Falsafah Islamiyah (5) – Sumber Ilmu Ilahi

Oleh : Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

“Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui perkara ghaib dan nyata; Maha-pengasih, Maha-penyayang” (59:22).

Ilmu hakiki

Sebagaimana telah dijelaskan, Qur’an telah menyatakan tiga tingkatan ilmu: ‘ilmul-yaqin, ‘ainul-yaqin, dan haqqul-yaqin. Yang pertama ialah ‘ilmul-yaqin, yakni mengetahui sesuatu dengan menarik kesimpulan seperti kita simpulkan adanya api karena munculnya asap disuatu tempat tanpa kita melihat api itu. Tetapi jika kita langsung melihat api itu, ilmu kita tentang adanya api menjadi keyakinan  pada tingkat  yang kedua, yakni ‘ainul-yaqin. Mengetahui sesuatu  yang kita saksikan langsung melalui penglihatan mata kita, selanjutnya bisa meningkat lagi melalui pengalaman yang sebenarnya, yakni bila kita memasukkan tangan kita ke dalam api, dan benar ternyata itu adalah api yang terasa panas maka kita sampai pada tingkat keyakinan tertinggi, yaitu haqqul-yaqin.

Sumber yang memberi petunjuk kepada kita terhadap ‘ilmu yakin  adalah nalar dan informasi. Bagi orang yang tak mengimani perkara ini Qur’an menjelaskan:

“Allah tidak memaksa suatu jiwa kecuali apa yang dia usahakan”[1] (2:286).

“Mereka berkata, andaikata kami mau mendengar atau menggunakan akal sehat, niscaya kami tak akan ada di golongan para penghuni Neraka yang menghanguskan” (67:10).

Ayat-ayat yang dikutip di atas juga menunjukkan dengan jelas bahwa seseorang bisa memperoleh keyakinan melalui informasi yang akurat. Contohnya, kita tidak pernah melihat London, meskipun begitu kita yakin  terhadap adanya nama kota tersebut, sebab kita percaya kepada mereka yang pernah melihatnya. Atau, meskipun kita belum pernah melihat Aurangzeb, tetapi  tak ragu lagi bahwa dia adalah salah seorang kaisar yang pernah berkuasa di India.

Jadi kita bisa sampai kepada kesimpulan yang pasti karena adanya fakta atau adanya informasi sesuatu melalui pendengaran bila rangkaian kesaksian itu kuat. Ilham para Nabi merupakan sumber ilmu yang telah tersedia yang  dalam periwayatannya tak ada keraguan, dan para perawinya yang meriwayatkan kepada kita itu  bukanlah jenis makhluk yang tak sempurna. Tetapi jika di sana banyak terjadi perbedaan dalam satu persoalan,  bertentangan satu sama lain, dan semuanya mengaku berdasarkan wahyu, yang  diterima oleh suatu golongan bahwa bukti tersebut  berasal dari langit, sedangkan yang lainnya mencercanya sebagai kepalsuan dan buat-buatan, jika tidak berdasarkan penelaahan yang kritis, di sana tidak ada dukungan terhadap kebenaran fakta yang diriwayatkan. Jika riwayat itu tak konsisten satu sama lain, sulit untuk dipercaya,  kita tak usah repot-repot untuk menolaknya. Mereka itu tak dapat dijadikan sumber ilmu sebab mereka tidak bisa menunjukkan kepada kesimpulan yang pasti, karena mereka sendiri ragu.

Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa kebenaran Qur’an   tidak bergantung  kepada periwayatan dan keontentikkannya yang terputus-putus, karena ia berproses berdasarkan nalar. Ia tak memaksa kita untuk menerima ajarannya, pengertian maupun perintah-perintahnya semata-mata karena kekuasaan wahyunya, tetapi ia minta perhatian nalar kita dan ia memberikan berbagai dalil dalam menunjang apa yang diajarkannya. Terhadap kenyataan inilah Kitab Suci ini menyampaikan ketika ia berfirman bahwa pengertian yang ditanamkan itu mengesan didalam fitrah manusia.

“Dan inilah peringatan yang diberkahi yang Kami turunkan”[2] (21:50).

“Tak ada paksaan dalam agama”[3] (2:256).

“Dan ini dapat menyembuhkan apa yang ada dalam dada”[4] (10:57).

Qur’an bukanlah Kitab yang  semua kekuatannya berasal dari naskah kuno, yang diturunkan kepada kita melalui perjalanan peralihan waktu secara selamat, tapi itu merupakan kekuatan yang hakiki yang terletak di dalam kebenaran dalil yang dihasilkannya dan kejernihan cahaya yang dipancarkannya. Dalam hal yang sama, argumen intelektual yang mempunyai dasar dapat menuntun manusia ke dalam keyakinan. Terhadap ini, firman Ilahi menjelaskan dengan ayat-ayat berikut ini:

“Sesungguhnya di dalam terciptanya langit dan bumi dan pergantian antara malam dan siang, semua itu pertanda bagi orang yang mempunyai akal. Yaitu mereka yang ingat kepada Allah dikala berdiri, duduk, dan berbaring pada lambung mereka, dan mereka merenungkan tentang terciptanya langit dan bumi: Tuhan kami, Engkau tak menciptakan itu sia-sia! Maha-suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa Neraka. Tuhan kami, barangsiapa yang engkau masukkan ke Neraka, ia pasti Engkau hinakan. Dan bagi kaum lalim, mereka tak akan mempunyai penolong” (3:189-191).

Hati nurani, yang disebut fitrah manusia, juga merupakan sumber ilmu. Kitab Suci Qur’an berfirman:

“buatan Fitrah Allah, Ia menciptakan manusia atas fitrah itu”(30:30).

Kesan yang terdapat dalam hati sanubari manusia ini membuat ia mengenal Allah Ta’ala  yang Esa tanpa sekutu, Sang Pencipta segala sesuatu, terbebas dari pikiran  dilahirkan ataupun mati. Meskipun ilmu yang datang dari hati sanubari manusia itu tidak bisa disimpulkan, namun hati sanubari manusia itu masih kita sebut  sumber ilmu karena ia menuntun kepada satu kesimpulan dengan benang kesimpulan yang indah. Tuhan telah mengisi segala sesuatu dengan benda-benda tertentu yang sulit untuk diterangkan dengan kata-kata yang terbatas, namun, bila kita refleksikan, benda yang tak dapat diuraikan itu suatu saat memberi kesan pada pikiran. Contohnya, jika kita membayangkan wujud Tuhan dan merenungkan sifat-sifat yang kita inginkan untuk melihat diri-Nya dan memikirkan apakah Dia itu mengalami proses kelahiran dan kematian dan menderita seperti kita, gagasan seperti itu membuat kita ngeri; fitrah manusia memberontak  dan tak sampai hati, ia tak kuasa untuk menyaksikannya. Gagasan itu tak menarik hati. Bisikan hati kita suatu ketika berbicara bahwa Dia, yang segala Kekuasan-Nya harus kita yakini sepenuhnya, pasti sangat Sempurna, terbebas dari segala kekurangan dan noda. Pemahaman terhadap Tuhan dan Keesaan Ilahi hidup bersama didalam fitrah manusia, dan menyatu tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Ilmu melalui pemahaman

Kita dapat mencapai derajat keyakinan yang tertinggi dari yang telah dijelaskan di atas melalui ‘ainul-yaqin, yang artinya mengetahui sesuatu secara langsung, contohnya dalam dunia benda, kita dapat mengetahui parfum melalui sari wanginya, mengetahui rasa makanan melalui lidah dan sesuatu yang dapat diraba melalui organ peraba kita.

Semua pengalaman itu termasuk katagori ‘ainul-yaqin.  Tetapi mengenai perkara kehidupan yang akan datang, ilmu kita dapat mencapai tingkatan ini bila kita langsung diilhami oleh Tuhan, mendengarkan suara-Nya yang halus dan mengalami kebenaran wahyu-Nya. Lebih dari itu, kita merasakan keinginan itu – yakni haus akan wahyu – di dalam hati kita yang tak dapat diterangkan hingga kita mengakui bahwa Yang Maha-pengasih telah menyediakannya dengan memuaskan. Dapatkah kita, di dalam kehidupan ini yang hanya mengira-ngira yang akan datang lalu memeliharanya, tetap puas hati dengan iman buta yang berdasarkan cerita dan legenda mengenai kebenaran, kesempurnaan, kemaha-kuasaan dan kemaha-hidupan Tuhan, ataukah merasa puas dengan sedikit usaha  nalar yang dari sini memberikan kepada dunia ketidak sempurnaan dan ketidak mampuan ilmu tentang Tuhan? Tidakkah orang yang cinta kepada Tuhan sungguh mengharapkan bahwa mereka pasti menikmati karunia berwawansabda dengan Khaliknya? Dapatkah mereka, yang telah mengorbankan segala sesuatu  demi keridlaan-Nya dan menyingkirkan segala kesenangan duniawi, dan mencurahkan jiwa dan hati untuk-Nya, tetap suram tak pernah melihat gemerlapnya cahaya matahari wajah  orang-orang tulus? Benarkah bahwa manisnya sabda Ilahi ”Aku” mengkaruniakan ilmu yang lebih baik tentang perwujudan-Nya dari semua nalar para filsuf, sejauh apa yang mereka tulis, mencari bukti keberadaan Tuhan dengan cahaya nalar yang tak memadai, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kata-kata tersebut?

Singkatnya, jika Yang Maha Kuasa ingin memberikan ilmu-Nya yang sempurna kepada orang yang mencari kebenaran, Dia tak menutup pintu  melalui mereka yang disinari oleh firman-Nya. Dalam hubungan ini, Qur’an mengajarkan do’a kepada kita:

“Tunjukkanlah kami ke jalan yang benar, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” (1:6)

Perlu dicatat bahwa “karunia” di sini menunjukkan “karunia samawi”  yang diterima oleh seseorang  langsung dari Tuhan, seperti kasyaf dan ilham. Di lain ayat bisa kita baca:

“Bagi mereka adalah kabar gembira di kehidupan dunia ini dan di akhirat” (10:64).

Di tempat lain masih ada, Yang Maha-kuasa berfirman seperti di bawah ini mengenai orang-orang tulus:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tak henti-hentinya pada jalan yang benar, para Malaikat akan turun kepada mereka, ucapnya: Jangan takut dan jangan berduka cita, dan terimalah kabar baik tentang Sorga yang dijanjikan kepada kamu” (41:30).

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang tulus diberi wahyu oleh Tuhan dikala sedang takut dan duka, dan para malaikat dikirim untuk menghibur mereka.

Makna ilham

Sebelum melanjutkan, kiranya perlu disini  menghilangkan salah pengertian mengenai ilham. Kata ini artinya bukan suatu gagasan yang dihembuskan ke dalam pikiran seseorang yang sedang memikirkan sesuatu. Seorang penyair tidaklah diberi ilham, dalam pengertian teologi, bila gagasan yang brilian menyinarinya dikala ia duduk sedang menuliskan syairnya. Dalam perkara seperti ini, sebenarnya tak ada bedanya antara baik dan buruk. Bila kekuatan mental dapat menerapkan apa yang sedang direnungkan, gagasan baru menerangi pikirannya sesuai dengan kejeniusan si pemikir tersebut tanpa mengenal antara sifat yang baik dan yang buruk terhadap permasalahan yang dihadapinya.

Jika ilham diartikan sebagai gagasan baru, seorang pencuri atau perampok pun dapat saja dikatakan  mendapat ilham (mulham) dengan perencanaan baik dan cerdik yang datang dari pikiran jahat untuk melakukan perbuatan jahat. Ilham yang seperti ini dipahami oleh orang-orang yang buta terhadap Tuhan Yang menganugrahkan kedamaian dan kebahagiaan di hati orang-orang tulus dan memberikan ilmu hakikat rohani  kepada  mereka yang tak peduli terhadap perkara itu.

Kalau begitu, apa artinya ilham? Itu adalah firman Ilahi yang kuat dan hidup Yang Dia bicarakan atau Dia sampaikan kepada para hamba-Nya yang Dia pilih dari antara umat Nya. Tatkala wawansabda  berlangsung terus menerus secara teratur, – bukan sesuatu yang tak sempurna atau pecahan-pecahan atau terselubung didalam kegelapan gagasan yang jahat – dan memiliki karunia samawi, bijaksana dan kuasa, itulah firman Ilahi yang dapat menghibur para hamba-Nya yang tulus dan Dia datang sendiri kepada mereka. Benar bahwa firman itu kadang-kadang berbicara kepada seseorang dengan cara menguji, tetapi firman itu tidak disertai  kesempurnaan dan karunia yang diperlukan untuk kebenaran ilham. Dalam tingkatan yang paling awal ini, seseorang diuji, apakah ia itu akan tergelincir karena kelemahan nafsu dagingnya ataukah merasakan manis dan hidupnya sumber ilham yang hidup, mentransformasikan dirinya dan menjadikan dirinya seperti mereka yang benar-benar menerima wahyu. Jika dia tak berjalan dijalan kebajikan seperti para hamba yang beriman sepenuhnya, ia akan terjauh dari karunia tersebut dan tak ada apa-apa kecuali kesia-siaan  saja di dalam hatinya.

Perlu diingat pula bahwa semua orang yang menerima ilham derajatnya tidak sama dalam pandangan Tuhan. Bahkan para Nabi sekalipun yang bobot ilham maupun wahyunya jauh di atas yang lainnya dalam kejernihan, kekuatan maupun keluhurannya, derajatnya pun tidak sama. Allah Ta’ala berfirman:

“Kami telah membuat sebagian Utusan itu melebihi sebagian yang lain”(2:253).

Dari sini muncul pengertian bahwa ilham tiada lain adalah karunia Ilahi dan bukan  tingkatan-tingkatan derajat yang telah dicapai karena campur tangan manusia, karena yang belakangan tergantung pada ketulusan, pengabdian dengan  keimanan seseorang terhadap Yang Maha Kuasa. Ilham juga merupakan  buah dari sifat  ini. Jika jawaban dikabulkan tatkala seseorang memohon kepada Tuhan-nya, dan jawaban itu lancar serta tidak terputus, dan firman itu disertai oleh kagungan dan cahaya Ilahi, dan turun dengan mengandung rahasia yang dalam tentang masa yang akan datang serta mengandung kebenaran yang tersembunyi, maka tak ragu lagi pastilah itu ilham. Perlu diketahui bahwa antara Allah Ta’ala dengan si penerima ilham itu hubungannya sangat dekat sekali bagaikan dua sahabat karib saling berbicara. Bila orang itu menyampaikan do’anya, maka do’anya dikabulkan dengan kata-kata manis dan lembut yang dituturkan oleh sang Pencipta, bukan hasil dari keinginannya sendiri atau sesuatu yang disampaikan ataupun refleksi dirinya. Dia akan terus menerus dikaruniai ucapan seperti itu dan selalu dijawab, maka sungguh ucapan yang datang kepadanya itu adalah firman Ilahi.

Bahkan hadiah suci dan ucapan yang hidup itu turun dengan jelasnya, dan tidak bercampur dengan keinginan rendah, dan ini tidak diberikan kepada sembarang orang melainkan kepada orang yang hatinya penuh dengan derajat keimanan dan ketulusan. Ilham yang benar dan murni turun dari Tuhan. Sering sekali, suatu cahaya berkilauan tercipta dan berbarengan dengan itu datanglah cahaya dan ilham yang mulia. Karunia atau kebahagiaan apakah yang lebih mulia yang dapat dibayangkan selain dapat berwawansabda dengan Pencipta langit dan  bumi yang Maha-tinggi kemudian diajak bicara oleh-Nya?

Perlu dicatat bahwa jika hanya berbicara dan mengungkapkan belaka tanpa dapat membedakan sesuatu yang datang dari Ilahi Rabbi, itu bukanlah ilham. Seseorang yang mendapatkan dirinya dalam kondisi seperti ini sebenarnya masih diuji. Mengapa, karena Allah kadang-kadang menguji manusia yang lengah dan lalai dalam melaksanakan kewajiban mereka terhadap-Nya, yaitu memasukkan ucapan-ucapan ke dalam alam pikirannya dan menyebabkan mereka berujar, bagaikan orang buta yang tak tahu apakah ucapan itu datang dari Tuhan ataukah dari Setan. Seseorang yang tengah diuji harus hati-hati dan harus memperbaiki diri.

Orang tulus, – yang kepadanya pintu-pintu ilham selalu dibuka dan selalu diajak bicara oleh Tuhan, memiliki cahaya, lembut, mulia, memiliki makna yang dalam dan jauh lebih bijaksana daripada manusia biasa, permohonan dan keinginannya selalu dikabulkan oleh-Nya sesering yang ia minta, yang tujuan permohonannya kepada-Nya itu diulang-ulang, demikian pula jawabannya, yang do’anya sering dikabulkan sepanjang waktu, yang diberitahu tentang kebenaran hakiki, dan keutamaan melaui ilham, – ia wajib bersyukur kepada Allah Ta’ala dan mempersembahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Mengapa, karena bagi orang yang telah dipilih oleh karunia dan kasih-sayang-Nya, dan menjadikan dirinya sebagai pewaris segala berkah yang telah Dia karuniakan kepada orang-orang tulus sebelumnya. Tapi harus diingat pula bahwa karunia Ilahi yang tinggi itu jarang dianugrahkan, dan cuma kepada beberapa gelintir orang saja, dan bagi mereka yang telah mendapatkan karunia Ilahi ini membandingkan karunia lainnya sebagai tak ada harganya jika dibandingkan dengan ini.

Kiranya tak akan keluar jalur untuk menyatakan di sini bahwa di antara kaum Muslimin ada yang secara individu yang selalu diangkat ke tingkat kedudukan rohani yang istimewa ini. Islam adalah agama yang Tuhan menarik para hamba-Nya kepada-Nya dan berwawansabda  langsung  kepada mereka. Dia menganugrahkan kepada mereka semua karunia yang pernah Dia anugrahkan kepada para orang tulus sebelumnya. Betapa buta dunia ini dan tak tahu manusia apakah yang bisa mencapai kedekatan kepada Yang Maha-rahman.[5]

Mungkin saya bisa keliru jika saya menutup kenyataan bahwa saya telah diangkat ke tingkat rohani yang tinggi ini. Allah Ta’ala telah menganugrahkan firman-Nya kepada saya, dan memilih saya hingga saya bisa memberikan pandangan kepada yang buta, membimbing orang yang mencari kebenaran kepada tujuan yang mereka capai dan memberikan kabar gembira kepada orang yang menerima kebenaran, yaitu sumber kesucian yang sudah banyak dijalani oleh orang-orang, tetapi hanya terdapat sedikit. Saya tak ragu lagi berkata bahwa, kecuali mengikuti petunjuk Qur’an, tak seorang pun bisa menemui Tuhan sejati Yang menyelamatkan manusia dan memberikan karunia abadi. Keinginan hati saya yang paling dalam  dan orang lain mungkin bisa melihat apa yang telah saya lihat dan mendengar apa yang telah saya dengar; mungkin mereka menolak cerita-cerita yang tak berguna  dan menerima kebenaran, bahwa sumber ilmu yang sempurna  yang membawa seseorang kepada keharibaan Tuhan, yakni air surgawi nan suci yang menyuci semua keraguan, yaitu cahaya cermin yang melalui itu kebesaran Ilahi turun, yaitu firman Tuhan – ilham Ilahi.

Saya yakin bahwa jika keinginan jiwa itu sungguh-sungguh, dan hati benar-benar mengharapkan itu, orang harus mencari jalan ini dan melakukan penelaahan di jalan ini. Tetapi bagaimana mungkin jalan ini bisa terbuka dan hijab kebodohan bisa menyingkir? Saya meyakinkan semua orang yang mencari kebenaran,  bahwa Islamlah yang menjajikan kesuksesan yang bahagia ini bagi si musafir dan memberikan kabar gembira jalan keselamatan ini. Hakikat jalan untuk mencari ilham terbuka hanya bagi para pengikut Nabi Suci Muhammad.

Ada sebagian orang berpendapat bahwa Tuhan telah menutup jalan ini; pandangan tersebut hanya pendapat mereka yang diri mereka sendiri menghalangi karunia samawi. Yakinilah itu, karena seperti halnya orang tidak bisa mendengar sesuatu tanpa adanya telinga, tak bisa bicara tanpa lidah, dan tak dapat melihat tanpa mata, dalam hal yang sama pun dia tak akan bisa melihat Yang Maha Pengasih tanpa Qur’an. Allah Ta’ala Yang  anugrah-Nya berlimpah tak ingin  menutup pintu ilham lalu menghancurkan dunia. Pintu gerbang itu masih terbuka lebar yang melalui itu orang dapat memasuki karunia ilham samawi. Tetapi untuk mencari itu, seseorang harus berjalan di jalan yang benar dan hanya dengan jalan ini saja ia akan mendapatkannya. Air kehidupan turun dari langit dan  melimpah di tempat penampungan yang agung. Untuk bisa minum darinya, dia harus sampai ke sana, loncat dan menjatuhkan diri, dan memasang bibirnya ke air kehidupan yang sejuk. Di sini terdapat kebahagiaan orang dimana dia harus lari ke titik itu yang setiap jejaknya mendapat Sahabat Yang dia cari. Seperti halnya cahaya datang dari langit dan menerangi dunia, cahaya hakikat kebenaran itu pun datang dari langit.

Bukan melalui ucapan ataupun menerka-nerka bahwa orang bisa mencapai sumber Ilmu Ilahi. Apakah mata itu berguna mencari sesuatu di kegelap-gulitaan? Jika iya, lalu nalar pun bisa saja menjadi petunjuk untuk mencari ilmu Ketuhanan yang sempurna. Tuhan sejati bukanlah sepertri seorang Yang bibirnya disegel dan Yang harus meninggalkan kita yang Dia itu selalu kita cari. Apalagi, Sang Pencipta yang Maha-sempurna dan Maha-hidup itu tidak pernah memberikan ayat-ayat yang salah tentang keberadaan-Nya dan hingga sekarang pun Dia tetap mengabulkan ayat-ayat itu kepada generasi sekarang. Saatnya akan tiba ketika pintu-pintu langit akan terbuka. Fajar akan segera menyingsing. Berbahagialah mereka yang terangkat dan mencari Allah Yang cahaya keaguangan-Nya tak pernah padam. Qur’an berfirman:

“Allah adalah cahaya langit dan bumi” (24:35)

Jelas, bahwa bahwa dari Allah-lah cahaya itu memancar. Dialah mataharinya matahari, dan Dialah Hidupnya dari segala yang hidup, Dialah Tuhan Yang Maha-benar dan Maha-hidup. Berbahagialah orang yang dapat menerima-Nya.

Ilmu melalui penderitaan

Sumber ilmu lainnya ialah yang sempurna di dalam tingkatan tertinggi dan membuat manusia sadar terhadap keyakinan keberadaan Ilahi. Ini terdiri dari kemalangan dan kesukaran yang para Nabi maupun orang-orang tulus mendapat kesulitan di tangan  para musuh atau memang karena putusan samawi. Penderitaan membuat orang sadar sepenuhnya terhadap  perintah undang-undang  yang diamalkan dalam  kehidupannya. Ajaran agama hanyalah teori belaka dan kesempurnaannya dapat dirasakan hanya melalui amal perbuatan. Seseorang yang sedang mengalami penderitaan sebenarnya mempunyai kesempatan untuk menggelar gudang ilmu yang tersembunyi di dalam hatinya menjadi kenyataan dalam lingkungan hidup, dan dengan penerapannya yang benar dia menjadi perwujudan petunjuk Ilahi yang sempurna.

Sifat akhlak, yang pada mulanya tersimpan dalam hati dan otak, digelar melaui amal perbuatan  dalam segala kemampuan lahir dan batin; dan pengampunan, keberanian, kesabaran, kasih, dan sebagainya, bukan sekedar nama belaka bagi seseorang itu, tetapi menjadi kenyataan yang dia rasakan dan dia lihat, yang itu mengesan di alam lahiriah maupun batiniahnya. Dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan  ketakutan dan kelaparan dan kehiulangan harta dan jiwa serta buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang yang sabar, yaitu orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Inilah orang yang memperoleh karunia dan rahmat dari Tuhan mereka, dan inilah orang yang terpimpin pada jalan yang benar” (2:155-157).

Di sini kita diberitahu bahwa tidak ada keluhurann yang lebih utama dimana ilmu itu adalah perbendaharaan di dalam hati dan akal, dan ilmu itu akan bernilai jika diterapkan dalam amal perbuatan, yang akan memberikan warna terhadap kehidupan seseorang. Untuk menghidupkan dan memperkokoh ilmu  seseorang, makna yang paling utama adalah penerapannya dalam praktek maka kesannya tidak hanya tinggal di dalam pikiran saja tetapi di atas setiap kemampuan dan anggota badan. Sebenarnya, setiap jenis ilmu, serendah apa pun, itu tak akan berguna sepanjang tak diamalkan. Terhadap masalah inilah Tuhan Yang Maha Kuasa minta perhatian kita dengan ayat singkat di bawah ini. Kita diberitahu bahwa akhlak kita akhirnya tak akan berkembang hingga itu dibuktikan dengan penderitaan dan cobaan yang sudah barang tentu dalam hubungannya dengan pengamalan ilmu tersebut:

“Sesungguhnya kamu akan diuji  dalam harta dan jiwa kamu. Dan sesungguhnya kamu akan mendengar banyak caci maki dari orang-orang yang telah diberi Kitab sebelum kamu, dan kaum musyrik Dan jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya ini adalah perkara yang harus diniati dengan kuat” (3:185).

Ayatini menunjukkan jelas sekali bahwa ilmu tidak akan sempurna dan tak akan berbuah tanpa diamalkan. Ilmu yang mendapat keunggulannya di dalam amal perbuatan, merupakan karunia, tetapi jika itu tanpa diamalkan maka tak mempunyai nilai apa-apa.

Kesempurnaan ada  dalam amal perbuatan

Penerapan ilmu dalam amal itulah yang membuat orang bisa mencapai derajat tertinggi, karena kebenaran itu tak dapat terealisasi hingga setiap sudutnya dipraktekkan. Inilah yang terjadi dalam Islam. Ajaran apa pun yang terdapat dalam Qur’an betapa indah diilustrasikan dalam amal perbuatan kehidupan Nabi Suci Muhammad maupun dalam kehidupan para sahabat beliau  yang telah diterangi dengan cahaya yang sesungguhnya. Dalam memenuhi tujuan ini, Yang Maha-tahu membagi kehidupan Nabi kita kepada dua periode yang berbeda; yakni periode penderitaan, kemalangan dan pengejaran, dan periode kemenangan dan kemakmuran. Ini dilakukan  untuk mengisi kesempatan  menggelar dua jenis nilai akhlak tadi; yaitu yang  dapat dibuktikannya dikala menderita, dan  yang tak dapat dibuktikannya kecuali dalam kemenangan dan kemakmuran. Dengan cara ini, beliau telah membawa nilai akhlaknya ke dalam ujian praktek, dan dua periode dari kehidupan beliau itu  memudahkan beliau  menerapkannya dalam derajat yang tinggi.

Tigabelas tahun di Makkah menghadirkan saat penderitaan, dan jika menelaah kehidupan Nabi Muhammad selama periode itu menunjukkan jelas sekali bahwa tak ada satu nilai akhlak pun yang dapat menunjukan penderitaan dengan ketulusan yang tidak diterapkan oleh beliau. Beliau sepenuhnya yakin terhadap Allah. Sedikit pun tidak menunjukkan ketidak sabarannya, ketenangan dan kekalemannya, kemuliaan dan kebaikan hatinya, aktifitas dan kegiatan yang tak tergoyahkan  dalam melaksanakan kewajiban yang dipercayakan kepada beliau, ketabahannya, keberaniannya yang tak pantang mundur, dan sejumlah besar akhlak mulia lainnya, begitu dalam mengesan bahkan para musuhnya sekalipun menyaksikan  mukjizat luar biasa terhadap ketabahan yang dilakukan dibawah cobaan berat dan penderitaan dan puncak-puncaknya yakin bahwa semua ini adalah disebabkan keyakinan beliau yang sempurna terhadap Yang Maha Kuasa.

Kemudian diikuti oleh kehidupan beliau di Madinah – suatu periode kemenangan,

keunggulan dan kemakmuran, adalah rangkaian penggelaran sifat akhlak lainnya. Pengampunannya, kedermawanannya, simpatiknya, keberanian dan sifat akhlak tinggi lainnya benar-benar digelar dengan indahnya sehingga sejumlah kaum kafir memeluk Islam. Beliau membebaskan para musuhnya yang pernah mengejar-ngejar dan mencelakakannya, memberikan naungan terhadap mereka yang pernah mengusirnya dari Makkah, menolong kaum papa di antara mereka, dan menunjukkan kebaikan terhadap mereka yang sangat memusuhinya di kala mereka hidup sepenuhnya di bawah kasih   sayang beliau.  Moral yang tinggi yang digelar oleh Muhammad meyakinkan bangsa Arab bahwa Nabi mereka pasti utusan Tuhan Yang Maha Kuasa dan benar-benar manusia yang tertulus. Kebencian mereka yang tiada taranya itu dengan akhlak mulia beliau dapat dimasukkan ke dalam persahabatan yang setia.

Salah satu akhlak mulia dan utama ini diterangkan dalam ayat ini:

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, pengabdianku, hidupku dan matiku, karena Allah, Tuhannya alam semesata” (6:163).

Jangan sekali-kali dibayangkan bahwa mati di jalan Allah dan  mengabdi kepada kemanusiaan yang dikatakan di sini, berarti Nabi  penipu diri sendiri seperti orang bodoh  dan orang gila yang membunuh kehidupannya sendiri  yang  bermanfaat bagi orang lain. Malahan, beliau membenci semua gagasan seperti itu dan Qur’an memandang orang   yang menyuguhkan pengertian tersebut sebagai  kejahatan serius:

“Dan janganlah kamu menjatuhkan diri dalam kesengsaraan dengan tanganmu sendiri, dan berbuat baiklah (kepada orang lain)” (2:195)

Benar sekali bahwa seseorang  tak akan dapat menyembuhkan sakit kepala orang lain dengan memecahkan kepalanya sendiri. Itu adalah langkah  yang sangat tidak bijaksana. Singkatnya, menunjuk kepada kematian Nabi di jalan Allah dan bermanfaat bagi kemanusiaan berarti bahwa Muhammad telah mempersembahkan hidupnya untuk mengabdi dan demi kesejahteraan umat manusia karena kecintaan beliau yang luar biasa, dan dengan do’a serta ajarannya dan mengangkat setiap metode yang bijaksana untuk regenerasi umatnya, sebagaimana ditunjukkan dengan kesabarannya dalam menghadapi pengejaran mereka, beliau mengorbankan hidupnya sendiri dan juga mengorbankan kesenangan hidupnya di jalan ini.  Menunjuk kepada pengorbanan hidupnya, Qur’an di tempat lain menyatakan:

“Boleh jadi engkau akan membunuh dirimu sendiri karena duka-cita yang dalam karena mereka tak mau beriman (26:3)

“Janganlah jiwa engkau merana, tenggelam dalam kesedihan karena mereka” (35:8).

Jalan di mana orang harus mengorbankan hidupnya demi umatnya adalah untuk mengatasi segala kesulitan, dan bekerja keras demi kesejahteraan mereka dengan melebeihi ukuran  untuk keadaan mereka yang lebih baik.

Adalah kebodohan jika mengira bahwa pengorbanan yang sesungguhnya demi umat, yang benar-benar tenggelam jauh ke dalam dosa dan berkutat di alam kesesatan, ingin melakukan bunuh diri. Untuk mengetahui perbuatan bodoh ini karena menunjukkan kepada keselamatan mereka yang tersesat adalah sangat mustahil. Itu adalah pengkhianatan, jika tak punya perasaan, paling tidak karena lemahnya akhlak dan kehilangan jiwa keberanian. Ini adalah manusia pengecut yang mencari perlndungan di dalam kematian dalam menghadapi kesulitan yang tak sanggup dia hadapi. Dengan jalan apa pun lebih lanjut bisa dikatakan bahwa membunuh diri itu tak ragu lagi adalah perbuatan yang sangat bodoh  akibat lemahnya jiwa.

Agar bisa memberikan contoh sempurna akhlak yang tinggi, seseorang harus melalui kebahagiaan ataupun kemalangan. Apabila dia disiksa dan mengalami penderitaan dan kesukaran, dan tak ada kesempatan untuk membalas dendam kepada para musuhnya, dia tidak bisa dikatakan mempunyai nilai pengampunan atas luka hatinya. Apa yang harus dilakukan apabila dia memiliki kekuatan untuk membalas dendam terhadap musuhnya itu tak bisa dipastikan. Untuk mengetahui bahwa seseorang itu memiliki akhlak yang tinggi,  ini tak bisa diketahui apakah dia menunjukkan ketabahan hati dan kesabaran tatkala ia tak memiliki kekuatan dalam menghadapi para musuhnya dan disiksa oleh mereka, tapi juga ia bebas untuk memaafkan para musuh tersebut ketika ia benar-benar memiliki kekuatan, dan ketika mereka sepenuhnya di bawah kasih sayangnya.

Jika dia tak pernah berangkat ke medan tempur, keberaniannya dapat dibantah. Dan kita tak dapat mengatakan apakah dia  akan menunjukkan kepahlawanannya ataukah ia pengecut. Jika ia tak pernah mengalami berkelimpahan, akan sukar sekali untuk mengatakan apakah dia akan menimbun kekayaannya ataukah  akan mensedekahkan hartanya. Karunia Ilahi dianugrahkan kepada Nabi yang bisa menggelar semua kebajikan akhlak tingginya seperti sabar, baik hati, berani, pemaaf, adil dan lain sebagainya dalam bentuk derajat sejati yang tinggi yang tak ada bandingannya dalam sejarah.[6]

Kiranya perlu ditambahkan di sini bahwa suatu kenyataan bahwa pengampunan itu tidak bisa diulurkan kepada musuh Islam yang tak dapat didamaikan yang benar-benar ingin membasmi  Kebenaran dan tak mengenal belas kasihan membasmi kaum Muslimin yang tak berdosa atau membuat mereka teraniaya bahkan dibunuh secara sadis. Mengampuni orang-orang semacam itu berarti melenyapkan orang-orang beriman yang tulus.

Tujuan perang yang dilakukan oleh kaum Muslimin atas perintah Nabi Muhammad bukan untuk menumpahkan darah. Mereka itu diusir dari rumah mereka dan mencari perlindungan di mana-mana dan banyak sekali kaum Muslimin yang tak berdosa, laki-laki maupun perempuan dibunuh begitu saja oleh si pembunuh berdarah dingin. Bahkan manusia yang tak mengenal belas kasihan itu tak cukup sampai di situ, tapi terus mengejar ke mana pun kaum Muslimin berada. Dengan mentaati perintah Ilahi untuk membela diri, maka pedang diizinkan untuk dikibaskan melawan mereka yang mengibaskan pedang terlebih dahulu untuk memusnahkan Islam:

“Perang diizinkan kepada orang-orang yang diperangi karena mereka dianiaya. Dan sesungguhnya Allah itu kuasa untuk menolong mereka” [7](22:39).

Tujuan perang tersebut adalah untuk meredakan kejahatan dengan mengurangi pertumpahan darah karena diserang oleh kaum kafir. Jika kaum muslimin yang penuh iman tidak mempertahankan diri mereka dalam situasi dan kondisi seperti itu dengan jalan melawan para musuh yang menggempur mereka secara  sadis, niscaya akibatnya akan lebih fatal lagi, yaitu akan banyak lagi orang tak berdosa dibantai, dan Islam akan dibasmi sampai ke akar-akarnya.


 

[1] Di dalam ayat ini, Tuhan memberi pengertian yang jelas kepada kita, bahwa ajaran dan keimanan yang Dia mengajak kita melalui para Rasul-Nya hanyalah sebatas kemampuan pemahaman dan sebatas pengetahuan manusia, dan Dia tak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuannya.

[2] Kitab yang diberkahi ini tidak mengajarkan yang aneh-aneh maupun cerita novel, tapi ini adalah Peringatan yang bisa mengesan  dalam sanubari manusia dan  dalam hukum alam.

[3] Apa yang disampaikan oleh Nabi bangsa Arab dalam menyampaikan Islam yang ditujukan kepada segenap manusia atau pedang sebagai alternatif lain bagi para penyembah berhala Arab, ayat ini cukup untuk menjawab. Islam tak pernah memaksakan kepada seseoarang untuk menerima ajarannya, tetapi menyampaikan alasan untuk bisa diterima.

[4] Ayat ini memberi makna bahwa Qur’an sebagai penyembuh bagi segala penyakit rohani.

[5] Perlu dijelaskan bahwa manusia pada umumnya  tak pernah peduli  satu langkah pun untuk dekat  kepada Allah, tetapi orang yang berjalan di jalan ini  suka dicap kafir atau sebaliknya suka disembah. Kedua golongan ini dua-duanya salah, karena yang satu kelewatan membencinya dan yang satu lagi kelewatan menyukainya. Tapi orang yang bijaksana pasti mengambil jalan tengah,  ia tidak menolak orang pilihan Tuhan  karena mencapai kedekatan tersebut dan tidak juga bersujud di hadapannya.

[6] Kesalahan para musuh Islam terletak pada salah memahami sifat-sifat Ilahi. Mereka berpikir bahwa undang-undang yang diwahyukan seharusnya jangan mencegah kejahatan atau menghukum orang yang berbuat jahat. Kecintaan dan kasih sayang Ilahi seharusnya jangan diwujudkan kecuali dalam bentuk kesabaran. Bagi mereka, penunjukan terhadap sifat-sifat Ilahi itu  terdiri pada terbatasnya sifat sempurna-Nya dalam bentuk lemah-lembut. Ini sungguh amat keliru. Setiap orang yang dapat berpikir pada dirinya sendiri akan melihat bahwa undang-undang Ilahi di Alam semesta, meskipun itu merahmati manusia,  tidak selalu berbentuk halus dan lemah-lembut. Jiwa Penyembuh Ilahi, yang kasih sayangnya tidak terbatas, kadang-kadang memberikan kepada kita sirup yang manis untuk diminum, dan kasih sayang-Nya juga memberikan obat yang pahit pada kesempatan lain. Dua-duanya adalah manifestasi rahmaniyat-Nya. Jadi itulah rahmat yang dikehendaki bahwa rang jahat harus dibinasakan jika Dia melihatnya  mereka menuju ke arah pemusnahan orang-orang tulus dan berlaku jahat di bumi ini dan selalu menumpahkan darah. Untuk meksud ini, Dia memberlakukan hukuman bagi orang-orang jahat baik yang datang dari bumi sendiri maupun dari langit, karena Dia Maha-bijaksana dan Maha-kasih dan sayang.

[7] Menurut Hadits sahih, ayat ini merupakan ayat pertama yang mengizinkan kaum Muslimin untuk berperang. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ayat ini  diwahyukan di Makkah. Sebaliknya, diturunkannya ayat ini dikenal dengan adanya janji sumpah setia atau bai’at yang dilakukan di Aqaba. Nabi Suci diminta oleh para delegasi dari Madinah untuk mengadakan bai’at dengan mereka untuk membela beliau dari serangan para musuh seperti mereka mempertahankan dan membela anak-anak mereka sendiri. Kata-kata yang mengizinkan perang kepada kaum Muslimin menunjukkan seterang-terangnya bahwa perang itu mula-mula dilancarkan oleh pihak musuh terhadap kaum Muslimin, dan kedua, kaum Muslimin telah menderita akibat penindasan yang berat di tangan para penindasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: