Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 1 [3]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Ayat pertama, Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, yang biasanya diterjemahkan segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian Alam. Dalam ayat ini ada empat kata kunci, yaitu: alhamd, Allah, Rabb, dan al’âlamîn.

Kata alhamd, segala puji yang dipakai oleh Allah SWT, bukan kata syukur, madah dan tsana. Syukur berarti menyatakan terimakasih untuk segala macam karunia yang telah diterima; tsana menunjukkan pikiran terimakasih supaya diumumkan, dan madah mengandung arti pujian yang diwujudkan bukan dengan ikhlas, seperti dalam sabda Rasulullah saw. “Ihsu’turaba fi wujuhil-madahina” artinya “Curahkanlah abu di muka orang-orang yang memuji dengan rasa palsu!” Hamd mengandung arti bukan hanya terimakasih untuk segala macam pemberian, tetapi juga mengenai sifat-sifat yang benar-benar terpuji. E. W. Lane dalam kamus Arabic-English-nya menerangkanbahwa hamd “mengandung arti takjub, meluhurkan dan memuliakan sesuatu yang dipuji, sedangkan yang memuji itu merasa suatu kesediaan akan menyerahkan diri, sifat rendah dan tadarru”. Maulana Muhammad Ali menjelaskan bahwa “Kata sandang al dalam al-hamd adalah li istighrâqil jinsi, artinya melingkupi semua jenis (AH), dan menunjukkan bahwa segala jenis puji termasuk di dalamnya”. Maka dari itu tepat sekali jika dirangkai dengan lillâhi, bagi atau milik Allah, alhamdu lillâh. Segala sesuatu yang dipuji karena kebesaran, keagungan, keindahan dan sesamanya hanyalah refleksi keterpujian Dia belaka. Alam semesta adalah kaca kristal keterpujian-Nya (27:44).

Kata Allâh, menurut pendapat yang paling betul adalah nama diri suatu Dzat yang wajib maujud dengan sendiri-Nya, Yang meliputi segala sifat kesempurnaan (T-LL). Kata Allâh adalah ismu a’zham atau nama yang paling mulia. Juga nama yang Esa, sebab: (1) Tak pernah digunakan untuk menamakan sesuatu barang selain Dia Yang Hidup kekal selama-lamanya, alhayyul-qayyûm. Bangsa Arab tak pernah menggunaan kata itu untuk menamakan salah satu sesembahan, dewa atau berhala mereka. (2) Dalam bahasa manapun tak ada yang semakna dengan kata itu. Nama-nama dalam bahasa lain dalam melukiskan Tuhan adalah deskriptif atau atributif dan sering mengandung arti banyak, misalnya dalam agama Kristen menyebut Bapa, Arabnya Ab, lafazh Ab mengandung arti “kelamin jantan yang istirahat setelah bekerja”, maka menurut Alquran “Allâhu lâ ilâha illâ huwal-hayyul-qayyûm lâ ta’khudzuhû sinatun walâ naûm” artinya “Allah, tak ada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Maujud sendiri, yang sekalian makhluk maujud karena-Nya. Dia tak terkena kantuk dan tak pula tidur” (2:255), padahal “setiap saat Dia mencipta” (55:29), “Ia menambah ciptaan apa yang Ia kehendaki” (35:1). (3) Kata Allâh adalah isim jamid, bukan gubahan dari kata lain. Kata Allâh bukanlah terjadi dari al + ilâhu seperti banyak dikemukakan oleh para orientalis. Buktinya, kata ilâhun itu bentuk singular (mufrad) yang dapat digubah menjadi dual (tatsniyah) dan plural (jamak), sedang kata Allâh tak mengenal perubahan itu. Menurut Alquran selain kata Allâh yang dikenakan kepada Dia adalah asmâ’ush-shifât, nama-nama sifat yang disebut al-asmâ’ul-husnâ (nama-nama yang baik) atau almatsalul-a’la (sifat-sifat kemuliaan) (16:60; 30:27). Maka dari itu perlu diterjemahkan, sedang kata Allâh tak boleh diterjemahkan karena nama Diri (proper name).

Kata rabb biasanya diartikan Tuhan, sebenarnya tidak tepat. Dalam bahasa Indonesia atau Jawa tak ada padanannya. Alquran sendiri menjelaskan: “Mahasucikanlah Rabb engkau Yang Maha-tinggi, Yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Yang menakdirkan, lalu memimpin (ke tujuan penyempurnaannya)” (87:1-3). Dari ayat ini terang sekali bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, pasti berangsur-angsur berkembang menuju kesempurnaannya, dan inilah perbuatan Allah yang disebut khalq dan taswiyah (87:2). Ayat selanjutnya menerangkan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, pasti diberi kemampuan-kemampuan yang sudah tertanam (inhaerent) dalam kodratnya dan untuk memperkembangkan kemampuan-kemampuan itu, Allah memberikan petunjuk agar ciptaan itu dapat mencapai tujuan penciptaan atau kesempurnaannya, dan inilah manifestasi perbuatan Allah yang disebut taqdîr dan hidâyah. Oleh karena itu, Rabb artinya Yang menciptakan segala sesuatu, Yang tidak saja memberikan mata penghidupan dan pemeliharaan, melainkan pula memberikan kemampuan-kemampuan yang sudah tertanam dalam kodratnya, dan dalam lingkungan kemampuan ini Dia menyediakan syarat-syarat agar meneruskan perkembangannya setapak demi setapak hingga mencapai puncak kesempurnaan. Jadi sifat Rabb ini mengisyaratkan adanya hukum evolusi yang bekerja di alam semesta. Semua ciptaan Allah pasti tunduk kepada hukum ini. Biji beringin yang tidak seberapa besarnya itu di dalamnya sudah diberi kemampuan-kemampuan yang jika dipenuhi syarat-syaratnya akan berkembang setapak demi setapak hingga menjadi pohon beringin yang megah dan rindang. Demikian pula halnya ciptaan Allah lainnya, semuanya tunduk kepada hukum yang sifatnya universal ini. Hukum ini permanen, tak ada perubahan (33:62; 35:43).

Akhirnya kata al’alâmîn, adalah bentuk jamak kata ‘alam, yaitu barang yang karenanya orang tahu akan sesuatu. Alam atau ciptaan, yang karenanya orang tahu akan Penciptanya, Allah SWT. Maka âlamîn berarti seluruh alam semesta, meliputi alam ma’adini, alam nabati, alam hewani, alam insani, dan alam ruhi; ada yang nyata dan ada yang gaib. Unsur-unsurnya: material atau kebendaan, biologis, mental, dan spiritual. Dalam arti terbatas kata ‘alam’ dikenakan kepada suatu golongan atau bagian makhluk atau bagian umat manusia, misalnya bangsa (2:47).

Al’âlamîn atau alam semesta pada hakekatnya adalah “shun’ullâh, perbuatan atau aktivitas Allah, Yang membuat tiap-tiap sesuatu dengan teliti atau sempurnanya” (27:88) dan “dengan indahnya” (32:7), yang cara-cara bekerjanya disebut sunnatullâh, kebiasaan Allah (35:43; 48:23), maka dari itu alam semesta merupakan suatu bina’ atau struktur (2:22), suatu kesatuan dalam kebanyak-ragaman, suatu unitas multiplex. Dengan perkataan lain, alam semesta menunjukkan adanya organisasi, bukan kekacauan (67:1-4). Dasar umum alam semesta yang homogen menurut satu hukum pokok yang sifatnya umum dan evolusioner kreatif atau Rububiyah adalah Daya Ilahi yang oleh Alquran disebut nafs atau rûh. Daya Ilahi itu bekerja dengan tiada henti pada berbagai tingkat evolusi yang menggerakkan dan mengarahkan sekalian proses di alam semesta kepada satu tujuan, yaitu kesempurnaan dan akhirnya kepada Allah SWT (2:210; 3:109; 57:5). Jadi dalam evolusi kreatif itu tiap-tiap ciptaan merupakan penjelmaan khusus dari Daya Ilahi yang masing-masing mempunyai tempat kedudukan sendiri – yang satu lebih tinggi dari yang lain, organisasinya kian lama kian rumit – dan berdasarkan tempat kedudukan masing-masing melaksanakan peranannya ikut serta menyumbangkan bagiannya dalam mewujudkan Rencana Ilahi. Demikianlah nafsul-ma’adîni dalam ‘âlamul-ma’adîni (alam kebendaan), nafsul-hayâtî dalam ‘âlamun-nabâtî (alam tumbuh-tumbuhan), rûhul-hayawânî atau ahawâ dalam ‘âlamul-hayawânî (alam hewani) dan rûh Ilâhi dalam ‘âlamul-insî (alam insani), masing-masing adalah Daya Ilahi yang mengkhususkan diri bagi perwujudan nilai-nilai abadi dengan perbuatan pada berbagai tingkat evolusi itu. Subhânallâhi, walhamdu lillâhi wallâhu akbar. Semua itu diciptakan Allah supaya didayagunakan oleh manusia sebagai alat untuk menyelesaikan pembentukan diri(self-creation) , perkembangan diri (self-development) atau penyempurnaan diri (self-perfection) manusia (91:7-10; 87:14; 79:40). Hal ini berarti bahwa manusia adalah ciptaan yang belum selesai atau belum sempurna, meski ia merupakan ahsani taqwim, ciptaan yang paling baik (95: 4). Bagaimana cara menyempurnakan diri? Ayat berikut-nya memberikan petunjuk: “Yang Maha-pengasih, yang Maha-penyayang”.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: