Jihad dalam Islam III

PENERAPAN JIHAD PADA MASA KINI

Kini abad ke 15 Hijriah atau abad ke 21 Masehi, bukan abad pertengahan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah sedemikian majunya. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, seluruh dunia dibuat bagaikan satu negara besar. Kemajuan alat-alat komunikasi telah membuka kesempatan untuk saling mengenal diantara bangsa dengan bangsa dan para pengikut agama yang satu dengan para pengikut agama yang lain. Para sarjana dan ulama dari tiap-tiap agama berusaha keras untuk menarik umat manusia kepada agama mereka dengan menggunakan senjata bacaan, tulisan dan ilmu. Ini pertanda baik. Kemenangan Islam telah diambang pintu. Rencana Ilahi ini telah diisyaratkan dalam Quran Suci dan dijelaskan oleh Nabi Suci bahwa pada akhir zaman matahari akan terbit dari barat. Umat Islam harus membantu Allah dan Rasul-Nya. Bagaiamana caranya? Caranya mudah, tetapi berat. Yaitu dengan melaksanakan jihad seperti yang telah dijelaskan oleh Quran Suci, Hadits Nabi dan digambarkan oleh para ulama sebagaimana tersebut diatas. Memang setiap golongan Islam berhak tampil dan menyatakan diri telah melaksanakan jihad sebagaimana mestinya seperti yang telah dijalankan oleh Nabi Suci dan para sahabatnya. Kali ini perkenankanlah saya kemukakan contoh jihad fisabilillah yang dilancarkan oleh Gerakan Ahmadiyah. Sengaja saya tampilkan golongan ini, karena terhadap satu golongan inilah umat Islam umumnya salah paham.[1] Di samping itu menurut hemat penulis konsep dan penerapan jihad menurut kaum Ahmadiyah cocok untuk masa kini.

 

PENERAPAN JIHAD AKBAR PADA MASA KINI

Jihad akbar ialah jihad melawan hawa nafsu, sifatnya intern, yakni terhadap diri sendiri. Tujuannya ialah perbaikan diri sendiri agar supaya dapat mendekat kepada Allah SWT. Quran Suci dan Hadits Nabi sangat menekankan betapa pentingnya jihad akbar ini bagi setiap mukalaf. Sangat dikecam orang yang sibuk mengadakan perbaikan terhadap diri orang lain tetapi melupakan perbaikan dirinya sendiri. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Gerakan Ahmadiyah, sejak mudanya telah menempuh kehidupan yang suci seperti Nabi Suci Muhammad saw, dengan memperbanyak puasa dan ibadah serta selalu mencari ridlo Ilahi. Ketika beliau wafat surat kabar Wakil tanggal 30 Mei 1908 menulis sebagai berikut:

Akhlak Mirza Ghulam Ahmad sangat luhur, sukar mencari suatu noda padanya, yang kecil sekalipun. Seorang suci, seorang bertakwa. Selama kehidupan lima puluh tahun, dilihat akhlaknya, adat kebiasaannya, pembelaannya terhadap Islam …. Membuat beliau sampai pada martabat dan kesucian istimewa, patut membuat kita menirunya”.

Beliau sangat menekankan pentingnya jihad akbar, sebagaimana tercermin dalam penyataannya:

Keadaan seperti sekarang dapat dikatakan berjihad. Saya berjaga sampai larut malam hingga jam tiga pagi hari. Setiap orang harus ikut melakukannya dan demi agama serta tugas-tugas keagamaan mereka harus bekerja siang dan malam” (Malfuzat, bab IV, hlm. 196)

Masa ini adalah masa perang spiritual. Memerangi setan sedang berlangsung. Setan sedang berusaha untuk menghancurkan Islam dengan segala senjatanya. Dia berharap dapat mengalahkan Islam. Akan tetapi Allah membangun Gerakan ini dalam rangka mengalahkan setan dalam pertempurannya yang terakhir.” (Malfuzat, bab V, hlm. 25)

Kepada para pengikutnya, beliau pada tanggal 23 Maret 1889 di kota Ludhiana memberi nasehat sebagai berikut:

Barang siapa terpaku urusan duniawi, dan tak pernah ingat akan urusan akhirat ia bukan pengikutku. Barang siapa yang tak menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan perbuatan jahat, misalnya minum minuman keras, judi, memandang orang lain dengan nafsu birahi, curang, makan suap dan segala macam kesenangan yang tak halal, ia bukan pengikutku ….” (Safinatu Nuh, hlm. 11).

Kaum Muslimin yang menjadi pengikut beliau harus mengucapkan baiat. Setelah mengucapkan syahadat menyatakan sebagai berikut:

“… Saya menyatakan diri sebagai pengikut Gerakan Mujaddid Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yaitu Masih yang dijanjikan dan Mhadi. Dengan segala keikhlasan hati saya bertobat atas dosa saya sampai hari ini, dan saya berjanji akan menjauhkan diri dengan sekuat-kuatnya dari segala perbuatan dosa. Saya berjanji sekuat-kuatnya hendaknya menjunjung Agama melebihi dunia. Dengan sekuat-kuatnya saya hendak menetapi salat, zakat, puasa dan haji ke Mekah ….”

Seusai mengucapkan baiat, diharuskan mengucapkan janji sebagai berikut:

Saya berjanji dengan hati tulus bahwa:

  1. Selama hidup tak akan berbuat dosa syirik
  2. Akan menyingkiri segala macam kejahatan, seperti misalnya: berdusta, berzina, memandang orang lain dengan nafsu birahi, khianat, sewenang-wenang, mengacau dan berbuat bencana, lagi pula tak akan tunduk kepada meluapnya hawa nafsu.
  3. Akan tekun menjalankan shalat lima waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya; dan dengan sekuat-kuatnya akan menjalankan shalat tahajjud, dan memohonkan rahmat atas Nabi Suci (sholawat), memohon perlindungan daripada dosa (istighfar), mengucapkan syukur atas nikmat Ilahi (tasyakur), memuji dan memahasucikan Allah (tahmid dan tasbih).
  4. Tak akan menyakiti sesama manusia, teristimewa kaum Muslimin, baik dengan tangan, lisan ataupun dengan cara-cara lain.
  5. Akan tetap setia kepada Allah, baik di waktu senang maupun susah, di waktu kecukupan maupun kesempitan, di waktu sehat maupun sakit; dan dalam keadaan bagaimanapun akan tetap tawakkal kepada Allah; dan akan menghadapi segala kesukaran dan kehinaan di jalan Allah dengan gembira; di sât-sât derita tak akan mundur selangkah pun bahkan semakin menguatkan tali pengikat dengan Allah.
  6. Akan menjauhkan diri dari kelakuan buruk atau menurut ajakan nafsu daging; dan akan mentaati sepenuhnya segala perintah Qur’an Suci; dan akan menjunjung tinggi sabda Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup.
  7. Akan menjauhkan diri dari kesombongan, dan sebaliknya akan hidup dengan andap asor, rendah hati dan lemah lembut.
  8. Akan menjunjung tinggi kehormatan agama Islam melebihi apa saja, bahkan melebihi jiwa, harta, tahta, anak dan saudara.
  9. Akan mencintai sesama manusia demi cinta saya kepada Allah; dan dengan sekuat-kuatnya hendak menggunakan nikmat pemberian Allah untuk kebahagiaan umat manusia.

10.  Akan mentaati perjanjian ini sampai mati, dan dengan segala keikhlasan akan meneguhkan tali persaudaraan ini lebih daripada ikatan keluarga dan ikatan-ikatan lainnya.

Semua aturan tersebut dalam rangka melaksanakan jihad akbar, demi perbaikan diri pribadi setiap anggota Gerakan Ahmadiyah. Pengabdian kepada Allah inilah yang mendorong kaum Ahmadi membela dan menyiarkan Islam keseluruh dunia. Prof. H.A.R. Gibb menulis sebagai berikut:

Siapakah yang akan menolak kemungkinan perkembangan (agama Islam), setelah melihat bagaimana gerakan-gerakan seperti Gerakan Ahmadiyah, dengan kekuatan akhlak kesadaran beragama, telah dapat menanamkan pengaruhnya jauh ke daerah yang dapat dianggap bukan daerah kaum Muslimin” (Wither Islam, hlm. 309).

 

PENERAPAN JIHAD KABIR PADA MASA KINI

Jihad kabir sifatnya ekstern, adalah jihad mengamalkan ajaran Quran Suci dan menyebarluaskannya kepada kaum kafir dan musyrik. Pendalaman ajaran dan pngamalan risalahnya juga termasuk jihad kabir. Ini jihad yang amat berat dan sukar, karena Quran Suci yang berbahasa Arab itu risalahnya ditujukan kepada semua bangsa di dunia. Padahal kebanyakan penduduk dunia, termasuk yang telah beragama Islam, belum bisa baca tulis bahasa Arab untuk menyampaikan ajaran Quran Suci kepada bangsa-bangsa non Arab, Quran Suci harus diterjemahkan dan diterangkan ke dalam bahasa bangsa-bangsa di dunia ini.

Pendiri Gerakan Ahmadiyah pada tahun 1891 menulis buku Fathi Islam (Kemenangan Islam). Dalam buku ini beliau menggariskan Lima Cabang aktifitas untuk melaksanakan dakwah Islam yaitu: (1) Menerbitkan buku, (2) Menyebarkan brosur-brosur, (3) Tabligh dan Tarbiyah, (4) Korespondensi dengan orang-orang yang mencari dan menolak Kebenaran, dan (5) Baiat. Kelima cabang aktifitas dakwah Islam ini adalah bentuk jihad kabir pada zaman ini, sebagaimana beliau nyatakan:

Jihad pada zaman ini adalah untuk menyebarkan agama Islam dan melawan para pengritik (Islam) dengan menyebarkan keindahan agama yang benar, yaitu Islam ke seluruh dunia; dan untuk memanifestasikan kebenaran Nabi Suci kepada dunia. Ini adalah jihad, sampai Allah membuat lingkungan yang berbeda di dunia ini” (Surat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikutip dalam Ruhani Khaza’in, jilid 17, hlm. 17)

Missionaris Kristen telah memulai perang yang berbahaya melawan Islam. Di medan perang, mereka muncul dengan pena, bukan pedang atau meriam yang sebenarnya. Jadi, senjata yang harus kita miliki dalam memasuki medan perang tersebut hanya dengan pena. Kami yakin bahwa tugas setiap orang Muslimlah untuk terjun ke dalam peperangan ini” (Malfuzat, bab I, hlm. 217)

Di zaman ini pena telah digunakan untuk melawan kita. Dengan pena inilah kita menjadi menderita dan merasa sakit. Untuk menjawab masalah ini kita juga harus menggunakan pena sebagai senjata kita” (Malfuzat, bab I, hlm. 44)

Pada masa-masa awal Islam, perang fisik untuk mempertahankan diri diperlukan karena orang-orang yang menyebarkan agama Islam mendapat perlawanan dengan senjata, bukan dengan akal dan argumentasi. Jadi, pedang haruslah digunakan untuk menghadapi perlawanan. Akan tetapi, pada saat sekarang pedang tidak lagi digunakan untuk mengatasi masalah, tetapi dengan menggunakan pena dan argumentasi. Hal ini merupakan alasan mengapa Allah pada zaman sekarang menghendaki pedang digantikan dengan pena dan para musuh dihadapi dengan tulisan. Jadi, tidaklah tepat sekarang untuk menjawab pena dengan pedang” (Malfuzat, bab I, hlm. 59)

Sesuai dengan petunjuk Imam Zaman itu, Gerakan Ahmadiyah menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia.

Sehubungan dengan cabang yang pertama, Gerakan Ahmadiyah telah menerbitkan tafsir Quran Suci ke dalam berbagai bahasa dunia. Juga ratusan judul buku dalam berbagai bahasa dunia telah disusun dan diterbitkannya. Tafsir Quran yang pertama kali terbit disusun oleh Maulana Muhammad Ali M.A.LL.B., sekretaris pribadi Pendiri Gerakan Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Tafsir ini berbahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh alm. Bapak Soedewo P.K (1935) seterusnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa oleh alm. Bp. R. Ng. H. Minhadjurrahman Djajasugita dan Mufti Sharif (1958) dan akhirnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh alm. Bp. H.M. Bachrun (1979). Tafsir Quran ke dalam Bahasa Spanyol dan Jepang. Tafsir Muhammad Ali itu tersebar luas di seluruh dunia dan mendapat sambutan yang sangat baik dari para sarjana dan ulama. Dewan Penerjemah Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia menyatakan bahwa “terjemahan itu adalah terjemahan ilmiyah yang diberi catatan-catatan yang luas dan Pendahuluan dan Index yang cukup” (Al-Qur’an dan Terjemahannya, PT Bumi Restu, hlm. 36).

Maulana Abdul Majid Daryabadi menilai tafsir tersebut sebagai berikut:

Jika orang mengingkari keistimewaan tafsir Maulvi Muhammad Ali yang besar sekali pengaruhnya dan besar pula faedahnya bagi orang yang baru saja memeluk Islam, berarti mengingkari sinar matahari. Tafsir ini membantu meng-Islamkan beribu-ribu orang kafir, dan mendekatkan beratus-ratus ribu orang kafir kepada Islam. Berbicara tentang diriku sendiri, dengan segala senang hati saya akui bahwa tafsir ini merupakan salah satu dari beberapa kitab yang menyebabkan saya memeluk Islam, lima belas atau enam belas tahun yang lalu tatkala saya dalam kegelapan, kekafiran dan keragu-raguan. Bahkan Maulana Muhammad Ali dari Majalah “Comrade”, sangat tertarik dan selalu memuji-muji tafsir ini” (Majalah Such, Lucknow, 25 Juni 1943).

Dalam tahun 1928 tafsir tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh H. O. S. Cokroaminoto. Seorang ulama politikus Indonesia, H. Agoes Salim, dalam Kata Pengantarnya memberikan komentar yang cukup panjang. Selengkapnya sebagai berikut:

“Tatkala pertama kali saya diajak bermusyawarah oleh saudara kita Haji Oemar Sa’id Tjokroaminoto tentang maksudnya dengan beberapa saudara bangsa kita daripada kaum Muslimin, akan mengusahakan salinan kepada bahasa Melayu daripada salinan dan tafsir Qur’an, karangan “Maulwi Muhammad Ali”, seorang kaum terpelajar Bangsa Hindi, yang telah beroleh gelaran M.A. dan LL.B., daripada sekolah-sekolah tinggi Inggris, pada waktu itu tidak sedap hati saya.

Tidak sedap! Tapi bukanlah karena isi salinan dan tafsir karangan pujangga Hindi itu. Pada waktu itu sudah lebih setahun saya kenal dan kerap-kerap muthala’ah (mempelajari) isi kitab itu, dan pada sebaik-baik pendapatan saya adalah karangan itu banyak keutamaannya, yang menjadi penerangan bagi pengertian Agama Islam, istimewa ajaran, pendidikan dan nasihat-nasihat yang terkandung di dalam kitab Allah itu. Dan sekali-kali tidaklah saya mendapati barang sesuatu, yang akan menyesatkan paham dan Iman Keislaman kepada seseorang pembaca, yang membaca dengan memakai pikiran dan pengertian yang sederhana.

Itupun, seperti kata tadi, tak sedap hati saya pada mula-mula memusyawarahkan itu. Sebabnya ialah karena saya mengetahui betul-betul, betapa sempitnya paham sebagian bangsa kita daripada kaum santri dan kyai terhadap kepada cara-caranya orang mempelajari Agama Islam.

Dan saya pikirkan, betapa ramai, bahkan betapa riuhnya dan kacaunya perbincangan, perbantahan dan debat-debat dalam kalangan bangsa kita tentang: Ijtihad dan Taqlid. Ijtihad, yang dikatakan sudah “tertutup pintunya” semenjak tutupnya zaman kaum ‘Salaf’. Taqlid, yang dikatakan wajib, semenjak Ijma’ mengakui sahnya Madzhab yang empat, dengan meluaskan segala haluan, yang tidak masuk kepada salah satu yang empat itu.

Sayapun mengakui pula bahwa Ijtihad, yang sebenar-benarnya Ijtihad, yaitu penyelidikan ilmu daripada pangkalnya yang asli, pada ‘sumbernya’ tiap-tiap kabar, pada ‘tempatnya’ tiap-tiap kejadian yang di dalam tarikh. Ijtihad semacam itu memang jauh daripada yang mungkin dalam masa ini.

Dan sayapun mengakui pula, bahwa memang ‘Taqlid’, yaitu menerima dan menurut keterangan-keterangan dan paham-paham daripada ahli-ahli ilmu, yang telah mendapat pengakuan luas di dalam kalangan umat Islam itu, menjadi wajib atas tiap-tiap orang Islam. Bukan karena kehendak hati atau karena suka, melainkan karena sudah semestinya begitu, baik di jalan adat, maupun di jalan tabiat. Sudah memang mestinya orang yang terkemudian memakai pedoman orang-orang yang terdahulu. Bukan saja dalam agama; melainkan dalam adat hidup dan ilmu pengetahuan begitu pula.

Akan tetapi, TIDAK TERTUTUP jalan pelajaran dan penyelidikan dengan seluas-luasnya yang berdasar dengan mempelajari kitab-kitab Ulama yang bermula-mula dalam agama dan dengan menyelidik dan memperhatikan pengajaran-pengajaran yang terdapat di dalam perjalanan riwayat dunia dan di dalam tabiat Alam, yang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kita diperintahkan dalam beberapa banyak ayat Qur’an yang Hakim, dan dalam beberapa banyak sabda Rasulnya yang Karim (clm), akan memperhatikan segala itu dan mengambil ibarat dan pengajaran daripadanya.

Artinya, TIDAK TERTUTUP jalan ‘ijtihad’, yang bermakna mempelajari sebanyak-banyaknya kitab-kitab ulama yang besar-besar dalam agama dan TIDAK TERTUTUP pembacaan Qur’an dan Hadith untuk mencari pendidikan Iman dan Budi-pekerti, asal jangan hendak berpandai-pandai, sekehendak hati memakna-maknakan hukum-hukum, yang di dalam Qur’an dan Hadith itu dengan tidak memperhatikan keterangan-keterangan dan pemandangan-pemandangan ulama-ulama yang menjadi ikutan dalam selama masa yang telah lalu, yang memberi keterangan-keterangan dan pemandangan-pemandangan itu dengan alasan yang kuat-kuat.

Dan TIDAK TERTUTUP, malah diperintahkan kita menempuh jalan mencari ilmu pengetahuan dengan mempelajari pengajaran-pengajaran pujangga yang besar-besar, yang membentangkan riwayat dunia di dalam tarikh (babad) dan riwayat alam, di dalam ilmu alam, ilmu tabiat, ilmu hewan dan tumbuhan, dan lain-lain yang semakin bertambah-tambah banyak hasil penyelidikannya.

Dan hasil-hasil penyelidikan itu senantiasa menambah banyaknya jumlah pengetahuan yang dikumpulkan oleh manusia. Maka bertambah-tambah pula perkakas isi otak dan hati manusia itu; untuk akalnya bagi memaham-mahamkan pengajaran-pengajaran agama, yang mencerdaskan budi pikirannya; untuk perasaannya bagi menajam-najamkan timbangannya, yang mencerdaskan budi-pekertinya.

Syahdan, ‘ijtihad’ yang kedua ini (yang kita tuliskan dengan huruf pangkal kecil, akan membedakan daripada ‘Ijtihad’ yang bermula tadi, yang kita tuliskan dengan huruf pangkal besar), ‘ijtihad’ ini, bukanlah tertutup pintunya, melainkan malah bertambah-tambah luas dan lebar jalannya.

Sebaliknya (akan tetapi berhubung juga dengan itu), tidaklah wajib, malah KELIRU ‘taqlid’, yang bersifat menurut dan meniru dengan membuta-tuli. Menurut dan meniru, yang sengaja mendiamkan macam-macam pertanyaan yang terbit di dalam hati. Kelakuan yang semacam ini membutakan budi pikiran, menumpulkan budi-pekerti, sehingga akhirnya memisahkan aturan hidup dengan aturan agama. Maka jadilah manusia itu mengaku beragama, tapi tidak mengerjakan, tidak melakukan agamanya dengan keyakinan dan bersungguh-sungguh.

Adapun dengan salinan dan tafsir Maulwi Muhammad Ali itu tidaklah disajikan pembaruan Qur’an, dan tidak diadakan Madzhab baru, yang diwajibkan ‘Taqlidnya’; melainkan yang disajikan itu semata-mata hasil pekerjaan seorang manusia Muslim terpelajar, yang menguraikan beberapa pendapatan yang dikumpulkannya dalam mempelajari beberapa banyak kitab tafsir dan lain-lain kitab daripada ulama-ulama Islam, dan salinan-salinan Qur’an dan pemandangan-pemandangan tentang Qur’an itu daripada pujangga-pujangga di dalam dan di luar Islam. Maka adalah yang sebagai itu satu alat pelajaran, untuk meluaskan pengetahuan agama belaka, yang sekali-kali tidak mengenai perkara ‘Ijtihad’ atau ‘Taqlid’.

Ada lagi satu pandangan. Di tanah air kita dan di tiap-tiap negeri Islam yang lainpun juga adalah tersiar salinan-salinan Qur’an dengan bahasa asing: Belanda, Jerman, Inggris dan lain-lain yang dapat diperbuat oleh pihak-pihak di luar Islam. Dan tidak sedikit pula karangan tentang Agama Islam daripada pihak lain-lain itu, baik yang bangsa ahli ilmu pengetahuan, maupun bangsa penyebar lain-lain agama, istimewa Kristen dan Theosof, yang karangan-karangan itu memakai salinan Qur’an.

Salinan-salinan Qur’an dan kitab-kitab yang sebagai itu biasanya tidak sampai ke tangan kaum santri (orang surau) umumnya, tapi untuk kaum terpelajar atau umumnya kaum sekolah, yang hendak mengetahui ajaran-ajaran Agama Islam, boleh kita katakan hanyalah kitab-kitab bangsa itu, yang menjadi penuntunnya. Dan terutama sekali Qur’an yang dipentingkannya; sebab agama Kristen, yaitu umumnya Eropa, yang di sini menjadi persaingan dan bandingan Agama Islam di mata orang, diajarkan dengan “kitab suci” agama itu yaitu Bebel, istimewa kitab Injil.

Padahal dalam kitab-kitab tadi itu banyak sekali terdapat pemalsuan ayat-ayat Qur’an, yaitu yang berlainan daripada yang sebenarnya. Atau, sekalipun tidak boleh dikatakan menukar makna, akan tetapi seolah-olah dipilih perkataan-perkataan, yang dengan mudah menerbitkan pengertian yang keliru atau perasaan yang tak menyenangkan, oleh karena memang keliru pengertian atau tidak menyukai ajaran-ajaran yang disalinnya itu.

Sebaliknya, umumnya kitab-kitab tafsir Qur’an yang dari pihak Islam, tak dapat dibaca oleh kaum sekolah atau kaum terpelajar tadi. Kaum itu jarang yang mengerti bahasa Arab. Dan jika pun ada yang dapat bahasa Arab atau dapat tafsir yang dengan bahasa Melayu dan sebagainya, tidak juga boleh memuaskan kaum itu, sebab tafsir-tafsir itu tidak memakai ilmu pengetahuan zaman ini dan tidak memakai jalan pemberi keterangan yang bersetujuan dengan paham dan pengertian orang zaman kita ini.

Syahdan tafsir Maulwi Muhammad Ali itu adalah satu karangan, yang sepadan dengan pengetahuan dan pengertian kaum terpelajar zaman sekarang ini.

Macam-macam pemalsuan, macam-macam cacian, celaan dan gugatan daripada pihak luar Islam, istimewa Eropa, mendapat bantahan dan sangkalan dengan alasan-alasan dan bukti-bukti, yang merubuhkan hujah-hujah dan membuktikan kekosongan falsafah pihak pencaci, pencela dan penggugat itu.

Sebaliknya tidak ada di dalam karangan itu sesuatu keterangan yang membatalkan tafsir-tafsir lama yang mu’tabar di dalam kalangan umat Islam. Jika pun ada satu-satu perkara yang berbeda keterangan atau pemandangan dengan satu-satu tafsir dulu itu, tidaklah perbedaan itu baru semata-mata, melainkan mesti sudah ada dari dulu di dalam kalangan ulama Islam.

Sebagai lagi, biar berapapun ‘moderen’-nya keterangan-keterangan dalam karangan Maulwi Muhammad Ali itu, berapapun takluknya kepada ilmu pengetahuan (wetenschappelijk), akan tetapi sepanjang pendapatan penyelidikan saya, selamat ia daripada paham kebendaan (materialisme) dan daripada paham ‘ke-aqlian’ (rasionalisme), paham keghaiban (mistik), yang menyimpang daripada iman dan tauhid Islam yang benar. Tegasnya terpelihara ia daripada kesesatan Dahriyah, Mu’tazilah dan Batiniyah.

Akhirul-kalâm, penerbitan salinan Qur’an dan Tafsir yang diusahakan itu tidak memakai asas kuno. Dari mula-mula terbit bagian pertama penyalin dan penerbit suka menerima ‘perbaikan’ kalau ada salah satu pihak membuktikan salah atau keliru atau punsuatu yang sangat berlainan di dalam salinan yang diterbitkan itu. Dan tiap-tiap ‘persalinan’ yang kuat alasannya akan dicetak pula dan dilampirkan kepada bagian yang berikut.

Dengan jalan ini saya beroleh keyakinan, bahwa dengan usaha penerbitan salinan tafsir itu dapatlah segala faedah yang berguna dengan menyingkiri segala yang mudlarat dan keliru.

Maka oleh sebab itu bukan saja hilang “tak sedap hati” saya yang pada permulaan itu, melainkan berganti dengan suka dan setuju membantu dengan segala kesungguhan hati akan menjadikan usaha itu. Adapun akan taufiq, kepada Allah kita pohonkan.”

Karya Maulana Muhammad Ali, MA.LL.B. lainnya yang sangat populer ialah The Religion of Islam, yang terbit pada tahun 1936 M. Mr. Marmaduke Pickthâll mengemukakan pandangannya terhadap buku tersebut sebagai berikut:

Barangkali tak ada yang lebih berjasa dan lebih lama dalam mengabdikan hidupnya guna pembangunan dan pembaharuan Islam daripada Maulana Muhammad Ali dari Lahore. Karya literairnya, digabung dengan karya literair Khawaja Kamaluddin, membuat Gerakan Ahmadiyah terkenal dan bertambah semarak. Menurut pendapat kami, buku yang diterbitkan sekarang ini merupakan karya yang paling indah. Buku ini berisi gambaran tentang ke-Islaman yang ditulis oleh orang yang alim dalam ilmu Hadits, yang jiwanya dipenuhi dengan perasaan cemas karena merosotnya umat Islam selama lima abad belakangan ini, tetapi beliau mempunyai penuh harapan bahwa Islam akan bangun kembali, yang tanda-tandanya kini nampak dimana-mana. Tanpa menyimpang serambutpun dari kaidah umum tentang hukum ibadah dan mu”amalah, pengarang buku ini menunjukkan tak sempitnya agama Islam dalam menghadapi segala persoalan yang dengan jalan ijtihad, hukum Islam dapat diubah sesuai dengan tuntutan zaman dan masyarakat, asal tidak bertentangan dengan nas Quran dan Hadits Nabi. Buku semacam ini amatlah dibutuhkan pada zaman sekarang, mengingat bahwa di negara-negara Islam banyak yang mendambakan pembaharuan dan pembangunan Islam, tetapi mereka berbuat kesalahan karena miskin akan ilmu yang diperlukan…….” (Islamic Culture, Oktober 1939).

Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh alm. Bp. Soedewo P.K. pada tahun 1938 dengan judul De Religie van den Islam. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bapak R. Kaelan dan H.M. Bachrun dengan judul Islamologi (Dinul Islam). Karya terjemahan ini diberi Pengantar dari Dept Agama Rep. Indonesia yang ditanda tangani oleh Sekjen Depag, Laksma TNI-AL Drs. H. Bahrun Rangkuti, yang memuji dan menyanjung dengan bahasa yang indah sebagai berikut:

“Buku The Religion of Islam karya Maulana Muhammad Ali M.A.LL.B. yang diterjemahkan dengan nama Islamologi (Dinul Islam) sudah lama terkenal dikalangan para pelajar dan sarjana Islam di Indonesia terutama oleh salinan saudara Sudewo dalam bahasa Belanda dengan judul De Religie van den Islam. Banyak para sarjana telah beroleh gambaran hakiki tentang ruang lingkup Agama Islam yang luas aspeknya itu, justru dengan menelâh terjemahan saudara Sudewo itu. Di Universitas Indonesia Fakultas Sastra, waktu saya menjadi mahasiswa pada tahun lima puluhan, oleh Prof Dr. Husein Djajadiningrat buku De Relegie van den Islam dianjurkan sekali membacanya, sebagai bahan telâh komparatif yang tak dapat dikesampingkan Dan memang sesudah pelajar Fakultas Sastra, dan tentunya Fakultas lainnya pada Universitas Indonesia, membaca uraian ilmiah dari orientalis-orientalis Barat, seperti Snouck Hurgronye, Goldzieher, Dazy, Juynboll, dan lain-lain, maka seolah-olah terbukalah alam lain, jika dipelajari pula isi karya Maulana Muhammad Ali yang dengan gaya tersendiri dan ufuk pandangan luas mengupas dan membahas berbagai macam prinsip konsepsionil seta operasionil Agama Islam.

Islamologi (Dinul Islam) karya Allamah Muslim Pakistan ini tak pernah menjemukan para pelajar Indonesia dalam tahun lima puluhan, yang dengan sekaligus malah mempertinggi juga ketrampilan mereka berbahasa Inggris, oleh sebab sudah menjadi keasyikan kami pada waktu itu, juga menelâh karya Maulana Muhammad Ali baik dalam bahasa Inggris maupun dalam bahasa Belanda terjemahan sdr. Soedewo.

Maka jika pun sekarang Penerbit Darul Kutubil Islamiyah menerbitkan pula terjemahan karya ilmiah tentang Agama Islam ini dalam bahasa Indonesia, hemat saya hal itu adalah sesuatu yang menggembirakan benar, pertama mahasiswa Indonesia dari berbagai jurusan baik dilingkungan sekolah-sekolah Tinggi yang diasuh oleh P & K maupun oleh pelajar-pelajar IAIN, yang dikembangkan oleh Departemen Agama, dapat berkenalan dengan kupasan dan mengenai sumber-sumber asasi dan Praktik amaliah Agama Islam.

Dengan menelâh terjemahan The Religion of Islam dalam bahasa Indonesia agaknya, para pelajar Indonesia dan alim ulama pun hemat saya, akan beroleh gambaran yang lebih padu dan sistematis tentang agama Islam. Mungkin disana sini akan timbul semacam “goncangan” tetapi jika pembaca telah melewati titik itu, dan sudi membacanya sekali lagi, apalagi dengan mengikut sertakan pemikiran yang lebih mendalam agaknya pergeseran kelainan pendapat dengan Maulana Muhammad Ali malah akan beralih menjadi sesuatu yang memperkayanya pengalaman dan ilmu tentang inti hakekah Islam.

Maka justru dalam zaman Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, agar lahirlah insan Indonesia yang benar-benar bertakwa kepada Allah swt, terjemahan The Religion of Islam dalam bahasa Indonesia, menjadi salah satu bahan bacaan yang sukar diabaikan apalagi dikesampingkan.”

Buku tersebut pada tahun 1970-an diterbitkan oleh sautu Penerbit di Mesir dengan menghilangkan Kata Pengantarnya, untuk menghilangkan kesan bahwa buku tersebut bukan karya Ahmadiyah. Tetapi sekarang keadaan berbalik, karena buku tersebut secara terang-terangan diterbitkan lagi secara resmi dengan izin dari Al-Azhar Al-Sharif, Islamic Research Academy, General Department for Writing and Translation, Cairo, Egypt tanggal 1 Desember 2002.

Buku-buku Ahmadiyah (Lahore) yang telah dikoreksi dan dievaluasi oleh Al-Azhar itu adlah The Teaching of Islam (karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad), The Religion of Islam, The Early Caliphate, A Manual of Hadith, Introduction to the Study of the Holy Quran, The New World Order, Muhammad the Prophet, Living Thought of Prophet Muhammad, Commentary of the Holy Quran, Jihad in Islam, Ahmadiyya Movement, Muhammad and Christ (karya Maulana Muhammad Ali), The Ahmadiyya Case (kompilasi Dr. Zahid Aziz) dan The Ideal Prophet (karya Khawaja Kamaluddin). Sebagian dari buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diterbitkan.

Selanjutnya, cabang kedua untuk melaksanakan dakwah Islam ialah menyebarluaskan brosur-brosur, berupa selebaran-selebaran dan majalah-majalah. Pendiri Gerakan Ahmadiyah telah memberikan contohnya. Sampai tahun 1891 telah 20.000 brosur disebarluaskan. Pada tahun 1901, beliau meletakkan batu pertama Pembangunan Tabligh Islam di Barat dengan menerbitkan majalah bulanan majalah bahasa Inggris bernama The Review of Religion. Pimpinan majalah ini diserahkan kepada Maulana Muhammad Ali M.A.LL.B. Majalah ini mengupas segala agama di dunia dan merupakan sumber penerangan bagi kaum Muslimin maupun non Muslimin. Maka dari itu, majalah ini sebentar saja menjadi terkenal, apalagi merupakan satu-satunya majalah berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh golongan Islam. Seorang penulis Barat A.H. Walter menulis dalam bukunya yang berjudul The Ahmadiyya Movement, antara lain sebagai berikut:

Majalah ini seirama sekali dengan namanya, karena ia mengupas banyak persoalan penting dari berbagai macam agama di dunia: Agama Hindu kolot, Arya Samaj, Brahmo Samaj, Theosophy, Agama Sikh, Buddha, Agama Yahudi dan Agama Serani. Demikian pula agama Islam dengan cabang-cabangnya dari aliran kolot dan modern, golongan Syi’ah, Ahlul KHaditS, KHoriji, Sufi dan aliran modern seperti Sir Sayid Ahmad Khan dan Sir Sayid Amir Ali”.

Misi Suci tersebut diteruskan oleh Khawaja Kamaluddin, yang pada tahun 1913 berangkat ke London dan berhasil mendirikan Working Muslim Mission, dan menerbitkan majalah bulanan The Islamic Review. Berkenaan dengan dakwah lewat tulisan ini, banyak pihak yang membuat kesaksian. Berikut petikannya:

“Saya telah perhatikan, sebetulnya Gerakan Ahmadiyah adalah suatu perkara yang mendahsyatkan, mereka meninggikan suaranya dan menjalankan penanya dalam bermacam-macam bahasa dan memperkokoh tablighnya dengan membelanjakan harta benda mereka, di Timur dan di Barat; dalam bermacam-macam negeri dan bangsa ….” (Syaikh Muhibuddin dari Mesir dalam Majalah Al-Fatah, no. 315)

“Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasa yang hidup di Eropa. Padahal di zaman 100 tahun yang telah lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur’an ….”  (Prof. Dr. HAMKA, Ketua MUI yang pertama, dalam Pelajaran Agama Islam, cet. Pertama, 1956, hlm. 199)

“Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana dan banyak perpustakaannya ke mana-mana. Sampai di Eropa dan Amerika orang baca ia punya buku-buku, sampai di sana ia sebarkan ia punya propagandis-propagandis. Corak ia punya sistem adalah mempropagandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritiknya dunia Nasrani …. Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektual seluruh dunia umumnya” (Ir. Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi, jilid I, hlm. 389)

Untuk melaksanakan cabang ketiga dari kegiatan da’wah Islam, Gerakan Ahmadiyah menetapkan utusan atau muballigh. Para muballigh itu dikirim ke seluruh pelosok dunia, agar menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang yang masih dalam kegelapan, baik dengan lisan maupun dengan tulisan Dr. Murray Titus telah memberikan kesaksian sebagai berikut: “Pada dewasa ini kaum Ahmadi adalah propagandis Islam yang paling aktif di dunia.” (Indian Islam, 1930, hlm. 217).

Muhammadiyah, perserikatan yang didirikan oleh K. H. Achmad Dahlan, membuat pengakuan pula: “Mubaligh-mubaligh Ahmadiyah yang telah bermukim di Barat sangat keras mengembangkan agama Islam dan meratakan ajarannya, begitulah berangsur-angsur, terus menerus yang datang pada kemudiannya, sehingga di antara Muballighin itu ada yang menuju pusatnya kaum Kristen di tanah Roma, Italia, hendak diislamkannya ….” (Almanak Muhammadiyah tahun 1947, hlm. 42).

Akhirnya tulisan Dr. Fresland Abbott dari Amerika berikut ini perlu kita baca:

“Dengan berlalunya waktu, dalil-dalil Ahmadiyah terhadap agama-agama lain sepenuhnya diterima bahkan oleh penentang-penentangnya yang paling gigih. Dengan keyakinan mereka yang kuat dan gempuran-gempuran mereka yang terus menerus disertai semangat yang tinggi terhadap agama Kristen, mereka menanamkan keimanan semakin kuat di dada banyak kaum Muslimin. Mereka mengembangkan kepercayaan bahwa agama Kristen tidaklah mencerminkan kekuatan Eropa, dan agama yang sejati tetap agama Islam. Inilah arti penting dari Gerakan Ahmadiyah. Meskpun dakwah pribadi dari Mirza Ghulam Ahmad tidak diakui dan organisasinya pada umumnya dikutuk, adalah ironis sekali bahwa jemaat yang paling dimusuhi oleh kaum Muslimin di India dan Pakistan ini telah membuktikan dirinya sebagai pekerja yang paling keras, baik golongan dari Rabwah maupun golongan dari Lahore dalam membela dan menyiarkan Islam menghadapi persaingan yang dilakukan oleh agama-agama lainnya” (Islam dan Pakistan, hlm. 160).

 

PENERAPAN JIHAD ASHGHAR PADA MASA KINI

Jihad ashghar, sifatnya ekstern, adalah jihad dengan senjata untuk mempertahankan agama (kebenaran). Jihad ini wajid dikerjakan jika:

1. Diserang oleh orang-orang kafir

2. Dianiaya oleh orang-orang kafir

3. Diusir dari kampung halaman karena berkeyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah.

4. Merajalelanya penindasan atau fitnah karena agama.

Dari empat syarat tersebut jelaslah bahwa diizinkannya jihad ashghar tujuannya adalah untuk pembelaan diri dan proteksi terhadap kaum tertindas karena agama, bukan untuk menyiarkan Islam. Jika empat syarat itu ditinggalkan, lahirlah para “mujahidin brutal” yang justru bertentangan dengan syariat Islam. Islam tidak anti kekerasan (violence), yang dikutuk adalah brutalitas.

Pada akhir abad ke-19 maupun abad ke-20, jihad ashghar tak dapat dilakukan karena empat syarat tersebut tidak ada, khususnya di anak benua India yang sedang dijajah oleh imperialis Inggris pada saat itu.

Pendiri Gerakan Ahmadiyah dalam suplemen buku Tuhfah Golarwiyah menerangkan sebagai berikut:

Tidak sedikit pun keraguan bahwa syarat-syarat yang diletakkan (dalam Quran Suci) tidak didapat pada sât ini di negeri di mana penulis hidup, karena itu jihad dengan pedang adalah tidak syah di sini pada waktu ini. Alasan ini mendorong kesimpulan yang pasti bahwa jihad bisa syah di negeri lain, di mana dipenuhi syarat-syarat yang diperlukan sebagaimana diletakkan dalam quran Suci atau bahkan juga dinegeri ini bila keadaan telah berubah. Syarat-syarat ini jelas telah dinyatakan dalam kitab suci: “Dan berperanglah di jalan Allah terhadap mereka yang memerangimu dan janganlah agresif, sebab Tuhan tidak menyukai orang-orang yang menyerang (2:191)”.

Dalam buku Nurul-Haqq beliau menulis sebagai berikut:

“Haruslah diketahui bahwa Quran Suci tidaklah semena-mena memberikan perintah perang. Quran memerintahkan berperang hanya melawan orang-orang yang menghalangi orang lain untuk beriman kepada Allah, mengikuti perintah Allah dan memuja-Nya. Quran memberikan perintah berperang terhadap orang-orang yang menyerang kaum Muslim tanpa sebab dan mengusir mereka dari rumah dan negara mereka serta menghalangi mereka menjadi Muslim. Orang-orang tersebutlah yang dimurkai oleh Allah dan orang-orang Muslim haruslah memerangi mereka apabila mereka tidak menghentikan perbuatannya.”

Pendapat beliau tentang jihad ashghar terhadap pemerintah Inggris tersebut tak berbeda dengan para ulama yang bijaksana pada zamannya. Antara lain:

Maulvi Muhammad Husein, pemimpin Ahli Hadits yang memusuhi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, telah menyatakan pendapatnya tentang jihad ashghar di India sebagai berikut:

“Dengan mempertimbangkan Hukum Ilahi dan keadaan masa kini dari kaum Muslimin kita telah menyatakan bahwa sât ini bukanlah sât untuk mengangkat pedang” (Isya’ati Sunnah, Shafar 1301 H. hlm. 366).

Sayyid Abul A’la Maududi, tokoh ulama radikal Pakistan, menulis:

“Tidak ada pembaharu yang dapat memutuskan hanya salah satu jihad saja, yakni berjihad dengan pedang atau dengan pena dalam rangka menjalankan tugas reformasinya. Dia haruslah membutuhkan kedua macam jihad tersebut dalam menjalankan tugasnya. Selama khotbah dan nasehat efektif dilakukan dalam mengajarkan manusia tentang moralitas dan peradaban, mengangkat senjata tidak hanya dilarang, tetapi juga diharamkan.” (Al-Jihad fil-Islam, ed. III, hlm. 27)

Dr. Sir Muhammad Iqbal menulis puisi pujian kepada pemerintah Inggris di India setelah kematian Ratu Victoria (1901) dalam bahasa Urdu, terjemahannya sebagai berikut:

“Kebahagiaan datang, namun kesedihan muncul sesudahnya, kemarin adalah Eid, dan hari ini Muharam (bulan yang diasosiasikan dengan masa berkabung bagi umat Muslim) tiba.

Kejadian hari ini adalah lebih menyedihkan daripada kesedihan pada hari Pengadilan yang akan datang.

Ah! Ratu kerajaan hati telah wafat. Hatiku yang terluka menjadi rumah duka.

Oh India, orang yang engkau kasihi telah wafat, Dia yang bersedih karena kesulitan kita telah wafat.

Oh India, bayangan Tuhan yang melindungimu telah diangkat darimu. Dia yang simpatik kepada penduduk telah pergi.

Victoria tidaklah meninggal sebab nama baiknya tetap ada, inilah hidup yang diberikan Tuhan kepada semua orang.

Semoga almarhum mendapatkan pahala yang berlimpah dan semoga kita tetap menunjukkan kesabaran.”

(Baqiyyati Iqbal, hlm. 71-90)

Nawab Shiddiq Hasan Khan, tokoh Ahli Hadits dan juga pemimpin politik yang terkenal dari Bhopal dalam bukunya Tarjumani Wahhabiyya menulis:

“Buku ini ditulis untuk memberikan informasi kepada pemerintah Inggris bahwa tak seorang pun warga negara India dan negara bagian India yang beragama Islam memiliki kebencian terhadap kekuasaan terbesar ini.” (Edisi yang diterbitkan di Lahore, 1895, hlm. 4)

“Perhatikanlah orang-orang yang tidak mempedulikan ajaran-ajaran agama mereka, kalau-kalau mereka ingin menghapuskan pemerintah Inggris, dan menghapuskan kedamaian serta ketenangan yang ada dengan cara mengacau dengan mengatasnamakan jihad, hal itu merupakan kebodohan dan ketololan belaka.” (hlm. 7)

“Selama pemberontakan (tahun 1857), beberapa orang raja, nawab dan orang-orang kaya ikut campur tangan dalam kedamaian dan ketenangan India di bawah nama Jihad, dan mereka menyebarkan api peperangan hingga kekacauan dan peperangan yang mereka timbulkan mencapai tingkatan wanita dan anak-anak, yang tidak boleh dibunuh di bawah hukum apa pun, dibunuh secara keji …. Jika kini ada seseorang yang membiarkan kekacauan seperti tersebut, maka dia juga merupakan jenis pengacau yang sama, dan dari awal hingga akhir dia akan mencemarkan nama Islam.” (hlm. 15)

Sultan Kekaisaran Turki (Ottoman) yang dikenal sebagai Khalifatul-Muslimin dalam buku Tarikh Aqwam ‘Alam oleh Murtaza Ahmad Khan tertulis keterangan sejarah sebagai berikut:

“Sultan Turki yang bergelar Khalifatul-Muslimin bersyukur atas bantuan Inggris (selama perang Semenanjung Krim di Uni Sovyet). Oleh karena itu, pada tahun 1857 ketika orang-orang Muslim yang ingin merdeka dan orang-orang Hindu India ikut melancarkan perang kemerdekaan terhadap pemerintah Inggris, Khalifah tersebut menulis dan memberi Inggris suatu fatwa yang menganjurkan agar Muslim di India tidak memerangi Inggris, karena Inggris terbukti menjadi pendukung dan mengharapkan perbaikan khilafat Islami” (Tarikh Aqwam ‘Alam, bab I dan II, hlm. 540).

Akhirnya marilah kita renungkan puisi Imam Mirza Ghulam Ahmad tentang haramnya berjihad ashghar melawan Inggris berikut ini:

“Kesampingkan masalah jihad sekarang ini wahai teman-temanku; menyebarkan keyakinan dengan perang dan qital diharamkan. Kamu sekarang tidak lagi menghadapi ancaman dari bangsa lain; bangsa lain juga tidak melarang kalian shalat dan berpuasa. Masih telah datang, Masih yang menjadi imam keyakinan kita; perang keagamaan haruslah diakhiri. Nabi Suci berkata bahwa Isa akan menangguhkan peperangan.”

Dari uraian di atas jelaslah bahwa sejak awal abad ke-19 yang lalu kesalahpahaman umat Islam tentang doktrin jihad telah mencapai puncaknya, karena mereka tidak mampu membedakan syariat yang sifatnya kekal, tak berubah – sebab tak ada syariat Islam yang mansukh (dihapus) – dengan fiqih, terutama fiqih siyasah dan jihad yang sifatnya berubah-ubah, bergantung situasi dan kondisinya. Yang dihapus dan diharamkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah fiqh siyasah yang berhubungan erat dengan fiqh jihad, khususnya jihad ashghar yang dalam “fiqh Islam” disebut “jihad” saja, tanpa jihad akbar dan jihad kabir. Dihapusnya jihad ashghar pun hanya berlaku saat itu di India saja, bukan di temapt lain, misalnya di Indonesia.

Dihapusnya jihad ashghar adalah demi terlaksananya jihad kabir dan jihad akbar yang dilupakan oleh umat Islam saat itu, padahal keduanya amat signifikan untuk mencapai kemenangan Islam pada zaman akhir. Hal itu harus beliau sampaikan karena beliau adalah Masih dan Mahdi yang dijanjikan, yang masalah ini masih tetap misterius bagi kaum Muslimin non Ahmadi. Masalah ini pula yang menyebabkan mereka menentang keras Imam Zamannya sendiri. Agar lebih jelas marilah kita renungkan tulisan-tulisan beliau berikut ini:

“Pertimbangkanlah dengan seksama Hadits Bukhari yang menjelaskan masalah Masih yang dijanjikan. Tertulis di sini yadh’ul-harb yang berarti ketika Masih datang kitaharusmengakhiri perang agama” (Government Angrezi aur Jihad, hlm. 15)

“Saya harus menjelaskan kepada pemerintah Inggris tentang keyakinan kaum Wahabi atau ahli Hadits yang dipimpin oleh ulama Muhammad Husain Batalvi tentang masalah Mahdi dan keyakinan tentang Mahdi yang saya miliki dan para pengikut saya. Akar dari semua pertentangan ini adalah karena saya tidak mempercayai Mahdi dalam pengertian mereka. Mahdi dalam pengertian saya adalah Putra Maryam yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh umat Islam untuk memenangkan Islam di akhir zaman, misalnya menjadi imam umat Islam, mematahkan salib, membunuh babi, mengalahkan dajjal, serta menjadi hakim yang adil. Putra Maryam tersebut sudah datang, yakni saya sendiri, Imam Mirza Ghulam Ahmad yang bergelar Al-Masih dan Mahdi sebagai mujaddid abad 14 Hijriah. Dengan demikian, orang-orang tersebut menganggap saya kafir. Jadi, di bawah ini saya menjelaskan tentang Mahdi sehingga dapat dibandingkan antara pendapat saya dan pendapat mereka.” (Haqiqatul-Mahdi, hlm. 3)

“Setiap orang yang bijaksana akan menyadari bahwa keyakinan kami – bahwa tidak ada nabi atau Masih yang akan datang dengan pertumpahan darah, yang keberhasilannya diperoleh dengan memaksa orang lain menjadi Muslim – adalah keyakinan yang baik yang berdasarkan pada prinsip-prinsip perdamaian dan kelemahlembutan. Melalui keyakinan ini, musuh Islam tidak dapat menuduh bahwa Islam mengancam. Manusia tidaklah diperkenankan memperlakukan sesama manusia secara liar. Islam juga tidak menodai nilai-nilai moral seseorang. Orang-orang yang meyakini ajaran ini juga tidak hipokrit terhadap pemerintah yang berbeda agama.” (ibid, hlm. 10-11)

“Orang-orang tersebut berpegang teuh pada keyakinan tentang jihad yang berlawanan dengan Quran dan Hadits. Orang yang tidakmenerima keyakinan tentang Mahdi akan disebut dajjal (anti Kristus) oleh mereka, dan mereka menyerukan untuk membunuh orang yang tidak percaya terhadap Mahdi ini. Saya termasuk orang yang dianggap dajjal dalam waktu yang lama.” (Government Angrezi aur Jihad, hlm. 7)

Zaman kita sekarang ini adalah zaman akhir yang disebut dalam Quran Suci dan Hadits Nabi – dengan pengertian zaman Nabi Suci dan Sahabatnya adalah yang awal (56:39-40). Cara memenangkan Islam pada zaman ini bukan dengan pedang sebagaimana mereka yakini bahwa Imam Mahdi akan datang untuk membunuh orang-orang kafir dengan pedang, melainkan dengan dalil yang ditulis pada lembaran-lembaran kertas lalu disebarluaskan sebagaimana diramalkan dalam Alquran surat At-Takwir dan juga dalam Hadits Nabi, antara lain Hadits yang artinya:

“Apabila ia (Dajjal) muncul dan aku ada di tengah-tengah kamu, aku akan mengalahkan dia dengan dalil, dan apabila ia muncul sedangkan aku tak ada di tengah-tengah kamu, hendaklah tiap-tiap orang berbantah dengan dia” (Kanzul-‘Ummal, jilid VII, hlm. 2076)

“Maka apabila ia (Dajjal) muncul dan aku ada di tengah-tengah kamu, aku akan mengalahkan dia dengan dalil atas nama kaum Muslimin; akan tetapi apabila ia muncul sesudahku, hendaklah tiap-tiap orang berbantah dengan dia atas nama sendiri” (ibid, hlm. 2075, 2079)

Dengan dalil itulah Islam mengalahkan Barat secara damai tanpa pedang sebagaimana dianjurkan oleh Quran Suci 29:46. Melalui dalil, superioritas ide dapat disampaikan. Realitas ini disadari oleh mereka, antara lain seperti diungkapkan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and The Remaking of World Order (1996), “Barat memenangkan dunia bukan dengan superioritas ide-idenya atau nilai-nilainya atau agamanya, tetapi lebih kepada superioritas dalam pemakaian kekerasan yang terorganisir. Barat sering lupa kenyataan ini, non Barat tak pernah berbuat (kekerasan)”.

Ramalan Nabi Suci pada zaman akhir Isa bin Maryam atau Al-Masih akan datang untuk “mematahkan Salib” adalah dengan dalil, bukan dengan pedang, guna menyongsong kemenangan Islam atas semua agama (9:33; 48:28; 61:29) sehingga tegaklah Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga di muka bumi ini. Jalan pintasnya adalah jihad akbar dan jihad kabir bersenjatakan Quran Suci, bukan jihad ashghar dengan pedang. Mudah-mudahan kita semua dapat berperan serta dalam Rencana Ilahi memenangkan agama-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

—00—

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Hasan Alhadar, Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah, PT Alma’arif, Bandung, cetakan pertama, 1980.

Boedi Abdoelah, Taktis Jihad dalam Islam, PT Alma’arif, Bandung, cetakan pertama, 1980.

Djojosoegito M.Sc., Prof. Ir. H. Fathurrahman Ahmadi, Benarkah Ahmadiyah Sesat?, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta, edisi ke-2, 2003.

_________, Kemenangan Islam, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta, 2000.

Hamka, Hak-hak Azasi Manusia antara Deklarasi PBB dan Syariat Islam, Panjimas, cetakan pertama, 1971.

_________, Pelajaran Agama Islam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1956.

Hamka Haq Al-Badry, Drs., Koreksi Total terhadap Ahmadiyah, Yayasan Nurul Islam, Jakarta, cetakan pertama, 1981.

Muhammad Ali M. A. LL.B., Maulana, Islamologi (Dinul Islam), diterjemahkan oleh R. Kaelan dan H. M. Bachrun, Darul Kutubil Islamiyah dan Penerbit PT Ichtiar Baru van Hoeven Jakarta, 1977.

_________, Quran Suci, diterjemahkan oleh H. M. Bachrun, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta, 1979.

Nanang RI Iskandar, M.Sc., Ph.D., Dr. H., Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Darul Kutubil Islamiyah Gerakan Ahmadiyah Indonesia Jakarta, cetakan pertama Rajab 1926 H/Agustus 2005.

__________, Hasil Studi Banding Ahmadiyah, Darul Kutubil Islamiyah Gerakan Ahmadiyah Indonesia, cetakan pertama Sya’ban 1426 H/September 2005.

Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah dan Jihad, Radja Pena, Ujung Pandang, cetakan pertama, 1975.

Sulaiman Rasyid, H., Fiqih Islam, Penerbit At-Tahiriyah, Jakarta, cetakan kedua belas, tt.

Yunan Nasution, M., Pengertian Jihad, Panji Masyarakat, no. 316, 24 Rabiul Akhir, 1401 H – 1 Maret 1981.

Zahid Aziz, Dr., Ahmadiyya Case, Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam Lahore, first edition, 1987.


 

[1] Gerakan Ahmadiyah yang menghidupkan kembali doktrin jihad, dianggap menghapus syari’at jihad dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: