Falsafah Islamiyah (3) – Tujuan Keberadaan Manusia

Oleh : Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

“Dan berjuang keraslah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu….” (9-41).

Hakikat tujuan

Tak perlu diterangkan bahwa perbedaan manusia, dalam pandangan sempit dan dangkal mereka, berbedanya tujuan yang ada di hadapan mereka sendiri pada umumnya terbatas pada pemuasan keinginan rendah dan kesenangan di dunia ini. Tetapi Allah Ta’ala menjelaskan tingginya tujuan keberadaan manusia.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”(51:56).

Tujuan hidup manusia yang sebenarnya menurut Qur’an Suci, adalah memiliki ilmu yang hakiki dan mengabdi kepada Allah dan berserah diri kepada kehendak-Nya, maka apapun yang dikatakan ataupun dilakukan haruslah karena Allah semata. Satu hal, paling tidak, begitu jelas: manusia tidak punya pilihan untuk menentukan tujuan hidup. Ia diciptakan, dan Sang Pencipta, Yang menjadikannya ada di dunia ini dan mengaruniakan kepadanya kemampuan dan kemuliaan yang tinggi di atas binatang lainnya, juga menetapkan tujuan keberadaannya. Manusia boleh saja mengerti ataupun tidak mengerti akan hal ini, atau boleh saja seribu satu alasan yang berbeda dia kemukakan untuk menolaknya, tapi yang benar adalah tujuan hidup manusia itu terdiri dari berilmu dan mengabdi kepada Allah dan hidup untuk mencari ridla-Nya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam”(3:18).

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, fitrah buatan Allah, dimana Dia menciptakan manusia
di atas fitrah itu. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang benar” (30:30).

Kami tak bisa berkomentar lebih detail terhadap bunyi ayat ini. Satu hal telah dibicarakan dalam menjawab masalah bagian ketiga dari permasalahan pertama mengenai hal ini. Kiranya boleh kami tembahkan sedikit pendapat mengenai kecakapan dan kemampuan manusia yang menakjubkan itu tiada lain karena Islam.

Bakat

Bakat luar maupun bakat dalam dari fitrah manusia yang diberikan kepada kita, jelas sekali bisa dimengerti bahwa tujuan tertinggi terciptanya adalah cinta dan pengabdian kepada Tuhan. Kebahagiaan hakiki, yang secara umum diakui menjadi tujuan hidup, tidak bisa dicapai melalui berbagai usaha manusia, tetapi hanya melalui Tuhan saja. Tidak semua kemampuan dunia ini sanggup meringankan kepedihan yang ada pada manusia pada saat-saat terakhir hidup di dunia ini. Raja yang paling agung, failasuf yang paling bijaksana, pejabat tertinggi maupun pedagang yang terkaya sekalipun tak memiliki ketenangan hati, dan akan pergi meninggalkan dunia ini dengan penuh penyesalan. Hatinya menyalahkan dirinya karena hanya menguras urusan duniawi belaka dan kesadarannya menghakimi kesalahannya yang memperdayakannya pada barang-barang tak berarti dalam mengejar kesuksesan urusan duniawi.
Mari kita renungkan masalah tersebut dengan pandangan lain. Dalam dunia binatang rendah, kita lihat kemampuan mereka dibuat untuk menjadikan mereka tak mampu melayani suatu maksud yang tinggi kecuali untuk satu tujuan tertentu saja dan mereka tak bisa melewati satu batas tertentu. Ini menunjukkan kepada kita satu kesimpulan bahwa batas tertinggi yang dapat dicapai oleh kemampuan binatang tertentu, juga tujuan tertinggi dari penciptaannya. Contohnya, seekor lembu, bisa digunakan untuk membajak tanah atau mengangkat barang dan sebagainya, tapi kemampuan yang ada padanya tidak bisa menyajikan maksud yang lebih jauh lagi. Jadi hanya itulah tujuan keberadaannya.
Menilai manusia dalam perkara yang sama, kita dapati bahwa segala kemampuan yang dianugrahkan alam padanya, yang tertinggi adalah yang dapat membangkitkannya untuk mencari Tuhan dan mendorongnya pada cita-cita luhur untuk mencelupkan dirinya cinta kepada Tuhan dan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya, binatang rendah pun sama derajatnya dengan dia. Dalam kecakapan, beberapa jenis binatang ada yang lebih cakap dari manusia. Lebah memproduksi madu yang diolah dari sari bunga-bungaan dimana kecakapan semacam ini tak dimiliki oleh manusia. Karena itu, kecakapan manusia bukanlah seperti itu, tapi di segi lainnya. Kesempurnaan manusia ialah ada pada rohani sejatinya yang menyatu dengan Tuhan. Tujuan hidupnya yang hakiki di dunia ini adalah jendela hatinya supaya terbuka menghadap Allah.

Makna pencapaian

Kini sampailah kami untuk menjawab masalah bagian kedua: bagaimana tujuan ini bisa tercapai?
Pertama makna terhadap pencapaian terakhir ini, bahwa dalam mengenal Tuhan, manusia harus melangkah di jalan yang benar dan harus memiliki iman Tuhan yang hakiki dan Yang Maha-hidup. Kesuksesan itu tak akan pernah tercapai oleh orang yang mengambil langkah pertamanya saja sudah salah arah dan mencari patung atau makhluk atau anasir alam sebagai sesembahannya. Tuhan sejati akan membantu mereka yang mencari-Nya, tetapi sesembahan yang mati tak dapat membantu penyembah yang mati. Allah Ta’ala menggmbarkan ini dengan ayat berikit ini:

“Hanya kepada-Nya sajalah do’a yang benar itu disampaikan. Adapun benda-benda yang mereka mintai selain Allah, tak dapat mengabulkan mereka sedikit pun kecuali bagaikan orang yang membentangkan kedua tangannya ke arah air agar air itu sampai ke mulutnya, tetapi air itu tak sampai. Dan do’anya orang kafir akan sia-sia belaka” (13:14).

Makna kedua untuk mencapai tujuan hidup yang benar terdiri dari pemberitahuan yang keindahannya dimiliki sang Pencipta. Keindahan itu secara alami menarik hati dan mengundang cinta. Keindahan Allah ada pada Keesaan, Keluhuran, Kemuliaan, Keagungan, dan Kesempurnaan-Nya serta ada pada sifat-sifat mulia lainnya. Dalam hal ini Qur’an Suci mengundang perhatian dalam firman-Nya:

“Katakanlah, Dia , Allah, Maha-esa, Allah, adalah Yang segala sesuatu bergantung (kepada-Nya). Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan, dan tak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia” (112:1-4)

Makna ketiga tercapainya kesuksesan ialah dalam menyadari kebaikan Tuhan yang luar biasa. Kebaikan dan keindahan adalah dua hal yang mengundang cinta. Sifat Allah dalam hal ini dijelaskan dalam pembukaan Qur’an:

“Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam, Yang Maha-pengasih dan Maha-penyayang, Pemilik Hari Pembalasan” (1:1-3)

Ini jelas sekali bahwa kebaikan Ilahi tak akan sempurna hingga Sang Pencipta itu pertama-tama menjadikan segala sesuatu dari tiada menjadi ada, kemudian memeliharanya dalam segala keadaan dan Dia menopang kelemahannya. Segala aspek rahmaniyat-Nya digelar untuk segala makhluk-Nya, kebaikan-Nya tiada terbatas. Terhadap kebaikan yang sempurna ini, Kitab Suci itu berfirman:

“Jika kamu menghitung-hitung nikmat dari Allah, niscaya tak akan bisa menghitungnya” (14:34).

Makna yang keempat mengenai harapan dan do’a. Tuhan, Rabb semesta alam berfirman:

“Berdo’alah kepada-Ku, Aku akan mengabulkanmu” (40:60).

Perlu dicatat bahwa Qur’an sering sekali menekankan hal ini, sebab manusia bisa mencapai kasih-sayang hanya dengan bantuan Ilahi.
Makna kelima, mencari Tuhan dengan menggunakan kemampuan dan harta bendanya, dan mengorbankan hidupnya dengan melaksanakan kebijaksanaan di jalan-Nya:

“Dan berjuang keraslah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu” (9:41).

“(Kitab ini petunjuk bagi mereka yang) mendermakan apa yang Kami rezekikan kepada mereka…” (2:3).

“Dan orang-orang yang berjuang pada jalan Kami, niscaya akan Kami pimpin pada jalan Kami” (29:69).

Makna keenam dimana seseorang akan selamat mencapai keberhasilan ialah dengan keteguhan hati, yaitu, dia harus tak mengenal lelah berjalan di jalan yang ia tuju dan tabah dalam menghadapi cobaan:

“Sesugguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan Kami ialah Allah, kemudian mereka terus-menerus tak henti-hentinya pada jalan yang benar, para Malaikat akan turun kepada mereka ucapnya: Jangan takut dan jangan berduka cita, dan terimalah kabar baik tentang Sorga yang dijanjikan kepada kamu. Kami pelindung kamu di dalam kehidupan dunia dan pula di Akhirat…” (41:30-31).

Di dalam ayat-ayat tersebut, kita diberitahu bahwa keteguhan hati dalam iman menjadi nikmat Ilahi. Ini sungguh benar, karena dalam pepatah Arab dikatakan bahwa “keteguhan hati itu lebih dari mukjizat”. Ketinggian derajat keteguhan hati selanjutnya dikatakan bila kemalangan mengurung manusia, bila ia terancam kematian, kehilangan harta dan kehormatan di jalan Allah, dan apa pun yang menghibur ataupun menyenangkan meninggalkannya begitu jauh lalu Tuhan mengujinya bahkan dengan menutup pintu ilham dan wahyu untuk sesaat.
Ketika manusia dikelilingi oleh pemandangan suram dan harapan terakhir menjadi pupus, ketabahan itu harus ditunjukkan. Dikala tertimpa sakit maupun penderitaan, orang harus menunjukkan kekuatannya, tidak menyimpang dari garis, berpegang erat-erat bila terbawa banjir dan berkobarnya api, ingin terhidar dari setiap aib, tidak menanti bantuan maupun pertolongan, bahkan tidak mencari kabar yang baik dari Atas, dan meskipun dalam ketidak berdayaan dan jauh dari kesenangan, dia harus berdiri kokoh, menyerahkan diri kepada kehendak langit tanpa mengepalkan tangannya ataupun memukul-mukul dadanya.
Inilah keteguhan yang hakiki yang menurunkan keagungan wajah Ilahi. Akhlak mulia inilah yang masih dihembuskan oleh para Rasul, orang-orang tulus maupun oleh orang-orang yang penuh iman. Menunjuk ke masalah ini, Tuhannya alam semesta menunjuk orang-orang beriman yang berdo’a kepada-Nya seperti di ayat berikut ini:

“Tunjukkanlah kami ke jalan yang benar” (1:6).

“Yaitu jalannya mereka yang telah diberi nikmat oleh Engkau” (1:7).

“Tuhan kami, siramlah kami dengan kesabaran, dan matikanlah kami dikala berserah diri (kepada-Mu)” (7:126).

Perlu diingat bahwa di dalam penderitaan dan kesengsaraan, Yang Maha-pemurah memancarkan cahaya-Nya ke dalam hati hamba-Nya yang penuh iman, memberi kekuatan yang mereka jumpai dalam ujiannya dan tenang serta luhur, dan dalam merasakan manisnya iman, ia mencium rantai yang mengikatnya untuk berjalan di jalan yang benar. Ketika para hamba yang tulus di bawah ujian berat dan penderitaan dan melihat kematian sudah di ambang pintu, mereka tidak memohon kepada Sang Pencipta untuk menghapus penderitaannya. Mereka tahu bahwa berdo’a kepada-Nya adalah untuk menghilangkan mangkuk segala kesulitan, bertentangan dengan kehendak-Nya dan tidak sesuai dengan penyerahan total kepadanya. Pecinta sejati tidak akan mundur tapi mengambil langkah ke depan ketika ia merasakan sakit dan penderitaan, dan melihat hidupnya sendiri seperti barang yang tak penting, dirinya diserahkan kepada kehendak langit dan siap untuk menghadapi keburukan. Orang seperti itu dikatakan oleh Tuhan:

“Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mendapat perkenan Allah. Dan Allah itu Yang Maha- belaskasih kepada para hamba” (2:207).

Singkatnya, inilah hakikat ketabahan hati yang menuntun kepada Ilahi.

Makna yang ketujuh untuk mencapai tujuan adalah bersahabat dengan orang-orang tulus dan meneladani contoh kesempurnaan mereka. Ini menggaris bawahi kemunculannya para Nabi.
Manusia secara alami cenderung meniru suatu contoh dan merasa memerlukannya. Seorang teladan mengalirkan kehidupan kepada seseorang dan memperkuatnya untuk berlaku dalam prinsip-prinsip ketulusan, sementara orang yang tidak suka meniru seorang teladan yang baik, setahap-demi setahap akan kehilangan semua semangatnya untuk berbuat baik dan ujung-ujungnya jatuh ke dalam kesesatan. Terhadap tingkat terakhir ini Qur’an berfirman:

“(Wahai orang beriman), sertailah orang-orang tulus” (9:119).

Makna yang kedelapan adalah ru’yah shalihah (impian yang benar) dan wahyu dari Allah. Sebagaimana jalan yang menuju kepada Allah itu tersembunyi dan misterius, penuh kesulitan serta bahaya, maka para musafir rohani mungkin bisa menyimpang dari jalan yang benar atau mungkin putus asa dalam mencapai tujuan. Karunia Ilahi, tetap memberi semangat dan memperkuatnya di dalam perjalanan rohaninya, memberikannya hiburan di saat-saat pedih dan memberi semangat dengan lebih banyak lagi harapan untuk mengejar perjalanan rohaninya.
Itulah hukum Ilahi yang para musafir rohani berjalan di jalan-Nya dimana Dia terus-menerus menghibur hatinya dengan firman-Nya dan menurunkan wahyu kepadanya dan Dia selalu bersama-Nya. Jadi diperkuat, mereka mengambil perjalanan ini dengan penuh keteguhan. Kitab Suci berfirman:

“Bagi mereka (yang beriman) adalah berita gembira di dalam kehidupan dunia ini dan di Akhirat” (10:64).

Kiranya perlu ditambahkan bahwa Qur’an telah menjelaskan sejumlah jalan lain yang bisa membantu kita untuk mencapai tujuan hidup, tetapi kami tak dapat menjelaskannya di sini karena ruangan terbatas.

Satu Tanggapan

  1. alhamdulillah .. pencerahaan yang bermanfaat ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: