Falsafah Islamiyah (1) – Tiga Kondisi Manusia

Oleh:  Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

“Bagi orang yang takut di hadapan Tuhannya akan mendapat dua sorga” – 55 : 46

“Mereka diberi minum oleh Tuhan mereka dengan minuman suci” (76:21).

“Sesungguhnya orang-orang tulus akan minum dari gelas yang dicampur dengan kapur barus[1]. Sumber yang dari (sumber) itu hamba Allah minum, mereka mengalirkan itu dengan melimpah ruah”  (76:5-6).

“Dan di sana mereka diberi minum dalam gelas yang dicampur jahe[2], (dari suatu sumber) yang dinamakan salsabil”  (76 : 17-18)

“Sungguh telah Kami siapkan bagi kaum kafir rantai, belenggu dan Api yang menghanguskan” (76 : 4)

Ayat ini bermakna bahwa barangsiapa yang tidak mencari Tuhan dengan hati yang bersih, maka mereka akan membayar kembali dengan uang receh mereka sendiri. Rintangan mereka di dalam perkara keduniawiannya yang tidak mengizinkan mereka untuk bergerak satu langkah pun karena kaki mereka terbelenggu, dan tunduk begitu rendah terhadap barang-barang duniawi yang menggantung di lehernya sehingga tidak bisa menengadahkan kepalanya ke  langit; maka hati mereka terbakar oleh keinginan nafsu rendah dan sangat rakus memperoleh harta dengan merugikan orang lain. Dari sinilah Allah Ta’ala mengatakan mereka yang menggali keinginan rendahnya saja dan tak sanggup untuk mengejar kemuliaan yang lebih tinggi, akhirnya membuat tiga penderitaan tersebut menjadi sahabat kental mereka yang tak bisa lepas, yaitu: rantai, belenggu dan api.

Terdapat pula di sini bukti bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang selalu  diikuti oleh  perbuatan yang berkaitan dengan perbuatan Tuhan. Jika seseorang, contohnya, menutup pintu kamarnya, gelap yang mengikutinya adalah perbuatan Tuhan. Sebenarnya, apa pun yang kami istilahkan konsekwensi alamiah dari perbuatan kita sebenarnya perbuatan Tuhan juga, karena Dia penyebab dari segala sebab. Minum racun yang dilakukan orang, ini diikuti oleh hukuman Ilahi, yakni kematian. Seperti halnya di alam benda, begitu pula di alam rohani, aturan baik apa pun setelah itu dilakukan pasti diikuti oleh akibat yang bermanfaat. Ayat-ayat berikut ini dikutip untuk menunjukkan bagaimana hukum itu menjelaskan berbagai contoh yang berbeda:

Tetapi tatkala mereka menyimpang, Allah membuat hati mereka menyimpang” – 61: 5

“Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, Kami pasti akan memimpin mereka di jalan Kami…”  – 29 : 69

“Dan barangsiapa buta di (dunia) ini, ia akan buta di Akhirat,dan semakin menyimpang dari jalan” – 17 : 72

Ini jelas sekali menunjukkan bahwa di dalam kehidupan dunia ini orang-orang saleh dan tulus akan melihat Yang Maha Penyayang, dan di dalam kehidupan ini pula Dia muncul kepada mereka dalam keagungan dan kebesaran Nya. Singkatnya, di dunia ini kehidupan sorgawi dimulai, dan di sini pulalah pangkal kehidupan neraka yang  berupa kehidupan kotor dan kebutaan rohani, dan bukan di kehidupan yang akan datang semata. Ayat lain menjelaskan lebih lanjut:

“Dan berilah kabar gembira bagi orang-orng beriman dan mereka yang berbuat baik, bahwa mereka akan memperoleh Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai…” – 2 : 25

Di dalam ayat ini, Tuhan membandingkan keimanan seseorang dengan taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Ayat ini membuka rahasia adanya hubungan antara iman dan perbuatan baik. Sebagaimana pohon akan layu jika tidak disiram air, begitu pula iman jika tanpa perbuatan baik ia akan mati. Iman tanpa perbuatan baik tak ada gunanya, dan perbuatan baik yang tidak diikuti iman, semata-mata pamer saja. Sorga menurut Islam, adanya iman dan perbuatan baik yang benar di dunia ini. Setiap sorganya manusia adalah gambaran dari apa yang telah diperbuat di sini. Ia bukan datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam manusia itu sendiri. Ini adalah keimanan dan perbuatan baiknya sendiri yang membentuk sorga baginya dalam hidup ini, dan benar-benar dirasakan dalam kehidupan di dunia ini. Pohon iman dan mengalirnya perbuatan baik, sejak di sini bisa dibedakan walaupun tidak tampak; dan nanti di kehidupan akhirat kelak semua tabir yang menutupi mata mereka akan dibuka, dan perwujudan semua itu akan dirasakan secara nyata. Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa keimanan yang benar kepada Allah, kesucian yang kuat dan sempurna, sifat-sifat Allah dan kehendak Nya adalah taman yang indah menyenangkan. Perbuatan baik itu diibaratkan sebagai sungai yang mengalir di taman itu, dan menghidupi pohon amal kita yang berbuah lebat.Gambaran yang sama pun diungkapkan di tempat lain seperti pada ayat-ayat berikut ini:

“Perumpamaan kata-kata yang baik bagaikan pohon yang baik, yang akarnya kuat dan cabang-cabangnya di angkasa.Yang menghasilkan buahnya pada setiap musim” (14:24-25).

Firman Allah membandingkan perkataan baik dengan pohon yang baik dan akan menghasilkan buah yang baik pula. Tuhan telah mengundang perhatian kita terhadap hakikat pohon, yakni pertama pada akarnya, yang menunjukkan manfaat yang sesungguhnya, menghujam dengan kuatnya di bumi dan ini menunjukkan perwujudan hati manusia. Kokoh kuatnya akar itu menunjukkan sepenuhnya tentang kebenaran iman dengan sifatnya yang telah tertanam kokoh dalam kesadaran manusia. Kedua, pada cabang-cabangnya yang menjulang di angkasa, yang berarti akal haruslah memberi kesaksian terhadap kebenaran dan hukum di alam semesta. Hukum-hukum ini merupakan karya Ilahi yang pasti selaras dan sesuai dengan iman.  Dapat pula dikatakan bahwa bukti-bukti kebenaran iman harus dapat diperoleh dari hukum alam dan harus pula menjulang tinggi, seakan menggapai langit sehingga mengalahkan semua sangkalan. Ketiga, pada buahnya yang tanpa henti-hentinya berbuah lebat, yakni pengaruh dan karunianya tak pernah terputus dan bisa dirasakan di setiap zaman dan negeri. Tidaklah benar bahwa pengaruh dan rahmat dari pohon itu sementara waktu saja dan kemudian hilang lenyap. Ayat lainnya menyatakan:

“Dan perumpamaan perkataan yang buruk  adalah seperti pohon yang buruk yang akarnya tercabut dari bumi,  ia tidak mempunyai keseimbangan”[3] (14:26).

Perlu dicatat, sebagaimana Qur’an telah membandingkan kata-kata iman yang tertanam menghasilkan buah yang lezat sebagai perwujudan apa yang dinikmati seseorang di dunia ini, maka Allah menjelaskan pula pohon kejahatan dan kekufuran sebagai pohon zaqqum. Dikatakan:

“Inikah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum[4]. Sesungguhnya Kami membuat itu sebagai ujian bagi kaum lalim. Itu adalah pohon yang tumbuh di dasar Neraka. Buahnya seakan-akan kepala ular” – 37 : 62-65

“Rasakanlah (buah dari pohon ini) – sesungguhnya engkau benar-benar maha-perkasa, maha mulia” – 44 : 49

“Sesungguhnya pohon zaqqum adalah makanan orang berdosa, bagaikan cairan tembaga yang mendidih dalam perut, seperti air mendidih” – 44 : 43-46

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa jika saja orang-orang yang berdosa tidak angkuh, sombong, atau memalingkan diri dari ‘kebenaran’ demi kesombongan, kekuasaan, dan kemuliaan, maka ia tidak akan merasakan buah  penderitaan tersebut.

Singkatnya, Tuhan membandingkan kata iman di dunia ini dengan pohon sorgawi, dan pohon kekufuran dengan zaqqum, yakni pohon neraka, dan itu menunjukkan bahwa kehidupan sorgawi ataupun kehidupan neraka berlaku di dunia ini. Mengenai neraka Kitab Suci itu menyatakan:

“Neraka  yang dinyalakan oleh Allah, yang menjilat-jilat di hati” – 104 : 6-7

“Maka takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (2:24).

“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Neraka, kamu akan tiba di sana”  – 21 : 98

Dari pernyataan di atas, maka jelaslah bahwa ‘Surga dan Neraka’ bukanlah wujud alam benda duniawi yang ada di dunia saat ini, tetapi pengalaman rohani yang sesungguhnya dirasakan setiap orang sekarang juga dan menjadi nyata kelak di akhirat.

Tingkat kesempurnaan

Kembali ke masalah pokok, Qur’an telah mengajarkan kepada kita dua pengertian tentang kesempurnaan rohani yang dapat menyatu dengan Tuhan, pertama dengan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya, yakni yang dinamakan Islam. Kedua dengan melaksanakan shalat dan berdoa terus menerus sebagaimana diajarkan di dalam surat pembukaan Kitab Suci ini, yang dikenal Al-Fatihah. Ini adalah dua saluran yang menuntun ke sumber keselamatan dan hanya inilah petunjuk yang aman yang dapat membawa kita kepada Tuhan.

Hanya makna inilah titik akhir kerinduan dari perkembangan ketinggian rohani dan puncak penyatuan dengan Allah Ta’ala dapat tercapai. Semua orang bisa mencapai Yang Maha Pemurah, jika mereka yakin akan kebenaran Islam dan dengan sungguh-sungguh memasukinya, serta orang tersebut terus berdo’a sebagaimana diajarkan di dalam Fatihah.

Apakah Islam itu? Ia adalah kobaran api yang membakar segala keinginan rendah kita, dan api yang membinasakan tuhan-tuhan palsu. Islam membawa manusia untuk dapat mengorbankan kehidupan, kemuliaan, dan harta miliknya yang dicintai ke hadapan Allah.  Memasuki tingkatan ini, kita meminum air kehidupan baru. Kekuatan rohani yang ada dalam diri kita menyatu kuat bagaikan lingkaran rantai. Api, yang menyerupai cahaya, memancar keluar dari kita dan api itu turun dari atas. Dua kobaran api itu menyatu satu sama lain, memadamkan segala bentuk nafsu dan keinginan rendah serta segala kecintaan lainnya selain cinta kepada Tuhan. Semacam kematian yang datang mengatasi kehidupan kita masa lalu, dan keadaan ini ditandai dengan kata Islam.

Islam membawa kepada kematian nafsu daging, dan memberi kehidupan baru kepada kita. Inilah reinkarnasi yang sesungguhnya. Firman Suci Ilahi pasti turun kepada seseorang yang mencapai tingkatan ini, yang diistilahkan “sibgoh” (pencelupan). Hubungannya dengan Allah Ta’ala sudah begitu kuat, sehingga dia bisa melihat-Nya. Dia dianugerahi kekuatan dari langit; kemampuan rohaninya bercahaya dan magnetisme kehidupan surgawi nan suci bekerja dengan kuatnya. Dalam mencapai tingkatan ini, Tuhan menjadi matanya dengan apa yang dia lihat, menjadi lidahnya dengan apa yang dia bicarakan, menjadi telinganya dengan apa yang dia dengar,  menjadi tangannya dengan apa yang dia pertahankan dirinya, dan menjadi kakinya dengan apa dia berjalan. Petunjuk terhadap tingkatan ini Qur’an Suci berfirman:

“(Mereka yang bersumpah setia – bai’at – kepada Muhammad, mereka sesungguhnya berbai’at kepada Allah). Tangan Allah di atas tangan mereka”. (48:10).

“Dan bukanlah engkau yang memukul tatkala engkau memukul (musuh) tetapi Allah-lah yang memukul”  (8:17).

Inilah tingkat kesempurnaan manusia dan bersatunya dengan Allah Yang Maha Pemurah. Kehendak Ilahi telah menguasai semua keinginan dan akhlak yang pada mulanya menyerah kepada nafsu hewani, dan sekarang telah menjadi kuat sehingga mampu menahan segala serangan  Dengan perubahan suci ini, akal pikiran dan jiwanya menjadi jernih kembali. Qur’an menunjuk terhadap keadaan ini:

“Itulah orang yang Dia telah mengukir iman di dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan Ruh dari Dia” – 58 : 22

Kecintaan seseorang yang mencapai tingkat ini kepada Tuhannya seperti tiada batas. Mati karena Allah dan menderita penganiayaan ataupun kemalangan karena mencari ridla-Nya mungkin aneh bagi orang awam, tetapi tidak bagi mereka. Ia terus mendekat kepada Allah, karena merasa ada yang menariknya, tetapi ia tidak mengetahui apa yang menariknya.. Tangan gaib membimbingnya dalam segala keadaan, dan memenuhi kehendak Ilahi telah menjadi tujuan hidupnya. Dia mendapatkan dirinya sangat dekat dengan Khalik-nya, sebagaimana dikatakan Qur’an:

“dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”  – 50 : 16

Seperti halnya orang yang memetik buah yang sudah masak dari suatu pohon tidak perlu bersusah payah, maka  demikian halnya hubungan yang sangat dekat dengan Allah Ta’ala telah kokoh, dan terpisah jauh dari makhluk-makhluk lain. Dia berbicara dengan Tuhan dan Tuhan pun berbicara kepada-Nya. Untuk mencapai tingkatan ini, sekarang pun pintu terbuka lebar-lebar sebagaimana di zaman dahulu. Karunia Ilahi sekarang ini tidak mengunci rahmat ini dari orang yang sungguh-sungguh mencarinya bahkan mengizinkan kepada mereka untuk meraih anugerah ini  sekarang juga sebagaimana telah dianugerahkan-Nya  kepada orang beriman di masa lalu:

“Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang diri-Ku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a tatkala ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka menemukan jalan yang benar” – 2 : 186

Seseorang tak mungkin berjalan di jalan yang sukar dan mendaki ini, sepanjang dia tidak melangkahkan kakinya dengan setulus-tulusnya di atas api yang berkobar di mana  orang lain justru menghindarinya.


 

[1] Di dalam ayat ini, kata kaa-fuur (kapur barus) berasal,  dari kata kafr (menekan, menutup), sebagaimana telah diterangkan di muka, dan menunjuk kepada pemadaman cinta keduniawian dan menekan sepenuhnya  segala bentuk keinginan duniawi bagi mereka yang minum dari cangkir kecintaan Ilahi, dan memutuskan segala hubungan lainnya dengan ketulusan yang sungguh-sungguh. Ini jelas sekali bahwa kerinduan itu tumbuh di dalam hatinya, dan hati pun berpindah dari ketidaksucian, dan keinginan nafsunya secara bertahap berkurang dan akhirnya mati. Orang ini lebih bersandar kepada Allah Ta’ala, sehingga mampu mengontrol keinginan nafsu rendahnya, dan ketulusan yang dianugerahi Nya telah meneguhkan hatinya dari gejolak hawa nafsu, dan keinginan nafsu rendahnya sepenuhnya dibersihkan bagaikan racun yang dibersihkan oleh kapur barus.

[2] Zanjabil (jahe) terdiri dari kata zana dan jabl. Dari gabungan kedua kata ini, yang pertama maknanya “mendaki” dan kedua “gunung”. Komposisi kata zanjabil karenanya berarti “dia yang mendaki gunung”. Ketahuilah, jika seseorang mendapat serangan penyakit beracun yang sangat hebat sampai pulih seperti sediakala, ada dua tahap. Pertama, bibit penyakit beracun itu musnah dan bahaya yang mengancam jiwa terhindari. Namun demikian, tubuh masih merasa lemah dan belum pulih sepenuhnya sebagaimana hilangnya racun. Dia masih terhuyung-huyung, dan dia belum dikatakan sebagai orang sehat. Tingkat kedua dari penyembuhan ini adalah di mana si pasien itu memperoleh kembali kekuatannya. Badan memperoleh kehidupan kembali dan kuat, dia tidak hanya bisa berjalan dengan kaki yang kokoh di atas tanah, tetapi juga sanggup dan kuat untuk mendaki tanjakan gunung dan sanggup mencapai ketinggian dengan kebahagiaan dan tidak takut. Ini adalah keadaan rohani yang dicapai oleh seseorang untuk mendaki ke tingkat ketiga dari perkembangannya. Petunjuk untuk mencapai tingkat ini, Tuhan berfirman kepada orang tulus bahwa mereka diberi minuman yang bercampur zanjabil.

Dua ayat yang dikutip di atas dimana kaafuur dan zanjabil dibicarakan. telah mengundang perhatian kita terhadap dua tingkat yang harus dilalui oleh seseorang agar dia bisa maju dari posisi yang rendah perbudakan hawa nafsu, dan naik ke ketulusan dan kebajikan yang lebih tinggi.  Setelah orang melaksanakan usaha yang pertama dan bangkit, yakni setelah racun dapat dibasmi dan hawa nafsu yang membanjirinya surut. Ini kami istilahkan tingkatan kaafuur (tekanan), karena pada tingkatan ini,  yang efektif hanyalah menekan benda-benda beracun, karena kaafuur itu barang yang bisa melenyapkan pengaruh racun. Tetapi kekuatan yang dibutuhkan untuk mengatasi segala kesulitan hanya ada di tingkat kedua, yang tingkat zanjabil (kekuatan). Rohani zanjabil, yang mempunyai pengaruh sebagai obat penguat dalam sistem rohani, adalah perwujudan karunia Ilahi yang sanggup menyuburkan jiwa. Ditopang oleh perwujudan ini, orang sanggup menyeberangi gurun yang gersang dan mendaki keterjalan bukit yang tinggi dimana rohani orang yang berkelana harus melaluinya dan mencapai puncak keberhasilan. Pengorbanan diri yang sangat indah dan kemampuan melakukannya itu adalah hal di luar kemampuan manusia yang hatinya sepi dari cahaya cinta Ilahi.

[3] ‘Ia tidak mempunyai keseimbangan‘ berarti ia tidak didukung dalil dan hukum alam, tetapi pada sesuatu yang meragukan dan cerita yang tidak ada artinya.

[4] Pohon laknat adalah pohon zaqqum. Menurut Qur’an, setiap perbuatan baik diumpamakan pohon yang baik, dan setiap perbuatan jahat diumpamakan pohon yang buruk. Di dalam ayat ini kita diberitahu bahwa memakan buah zaqqum membawa akibat malapetaka dan kehancuran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: