Falsafah Islamiyah*

Oleh: Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

“Dengan nama Allah Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih” – 1:1

Pendahuluan

Sebelum saya mulai pada pokok bahasan ini, perlu saya nyatakan bahwa semua yang saya sampaikan maupun dalil yang saya gunakan diambil dari Qur’an.[1] Saya menganggap hal ini paling utama bagi setiap orang yang mengimani  kitab sucinya sebagai kitab yang diwahyukan Tuhan, dan harus membatasi pembelaan agamanya berdasarkan Kitab Suci itu dan bukan dari lainnya, atau mempertahankan dalil-dalilnya bukan dari selain yang telah disebutkan. Sebab,  bila tidak mengikuti aturan ini dalam pertemuan yang mulia ini, berarti ia membuat kitab baru dan tidak mengakui kitab yang ia miliki sebagai penunjangnya.

Oleh karena saya bertujuan ingin menunjukkan keindahan Qur’an dan  menegakkan keistimewaannya dari semua kitab-kitab suci lain yang ada, maka saya akan berjalan pada garis yang saya nyatakan. Seperti halnya para pembicara lain diharapkan juga harus berjalan pada garis ketentuan ini, maka alangkah baiknya untuk   membandingkan isi berbagai kitab suci samawi. Untuk alasan yang sama, saya menghindari semua referensi yang berdasarkan  sabda Nabi Muhammad atau Hadits, dan tak akan keluar dari Firman Ilahi yang telah diwahyukan dalam Qur’an.

***

Beberapa catatan pendahuluan yang telah dibuat di awal ini, mungkin saja muncul lagi sebagai bukan permasalahan yang sedang dibahas. Namun demikian, jika itu  diperlukan demi kelengkapan masalah yang dibicarakan,  maka saya gunakan lagi.

Persoalan pertama menyangkut masalah keadaan jasmani, akhlak dan  rohani manusia. Qur’an menyatakan pembagian ini dengan menetapkan masing-masing dengan tiga sumber keadaan manusia, yaitu, tiga sumber yang mengalir dari tiga keadaan. Salah satu darinya adalah kondisi fisik manusia yang disebut dengan istilah nafs ammarah yang maknanya “jiwa yang tak terkontrol” atau “jiwa yang cenderung pada perbuatan buruk”.  Allah berfirman:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh orang untuk berbuat jahat” – 12:53

Sifat nafsu ammarah ini cenderung mendorong orang untuk berbuat jahat, suka menuntun ke arah kelaliman dan tak bermoral,  menghalangi jalan ke arah pencapaian kesempurnaan dan keluhuran moral. Kodrat manusia dalam tingkat tertentu dari perkembangannya cenderung kepada kejahatan dan pelanggaran. Orang akan menjadi sasaran nafsu pada tingkat yang rendah ini selama dia tak mau berjalan di atas cahaya kebijaksanan dan ilmu, dia masih tunduk kepada nafsu rendahnya,  seperti makan, minum, tidur, pemarah ataupun semena-mena, persis seperti sifat-sifat binatang.

Segera setelah ia terbebas dari kekangan nafsu hewani ini, dan dituntun oleh cahaya ilmu dan nalar, maka ia dapat menguasai tali kendali keinginan kodratnya dan mengaturnya dan bukan dirinya diatur olehnya – tatkala perubahan ke arah kebaikan bekerja di jiwanya dari keburukan menuju kebajikan – maka ia dapat melewati setahap demi setahap tingkat fisik menuju ke tingkat rohani dalam arti yang sebenarnya. Sumber keadaan moral manusia dalam tingkat ini, menurut istilah Qur’an disebut nafsul-lawwamah maknanya jiwa yang menyesali diri sendiri:

Tidak, Aku bersumpah demi jiwa yang menyesali diri sendiri[2] – 75:2

Ini adalah sumber mengalirnya budi pekerti yang lebih tinggi, manusia mulai terbebas dari sifat hewani. Bersumpah dengan jiwa yang menyesali diri menunjukkan bahwa ia sadar apa yang dilakukannya. Perubahan dari jiwa yang membangkang  kepada jiwa yang menyesali diri, adalah pertanda yang meyakinkan terjadinya perkembangan dan kesucian yang membuatnya patut mendapat perkenan dalam pandangan Ilahi.

Lawwamah makna harfiahnya “seseorang yang menyalahkan berkali-kali” dan nafsul-lawwamah (jiwa yang menyesali diri) dikatakan begitu karena seseorang menyalahkan diri sendiri karena berbuat jahat dan berusaha kuat untuk mengekang jiwa dan nafsu kebinatangannya. Dia cenderung untuk melangkah ke arah akhlak yang mulia  dan mulai gemar berbuat kebajikan, mulai mentransformasi kehidupannya agar seluruh tujuan  dan tabiat itu tertuju ke arah yang lebih baik, dan mengekang  nafsu serta keinginan rendahnya serta  membiarkan supaya nafsunya diam dan tetap terkurung di  sana.

Namun demikian,  “jiwa yang menyesali diri” itu walaupun telah menyalahkan diri sendiri karena berbuat jahat dan rusak, ia belum mampu menguasai nafsunya secara total, atau ia belum cukup untuk melakukan kebajikan sepenuhnya. Nafsunya itu kadang-kadang masih demikian kuat menguasainya, lalu jatuh tersungkur kembali. Kelemahan seperti itu sama persis seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan yang sebenarnya tidak ingin terjatuh, tetapi karena kakinya memang tak kuasa untuk menopang tubuhnya. Itu bukan berarti ia terus-menerus melakukan kesalahan, namun setiap kegagalan  selalu membawa penyesalan baru. Dalam tingkatan ini, jiwanya bersemangat sekali berusaha mencapai akhlak mulia dan melawan keinginan rendahnya,  yaitu sifat-sifat kebinatangan dalam dirinya, akan tetapi, meskipun ia telah berusaha serta mengharap  kebaikan, kadang-kadang masih tergelincir juga dari kewajiban yang telah digariskan.

Pada tingkat ketiga atau tingkat terakhir dalam gerak langkah maju jiwa manusia, adalah  tingkat rohani yang mantap. Jiwa pada tingkatan ini, menurut Qur’an disebut: nafsu mutmainnah atau jiwa yang tenang:

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan dikau dengan rasa tenang, amat memuaskan di hati, masuklah di antara hamba-hamba-Ku, dan masuklah di Taman-Ku” – 89: 27-30

Kini jiwa itu bebas dari segala kelemahan dan kerusakan lalu ditiupkan kepadanya kekuatan rohani. Ia begitu sempurna menyatu dengan Tuhan dan ia tak bisa hidup tanpa Dia. Bagaikan air yang mengalir dengan deras dari lereng, dan karena sangat derasnya dan tak ada rintangan samasekali, air itu meluncur dengan cepat tanpa ada yang menghalanginya, begitulah jiwa dalam tingkatan ini, telah memutuskan semua belenggu nafsunya dan mengalir dengan deras menuju sang Khalik.

Lebih jelas lagi, ini dinyatakan dengan kata-kata: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan dikau” baik  didalam kehidupan yang fana ini,  bukan saja setelah mati nanti. Perubahan besar ini berlaku sekarang, dan tidak di mana-mana, dan pintu masuk ke sorga sudah dijamin untuknya. Karena jiwa itu sudah diperintahkan untuk kembali kepada Pemiliknya, jelas sekali bahwa jiwa yang demikian itu akan memperoleh bantuan hanya dari Penolongnya. Cinta kepada Ilahi sudah menjadi makanannya, dan ia minum sepuas-puasnya dari mata air kehidupan, dan seterusnya lepas dari kematian. Lebih lanjut hal ini dijelaskan di tempat lain:

Sungguh bahagia  orang yang menumbuhkan (jiwa)nya, dan sungguh rugi orang yang mengubur (jiwa)nya” – 91: 9-10

Singkatnya, tiga tingkatan jiwa ini bisa disebut sebagai tingkatan fisik, moral, dan rohani manusia. Dari semua tingkatan ini, maka tingkatan fisik – yakni  orang yang masih mencari kepuasan nafsu daging – adalah yang paling berbahaya bila  keinginan nafsu itu datang bertubi-tubi, karena dapat menjadi pukulan yang mematikan bagi perkembangan akhlak dan rohaninya, dan karenanya tingkatan ini disebut “jiwa yang membangkang” menurut Kitab Suci Ilahi.

***

Apa pengaruh ajaran Qur’an terhadap tingkat jasmani manusia, bagaimana ia memberi petunjuk kepada kita untuk mengatasinya, dan batas-batas amaliah apa yang bisa mengatur sifat kecenderungan itu?

Pertama perlu dicatat, menurut Kitab Suci kaum Muslimin, jasmani manusia sangat erat hubungannya  dengan moral dan  rohani, begitu dekatnya hubungan itu sehingga cara makan maupun minum pun sangat mempengaruhi dalam membentuk nilai akhlak dan rohani seseorang. Oleh karena itu, jika keinginan kodratnya itu mengikuti tuntunan hukum, maka ia akan membentuk nilai akhlak yang meningkat dan selanjutnya mempengaruhi jiwa rohaninya. Oleh sebab itu maka semua bentuk ibadah atau shalat, serta semua ajaran yang menyangkut kesucian batin maupun ketulusan akhlak, tekanan yang paling diutamakan adalah terhadap kebersihan dan kesucian  lahiriah dan sikap batin yang benar.

Hubungan antara sifat jasmani dan rohani akan menjadi bukti pertimbangan  perilaku lahiriah, karena akibatnya akan mempengaruhi batin. Menangis, meskipun itu bukan sunguhan, maka suatu saat akan membuat hatinya sedih juga, begitu pula meskipun ia pura-pura tertawa, itu pun akan membuatnya gembira juga. Begitu pula halnya bersujud, seperti dilakukan dalam shalat, akan menyebabkan jiwa itu berendah hati dengan sendirinya dan akan tunduk pada sang Khalik; begitu pula berjalan pura-pura berlagak dan pura-pura sombong, akan menjadi sombong dan lagak sungguhan.

Pengalaman juga menunjukkan bahwa makanan pun berpengaruh kuat pada fikiran dan hati manusia. Contohnya, orang yang hanya makan sayur-sayuran saja ia akan kehilangan keberanian, dan orang yang tak suka makan daging hewan akan lemah hati dan hilang keberaniannya. Hukum yang sama pun bisa dilihat di antara binatang. Binatang pemakan daun-daunan tidak memiliki keberanian meskipun cuma seperseratus keberanian hewan pemakan daging, begitu pula di kalangan dunia unggas. Maka tidak ragu lagi bahwa makanan pun mempunyai peran penting dalam membentuk karakter. Lebih lanjut, pengecualian beberapa jenis makanan pun akan mengakibatkan sesuatu  dalam tubuh seseorang, begitu pula berlebihan dalam makananan, ini pun akan membahayakan pula terhadap karakter seseorang karena ia akan menekan sifat rendah hati dan kesabaran. Tapi bagi mereka yang mengambil jalan tengah, maka ia akan memperoleh kedua-duanya, yaitu keberanian dan kesabaran. Oleh sebab itu terhadap aturan ini Qur’an menyatakan:

“Makanlah dan minumlah tapi jangan berlebihan” [3]7:31

Telah dibicarakankan bahwa ada pengaruh jasmani terhadap perilaku manusia, tetapi perlu dicatat bahwa sebaliknya gerakan batin pun dapat menghasilkan perilaku lahiriyah. Kesedihan akan berakibat keluarnya air mata, begitu pula kegembiraan akan membuatnya ia tertawa. Jadi jelas ada hubungan antara jasmani dan rohani, dan segala perilaku lahiriah  seperti makan, minum, berjalan, tidur dan sebagainya dapat mengakibatkan hubungan yang bertalian dengan keadaan jiwa sebagaimana diketahui dari perbuatan lahiriah. Sudah dimaklumi bahwa kejutan hebat dapat menghubungkan ke salah satu organ di otak manusia yang bisa berakibat kehilangan ingatan, dan efek lainnya paling tidak membuat ia tak sadar.

Udara yang  mengandung racun atau bibit  penyakit  akan segera merusak badan terlebih dulu, kemudian merusak pikiran, dan beberapa jam saja seluruh jaringan tubuh bagian dalam yang  tempat bersemayamnya dorongan moral menjadi rusak dan berakibat fatal, yakni kematian. Lebih jauh lagi dapat dibuktikan bahwa ada hubungan misterius antara jasmani dan jiwa, dan pemecahan masalah tersebut sudah tentu di luar pemikiran otak manusia.

Bukti lain ialah badan kita sendiri yang merupakan induknya jiwa. Jiwa itu tidak datang dari suatu tempat lalu mencari hubungan dengan badan di dalam perut ibu, tapi jiwa itu sudah ada di sana, yaitu suatu cahaya atau saripati yang letaknya tersembunyi  dalam benih dan tumbuh mengikuti pertumbuhan jasmani. Firman Ilahi memberi penjelasan kepada kita bahwa jiwa atau ruh itu tumbuh dari jasmani dan ia berkembang di dalam rahim ibu:

Lalu Kami menumbuhkan itu menjadi mahkluk lain. Maha berkah Allah sebaik-baik Pencipta”  – 23 : 14

Petunjuk yang dipaparkan oleh Qur’an kepada kita di sini, yakni hubungan antara  jasmani dan jiwa, telah menuntun kita kepada kesimpulan penting lainnya. Ia mengajarkan kepada kita bahwa ucapan dan perbuatan yang dilakukan seseorang, jika bertujuan mencari perkenan Tuhan dan mewujudkan Keagungan-Nya, dan ia berlaku sesuai dengan perintah-Nya, maka ia akan berjalan pula dalam hukum yang sama, yakni di dalam segala perilaku lahiriahnya di sana pasti ada jiwa yang menyertainya, tersembunyi seperti halnya benih manusia itu sendiri, dan seperti halnya  lahir itu berkembang setahap-demi setahap, jiwa yang tersembunyi pun muncul serupa. Bila perwujudan perilaku itu  terjadi sepenuhnya, maka cahaya jiwa pun berkilauan sempurna dan agung, dan ini menunjukkan begitu jauh bahwa ruh itu seakan terlihat dan di sana muncul gerakan hidup yang jelas. Perkembangan jasmani dari tubuh perbuatan itu akan diikuti oleh kilauan cahaya di dalamnya bagaikan cahaya kilat. Tingkatan ini secara tamsil dijelaskan dalam ayat Qur’an berikut ini:

“Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya ruh-Ku, rebahkanlah dirimu bersujud kepadanya” – 15 : 29

Ayat ini pun menggambarkan ide yang sama – bahwa dalam perwujudan perbuatan baik, ruh yang ada di dalam itu akan bersinar. Tuhan menjelaskan ini sebagai ruhnya Dia sendiri, jadi hal ini adalah bagian dari sifat Ilahi. Sebab, tubuh perbuatan itu tumbuh sepenuhnya hanya setelah padamnya keinginan lahiriah, dan akibatnya cahaya Ilahilah yang tadinya redup, kini gemerlap penuh bercahaya lalu membuat setiap orang tunduk di hadapan keagungan-Nya. Karena itu, setiap orang pasti  secara alami akan melangkah maju dan bersujud di hadapan-Nya, kecuali jiwa yang jahat tidak menyukai apa-apa kecuali kegelapan.

Kembali ke masalah yang sedang dibicarakan, jiwa adalah cahaya yang memancar dari tubuh yang  sudah disiapkan di dalam rahim. Dengan memancarnya jiwa ini, berarti yang semula tersembunyi dan tak dapat diketahui meskipun unsurnya ada di dalam benih itu sendiri, maka  berangsur-angsur ia berkembang sebagaimana tubuh jasmaniyang menampakkan perkembangan, jiwa itu pun ikut tumbuh menjadi semakin nyata. Tak ragu lagi bahwa di sana ada hubungan yang tak dapat dijelaskan antara jiwa dengan benih itu sesuai dengan rencana dan kehendak Ilahi, dan itulah intisari cahaya yang ada di dalam benih itu sendiri. Ia bukan bagian dalam arti seperti benda bagian dari benda lainnya, dan tidak benar pula untuk dikatakan bahwa ia datang dari luar, atau sebagaimana secara salah digambarkan orang bahwa itu jatuh ke bumi, melainkan ia sudah menyatu dengan benih itu sendiri. Ia tersembunyi di dalam benih seperti api sudah ada di dalam batu api. Firman Ilahi tidak menyokong terhadap pandangan bahwa roh atau jiwa itu datang dari langit dan berbeda dengan jasad, atau tiba-tiba jatuh ke bumi lalu menyatu dengan benih secara mendadak, lalu masuk ke dalam rahim. Gagasan itu sungguh tak benar dan bertentangan dengan hukum alam.

Ribuan belatung yang dapat ditelaah setiap hari pada makanan busuk ataupun di dalam borok yang tak dicuci tidaklah datang dari luar ataupun turun dari langit. Keberadaan mereka membuktikan bahwa jiwa itu datang dari jasad, sama persis seperti ciptaan Ilahi lainnya. Maka dengan kemahakuasaan Nya, Dia menginginkan dan menghendaki agar kelahiran ruh yang kedua ini melalui jasmani. Pergerakan jiwa tergantung jasad, dan jika jasad mengarah ke suatu tujuan, jiwa pun pasti ikut.  Kehidupan fisik manusia begitu penting sekali bagi jiwa, firman Ilahi tak tinggal diam untuk menerangkan itu. Oleh karenanya, Qur’an banyak sekali menyatakan banyak hal terhadap perbaikan fisik kehidupan manusia. Ia memberikan nilai yang paling berharga kepada kita dan petunjuk yang rinci mengenai semua perkara penting berhubungan dengan manusia; segala gerakan, segala macam kepuasan, kehidupan keluarganya, hubungan sosial, sehat ataupun sakit, semua itu diatur  oleh hukum dan itu menunjukkan bagaimana perilaku lahir dan kesucian mempunyai pengaruh terhadap rohaninya.

Beberapa petunjuk akan dijelaskan secara ringkas saja, karena kalau diterangkan secara rinci akan banyak makan waktu. Mempelajari firman Ilahi secara singkat dalam perkara penting ini – ajaran dan petunjuk yang berhubungan dengan perbaikan kehidupan lahiriah manusia dan pertumbuhan yang bertahap dari keadaan biadab menjadi beradab hingga akhirnya  mencapai puncak perkembangan moral yang tinggi –  akan dipaparkan berikut ini.

Pertama, Allah berkenan kepada manusia dengan karunia petunjuk untuk keluar dari kegelapan dan membangkitkannya dari keadaan biadab dengan mengajarkannya aturan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari maupun bentuk kehidupan sosial. Jadi prosesnya dimulai dari perkembangan manusia yang paling rendah, paling awal, yakni petunjuk yang membedakan  manusia dengan binatang rendah, dengan mengajarkan aturan dasar moral yang bisa dilalui dengan menamakan sebagai sikap sosial.

Kedua, setelah manusia mengikuti tatanan dasar sosial mengenai adab dan tatakrama yang membedakan dia dengan binatang melalui kebijakan dan ilmu, maka Allah yang Maha Bijaksana  mengarahkan itu ke arah akhlak mulia. Manusia pun mulai sadar, dan menyalahkan dirinya yang menuju pada tingkat kedua, yakni tingkat Kemanusiaan.

Kini kita beralih ke tingkat ketiga dari perkembangan itu, ketika manusia lupa akan dirinya (Akunya telah hilang) karena cinta kepada Ilahi dan berbuat sesuai dengan kehendak-Nya, dan seluruh hidupnya dicurahkan untuk mencari perkenan sang Khaliknya. Dalam tingkatan inilah yang disebut Islam, karena arti hakiki berserah diri pada kehendak dan mengabdi pada Ilahi dan dirinya lebur dalam kehendak Ilahi:

“Ya, barangsiapa berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan berbuat baik, ia akan memperoleh ganjaran dari Tuhannya dan tak ada ketakutan menimpa mereka, dan mereka tak akan susah” –  2 : 112

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku dan pengorbananku dan hidupku dan matiku karena Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Dia tak mempunyai sekutu, dan demikianlah aku diperintahkan, Dan akulah orang pertama yang berserah diri” – 6 : 163-164

“Dan inilah jalan Kami yang benar, maka ikutilah ini, dan janganlah mengikuti jalan-jalan lain, karena ini akan memisahkan kamu dari jalan-Nya  ” – 6 : 154

“Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa kamu, dan Allah Maha pengampun, Maha pengasih’  – 3 : 30

Sebelum saya melanjutkan tiga tingkatan kehidupan ini, maka saya akan mengulangi masalah kehidupan fisik manusia. Faktor dominan yang disebut nafsu amarah atau jiwa yang tidak tunduk (membangkang), menurut firman Ilahi, jiwa pada tingkatan ini tidak bisa diperlakukan sama seperti tingkatan akhlak mulia. Seluruh sifat dan kecenderungan manusia serta segala keinginan nafsu daging ditempatkan oleh Qur’an sebagai nafsu amarah, dan jika manusia mulai menyadari perilaku yang dilakukan menurut aturan yang benar dan diselaraskan sesuai petunjuk Ilahi, maka akan memasuki sifat akhlak yang benar. Begitu pula, tidak ada garis pemisah yang dapat ditarik antara ruang-lingkup akhlak dan rohani. Manusia berlalu dari satu keadaan kepada keadaan lainnya setelah dia sepenuhnya meleburkan diri pada Tuhan, peleburan jiwa sepenuhnya, lepas samasekali dari hubungan rendah, kemudian mencapai penyatuan dengan Tuhan,  mencintai Allah dan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya dengan tak tergoyahkan. Seseorang tidak layak disebut manusia sepanjang keadaan fisik seseorang itu tidak harmonis dengan  akhlak, karena keinginan alami itu biasa-biasa saja bagi manusia maupun binatang rendah, dan sukar membedakan antara mereka.

Begitu pula, seseorang memiliki budi pekerti semata, itu belum bisa membawa ke jalan keluhuran rohani. Contohnya, kehalusan hati, pikiran tenang, dan mencegah kelakuan jahat hanya sekian banyak dari sifat alami manusia yang bisa saja dimiliki oleh seseorang yang benar-benar tidak mengerti terhadap manfaatnya akhlak maupun nilai rohani. Banyak sekali binatang yang tidak membahayakan dan terbukti cenderung tidak buas. Bila dijinakkan, akhirnya tidak menyerang, dan bila dicambuk tidak melawan. Tapi salah sekali bila dikatakan bahwa mereka mempunyai nilai akhlak. Begitu pula, orang-orang yang kepercayaannya  masih buruk, – ya bahkan seringkali mereka yang berlaku tidak terpuji pun – bisa memiliki tabiat seperti itu.

Mungkin sekali seseorang bisa berendah hati hingga ia tak tega membunuh belatung yang ada di dalam boroknya sendiri, didalam usus maupun di perutnya. Misalnya kerendahan hati itu, telah menjadikan seseorang menghindari penggunaan madu ataupun minyak kesturi karena ia merasa tak tega menghancurkan sarang lebah maupun memporak-porandakan lebahnya, dan lainnya lagi karena merasa kasihan membunuhnya. Bahkan ada juga orang-orang yang begitu kasihan, sehingga dia tak mau memakai mutiara ataupun sutera karena keduanya diperoleh dari hasil merusak kehidupan ulat maupun kerang. Ada juga orang-orang  yang  membiarkan kesakitan terus daripada mengangkat lintah dari tubuhnya karena untuk meringankan rasa sakit itu harus mengorbankan nyawa binatang tersebut. Bisa saja perasaan rendah hati yang lebih kuat, menjadikan seseorang tak mau minum air, sehingga dia rela melepaskan nyawanya daripada merusak atau membinasakan makhluk renik yang ada di dalam air.

Semua ini bisa saja diakui, tetapi bagi orang yang berakal sehat apakah dia mau menerima kebodohan itu agar dapat mengembangkan akal budi yang sejati, atau apakah itu pantas disebut akhlak? Apakah jiwa manusia bisa disucikan dari segala kejahatan batin yang menjadi penghalang di jalan Allah yang sebenarnya dengan perilaku yang demikian? Sifat tidak mengganggu dan menyakiti banyak terdapat didalam dunia binatang atau burung daripada dunia manusia, tetapi itu sama sekali tidak akan mencapai derajat atau tingkat akhlak yang diinginkan. Perilaku ini bertentangan dengan alam dan melawan hukumnya. Ini sebenarnya  menolak kemampuan dan karunia yang telah kita peroleh. Kita tak akan bisa mencapai kesempurnaan rohani sehingga segala kemampuan kita digunakan dalam tempat dan waktu yang semestinya sesuai yang kita butuhkan, dan berjalan dengan ketetapan hati di jalan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita, lalu  berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.

Sebagaimana telah dinyatakan dahulu, ada tiga tingkatan akhlak manusia yang harus dilaluinya, yakni nafsu ammarah, nafsul-lawwamah, dan nafsul-mutmainnah. Segera dengan itu, ada pula tiga tingkat perbaikan yang berhubungan dengan ketiga tingkatan ini. Pada tingkat pertama, kita membicarakan manusia yang masih bodoh dan biadab, yang sebenarnya kewajiban kitalah untuk mengangkat derajat itu ke tingkat beradab dengan jalan mengajarkannya hukum-hukum sosial yang mengatur hubungan timbal balik antar manusia. Langkah pertama, adalah mengajarkan kepada orang yang biadab agar tidak berjalan secara telanjang, atau makan bangkai, ataupun mengikuti kebiasaan brutal. Ini adalah tingkat yang paling rendah dalam perbaikan manusia. Untuk memanusiakan manusia yang tak mengenal sama sekali cahaya peradaban, kiranya perlu sekali, pertama-tama mendidik mereka melalui tingkatan ini dan membuat mereka terbiasa menggunakan aturan-aturan akhlak dasar.

Bila orang biadab itu sudah belajar mengenal kehidupan bermasyarakat, maka ia disiapkan untuk tingkat perbaikan kedua. Ia mulai diajarkan moral sejati yang bertalian dengan kemanusiaan seperti menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya secara tepat, maupun menggunakan apa yang tersembunyi di bawah sadar mereka.

Bagi mereka yang telah mencapai akhlak sejati, lalu dilanjutkan ke tingkat ketiga, dan setelah mereka mencapai kemajuan yang sempurna, mereka diuji agar menyatu dalam cinta pada Ilahi.      Inilah tiga tingkatan atau derajat yang dijelaskan oleh Qur’an untuk melanjutkan perjalanan bagi orang yang ingin berjalan sepanjang jalan yang menuntun kepada sang Pencipta.

***

Perhatian kita perlu diingatkan kepada hal lainnya, yakni Qur’an tidak menanamkan ajaran yang bertentangan dengan akal sehat, dan oleh karenanya seseorang tidak boleh sekedar mengikuti begitu saja tanpa pertimbangan yang lebih baik. Tujuan seluruh Kitab dan intisari ajaran Nya, pada hakekatnya berisi tiga tingkat perbaikan manusia, dan petunjuk lainnya yang merupakan sarana untuk mencapainya. Seperti bisa dilihat didalam perawatan suatu penyakit jasmani, maka seorang dokter tahu persis kapan dia perlu membedah atau melakukan operasi atau hanya sekedar memoleskan salep pada luka, dan sebagainya. Qur’an juga menerapkan hal yang sama seperti ini, yakni untuk mencapai maksud tujuan perbaikan manusia maka akan melihat keadaan dan waktunya yang tepat. Semua ajaran akhlak, anjuran dan perintah lainnya bertujuan membangun manusia, dari tingkat kebiadaban ke tingkat akhlak, dan dari tingkat akhlak ke tingkat samudera rohani yang sangat luas tanpa tepi atau akhir.

Telah dibahas sebelumnya, keadaan fisik manusia tidak berbeda dengan tingkat akhlaknya. Sebenarnya, tingkat lahiriah manusia itu, bila itu diatur dan digunakan sesuai dengan pertimbangan dan nalar yang baik, maka ia akan beralih ke  tingkat akhlak. Sebelum manusia itu diberi petunjuk oleh akal ataupun kesadarannya, segala perbuatannya itu belum mencapai tingkat akhlak meskipun tampaknya serupa, dan itu hanya merupakan dorongan naluri alamiah saja. Contohnya, kepatuhan seekor anjing ataupun kucing atau binatang  apa saja terhadap tuannya, ini tidak bisa dikatakan sebagai budi pekerti atau sopan santun, juga kebuasan singa ataupun serigala tidak bisa dikatakan sebagai kurang ajar atau kejam. Apa yang kita katakan baik dan buruk atau akhlak, semua itu adalah akibat pertimbangan  yang berperan pada saat yang tepat. Orang yang tidak diberi petunjuk oleh nalar dalam perbuatannya bisa dibandingkan seperti anak kecil yang kekuatan nalarnya belum matang, atau seperti orang gila yang kehilangan akalnya. Garis pemisah yang dapat menggambarkan antara orang gila atau anak kecil, di satu sisi, dan  orang yang mempunyai akal sehat, di sisi lain, adalah, yang pertama hanya berupa dorongan alami, sementara yang kedua akibat hasil kemampuan nalar. Contoh lain, seorang bayi akan segera mencari putik susu ibunya, sementara anak ayam setelah ditetaskan sudah bisa mematuk makanan dengan paruhnya. Begitu juga seekor anak lintah akan mewarisi kebiasaan lintah, dan demikian pula anak seekor ular ataupun singa mempunyai tabiat nalurinya masing-masing.

Anak manusia, segera setelah dilahirkan, ia akan menunjukkan sifat kemanusiaannya. Setelah berjalan beberapa tahun sifat itu akan semakin kentara. Tangisannya semakin keras dan senyumnya berkembang menjadi tawa. Dalam gerak-geriknya ia akan mengungkapkan kesenangannya ataupun kesedihannya, tapi gerakan itu masih tidak lebih akibat dorongan alamiah ketimbang hasil akaf fikirannya. Begitulah manusia yang masih ada di tingkat kebiadaban , maka akal fikirannya masih dalam tingkat persiapan seperti janin yang dipersiapkan. Ia masih didorong oleh sifat alamiah, dan apa pun yang ia lakukan masih tunduk kepada sifat itu. Perbuatannya bukanlah akibat atau hasil pertimbanganakalnya. Sifat alami yang timbul dalam dirinya akan mengikuti dorongan diluar dan terlihat secara lahiriah.

Karenanya tindakan orang biadab pun  tidak dapat diduga; sebagian mungkin bisa menyerupai perbuatan  orang yang berakal, tapi tak dapat dipungkiri bahwa semua itu tidak didahului oleh kemampuan akal budi atau pertimbangan yang mendalam terhadap layak atau tidaknya perbuatan itu dilakukan. Bahkan jika diduga ada sedikit saja derajat pertimbangan akal dalam perbuatan orang biadab, maka kita tidak dapat menggolongkannya secara umum sebagai kelakuan baik atau buruk. Faktor yang paling kuat yang membawa mereka berbuat itu bukanlah hasil kemampuan pertimbangan akanya, tapi sekedar dorongan naluri atau dorongan kemauan dan nafsu saja.

Singkatnya, kita tidak dapat mengklasifikasikannya sebagai “akhlak” terhadap kelakuan seseorang yang hidupnya masih dekat dengan kebiadaban, atau orang yang masih menjadi sasaran dorongan nalurinya seperti binatang rendah, anak kecil ataupun orang gila. Tingkat pertama dari akhlak – yakni dari kelakuan seseorang yang dapat diklasifikasikan sebagai berakhlak baik atau buruk – ialah orang itu mampu membedakan antara baik dan buruk, atau antara perilaku baik dan buruk dari tingkatan yang berbeda. Ini bisa terjadi bila kemampuan akal fikirannya sudah cukup matang untuk mempertimbangkan konsekwensi perbuatannya. Pada tingkatn ini orang kemudian menyesali perbuatan alpanya, atau merasa menyesal, dan mulai menyesali perbuatan buruknya. Inilah tingkat kedua dari kehidupan manusia yang disebut dalam Qur’an sebagai nafsul-lawwamah yakni “jiwa yang menyesali diri” atau istilah yang lebih populer ialah “suara hati”.

Tetapi harus diingat bahwa bagi orang yang masih biadab untuk mencapai tingkat jiwa yang menyesali diri ini tidakah cukup dengan teguran. Dia harus mempunyai Ilmu Ilahi dimana dia harus dapat melihat tindakannya bukan sebagai tindakan yang tidak berarti atau tidak berguna. Jiwa di tingkat ini mengangkat derajat pandangannya tentang Tuhan,  yang dengan sendirinya akan menuntun kepada perbuatan akhlak yang sebenarnya. Dan karena alasan inilah Qur’an menanamkan ilmu Ilahi yang hakiki sepanjang mengenai teguran dan peringatan serta menjamin manusia bahwa setiap perbuatan baik atau buruk akan membuahkan akibat yang bisa membuat rohaninya bahagia atau sengsara di dalam kehidupan ini, sementara ganjaran atau hukuman yang lebih jelas dan nyata akan menantinya di alam kehidupan yang akan datang.

Dengan kata lain, ketika orang mencapai derajat kemajuan ini, yang disebut “jiwa yang menyesali diri”, nalarnya, ilmunya maupun bisikan hatinya sampai ke tingkat perkembangan dimana perasaan menyesali diri dapat mengatasi perbuatan yang tidak baik dan ia sangat berharap untuk menjadi orang yang baik. Inilah tingkatan dimana perilaku manusia dapat dikatakan sebagai berakhlak.

Kiranya di sini perlu didefinisikan dahulu kata khulq (akhlak). Ada dua kata yang mirip dengan itu kecuali dalam  ucapan huruf hidupnya saja: khalq yang maknanya “kejadian lahiriah” dan khulq yang maknanya “kejadian batiniah”(sifat pembawaan). Karena kesempurnaan tindakan batiniah itu dapat dicapai melalui ketinggian akhlak  dan bukan melalui pembawaan keinginannya, maka yang pertama lebih tepat dikatakan khalq dan bukan yang belakangan. Pada kesempatan ini patut dijelaskan bahwa sudah menjadi anggapan umum yang keliru, bahwa budi pekerti yang luhur itu adalah rendah hati, lemah lembut. Sebenarnya, yang mengaitkan setiap perbuatan lahiriah, adalah sifat dari dalam, yang bila dilakukan secara tepat, barulah itu disebut “akhlak”. Contohnya, menangis adalah perbuatan lahiriah yang bisa mengalirkan air mata, tapi kaitannya  ada di dalam hati, yaitu sifat lebur yang bisa disebut “kelemah-lembutan” yang bila diterapkan oleh sifat akhlak, ini merupakan salah satu akhlak mulia.

Contoh lainnya lagi, manusia biasa menggunakan tangannya dalam mempertahankan diri atau melawan musuhnya, tapi di dalam hati/batinnya timbul rasa haru dan ini dapat disebut berakhlak ‘lemah lembut’ apabila perasaan itu dilakukan secara tepat.  Demikian halnya, manusia diberikan tangan untuk menjaga dirinya atau menolak musuh, dan didalam batinnya terdapat sifat “keberanian”. Jika hal ini, digunakan secara tepat, maka itu merupakan satu akhlak yang tinggi dan diperlukan orang untuk mencapai kesempurnaan.

Begitu juga, seseorang yang menyelamatkan orang tertindas dari tindakan si penindas dengan tangannya, atau seseorang merasa terdorong untuk memberikan sesuatu kepada orang yang tak berdaya, orang kelaparan atau menolong orang dalam hal-hal lain. Semua perbuatan itu berproses dari batinnya yang disebut “kasih sayang”. Atau kadang-kadang orang memberi hukuman kepada orang yang berbuat salah, dan sumber perbuatan lahiriah ini bersumber dari batin yang disebut “dendam”. Sebaliknya ada orang mau menerima rasa sakit hati, dan ia tak mau membalas sakit hati itu, padahal dia dapat membalas perbuatan si penyerang tadi. Sifat tak mau membalas ini datang dari akhlak yang disebut “sabar”. Sama seperti itu pula, orang kadang-kadang menggunakan tangannya, kakinya, otaknya maupun hartanya untuk berbuat baik terhadap sesamanya. Dalam hal ini, kaitannya dengan akhlak disebut “murah hati”. Kebenaran, seperti telah dikemukakan, adalah semua sifat ini yang hanya bisa disejajarkan dengan akhlak bila itu dilakukan pada saat yang tepat. Jadi, di dalam Kitab Suci, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang tinggi[4] – 68 : 4

Singkatnya, semua sifat yang ada di hati manusia secara fitriah telah dianugrahkan Allah, seperti  sopan-santun, rendah hati, tulus, dermawan, senang kepada kebenaran, tabah, suci, ikhlas, sederhana, iba, simpati, berani, murah hati, pemaaf, sabar, lembut, benar, setia dan lain sebagainya, bila itu dilakukan dalam suasana dan saat yang tepat, tergolong definisi akhlak. Semua sifat ini tumbuh dari kecenderungan alamiah dan bila  itu dikendalikan dan diatur oleh akal budi akan menjadi akhlak. Keinginan untuk maju adalah ciri khas manusia yang esensial, dan bukan bagian dari binatang rendah. Itulah sebabnya, agama yang benar adalah jika ajarannya dapat mengubah sifat kecenderungan manusia biadab ke arah akhlak yang baik.

***

Kedatangan Nabi Muhammad bertepatan ketika seluruh dunia tenggelam ke jurang kebodohan yang paling dalam. Terhadap perkara inilah Qur’an menjelaskan dengan ayat berikut ini:

“Kebobrokkan telah timbul di daratan dan di lautan” – 30 : 41

Bahasa ungkapan ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa yang umum berarti “orang-orang yang telah diberikan Kitab Suci dari Tuhan (Ahlu-l-Kitab) telah menjadi bobrok sama seperti mereka yang belum pernah meminum sumber ilham”. Oleh karena itu Qur’an menghidupkan yang telah mati:

“Ketahuilah bahwa Allah memberi hidup kepada bumi yang telah mati” – 57 : 17

Kegelapgulitaan yang teramat pekat, dan kebiadaban pada waktu itu telah menutupi seluruh tanah Arab. Tidak ada hukum sosial yang bisa ditemukan, dan perbuatan hina pun secara terang-terangan biasa dilakukan. Memiliki isteri yang tak terbatas  biasa dilakukan, dan segala sesuatu yang haram menjadi halal. Perampokan dan perbuatan cabul sudah tak terkontrol dan tidak jarang, ibu mereka pun dijadikan isteri. Demi mencegah kebiasaan yang sangat mengerikan ini maka diturunkanlah wahyu Ilahi:

“Diharamkan ibu-ibu kamu” – 4 : 23

Bagaikan binatang, orang sudah tak ragu lagi makan bangkai, dan kanibalisme pun sudah tak aneh lagi. Di sana tidak ada kejahatan yang tidak bisa  dilakukan oleh mereka. Mayoritas manusia di sana tak percaya lagi terhadap kehidupan di masa yang akan datang, dan tidak sedikit pula yang atheis. Pembunuhan terhadap anak merajalela ke seluruh negeri, dan dengan sadisnya mereka membunuh anak-anak yatim demi merampas harta bendanya. Secara kasat mata mereka kelihatan sebagai manusia, tapi mereka benar-benar tak berpikiran lagi, kesopanan, kecemburuan dan sifat kemanusiaan lainnya. Kehausan mereka terhadap minuman keras sudah kelewat batas dan perzinahan disyahkan menurut selera nafsu birahi tanpa batas. Kegelapan  menyebar begitu luas hingga rakyat negeri tetangganya menyebut mereka sebagai bangsa yang ummi, artinya diliputi kegelapan.

Itulah gambaran gelap di negeri dan saat  munculnya Nabi Islam, dan ketika itulah kebuasan dan kebodohan manusia disembuhkan dengan Wahyu Ilahi yang turun kepada beliau. Tiga tahapan reformasi manusia yang tadi dibicarakan dengan penuh perhatian, sebenarnya telah dilaksanakan setahap demi setahap pada waktu itu dengan menggunakan Qur’an. Untuk alasan inilah maka Kitab Suci tersebut mengakui sebagai petunjuk yang sempurna bagi manusia sebagaimana Kitab itu sendiri telah memberi kesempatan untuk melakukan reformasi di segala bidang dengan sempurna. Ia mempunyai tugas mulia di hadapannya. Ia yang pertama kali menyembuhkan umat manusia dari kebiadaban menjadi manusia yang benar-benar beradab, kemudian mengajarkan mereka dengan akhlak mulia dan kesucian, menjadikan mereka manusia sejati dan akhirnya mengangkat mereka ke puncak menara  kemajuan dan menjadikan mereka bertaqwa.


Catatan Kaki:

[1] Perlu diketahui bahwa penulis selalu menggunakan kata “Suci”  di belakang kata Qur’an dan Nabi Muhammad saw. Dalam terbitan ini,  kami tak mencantumkan kata itu demi  menghindari pengulangan.

[2] Yakni, pada setiap kewajiban yang dilupakan atau sedikit saja diingkari,  kesadaran bisa terlanggar.

[3] Yakni, dalam bentuk diet tertentu, orang tidak akan kehilangan kesehatan ataupun karakternya.

[4] Ini artinya bahwa semua akhlak mulia seperti murah hati, berani, adil, sayang, baik, benar, berbudi luhur dan sebagainya ada pada diri Nabi Muhammad.

*) Catatan :

“Katakan: Wahai kaum Ahli Kitab, mari menuju kepada kalimah yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tak akan mengabdi kepada siapa pun selain kepada Allah, dan kita tak akan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, dan sebagian kita tak akan mengambil sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah” (3:63).

Buku ini  ditulis oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Maulana Muhammad Ali dengan judul  “The Philosophy of the Teachings of Islam” yang dibacakan pada konperensi berbagai agama di Lahore pada tahun 1896.

Buku ini menjelaskan lima pokok pikiran yang diambil dari sudut pandangan umat Islam:

1.       Keadaan jasmani, akhlak, dan rohani manusia.

2.       Kehidupan manusia setelah mati.

3.       Tujuan hakiki eksistensi manusia dan sarana-sarana untuk mencapainya.

4.       Akibat amal perbuatan manusia sekarang dan yang akan datang.

5.       Sumber ilmu Ilahi.

Kepopuleran buku ini sudah begitu luas yang dibuktikan oleh fakta bahwa tulisan aslinya dalam bahasa Urdu telah diterbitkan beberapa kali. Edisi bahasa Inggris,  pertamakalinya diterbitkan secara berkala di majalah Review of Religions pada tahun 1902 (ketika itu Maulana Muhammad ‘Ali menjadi pimpinan redaksinya). Dalam bentuk buku, pertamakali diterbitkan tahun 1910 setelah direvisi oleh Mr. Muhammad A. Russel Webb, Maulwi Sher ‘Ali dan Ghulam Muhammad.

MUHAMMAD ALI

Mei 1910.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: