Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Sejarah [2]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tiga ayat pertama menerangkan tentang nama diri Tuhan, Allah, dengan empat sifat utamanya, yaitu: Rabb, Rahmân, Rahîm, dan Mâliki yaumiddîn, yang semuanya menyatakan keagungan dan kemuliaan serta keterpujian Dzat Tuhan. Tiga ayat terakhir membeberkan hasrat jiwa manusia yang menyala-nyala di hadapan Tuhan Yang Maha-pencipta lagi Maha-pengasih dan penyayang, untuk berjalan di jalan yang benar, yaitu jalan mereka yang telah dikaruniai nikmat Ilahi, yakni para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin, bukan jalan yang menyimpang ke kanan, sebagaimana kaum Yahudi, dan bukan pula jalan yang menyimpang ke kiri, sebagaimana kaum Kristiani.

Ada berbagai pendapat tentang pewahyuan surat ini. Sementara pakar berpendapat surat ini diwahyukan dua kali, di Mekah dan Madinah. Tetapi menurut jumhur ulama diwahyukan di Mekah pada zaman permulaan kenabian. Muhammad Izah Darwazah menempatkan pada urutan nomor lima, sesudah surat nomor 74 Al-Muddatstsir, wahyu ke-4. Sesudah surat Al-Fatihah, diwahyukan surat nomor 111, Al-Lahab. Jadi dalam menafsirkan surat ini dalam Konteks Sejarah sekurang-kurangnya perlu memahami surat Al-Muddatstsir yang mendahuluinya dan surat Al-Lahab yang mengikutinya, wahyu ke-6.

Surat Al-Mudatstsir tak diwahyukan sekaligus, hanya bagian permulaan saja yang diwahyukan dalam urutan ke-4, tepatnya ayat pertama sampai beberapa ayat, wallahu a’lam. Demikian pula surat Al-Muzammil yang diwahyukan dalam urutan ke-3, juga hanya bagian permulaannya tanpa diketahui secara tepat. Ada yang berpendapat bahwa kedua surat itu agaknya ‘kembar’ karena keduanya berkaitan begitu erat dalam hubungan dengan saat kedua surat ini diturunkan – yakni sesudah terjadi masa fatrarul-wahyi, terputusnya wahyu untuk sementara – serta nada dan tujuannya. Rasulullah saw. sebagai Sang Muzammil atau Orang yang berselimut dianjurkan agar menjalankan salat dan berdzikir kepada Allah sebagai persiapan untuk mengemban amanat yang amat berat, lalu dalam surat 74 ini Rasulullah saw. diseru Ilahi sebagai Muddatstsir, orang yang berselubung. Masa fatrah yang terjadi selama sekitar enam bulan lamanya terasa amat berat bagi Rasulullah saw. dan beliau amat berduka cita karena waktu selang itu. Beliau menyelubungi diri dengan kain, saat itu datanglah malaikat Jibril yang memberitahu agar beliau jangan menyendiri lagi, tetapi supaya bangun dan memberi peringatan kepada bangsa yang tenggelam dalam kejahatan dan kebiadaban. Beliau dianjurkan agar senantiasa mengagungkan Tuhannya, menganggap kecil segala yang ada di alam semesta ini, dan agar membersihkan dirinya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dari kekotoran sebagai tanda kebersihan dan kesucian cita-citanya, serta seruan untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa syirik dan dosa-dosa lainnya, dan dalam menjalankan tugas kerasulan hendaknya sabar, ikhlas, dan tanpa pamrih, hanya karena ridha Allah semata.

Tak lama sesudah itu turunlah surat Al-Fatihah, wahyu kelima, yang diturunkan secara utuh tujuh ayat. Oleh karena itu ada yang berpendapat bahwa Al-Fatihah adalah wahyu yang pertama. Tentunya dalam arti yang pertama diwahyukan seutuhnya – sebagaimana surat An-Nashr adalah surat yang terakhir, dalam arti surat yang diwahyukan seutuhnya – karena surat-surat yang mendahuluinya hanya sebagian ayat saja, misalnya surat 96 Al-A’laq yang terdiri dari 19 ayat; lima ayat pertama menurut ijma’ ulama adalah yang pertama diwahyukan, sedang ayat ke-6 sampai ke-19 beberapa bulan atau tahun kemudian baru diwahyukan setelah sebagian surat Al-Qalam, Al-Muzammil, dan Al-Muddatstsir serta Al-Fatihah. Kapan dan wahyu keberapa 14 ayat lainnya diwahyukan tak ada keterangan, wallâhu a’lam bish-shawwab.

Surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Tiga ayat pertama menerangkan tentang nama diri Tuhan, Allah, dengan empat sifat utamanya, yaitu: Rabb, Rahmân, Rahîm, dan Mâliki yaumiddîn, yang semuanya menyatakan keagungan dan kemuliaan serta keterpujian Dzat Tuhan. Tiga ayat terakhir membeberkan hasrat jiwa manusia yang menyala-nyala di hadapan Tuhan Yang Maha-pencipta lagi Maha-pengasih dan penyayang, untuk berjalan di jalan yang benar, yaitu jalan mereka yang telah dikaruniai nikmat Ilahi, yakni para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin, bukan jalan yang menyimpang ke kanan, sebagaimana kaum Yahudi, dan bukan pula jalan yang menyimpang ke kiri, sebagaimana kaum Kristiani. Akibat penyimpangan mereka itu kehidupan Sorgawi lewat agama itu hanya sampai kepada amani atau lamunan belaka (2:111), dan Kerajaan Sorga dicabut dari mereka diberikan kepada bangsa lain (4:51-53, lihat Matius 21:42-44). Adapun ayat yang di tengah, menyatakan bergantungnya manusia dalam segala hal kepada Allah SWT.

Sebagai doa, Al-Fatihah sangat signifikan dalam hidup dan kehidupan umat manusia. Betapa tidak. Tujuh ayatnya yang diulang-ulang oleh setiap orang Islam. Sekurang-kurangnya 17 kali setiap harinya. Ada yang membaca dengan jahar (keras) dan ada pula yang membaca dengan sirr (rahasia). Umat Kristen diajari doa ‘Bapa kami’ yang memohon datangnya Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah di muka bumi, yang berarti bahwa Kerajaan itu belum datang, padahal sebenarnya Kerajaan itu sudah datang, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah yang dirintis oleh Rasulullah saw. yang kedatangan beliau oleh Al-Masih dilukiskan sebagai datangnya Allah sendiri (Mat 21:33-41). Oleh karena itu umat Islam sebagai warga Kerajaan Sorga mohon agar dipimpin ke jalan yang benar atau lurus, tak menyimpang ke kanan atau ke kiri yang menggelincirkan dia keluar dari Kerajaan itu.

Penghayatan yang mendalam terhadap makna yang terkandung dalam Al-Fatihah yang membuat Rasulullah saw. dan para sahabatnya semakin bersemangat dan kokoh mengemban amanat menyempurnakan umat manusia dengan jalan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat buruk perbuatan mereka yang jahat sebagaimana dinyatakan dalam wahyu yang mendahuluinya, surat Al-Muddatstsir. Kemudian peringatan keras itu ditujukan kepada Abi Lahab yang notabene adalah julukan paman beliau sendiri, Abdul-Uzza. Peringatan yang mengandung makna profetik itu diwahyukan setelah Al-Fatihah disosialisasikan. Surat Al-Lahab yang dalam Mushaf nomor 111 adalah wahyu yang ke-6.[]

Satu Tanggapan

  1. Buku-buku terkait dengan Tafsir Al-Fatihah seperti yang dikemukakan di atas sangat menarik bagi saya. Ternyata saya sebelumnya belum melihat materi yang dibicarakan di dalamnya telah disampaikan pula pada tafsir-tafsir lain yang sempat saya baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: