelisah, kurang percaya diri, sakit-sakitan, aktifitas melemah, dan sesamanya, yang hanya dapat diatasi sepenuhnya dengan jalan taubat, yakni perbuatan kembali kepada ketaatan kepada Allah, kembali mematuhi Pimpinan Ilahi (2:38; 6:48), yang mengandung arti: perubahan yang sempurna dalam kehidupan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: