Kitab Injil, Bagaimana memahaminya?

bagaimana anda bisa yakin Alkitab yang saya pegang dan saya baca adalah palsu/tidak asli? atas dasar apa? mgkin karena dalam bahasa Indonesia? itu karena Alkitab adalah sebuah kitab suci yang universal bahkan sampe dterjemaahkan dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia.

“Perdebatan tanpa disertai pengkajian dan pembuktian ibarat mengadili pencuri tanpa bukti! handaian dan handaian terus,…..”

Seharusnya anda konsisten dg tulisan anda sendiri. anda yakin kitab yg anda pegang asli? karena berbahasa asli? yg dtulis oleh Beliau yang katanya buta huruf. menurutku Beliau orang pinter, bisa baca tulis, buktinya dipercaya mengurus kegiatan dagang istri Beliau.

yang jelas, aku percaya dengan yang aku percaya. dan kayaknya apa yg anda percaya tidak bisa dicampuradukkan dg apa yg saya percaya. :) hand rian on https://studiislam.wordpress.com/2007/11/08/injil-barnabas-injil-yang-asli/

 

Kata Injil merupakan bahasa Yunani yang berarti kabar gembira yang merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabiyullah ‘Isa as. untuk umatnya Bani Israil. Pada umumnya umat Islam terkecoh dengan kalimat “Kitab Injil”, sehingga  bila terdengar ditelinga mereka kalimat “Kitab Injil” maka yang terbesit dalam benak mereka adalah suatu buku yang terjilid rapi dimana didalamnya terdapat sekumpulan catatan-catatan wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Nabi ‘Isa as.  Dengan demikian ungkapan “Kitab Injil” yang ada sekarang sudah tidak asli lagi melainkan sudah dipalsukan, dengan demikian umat Islam dalam memahami Kitab injil ini memiliki dua penafsiran.

Yang pertama menafsirkan bahwa sejak semula kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa as. Memang dicatat dan ditulis oleh para muridnya, lalu kemudian selepas kepergian Nabi ‘Isa as. terjadi interpolasi-interpolasi dan penambahan-penambahan dan pengurangan-pengurangan, sehingga jadilah Injil yang beredar sekarang itu sudah dalam bentuk carut marut, amburadul tidak karuan.

Yang kedua menafsirkan secara kekanak-kanakan bahwa  disaat-saat genting, sebelum Yesus pergi untuk menetap dilangit, Yesus terbang kelangit lalu turun lagi kebumi dengan membawa buku kitab Injil dari surga, yang ini kemudian diberikan kepada para murid-murid Yesus. Lalu dikarenakan situasi pada saat itu para Murid Yesus dikejar-kejar dan dibunuh maka kitab Injil Yesus itu juga turut dimusnahkan oleh pemuka-pemuka Yahudi. Dan setelah terciptanya kedamaian, maka Paulus Cs mulai menyusun kembali Injil Yesus dan jadilah kitab Injil itu seperti yang kita dapati sekarang.

Dus, berdasarkan kedua penafsiran itu tidak salah bila umat Kristen bertanya kembali kepada umat Islam, bila buku kitab Injil itu telah dipalsukan, tolong tunjukan yang mana dan dimana buku kitab Injil yang asli?, mana bukti sejarahnya buku kitab injil Yesus yang asli telah dibakar?.

Beranjak dari logika umumnya umat Islam tentang Kitab Injil, juga beranjak dari pertanyaan-pertanyaan umat Kristen terlihat jelas bahwa kedua kubu itu memakai frame kaca mata agamanya masing-masing yang nota benenya sangat bertentangan, karena itu mereka dalam setiap dialog interfaith tidak akan pernah nyambung ketemu titik permasalahannya, bila titik permasalahannya saja sudah tidak ketemu maka bisa dipastikan perdebatan itu adalah debat kusir yang tidak berpangkal dan tidak akan pernah berujung. Sebelum beranjak kepada makna kitab Injil, saya akan menjelaskan terlebih dahulu arti dari kitab suci

Arti Kitab Suci

Dalam Al-Qur’an kitab suci disebut dengan tiga sebutan, yaitu:

(a) kitab, jamaknya kutub (2:285), artinya tulisan yang sempurna;

(b) shuhuf jamak kata shahifah artinya halaman yang ditulis atau lembaran (83:13; 87:19-20); dan

(c) zabur jamaknya zubur (26:196; 54:43) artinya karangan atau buku.

Yang ketiga ini biasanya dikaitkan dengan Nabi Daud (4:164), maka ada kesan Zabur adalah kitab suci yang diturunkan kepada Daud, seperti Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Musa dan Isa sebagai petunjuk bagi manusia (3:1-3). Sebagaimana dimaklumi, bahwa semua Nabi menerima Kitab Suci (2:213), yaitu wahyu Ilahi yang tertinggi (42:51) yang dikaruniakan oleh Malaikat Jibril, yang dalam teologi Islam disebut Wahyu Matluw artinya wahyu yang dibaca. Bibel (Alkitab) kitab suci umat Kristen mengandung ‘sebagian dari kitab Allah’, nashiban minal-kitab (4:51) yang dikaruniakan kepada Bani Israel (26:196-197) yang kemudian dihimpun menjadi satu (13:43). Yang dimaksud ‘sebagian dari kitab Allah’ bukan hnya masih ada kitab suci lain yang tak diturunkan kepada Bani Israel saja, melainkan pula adanya sebagian dari kitab Taurat yang disembunyikan oleh para ulama Bani Israel (6:92), dan demikian pula nasib kitab-kitab suci para Nabi lainnya, sebab kitab Allah yang dikaruniakan kepada para Nabi itu penjagaannya di tangan para ulama (5:44) yang biasa melakukan tahrif, pengubahan kalimat (2:75; 5:13), melupakan (5:14) dan menyembunyikan sebagian dari kitab Allah (5:15), teristimewa tentang nubuat (ramalan) kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Qur’annya yang menggenapi Kitab-kitab Suci sebelumnya (5:48).

Kata kitab dalam Al-Qur’an mengandung arti:

(1) semua Kitab Suci, termasuk Al-Qur’an (3:118);

(2) Kitab-kitab Suci terdahulu (13:43);

(3) surat-surat Al-Qur’an (98:3);

(4) Al-Qur’an (2:2); dan

(5) Undang-undang Allah (8:68; 9:36).

Tetapi juga untuk menerangkan wahyu Allah kepada para Nabi, baik yang ditulis ataupun tidak (Raghib). Para Nabi itu misalnya: Ibrahim (6:84), Ishak, Yakub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, Harun (6:85), Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas (6:86), Ismail, Ilyasa’, Yunus dan Luth (6:87). Dapat ditambahkan: Idris, Zulkifli (21:85), Hud (7:65), Saleh (7:73), Adam (3:31) dan Uzair (9:30). Mereka adalah orang-orang yang telah Allah beri kitab, hukum dan nubuat atau ramalan (6:90; bdk Hos 12:11; Am 3:7). Namun demikian kita belum tentu dapat menemukan seluruh Kitab Suci para Nabi itu. Al-Qur’an sendiri hanya menyebutkan empat Kitab Suci saja, dengan penjelasan: satu kitab dalam bentuk yang asli dan murni sebagaimana diwahyukan, yaitu Al-Qur’an (2:185), sedang tiga kitab lainnya hanyalah nama saja, yaitu: Taurat yang diwahyukan kepada Musa (2:87), Zabur diwahyukan kepada Daud (4:164) dan Injil diwahyukan kepada Isa Almasih (5:46-47), yang ketiga-tiganya dapat ditemukan dalam Bibel meski telah bopeng, karena ada bagian-bagian yang disembunyikan (6:92; 5:15).

Dalam Bibel dapat kita temukan kitab-kitab para Nabi yang tak disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti: Yosua, Rut, Samuel, Kidung Agung, Amsal Sulaiman, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Jadi tidak semua kitab para Nabi itu ditulis setelah diwahyukan kepada para Nabi dalam bahasa kaumnya masing-masing (14:4). Hanya Al-Qur’an sajalah yang setiap kali diwahyukan terus disampaikan kepada umat (6:67) langsung ditulis oleh orang-orang suci (80:11-16) dan dihimpun dalam satu mushaf (75:17-19). Di samping itu, Al-Qur’an selalu dibaca dan terus dibaca (75:17-18) dengan santai atau tartil (73:4) tapi serius (73:20) sehingga banyak yang hafal dan paham isinya. Keseriusan tertanam dalam dada umat, karena adanya aturan, baik bagi pembacanya maupun bagi mereka yang mendengar pembicaraan Kitab Suci itu. Bagi pembaca hendaknya menyucikan diri (56:79) dan terlebih dahulu mohon kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk (16:98) disambung dengan menyebut nama Tuhan (96:1-2) sebagai-mana dinubuatkan oleh Musa dalam Tauratnya (Ul 18:19), Daud dalam Zaburnya (Mzm 118:26) dan Isa Almasih dalam Injilnya (Mat 23:38-39). Akhirnya membaca dengan santai, tapi serius (73:4, 20). Sedang aturan bagi para pendengarnya: Mereka hendaknya mendengarkan dan memperhatikan pembacaan itu (7:204) dan berusaha memenuhi panggilan-nya, seperti bertasbih jika dibacakan ayat-ayat tasbih, seperti dalam 61:1, 62:1, dan sebagainya dan bersujud jika dibacakan ayat-ayat sajadah (84:21) yaitu: 7:206; 13:15; 16:50; 17:109; 19:58; 22:18; 22:77; 25:60; 27:26; 32:15; 38:24; 41:38; 53:62; 84:21 dan 96:19. Aturan yang tak terdapat dalam Kitab-kitab Suci terdahulu itu berlaku pula bagi pembaca Al-Qur’an juga. Aturan ini selaras benar dengan jatidiri Al-Qur’an sebagai Kalamullah, Firman Allah (9:6) atau Alqaul, Firman (23:68; 39:18; baik dengan Firman Allah menurut keterangan Paulus dalam 1 Tes 1:4-5, 2:13-14; 1 Kor 2:11-16; Gal 1:11 yang dalam Qur’an Suci 2:78 disebut amani, lamunan atau desas-desus yang kemudian ditulis dengan tangan lalu dilakukan berasal dari Allah sebagaimana diungkapkan Ilahi dalam ayat suci 2:79 di atas).

Maulana Muhammad Ali menjelaskan arti kata kitab dengan indah di bawah tafsir surat Al-An’âm ayat 90:  “Tiap-tiap Nabi diberi tiga macam pemberian. Pertama, Kitab atau Wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada mereka, yaitu risalah yang mereka terima dari langit untuk memimpin umatnya ke jalan yang benar. ………. Nabi tanpa kitab tak ada artinya, demikian pula Rasul tanpa risalah juga tak ada artinya”.

Kitab yang tertulis dan tidak tertulis.

Kaitannya dengan Injil, kitab Injil ini tidak pernah ditulis oleh Yesus ataupun para murid-muridnya, ajaran-ajaran Yesus yang disebut Injil ini tidak pernah dibukukan melainkan hanya bersifat lisan saja. Hingga kurang lebih 100 tahun kemudian barulah ada orang-orang yang berkeinginan mengkompilasikan menjadi sebuah buku semua ajaran-ajaran Yesus yang sifatnya cerita dari mulut ke mulut dan telah turun-temurun.[1] Qur’an Sucipun menyatakan bahwa kitab-kitab terdahulu itu disusun berdasarkan cerita-cerita yang berkembang dimasyarakat (baca: Desas-desus) yang lalu dibukukan dan kemudian diaku-akukan sebagai kitab dari Allah:

Dan sebagian mereka buta huruf; mereka tak tahu Kitab, selain (dari) desas-desus dan mereka hanya mengira-ngira saja. Maka celaka sekali orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka, lalu berkata: Ini adalah dari Allah; agar mereka memperoleh harga yang rendah sebagai pengganti ini. Maka celaka sekali mereka, karena apa yang mereka tulis dengan tangan mereka, dan celaka sekali mereka, karena apa yang mereka usahakan” (2:78-79)

Sangatlah tepat gambaran Qur’an Suci tentang kitab Suci yang sudah-sudah bahwa pengetahuan mereka tentang Kitab (ajaran) tersebut adalah dari desas-desus dan perkiraan saja hal ini diakui oleh Injil Lukas

“Teofilus yang mulia, banyak orang yang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi diantara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Lukas 1:1-4)

dari penuturan Lukas tersebut dapat disimpulkan:

1. Sejak zaman permulaan kekristenan telah banyak disusun Injil: “banyak orang yang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,…

2. Injil itu disusun  berdasarkan Cerita dari mulut ke mulut yang fokusnya adalah pelajaran Al-Masih sang Firman: “yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman”.

3. Injil Lukas disusun dengan cara ambil sana ambil sini yang dianggapnya benar:” Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,….”

 

Perbandingan Injil dengan Hadits

Jadi salah sekali anggapan orang bahwa Kitab Injil itu disusun dibawah pengawasan langsung dari Yesus (Bandingkan dengan Al-Qur’an yang disusun dibawah bimbingan langsung Rasulullah). Lalu kemudian sepeninggal Yesus Injil itu diubah-ubah hingga jadilah Injil itu seperti sekarang. Dus, bila dilihat cara penyusunan Kitab Matius Cs itu tidak bisa dibandingkan dengan Qur’an Suci, dan hanya bisa dibandingkan dengan Kitab Hadits, namun dari segala segi nilai Hadits jauh lebih tinggi ketimbang tulisan Matius Cs sebab:

1. Umat Islam mengetahui langsung tabiat dan karakter para perawi hadits seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dsb yang keimanannya dan keshalehannya tidak perlu lagi diragukan, juga ketelitian dan ketajaman analisa mereka akan pemilah-milahan mana sabda/kisah Nabi yang dhaif, dan yang sahih. Sedangkan Matius Cs sangat diragukan bukan saja keimanan, keshalehan dan ketelitian mereka, siapa mereka saja hingga kini masih diperdebatkan dikalangan uamt Kristen itu sendiri

2. Umat Islam mempunyai pijakan/standarisasi untuk memilah mana Hadits palsu mana yang bukan yakni Al-Qur’an, sebab tidak mungkin Nabi Suci mengatakan yang bertentangan dengan Qur’an Suci. Hal ini tidak berlaku bagi umat Kristen, mereka tidak mempunyai pijakan untuk memilah-milah yang mana benar-benar sabda Yesus atau hanya dongeng semata.

Injil Sebagai Kitab Hadits.

Sebagaimana Hadits Nabi Suci digolong-golongkan begitupula sabda-sabda Yesus bisa digolongkan kedalam kaedah itu. Maulana Muhammad Ali dalam bukunya Islamologi menjelaskan bahwa secara garis besar Hadits dapat digolongkan menjadi dua yaitu Hadits Mutawatir (yang makna aslinya diulang berturut-turut atau lepas dari seseorang bersambung kepada orang berikutnya) dan Hadits Ahad (tersendiri). Hadits Ahad ini terbagi lagi menjadi dua yaitu (1) maqbul (diterima), dan (2) mardud (ditolak).

Jika Kaidah Hadist ini diterapkan untuk memahami Injil maka akan didapatkan dua kesimpulan yakni:

  1. Injil Mutawatir.

Yaitu suatu sunnah atau sabda atau kisah Yesus yang terdapat lebih dari satu kitab Injil.

Contohnya adalah prihal kisah Penyaliban Yesus Kristus, bahwa yang disalib adalah benar Yesus Kristus bukan orang lain. Tidak disangsikan lagi ke 4 penulis Injil sepakat bahwa yang disalib adalah benar Yesus Kristus

2. Injil Ahad

Yaitu suatu Sunnah atau sabda Yesus yang hanya terdapat dalam satu kitab Injil

Contohnya adalah peristiwa terbangnya Yesus kelangit menyusul ketempat sang Bapa di Surga [2]

Kitab Injil Matius cs dimata Nabi Suci:

Berdasarkan tata cara Lukas menulis Injil terlihat bahwa ia menulis berdasarkan cerita-cerita yang beredar saat itu lalu dikompilasikan dan dibukukan. Lebih lanjut skema penulisan ke 4 kitab Injil di ilustrasikan sbb:

(Dikutip dari “The Origin and Transmission of the New Testament” oleh L.D. Twilley B.D., 1957, hal. 51)

Dan dari tahun penulisannya terlihat jelas bahwa mereka menulis Injil puluhan tahun sepeninggal Yesus

  • Kitab Markus ditulis Tahun 64-70 Masehi
  • Kitab Matius dan Kitab Lukas ditulis antara Tahun 80-100 Masehi
  • Kitab Yohanes ditulis tahun 96 Masehi

Yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah seseorang yang tinggal di Sulawesi memperoleh informasi yang akurat tentang kejadian 70 tahun lalu yang terjadi di Jakarta, dan ia memperoleh berita hanya dari desas-desus/cerita-cerita dari mulut ke mulut?. Begitupun kitab Matius Cs yang ditulis dan disusun bukan ditanah Palestina, tempat berlangsungnya kisah Yesus.

Nabi Suci memberikan cara bagaimana memahami kitab Injil

Apabila ada ahli kitab berbicara kepadamu, maka janganlah kamu mendustakannya dan janganlah kamu membenarkannya. Tetapi katakanlah: Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kami beriman kepada apa yang diturunkan sebelum kami. Apabila yang dikatakan itu haq (benar), janganlah kamu mendustakannya. Tetapi apabila yang dikatakan itu bathil, maka jangan kamu membenarkan (H.R Abu Dawud, Tarmidzi, Muslim)

Kiranya kitab Matius Cs dapat dipahami sebagai kumpulan cerita-cerita dan ucapan-ucapan para Ahli kitab yang dicatat oleh Matius cs dan kemudian dibukukan. Karena itu Nabi Suci mengatakan bahwa ucapan para Ahli kitab yang kemudian dibukukan oleh Matius cs jangan didustakan dan jangan dibenarkan. Bila yang dikatakan/tertulis itu kebenaran jangan didustakan, bila yang dikatakan/tertulis itu bathil jangan dibenarkan. Lalu apa pijakan kita untuk memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah?,

Al-Qur’an Sebagai Tasdiq Kitab Injil

“Dan tak sekali-kali Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh siapapun selain Allah, tetapi (Al-Qur’an) itu membetulkan apa yang ada sebelumnya, dan penjelasan yang terang tentang Kitab; tak ada keragu-raguan di dalamnya dari Tuhan serwa sekalian alam.” (10:37)

Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa Bibel kitab suci agama Kristen mengandung sebagian Kitab Allah yang telah dikaruniakan kepada Bani Israel. Oleh karena itu ada hubungan erat dengan Al-Qur’an yang menurut ayat suci tersebut fungsinya sebagai tashdiq (yang membetulkan) dan tafshil (yang menjelaskan) terhadap kitab suci sebelumnya. Secara singkat hubungannya antara lain seperti uraian berikut ini.

1. Al-Qur’an mengakui eksistensinya

Menurut Al-Qur’an, Allah tidak hanya memerintahkan umat Islam mengimani Al-Qur’an saja, melainkan pula mengimani Kitab-kitab Suci sebelumnya (2:4). Hal ini menurut Cyril Glasse, penulis The Concise Encyclopaedia of Islam (1991), “adalah kejadian yang luar biasa dalam sejarah agama-agama”. Yang dimaksud Kitab-kitab Suci sebelumnya ialah Kitab suci yang telah diturunkan kepada para Nabi (2:213) dari berbagai bangsa di dunia (10:47), baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an ataupun tak disebutkan (4:164), misalnya Taurat dan Injil (3:3). Tetapi hendaklah diingat, bahwa Taurat dan Injil yang diakui oleh Al-Qur’an dan diimani oleh kaum Muslimin bukanlah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Bibel yang telah ada pada jaman Nabi Besar Muhammad saw.

Ada perbedaan konsep antara Islam dengan Kristen tentang wahyu dan Kitab suci. Misalnya tentang Injil. Di kalangan umat Kristen ada pendapat yang mengatakan bahwa yang disebut kitab Injil adalah seluruh PB, dan ada pula yang tegas mengatakan bahwa Injil itu hanyalah empat kitab yang pertama dalam PB karangan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Isinya menceritakan sebagian ajaran Yesus dan kisahnya. Jadi Injil itu karya tulis beberapa pengarang Kristen jaman permulaan yang penulisannya tak dimaksudkan untuk dijadikan kitab suci, sebagaimana Paulus menulis 13 atau 14 surat kepada jemaatnya yang masing-masing disebut Injil Kristus (Gal 1:7) atau Injil tentang Yesus Kristus (Mrk 1:1).

Menurut Islam, Injil adalah firman Allah secara matluw, yang disampaikan kepada Isa Almasih 57:27; lih Yoh 17:38) oleh Jibril dalam bahasa kaumnya (14:4), Aram, yang dalam PB disebut Injil Allah (Mrk 1:14), yakni Injil dari Allah yang diwahyukan kepada Yesus, lalu diberitakannya dari rumah ke rumah dan dari kota ke kota (Mrk 1:38-39). Injil inilah yang diimani oleh umat Islam. Kini kitab suci itu tidak ada lagi – karena setelah diwahyukan tak dicatat dan dihafal – yang ada sekarang ialah terjemahan dari terjemahan yang diterjemahkan dari salinan yang disalin dari salinan – yang menurut Mulder kadang-kadang terselip salah salin – dari Injil tentang Yesus karya tulis tokoh Kristen pada jaman permulaan itu. Karya tulis asli itu telah hilang, tidak diketahui rimbanya. Yang ada sekarang, yang mereka anggap asli, ialah salinan dari salinan yang disalin dari salinan itu, atau terjemahan dalam berbagaia bahasa dunia itu, karena menurut mereka yang penting isinya, bukan bahasanya.

Kitab PL juga ditulis oleh para ulama dan zuama (Yahudi) yang bahan-bahannya sebagian berasal dari Nabi yang bersangkutan. Ditulis hampir seribu tahun lamanya. Penulisnya beragam latar belakangnya, misalnya: Nabi-nabi, raja, ahli sejarah, ulama atau pendeta dan sebagainya. Dengan demikian dalam kitab itu bercampur baur antara kebenaran dengan kepalsuan (2:42). Maka dari itu Nabi Besar Muhammad saw. pernah memperingatkan umat Islam agar jangan membenarkan atau menyalahkan Ahlikitab (Bukhari).

2. Al-Qur’an sebagai Alfurqan

Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci di dunia yang keasliannya dilindungi oleh Allah sendiri (15:9), maka dari itu kepalsuan tak akan masuk, baik dari belakang maupun dari depannya (41:41-42). Oleh karena itu Al-Qur’an berfungsi sebagai Alfurqan atau pembeda, yakni yang membedakan antara kebenaran dengan kesalahan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Aku, Allah Yang Maha-tahu. Allah, tak ada tuhan selain Dia, Yang hidup kekal, Yang maujud sendiri, Yang sekalian makhluk maujud karena-Nya. Ia telah menurunkan Kitab kepada engkau dengan kebenaran yang membetulkan apa yang ada sebelum-nya, dan Ia menurunkan Taurat dan Injil yang dahulu adalah petunjuk bagi manusia, dan Ia menurunkan Pemisah.” (3:1-3)

Karena berfungsi sebagai Alfurqan, maka Al-Qur’an memisahkan antara kebenaran dan kesalahan atau kepalsuan yang terdapat dalam Bibel. Kebenaran dalam Bibel diakui, sedang kepalsuannya yang antara lain berupa fitnah terhadap pada Nabi yang suci (21:26-27) dan ajaran-ajarannya atau kisah-kisah yang dibengkokkan diluruskan. Surat Alkahfi membahas sejarah dan akidah atau dogma Kristen diawali ddengan introduksi, bahwa Al-Qur’an adalah Kitab yang di dalamnya tak ada bengkok (18:1). Sebagai contoh misalnya:

a)      Nabi Harun membuat berhala anak sapi dari emas (Kel 32:1-5) diluruskan oleh Al-Qur’an 20:85-97, yang menjelas-kan bahwa yang membuat berhala anak sapi ialah Samiri, bukan Harun.

b)      Daud berbuat serong dengan istri Uria (2 Sam 11:3-17), diluruskan oleh Al-Qur’an 38:24-25 yang menerangkan kesucian Daud as.

c)       Sulaiman menyembah berhala sebagaimana istri-istrinya (1 Raj 11:3-11), diluruskan oleh Al-Qur’an 2:102 yang menjelaskan bahwa Sulaiman tak berbuat kufur.

d)      Yesus Kristus dikatakan telah mati di atas salib (Mat 27:45-56; Mrk 15:33-41; Luk 23:44-49; Yoh 19:28-30) diluruskan oleh Al-Qur’an 4:157-158 yang menegaskan bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak mati di atas salib. Beliau hanyalah diserupakan saja, subbiha lahum.

e)      Syariat Ibrahim tentang khitan diselewengkan oleh Paulus (1 Kor 7:18-19; Gal 5:2) diluruskan oleh Al-Qur’an 3:95; 4:125 yang menganjurkan agar mengikuti agama Ibrahim, yakni khitan sebagai tanda kesetiaan kepada Perjanjian Ilahi.

3. Al-Qur’an sebagai Mushaddiq

Fungsi Qur’an berikutnya adalah sebagai Mushaddiq (2:41, 89, 97, 101; 3:3, 80; 4:47; 5:48) atau tashdiq (10:37; 12:111) yang artinya ialah membenarkan, yakni: membenarkan dalam arti menyungguhkan atau meneguhkan kebenarannya; membenarkan dalam arti meluruskan atau mengoreksi; dan dapat pula diartikan menggenapi atau menyempurnakan, jika diikuti kata perangkai lam. Jadi Qur’an Suci itu:

a.            Membenarkan atau menyungguhkan kebenaran kitab-kitab suci terdahulu, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Kitab para Nabi terdahulu. Ajaran kitab suci terdahulu yang diteguhkan kebenarannya itu misalnya tentang tauhid Ilahi, berbagai macam syariat dan budi pekerti luhur.

b.            Membenarkan atau mengoreksi ajaran kitab-kitab suci terdahulu. Ajaran-ajaran yang diselewengkan diluruskan oleh Al-Qur’an sebagaimana dikemukakan dalam fungsi Al-Qur’an sebagai Alfurqan di atas.

c.             Menggenapi, yakni menggenapi nubuat-nubuat yang ter-dapat dalam kitab suci terdahulu yang jumlah ayatnya mencapai ratusan (uraian lebih mendalam dalam bab khusus).

d.            Menyempurnakan, yakni menyempurnakan syariat kitab-kitab suci sebelumnya. Dalam arti ini sebenarnya identik dengan arti (c) di atas, hanya bedanya, dalam arti ini aksentuasinya pada syariat yang pada kitab suci terdahulu belum sempurna. Cara Al-Qur’an menyempurnakan:

–              Menghapus dan menggantikannya dengan syariat yang lebih baik, sebagaimana dinyatakan Ilahi: “Ayat apa saja yang Kami hapus atau Kami lupakan, pasti Kami datangkan yang lebih baik daripada itu atau yang sama dengan itu” (2:106). Sebagao contoh misalnya: (1) tindak pidana zina, hukum rajam (Im 20:10-18) dimansukh oleh Al-Qur’an 24:2-4 dan 4:24 yang menetapkan hukum cambuk; (2) kiblat Yerusalem (Dan 6:11-12) diman-sukh oleh Al-Qur’an 2:142-145 yang menetapkan Mekah sebagai kiblat baru.

–              Meniadakan sama sekali, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: “Wahai Ahlikitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami, yang menjelaskan kepada kamu banyak hal yang kamu sembunyikan tentang Kitab, dan mengabaikan banyak hal lagi” (5:15). Yang dimaksud mengabaikan adalah menghapus atau meniadakan syariat terdahulu, misalnya tentang ibadat kurban yang mengandung arti penebusan (Im 16:1-10; Ibr 9:28), riba yang diskriminatif (Im 25:35-37; Ul 23:19-20), dan sebagainya.

–              Melengkapi syariat yang telah ada, misalnya tentang tugas manusia hidup di dunia (Kej 1:26-28 dilengkapi oleh Al-Qur’an 7:31), bersuci jika akan bersembahyang di tempat suci (Kel 40:31-32) disempurnakan oleh Al-Qur’an 5:6), tentang pembagian harta warisan (Bil 18:26; 26:33, 54; 34:14-15; 36:3-4; disempurnakan oleh Al-Qur’an 4:11-12 dan 4:177), dan sebagainya.

–              Menghidupkan kembali syariat yang dilupakan (2:106) atau disembunyikan (5:15), misalnya tentang: salam, khitan, puasa Daud, sikap berdo’a, dan sebagainya.

Sehubungan dengan tugas mulia ini Allah menyatakan: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku atas kamu dan Aku rela Islam sebagai agama pilihan kamu” (5:3; bdk Mat 5:17-19; Yoh 16:12-13).

4.  Al-Qur’an Sebagai Hakim

Al-Qur’an mendakwahkan dirinya sebagai Hakim, yakni yang mengadili pertikaian antar agama di dunia dengan cara menjelaskan perkara-perkara agama yang diperselisihkan, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

Demi Allah! Kami mengutus (para Utusan) kepada umat sebelum engkau, tetapi setan membuat perbuatan mereka tampak indah bagi mereka. Maka dari itu dia adalah pelindung mereka, dan mereka memperoleh siksaan yang pedih. Dan tiada Kami menurunkan Kitab kepada engkau kecuali agar engkau memberi penjelasan kepada mereka apa yang mereka berselisih di dalamnya, dan (sebagai) pimpinan dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (16:63-64)

Semua agama terdahulu asli murninya dari Allah (samawi), akan tetapi akhirnya kehilangan keasliannya, karena perbuatan umatnya yang salah oleh setan dibuat tampak indah bagi mereka. Hal inilah yang menjadi sumber perselisihan antar umat beragama, sehingga seringkali menimbulkan pertumpahan darah atas nama agama atau Tuhan. Masing-masing umat merasa, bahwa dirinya adalah yang paling besar dan umat lain salah. Masing-masing umat beranggapan, bahwa hanya agamanya sendirilah yang berasal dari hadirat Allah. Misalnya umat Kristiani, baik Roma Katolik maupun Protestanisme, menganggap kaum Yahudi tak menganut sesuatu yang baik dan benar (2:113). Demikian pula anggapan mereka terhadap Islam. Mereka tak mengakui Nabi Suci Muhammad saw. sebagai Utusan Allah. Juga tak mengakui Islam sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah, bahkan ada di antara mereka yang menganggap ‘Islam sebagai perbuatan Iblis atau agama Antikrist’ (Dr. A. de Kuiper, 1979:83). Mereka yakin, bahwa hanya dirinya yang berhak mewaris sorga (2:111).

Anggapan semacam itu jelas tidak benar. Sorga hanyalah disediakan bagi mereka ‘yang berserah diri kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia; (2:112) tanpa memandang agama yang diakunya atau pengakuannya. Maka Islam mengajarkan bahwa di kalangan Ahlikitab atau pemeluk agama non Islam ada pula orang-orang tulus (3:112-114), baik dari kalangan orang-orang Yahudi, Sabiah, Kristen dan Majusi maupun politeistik (22:17) sekalipun, asal benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan berbuat baik pasti memperoleh keselamatan atau kehidupan Sorgawi (2:62). Namun hendaknya diingat, bahwa kehidupan sorgawi secara sempurna hanya dapat dicapai lewat Islam (3:16; 3:84), sebab Islam adalah sempurna (5:3) yang salah satu cirinya ialah sanggup menciptakan kehidupan Sorgawi sejak di dunia ini pula, maka dari itu ‘orang yang takut akan Tuhannya akan mendapat dua Sorga’ (55:46).

Di dunia ini umat manusia harus hidup rukun. Diciptakannya manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukan dimaksudkan agar saling bermusuhan, melainkan agar saling mengenal dan tolong menolong serta hormat menghormati (49:13), bukan hanya karena etnis dan rasis tetapi juga karena teologis, sebab Allah telah membangkitkan pada tiap-tiap umat itu seorang Utusan (10:47; 16:36) atau Juru-ingat (35:24), baik yang Ibrahimik maupun non Ibrahimik (14:9). Selanjutnya Islam mengajarkan, bahwa di dunia ini tak ada seorang pun yang dihukum karena agama dan kepercayaannya, “barangsiapa suka ia boleh beriman, dan barangsiapa suka boleh kafir” (18:29) la ikraha fiddin, tak ada paksaan dalam agama (2:256). Oleh karena itu Islam menganjurkan agar umat Islam melindungi tempat-tempat suci, seperti: biara, gereja, sinagoga atau kanisah, masjid (22:40) dan sebagainya. Coba bandingkan dengan ayat Injil: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya dihukum” (Mrk 16:15-16). Ayat ini telah memakan korban jutaan jiwa manusia tak berdosa dan merobohkan ribuat Masjid, sebagaimana sekarang dapat kita saksikan yang terjadi di Bosnia-Herzegovina, di tempat yang sama Masjid-masjid menjadi rata dengan tanah sedang Gereja-gereja tetap berdiri teguh dengan amannya.

5. Al-Qur’an sebagai Mubayyin

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat suci yang menjelas-kan tujuan Al-Qur’an diturunkan, bahwa Al-Qur’an yang diturunkan dalam bulan Ramadlan itu merupakan petunjuk bagi manusia dan tanda bukti yang terang tentang pimpinan dan merupakan Pemisah (2:185). Tanda bukti yang terang (bayyinat) bukan hanya berkaitan dengan hidayah Al-Qur’an saja, tetapi juga berkaitan dengan segala sesuatu yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu (10:37; 12:111; 16:64) yang sifatnya masih samar-samar. Sebagai contoh misalnya:

a.            Tentang nama Tuhan Yang Maha Esa (29:46). Dalam Bibel kita baca kata-kata: Allah – allah – tuhan – Bapa (1 Kor 8:4-6) – ilah – ilah-ilah (Kel 20:3) – dewa-dewa (Ul 18:20) – alihah (Yoh 10:34; Mzm 82:6) – Tuhan (1 Kor 8:6) dan TUHAN (Ul 6:4-5). Apakah perbedaan antara kata-kata itu? Dengan memperdalam Injil atau Bibel dari berbagai edisi dan sekte akan semakin bingung. Akan tetapi dengan menelaah Al-Qur’an dengan cermat akan mendapat penjelasan bahwa: kata Allah atau allah berasal dari bahasa Arab …. adalah nama diri Dia Sang Maha-pencipta langit dan bumi (29:61-63). Kata ilah berasal dari bahasa Arab …. bentuk tunggal, jamaknya alihah, yang jika diindonesiakan dapat menjadi tuhan, Tuhan, TUHAN atau ilah atau dewa adalah nama jenis; apa saja yang dipuja oleh manusia adalah ilah (berasal dari aliha yang artinya tahayyara atau yang mengherankan, yang dikagumi), yaitu Allah, yakni Dia Yang Esa Yang Maujud dengan sendirinya (3:2; 2:255), dapat juga ulama atau pendeta (9:31), Yesus Kristus dan ibundanya, Siti Maryam (5:116-117), hawa nafsu (25:43), dan sebagainya. Sebutan Bapa tak dikenal oleh Al-Qur’an, yang ada ialah kata Rabb (1:1) yang biasanya diartikan Tuhan adalah nama sifat sebagaimana Arrahman, artinya Yang Maha-pemurah.

b.            Tentang Dzat Tuhan. Dalam Injil ditegaskan bahwa Dsat (esence) atau Pribadi Tuhan adalah Roh (Yoh 4:24; 2 Kor 3:17). Penegasan ini justru membuat kabur tentang Dzat Tuhan, dan amat sangat membahayakan iman. Sebab membuat manusia syirik dan mengukuhkan mitologi kafir, agama pagan. Rumusan itu merendahkan derajat Tuhan Yang Maha-tinggi menjadi satu kelompok dengan Roh Kudus (Kis 2:4), Roh Yesus (Kis 16:7), Roh Kebenaran (Kis 16:13), roh-roh jahat (Luk 8:2), roh manusia (1 Kor 2:11), roh perbudakan (Rm 8:15), roh Paulus dkk (Rm 8:16), roh pemecah (Gal 5:20), roh-roh yang di dalam penjara (1 Ptr 3:19) dan sebagainya. Dalam Islam ditegaskan bahwa masalah Dzat Tuhan di luar batas kemampuan manusia, maka jangan dirumuskan dan dipikirkan. Nabi Suci bersabda: “Pikirkanlah ciptaan Tuhan, jangan kamu pikirkan Dzat Tuhan, kamu pasti binasa” (Hadits). Allah sendiri menegaskan bahwa Dzat Diri-Nya adalah laisa kamatslihi syai’un, tak ada sesuatu yang seperti Dia (42:11) dan tak ada satupun yang menyerupai Dia, walam yaku-llahu kufuwan ahad (112:4). Tentang roh atau ruh adalah urusan Tuhan sendiri, manusia tak dikaruniai pengetahuan tentang itu melainkan hanya sedikit saja (17:85). Arti dan maksudnya dapat berubah-ubah, ter-gantung susunan kalimatnya: dapat berarti wahyu (40:15), malaikat Jibril (19:17), Al-Qur’an (42:52), ruh manusia (15:29) dan semangat (97:4).

c.             Tentang akhirat. Dalam kitab-kitab suci terdahulu, masalah akhirat hanya dibicarakan secara sepintas lalu dan singkat sekali. Hampir-hampir tak teruraikan, karena miskinnya keterangan. Berbeda dengan Al-Qur’an yang membicarakan Hari Akhir secara panjang lebar, termasuk masalah Sorga dan Neraka, sehingga orang yang beriman memperoleh ilmulyakin (lih 102:1-8).

d.            Tentang nubuat kedatangan Nabi akhir zaman. Suatu nubuat tak dapat diuraikan secara tuntas jika belum ter-genapi, karena menggunakan kalam ibarat dan mengan-dung rahasia yang dalam. Maka dari itu penafsiran tentang kedatangan Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. yang terdapat dalam Perjanjian Baru tak dapat dibuktikan kebenarannya dan tak tahan uji, selain hanya cukup diimani atau dipercayai saja. Sebaliknya di dalam Al-Qur’an dan tarikh Islam penuh dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang menggenapi nubuat tersebut yang semuanya dapat diuji kebenarannya.

6. Al-Qur’an yang menambah iman atau kafir

Al-Qur’an mengecam kaum Yahudi dan Kristen sebagai-mana mereka saling mengecam (2:113), tetapi kecaman Al-Qur’an bersyarat yang sifatnya membimbing mereka. Kaum Yahudi jika benar-benar mengikuti Taurat pasti menerima Almasih, sebab kedatangan beliau telah dinubuatkan dalam Taurat (Yoh 5:46-47) dan juga menerima Al-Qur’an yang telah dinubuatkan pula oleh Musa (7:157; Ul 33:1-3; 34:10-12; 18:15-22). Demikian pula umat Kristen, jika benar-benar mengikuti Injil pasti menerima Nabi Suci Muhammad saw., sebab kedatangan beliau telah dinubuatkan dalam Injil, bahwa sepeninggal Yesus akan datang seorang Nabi yang namanya Ahmad (61:6) atau Parakletos, Penghibur (Yoh 16:7-14). Jadi kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Al-Qur’annya bisa memperkuat iman penganut Taurat dan Injil (Mat 10:40-42). Tetapi kebanyakan dari mereka justru semakin durhaka dan kafir; hal ini sebagai indikasi bahwa mereka tak sungguh-sungguh melaksanakan Taurat dan Injil sebagaimana mestinya, seperti diungkapkan Ilahi dalam firman-Nya:

“Katakanlah: “Wahai kaum Ahlikitab, kamu tak mengikuti sesuatu yang baik, sampai kamu menjalankan Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu! Dan dikau menyebabkan kebanyakan mereka bertambah durhaka dan kafir; maka janganlah engkau berdukacita terhadap kaum kafir.” (5:69, lih 5:64-66)

Yang dimaksud “apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu” adalah Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an membuat kebanyakan mereka semakin durhaka dan kafir karena fungsinya sebagai Mushaddiq terhadap Taurat dan Injil serta kitab suci para Nabi terdahulu mereka artikan membenarkan atau mengoreksi, menggenapi dan menyempurnakan mereka ingkari. Dengan menggunakan arti yang pertama (meneguhkan) saja, maka mereka melakukan tahrif (2:75; 4:46; 5:13, 41) yang artinya: (1) memberikan arti dan makna yang berbeda dari maksud yang sebenarnya, (2) memindahkan letak ayat dari tempat asalnya, dan (3) mengadakan penambahan dan atau pengurangan beberapa ayat atau beberapa perkataan dari Kitab Allah. Tahrif yang mereka lakukan (dalam arti yang pertama) ialah menjadikan ayat-ayat mutasyabihat sebagai dalil dogma mereka (3:6), sebagai contoh misalnya:

a.            Almasih dikandung dan dilahirkan karena Roh Allah (21:91) sebagaimana dikemukakan oleh Gema Nehemia no. 11, hal. 13. Roh Allah atau Ruh Kami (Ruhina) dalam ayat ini mereka artikan bahwa Almasih dilahirkan bukan karena bapa insani, melainkan karena Roh Kudus sebagaiman ditegaskan dalam Mat 1:18-25 dan Luk 2:1-7. Ini suatu kekeliruan, karena maksud ayat suci itu adalah Maryam dan Almasih adalah dikaruniai Wahyu Ilahi sebagaimana dijelaskan pula dalam ayat Al-Qur’an 66:12. Ayat suci tersebut menolak ‘immaculata conceptio’ (hamil tidak bernoda dari Santa Maria).

b.            Almasih adalah firman Allah, kalimatuhu (4:171). Kata kalimatuhu dalam ayat ini oleh Gema Nehemia dijadikan dalil bahwa Almasih adalah firman yang menjadi daging sebagaimana dinyatakan dalam Yoh 1:14. Ini juga suatu kesalahan besar, seab maksud ungkapan itu ialah bahwa kelahiran Almasih di muka ini sesuai dengan nubuat atau ramalan yang telah Allah sampaikan kepada para Nabi terdahulu dan juga orang-orang tulus lainnya, misalnya Siti Maryam. Kata kalimat itu mengandung banyak arti, misalnya firman atau ramalan (4:171), ciptaan Allah (18:110; 31:27), dan sebagainya.

c.             Jalan yang lurus atau shirathal mustaqiem (1:5-6; 45:61). Penafisran Gema Nehemia amat ganjil, karena Jalan yang lurus itu mereka maksudkan Yesus, selaras dengan Yoh 14:6 yang menegaskan bahwa Yesus adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Suci Muhammad saw. Oleh karena itulah, beliau menganjurkan umat manusia agar wattabi’uni, ikutilah aku (43:61). Aku dalam ayat ini adalah Nabi Suci Muhammad saw. bukan Yesus Kristus sebagai-mana terjemahan Gema Nehemia. Karena penafsiran yang demikian, ayat ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, mereka artikan ‘Engkau yang kami sembah dan kepada Engkau kami minta pertolongan’; kata Engkau mereka pahamkan Yesus, bukan Allah SWT.

d.            Almasih membawa terang dan supaya ditaati (43:63). Gema Nehemia memahami bahwa Almasih adalah satu-satunya yang memberi terang di dunia seperti yang dinyatakan dalam Yoh 8:12. Hal ini secara diametral bertentangan dengan maksud ayat suci itu sendiri, hanyalah salah satu saja dari hamba-hamba Allah yang mendapat nikmat Ilahi (43:57) yang berupa petunjuk Ilahi yang terang, Injil (3:3).

e.            Mukjizat Isa Almasih ‘menghidupkan orang mati’ dan lain-lain sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an 3:49 dan 5:110 oleh Gema Nehemia dijadikan dalil tentang ketuhanan Yesus sebagaimana disinggung dalam butir (d) di atas. Hal ini menyebabkan mereka semakin sesat jauh dari kebenaran, karena semua mukjizat itu hanyalah membuktikan kenabian dan kerasulan Isa Almasih saja (3:49) sebagaimana juga terdapat dalam PB (Yoh 17:3).

f.             Almasih dikaruniai Roh Kudus (2:253). Atas dasar ayat ini Gema Nehemia berasumsi bahwa hanya Almasihlah yang dikarunia Roh Kudus yang juga sering disebut sebagai Ruh saja. Hal ini juga suatu kekeliruan, sebab Ruh itu tidak hanya diturunkan kepada Almasih saja, tetapi juga kepada hamba-hamba Allah yang lain (40:15; lih 16:102).

g.            Almasih mati dan dibangkitkan (19:33). Ayat ini oleh Pendeta Hamran Ambri dijadikan dalil tentang Kebangki-tan Isa Almasih dari maut pada hari ketiga setelah penyaliban yang gagal (4:157). Ini juga suatu kesalahan besar, karena maksud ayat suci tersebut justru untuk membantah dogma kematian Yesus secara terkutuk (Gal 3:13-14). Kebangkitan Yesus itu yang dimaksud ialah nanti pada Hari Kiamat, beliau akan dibangkitkan dalam keselamatan sebagaimana Yahya (19:15) dan umat manusia lainnya yang juga dibangkitkan oleh Allah (19:66-68).

h.            Almasih terkemuka di dunia dan di akhirat (3:45). Pernyataan dalam ayat ini oleh para Pendeta Kristen, seperti Rifai Burhanuddin, Hamran Ambri dan juga dari jemaat Nehemia ditafsirkan bahwa Almasih adalah satu-satunya manusia luar biasa yang dikaruniai kekuasaan dan kemuliaan di sisi Allah. Penafsiran itu hanyalah lamunan dan suatu kekeliruan, bertentangan dengan maksud ayat itu sendiri. Ingat di situ digunakan kata jamak muqarrabin artinya orang-orang yang dekat (dengan Allah). Kata itu oleh Gema Nehemia diterjemahkan orang yang dekat kepada Allah. Ini suatu takhrif, karena bentuk jamak (plural) diartikan tunggal (mufrad).

i.              Ayat: “Sekiranya Tuhan Yang Maha-pemurah mempunyai putera, niscaya akulah yang pertama-tama dari para penyembahnya” (43:81). Ayat ini oleh Peter J. Kiswara S.J. ditafsirkan, bahwa mungkin saja Allah berputera, seandainya Allah menghendaki. Hal ini bertentangan dengan maksud ayat itu sendiri, bahwa Allah tak berputera, sebagai buktinya Nabi Suci Muhammad saw. tak pernah melakukan penyembahan selain kepada Allah SWT.

j.             Ayat: “Dia (Allah) ialah Yang Pertama dan Yang Terakhir, dan Yang Terang dan Yang Tersembunyi” (57:3) oleh Pendeta Deddy Jacobus ditafsirkan bahwa yang dimaksud ‘Yang Terang’ atau Azh-Zhahir ialah Yesus Kristus. Jadi Yesus itulah Tuhan yang nampak terang, dapat disaksikan dengan mata. Penafsiran demikian bukan hanya bertenta-ngan dengan Al-Qur’an 6:104, melainkan pula bertentangan dengan Bibel (Kel 33:20; 1 Tim 6:16).

Atas dasar keterangan di atas jelaslah bahwa hubungan Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci sebelumnya, khususnya Taurat, Zabur, Injil dan Kitab para Nabi Israel yang tergabung dalam Bibel hubungannya ibarat lautan dengan sungai-sungai dari berbagai pulau dan benua. Lautan adalah lukisan Qur’an Suci yang mengandung risalah yang sempurna, sedang sungai-sungai adalah silsilah kenabian dan risalah dari berbagai bangsa, baik Ibrahimik maupun non-Ibrahimik.

Di samping itu, ternyata Al-Qur’an mengungkap pula perilaku umat yang mensucikan kitab suci tersebut, khususnya umat Kristen. Mereka, terutama para ulama dan pendetanya oleh Allah diberi amanat agar menjaga Kitab Allah (5:44), akan tetapi mereka tak melaksanakan amanat itu dengan baik, karena mereka melakukan penyelewengan, antara lain berupa tahrif (2:75), tanbidz atau pembuangan (2:100-101), taktim atau penyembunyian (3:186), takhfiy atau penyamaran (5:15) dan sebagainya. Hal ini berlangsung terus sejak zaman dahulu sampai sekarang dan seterusnya. Akibatnya, Kitab Suci terdahulu tampil di muka bumi ini dalam bentuk buku yang isinya bercampur baur antara kebenaran dengan kepalsuan dalam berbagai versi. Seperti diterangkan oleh Dr. Sudibyo Markus, Injil versi King James yang diterbitkan di London tahun 1611 berbeda dengan Injil Katolik yang diterbitkan di Douay, Perancis pada tahun 1909. Juga tidak sama dengan Injil yang diterbitkan oleh American Standard Version, Authorized Version, Isaac Leeser Version, James Moftaft’s Version, J. B. Rotherham’s Version, Revised Standard Ver Robert Young’s Version, dan sebagainya. Di Indonesia saja Bibel terbitan Lembaga Alkitab Indonesia juga macam-macam. Terjemahan Lama berbeda dengan Terjemahan Baru. Terjemahan dalam bahasa Indonesia sehari-hari juga punya versi sendiri. Perbedaan semakin marak jika banyak lembaga yang menerbitkan, misalnya Yayasan Kalam Hidup Bandung menerbitkan ‘Firman Allah Yang Hidup’ Alkitab dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Oleh karena itulah dalam Al-Qur’an terdapat peringatan terhadap mereka sebagai berikut: “Wahai Bani Israel … janganlah membaurkan kebenaran dengan kepalsuan, dan jangan pula menyembunyikan kebenaran, padahal kamu tahu” (2:40, 42). Umat Kristen adalah Bani Israel secara ruhani.

Oleh karena itu umat Islam dengan Qur’an Sucinya seharusnya bisa menjelaskan Weda kepada umat Hindu, bisa menjelaskan Tripitaka kepada umat Budha, bisa menjelaskan  Zend-Avesta kepada umat Majusi, bisa menjelaskan Lun Yu kepada umat Kong Hu Chu bisa menjelaskan Taurat kepada umat Yahudi dan juga umat Islam dengan Qur’an Sucinya bisa menjelaskan Injil kepada umat Kristen.


[1] Hendaknya dibedakan yang mana Injil Yesus dan yang mana Injil tentang Yesus. Injil Yesus adalah kabar suka tentang datangnya kerajaan Allah, yang ini telah tergenapi dengan datangnya Nabi Suci, dan Injil tentang Yesus adalah yang terdapat dalam perjanjian baru dan perlu di garis bawahi, bila penulis mengatakan Injil bukan berarti Injil Yesus yang memang tidak pernah tertulis melainkan Injil tentang Yesus yang ditulis oleh 4 penulis Injil tentang Yesus, yakni Matius, Lukas, Markus dan Yohanes

[2] Terbangnya Yesus ke langit ini meskipun dikisahkan oleh 2 kitab yakni Lukas dan Markus, namun belakangan ini diakui oleh pihak Kristen sendiri bahwa 12 ayat terakhir di kitab Markus yang memuat peristiwa terbangnya Yesus ini adalah ayat palsu dan tidak terdapat dalam manuskrip tertua kitab Markus, jadi yang mengisahkan terbangnya Yesus hanya Lukas saja. Jadi bila ada umat Islam yang mengatakan Yesus terbang ke Langit maka ia sebenarnya lebih Kristen dari pada orang Kristen itu sendiri

2 Tanggapan

  1. kitab suci : diamalkan , dihayati/dipahami , dibaca , DI HAPAL..
    1. aq mau tanya apa anda hapal dengan kitab injil anda di luar kepala
    2. atas dasar apa babi itu halal.
    3. atas dasar apa orng tdk di sunat di perbolehkan.
    4. apa anda sudah meneliti ato membaca kitab injil anda dr tahun ke tahun tidak berubah ayat dan isinya…coba anda baca kitab thn 1990- 2012 coba samakan apa sama isi dan ayatnya…
    5. kitab asli berasal dr mn turunnya tp tdk ada peubahan di dlm kitab..boleh di terjemahkan ke bahasa manapun tpi yng paling PENTING kitab suci yng asli hrs terjaga dr tangan manusia..

  2. terima kasih atas blog ini, ini memberikan banyak pengetahuan tentang sejarah kami setuju walau umat kristen belum tentu setuju karena mereka mempunyai versi sejarah sendiri yang dianggap benar,hanya orang-orang yang mau berfikir sajalah yang dapat melihat kebenaran,,,,banyak sekalli blog yang menghina agama dengan menggunakan trik-trik yg tidak benar……..
    Untuk memberikan suatu pernyataan antar dua agama besar sebaiknya kita mempelajari dulu injill dengan baik lalu pelajari aquran dengan baik pula jangan asal jiplak suatu ayat yg sangat tidak logis,klo sudah matang baru dialog demi mendapatkan pemahaman yang baik dan benar tapi sebelumnya kami beri tantangan untuk jawab commen kami tentang ketuhanan yesus yang anda anggap sebagai tuhan mari kita mulai…..kami beri kutipan dialog kami dengan misionaris kristen untuk memberikan tanggapan…

    PENYESATAN AKIBAT TUKAR BAHASA DALAM INJIL
    kalau umat nasrani menggunakan bahasa ibunya yaitu IBRANI mungkin dan mungkin islam dan kristen bisa selaras dengan Tuhan yang Esa gak ada trinitas gak ada 14 tuhan gak ada pertentangan,kenapa diinjil banyak sekali pertentangan dan permasalahan yang sangat serius jawabanya gampang sekali karena dalam kitabnya sendiri tidak mengenal sama sekali bahasa ibunya,ibaraat anak sudah tidak kenal sama ibunya ya jadinya ya sekarepe dewe ora sekarepe ibue ngihhhh opo mboten.kami ambil salah satu contoh dan masih banyak agi contonnya dari bahasa IBRANI tentang ketuhan dalam injil ada istilah kata HOTIOS dan DOWNTIOS yang berarti TUHAN (HOTIOS) dengan huruh T (besar) dan TUHAN (DOWNTIOS) dengan huruf t (kecil),yang artinya TUHAN T (besar) adalah Tuhan yg Maha Besar dan TUHAN t (kecil) adalah anak Tuhan yg ditafsirkan sebagai pembawa pesan dari Tuhan atau Nabi,tapi yang saya gak mengerti mengapa di dalam terjemahan injil dengan menggunakan kata istilah tuhan mereka menggunakan istilah huruf T (besar) semua yang dapat disalah artikan Tuhan adalah Tuhan,inilah bukti sekelumit penyesatan bahasa yang tidak mengenal bahasa ibunya dari dulu sampai sekarang.semoga semua umat kristen seluruh indonesia dan seluruh dunia dari kutub utara sampai kutub selatan untuk memperhatikan dan janganlah meninggalkan ibu anda sendiri karena tidaklah mungkin orang yg tidak mengenal ibunya akan dibawa ibunya masuk dalam surga,Ingat sekali lagi surga berada dibawah telapak kaki ibu,bagaimana mungkin anda bisa berbakti kepada ibu anda sedangkan anda tidak mengenal ibu anda sendiri.
    Contoh dalam injil adalah ……!!!!!
    CONTOH PENYESATAN BAHASA DALAM INJIL YANG DAPAT MENJERUMUSKAN ORANG KRISTEN KEDALAM API NERAKA.
    Kami kutip:…..Kata-kata menjadi daging dan kata-kata yg berarti tuhan jadi aku akan memulai dari ayat 1 sampai dengan ayat 12 akan kumulai dengan jhon bab 1 ayat 1 aku mengutip diawal kata dari tuhan kata-kata bersama tuhan diawal dunia kata-kata bersama tuhan kata-kata tuhan, kata-kata adalah bersama tuhan diawal kata, kata-kata bersama tuhan dan kata-kata adalah tuhan, ini kutipan yang sangat bagus kalau kau membaca injil kau tidak mengerti harus masuk kedalamnya dan naskah asli orisinil itu adalah yunani kesaksian baru dimana isa damai bersamanya bicara dengan bahasa hebros tapi selama waktu itu adalah yunani, tidak dengan kata-kata milik isa sendiri dalam bahasa yunani jika kau pergi keyunani kau akan mengerti permulaan kata,kata-kata yang tadinya bersama tuhan kata-kata aalah tuhan, pertama kali tuhan muncul adalah jika kau katakan kata-kata adalah tuhan hanya sebagai elemen kata-kata adalah tuhan berarti kata-kata adalah tuhan, kapanpun kau perlu bisa menukarnya pertama kali adalah kata-kata berarti merupakan awal dari tuhan, kata-kata bersama tuhan menjadi tuhan bersama tuhan tidak masuk akal tuhan bersama tuhan ,diawal terjadinya kata awal terjadinya tuhan tuhan bersama tuhandan tuhan adalah tuhan,tidak masuk akal ,aku setuju bahwa kata itu mungkin saja adalah tuhan dan jika kau ingin merubah kata-nya dan mengganti kata-kata dengan kata tuhan diawalnya maka akan menjadi tuhan ,tuhan bersama tuhan dan tuhan adalah tuhan, tidak masuk akal, akan sulit dimengerti bila jika mengikuti kata-kata orang kristen, jika kau baca yang aslinya bahasa yunani kata yang digunakan untuk istilah itu diawal adalah kata yang kata bersama tuhan, kata bersama tuhan kata tuhan adalah sbb:
    1. yang pertama hotios,hotios berarti tuhanmu dengan huruf T besar(hotios).
    2. yang kedua kata adalah tuhan downtios jika kau bertanya pada orang yunani downtios berarti tuhan denngan huruf t kecil huruf kecil yang ada disana berarti kata sifat.
    yang pertama adalah hotios .dan yang kedua adalah downtios kaimat yang diawali kata yaitu tuhan yang maha besar dengan huruf T besar dan kata tuhan dengan huruf t kecil tapi jika kau membaca injil kalimat mana yang menggunakan huruf T besar semua. siapa yang bersalah bukan tuhan yang maha besar, penerjemahnya dia yang salah,kata yang pertama bahasa yunani adalah hotios yang kedua downtios kenapa keduanya menggunakan huruf besar pada siapa anda bicara,maaf kalau aku bicara begini,tapi kalau pergi keyunani dalam naskahnya kata pertamanya hotios kata keduanya downtios ,jadi dikatakan diawal dengan kata,kata bersama tuhan,tuhan yang maha besar dan kata adalah tuhan merupakan pembawa pesan.
    Qur,an mengatakan bahwa isa adalah kata-kata Allah SWT,merupakan pembawa pesan Allah SWT,setiap nabi mempunyai pesan dari tuhan kami tidak akan membantahnya ,jika dianalisa aku ntidak akan keberatan jika dikatan bahwa isa adalah tuhan dengan huruf t keci.
    didalam kesaksian lama dikatakan jika kau baca bahwa musa berfikir bahwa dia adalah tuhan,tuhan dari firaun yang dimaksud adalah devinisi,dia dikirim oehi tuhan sebagai pembawa pesan tapi dari naskah yang asli disana diterjemahkan secara benar sebagai tuhan dengan huruf t kecil tapi jika kau baca konteksnya kau tidak akan mengerti saudara bahwa disana disetujui kebenaranya dikatakan bahwa isa damai bersamanya adalah tuhan dengan huruf t kecil,isa damai bersamanya adalah kata-kata tuhan dan kata menjadi dagingnya, yah para nabi datang kembali sebagai daging,para nabi terdiri dari darah dan daging,isa damai bersamanya menyatakan secara jelas jika kau dilihat dalam buku lup tentang ruangan diatas bisa dilihat dibab 34 ayat 36 dia berkata assalamualaikum (damai bersamamu) bahasa hebro assalamualaikum mereka bliang dan orang-orang terkejut mereka pikir isa sudah disalib dan mereka tidak percaya dia bilang bahwa sentuh aku dan liat pegang tangan dan kaki ku dan lihat rohk tidak punya darah dan daging seperti aku jadi dia daging,aku setuju sentuh tangan dan kakiku dan periksallah rohk tidak punya darah dan daging ini membuktikan bahwa dia bukan rohk dia daging dia tidak disalib dia hidup dan dia bilang kau punya makanan mereka memberikanya kemudian dia memakanya untuk membuktikan apa bahwa dia bukanlah tuhan isa tidak disalib dia hidup hanya orang yang mirip jadi aku setuju dengan anda jika membaca konteksnya dan jika kemudian terdapat perbedaan pendapat kembali kepada teks aslinya dan teks aslinya akan menunjukkan kebenaranya
    Isa tidak membuat pernyataanitu sedikitpun ini pernyataan tomas ini tidak memenuhi kriteria tantangan yang dapat kuikuti tantanganku adalah tidak ada satupun pernyatan yang meyakinkan daam injil yang lengkap dimana isa damai bersamanya secara pribadi mengatakan sendiri bahwa dia tuhan sembahlah aku ayahku adalah satu dia yang melihatku melihat ayahku tidak seorangpun dapat bertemu ayahku kecuai aku itu semua dari isa,isa damai bersamanya semua itu pernyataan Thomas aku memberikan konteksnya tapi bukan isa damai bersamanya ini hanya sekedar penjelasan.
    carilah pegangan yg umum untukmu dan untukku jika aku bersalah aku berubah kita harus sampai pada dasar yang sama,musuh paling kuat bagi orang-orang muslim yang beriman adalah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik. tapi yang paling dekat persahabatanya adalah orang-orang Kristen kami mencintai orang-orang Kristen yang patuh pada kitabnya, jika ada perbedaan mari kita bicarakan hal itu bersama-sama.

    lanjut……………………………………………………………………………
    nb: Sudah berkali-kali dialog sama misionaris kristen selalu mendapatkan sanggahan yang sangat tidak logis dan selalu kontardiksi dari dari jawabannya dan yang paling sering dilontarkan alasan bahwa yesus itu tuhan adalah yesus di injil yohanes ber firman “sebab aku dan bapa adalah satu,Isa Al-Masih bersabda: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.itu yg paling sering dilontarkan dan aku jawab dari alkitabnya sendiri seperti ini….tidak ada suatu pernyataaan satu pun yang menyatakan dalam injil kalau yesus adalah tuhan.Yesus adalah nabi pembawa pesan(firman)Allah pada periodenya.”sebab aku dan bapa adalah satu” arti potongan ayat yang harus dipahamai secara benar harus tahu konteksnya, dari konteks ayat no 1 dalam john bab 14 ayat 1 dikatakan untuk mencari konteksnya isa damai bersamanya berkata dirumah ayahku ada bermacam macam rumah besar, banyak rumah besar disana jika kau tidak dapat melihat aku tidak katakan aku pergi kesana untuk menyiapkan tempat bagimu, kau tau kemana aku pergi tomas mengatakan bahwa kami tidak tau kemana kupergi kami tidak tau jalan kemana kau pergi dia berkata akulah jalan kebenaran dan kehidupan. tidak s eorang pun bisa melihat ayahku kecuali aku. dan aku setuju isa damai bersamannya adalah jalan kebenaran dan kehidupan tidak seorang pun yang dapat menghadap tuhanya selain isa saat periodenya setiap nabi setiap waktunya adalah jalan dan kebenaran bagi tuhan yang maha besar,tuhan yang maha besa,r saat periode musa,musa adalah jalan kebenaran dan kehidupan tidak ada yang menghadap tuhan yang maha besar kucuali musa damai bersamannya begitu juga yesus jalan kebenaran dan kehidupan seperti nabi Muhammad damai bersamanya dia juga jalan kebenaran dan kehidupan jadi setiap nabi diwaktunya merupakan jalan kebenaran. aku setuju dengan pernyataan itu maksudnya bahwa jika kau mengikutiku kau mengikuti tuhan yang maha besar dialah jalanya dalam ayat yang lain dikatan kau belum melihat tuhan kemudian isa damai bersamanya berkkata lebih baik kau melihatku yang sudah pernah melihat tuhan,lebih baik kau melihatku dan melakukan perintahku berarti melakukan perintah tuhan lebih baik kau melihatku yang udah pernah melihat tuhan. kau melihat konteksnya kesaksian pertama konteksnya bahwa ayahku mempunyai banyak rumah-rumah besar sesuai konteks berarti ia berbicara dengan tuhan, jelas disebutkan jikau membaca konteks yang ingin diketahui dalam konteks penyerahan diri jika kau mengikutiku akulah jalan kebenaran,jika kau mengikuti ajaranku kau mengikuti ajaran tuhan yang maha besar sama dengan nabi yang kau ikuti ajaranya kau mengikut i ajaran tuhan secara tidak langsung menerima tanpa keberatan terhadap pernyataan ini,

    lanjut …………………………………………………………..
    pernyataaan berikut seperti yang anda kutip”aku dan Bapakku adalah satu”ada didaam john bab 10 ayat 30 kau bisa periksa dalam john bab 1o ayat 30 aku dan ayahku satu kembali aku gunakan konteksnya sesudah konteks yang kau katakana yang kau percayai apakah isa damai bersamnya itu tuhan atau bukan jika kau baca konteksnya apante ayat 1 2 3 injil john bab 10 ayat 23 mengatakan bahwa isa memasuki kuil sulaiman, isa damai bersamanya memasuki kuil sulaiman ayat 24 mengatakan bahwa semua yahudi mengelilinginya dan berkata berapa lama kau membuat keraguan, jika tidak dikatakan secara jelas sesuai dalam versi kingsjim dari injil ayat 25 menyatakan aku mengatakanya tapi kamu tidak percaya semua yang kulakukan atas nama ayahku mereka jadi saksi atas aku semua yang kulakukan atas nama ayaku mereka jadi saksi atasku ayat25,ayat 26 sudahkukatakan kau tidak percaya karena kau bukan dombaku, ayat 27 mengatakan bahwa dombaku mereka menyembuhkanku aku tau mereka,mereka mengikutiku,ayat 28 bahwa aku berikan kehidupan abadi yang lebih baik yang tidak akan hilang tidak seorangpun dapat menancapkan pada tanganku, ayat 29 ayahku memberikan padaku lebih agung dari semuanya tidak seorangpun dapat menancapkan pada tangan ayahku,ayat 28 mengatakan tidak seorangpun dapat menancapkan pada tanganku ayat 29 mengatakan tidak seorangpun dapat menancapkan pada tangan ayahku,ayat 30 aku dan ayahku adalah satu. Jadi jika kau baca konteksnya tidak seorangpun yang dapat menancapkan pada tanganku tidak seorangpun dapat menancapkan pada tangan isa damai bersamanya,ayat 29 mengatakan tidak satupun yang dapat menancapkan pada tangan ayahku ayat 30 aku dan ayahku adalah satu.dalam konteks yang ingin diketahui dengan disengaja Isa dan Tuhan yang maha besar adalah sama,Ayahku adalah dokter medis sebenarnya aku juga dokter medis aku dan Ayahku adalah satu apa maksunya kami satu orang, tidak maksud dari aku dan Ayahku adalah karena sama-sama dokter daam profesi kami dokter medis tapi bukan berarti kami satu orang dalam profesi ini sangat jelas seseorang menyatakan tidak ini satu arti dan satu orang,

    lanjut………………………………………………………………………….
    ku bilang oke jika kau baca lebih jauh dalam john bab 17 ayat 21 dikatakan ayahku berada di dalamku dan aku didalamnya bersama kami menjadi satu sama seperti tadi kami berdua satu jika kau baca john bab 17 ayat 21 lebih jauh dikatan ayahku barada didalamku aku berada didalammu dan secara lebih luas dikatan bahwa kita semua adalah satu.jika kau mengatakan satu kau harus percaya pada 14Ttuhan ,Tuhan yang maha besar yesus kristus dan seluruh perangkatnya jika kau baca manuskrip yang asli saudara yang digunakan disini adalah sama dengan yang terdapat dalam injil john bab 10 ayat 30 yang berkata bahwa aku dan ayahku satu sama dengan yang dikatatan dalam john bab 17 ayat 21 sama ayahku dalam diriku aku dalam dirimu kita satu, ayat 23 mengatakan aku ada didalammu kita satu,satu lagi sama kata-kata yang sama daam konteksnya. berarti tuhan yang maha besar yesus kristus dan yang lainya kebenaran yang sama pesan yang sama kalau mereka satu.tapi jika kita tidak mengakuinya berarti kita merubah konsep trinitas menjadi 14 tuhan,tuhan yesus kristus dan ke 12 muridnya kau membaca konteksnya tapi kau tidak setuju dengan konteksnya bahwa mereka adalah satu.berarti kita percaya ke12murid isa adalah tuhan,kau baca lebih jauh ayat 31 jhon bab 10 ayat 31 sesudah isa berkata aku dan ayahku satu orang yahudi mengambil batu untuk melemparinya kau tau mereka tau orang yahudi ingin membunuhnya untuk menyingkirkanya liat orang Kristen menuntut devinisi orang yahudi menuntut penebusan,Kristen menuntut penebusan yahudi menuntut devinisi untuk menyingkirkanya,ayo bunuh dia mereka jadi punya alas an untuk membunuhnya dan diberikan jawaban isa damai bersamanya mengataka masih banyak pekerjaan baik yang belum ditunjukkan Ayahku yang mana membuat melempariku,ayat 32 bisa kau lihat ayat 32 pekerjaan baik yang mana yang membuat melempariku dan ayat 33 orang yahudi menjawab kami tidak melemparimu karena pekerjaan yang baik kami melemparimu karena kau orang yang diberkati kau menuntut devinisi tapi isa menghalaunya dengan ayat 34 dan 35 dalam injil jhon bab 10 dikatakan tidak disebutkan dalam kitabmu bahwa aku tuhanmu dan pada orang-orang yang didatangi dengan kalimat-kalimat tuhan jika kau katakan orang itu tuhan kitabmu tidak menulisnya dan jika kau melihat dalam sham bab 82 ayat 6 dikatan bahwa dia adalah tuhan jika kau baca konteksnya isa damai bersamanya tidak ada yang menyebutnya devinisi dia tidak mengataka bahwa dirinya adaah tuhan dia hanya pembawa pesan tuhan yang maha besar.
    Setiap nabi pada jamanya merupakan jalan dan kebenaran dan hidup.baik itu nabi daud,musa,isa dan Muhammad SAW,bila ingin mendapatkan surga ikuti nabinya karena semua nabi merupakan jalan kebenaran pada jamanya tidaklah mungkin seseorang mendapatkan surga kalau dia tidak mengikuti nabinya dan ajaranyyaaa apalagi yang diikuti ajaran-ajaran diluar nabi dan kitabnya maaka mereka adalah orang yang seset dan menyesatkan yang akan menjerumuskan dirinya dan penerusnya kedalam api neraka.
    Yang saya gak mengerti dan sangat aneh semua jawaban saya dia katakan tidak logis salah karena semua jawaban saya ia katakan demi kepentingan pribadi sebagai muslim.kami sebagai muslim selalu memberikan fakta jelas ekspilit tanpa kontradiksi karena selalu menerapkan pada kitab sucinya Alquran sebagai dasar segala dasar tuntunan hidup.
    wassalam semoga semua umat kristen mendapatkan cahaya Ilahi.Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: