KELUHURAN DERAJAT MANUSIA

Jika anda pelaku kesalahan anda tidak bisa lari dari tanggungjawab perbuatan anda dengan mengaku sebagai salah satu anggota suatu kelompok atau organisasi yang baik ataupun golongan orang-orang saleh, dan tak seorang pun, apakah ia baik ataupun suci, dapat memberi pertolongan terhadap tanggungjawab perbuatan anda dan menanggung beban anda di atas pundaknya. Makna prinsip ini ialah, masing-masing dari kita bertanggungjawab atas perkara kita sendiri.

 

Oleh: Zahid Aziz , London.
Alih bahasa: H.S.A.Syurayuda

Saya ingin membicarakan ajaran Islam mengenai kedudukan dan status umat manusia, dan juga setiap individu di muka bumi ini. Banyak sekali ideologi yang berhubungan dengan manusia yang menjadikannya hanya semata-mata menjadi roda mesin belaka, dan tujuan hidupnya hanya untuk melayani suatu sistem tertentu dari suatu masyarakat atau dari suatu tipe negara tertentu. Baik secara pribadi maupun kelompok manusia seperti itu hidupnya sederhana sekali yakni hanya mengabdi kepada ideologi tersebut dan sekaligus pada institusinya. Bahkan bagi mereka yang mengaku sebagai manusia yang bermasyarakat bebas, orang-orang seperti itu merasa seolah-olah tidak memperhitungkan diri pribadi, apa yang mereka perbuat ataupun tidak mereka perbuat, cuma sedikit konsekwensinya. Kesan yang diberikan Islam sebagaimana dijumpai pada umumnya, kebanyakan orang percaya bahwa agama ini pun hanyalah salah satu dari ideologi tersebut yang sedikit sekali menyangkut perilaku kehidupan manusia dan seringkali menurunkan derajat para pengikutnya kepada posisi yang hanya mengabdi kepada kepentingan suatu faham saja.

Posisi manusia

Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa manusia itu, baik kelompok maupun individu, sungguh memegang posisi yang sangat tinggi. Menurut Qur’an Suci, tatkala Tuhan menciptakan manusia, Dia berfirman: “Akulah yang menjadikan khalifah di bumi” (2:30). yakni, pemimpin atau yang diberi kewenangan oleh Tuhan.
Sebagai khalifah, manusia dapat memperoleh kekuasaan untuk mengelola alam fisik, dan di alam kerohanian pun manusia bisa memperoleh kebesaran yang sama, yakni bisa memperoleh sifat akhlak yang baik dan mulia dari sifat-sifat Ilahi. Jadi potensi yang diberikan kepada manusia dan pencapaiannya, betapa tinggi untuk digambarkan. Ini dinyatakan di dalam Qur’an bahwa Tuhan telah meniupkan ruh-Nya kepada setiap manusia pada waktu ia diciptakan (32:9). Kemampuan yang diberikan kepada setiap orang itu tujuannya adalah agar ia bisa mencapai kedekatan pada Ilahi.
Lagi, Qur’an berulangkali mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini untuk melayani manusia, yakni demi kesejahteraan dan kemajuannya, baik itu yang ada di daratan, di lautan, di angkasa dan di mana pun. Salah satu contohnya Qur’an berfirman:

“Apakah kamu tak tahu bahwa Allah telah membuat apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk melayani kamu, dan Ia menganugrahkan nikmat-Nya dengan sempurna kepada kamu, baik nikmat lahir maupun nikmat batin” (31:20).

Dengan begitu Tuhan memuliakan manusia dengan diberikannya kekuasaan untuk menguasai alam fisik, yakni yang lahiriyah, dan juga dirinya sendiri, yakni alam rohani. Manusia, khususnya di abad terakhir ini, demikian kira-kira, telah mengembangkan kekuasaan mereka begitu hebat terhadap dunia fisik dengan arti memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan, tapi mereka gagal dalam mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Betapa tinggi manusia itu kelihatannya bila anda melihat keindahan pencapaian dalam menaklukkan alam, dan betapa bodoh dan naifnya bila anda melihat kegagalannya dalam menaklukkan hawa nafsunya sendiri! Tapi Tuhan mengatakan bahwa Tuhan mengkaruniai manusia dengan karunia-Nya berupa batiniah, yakni petunjuk rohani untuk menaklukkan hawa nafsunya.

Manusia diberikan kekuasaan nalar

Di satu sisi manusia dianugrahi kemuliaan, yakni dengan diberikannya akal pikiran berupa nalar dan pengertian. Qur’an berulang kali menunjukkan hal ini:

“Dia membuat untuk kamu telinga dan mata dan hati, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (32:9).

“Syukur” di sini maknanya menggunakan nalar dan akal kamu untuk memperoleh ilmu dan menggunakan hati nurani untuk membuat kesimpulannya. Qur’an menganjurkan bahwa manusia harus menggunakan akal pikirannya dan hatinya untuk mengerti segala sesuatu, termasuk perkara agama. Kepercayaan yang membabi buta dilaknat menurut Qur’an. Mereka yang tidak menggunakan kecakapan akal pikiran diumpamakan seperti binatang ternak karena dungunya, dan bahkan jauh lebih hina lagi:

“Mereka mempunyai hati yang tak mereka gunakan untuk mengerti, dan mereka mempunyai mata yang tak mereka gunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga yang tak mereka gunakan untuk mendengar. Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi” (7:179).

Keimanan itu sesuatu yang harus masuk ke dalam hati kamu yang menjadi dasar penelaahan dan penelitian ilmu. Qur’an menyebutkan orang-orang beriman sebagai orang yang :

“(Yaitu) orang yang mengingat-ingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan (sambil berbaring) diatas lambung mereka, dan mereka merenungkan tentang terciptanya langit dan bumi: Tuhan kami, Engkau tak menciptakan itu sia-sia” (3:190).

Dengan merenungkan terciptanya alam semesta artinya seseorang akan menemukan bahwa dengan diciptakannya semua itu, pasti ada maksud dan tujuannya. Qur’an berulang kali menunjuk ayat-ayat kauniah (yang tertera di alam semesta) yang dari sana manusia dapat menyimpulkan adanya perwujudan Ilahi dan juga kebutuhan wahyu dari-Nya, dan membenarkan wahyu-Nya yang ada di dalam Qur’an. Dikatakan bahwa ayat-ayat kauniah itu dapat dibaca hanya oleh orang yang suka merenungkan, yakni yang memiliki ilmu pengetahuan, yang mendengar, melihat dan menggunakan nalar mereka. Menghitung ayat-ayat kauniah di dalam Qur’an itu banyak sekali seperti contoh yang tertera di Surat 30:21-24 yang tertera di akhir ayat-ayatnya:

“Sesungguhnya dalam hal itu pertanda bagi orang yang suka merenungkan” (21).
“Sesungguhnya dalam hal itu pertanda bagi orang yang berilmu” (22)
“Sesungguhnya dalam hal itu pertanda bagi orang yang mau mendengar” (23)
“Sesungguhnya dalam hal itu pertanda bagi orang yang mengerti” (24).

Al-Qur’an menanyakan kepada manusia lagi dan lagi: “Tidakkah kamu menggunakan akal dan pikiran?” Ungkapan ini terdapat belasan kali didalam Al-Qur’an di mana di sana Qur’an sekaligus memberikan argumentasinya. Di satu tempat dikutip, orang-orang yang menderita akibat siksaan karena dosa-dosanya dengan dikatakan apakah mereka mendengar atau apakah mereka menggunakan nalarnya, mereka medapati diri mereka dalam keadaan sulit. Begitu pula, Qur’an lagi dan lagi menanyakan kepada para pembacanya untuk merenung dan berpikir terhadap segala sesuatu yang beraneka ragam dengan berbagai cara. Jadi Islam tidak menginginkan seseorang itu taklid buta terhadap kekuasaan yang diberikannya tanpa dipikir dan dimengerti. Saya yakin banyak sekali orang salah mengartikan iman, yang ini tidak dikehendaki oleh Islam bagi para pengikutnya. Sebaliknya, seseorang itu tidak hanya diberi dorongan tapi juga harus menggunakan kecakapan akal pikiran serta perenungannya atas pemberian Ilahi itu.

Kebebasan beriman
Menurut Islam, kemuliaan manusia itu lebih jauh dari itu, yakni dia harus berusaha untuk menerima keimanan. Qur’an berfirman:

“Kebenaran itu dari Tuhan kamu; barangsiapa suka ia boleh beriman, dan barangsiapa ia suka ia boleh tak beriman” (18:29).

Keimanan itu adalah sesuatu yang harus meyakinkan hati manusia dan harus masuk ke dalamnya. Ketika beberapa orang Arab baru saja memeluk Islam, dan menggunakan kata-kata: “Kami beriman”, Qur’an memberitahukan mereka janganlah berkata: “Kami beriman”, tapi lebih baik: “Kami menjadi Muslim” atau “Kami berserah diri”, sebab, demikian kata Qur’an, “iman belum masuk ke dalam hati kamu”. Karenanya Islam tidak menilai sudah cukup hanya mengikuti perintah agama lahiriahnya saja, yakni dalam bentuk seperti mesin saja, tapi hati kamu harus yakin terhadap kebenaran iman itu.
Pesan-pesan Qur’an yang disebutkan di atas juga menegakkan ajaran Islam penting lainnya. Seseorang yang baru saja memeluk Islam, atau seseorang yang masih hanya memiliki ilmu dasar keislaman, atau seseorang yang tidak mengerti maupun tidak mau mengerti keimanan yang dalam, tapi baru menyatakan menerima kebenaran Islam, ia baru diberi gelar Muslim saja di antara umat. Ia hanya baru diberi gelar untuk menyebut dirinya Muslim, yaitu baru menjadi anggota persaudaraan Muslim, sebagaimana kebanyakan para kyai Muslim baru mempraktekkan syari’at Islam lahiariah saja sebagai suatu ritual belaka.

Tanggungjawab pribadi
Cara lain Islam dalam meningkatkan derajat pribadi, ialah membuatnya laki-laki maupun perempuan agar bertanggungjawab terhadap iman dan perbuatan dirinya sendiri. Qur’an berfirman:

“Tak ada orang yang memikul beban, akan memikul beban orang lain” (6:164; 17:15).

Masing-masing orang memikul beban tanggungjawabnya sendiri dan diperlakukan oleh Tuhan sebagai orang yang memiliki tanggungjawab:

“Dan tiap-tiap perbuatan manusia Kami lekatkan pada lehernya, dan Kami keluarkan kepadanya pada hari Kiamat berupa buku yang akan dijumpai terbuka lebar. Bacalah buku engkau. Pada hari ini jiwa engkau sendiri sudah cukup sebagai juru hitung terhadap engkau. Barangsiapa berjalan benar, maka ia berjalan benar untuk keuntungan dirinya sendiri, dan barangsiapa berjalan sesat, maka ia berjalan sesat untuk kerugian dirinya sendiri”. (17:13-15).

Setiap pribadi tidak diperlakukan seperti satu anggota suatu kelompok atau organisasi yang tak memiliki identitas diri. Bahkan sekalipun anda salah seorang anggota suatu organisasi atau suatu bangsa sekalipun yang anggotanya melakukan kesalahan, anda tidak bertanggungjawab terhadap kesalahan perbuatan mereka biarpun secara individu anda tidak melakukan kesalahan seperti mereka ataupun mendukung perintah mereka. Begitu pula, jika anda pelaku kesalahan anda tidak bisa lari dari tanggungjawab perbuatan anda dengan mengaku sebagai salah satu anggota suatu kelompok atau organisasi yang baik ataupun golongan orang-orang saleh, dan tak seorang pun, apakah ia baik ataupun suci, dapat memberi pertolongan terhadap tanggungjawab perbuatan anda dan menanggung beban anda di atas pundaknya. Makna prinsip ini ialah, masing-masing dari kita bertanggungjawab atas perkara kita sendiri.

Taqlid buta

Taklid buta terhadap para ulama juga dilaknat oleh Qur’an. Dikatakan bahwa jika pelaku durhaka suka mempertahankan dalih bahwa ia hanya mengikuti dan karena taat kepada orang lain, dalih itu tidak bisa diterima. Meskipun para tokoh itu bertanggungjawab atas ketidak benaran para pengikutnya, dalam hal ini masing-masing orang diharapkan untuk menggunakan akal dan pikirannya sendiri untuk memperluas wawasan kemampuannya. Begitu pula taqlid buta terhadap kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyang dilaknat oleh Qur’an:

“Tatkala dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang diwahyukan Allah, mereka berkata: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari ayah-ayah kami. Apa? Meskipun ayah-ayah mereka tak mengerti sedikit pun” (2:170).

Ini mengajarkan bahwa anda harus menggunakan akal dan pikiran untuk menguji apakah ajaran nenek moyang anda itu benar atau tidak. Lagi, ajaran Qur’an ini memuliakan kedudukan seseorang sebab ia memberitahukan bahwa jangan membuta tuli begitu saja mengikuti ajaran para tokoh nenek moyangnya yang sesat.

Mengikuti kelompok atau golongan

Qur’an mengajarkan prinsip lain bahwa seseorang tidak boleh bergabung dalam perbuatan salah dengan masyarakat atau orang sebangsanya atau kepercayaan saudaranya. Difirmankan:

“Dan tolong menolonglah dalam kebajikan dan kebaikan dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (5:2).

Tidak pantas bagi manusia bila hanya mengikuti orang banyak, sekalipun terhadap orang banyak bangsanya sendiri, tanpa dipikirkan baik buruknya suatu perkara. Lebih baik seseorang itu berpenderian dan berprinsip terhadap kebenaran, sekalipun bertentangan dengan bangsanya sendiri.

Prinsip Musyawarah

Didalam membuat keputusan dalam suatu bangsa atau masyarakat, Qur’an Suci mengajarkan suatu prinsip musyawarah. Dikatakan bahwa perkara kaum Muslimin harus diputuskan dengan musyawarah di kalangan mereka sendiri (42:38). Bahkan Nabi Suci Muhammad saw. sangat menganjurkan untuk bermusyawarah pada umatnya (3:159). Dan beliau telah menerima wahyu ini ketika keputusan tentang perang telah dilakukan dengan dasar pendapat mayoritas yang pada kenyataannya terbukti salah. Nabi Suci dan beberapa sahabatnya telah menerima suatu keputusan perkara namun mayoritas menghendaki cara lain. Pandangan umum itu telah diikutinya tapi nyaris menjadi malapetaka. Namun begitu Allah mewahyukan kepada Nabi Suci untuk memaafkan para pengikutnya, dan masih tetap berkonsultasi dengan mereka sebagaimana sebelumnya. Wahyu itu mengatakan:

“Maka maafkanlah mereka dan berilah mereka perlindungan, dan bermusyawarahlah degan mereka”. (3:158).

Proses musyawarah itu memuliakan seseorang sebab setiap orang memiliki pandangannya sendiri yang bisa untuk diperhitungkan, sementara kekuasaan pemerintah yang otoriter bisa menjatuhkan seseorang sebab pendapat seseorang itu mempunyai keutamaan. Kaum Muslimin, sayang sekali, suka mengabaikan prinsip ini baik dalam pemerintahan maupun dalam masalah kerohanian ataupun dalam perjuangan agamanya. Di abad ini, Imamuzaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menghidupkan kembali prinsip pemerintahan ini dengan musyawarah. Sebelum wafat, beliau membangun jamaah untuk mengatur segala perkara perjuangan, dan telah menulis fatwa bahwa keputusan jamaah ini harus disampaikan oleh pendapat mayoritas, harus terikat dan menjadi putusan final bagi gerakan. Di berbagai organisasi kerohanian di dalam Islam sebelumnya, kadang-kadang setelah kematian Pendiri sejatinya, segala kekuasaan lebih suka diserahkan kepada satu orang saja, dan dia harus ditaati dan diikuti secara membabi-buta. Hal ini menuntun kepada kehancuran karena kesewenang-wenangan kekuasaan para pemimpin agama seperti itu, dan menuntun perjuangan itu menjadi rusak binasa. Kejahatan dan berlebihannya para pemimpin agama seperti itu menguasai penuh para pengikutnya. Kejahatan yang menuruti hawa nafsu buruknya dengan menggunakan dalih agama demi membenarkan perilaku salahnya, ini sukar untuk dilukiskan dan boleh dikatakan mengerikan sekali. Semua itu terjadi karena suka mengabaikan prinsip musyawarah dan masyarakatnya bodoh cuma membabi buta mengikuti para pemimpin tanpa menggunakan nalar sebagai keluhuran derajatnya seseorang.

Nilai Terendah Seseorang

Sekarang saya akan menyebutkan dua kejadian yang tercatat di dalam Qur’an yang menunjukkan nilai yang dicapai oleh kebanyakan orang biasa. Di hari-hari awalnya masa dakwahnya, Nabi Suci saw. suatu kali mendakwahkan perihal Islam kepada beberapa pemimpin suku ketika seorang buta datang kepada beliau dan menginterupsi dengan suatu pertanyaan. Nabi Suci berkerut dan berpaling darinya, karena beliau sedang menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang terkemuka. Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Suci, yang isinya terdapat di Qur’an Suci, (lihat di Surat 80; Abasa), yang mengungkapkan celaan dan memberitahukan beliau bahwa bisa jadi seorang buta itu bisa lebih memanfaatkan ajaran beliau. Wahyu itu memberitahukan kepada beliau bahwa para pemuka yang sedang didakwahi oleh beliau tak sedikit pun menaruh perhatian dan berpikir untuk ikut dalam barisan Islam, mereka tak butuh, tetapi si orang buta itu berusaha datang kepada beliau dan didengar Tuhan. Si tunanetra itu, menurut Wahyu Ilahi tadi, lebih menyimak apa yang disabdakan oleh Nabi Suci ketimbang kerumunan para pemuka suku Quraisy. Ini menunjukkan betapa seseorang itu, sekalipun nampaknya sangat sederhana, tapi dia jauh lebih bernilai.
Kejadian lain lagi ada seorang perempuan yang mengadu kepada Nabi Suci bahwa suaminya, mengikuti kebiasaan bangsa Arab yang dikenal sebagai zihar dengan memutuskan hubungan suami isteri dengannya, namun si perempuan itu tak bebas sepenuhnya untuk meninggalkannya. le Menurut adat-istiadat itu, seorang laki-laki harus menempatkan isterinya dalam keadaan kehilangan haknya sebagai seorang isteri, tapi juga tak diceraikan sepenuhnya. Si perempuan itu memohon kepada Nabi Suci untuk berbuat sesuatu, namun beliau tak mau ikut campur tanpa ada petunjuk wahyu Ilahi. Kemudian Allah mewahyukan kepada beliau, bahwa Dia mendengar permohonan si perempuan itu, dan Dia melaknat para suami yang membiarkan perempuan seperti di dalam adat-istiadat kuno itu dan menjelaskan hukuman terhadap masyarakat atau kaum laki-laki yang suka menterlantarkan serta menganiaya isterinya dengan cara begitu (58:1-4). Pengaduan perempuan sederhana itu didengar Ilahi sendiri dan Dia menurunkan wahyu kepada Nabi Suci untuk membebaskan perempuan malang itu.
Ajaran Islam yang saya garis bawahi di sini membuat Islam sangat cocok sekali sebagai ideologi penting untuk masa-masa mendatang. Ajaran ini lebih lanjut ditekankan dan diangkat kembali oleh Gerakan Ahmadiyah khususnya, dan ini menjadi pekerjaan rumah Gerakan yang sangat penting sekali artinya bagi abad yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: