Hakekat Shalat dan Doa

Oleh: MAULANA KALAMAZAD MOHAMMED

Tidak ada di dunia ini, dimana Allah Yang Maha-tinggi telah menunjukkan tidak saja kesenangan, melainkan juga satu kenikmatan yang mencolok. Seperti halnya orang sakit yang tidak dapat mencecap kenikmatan dari hidangan yang paling nikmat, lalu menganggapnya pahit atau kehilangan selera; dengan cara yang sama, orang-orang yang tidak menemukan kesenangan dalam ibadah mereka hendaknya merenungkan penyakitnya ini. (Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)

Setiap agama mengajarkan pentingnya doa dan tak seorang nabi pun datang ke dunia tanpa menyeru umatnya agar berdoa dengan sungguh-sungguh. Meskipun demikian, dengan mengabaikan hal ini, banyak orang, khususnya di zaman modern ini, tidak sadar akan esensi atau hakekat doa; yakni, bagaimana berdoa sedemikian rupa sehingga jiwa kita bisa mengadakan hubungan dengan Rabb dan Tuhan kita. Hal ini tidak berlebihan  jika dikatakan bila hubungan dengan Tuhan ini dilakukan, banyak masalah kita – baik pribadi maupun masyarakat – agaknya akan  bisa dikelola lebih baik daripada yang nampak saat ini dan apa yang tampaknya bagaikan kegelapan akan berubah menjadi cahaya terang.

“Atau bagaikan gelap gulitanya di lautan yang dalam, dimana gelombang mengurung dia, yang di atasnya terdapat gelombang, yang di atasnya (lagi) awan gelap – lapisan gelap yang satu di atas yang lain. Jika orang mengeluarkan tangannya, hampir-hampir ia tak dapat melihatnya. Dan barangsiapa Allah tak memberi cahaya kepadanya, ia tak mempunyai cahaya” (Qur’an, S.24:40).

Memang benar bahwa Islam memberi rincian sekecil-kecilnya bagaimana cara melakukan shalat, atau sembahyang wajib, tetapi tekanan dalam  tulisan ini lebih meletakkan tata-cara atau sikap batin ketika kita shalat atau berdo’a.

Untuk mudahnya, doa dibagi dua, yakni shalat (yakni sembahyang wajib) dan berdoa (atau, bermohon yang tidak wajib hukumnya), tetapi menurut ucapan Pendiri Gerakan Ahmadiyah Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad  sesungguhnya shalat adalah “doa dalam tingkat yang paling tinggi”.

Harapan kami hanyalah agar pembaca sudi merenungkan tulisan ini dengan menghayati dihatinya bahwa kehendak Allah Yang Maha-tinggi hanyalah menginginkan kita untuk mempraktekkannya dalam hidup keseharian kita untuk mengagungkan Dia serta memohon kepada-Nya.

Pertama kita mulai dengan ayat-ayat Qur’an Suci serta Hadist Nabi tentang shalat dan doa disusul dengan daras al-Qur’an (pelajaran tafsir Qur’an) oleh Nasir Ahmad Faruqui tentang pentingnya doa. Sebagai penutup, kami sajikan kutipan dari tulisan Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang disusun untuk menyalakan dalam hati kita sikap yang benar dalam shalat dan doa sehingga jiwa kita bisa menemukan kebahagiaan dalam memenuhi tujuan untuk apa kita diciptakan. Juga termasuk di dalamnya ringkasan dari hal-hal yang perlu diketahui yang berkaitan dengan doa.

Ayat-Ayat Qur’an Suci Tentang Shalat

“Apabila kamu selesai menjalankan shalat, ingatlah kepada Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring. Tetapi jika kamu aman dari bahaya, maka tegakkanlah shalat (seperti biasa). Sesungguhnya shalat itu diwajibkan kepada kaum mukmin pada waktu yang ditentukan” (Q.S. 4:103).

“Kepada Engkau kami mengabdi, dan kepada Engkau kami mohon pertolongan” (Q.S. 1:4).

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada engkau tentang Kitab dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan buruk; dan sesungguhnya ingat kepada Allah itu (kekuatan) yang paling besar. Dan Allah tahu apa yang kamu lakukan” (Q.S.29:45).

“Tegakkanlah shalat mulai condongnya matahari hingga gelapnya malam, dan bacaan Qur’an pada waktu fajar. Sesungguhnya bacaan Qur’an pada waktu fajar itu disaksikan. Dan pada sebagian malam, bangunlah untuk menjalankan itu, sebagai tambahan di luar apa yang diwajibkan kepada engkau; boleh jadi Tuhan dikau akan menaikkan engkau pada kedudukan yang amat mulia” (Q.S. 17:78-79).

“Dan tegakkanlah shalat pada dua ujung hari dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan baik itu melenyapkan perbuatan buruk. Ini adalah peringatan bagi orang-orang yang penuh perhatian” (Q.S. 11:114).

“Dan suruhlah umatmu supaya menjalankan shalat, dan tetap mantap menjalankan itu. Kami tak minta rezeki kepada engkau. Dan akibat baik diperuntukkan bagi orang bertaqwa” (Q.S. 20:132).

“Sesungguhnya Aku Allah, tak ada Tuhan selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku, dan tetapilah shalat untuk mengingat Aku” (Q.S. 20:14).

“Maka bersabarlah atas apa yang mereka ucapkan, dan mahasucikanlah Tuhan dikau dengan memuji (Dia) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan mahasucikanlah (Dia) selama waktu malam dan sebagian waktu siang, agar engkau berkenan di hati” (Q.S. 20:130).

“Dan mohonlah pertongan (Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya ini adalah berat, kecuali bagi orang yang rendah hati. (Yaitu) orang yang tahu bahwa  mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan bahwa mereka akan kembali kepadanya ” (Q.S. 2:45-46).

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Q.S. 23:1-2).

“Peliharalah shalat dan (pula) shalat yang paling utama, dan berdirilah dengan patuh kepada Allah” (Q.S. 2:238).

Ayat-Ayat Qur’an Suci Tentang Do’a

“Berdo’alah kepada Tuhan kamu dengan rendah hati dan dengan suara lemah. Sesungguhnya Dia itu tak suka kepada orang yang melebih batas. Dan janganlah berbuat rusak di bumi setelah diperbaikinya, dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harapan. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat sekali kepada orang yang berbuat baik” (Q.S. 7:55-56).

“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a tatkala ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka dapat menemukan jalan yang benar” (Q.S. 2:186).

“Dan Tuhan kamu berfirman: Mohonlah kepada-Ku, Aku akan mengijabahi kamu. Sesungguhnya orang-orang yang angkuh beribadah kepada-Ku, niscaya mereka akan masuk Neraka, terhina” (Q.S. 40:60).

“Hanya kepada-Nyalah do’a yang benar itu. Adapun mereka yang mereka mintai selain Allah, tak dapat mengabulkan mereka sedikitpun kecuali bagaikan orang yang membentangkan dua tangannya ke arah air agar (air) itu sampai ke mulutnya, tetapi (air) itu tak akan sampai (di mulut). Dan do’a kaum kafir itu sia-sia belaka” (Q.S. 13:14).

“Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, demikian pula anak keturunanku; Tuhan kami, dan kabulkanlah do’a kami. Tuhan kami, ampunilah aku dan orang tuaku dan kaum mukmin, pada hari terjadinya hisab” (Q.S. 14:40-41).

“Katakanlah: Tuhanku tak mempedulikan kamu sedikitpun, sekiranya bukan karena permohonan (do’a) kamu” (Q.S. 25:77).

“Atau, siapakah yang mengijabahi orang yang susah tatkala ia berdo’a kepada-Nya dan menyingkirkan keburukan, dan membuat kamu sebagai penguasa di bumi? Adakah Tuhan lain di samping Allah? Sedikit sekali kamu ingat” (Q.S. 27:62).

“Dan manusia tak jemu-jemunya memohon kebaikan, tetapi jika keburukan menimpanya, ia putus asa, tak berdaya. Dan apabila Kami icipkan kepadanya rahmat dari Kami setelah ia tertimpa kesengsaraan, niscaya mereka berkata: Ini karena aku; dan aku tak mengira bahwa Sa’at akan terjadi; dan apabila aku dikembalikan kepada Tuhanku, niscaya aku mempunyai kebaikan di sisi-Nya. Maka sesungguhnya Kami akan memberitahukan kepada kaum kafir tentang apa yang telah mereka lakukan. Dan Kami akan membuat mereka merasakan siksaan yang keras. Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila tertimpa keburukan, ia berdo’a sebanyak-banyaknya” (Q.S. 41:49-51).

Hadist-Hadist Nabi Tentang Shalat

Di petik dari “Mishkat al-Masabih”, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Robson.

Ibn Mas’ud r.a. berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah perbuatan apa yang paling dicintai Tuhan dan beliau menjawab: “Shalat pada saat yang ditentukan”. (hal. 114-115).

Jabir r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang menjadi batas di antara seseorang dengan kekafiran adalah ditinggalkannya shalat” (hal. 115).

Abu Dzarr r.a. berkata bahwa Nabi saw. pergi di musim dingin ketika dedaunan jatuh dan mengambil dua cabang dari sebatang pohon yang daun-daunnya mulai berguguran. Beliau kemudian menegur Abu Dzarr r.a. yang menjawab: “Ya, Rasulullah!” Beliau bersabda: “Seorang Muslim menegakkan shalat demi keridloan Allah dan dosa-dosanya berguguran dari dirinya seperti dedaunan yang jatuh dari pohon ini” (hal. 116).

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Para malaikat naik-turun kepadamu malam dan siang, dan mereka berkumpul pada shalat fajar serta zuhur. Mereka yang menghabiskan malam di antara kalian kemudian naik, dan Allah bertanya kepada mereka, meskipun Dia yang Maha Tahu tentang mereka, Bagaimana keadaannya ketika kalian tinggalkan hamba-hambaKu? Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan ketika mereka sedang shalat, dan kami datang kepada mereka ketika mereka sedang shalat”  (hal. 127).

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasullullah saw. bersabda: “Tidak ada shalat yang memberatkan orang munafik selain shalat fajar dan ‘asar; tetapi jika mereka tahu berkah yang ada di dalamnya, mereka akan mendatanginya meskipun jika mereka harus dengan merangkak menjalaninya” (hal. 128).

Hadist-Hadist Nabi Tentang Do’a

Dipetik dari “Mishkat al-Masabih”, terjemahan Robson.

“Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu dari kalian sedang berdo’a, janganlah dia mengatakan: ‘Wahai Tuhan, ampunilah aku seandainya Engkau kehendaki’, tetapi dia harus dengan pasti serta mendambakan dengan hasrat yang besar, karena tak suatupun yang Allah berikan itu membebani-Nya” (hal. 471).

“Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Seorang hamba akan diberi jawaban asalkan dia tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa atau untuk memutus silaturahmi, dan asalkan dia tidak meminta jawaban secepatnya”. Ketika ditanya apa yang dinamakan minta jawaban secepatnya Rasulullah saw. menjawab: “Ini ketika dia berdo’a dan berdo’a lalu dia mengira bahwa dia tidak akan di ijabahi, maka dia menjadi kesal dengan keadaan semacam itu dan menghentikan do’anya” (hal. 471-472).

An-Nu’man ibn Bashir r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Do’a itu ibadah”. Beliau kemudian membacakan ayat: “Dan Rabb-mu berfirman, berdo’alah kepada-Ku, nanti Ku-ijabahi”. (hal.472).

Anas r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Doa itu sumsumnya ibadah” (hal. 472).

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada yang lebih mulia dalam pandangan Allah kecuali berdo’a” (hal. 472).

Salman Al-Farisi r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada kecuali do’a yang bisa mengelakkan takdir, dan tidak ada selain ketulusan yang bisa meningkatkan kehidupan” (hal. 472).

Ibn ‘Umar r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Do’a itu bermanfaat terhadap perkara yang sudah lalu dan perkara yang belum terjadi, maka abdikanlah dirimu kepada do’a, wahai hamba Allah”. (hal. 472).

Jabir r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Tak seorang pun berdo’a tanpa Allah membawakan baginya apa yang dimohonkannya atau menghindarkan dia dari hal yang merugikannya, asalkan dia tidak meminta sesuatu yang berdosa atau untuk memutus silaturahmi” (hal. 473).

Ibn Mas’ud r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Mohonlah Allah akan rahmat-Nya, sebab Allah sangat senang dimintai permohonan, dan ibadah yang paling mulia adalah mengharapkan keringanan” (hal. 473).

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Allah akan murka terhadap mereka yang tidak memohon kepada-Nya” (hal. 473).

Ibn ‘Umar r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Jika pintu do’a dibuka bagi salah seorang dari kalian, pintu rahmat akan dibukakan baginya, dan Allah sangat berlimpah perkenan-Nya kalau dimohonkan perlindungan (istighfar)” (hal. 473).

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Mohonlah kepada Allah dengan keyakinan akan di-ijabahi, dan ketahuilah bahwa Allah tidak menjawab do’a yang datang dari jiwa yang lalai serta kurang perhatian” (hal. 473).

Malik bin Yasar r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Ketika engkau memohon kepada Allah, lakukanlah dengan menengadahkan telapak tanganmu dan jangan membalikkannya”. Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas r.a. beliau bersabda: “Ketika engkau memohon kepada Allah, lakukanlah dengan tangan tengadah dan jangan tengkurap, lalu sesudah selesai usaplah wajahmu dengannya” (hal. 473).

Salman r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Rabbmu adalah yang Maha-pemurah dan Dermawan, serta malu kalau hamba-Nya balik dengan tangan kosong ketika dia mengangkatnya untuk bermohon kepada-Nya” (hal. 473).

Anas r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Silakan seorang dari kalian bermohon kepada Rabb-mu atas apa yang diperlukannya, bahkan untuk tali sandalnya yang putus” (hal. 474).

Darus Al-Quran Menurut Nasir Ahmad Faruqui

Aku memohon perlindungan Allah dari Setan yang terkutuk. Dengan nama Allah, Yang-Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

Bagi yang beriman kepada Yang Ghaib dan menegakkan shalat dan membelanjakan apa yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. 2:3).

Beberapa penjelasan telah diberikan sebelumnya berkenaan dengan Allah Yang Diri-Nya tersembunyi di balik tabir dan hikmah dalam beriman kepada Yang Ghaib. Karena Allah, Yang Maha-tinggi, itu atas alasan yang bijak ini, tersembunyi dari mata wadag, maka manusia cenderung melupakan-Nya. Maka, demi menjaga kehadiran-Nya selalu ada dalam fikiran kita, maka ditegakkanlah shalat. Sesuai dengan itu, dalam surat akhir dari Qur’an Suci, kita temukan: “Dan tetapilah shalat untuk mengingat Aku” (Q.S. 20:14).

Untuk mengingat Allah sepanjang waktu, ada beberapa poin dasar yang patut dipertimbangkan. Pertama, Allah itu hadir di mana saja, tidak hanya di dalam masjid atau mandir (kuil) atau gereja atau di langit. Inilah sebabnya mengapa Qur’an Suci berkata: “Dan Ia menyertai kamu di mana saja kamu berada” (Q.S. 57:4).

Karena itu, shalat bisa dilakukan di mana pun juga. Memang benar bahwa untuk melakukan shalat, terutama yang fardhu (shalat wajib), dalam berjamaah itu lebih mulia dan lebih diberkahi, dan karenanya mempunyai masjid adalah suatu tempat kebutuhan penting; sehingga umat bisa berkumpul pada suatu tempat yang pasti serta mengajukan permohonan kepada Allah Yang Maha-tinggi. Tetapi bila tidak memungkinkan, shalat berjamaah bisa dilakukan di manapun; dan jika tidak memungkinkan untuk berjamaah, maka shalat bisa dilakukan secara sendiri – di rumah, di ladang, ketika berkendaraan, dalam perjalanan, dan jika tidak bisa berdiri, maka seseorang bisa melakukan shalat ketika duduk, atau dengan gerak-gerik ketika sedang terbaring. Sesungguhnya, shalat bisa dilakukan bahkan di medan pertempuran. Pendeknya, shalat mengingatkan manusia, dari awal mula, bahwa Allah itu besertanya di manapun, dan demikianlah seharusnya, sebab jika tidak, bagaimana manusia bisa menerima perlindungan dan pertolongan agar kesulitannya bisa disingkirkan? Mungkinkah Tuhan terbatas di suatu tempat dalam bentuk berhala atau dalam bentuk pribadi manusia? Bagaimana yang semacam itu bisa menjadi Tuhan bila Dia tidak mengawasi makhluk-Nya di setiap saat – dan kami khusus berbicara tentang manusia di sini, sehingga Dia bisa melindungi mereka, berbuat sebagai Pemelihara dan Rabb (Pembimbing) serta datang untuk membantunya? Selanjutnya, adalah perlu diingat bahwa Allah itu mengawasi setiap detik segala makhluk-Nya untuk memelihara dan membimbingnya, dan khusus bagi umat manusia yang merupakan kalifah-Nya (wakil), maka Dia pasti melihat bagaimana manusia itu telah memenuhi kewajibannya, dan amal perbuatan apa saja yang telah dia lakukan, karena pengaruh dari tindakannya itu, entah baik atau buruk, seketika akan direkam. Karena itu, demi alasan-alasan berikut maka adalah penting bahwa Allah  akan mendengarkan ucapan manusia.

Pertama, karena manusia itu bertanggung-jawab tidak saja atas perilakunya, melainkan juga dari ucapannya. Kedua, jika manusia ingin membuat permohonan kepada Yang Maha-kuasa, maka dia harus bisa mendengar dan bahwa Tuhan itu (semoga Allah mengampuni!) tidak seperti berhala atau manusia mati, yang tidak peduli betapa pun banyaknya gelar ketuhanan yang diperagakannya di masa lampau, dia sekarang tidak dapat mendengar atau pun melihat. Akhirnya ini juga sangat penting bahwa Allah Yang Maha-tinggi, harus mengetahui rahasia di hati manusia, karena manusia itu, dengan menyembunyikan rahasia hatinya, telah mempraktikkan kebohongan besar dan bahkan menyebabkan cedera.

Lagi pula, semua perbuatan manusia apakah itu baik atau buruk, dinilai berdasarkan niat yang menggerakkan perbuatan, dan niat itu tersembunyi dalam hati. Seorang pembunuh memotong-motong tubuh seseorang, dan demikian pula yang dilakukan oleh seorang ahli bedah; tetapi karena niatnya berbeda bak bumi dan langit, maka pembunuh itu akan dihukum dan si dokter bedah, disamping mendapat upahnya, juga menerima pujian serta rasa terima kasih bahkan seandainya pun operasi  itu gagal karena takdir Ilahi. Bagaimana mungkin bahwa Tuhan Yang menciptakan hati manusia, yang ada di dalam dadanya, tidak sadar atas apa yang tersembunyi di dalamnya?

Semua perkara ini dijelaskan oleh Qur’an Suci dengan mengulang disebutnya asma Allah; yakni, As-Sami’ (Yang Maha-mendengar), Al-Basir (Yang Maha-melihat) dan ‘Alimun(m) bi dhatis-sudur (Yang Maha-mengetahui apa yang di dalam hati). Dan shalat selanjutnya mengingatkan kita atas asma-asma ini serta menekankan keimanan kita kepadanya, karena dalam shalat kita berdiri dengan rendah hati, dengan tangan terlipat, di hadapan Allah dan rukuk serta sujud kepada-Nya.

Karena itu, Allah senantiasa melihat kita. Selanjutnya, ada bagian dari shalat yang dibaca dengan suara  keras dan sebagian besar  dibaca dengan diam-diam didalam hati, karena Allah Yang Maha-tinggi, mendengar kata-kata manusia dan Dia mengetahui mereka yang mengungkapkan dengan diam-diam dalam hatinya. Shalat lima kali sehari tidak saja mengingatkan manusia akan adanya Allah, tetapi juga menjaga imannya agar tetap segar dan hidup. Tetapi lebih dari itu, hal ini juga mengingatkan manusia atas hubungannya yang intim yang ada diantara dirinya dengan Rabbnya dan meneguhkan keimanan kepada-Nya. Shalat mengangkat tabir dari Yang Ghaib dan inilah sebabnya mengapa segera setelah keimanan seseorang kepada Yang Ghaib menemukan tempatnya, maka diwajibkan yuqimunas-shalat (mereka menjaga shalatnya).

Hendaknya diingat, didalam Qur’an Suci, perintah yang selalu diberikan adalah “menegakkan shalat” dan tidak pernah dikatakan “membacakan shalat”. Sesungguhnya, dalam satu peristiwa ketika “shalat dibacakan” Qur’an Suci menyatakan sbb:

“Maka celaka sekali bagi orang-orang yang bershalat; Yang mereka alpa dalam shalatnya; (Yaitu) orang yang (kebaikannya) dipamer-pamerkan; Dan mereka tak suka melakukan perbuatan cinta-kasih”  (Q.S. 107:4-7).

Makna ayat-ayat diatas adalah bahwa orang semacam itu yang melakukan shalat tetapi mereka lalai atas hakekat yang sebenarnya dari shalat. Bukti atas ini adalah bahwa shalat mereka hanyalah satu bentuk pameran dan bukan dari lubuk hatinya, karena di hatinya Allah tidak ada, namun yang ada hanya berhala kebendaan. Inilah sebabnya mengapa mereka tidak mampu  berbuat baik, dan kasih-sayang kepada ciptaan Allah menjadi tidak berakar dalam hatinya.

Seperti telah saya sebutkan, shalat yang berkali-kali dinyatakan dalam Qur’an Suci dengan cara berdo’a yakni shalat yang dengan teguh selalu ditegakkan. Satu arti daripadanya, (dari pengalaman yang kita kerjakan), adalah bahwa segera setelah seseorang melakukan shalatnya, setan pun mencoba dengan segala jalan yang mungkin agar mendorongnya ke segala jurusan kecuali untuk menghadapkan wajahnya dengan teguh kepada Allah. Ketika seseorang shalat kemudian ia kehilangan fokusnya, maka bukannya dia berdiri dengan tegak, malahan dia mulai ‘jatuh’. Maka, ketika shalat seorang mukmin itu mulai ‘jatuh’, dia harus ’mengambilnya’ dan menegakkannya kembali. Di samping menyebabkan hilangnya konsentrasi, setan pun mulai membujuknya dengan fikiran buruk dihati manusia dan bahkan menimbulkan keraguan sedemikian rupa sehingga shalat seorang mukmin menjadi tidak benar. Tetapi, disamping godaan ini, ketika seorang mukmin tekun dengan shalatnya, maka akan timbul didalam jiwanya kenikmatan seperti yang terdapat jika kita mendapat  santapan yang lezat.

Menurut Shaikh Abdul Qadir Jaelani, pahala itu akan datang dari kenyataan yang sebenarnya dan untuk menegakkan shalat, maka seseorang harus bekerja dengan keras dan tekun; yakni, membuat segala usaha dan menangkis banyak kesulitan. Dia kemudian ditanya bahwa jika, setelah seseorang itu meningkat ke tahap ini dan telah diberkahi dengan hadirnya ingatan, apakah pahalanya telah diputuskan. Dia menjawab bahwa shalat karenanya menjadi hadiah dari Allah Yang Maha-tinggi, dan pahalanya adalah kenikmatan serta kedamaian yang mulai dicecapnya dalam shalat.

Inilah sebabnya mengapa Nabi Suci saw. ketika meminta Bilal menyerukan adzan, beliau berkata: “Wahai Bilal, buatlah persediaan bagi kedamaian dan kenyamanan kita”. Di tempat lain beliau juga bersabda, “Kesejukan mataku terletak dalam shalat”.

Di antara prasyarat untuk menegakkan shalat adalah sebagai berikut ini:

1.      Kesucian tubuh. Yakni berwudhu, mandi serta kebersihan tubuh secara umum. Perintah berkenaan dengan hal ini terdapat dalam Surat 5:6, 7:13 dan 74:4 dari Qur’an Suci.

2.      Menegakkan shalat pada waktu yang ditentukan telah dikatakan: “Sesungguhnya shalat itu diwajibkan kepada kaum mukmin pada waktu yang ditentukan” (Q.S. 4:103). Meskipun demikian, dalam perjalanan, atau, pada saat perang, atau, karena keadaan terpaksa atau darurat, diizinkan untuk menjamak  shalat.

3.      Supaya ajeg (kontinyu) dalam shalat dan jangan menunda-nundanya. Qur’an Suci berkata: “Yang tetap setia (menjalankan) shalatnya” (Q.S. 70:23).

4.      Dengan ajeg menjaga shalatnya. Yakni, baik di perjalanan maupun ketika sakit, atau di waktu perang, atau dalam kesulitan apa pun tidak akan pernah meninggalkan shalat  seperti yang dinyatakan dalam Qur’an Suci: “Dan orang-orang yang tetap menjaga shalat mereka” (Q.S. 70:34).

5.      Konsentrasi penuh dalam shalat. Yakni, seseorang harus sepenuhnya sadar akan apa yang ia katakan dihadapan Siapa dia berbicara. Dia juga mesti sadar atas ketidak-berdayaannya serta kelemahan dirinya dan melakukan shalat dengan tunai. Maka, dalam hatinya akan lahir kesederhanaan serta kerendah-hatian seperti dalam perintah Qur’an Suci: “(Yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Q.S. 23:2).

6.      Hindari fikiran menyimpang.

7.      Jangan melakukan shalat demi pamer atau pertunjukan yang berlebihan. Qur’an Suci memperingatkan mereka yang: “kebaikannya dipamer-pamerkan” (Q.S. 107:6).

8.      Jangan enggan atau malas dalam melakukan shalat, karena merujuk kepada orang-orang munafik Qur’an Suci berkata: “mereka tak mendatangi shalat kecuali dengan malas: (Q.S. 9:54).

9.      Sebisa mungkin, lakukanlah shalat berjamaah (setidaknya dalam shalat wajib), seperti yang telah diperintahkan dalam Qur’an Suci: “Dan berruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (Q.S. 2:43).

10.  Janganlah terburu-buru dalam shalat dan kemudian mengangkat tangan dalam do’a yang panjang  karena terburu-buru merusak shalat dan mengurangi pengaruh do’a. Istilah Arab untuk doa adalah shalat dan maknanya adalah do’a (permohonan). Maka, keseluruhan shalat itu adalah do’a. Karena itu, jagalah shalat dengan kehadiran sepenuhnya dari jiwa dan dengan kerendah-hatian serta sopan-santun yang benar, dan apapun permohonan yang timbul didalam hati, lakukanlah dalam shalat, khususnya dalam sajdah (sujud), karena ini adalah cara yang tepat dan juga telah dipraktikkan oleh Nabi Suci saw.

Orang yang terburu-buru dalam shalatnya, dan setelah salam mengangkat tangannya dalam do’a yang panjang itu seperti orang yang pergi ke majelis penguasa atau singgasana raja, tetapi bukannya membacakan petisinya didalam majelis itu, ia malah pergi keluar dan mulai berteriak sekencang-kencangnya dalam usahanya untuk berbicara kepada penguasa atau sang raja.

Ingatlah, bahwa kita melakukan audiensi dengan Raja di-Raja, yakni, Allah Yang Maha-tinggi, lima kali sehari, adalah suatu kehormatan tertinggi dan suatu kesempatan besar bagi manusia agar bisa mencari keridhoan Hakim yang Terbaik dari semuanya yang menjadi Tuhan dari dirinya, dalam seluruh hidupnya serta juga untuk Akhiratnya. Pemberi berkah yang Tertinggi adalah Kawan seorang mukmin, seperti yang dikatakan dalam Qur’an Suci berkali-kali bahwa Allah adalah Kawan (atau Pelindung atau Penolong) dari kaum mukmin. Di dunia ini, bila seseorang mempunyai teman seorang pejabat tinggi atau dia seringkali ke rumahnya, maka lihatlah betapa bangga dan membusungkan dadanya dia. Jadi, jika seseorang itu memperoleh kesempatan untuk beraudiensi dengan Kaisar dan Tuhan dari langit dan bumi, atau jika dia mendapat keistimewaan untuk memperoleh kehormatan sebagai sahabat-Nya, dan dia tidak mengambil manfaat atas hal itu, lalu siapa lagi yang lebih celaka dibanding dia?

Sekarang saya sajikan suatu tujuan yang sangat penting dari shalat yang diajarkan oleh Qur’an Suci kepada kita dan yang tidak diketemukan dalam kitab wahyu atau agama yang lain. Dan hal ini seperti halnya tubuh manusia membutuhkan pemeliharaan dan tanpa hal itu maka dia tidak bisa berkembang atau bahkan bertahan hidup. Dengan cara yang sama jiwa manusia membutuhkan pemeliharaan dan tanpa hal itu dia tidak  dapat sehat atau berkembang atau bertahan hidup. Dan pemeliharaan spiritual itu diperoleh dengan shalat. Jasad fisik yang pemeliharaannya dengan makan dan minum siang dan malam, dalam analisa final, akan mati dan dikubur di dalam tanah. Tetapi hal yang senantiasa hidup, yang akan memberi manusia kehidupan di akhirat nanti, adalah ruh manusia. Maka pemeliharaan, kesehatan, pertumbuhan serta kehidupan ruhani adalah kebutuhan yang sangat penting bagi manusia, dan shalat adalah sumber persediaan masalah ini. Inilah sebabnya mengapa shalat itu begitu ditekankan dalam Qur’an Suci serta Hadist (dan inilah sebabnya mengapa itu menjadi tiang utama agama Islam). Maka, bila jiwa manusia itu sehat dan berkembang dengan ajeg serta meningkat dalam kekuatan dan hidup dengan penuh, maka baginya tiada lagi berkah yang lebih besar.

Marilah sekarang kita periksa kata-kata Qur’an Suci yang digunakan untuk mengungkap rahasia ini. Dalam ruku’ terakhir dari Surat Ta ha tertulis:

“Janganlah meregangkan mata engkau kepada apa yang Kami berikan kepada berbagai golongan diantara mereka, berupa keindahan kehidupan dunia, agar dengan itu Kami menguji mereka. Dan rezeki Tuhan dikau itu lebih baik dan lebih kekal.

“Dan suruhlah umatmu supaya menjalankan shalat, dan tetap mantap menjalankan itu. Kami tak minta rezeki kepada engkau. Dan akibat baik diperuntukkan bagi orang bertaqwa” (Q.S. 20:131-132).

Begitu sempurna diksi dan keelokan Quran Suci menggambarkan, sehingga hal itu menyiratkan suatu pertanyaan yang penting serta rumit dengan kata-kata yang jelas dan sederhana. Berikut ini adalah satu ringkasan dari poin penting yang terkandung dalam dua ayat yang disebutkan diatas:

1.      Allah, Yang Maha-tinggi, telah menciptakan kelas yang berbeda-beda dari manusia. Hal ini dapat diperiksa pada ayat lain didalam Qur’an Suci sebagai berikut: “Lihatlah bagaimana Kami membuat sebagian mereka melebihi sebagian yang lain” (Q.S. 17:21). Yakni, lihatlah betapa (didunia ini) Kami telah membuat beberapa orang melebihi yang lain sehingga kesibukan dunia ini bisa dilangsungkan dengan seimbang.

2.      Setiap kelas diberi berbagai jenis persediaan dunia ini, tetapi masing-masing diuji dengan proporsi yang telah diberikan. Daya tarik terhadap keindahan kehidupan ini demikian memaksa, sehingga manusia membuatnya sebagai ‘raison d’etre’-nya, meskipun hidup di dunia ini hanya beberapa hari saja. Bila tidak hari ini, besok pagi dia harus meninggalkan segalanya, dan semua terus berlalu. Disamping menyesal karena meninggalkan benda-benda yang lekat dihatinya, ketika dia memasuki kehidupan akhirat dia akan menemukan bahwa manusia semacam itu yang tidak memperoleh berkah Allah; sesungguhnya telah menghancurkan hidupnya sedemikian rupa sehingga rasa penyesalan cukuplah sebagai neraka baginya. Kemudian dia harus mempertanggung-jawabkan segalanya yang telah diterima dalam kehidupan ini. Jika dia berpendapat bahwa rezeki dunia ini misalnya harta-kekayaan harus dibagi, dan berperilaku menurut aturan itu, maka kebaikan bisa didapat; tetapi bila tidak, hukuman bagi orang yang licik atau perampok sudah pasti menantinya sebagai nasib yang harus diterimanya.

3.      Oleh karena itu, tidaklah tepat bagi seorang mukmin untuk memandang dengan mata serakah dan iri terhadap kekayaan harta dunia ini. Ini adalah persediaan dunia (yakni yang dimaksudkan adalah segala rezeki duniawi yang  diperoleh dalam hidup ini); semua adalah sementara serta bisa dicabut sewaktu-waktu. Tetapi berkah yang abadi, dan yang bisa diperoleh seorang mukmin tanpa batas, sesungguhnya adalah persediaan spiritual yang lebih baik dan kekal.

4.      Persediaan ruhani ini didapat melalui shalat. Qur’an Suci sebagai satu Kitab yang  penuh dengan ilmu dan perbendaharaan yang menakjubkan. Dalam menyajikan santapan ruhani bagi mukmin dalam shalat, pertama dia menginstruksikan agar memerintahkan shalat kepada isteri dan anak-anak kita serta menyatakan kepada kita agar berpegang teguh kepadanya, bagi diri kita sendiri. Mengapa perintah ini menjadi prioritas? Karena dalam perkara membelanjakan rezeki duniawi, setiap orang memberikan preferensi kepada isteri dan anak-anaknya dibanding dirinya. Sebagian besar dari penghasilan seseorang itu dibelanjakan untuk makanan, pakaian serta kebutuhan lain bagi isteri dan anak-anaknya, akan tetapi pengeluaran yang lebih besar lagi dihabiskan untuk permata atau model baju baru bagi isteri atau anaknya. Meskipun sang suami yang mencari nafkah, ternyata sangatlah sedikit yang dibelanjakan bagi dirinya. Maka ayat itu berkata bahwa seperti halnya seorang suami yang menunjukkan perhatian serta pemikiran yang lebih besar kepada isteri dan anak-anaknya berkaitan dengan rezeki dunia seperti makanan dan pakaian, dengan cara yang sama dia harus bertingkah-laku mengenai rezeki ruhaninya, dan tidak saja dia harus memerintahkan shalat kepada mereka, melainkan dia juga harus berpegang teguh atasnya untuk memberi teladan, sebab jika tidak maka mereka akan mengabaikan kata-katanya.

5.      Seperti halnya Allah yang memberi kita rezeki untuk tubuh serta duniawi dan tidak minta rezeki bagi Diri-Nya, dengan cara yang sama, bila Dia meminta kita shalat, Dia tidak mengambil untung atasnya, tetapi sebaliknya ini sepenuhnya demi keuntungan kita sehingga kita dapat memperoleh rezeki ruhani, yang adalah penting, dan yang lebih baik serta lebih kekal.

6.      Poin terakhir yang disebutkan adalah bahwa tujuan yang baik itu disediakan bagi ketulusan (taqwa). Yakni, bahkan yang berkenaan dengan rezeki duniawi yang kita terima dari Allah Yang Maha-tinggi, kita harus memilih jalan taqwa, bila tidak maka ini akan dicabut dari kita, dan rezeki ruhani yang kita peroleh melalui shalat harus digunakan untuk menyehatkan dan menguatkan jiwa kita sehingga nafsu binatang serta hawa-nafsu kita yang lainnya bisa tetap terkendali, sebab bila tidak, maka rangsangan kebinatangan yang sangat kuat didalam diri kita akan menjadikan kita bertindak bertentangan dengan persyaratan taqwa dan akibatnya adalah kerugian dan bahkan api Neraka. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, jika shalat itu tidak sekedar dibaca melainkan ditegakkan, dia merangsang keimanan kepada Tuhan yang hidup dan dengan demikian, maka taqwa dilahirkan.

Saya akan membahas satu topik yang lebih penting lagi atas subyek shalat ini dan kemudian menutup bahasan ini. Nabi Suci saw. bersabda bahwa shalat adalah mi’raj-nya seorang mukmin.

Sekarang, berkenaan dengan dirayakannya peristiwa Mi’raj, setiap Muslim mengetahui bahwa Nabi Suci saw. dibawa ke langit dalam suatu ru’yah dan beliau mi’raj sedemikian tinggi dibandingkan dengan para nabi yang lainnya sehingga disatu tahap, Malaikat Jibril pun, yang telah mengantarkannya, berkata bahwa jika dia (Malaikat Jibril) maju lebih jauh dia tidak akan mampu menahan kekuatan serta keagungan Allah. Oleh karena itu, Jibril meminta Nabi Suci saw. maju sendirian. Dan demikianlah, Nabi Suci saw. maju sendiri dan tiba dihadirat Allah Yang Maha-tinggi. Kemudian beliau bersimpuh dihadapan Allah, dan bersabda: “Segala puji dan pengabdian dengan lisan, perbuatan serta kekayaan adalah demi Allah semata-mata”. Terhadap hal itu, Allah Yang Maha-tinggi menjawab:  “Salawat bagimu wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya”. Kemudian Nabi Suci melanjutkan: “Semoga damai bagi kami dan semua hamba Allah yang tulus”.

Tidak ada catatan mengenai percakapan lain yang terjadi disana, namun hadiah berharga yang dibawa dari atas adalah diizinkannya umatnya untuk melakukan audiensi dengan Allah Yang Maha-tinggi, lima kali dalam sehari.

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa Mi’raj:

1.      Jika kita pengikut sempurna dari Nabi Suci saw. maka kita, juga, bisa ditingkatkan ke tempat terindah yang akan kita tuju sesudah mati.

2.      Jika kita murid yang benar dan tulus dari Nabi Suci saw. kita juga bisa maju lebih jauh dibanding malaikat. Qur’an Suci juga telah menunjukkan bahwa jika seseorang bisa menjadikan dirinya kalifatullah (wakil Allah) yang tulus, maka para malaikat akan tunduk kepadanya.

3.      Maqam Nabi Suci melambangkan batas yang paling jauh dari fana fil-Lah (lenyap didalam Allah) – maqam dimana setiap kata, setiap tindakan dan setiap benda yang dimilikinya dibelanjakan dijalan Allah; yakni, mereka ada dibawah perintah Allah, seperti kata-kata Nabi yang dengan tepat menjelaskan: “Segala puji dan ibadah dengan lisan, perbuatan serta kekayaan adalah demi Allah semata-mata”.

4.      Atas manifestasi dari ketaatan yang sempurna ini, segala perlindungan, karunia dan berkah spiritual didunia dan Akhirat yang dianugerahkan kepada Nabi-Nya, beliau segera menerimanya tidak bagi dirinya sendiri, melainkan diteruskan langsung kepada umatnya serta semua hamba Allah yang tulus, karena beliau tahu, bahwa pada saat Allah Yang Maha-tinggi mendekritkan suatu perkara, ini digenapi dan akan tetap demikian. Betapa hasrat tanpa pamrih pribadi serta simpati yang ada di hati orang suci ini luar biasa demi kesejahteraan dari seluruh makhluk Allah!

5.      Dalam wawancara berhadap-hadapan dengan Allah yang Maha-tinggi ini, suatu hal yang tidak pernah terjadi pada masa lampau ataupun akan pernah terjadi lagi, apa yang dicari oleh Nabi Suci saw. kita? Ini hanyalah – bahwa apapun keagungan serta kehormatan yang terjadi padanya (karena pencapaiannya hingga dekat dengan Dzat Ilahi), beliau menginginkan agar keberuntungan itu tercurah pula kepada umatnya. Inilah sebabnya mengapa beliau mengembalikan perkenan untuk beraudiensi dengan Allah setidak-tidaknya lima kali sehari. Sungguh malang manusia yang mengasingkan dirinya dari hadiah ini, atau dia yang tidak menegakkan shalat, tetapi sebagai ganti mereka melakukannya secara mekanis atau sekedar sebagai kebiasaan, dan karenanya tidak mendapatkan manfaat yang sesungguhnya.

Nabi Suci saw. telah merancang shalat sebagai mi’raj kaum mukmin. Yakni, shalat menyediakan kesempatan untuk menjadi dekat dengan Allah. Apapun percakapan yang terjadi antara Nabi Suci saw. dengan Allah Yang Maha-tinggi, yang terbawa dalam sujud, dari sana jelas bahwa tempat kedekatan yang terbesar dengan Allah adalah dalam sujud. Karena itu, kita harus memanjangkan sujud kita dan mengingat kata-kata yang dibaca dalam posisi tersebut: Subhana Rabbiyal A’la (Maha-suci Allah, Yang Maha-tinggi).

Rabb adalah Dia Yang mengangkat dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang tertinggi.

Subhanaka berarti: Engkau bebas dari segala kekurangan, karena itu pelihara dan didik hamba dengan cara sedemikian sehingga kekuranganku juga akan lenyap.

Al A’la berarti: Engkau adalah Yang Maha-tinggi, yakni, segala kemuliaan dan puji milik Engkau Sendiri, karena itu resapkanlah kemuliaan didalam diriku juga.

Kita harus mengungkapkan do’a ini dengan sepenuh hati, untuk kebaikan didunia maupun diakhirat yang disiapkan buat kita. Selanjutnya, jika kita membuat suatu permohonan, maka, sebagai tambahan doa yang tertulis dalam Qur’an Suci serta Hadist, sungguh, kita dapat membuat permohonan lain dengan bahasa kita sendiri dan kita harus melakukannya dengan tangis dan ratapan karena itulah tempat terdekat dengan Allah dan tak ada tempat selainnya. Ketika seorang anak melekat kepada ibunya dan menangis, maka timbullah kasih-sayang si ibu. Maka, siapa yang bisa melebihi Allah yang Maha-tinggi, dalam hal kasih-sayang serta kehangatan?

Penjelasan Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Tentang Shalat

Apakah Shalat Itu?

Shalat adalah satu do’a yang unik, tetapi sungguh sedih bahwa orang-orang menganggapnya sebagai pajak yang mesti disetor kepada seorang raja. Seorang yang bodoh tidak tahu bahwa Allah tidak butuh perkara semacam ini. Mengapa Dia, yang Mencukupi Diri-Nya Sendiri, menginginkan agar manusia melibatkan diri dalam bermohon, memuji serta memuja-Nya? Kebenarannya adalah bahwa ini demi keuntungan manusia agar dia bisa mencapai tujuannya dengan cara ini.

Saya merasa sedih ketika melihat betapa orang-orang di masa kini tidak lagi mencintai ibadah, kesalihan serta kemuliaan akhlak. Ritualisme adalah penyebab dari pengaruh beracun yang menyebar ini, dan karenanya cinta kepada Allah berubah mendingin di hati kita serta kita tidak mengalami dalam ibadah, jenis kenikmatan yang seharusnya kita dambakan.

Tidak ada di dunia ini, dimana Allah Yang Maha-tinggi telah menunjukkan tidak saja kesenangan, melainkan juga satu kenikmatan yang mencolok pula. Seperti halnya orang sakit yang tidak dapat mencecap kenikmatan dari hidangan yang paling nikmat, lalu menganggapnya pahit atau kehilangan selera; dengan cara yang sama, orang-orang itu yang tidak menemukan kesenangan dalam ibadah mereka hendaknya merenungkan penyakitnya ini. Karena, seperti baru saja  telah saya katakan, tidak ada suatu pun didunia ini dimana Allah Yang Maha-tinggi tidak menempatkan kesenangan atau yang lain. Maka, jika Allah telah menciptakan manusia agar beribadah kepada-Nya, lalu apa alasannya ada keraguan bahwa Dia tidak menempatkan dalam diri manusia kesenangan serta kegembiraan dalam ibadah kepada-Nya? Sungguh di dalamnya ada kesenangan serta kenikmatan, tetapi disana harus ada seseorang yang menyukainya. Allah Yang Maha-tinggi, berfirman:

“Dan tiadalah Aku ciptakan jinn dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S. 51:56).

Sekarang, karena manusia itu diciptakan agar mengabdi kepada Allah, adalah perlu bahwa suatu tingkat kesenangan dan kenikmatan yang tinggi juga ditanamkan dalam ibadah. Poin ini dengan sangat mudah bisa dibaurkan melalui pengamatan dan pengalaman kita sehari-hari. Misalnya, lihatlah biji-bijian serta segala hal yang diciptakan untuk keperluan makan dan minum manusia. Apakah ia dapat memetik kesenangan serta kenikmatan darinya? Tidakkah dia mempunyai lidah di mulutnya yang memungkinkan dia menikmati cita rasa dan lezatnya? Tidakkah dia memetik kesenangan dari melihat semua hal yang indah itu, apakah itu berupa sayuran atau mineral, hewani atau nabati? Apakah telinganya tidak mabuk oleh suara yang merdu dan memikat? Apakah kita lalu mencari bukti lain selanjutnya untuk menunjang fakta bahwa ada kenikmatan dalam ibadah?

Jadi, saya ingin mengatakan bahwa anda harus mendambakan Allah dengan perasaan yang kuat dan antusias, bahwa, seperti halnya Dia telah menganugerahi segala macam kenikmatan dalam buah-buahan dan barang-barang lainnya, maka dengan cara yang sama Dia pun akan membuat kita merasakan manisnya yang datang melalui shalat dan ibadah kepada Allah (Malfuzat, jilid 9, hal.3-7).

Esensi Shalat

Tiang agama Islam yang selanjutnya adalah shalat, rukun yang harus dilakukan pada waktu-waktu yang ditentukan yang telah berulang-kali disebutkan dalam Qur’an Suci dan, sebagai tambahan, ingatlah bahwa dalam Qur’an Suci yang sama, kutukan telah dilancarkan kepada seorang yang melakukan shalat tetapi lalai akan sifat dari shalat itu, dan dia tidak peduli kepada saudara-saudaranya. Sesungguhnya bahwa shalat itu suatu ikrar terhadap Allah dengan memohon sungguh-sungguh kepada-Nya agar melindungi kita dari segala jenis kejahatan dan dosa. Manusia itu ditimpa oleh kesakitan dan kesedihan karena dipisahkan dari Allah dan ingin mencapai kedekatan dengan-Nya melalui shalat, dengan sarana mana dia bisa menikmati kedamaian serta ketenangan sebagai konsekwensi dari keselamatan. Tetapi hasrat ini tidak bisa dicapai karena keahlian atau kebaikan orang itu sendiri. Hingga Allah memanggil, dia tidak bisa mendekat. Jika Dia tidak menyucikannya, maka manusia tidak dapat bersih.

Banyak sekali orang-orang bisa membuktikan fakta bahwa banyak kesempatan muncul dalam fikiran mereka suatu keinginan yang kuat untuk menghindarkan dirinya terjerat dari dosa tertentu, namun mereka gagal bahkan setelah seribu ikhtiar, dan meski mereka terus-menerus melukai akal sehatnya, mereka tetap tergelincir dalam kesesatan. Dari sini, jelaslah bahwa menyucikan seseorang dari dosa itu adalah pekerjaan Allah Ta’ala. Tiada yang dapat dicapai melalui daya kekuatannya sendiri. Meskipun demikian, adalah juga benar bahwa seseorang harus berusaha keras untuk mencapai tujuan ini.

Pendek kata, mata bathin yang bergelimang dosa yang telah jatuh jauh dari mengenal Allah dan datang mendekat kepada-Nya hanya bisa disucikan serta dibawa mendekat dari kejauhan dengan melalui instrumen shalat. Melalui medium ini, kejahatan itu bisa diusir dan di tempatnya, perasaan bersih mulai tumbuh di hatinya.

“Kecuali orang-orang yang tobat dan beriman dan menjalankan perbuatan baik; bagi mereka Allah akan menukar keburukan mereka dengan kebaikan. Dan Allah senantiasa Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih” (Q.S. 25:70).

Ini adalah rahasia dibelakang ucapan bahwa shalat mengusir kenistaan atau mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan munkar.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada engkau tentang Kitab dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan buruk; dan sesungguhnya ingat kepada Allah itu (kekuatan) yang paling besar. Dan Allah tahu apa yang kamu lakukan” (Q.S. 29:45).

Jadi, apakah shalat itu? Ini adalah do’a yang dibarengi dengan rasa pedih dan hati yang menyala penuh, dan karena itulah maka ini disebut shalat, karena dengan dinyalakannya, dan hantaman rasa keberpisahan serta kesakitan, maka do’a dipanjatkan agar Allah suka mengusir segala keinginan jahat serta nafsu rendah dari dalam hati kita serta membuat dalam dirinya kasih sayang sejati dari-Nya sebagai contoh dari anugerah-Nya yang universal. Dalam hubungan ini, kata shalat membentuk bukti yang kuat bahwa kata-kata serta sekedar do’a saja tidak cukup, melainkan itu harus diikuti dengan berkobarnya hati, menangis dengan penuh kepedihan. Allah Ta’ala tidak mendengarkan do’a hingga si pemohon mencapai titik kematian. Memanjatkan do’a secara benar adalah perkara yang sulit dan orang-orang sungguh lalai akan sifat semacam itu. Banyak orang menulis surat kepadaku mengeluh bahwa pada saat tertentu mereka berdo’a untuk masalah khusus, tetapi ternyata tidak ada bedanya. Jadi mereka mulai tidak percaya kepada Allah Ta’ala dan tenggelam dalam lemah semangat dan akhirnya menderita kehancuran. Mereka tidak sadar bahwa jika do’anya tidak dikabulkan, maka itu karena permohonan mereka tidak pernah dapat memberi pengaruh.

Satu dari pentingnya do’a adalah bahwa hati ini harus meleleh dan jiwa harus mengalir seperti air dipintu gerbang Dia Yang Maha-suci, dan ketakutan serta kesedihan harus ditumbuhkan dalam hati, serta bersamaan dengan ini, manusia tidak boleh kurang sabar atau tergesa namun harus melibatkan diri dalam do’a ini dengan sungguh-sungguh dan ajeg. Maka ada harapan bahwa do’a itu akan diterima.

Shalat adalah tingkat tertinggi do’a tetapi sungguh sayang bahwa manusia tidak mengapresiasi nilai kandungannya, dan menganggapnya sekedar terdiri dari ruku’ dan sujud secara rutin serta mengulang-ulang beberapa potong kalimat terus-menerus seperti seekor burung kakatua, tidak peduli apakah mereka faham maknanya atau tidak.

Perkembangan lain yang mengecewakan telah nampak, bahwa kaum Muslim telah lalai atas realitas sejati dari shalat dan tidak pernah memberikan banyak perhatian atasnya. Sekarang, di atas ini semua, ada muncul banyak sekte yang telah menggeser wajibnya shalat dan menggantikannya dengan beberapa wirid serta puji-pujian di dalamnya. Beberapa diantaranya yakni Noshahis, yang lainnya Chistis, dan beberapa lagi tergabung dalam aliran keagamaan ini atau itu. Orang-orang ini melancarkan perang didalam Islam serta perintah Allah  dan menguraikan ikatan Syari’at dan bahkan menegakkan satu syari’at baru. Ingatlah bahwa bagi kita serta kepada setiap pencari kebenaran yang teguh, shalat adalah semacam berkah yang hidup yang tidak memerlukan inovasi baru. Pada saat Nabi Suci saw. mengalami suatu kesulitan atau kemalangan, beliau segera menegakkan shalat, dan ini juga merupakan praktik bagi diri saya sendiri, juga dari semua orang-orang tulus yang telah wafat.

Tidak ada yang lebih besar dibanding shalat yang bisa mengusung seorang manusia ke hadirat Allah. Ketika seseorang mengambil posisi berdiri tegak (qiyam) dalam shalat, dia mengasumsikan dirinya dalam sikap sopan-santun dan penyerahan diri. Ketika seorang hamba tegak di hadapan Tuhannya, dia selalu berdiri dengan tangan terlipat.

Kemudian dalam posisi membungkuk (ruku’), dia menunjukkan penyerahan diri yang lebih besar dibandingkan ketika berdiri, dan sujud (sajdah) mencerminkan batas tertinggi dari penyerahan sepenuhnya. Ketika manusia tenggelam dalam keadaan peniadaan diri secara total, dia kemudian jatuh tersungkur dalam sujud. Celakalah manusia bodoh yang membuat amandemen terhadap shalat serta menaruh keberatan atas ruku’ (membungkuk) dan sujud. Ini adalah kemuliaan pada tahap yang setinggi-tingginya. Faktanya adalah, hingga seseorang itu menikmati pengalaman menjalani shalat sepenuhnya, maka dia tak akan tahu apa-apa. Tetapi manusia yang tidak beriman kepada Allah juga tidak bisa meyakini shalatnya.

Apa pun yang saya katakan bukanlah sekedar imitasi (kabar burung) atau adat kebiasaan. Sesungguhnya, saya berbicara dari pengalamanku sendiri. Selanjutnya, setiap orang yang menjalankan shalat seperti ini dan mengusahakannya sendiri, akan melihatnya sendiri. Simpanlah resep ini baik-baik dalam jiwamu dan gunakanlah sehingga apa pun kesedihan atau bencana yang memukul, segera menarik diri dalam shalat, dan apa pun masalah dan kesulitan, ungkapkanlah sepenuhnya kepada Allah dan panjatkanlah do’a kepadanya, karena Dia memang benar-benar ada dan Dia-lah yang membebaskan manusia dari segala macam kesulitan serta bencana. Dia mendengar tangisan pemohon dan tidak ada penolong selain Dia. Sungguh dangkal iman manusia yang ketika menghadapi kemalangan, pergi ke penasihat hukum serta dokter dan lain sebagainya, tetapi tidak meluangkan waktu sama-sekali kepada Allah. Orang yang benar-benar beriman adalah dia yang terbang kepada Allah sebagai awal dari semuanya.

Hal ini juga, yang hendaknya kauingat, bahwa bila engkau tidak peduli kepada Allah, dan tidak melihat pada-Nya, tidak sedikit pun kerugian yang bisa ditimbulkan kepada Pribadi-Nya karenanya dan Dia tidak peduli atasmu seperti yang Dia Sendiri firmankan:

“Katakanlah: Tuhanku tak memperdulikan kamu sedikit pun, sekiranya bukan karena permohonan kamu. Tetapi kini kamu menolak, maka siksaan akan segera dijatuhkan” (Q.S. 25:77).

Karena Dia adalah Yang Rahman dan Rahim, maka demikian pula Dia Mencukupi Diri-Nya Sendiri, di atas segala kebutuhan.  (Malfuzat, jilid 9, hal. 108-113).

Kualitas selanjutnya adalah seorang muttaqi (seorang yang bertaqwa) yakni, dia yang memegang teguh shalat. Di sini, dengan muttaqi yang dimaksudkan adalah seorang yang menegakkan shalat dalam keadaan apa pun juga. Yakni, kadang-kadang shalatnya itu menjadi ‘merosot’, tetapi kemudian dia tegakkan lagi. Seorang muttaqi takut kepada Allah sepanjang waktu dan menegakkan shalat. Tetapi dalam keadaan ini ada muncul berbagai macam fikiran yang menyimpang serta persoalan yang memasuki ingatannya dan menghadirkan hambatan atas pemusatan fikirannya serta “meruntuhkan” shalatnya. Disamping ini menarik serta mengetuk fikirannya, dia tetap menjalankan shalatnya. Kadang-kadang dia merasakan shalatnya “merosot” tetapi dia menegakkannya kembali dan dia tetap dalam kondisi ini dimana, dengan usaha yang berulang-kali, dan dilakukannya shalat dengan tepat, dia bisa menegakkannya sedemikian rupa, sehingga Allah Ta’ala menganugerahi petunjuk baginya dengan benar-benar berbicara kepadanya.

Dan apakah petunjuk-Nya ini? Pada saat itu, sebagai ganti menegakkan shalat yang telah jatuh tersebut, orang akan mencapai titik dimana perjuangan melawan bujukan jahat ini menyingkir dari kehidupannya dan Allah Ta’ala, dengan sarana-sarana yang tidak terlihat, mengaruniai mereka peringkat itu terhadap mana dikatakan bahwa banyak orang yang menjadi demikian sempurna sehingga shalat bagi mereka bagaikan santapan dan ini menimbulkan kesenangan serta kenikmatan yakni seperti seseorang yang sedang dalam keadaan haus dahaga menerimanya ketika dia meminum air dingin, karena dia meminumnya dengan sangat bernafsu serta menemukan kenikmatan yang luar biasa dalam memuaskan dahaganya; atau, sama seperti ketika seseorang sedang menderita deraan rasa lapar yang berkobar lalu mendapatkan suatu santapan yang paling sedap, yang menimbulkan kebahagiaan yang sangat kepadanya, maka, demikian pula, dalam shalat, perasaan yang sama dilahirkan serta shalat menyediakannya dengan semacam yang memabukkan dalam ketiadaan yang dialami akibat kecemasan serta gangguan yang besar.

Tetapi untuk memenuhi shalat dengan sikap yang tepat dimana hatinya mengalami kegembiraan serta kesejukan yang tidak bisa dialami oleh setiap orang, tidaklah cukup kata-kata untuk menggambarkan kenikmatan ini. Manusia membuat kemajuan yang ajeg serta mencapai titik dimana dia terkait dengan cinta pribadi kepada Allah dan tidak perlu baginya untuk membuat shalatnya “benar” karena dia dalam keadaan seperti itu dan seterusnya demikian disepanjang waktu. Suatu perubahan alamiah mulai lahir didalam dirinya dan bagi orang semacam itu maka keridlaan Allah menjadi perkenannya juga. Perubahan semacam itu hadir dalam diri manusia sehingga cintanya kepada Allah menjadi cinta yang alami dimana tidak ada kepura-puraan atau kemunafikan. Seperti halnya seekor binatang yang menemukan kesenangannya dalam makan, minum dan bercinta, begitu pula, orang mukmin yang menemukan kesenangannya dalam shalat, tetapi jelas dalam tingkat yang jauh lebih besar. Karena itu, seseorang harus menegakkan shalat sebaik mungkin.

Shalat adalah akar dan tangga dari segenap kemajuan dan atas alasan inilah maka dikatakan bahwa “shalat adalah mi’raj-nya seorang mukmin”. Dalam agama ini, ada ratusan dan ribuan wali serta orang-orang tulus, abdal dan qutb. Bagaimana kaukira mereka memperoleh statusnya yang luhur itu? Ini adalah dengan sarana shalat. Nabi Suci saw. kita sendiri telah bersabda: “Kesejukan mataku dalam shalat”, dan, sesungguhnya, ketika manusia memperoleh maqam dan peringkat ini, maka shalat menyediakan kesenangan yang paling nikmat baginya, dan bahwa inilah makna dari sabda Nabi Suci kita itu.

Jadi, setelah menerima pembebasan dari perjuangan atas ego-nya, manusia mencapai suatu kedudukan yang tinggi. (Malfuzat, jilid 8, hal. 309-311).


Shalat yang Benar

Ingatlah bahwa shalat adalah semacam perkara yang ajaib sehingga melalui shalat baik kehidupanmu didunia maupun dalam perkara agamamu, dibetulkan. Meskipun demikian, banyak orang yang menjalankan shalat menemukan bahwa ini menjadi kutukan baginya seperti firman Allah Ta’ala:

“Maka celaka sekali bagi orang-orang yang bershalat; Yang mereka alpa dalam shalat mereka” (Q.S.107:4-5).

Shalat adalah semacam perkara ajaib sehingga ketika dia melakukannya, dia akan diselamatkan dari segala macam kejahatan dan kekejian. Tetapi, seperti telah saya katakan sebelumnya, melakukan shalat seperti itu bukanlah dari dalam kekuatan orang itu sendiri dan metode ini tidak dapat diperoleh tanpa bantuan dan pertolongan Allah Ta’ala. Hingga seseorang itu tenggelam dalam-dalam dengan do’a, kerendah-hatian serta penyerahan diri semacam itu tidak dapat ditumbuhkan. Karena itu, sesungguhnya, tiada siang maupun malam, dari waktu ke waktu, anda menghindar dari do’a. (Malfuzat, jilid 10, hal. 66-67).

Kualitas Seorang Mukmin

Dengan jelas dinyatakan dalam Qur’an Yang Mulia: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Q.S. 23:1-2).

Yakni, disaat manusia itu terbenam dalam-dalam, dalam do’a yang sungguh-sungguh serta hatinya mencair dan mengalir bagaikan air dipintu gerbang Dia Yang Maha-suci dan dia demikian terserap dalam Allah serta segenap pikiran yang bercabang, hilang dan ia mendambakan pertolongan dan berkah Allah, dia mencapai semacam tujuan satu arah yakni semacam kegembiraan serta kelembutan hati muncul, dan pintu sukses terbuka baginya. Melalui ini, cinta kepada dunia ini mendingin karena dua cinta tak mungkin memiliki satu tempat bersamaan.

Maka, setelah ayat-ayat di atas, Allah melanjutkan: “dan orang yang menjauhkan diri dari apa saja yang tak ada gunanya” (Q.S. 23:3).

Yakni, ketika manusia mulai memperoleh kerendah-hatian dan penyerahan diri dalam shalat, lalu satu dari konsekwensinya adalah bahwa cinta kepada dunia ini padam dari hatinya. Ini tidak berarti bahwa kemudian dia meninggalkan jabatannya seperti dalam bertani, berdagang dan berusaha jasa, dan sebagainya, melainkan dia mulai berbalik dari mengejar dunia yang melibatkan penipuan serta membuat seseorang itu lalai kepada Allah.

Ratap dan tangis, kerendah-hatian dan ketulusan, serta pengabdian kepada Allah dari orang semacam itu menghasilkan akibat semacam ini, bahwa cinta seseorang kepada iman mendahului segala sesuatu – cinta dunia, hawa nafsu, keserakahan, kemewahan, kesenangan, dan sebagainya, karena adalah suatu kebenaran bahwa amal perbuatan yang baik itu akan menarik amal salih yang lain dan begitu pula perbuatan jahat saling mempengaruhi.

Pada saat orang-orang ini jatuh dalam kerendah-hatian serta penyerahan diri dalam shalat, kemudian hasil yang tak terhindarkan adalah bahwa mereka secara alamiah akan menyingkir dari kesia-siaan dan mereka memperoleh pembebasan dari dunia yang kotor ini; cinta dunia menjadi dingin dan cinta kepada Allah lahir dalam dirinya. Konsekwensi dari semuanya ini adalah: Mereka membelanjakan di jalan Allah, dan inilah yang secara wajar berkaitan dengan menghindari apa yang sia-sia (Q.S. 23:3).

Memanjatkan Do’a dalam Shalat

Engkau hendaknya memanjatkan do’a dalam shalat dengan bahasamu sendiri karena mengajukan petisi dalam bahasamu sendiri menghasilkan perasaan dan antusiasme yang murni. Surat al-Fatihah adalah firman Allah. Engkau harus membacanya dalam bahasa Arab aslinya dan sebagian Qur’an Suci yang dibaca sesudahnya juga harus dibacakan dalam bahasa Arab. Setelah itu, do’a yang ditentukan dan pengagungan Allah (tasbih) juga harus dilakukan dalam bahasa Arab, tetapi engkau harus mempelajari terjemahannya semuanya dan, sebagai tambahan atas semuanya ini, engkau kemudian hendaknya memanjatkan do’amu dengan lidahmu sendiri untuk menciptakan pemusatan fikiran yang mendalam, karena shalat tanpa konsentrasi tidak bisa disebut shalat. Sekarang, adalah kebiasaan orang-orang untuk melakukan shalat secara mekanis. Mereka terburu-buru dalam shalatnya seolah-olah terpaksa, kemudian mereka mulai dengan do’a yang sangat panjang. Ini adalah inovasi. Tidak ada dalam hadist bahwa setelah mengucapkan salam diakhir shalat, seseorang lalu mengalunkan do’a. Orang-orang bodoh menganggap shalat sebagai beban pajak dan membuat do’a terpisah darinya. Shalat sendiri adalah do’a. Pada ritual tertentu keagamaan atau bencana serta pada setiap bencana seseorang harus berdo’a didalam shalatnya.

Do’a bisa dilakukan dalam shalat disetiap posisi – dalam ruku’ setelah tasbih (pengagungan), dalam sajdah setelah tasbih, setelah At-tahiyyat, dalam berdiri setelah ruku’. Buatlah do’a yang berlimpah sehingga engkau akan memanen. Dalam do’a, adalah penting bahwa jiwa itu harus mengalir seperti air. Do’a semacam itu akan membersihkan dan menyucikan hati. Jika engkau bisa mencapai do’a yang semacam itu engkau bisa meneruskannya berjam-jam. Supaya selamat dari cengkeraman dosa, seseorang harus memanjatkan do’a kepada Allah.

Do’a adalah pengobatan dengan sarana mana racun dosa disingkirkan. Banyak orang jahil mengira bahwa berdo’a dengan bahasanya sendiri membuat shalat itu batal. Ini adalah kepercayaan yang keliru. Shalat orang-orang semacam itu sendirilah yang batal.  (Malfuzat, jilid 9, hal. 54-55).

Pikiran Buruk Sewaktu Shalat.

Macam apa shalat dimana lidah berkata, Tunjukkan kami jalan yang lurus tetapi hatinya dipenuhi dengan fikiran seperti, bisnis harus dilakukan secara begini; atau, jika hal ini terjadi, lalu apakah harus ditempuh jalan semacam ini ataukah itu?  Ini hanya menghabiskan waktu seseorang saja. Kecuali bila manusia mendahulukan Kitabullah dan bertingkah-laku sesuai dengannya, maka shalatnya hanyalah memboroskan waktu belaka. (Malfuzat, jilid 10, hal. 62).

Penjelasan Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tentang Do’a

 

Mengapa Al-Qur’an Dimulai dan Diakhiri dengan Do’a

Ingatlah hal ini, bahwa alasan Allah Ta’ala memulai Qur’an Suci dengan do’a (permohonan) dan berakhir dengan do’a juga, untuk menekankan fakta bahwa manusia itu demikian lemah sehingga dia tidak akan pernah bisa suci tanpa keberkatan Allah, dan sampai dia menerima pertolongan serta kemenangan dari Nya, dia tak akan pernah bisa maju dalam ketulusan. Disebutkan dalam sebuah hadist bahwa setiap orang itu mati kecuali yang Allah beri kehidupan, dan semua sesat kecuali yang Dia beri petunjuk dan semua buta kecuali dia yang diberi Allah penglihatan.

Pendeknya, adalah suatu fakta yang tidak terbantah bahwa  manusia, kecuali menerima berkah Allah, ikatan cinta dunia akan selalu dikalungkan dilehernya. Hanya mereka yang diberkahi Allah dapat memperoleh kebebasan dari perkara ini.

Engkau hendaknya ingat bahwa adalah do’a yang memulai kehendak Allah. Meskipun demikian, jangan mengira bahwa do’a itu hanya ucapan dimulut, sebab sesungguhnya do’a itu berkonotasi berlangsungnya semacam kematian dan hanya setelah ini seseorang dapat memperoleh hidup. Do’a memiliki satu properti magnetis yang menarik dalam dirinya berkah dan antusias.  (Malfuzat, jilid 10, hal. 62).

Filosofi Do’a

Pandanglah seorang anak, melalui rasa laparnya, menjadi gelisah serta cemas dan mulai menjerit serta menangis demi susu dan secara otomatis susu mengalir dalam payudara ibunya. Meskipun bayi itu bahkan tidak mengenal apa yang disebut do’a, namun jeritannya adalah sarana dengan mana susu tertarik. Pengalaman ini adalah universal. Sering kali dicermati bahwa para ibu bahkan tidak merasakan hadirnya susu dalam payudaranya dan sering pula belum ada; namun, segera setelah tangisan putus-asa dari si bayi masuk ke telinganya, susu segera mulai mengalir seolah ada suatu hubungan yang kuat antara tangisan dengan berkumpulnya susu.

Saya berkata dengan penuh ketulusan bahwa jika kita memperagakan ketidak-berdayaan yang sama dihadapan Allah, maka ini akan mendorong serta menarik berkah dan rahmat-Nya; dan saya teguhkan berdasarkan pengalamanku sendiri bahwa berkah serta rahmat Allah, yang datang melalui terkabulnya do’a, telah saya rasakan ditarik kepadaku, dan bahkan lebih dari itu, saya melihatnya pula. Adalah benar bahwa ahli filsafat yang rancu fikirannya dizaman modern ini tidak dapat merasakan maupun melihat hal ini; tetapi kebenaran ini tidak dapat dihilangkan dari dunia, terutama diri saya yang selalu bersedia mendemonstrasikan kepastian akan terkabulnya do’a” (Malfuzat, jilid 1, hal. 198).

 

 

Dasar-dasar dari Do’a

Ini adalah sifat intrinsik dari do’a. Allah Ta’ala tidak dibimbing oleh kepentingan dan kemauan kita. Lihatlah betapa besar kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang tidak ingin suatu gangguan pun menimpanya. Tetapi jika anak itu dengan bodohnya ngotot serta menangis terus untuk meminta pisau atau bara menyala ke tangannya, apakah kaukira bahwa ibunya, di samping rasa cinta sejati dan kelemah-lembutannya yang murni, akan mengizinkan anaknya untuk membakar tangannya dengan bara menyala atau memotong tangannya dengan menyerahkan pisau yang tajam itu kepadanya? Pasti tidak! Dari poin ini, seseorang bisa mengapresiasi prinsip fundamental atas terkabulnya do’a. Adalah pengalaman pribadi saya dalam perkara ini bahwa jika suatu do’a berisi sesuatu yang merugikan didalamnya, ini tidak akan pernah dikabulkan.

Kita dapat siap untuk mengerti bahwa ilmu kita bukannya tanpa keterbatasan, atau pun senantiasa benar. Kita melibatkan diri kita sendiri dengan gembira dalam banyak kedudukan dan mengira hal itu adalah sasaran yang didambakan dan percaya bahwa hasilnya akan sangat menguntungkan kita. Tetapi pada akhirnya mereka kembali dengan rasa pedih dan terguncang. Pendeknya, tidak semua permintaan manusia itu dapat diberikan, entah karena permintaan itu permintaan yang wajar saja atau tidak, karena pada dasarnya sifat manusia untuk khilaf dan lupa. Oleh karena itu  ternyata dan sungguh ini suatu fakta, bahwa banyak permohonan itu bisa merugikan manusia itu sendiri dan jika Allah Ta’ala mengabulkannya maka ini jelas bertentangan dengan asma-Nya yang luhur yakni ar-Rahim.

Ini adalah fakta yang nyata serta bukti yang tak tertandingi bahwa Allah Yang Maha-tinggi mendengar do’a hamba-hambaNya dan menghormati mereka dengan mengabulkannya, tetapi tidak dengan memaksakan, sebab karena percaya diri manusia yang berlebihan, manusia tidak bisa melihat hasil serta akibat do’a yang dipanjatkannya. Namun Allah Yang Benar, Berkehendak-baik serta Melihat akibatnya, menjaga pemohon dari pengaruh buruk permohonannya serta kerugian yang bisa menimpa jika do’anya dikabulkan, maka Dia menolaknya. Bagi pemohon penolakan yang jelas dari berdo’a yang demikian, sesungguhnya mengandung penerimaan atasnya. Jadi, Allah Ta’ala mengabulkan do’a mereka yang tidak akan menyebabkan kemalangan serta kerugian kepadanya. Betapa pun, Dia juga telah mengijabahi permohonan yang sungguh-sungguh tetapi merugikannya itu, namun dengan cara menolaknya.

Saya sering kali menerima ilham (wahyu) ini: “Aku menjawab setiap do’a kalian”. Dengan perkataan lain, ini bisa dikatakan bahwa dari setiap do’a, bila substansi do’a itu bisa menguntungkan dan bermanfaat, akan diberikan. Maka pada saat pikiran ini datang, jiwaku dibanjiri dengan kesenangan dan kegairahan. Ketika wahyu yang paling awal datang sekitar dua-puluh-lima atau tiga-puluh tahun yang lalu, saya demikian gembira bahwa Allah akan mengabulkan do’a saya yang saya panjatkan untuk kepentinganku dan teman-teman. Kemudian saya berpikir bahwa saya tidak boleh kikir dalam masalah ini karena ini suatu rahmat Ilahi, dan diantara gelar seorang muttaqin yang telah disebutkan Allah adalah “Dan mereka yang membelanjakan apa yang Kami berikan kepada mereka”.

Karena itu, mengenai kawan-kawanku, saya telah mencermati aturan bahwa apakah mereka mengingatkanku atau tidak, atau apakah itu suatu perkara penting atau sepele, saya memanjatkan doa bagi masalah duniawi serta keagamaan mereka. (Malfuzat, jilid 1, hal. 107-109).

Rahasia Terkabulnya Do’a

Ini adalah rahasia dibalik terkabulnya do’a – sampai manusia itu meninggalkan kehendak dirinya, keinginan serta ilmunya dan melenyapkan diri dalam Allah, dan hingga dia menaruh kepercayaan penuh serta keyakinan yang sempurna terhadap kekuatan Allah yang menyeluruh serta mutlak, bahwa Allah adalah Pendengar dan Penerima permohonan, maka do’a yang tidak demikan akan tanpa isi. Oleh Sebab itu mengapa kaum filsuf tidak percaya atas terkabulnya do’a adalah karena mereka tidak sepenuhnya beriman kepada kekuatan Allah Yang Meliputi segala sesuatu dan Dzat-Nya Yang-menciptakan persediaan yang demikian rincinya, serta mereka menganggap kekuatan-Nya adalah terbatas, dan mereka menyandarkan diri mereka kepada pengalaman dan penalarannya.

Dibandingkan dengan pengalaman mereka, ide itu tidak pernah melintas di pikirannya dan bahwa Tuhan itu ada serta Dia mempunyai kekuatan untuk bertindak. Inilah sebabnya mengapa, ketika beberapa penyakit yang sangat mematikan menyerang seseorang, orang-orang itu mengumumkan dengan pasti dan final bahwa pasien itu tidak mungkin diselamatkan, atau bahwa dia akan mati setelah jangka waktu tertentu, atau mati dengan cara ini atau itu. Tetapi saya sendiri, telah menyaksikan sederet contoh serta banyak lainnya yang saya ketahui tentangnya, dengan mengabaikan fatwa mereka yang konklusif dan menentukan, Allah telah menciptakan kesehatan bagi si penderita sakit semacam itu, yang akhirnya mereka bisa diselamatkan.

Dilain pihak banyak terjadi bahwa orang-orang yang telah divonis mati karena penyakitnya itu sertamerta  tetap hidup dan sehat kembali, dan dengan menjumpai mereka, maka para dokter itu menjadi malu, dan ilmu serta klaim mereka dipermalukan.

Sebuah Hadist menyatakan kepada kita bahwa: “Tidak ada penyakit kecuali ada obatnya”. Saya ingat kata-kata seorang  dokter yang berkata bahwa tak ada penyakit yang tidak ada kemungkinan untuk diobati, tetapi karena kurangnya pemahaman, kecerdasan dan pendidikan maka ilmu pengetahuan kita belum maju sampai ke titik itu.

Mungkin saja Allah Yang Maha-tinggi menciptakan suatu penyakit tertentu dimana keadaan demikian belum mampu didapatkan sarana yang tepat bagi pengobatan orang itu, sehingga kita anggap tidak bisa diobati, akan tetapi dengan menganggap demikian kita telah keliru, padahal orang itu  bisa kembali sehat dan kuat. Maka kita jangan sekali-kali memberikan keputusan yang final, namun bila kita mengungkapkan pendapat kita, harus dikatakan bahwa ini hanyalah sesuatu perkiraan, tetapi selalu ada kemungkinan bahwa Allah membawa keluar dari keadaan yang semacam itu sehingga hambatan itu bisa disingkirkan dan penderita itu bisa menjadi sehat kembali.

Do’a adalah senjata ampuh yang telah Allah ciptakan sehingga perkara apa yang nampaknya  mustahil bagi manusia bisa benar-benar terjadi karena bagi Allah tiada suatu pun yang mustahil dihadapan-Nya. (Malfuzat, jilid 10, hal. 195-197).

Do’a yang Benar

Ada dua macam do’a. Pertama, do’a yang menjadi adat-kebiasaan, dan kedua, dimana seseorang melakukannya hingga batas tertinggi, dan ini adalah apa yang disebut do’a dalam arti kata yang sebenarnya.

Manusia harus terlibat dalam do’a secara ajeg bahkan disaat dia tidak dikelilingi oleh kesulitan, karena ilmu apa yang dia miliki tentang kehendak Allah atau apa yang akan terjadi besok? Dia harus memanjatkan do’a sebelumnya agar diselamatkan. Banyak peristiwa bencana menimpa secara tiba-tiba sehingga manusia tidak ada waktu lagi untuk berdo’a; sehingga jika dia memanjatkan do’a sebelumnya, ini akan berakibat yang menguntungkannya bila saat yang tidak wajar ini turun. (Malfuzat, jilid 10, hal. 122).

Banyak orang percaya dengan jalan semacam itu bahwa mereka mendengarkan dengan telinga kiri dan membiarkan kata-kata itu keluar dari telinga kanan tanpa kesan yang diukir di hatinya. Betapa pun banyak nasihat yang diberikan seseorang, ini tidak ada pengaruhnya di hatinya. Ingatlah bahwa Allah Ta’ala itu Mencukupi Diri-Nya Sendiri dan kecuali kalau kita memanjatkan do’a kepada-Nya dengan berlimpah dan sering-kali serta dengan kepedihan dihati, maka Dia tak akan peduli.

“Katakanlah: Tuhanku tak mempedulikan kamu sedikit pun, sekiranya bukan karena permohonan kamu. Tetapi kini kamu menolak, maka siksaan akan segera dijatuhkan” (Q.S. 25:77).

Jika, misalnya, isteri atau anak seseorang itu jatuh sakit, atau dia terjerat dalam suatu kasus hukum yang serius, lihatlah betapa dia terguncang karena masalah ini. Dengan sikap yang sama, dalam do’a, kecuali ada suatu hasrat yang sungguh-sungguh dan perasaan sedih yang murni terlahir dalam hati, maka do’a menjadi perkara yang sia-sia serta tak ada buahnya. Suatu persyaratan yang perlu guna diterimanya do’a adalah hadirnya rasa cemas dalam hati, seperti yang terkandung dalam Qur’an Suci:

“Atau, siapakah yang mengijabahi orang yang susah tatakala ia berdo’a kepada-Nya dan menyingkirkan keburukan” (Q.S. 27:62).

(Malfuzat, jilid 10, hal. 137).

Setiap Orang Mengalami Bencana yang Melemahkan

Allah Ta’ala itu tersembunyi, tetapi Dia dikenal melalui daya kekuatan-Nya. Melalui do’a, seseorang menyadari akan kehadiran-Nya. Setiap orang, baik dia Raja atau Maharaja, terikat kepada kesukaran semacam itu yang membuatnya tak berdaya serta kehilangan akal akan apa yang harus diperbuatnya. Dalam keadaan semacam itulah kesukaran itu bisa diatasi dengan do’a. (Malfuzat, jilid 8, hal. 35),

Setiap Do’a Mendapat Jawaban

Saya sangat berterima-kasih bahwa permohonan yang saya panjatkan kepada Allah seringkali dikabulkan. Tidak seorang pun dapat menghindar dari apa yang telah didekritkan dan Allah berbuat segala sesuatu sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna. Meskipun demikian, banyak pemohon yang berhasil mendapatkan apa yang diminta, dan ini adalah fakta yang nyata serta tidak terbantah bahwa apapun yang muncul sebagai hasil dari do’a, maka setiap do’a itu akan mendapat jawaban; baik itu sesuai dengan permohonannya atau tidak. (Malfuzat, jilid 8, hal. 410).

Do’a yang Tidak Diterima

Sampai hatimu bersih, maka do’amu tidak akan diterima. Bila dalam beberapa masalah dunia engkau menaruh kebencian di hatimu terhadap orang lain, maka do’amu tidak dapat dijawab. Engkau harus menekankan dalam jiwamu bahwa engkau tidak pernah bersangka-buruk terhadap seseorang bahkan dalam masalah duniawi. Apakah nilainya dunia ini serta persediaannya sehingga untuk itu engkau harus masuk kepada kebencian terhadap orang lain? (Malfuzat, jilid 9, hal. 217-218).

Kekuatan Do’a – Contoh dari Nabi Suci SAW.

Perisiwa aneh yang terjadi dipadang gurun Arabia, dimana jutaan manusia yang mati ruhaninya diberi nafas dalam waktu yang sangat  singkat, dan orang-orang yang tadinya rusak selama bergenerasi menjadi dicelup dengan asma Ilahi, dan yang buta mendapatkan tenaga penglihatannya serta yang bisu menjadi lancar kata-katanya berkat ilmu dari Allah, dan satu revolusi terjadi didunia dengan cara yang mendadak sehingga yang serupa itu tak pernah disaksikan sebelumnya serta telinga tidak pernah mendengarnya – apakah itu gerangan?  Ini, pada dasarnya, do’a yang sunyi dikegelapan malam dari seorang yang kesepian yang melenyapkan dirinya dalam Tuhan yang menciptakan keguncangan yang luar-biasa ini didunia, dan menghasilkan fenomena aneh yang kelihatannya nyaris mustahil bisa disebabkan oleh orang yang buta-huruf dan tak berdaya itu. (Barakatud-Du’a, hal. 10).

Pendeknya, ketika jiwa kita merentangkan tangannya bermohon dengan sepenuh gairah dan kerendahan-hati terhadap Sumber segala keberkahan dalam usahanya untuk mendapatkan sesuatu, dan, pada saat menemukan dirinya kehilangan sumber-sumber, dia mencari cahaya, melalui pemikiran, dari bagian lain dari diri kita sendiri, maka keadaan jiwa yang terbit sebagai akibatnya, sesungguhnya adalah keadaan berdo’a. Adalah dengan melalui do’a semacam itu ilmu pengetahuan di dunia ini hadir…. Pemikiran kita, renungan kita, pengarahan nalar kita untuk menemukan hal-hal yang tersembunyi – semuanya ini termasuk dalam perbuatan berdo’a…… Tetapi manusia yang di dalam tabir kegelapan, yang tidak ada kelekatan dengan Tuhan, tidak mengenal sumber berkah ini.

Seperti manusia yang berilmu spiritual, dia, juga, diarah perjuangan mentalnya, meminta pertolongan dari sumber diluar dirinya dan melancarkan usaha-usaha untuk menjamin datangnya bantuan itu, dengan perbedaan bahwa manusia berilmu menyaksikan sumber itu, sedangkan orang jahil berjalan di kegelapan dan tidak menyadari apapun yang datang dalam pikirannya sebagai akibat penalaran dan renungan; ini juga dari Allah, yang, menerima pemikiran dari pakar itu sebagai sejenis do’a, yang menghubungkan ilmu-Nya ke pikiran orang itu.  (Di ambil dari: Barakat-ud Dua).

 

Do’a yang Terbaik dari Semuanya

Do’a yang terbaik yakni yang merupakan kumpulan dari semua perkara kebaikan dan penolakan atas segala hal yang jahat. Karena itu, do’a: “Jalan terhadap orang-orang yang telah Engkau beri nikmat”(Q.S. 1:6), adalah do’a untuk memperoleh berkah yang diberikan kepada semua yang disayang Allah sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Suci kita Muhammad s.a.w  Dan: “Bukan (jalan) orang-orang yang terkena murka, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat” (Q.S. 1:7), adalah do’a yang menyelamatkan kita dari segala jenis kejahatan. (Malfuzat, jilid 2, hal. 124).

Masalah Penting Yang berkaitan dengan Do’a

Setiap do’a tidak selalu dijawab dengan positif, betapa pun tulusnya pemohon itu kiranya, karena Allah itu Tuhan, Yang Mengetahui, Melihat, dan mempunyai daya-kekuatan atas segala sesuatu, serta tidak dikendalikan oleh permintaan kita.

1.      Hati kita harus bersih dan tulus serta jauh dari keluhan atau kemarahan terhadap seseorang ketika kita sedang berdo’a. Jadi, semakin bersih hidup kita, semakin banyak permohonan kita akan dikabulkan.

2.      Do’a haruslah bukan suatu rumus rahasia tertentu yang diulang-ulang. Seharusnya, kita harus tahu apa yang kita katakan dan hati kita harus dipenuhi dengan rasa takut dan harap, cemas dan gelisah, ketika kita berdo’a.

3.      Memutuskan sesuatu sebelumnya dan kemudian baru berdo’a seolah mencari pengesahan Allah atas apa yang kita ingini, prasangka, preferensi, dan sebagainya, adalah menipu diri sendiri, dan suatu laknat, serta sama dengan mencoba Allah Ta’ala. Atau, kita jangan sekali-kali menentukan sebelumnya hasil dari do’a kita, tetapi sebaliknya, kita harus berserah diri, dengan hati menangis kita ajukan permohonan kita kepada Allah dan dengan kesediaan untuk menerima dengan gembira apa pun yang didekritkan-Nya.

4.      Mengabaikan ikhtiar, atau sarana-sarana, atau peralatan kerja yang telah disediakan Allah bagi kita dan mengalunkan do’a dengan duduk manis serta menunggu agar hal-hal itu terjadi, juga mengandung arti mencoba Allah. Di samping itu, membuat rencana bukanlah menentang kehendak Allah, tetapi kita harus menyeru Dia agar membimbing kita kepada rencana yang terbaik serta lalu memberi kita pertolongan-Nya untuk menerapkannya sepanjang jalan yang kita lalui.

5.      Tergesa-gesa dan tidak sabar atas jawaban yang kita inginkan serta merasa kecil hati ketika hal itu tidak terjadi lalu meninggalkan do’a sebagai perkara yang tak ada gunanya hanya mendorong kita kepada kehidupan yang sengsara, karena ini mengandung pengingkaran kita kepada Allah Ta’ala. Lihatlah berapa lama Allah menjawab do’a Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. Ini digenapi dengan kedatangan Nabi Suci Muhammad saw. paling sedikit tiga ribu tahun setelah do’a dipanjatkan.

6.      Do’a adalah demikian penting sehingga Allah tidak mempedulikan kita kalau kita tidak berdo’a kepada-Nya (Q.S. 25:77).

7.      Do’a adalah apa yang mengangkat kita dari keadaan tanpa daya menjadi kalifah Allah di bumi. Secara paradoks, kelemahan kita adalah sumber terbesar dari kekuatan kita karena kita telah memohon bantuan kepada Sumber Kekuatan yang terbesar –yakni Allah Sendiri (Q..S. 27:62).

8.      Allah bisa menjawab permohonan kita dengan empat cara:

(i)                 Dia bisa menganugerahinya seketika.

(ii)               Dia bisa menolak seketika.

(iii)             Dia bisa menunda jawaban-Nya.

(iv)              Dengan Kebijaksanaan dan Rahmat-Nya, Dia bisa memberi kita sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita minta.

9.      Berkenaan dengan do’a yang ingin mengangkat beban bencana yang menimpa kita, Allah menjawab dengan tiga cara:

(i)                 Dia mengangkat kesukaran kita dengan cepat, atau

(ii)               Dia memberi kita kekuatan manusia super untuk menahan beban itu, atau

(iii)             Dia membuat kemalangan sebagai sarana kebahagiaan yang intens bagi kita karena lalu kita dipaksa untuk memohon kepada-Nya dalam ketidak-berdayaan total, dan ketika kita dalam keadaan itu, kita dekat kepada-Nya dan Dia Sendiri, seperti biasa, memikul beban penderitaan itu dan memberi kenyamanan kepada jiwa kita. Inilah sebabnya mereka yang maju dalam keruhaniannya terang-terangan memanjatkan do’a agar cobaan dan guncangan menimpa mereka! Nabi Suci saw. diriwayatkan telah bersabda: “Kesedihan adalah sahabatku, karena ini membawaku dekat kepada Allah”. Jadi, kita diperintahkan agar membuat diri kita tak berdaya di hadapan Allah dalam shalat (bahkan jika kita tidak mengalami kemalangan), dan menganggap Allah sebagai Yang Maha-Perkasa serta Maha-Rahim. Ini adalah prasyarat bagi dikabulkannya do’a kita.

10.  Allah Ta’ala memperlakukan kita sebagai kawan tercinta. Kadang-kadang Dia memberi kita apa yang kita minta: “Dan Ia memberikan kepada kamu apa yang kamu minta kepada-Nya” (Q.S. 14:34), serta: “Mohonlah kepada-Ku, Aku akan meng-ijabahi kamu” (Q.S. 40:60). Tetapi kita tidak boleh berat sebelah, karena Allah menyatakan kepada kita bahwa Dia minta hal-hal tertentu, juga, seperti yang kita temukan dalam Qur’an Suci: “Dan sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan dan kehilangan harta, dan jiwa, dan buah-buahan. Dan berilah kabar baik kepada orang yang sabar. (Yaitu) orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah, dan kami akan kembali kepada-Nya” (Q.S. 2:155-156).

11.  Ada tiga cara dalam menunjukkan kasih-sayang kepada yang lain: satu secara fisik dan yang lain secara finansial; tetapi yang ke tiga dengan do’a, adalah yang terbaik, karena ini tidak memerlukan persediaan dunia dan lingkupnya lebih luas. Sebagai hasilnya, ini harus menjadi sifat kedua dari kita untuk berdo’a bagi yang lain, bahkan termasuk musuh-musuh kita. Ini akan memberi kita umur panjang, sebagaimana Qur’an Suci telah berkata: “Ada pun yang berguna bagi manusia, ini akan tinggal di bumi”(Q.S.13:17).

12.  Tidak ada kontradiksi antara mencari ikhtiar fisik guna mengurangi rasa sakit dengan berdo’a pada saat yang sama, karena Allah telah menyediakan benda-benda berbentuk lahiriah guna mengurangi atau menghilangkan kesusahan. Misalnya, makanan menghilangkan rasa lapar, air memuaskan dahaga, dan sebagainya. Begitu pula, melalui rahmat Allah, do’a membantu mengaktifkan penyebab dalam dunia fisik dan spiritual guna menolak kesakitan dan kesusahan. Karena itu, meskipun dekrit Ilahi adalah kenyataan dan itu mutlak, namun ada banyak ruang bagi digunakannya dan dimanfaatkannya do’a disamping ketentuan yang tak terelakkan itu, dan dalam wilayah inilah do’a itu berkembang. Bahkan mereka yang percaya bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan sebelumnya, dan karena itu do’a tidak ada gunanya, tetap mengunjungi dokter pada saat mereka jatuh sakit dan disaat itu mereka juga mencari sarana pertolongan lain. Ingatlah bahwa sejak zaman purba, do’a dan sedekah (derma) telah digunakan manusia untuk mengelak dari takdir Ilahi yang tak terbantah.

13.  Do’a dan perencanaan bukanlah anti-tesis namun agaknya bersifat saling mengisi dan faktanya bekerja seperti saudara sedarah guna kemajuan manusia, karena rencana itu adalah wajar dikaitkan dengan do’a dan do’a menggiatkan serta menarik rencana-rencana seperti magnet. Faktanya, jika Allah tidak menerangi otak kita, maka tak ada rencana baik yang bisa lahir.

14.  Meski benar bahwa tanpa memanjatkan do’a dengan terang-terangan serta sadar, beberapa orang berhasil dalam jabatannya hanya melalui apa yang nampak sebagai perencanaan yang cemerlang, namun sukses itu hanya yang nampak dan bukan senyatanya, karena tanpa do’a setiap “sukses” itu dengan tak terelakkan akan diikuti dengan kesakitan, kesedihan, kesusahan serta kegagalan, karena kedamaian, keamanan dan kenyamanaan mustahil bisa didapat melalui rencana semata. Hanya melalui do’a, seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan sejati; karena do’a membuat kita mengenal Sumber segala keberuntungan dan sukses, serta mengilhami dalam hati kita perasaan tulus kerendah-hatian dan rasa syukur. Sebaliknya, sukses orang-orang lain kemungkinan akan meningkatkannya dalam kebanggaan, kesia-siaan, kesombongan dan kekerasan hati.

15.  Ketika satu do’a dijawab, ini mengeratkan ikatan yang tak terputus dengan Allah dan tidak saja membawa kita lebih dekat kepada-Nya, melainkan juga “melihat” Dia dalam hidup kita dialam fana ini. Karena seperti halnya Allah telah memberi-tahu kita untuk mencari tanda-tanda-Nya dalam penataan langit dan bumi (2:164); maka, demikian pula ada pertanda atas pengakuan-Nya dan penerimaan-Nya terhadap do’a kita. Dan seperti halnya satu kilatan petir saja bisa menjadikan kita melihat jalan keluar dari lubang kegelapan, begitu pula, do’a bisa menerangi hidup kita dan membawa kita berhadap-hadapan dengan Allah Ta’ala. Tetapi lebih daripada itu, do’a menolong manusia mencapai maqam kewalian dan menjadi perantara bagi manusia yang lebih rendah.

16.  Do’a terbaik bukannya yang dipanjatkan bagi diri atau keluarganya tetapi yang dikaitkan dengan seluruh kemanusian. Kita hendaknya ingat bahwa do’a dalam al-Fatihah dibuat dalam bentuk jamak, yakni, bagi semuanya dan tidak bagi dirinya sendiri saja.

17.  Untuk menikmati shalat yang menyediakan kebahagiaan bagi jiwa kita, kita harus memanjatkan do’a dalam bahasa kita sendiri ketika shalat. Jika tidak, mustahil kita bisa mengalami kebahagiaan sejati dalam do’a kita.

18.  Dalam shalat kita, kita harus memanjatkan doa bagi yang lain, keluarga, kawan, dan sebagainya dengan menyebut nama-nama mereka. Satu dari para wali Islam menerangkan bahwa dia telah memanjangkan sujudnya karena dia memanjatkan do’a bagi tujuh-puluh orang, dengan menyebut namanya satu persatu.

19.  Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad bertanya: “Apa bedanya manusia dengan binatang bila dia seperti hewan tidak memanjatkan do’a atau antara dia dengan seorang kafir jika seperti orang kafir dia hanya berdo’a selagi ditimpa malapetaka?” Dia tunjukkan bahwa sifat mencolok dari seorang Muslim terletak kepada tidak saja dia berdo’a untuk yang sudah berlalu dan yang ada kini, melainkan juga bagi masa datang; bahkan meskipun  dia tidak mengalami kesulitan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan itu. Cobaan dan guncangan, diingatkannya, adalah lebih banyak dibanding semut dan dia menarik perhatian kita kepada hadist yang menyatakan bahwa do’a serta sedekah (derma) bisa menghindarkan bencana serta takdir kondisional dari Allah.

Adalah menarik membaca bait-bait sajak dari Lord Tennyson ini, “Kematian raja Arthur”, sebagian kata-kata yang diletakkan penyair dimulut Raja yang sedang diambang maut ketika dia mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga istananya.

“Berdo’alah bagi jiwaku.

Banyak perkara terbentuk berkat do’a,

Dibanding apa yang diimpikan dunia ini.

Karenanya, angkat suaramu seperti mata air bagiku malam dan siang.

Demi apa yang manusia itu lebih dibandingkan domba dan kambing,

Yang merawat kehidupan yang buta dalam nalarnya.

Jika mengenal Tuhan mereka hidup tanpa menengadah untuk berdo’a,

Baik bagi dirinya sendiri dan mereka yang menyebutnya kawan?

Karena untuk itulah seluruh bumi berputar di setiap jalan,

Diikat dengan rantai emas di telapak kaki Tuhan”.

Kesimpulan

Kami berharap dan berdo’a semoga artikel  ini bisa membantu kita dalam memulihkan atau mengintensifkan dambaan kita kepada Allah dalam hati kita, hidup dihadirat-Nya dan berdo’a semoga Dia tidak meninggalkan kita bahkan untuk sekejap mata saja. Kami tahu bahwa kita mustahil berhasil kecuali dengan perkenan Allah:

“Dan kamu tidaklah menghendaki, terkecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan sarwa sekalian alam” (Q.S. 81:29).

Namun kami berpegang sepenuh harapan bahwa kita bisa termasuk diantara mereka yang berkata sejujurnya dalam kehidupan dialam fana ini:

“Segala puji kepunyaan Allah, Yang telah memimpin kami kepada (keadaan) ini. Dan kami tak dapat menemukan jalan, sekiranya Allah tak memimpin kami. Sesungguhnya telah datang para Utusan Tuhan kami dengan membawa kebenaran” (Q.S. 7:43).

Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: