Falsafah Islamiyah (4) – Akibat Amal Perbuatan

Oleh : Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

“Dan tiap-tiap perbuatan manusia Kami kalungkan pada lehernya. Dan Kami keluarkan kepadanya pada Hari Kiamat berupa kitab yang akan ia jumpai terbuka lebar” (17:13).

Betapa benar dan sempurna Undang-undang yang diturunkan oleh Tuhan, yang secara praktis berlaku di dalam  hati manusia, adalah masalah keempat yang secara singkat akan dikemukakan. Kiranya perlu diingatkan kembali bahwa sebagian dari permasalahan ini sudah dibicarakan dalam pembahasan pertama.

Manusia sempurna

Kesempurnaan undang-undang Ilahi mempermudah manusia untuk bangkit dari kebodohan yang paling dalam ke puncak ketinggian cahaya dan ilmu; ia mengubah kebiadaban, dari manusia tak berakhlak  ke tingkat akhlak tinggi, dan terakhir mentransformasi akhlaknya ke tingkat kerohanian dan kesalehan.

Lebih dari itu, kekuatan Undang-undang tersebut mempunyai pengaruh terhadap aturan hubungan antara manusia dengan sesamanya dan menumbuhkan rasa simpati terhadap mereka. Dengan bantuan Undang-undang Ilahi  itu, secara bertahap dia mulai  melihat dan mengetahui hak-hak orang lain dalam pergaulannya, lalu menerapkan sifat-sifat keadilannya, kebaikannya maupun simpatinya pada saat yang tepat. Ia dengan leluasa berbagi ilmu, kekayaan, kebahagiaan dan karunia lainnya yang telah dikaruniakan oleh Yang Maha-pengasih kepadanya sesuai dengan kemampuannya. Ibarat matahari, ia memancarkan cahayanya ke segala penjuru, dan pula bagaikan bulan, ia menyalurkan cahayanya kepada yang lain dari cahaya yang ia terima dari sumber cahaya yang hakiki dan agung. Ia terang bagaikan siang hari dan menunjukkan jalan yang benar dan kebaikan, dan pula seperti malam, ia menyingkap tabir orang yang bersalah dan menyimpang, dan dapat menenangkan orang yang  kelelahan dan keletihan. Bagaikan langit,  ia dapat menaungi orang yang sedang tertimpa kemalangan dan menghidupkan kembali bumi yang mati dengan air hujan yang menyuburkan, bagaikan bumi, ia berserah diri penuh kerendahan hati dan tawadlu ditapaki kaki orang lain dengan berbagai ujian  bagi mereka dan menyediakan mereka hasil berbagai jenis buah-buahan rohani.

Pengaruh berjalan didalam mentaati peraturan Undang-undang Ilahi, ini dapat mempermudah orang untuk melaksanakan kewajibannya kepada Allah dan orang tersebut pantas  serta terpuji. Dia berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi dan sepenuhnya pula mengajak untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Itulah transformasi ketaatan pada Undang-undang yang menjadi sebab manusia hidup di dunia ini.

Di dalam kehidupan yang akan datang, penyatuan rohani dengan Sang Pencipta akan lebih jelas lagi terwujud yang dapat membantu melihat Allah dan pengabdian kepada makhluk-Nya – yang telah dilakukan oleh seseorang  karena cinta kepada-Nya semata-mata karena iman serta kehendak berbuat baik menjadi pendorongnya  – yang kelak akan tergambar bagaikan pohon dan sungai di Sorga. Ayat-ayat Kitab Suci berikut ini  dikutip sehubungan dengan itu:

“Demi matahari dan sinarnya, dan demi bulan tatkala meminjam cahayanya, dan demi siang  tatkala memancarkan cahayanya, dan demi malam tatkala menutupinya, dan demi langit dan bangunannya, dan demi bumi dan terbentangnya, dan demi jiwa dan kesempurnaannya, maka Dia wahyukan kepadanya jalan keburukan dan jalan kebaikan.[1] Sungguh beruntung orang yang menumbuhkan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengubur jiwanya. Kaum Tsamud mendustakan dengan pendurhakaannya, tatkala orang yang paling keji di antara mereka bangkit dengan kejahatan, maka berkatalah Utusan Allah kepada mereka: (Biarkanlah) unta betina Allah, dan berilah minum kepadanya. Tetapi mereka mendustakan Utusan dan menyembelihnya. Maka Tuhan membinasakan mereka Karena dosa dan Dia membuat mereka rata dengan tanah, dan ia tak takut akan akibatnya”[2] (91:1-15).

Orang celaka yang tak suci jiwanya sungguh telah melukai unta Tuhan dan menyingkirkannya dari sumber mata airnya. Ini adalah sindiran terhadap kenyataan bahwa rohani manusia adalah “untanya Tuhan” yang dia tunggangi, yaitu, hati manusia adalah mahkota manifestasi keagungan Sang Pencipta, dan air yang menjadi sumber kehidupan onta itu adalah cinta dan ilmu Ilahi. Seperti akibat yang diterima kaumnya Tsamud, kita diberitahu bahwa “ketika mereka melukai onta dan melarangnya untuk minum, mereka dibinasakan dan Tuhan tak peduli terhadap para pemuda maupun para janda mereka”. Demikianlah nasib setiap orang yang melukai onta rohaninya, tidak peduli terhadap kesempurnaannya dan menjauhi air kehidupan.

Sumpah Ilahi

Sumpah Tuhan dengan makhluk-Nya adalah suatu pelajaran yang diangkat oleh Qur’an dimana para lawan Islam sering sekali tergelincir dalam kesalahan.  Keberatan mereka itu tiada lain karena tidak bisa memahaminya. Sumpah Kitab Suci yang menjadi penyebab utama mereka tak mau mengerti, adalah rahasia alam yang sangat dalam. Para tukang kritik yang tak mampu membandingkan itu, cuma menganggapnya remeh belaka. Agar dapat mengerti tujuan ini sepenuhnya, kita harus merenungkan makna sumpah itu.

Dalam suatu transaksi atau dalam suatu sidang pengadilan, ketika seseorang diambil sumpah, tujuannya semata-mata untuk melengkapi kekurangan saksi yang tak cukup. Ia bersumpah demi Tuhan untuk bersaksi bila tak ada saksi lain dalam perkaranya; karena Allah Ta’ala-lah Yang Maha-tahu segala rahasia dan Saksi Sejati di dalam setiap perkara. Perkara yang dia inginkan agar Tuhan menjadi saksi adalah perbuatan-Nya, yakni,   kebenaran  pernyataannya ingin diperkuat jika Tuhan tidak menurunkan hukuman kepadanya setelah bersumpah, sebagai pertanda ketidaksukaan-Nya karena  sumpah palsu. Dengan alasan ini pula, seseorang dilarang  bersumpah atas nama makhluk, karena makhluk tersebut tidak memiliki kekuatan  untuk mengetahui rahasianya atau menghukumnya karena sumpah palsu.

Tujuan dan arti sumpah Ilahi, pasti berbeda dengan mereka yang berjasad. Undang-undang  Ilahi turun dua kali lipat dari sifat makhluk Tuhan: nyata dan dapat disimpulkan. Yang pertama mudah  dipahami, dan untuk mengetahuinya cuma perlu ada sedikit  pengetahuan atau hampir tidak ada perbedaan, tetapi untuk memahami yang belakangan di sana banyak kesalahpahaman  dan banyak perbedaan pendapat. Dalam bentuk sumpah, Yang Maha-luhur meminta perhatian terhadap yang mungkin bisa disimpulkan dari yang sudah nyata.

Untuk bersumpah, disebutkan didalam ayat-ayat yang dikutip diatas,  matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi termasuk golongan pertama dan barang-barang yang diketahui oleh semua manusia. Tetapi barang yang sama yang terdapat didalam hati tidaklah jelas. Untuk bisa menyimpulkan keberadaan benda-benda tersebut didalam jiwa manusia, Sang Pencipta menyebutkan kesaksian karya-karya Nya. Sumpah singkat bisa jadi terbentang didalam rangkaian nalar. Hakikat keghaibannya yang dimiliki oleh jiwa manusia adalah kesimpulan dari karya nyata matahari dan bulan …. karena sejatinya manusia tiada lain adalah miniatur alam semesta, dan didalam jiwanya dihadirkan semua sifat alam semesta yang ada diluar sana itu dalam skala kecil. Dengan diciptakannya manusia, Tuhan membuka  secercah ilmu dari berbagai kekuasaan-Nya yang ada dialam semesta.

Kini jelaslah bahwa tubuh  raksasa alam semesta, contohnya, sebenarnya memiliki sifat  dan kekuasaan tertentu yang mereka gunakan dalam mengabdi kepada  Tuhan. Karenanya, tak masuk akal untuk diterangkan bahwa manusia, yang diatas  dan lebih mulia dari semua itu,  harus tak mempunyai faedah seperti mereka. Seperti matahari, ia memiliki cahaya – cahaya ilmu dan kebijaksasnaan – yang dengan itu ia dapat menerangi dunia. Seperti bulan, ia meminjam cahaya dari Yang Maha Tinggi sebagai sumber cahaya yang hakiki, cahaya ilham, kasyaf dan wahyu, yang memancarkan kembali kepada mereka yang masih gelap dan belum bisa mencapai kemanusiaan yang sempurna. Benar-benar bodoh untuk menyatakan bahwa kenabian adalah alasan yang dibuat-buat dan dikatakan berita dari Yang Maha tinggi, Hukum Ilahi dan Kitab Samawi hanya tipu daya belaka untuk mencapai kepentingan pribadi.

Renungkan kembali bagaimana cahaya siang hari menerangi setiap jalan dan datang turun naik. Manusia sempurna adalah cahaya siang  hari rohani. Kemunculannya menunjukkan jalan yang berbeda antara yang hak dan yang batil, karena ia adalah cahaya siang hari kebenaran dan kebajikan. Kita renungkan tamsil seperti itu, bahwa malam dapat memberi istirahat kepada orang yang lelah  dan letih. Orang yang bekerja keras sepanjang hari menyambut malam untuk istirahat, menenangkan badan setelah bekerja keras disiang hari.

Begitu pula, manusia sempurna datang  untuk memberi ketenangan kepada dunia dan meringankan beban manusia. Dengan ilham dan wahyunya dari sumber ilmu dan kebijaksanaan, dia menggosokkan balsem kepada semua orang yang mengerti. Kebenaran hakiki, yang tidak dapat ditemukan oleh orang pintar meskipun dengan kerja keras, begitu mudah diperoleh melalui orang yang menerima ilham. Lagi pula wahyu itu dapat membantu nalar dan dapat menutupi kekeliruannya, karena ia menutupi kegagalan  dunia. Orang bijaksana memperbaiki diri dan  kesalahan-kesalahannya dengan petunjuk dan cahaya wahyu, dan dengan bantuan itu, dia menyelamatkan dirinya dari kekeliruan masyarakat umum. Inilah sebabnya mengapa seorang filsuf besar Yunani, Plato, mempercayakan dirinya  berbuat yang  tak bijaksana dengan  mempersembahkan diri kepada berhala, sementara tak pernah terdengar para filsuf Muslim berbuat seperti itu, sebab yang belakangan ini mempunyai wahyu yang sempurna dari Nabi Muhammad yang  memberi petunjuk pada akal sehat. Jadi bisa dimengerti mengapa Allah Ta’ala mengundang  perhatian kita untuk meliput malam dalam bentuk sumpah.

Ini jelas sekali bahwa para hamba Allah yang sempurna melindungi setiap orang yang kelelahan dan keletihan di bawah naungannya seperti langit. Para Nabi khususnya bermanfaat bagi dunia dengan menyiramkan rahmat mereka dan mengaruniakan mereka seperti langit yang menurunkan hujan. Mereka seperti memiliki harta kekayaan bumi, dan dari jiwa mereka yang suci menumbuhkan berbagai jenis pohon ilmu dan kebenaran yang tumbuh lebat, dengan bunga-bungaan serta buah-buahannya, mereka merahmati dunia ini. Itulah undang-undang yang kita baca  dikitab alam semesta yang terbuka lebar menjadi saksi terhadap undang-undang yang ghaib  dan kesaksiannya telah dijelaskan dalam bentuk sumpah seperti dikutip dalam ayat diatas. Betapa luhurnya kebijaksanan yang digelar dalam Firman Ilahi!  Dan inilah Firman yang telah diproklamirkan melalui mulut seorang anak gurun padang pasir yang buta huruf. Betapa bijksana Firman Ilahi itu, seorang anak terpelajar dari dunia yang cerdik tidak akan bisa mencurahkan kecerdasannya,  hingga gagal untuk menyadari hakikat kebenaran dengan nalarnya yang tak sempurna itu, ia merasa keberatan terhadap risalah yang disana terletak perbendaharaan kebijaksanaan yang tersembunyi.

Jadi bisa kita lihat bahwa kebijaksanaan dunia gagal untuk menemukan hakikat makna kata-kata tersebut, yang ternyata hal itu  mengandung makna yang dalam, perkara ini menjadi bukti yang teramat kuat  bahwa kata-kata itu berasal dari Ilahi. Demikianlah sumpah yang dikemukakan Qur’an yang dikira lemah dan mudah dikritik, tetapi, kini setelah misteri itu terungkap dan cahaya ilmu sudah dipancarkan terhadap hakikat manfaatnya, maka semua orang yang berakal sehat harus mencari kebahagiaan dengan merefleksikannya dari sini.

Air samawi dan air duniawi

Kitab Suci  banyak menggunakan berbagai bentuk sumpah, yang ditempat lain jika menjelaskan kebutuhan dan kebenaran wahyu ilahi maka  ia menarik hukum-hukum alam yang diperlukan sebagai perbandingannya:

“Demi langit yang memberikan hujan, dan demi bumi yang memiliki (segala tumbuhan). Sesungguhnya itu adalah sabda yang memutuskan, dan itu bukanlah senda gurau” (86:11-14).

Di sini Allah Ta’ala mengundang perhatian kita terhadap manifestasi hukum-Nya dalam bentuk sumpah sebagai saksi terhadap benarnya wahyu Qur’an. Ini jelas sekali terlihat didalam hukum alam bahwa hujan turun dari langit dikala dibutuhkan. Rimbun dan hijaunya bumi tergantung pada hujan dari langit. Jika hujan itu berhenti  sejenak saja, air yang ada di permukaan bumi perlahan-lahan menjadi kering. Jadi kita bisa mengerti bahwa disana ada hubungan antara air dari langit dan air dibumi. Demikian pula Wahyu Ilahi mempunyai hubungan yang sama bagaikan air samawi dengan air bumi. Sebagaimana berhentinya air dari langit, air di bumi pun sedikit demi sedikit mengering, begitu pula keadaan nalar manusia, tanpa wahyu langit  ia akan kehilangan kesucian dan kekuatannya. Oleh karena itu bila dalam waktu yang cukup lama dunia tidak menyaksikan kemunculan orang yang memperoleh wahyu Ilahi, maka secara alami pula nalar itu akan menjadi rusak dan kotor bagaikan air di bumi yang kering.

Sebagai ilustrasi terhadap ajaran ini, sepintas boleh kami gambarkan kondisi zaman sebelum Islam. Sebelum Nabi Muhammad muncul, kegelap-gulitaan merambah di mana-mana. Kurang lebih enam ratus tahun berlalu sejak kedatangan Yesus Kristus, dan selama jeda waktu tersebut tak ada seorang manusia pun yang menerima wahyu  Ilahi muncul ke permukaan. Seluruh dunia menyaksikan betapa kehidupan manusia jauh dari kesucian dan kebajikan, dan kejahatan merajalela di mana-mana. Ini disebabkan karena tiada lain kecuali karena terputusnya wahyu samawi. Akal manusia dan bukan wahyu samawi akan berguncang karena ketidaksempurnaannya dan diliputi kejahatan, akibatnya menuntun manusia ke jalan kesesatan. Air dibumi  untuk  akal manusia mengering sebab air wahyu langit tak pernah turun ke bumi lama sekali.

Allah Ta’ala meminta  perhatian manusia terhadap undang-undang-Nya bahwa bumi menumbuhkan sayur-mayur dan dedaunan rindang bergantung kepada hujan dari langit. Manifestasi undang-undang ini sebenarnya menunjukkan undang-undang rahasia yang ada hubungannya dengan wahyu. Akal itu sendiri tidak bisa dipercaya, karena keberadaannya mudah sekali rusak jika wahyu tidak segera datang untuk merawatnya. Ketika orang yang menerima wahyu muncul ke dunia, manfaatnya menyebar ke seluruh dunia, kemudian nalar manusia bercahaya dan tajam untuk menaikkan derajat kemanusiaan. Ada penelaahan umum akan kebenaran dan suasana optimis hidup kembali dan aktifitas semua kemampuan yang tertidur perlu dibangunkan kembali.

Perkembangan akal seperti itu dan semangat hati adalah akibat rahmat munculnya orang yang telah menerima wahyu Ilahi. Bila anda lihat,  di sana ada pertanyaan umum terhadap kebenaran  dan setiap orang mulai merasa membutuhkan iman, ketahuilah sesungguhnya  air samawi telah menyirami bumi.


 

[1] Ayat ini adalah kelanjutan terhadap pernyataan yang telah dikemukakan di berbagai ayat yang berhubungan dengan kesempurnaan rohani, karena menyatakan jalan kesempurnaan melalui wahyu Ilahi.

[2] Janji yang akan menyelamatkan dari kematian adalah suatu gambaran terhadap keabadian hidup yang akan dikaruniakan kepada orang yang sempurna di akhirat. Ini menunjukkan bahwa hidup yang penuh kebajikan itu, yakni yang taat kepada perintah Undang-undang Ilahi, menuntunnya kepada kehidupan yang abadi di akhirat karena keelokan Allah akan tersaji. Lalu kita diberitahu bahwa: Seseorang yang mengotori hidupnya di dunia ini, jiwanya yang jahat (dan kelak berpisah dari dunia ini akan menuntunnya ke dalam kehidupan yang kotor pula dan tak bisa mencapai kemuliaan yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya)” dan diperingatkan secara kalam ibarat: “Nasib orang-orang yang celaka itu akan sama seperti kaumnya Tsamud yang menyembelih unta yang disebut “Untanya Tuhan” dan tidak mengizinkannya untuk minum dari sumber mata air meraka”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: