Jihad dalam Islam II

MACAM – MACAM BENTUK JIHAD

Dari ayat-ayat Qur’an Suci, Hadits Nabi dan pendapat para ulama maka dapat disimpulkan jihad dalam Islam itu ada tiga macam, yaitu:

  1. Jihad Akbar (Jihad terbesar)
  2. Jihad Kabir (jihad besar)
  3. Jihad Ashghar (Jihad kecil)[1]

1. JIHAD AKBAR

Jihad akbar artinya jihad terbesar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Sebenarnya nafsu itu kurnia Ilahi untuk kebaikan manusia. Tetapi manusia menyalahgunakan nafsu untuk keburukan. Nafsu dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan, tergantung kepada manusianya. Jika nafsu diperhambakan kepada setan, akan mendatangkan mala petaka; tetapi jika nafsu diperhambakan kepada Allah, akan mendatangkan kebaikan. Qur’an Suci menerangkan manusia yang nafsunya tak diperhambakan kepada Allah sebagai berikut:

“Apakah engkau melihat orang yang mengambil keinginan rendahnya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya dalam kesesatan dan pengetahuan, dan Ia menyegel pendengarannya dan hatinya, dan Ia meletakkan penutup, dan penglihatannya? Lalu siapakah yang dapat memberi petunjuk kepadanya selain Allah? Apakah kamu tak memperhatikan? Dan mereka berkata: tak ada apa-apa lagi selain hidup kami di dunia; kami mati dan kami hidup, dan tiada yang membinasakan kami selain waktu, dan mereka tak mempunyai pengetahuan tentang itu; mereka hanyalah mengira” (Al-Jatsiyah 45:23-24)

Menurut ayat tersebut di atas, manusia yang tak memperhambakan nafsunya kepada Allah, pasti mengikuti keinginan rendahnya. Keinginan rendah itu menurut Qur’an Suci disebut hawa nafsu. Perwujudan hawa nafsu ialah perbuatan: a-moral, a-susila, rakus, egois, serakah, tamak, khianat, tak setia kepada amanat, suka bertengkar, sombong, kikir, tak adil, suka memfitnah, dendam, dengki, dan sesamanya. Manusia yang dalam keadaan demikian tak mengindahkan sama sekali nilai-nilai hidup yang tinggi. Bagi mereka dunia inilah tujuan hidupnya. Sudah barang tentu, rumah tangga atau masyarakat dan negara yang warganya terdiri dari orang-orang yang semacam itu pasti akan kacau balau. Pencurian, perjudian, pelacuran, mabuk-mabukan dan sesamanya merajalela di mana-mana. Maka dari itu untuk membikin masyarakat yang tertib dan damai, bebas dari penghisapan, penindasan dan kesewenang-wenangan, manusia harus membebaskan nafsunya dari keinginan rendahnya atau hawa nafsunya, dan diperhambakan kepada Allah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya sebagai berikut:

Adapun orang yang takut di hadapan Tuhannya, dan menahan hawa nafsu dari keinginan rendahnya (hawanafsu), maka sesungguhnya sorga itulah tempat tinggalnya: (Qs An Nazi’at 79: 40-41)

Dari ayat tersebut terang sekali bahwa untuk mencapai kehidupan Sorga, baik di dunia maupun di akhirat, manusia harus menahan nafsunya dari  keinginan rendahnya dan memperhambakannya kepada Allah. Memperhambakan nafsu kepada Allah, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Suci dalam sabdanya:”Siapa yang melakukan jihad sebenarnya? Dialah yang berjihad terhadap diri sendiri untuk mentaati perintah Ilahi” (Musnad). Dengan mentaati perintah Ilahi, manusia akan mampu mewarnai dirinya dengan warna Allah, sebagaimana difirmankan dalam Qur’an Suci: “(kami mengambil) warna Allah: dan siapakah yang lebih baik daripada Allah dalam memberi warna? Dan kami adalah yang mengabdi kepada-Nya” (Al-Baqarah 2:138). Firman ini dijelaskan oleh Nabi Suci saw:”Takhallaqû bi’akhlâqillâh” artinya “Berbudi pekertilah kamu sekalian dengan pekerti (sifat-sifat) Allah”. Ini bukan tugas yang ringan, tetapi tugas yang amat berat, maka oleh Nabi Suci Muhammad saw dinamakan jihad akbar, artinya jihad terbesar. Ketika beliau dan para sâhbat kembali dari suatu peperangan, bersabda sebagai berikut:

“Kita kembali dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar) … yaitu jihâdun nafsi (jihad melawan hawa nafsu)” (Baihaqi).

Jihâdun nafsi dalam Hadits tersebut di atas selaras dengan Jihâd fînâ dalam Firman Ilahi: “Dan orang-orang yang berjuang  untuk Kami (jâhadû fînâ), Kami pasti akan memimpin mereka di jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah itu menyertai orang yang berbuat baik”.(Al-Ankabût 29:69)

Di tempat lain dinyatakan sebagai (Jihâd fillâh):

Dan berjuanglah untuk kepentingan Allah (Jâhidû fillâh) dengan perjuangan karena Dia semata-mata” (QS Al Khajj 22:78)

Barangsiapa yang melakukannya, hanyalah untuk dirinya sendiri, firman-Nya:

Barangsiapa berjuang (jihâd), maka ia berjuang untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-mencukupi sendiri, lepas dari (bantuan) sarwa sekalian alam” (Qs Al ‘ankabût 29:6)

Jihad yang dianjurkan oleh ayat-ayat tersebut di atas ialah perjuangan mendekat kepada Allah. Seseorang akan dapat mendekat kepada Allah, jika telah dapat menaklukan hawa nafsunya. Orang semacam ini dipimpin Ilahi pada jalan yang benar dan terpelihara dari jalan yang menyesatkan, sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah jiwa kamu, orang yang sesat tak dapat membahayakan kamu jika kamu berada pada jalan yang benar” (Al-Maidah 5:105)

Para ahli tasawuf menamakan jihad akbar itu mujâhadah. Mujâhadah adalah istilah yang mereka gunakan untuk menerangkan perbuatan menyucikan jiwa dengan jalan dikir sekuat-kuatnya kepada Allah atu dengan selalu “memohon pertolongan (Allah) dengan sabar dan salat (QS Al Baqoroh 2:153)

2. JIHAD KABIR

Jihad kabir artinya jihad besar, yaitu jihad menyebarluaskan ajaran Quran Suci kepada kaum kafir dan musyrik. Jihad ini harus dilakukan oleh setiap orang Islam dalam setiap keadaan. Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Suci Muhammad saw sebagai beriktu:

“Bacalah dengan nama Tuhan dikau yang menciptakan, Yang mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan dikau adalah Yang paling Murah-hati, Yang mengajarkan (menulis kepada manusia) dengan pena, Yang mengajarkan kepada manusia kepada manusia apa yang ia tak tahu” (Al-Alaq 96:15)

Wahyu ini mengandung makna yang sangat dalam, agung dan penuh kemegahan. Dalam pengangkatan ini telah diisyaratkan betapa pentingnya membaca, menggunakan pena (menulis) dan belajar. Tiga hal ini yang menghasilkan kebesaran umat manusia dan mengangkat martabatnya pada posisi yang paling mulia.

“Allah akan menaikkan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu ke derajat yang tinggi”(Al-Mujadilah 58:11)

Lagi firman-Nya:

“Ia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barang siapa diberi hikmah, ia itu sebenarnya diberi banyak kebaikan (kekayaan)” (Al-Baqarah 2:269).

Wahyu kedua menegaskan tentang betapa pentingnya tinta, pena dan tulisan, bunyinya sebagai berikut:

“(Demi) tempat tinta, pena dan apa yang mereka tulis! Demi kenikmatan Tuhan dikau, engkau tidaklah gila. Dan sesungguhnya engkau mendapat ganjaran yang tak ada putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung” (Al-Qalam, 68:1-4).

Wahyu kedua yang diterima oleh Nabi Suci Muhammad saw berbunyi:

Wahai orang yang berselubung. Bangun dan berilah peringatan. Dan Tuhan dikau agungkanlah. Dan pakaian dikau bersihkanlah. Dan jauhi kekotoran. Dan janganlah memberi sesuatu untuk mencari keuntungan. Dan demi Tuhan dikau, bersabarlah “ (Al-Muddatstsir 74:1-7)

Ayat-ayat tersebut di atas mengisyaratkan betapa pentingnya muballigh yang menyampaikan ajaran Qur’an Suci. Dari wahyu pertama dan kedua tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa untuk menyebar luaskan ajaran Islam (Quran Suci) diperlukan muballigh yang pandai membaca, menulis dan berilmu serta luhur akhlaknya dan suci ruhaninya. Untuk memelihara dan mengembangkan itu orang harus banyak menjalankan salat pada waktu malam tanpa mengurangi keasyikan bekerja pada waktu siang hari, sebagaimana diisyaratkan dalam wahyu keempat:

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk bersalat malam, kecuali sebagian kecil, separonya atau kurangi sedikit, atau tambahlah itu, dan bacalah Al Qur’an secara santai. Sesungguhnya Kami akan membebani engkau dengan sabda yang berat. Sesungguhnya bangun malam itu cara yang paling kuat untuk berpijak, dan ucapan yang paling manjur. Sesungguhnya pada siang hari engkau asyik bekerja sama sekali. Dan ingatlah Tuhan dikau, dan berbaktilah kepada-Nya dengan kebaktian (yang sempurna) Tuhannya Timur dan Barat, tak ada Tuhan selain Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan tinggalkanlah mereka dengan penyingkiran yang baik” (Al-Muzammil 73:1-10)

Kewajiban yang dilukiskan oleh ayat-ayat tersebut di atas, dalam Qur’an Surat Al Furqon 25:52 dinamakan jihad kabir, dan dalam Hadits semua kegiatan dakwah Islam dipandang sebagai jihad. Mereka itulah yang menjadi pemenang, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Suci Muhammad saw dalam sabdanya: “Sebagian umatku tak henti-hentinya menjadi pemenang, karena mereka adalah orang yang menjunjung tinggi Kebenaran, dan ini adalah orang-orang yang terpelajar (ahlul-‘ilmi)” (Bu 96:11)

3. JIHAD ASHGHAR

Jihad Ashghar artinya jihad kecil, adalah jihad yang paling rendah nilainya dalam bidang agama, yaitu jihad dengan senjata untuk mempertahankan agama. Umat Islam diizinkan untuk melakukan jihad ini karena

  1. Diserang oleh orang-orang kafir
  2. Dianiaya oleh orang-orang kafir
  3. Diusir dari kampung halaman tanpa alasan yang benar, kecuali karena mengucapkan (dengan yakin bahwa) tiada Tuhan selain Allah.
  4. Merajalelanya penindasan atau fitnah karena agama.

Jihad ini dinilai rendah karena sifatnya temporer dan terikat oleh situasi dan kondisi. Baru  wajib dilakukan jika syarat-syarat telah cukup. Sama seperti ibadah salat, zakat, puasa, haji dan sebagainya baru wajib dikerjakan jika telah lengkap syarat-syaratnya. Pelaksanaan ibadat yang tidak lengkap syarat-syaratnya, ibadat itu tidak syah. Demikian pula jihad ashghar, jika syarat-syarat yang ditetapkan dalam Al-Qur’an surat Hajj 22:39-40 dan surat Al-Baqarah 2:190-193 telah lengkap, maka wajib dikerjakan sebagaimana telah dicontohkan Nabi Suci dan para sahabatnya. Dalam situasi demikianlah umat Islam wajib mengeluarkan harta dan memanggul senjata maju ke medan perang[2]. Allah berfirman:

Berangkatlah, baik ringan maupun berat, dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta kamu dan jiwa kamu. Ini adalah baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah 9:41).

Tak ada alasan untuk absen:

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tak minta izin kepada engkau (untuk tak ikut) berjuang (di jalan Allah) dengan harta mereka dan jiwa mereka. Dan Allah Maha Tahu akan orang-orang yang bertakwa”. (At-Taubah 9:44).

Senada dengan ayat-ayat suci tersebutlah Nabi Suci Muhammad saw. bersabda tentang perang, misalnya dalam Hadits dari sahabat Ibnu Umar r.a. beliau bersabda:

Aku disuruh supaya memerangi orang-orang sampai mereka bersyahadat bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah, dan sampai membayar zakat. Jika mereka melaksanakan itu, maka hidup mereka dan harta mereka dilindungi, terkecuali yang diwajibkan menurut syariat Islam; adapun perhitungannya ada pada Allah” (Bu 2:17)

Sepintas lalu Hadits tersebut memberi kesan perang Nabi Suci untuk menyiarkan Islam. Tetapi tidaklah demikian jika kita melihat asbabul-wurudnya. Hadits tersebut berhubungan erat dengan Surat At-Taubah yang diturunkan pada tahun ke-9 H. Dari Surat 9:10-13 teranglah bahwa Nabi Suci disuruh emerangi orang-orang yang menghormati ikatan keluarga, dan perjanjian yang mereka buat serta mendahului menyerang kaum Muslimin dan merencanakan mengusir Nabi Suci sebagaimana diterangkan dalam berbagai ayat suci.

Hadits-hadits Nabi tentang perang banyak sekali; yang jika dipahami secara tekstual memberi kesan perang (qitâl) yang dalam Hadits disebut jihad ashghar menggantikan jihâd yang artinya berjuang. Oleh karena itu menafsirkan Hadits hendaknya secara kontekstual, dan jangan sekali-kali bertentangan dengan ajaran Quran Suci.

Pedoman petunjuk tentang Perang

Perang atau jihad ashghar yang akibatnya amat mengerikan memang diizinkan oleh Islam. Tujuannya bukan untuk memaksakan Islam kepada suatu kaum atau bangsa. Oleh karena Islam itu agama yang sempurna, maka Islam memberi pedoman petunjuk tentang perang kepada pemeluknya sebagai berikut:

Dalam peperangan Nabi Suci melarang:

  1. membunuh perempuan dan anak kecil (Bu 56:147-8)
  2. membunuh ‘âsif (orang-orang yang dipekerjakan pada tentara) (AD 15:112)
  3. membunuh syaikh fânî (orang lanjut usia) yang tak mampu berperang (MM 18:5-ii)
  4. menyakiti para rahib atau rohaniwan (Ah I hlm. 300)
  5. memotong-motong tubuh musuh (M 32:2)

Abu Bakar, Khalifah Nabi yang pertama, dalam hal ini juga memberikan instruksi:

  1. jangan memusnahkan pohon kurma
  2. jangan merusak ladang gandum
  3. jangan menebang pohon buah-buahan
  4. jangan membinasakan binatang ternak
  5. jangan menghancurkan biara

Dalam Al-Qur’an sendiri ada berbagai ketentuan mengenai perang. Misalnya, jika telah maju ke medan perang dilarang berbalik punggung:

“Wahai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu dengan barisan kaum kafir, janganlah kamu berbalik punggung. Dan barang siapa pada hari itu berbalik punggung terkecuali untuk siasat perang atau untuk menggabung diri dengan pasukan (Islam yang lain) ia sungguh-sungguh terkena murka Allah, dan tempatnya ialah Neraka”. (Al-Anfal 8:15-16).

Jika musuh condong ke arah damai, pertempuran harus dihentikan:

“Apabila mereka condong ke arah perdamaian, engkau juga harus condong ke arah itu, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Yang Maha Mendengar, Yang Maha Tahu. Dan apabila mereka bermaksud hendak menipu engkau. Dia ialah Yang memperkuat engkau dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum Mukmin”. (Al-Anfal 8:61-62).

Meskipun kesungguhan pihak musuh diragukan, kaum Muslimin wajib menerima perdamaian itu. Perang hanya boleh dilakukan selama masih ada penindasan, dan jika ini tak ada lagi, maka perang harus dihentikan pula.

“Dan perangilah mereka sampai tak ada lagi penindasan, dan (sampai) semua agama adalah kepunyaan Allah. Tetapi jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha Melihat apa yang mereka lakukan”. (Al-Anfal 8:39).

Perang harus dilakukan secara jujur, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

Dan janganlah kebencian orang-orang, dengan menghalang-halangi kamu dari Masjidil-Haram, menyebabkan kamu melanggar batas. Dan tolong-menolonglah dalam kebajikan dan kebaktian, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Al-Maidah 5:2)

Selaras dengan ayat suci tersebut Nabi Suci bersabda: “Bertempurlah, dan jangan pula kamu tak jujur, dan janganlah kamu memotong-motong tubuh dan jangan pula membunuh anak-anak” (M. 32:2)

Tawanan perang seusai perang dibebaskan sebagai anugerah atau dengan tebusan:

Maka apabila kamu berhadapan dengan kaum kafir dalam pertempuran, penggallah leher mereka; lalu jika kamu mengalahkan mereka, jadikanlah mereka tawanan perang, lalu sesudah itu, bebaskanlah mereka sebagai anugerah atau dengan tebusan sampai pertempuran meletakkan senjata” (Muhammad 47:4)

Dari ayat-ayat tersebut di atas terang sekali bahwa peperangan dalam Islam bukanlah untuk menyiarkan agama, melainkan hanya untuk membela diri dari serangan musuh atau untuk melenyapkan kezaliman dan penindasan. Hal ini akan lebih terang lagi, jika diperhatikan etika peperangan yang ditetapkan oleh Nabi Suci Muhammad saw, bahwa wanita, anak-anak, orang lanjut usia, orang cacat semuanya tak boleh dibunuh. Padahal sekiranya perang itu dilancarkan karena kekafiran dan kemusrikan mereka, niscaya mereka dibunuh semuanya.

HUBUNGAN ANTARA KETIGA MACAM JIHAD

Untuk menjelaskan hubungan ketiga macam jihad itu, perhatikanlah gambar berikut.

Lingkaran (I) jihad akbar, (II) Jihad kabir, dan (III) Jihad ashghar.

Jihad akbar ruang lingkupnya sangat luas, tak terbatas. Hukumnya wajib bagi setiap mukalaf. Wajib dilaksanakan dalam setiap keadaan dan tempat, sekalipun sedang melaksanakan kewajiban jihad kabir dan jihad ashghar di medan pertempuran. Dalam Hadis banyak diceritakan bahwa meskipun di tengah medan pertempuran, Nabi Suci dan para sahabatnya tetap waspada dari godaan hawa nafsu. Misalnya, dalam suatu pertempuran yang hebat antara kaum Muslimin melawan kaum kafir, ada seorang kafir yang terancam oleh pedang sahabat. Si kafir sempat meludahi muka sahabat Nabi. Sahabat menahan pedangnya, tak jadi memancung kepala si kafir. Si kafir bertanya: “Mengapa anda tak jadi membunuh saya?” Sahabat menjawab tegas: “Saya khawatir, jangan-jangan saya membunuh anda karena terdorong oleh hawa nafsu. Saya berperang hanyalah untuk membela agama Allah semata”. Lagi, ada suatu hadits yang meriwayatkan bahwa dalam suatu peperangan ada seorang kafir yang terancam oleh pedang sahabat. Si kafir berseru: “Lâ ilâha illalloh, Muhammadur rosûlulloh”, si sahabat terus memancung kepalanya sambil berkata: “Kamu membaca syahadat hanyalah untuk menyelamatkan jiwamu saja”. Ketika Nabi Suci Muhammad saw, diberitahu tentang peristiwa tersebut, beliau gusar terhadap sahabat tersebut dan bersabda kepadnya: “Sudahkah engkau membelah hatinya untuk melihat apakah ia membaca syahadat itu dengan pura-pura? Jika Tuhan meminta pertanggungan jawab dari kamu, atas dasar apa kamu membunuh sesudah ia mengucapkan syahadat, jawaban apakah yang kamu berikan?”.

Dari dua Hadits tersebut terang sekali bahwa di tengah-tengah medan pertempuran pun orang harus tetap melakukan jihad akbar, dengan tetap melakukan kesabaran dan waspada terhadap godaan setan dan hawa nafsu, sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam Firman-Nya:

“Wahai orang yang beriman, bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaran kamu dan jagalah (garis depan). Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (Ali Imran 3:199).

Selaras dengan ayat tersebut Nabi Suci bersabda: “Orang yang kuat diantara kamu sekalian, bukanlah yang mampu melompati dan memenggal kepala musuhnya, tetapi orang yang kuat ialah yang dapat menahan hawa nafsunya”.

Selanjutnya tentang jihad kabir. Ruang lingkupnya lebih sempit dari jihad akbar, karena jihad kabir harus dilandasi dan dibersihkan dari pengaruh hawa nafsu. Tetapi jihad kabir lebih luas daripada jihad ashghar, sebab jihad kabir wajib dikerjakan oleh setiap umat Islam dalam setiap keadaan. Dalam peperangan sekalipun. Menyampaikan ajaran Quran Suci dan Hadits Nabi adalah tugas yang amat berat. Menyampaikan ajaran Islam kepada anak cucu dan teman sejawat saja cukup berat. Apalagi menyampaikan ajaran Islam kepada kaum kafir dan musyrik yang bodoh dengan menggunakan nasehat yang baik itu tugas yang amat berat. Lebih berat daripada menghadapi musuh dengan senjata pedang dan meriam. Yang lebih berat lagi ialah menyampaikan ajaran Islam kepada orang kafir dan musyrik yang lebih pandai, lebih maju dan lebih baik tingkat kehidupannya. Kepada mereka harus dikemukakan dalil-dalil yang kuat dan diskusi-diskusi ilmiah yang memerlukan banyak ilmu. Untuk memperoleh ilmu harus banyak membaca menulis dan belajar serta berdoa langsung kehadirat Ilahi. Ini kewajiban bagi setiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Meskipun Negara sedang dalam keadaan perang, kewajiban memperdalam agama tak boleh ditinggalkan, sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam firman-Nya:

Dan janganlah kaum mukmin pergi semuanya (ke medan pertempuran). Mengapa tidak pula berangkat satu rombongan dari tiap-tiap golongan diantara mereka, agar mereka dapat mengusahakan diri untuk memperoleh pengetahuan agama dan agar mereka dapat memberi ingat kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada mereka, agar mereka hati-hati” (At-Taubah 9:122).

Akhirnya tentang jihad ashghar yang disebut juga qital. Meskipun jihad ini amat berat, tetapi ruang lingkupnya amat sempit. Hanya wajib dikerjakan jika syarat-syarat yang ditetapkan oleh Quran Suci dan Hadits Nabi telah dipenuhi, sebagaimana telah diterangkan di muka. Dan wajib dihentikan jika:

(1) pihak musuh menghendaki perdamaian, sebagaimana dinyatakan dalam Quran:

Apabila mereka condong ke arah perdamaian, engkau harus condong ke arah itu, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha Mendengar, Yang Maha Tahu. Dan apabila mereka bermaksud hendak menipu engkau, maka sesungguhnya Allah itu sudah cukup bagi engkau” (Al-Anfal 8:61-62).

(2) Jika musuh telah masuk Islam, sebagaimana diceritakan dalam suatu Hadits:

Miqdad bin ‘Amir al Kindi mengadukan kepada Nabi Suci suatu perkara sebagai berikut: Dalam pertempuran aku berjumpa dengan seorang kafir dan kami saling mengadakan perlawanan. Ia memotong tanganku yang satu dengan pedang, lalu ia berlindung dibawah pohon sambil mengucap: Aku berserah diri (aslamtu) kepada Allah; bolehkah aku membunuh dia, ya Rasululah, setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut? Nabi Suci menjawab: Jangan kau bunuh dia. Aku berkata: Tetapi ia telah memotong tangan yang satu, ya Rasulullah, lalu sehabis memotong barulah ia mengucapkan kata-kata itu. Nabi Suci menjawab: Jangan kau bunuh dia, karena jika engkau membunuh dia, dia akan mengganti tempat kau sebelum kau membunuh dia, dan engakau akan mengganti tempat dia sebelum mengucapkan kata-kata itu”. (Bu 64:12).

Hadits tersebut hanya menegaskan bahwaperang yang diizinkan Ilahi hanyalah untuk membela Islam, bukan untuk menyiarkan Islam. Maka dari itu tak ada riwayat yang menerangkan bahwa Nabi Suci pernah menyatakan perang terhadap tetangga atau suatu kaum, karena mereka tak memeluk Islam.


 

[1] Umumnya para ulama menyimpulkan bahwa jihad dua macam saja, yaitu (1) jihad akbar atau jihad kabir dan (2) jihad ashghar atau qitâl

[2] Namun demikian Allah tak mengizinkan umat Islam maju ke medan perang semuanya. Hendaklah ada segolongan yang tetap memperdalam agama, agar tugas tabligh untuk mencapai tujuan akhir agama Islam tidak terbengkalai. Allah berfirman sebagai berikut:” Dan janganlah kaum mukmin pergi semuanya (ke medan pertempuran). Mengapa tidak pula berangkat satu rombongan dari tiap-tiap golongan di antara mereka, agar mereka dapat mengusahakan diri untuk memperoleh pengetahuan agama, dan agar merka dapat memberi ingat kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada mereka, agar mereka hati-hati” (Qs At Taubah 9:122)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 251 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: