Bila Turun Nanti, Apakah Isa Almasih tetap seorang Nabi?

Oleh: Erwan Hamdani

Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi sebelumku. Semua nabi sebelumku diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada semua manusia yang berkulit merah dan hitam” (Al-Hadist; Riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari radiyallahu’anhu)

Perbedaan utama antara kaum Muslim Ahmadi dengan Muslim pada umumnya  adalah terletak pada penafsiran hadits-hadits mengenai nuzulul masih atau turunnya Nabi Isa di akhir zaman,Yakni apakah Nabi  Isa yang akan turun itu Nabi Isa Almasih dari Israel yang hidup 2000 tahun lalu atau seorang pengikut Nabi Muhammad yang mempunyai kesamaan dengan Nabi Isa, lalu perbedaan antara Ahmadiyah Lahore dengan Ahmadiyah Qadiyan adalah pada  status Nabi Isa di Akhir Zaman itu, apakah tetap Nabi atau Bukan Nabi, dalam hal status kenabian, baik Kaum Muslimin umum maupun Ahmadiyah Qadiyan (Qadiyani)  mempunyai keyakinan yang sama yakni, Nabi Isa di Akhir Zaman itu tetap seorang Nabi.

sebagai ilustrasi berikut ini adalah tanya jawab yang terjadi pada forum pertemuan yang berisi kaum Muslim pada umumnya (MU) dan  Muslim Ahmadiyah Qadiyani  (AQ) serta Muslim Ahmadiyah Lahore (AL) lalu ada seorang penanya (P) menanyakan kepada forum:

P:  Apakah forum disini mempercayai Turunnya Nabi Isa nanti?

Serempak mereka semua menjawab IYA

P: lalu bagaimana kedudukan Beliau bila turun nanti, apakah tetap Nabi atau bukan

AQ dan MU serempak menjawab, TETAP NABI

AL  menjawab: Bukan, Pada hakikatnya bukan Nabi

P: bila jabatan beliau Nabi, lalu bagaimana kedudukan Nabi Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin?

AQ :  Khataman Nabiyyin tidak berarti Nabi terakhir, tetapi sebagai Cap para nabi. Artinya Ratusan bahkan Ribuan Nabi tetap akan datang setelah Nabi Muhammad tetapi tetap dalam syariat Islam atau dengan kata lain tetap dengan cap/stempel Nabi Muhammad

MU : Khataman Nabiyyin tetap berarti sebagai nabi terakhir, dalam artian Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang diangkat oleh Allah, berhubung Nabi Isa diangkat sebelum Nabi Muhammad maka kedatangan beliau tidak bertentangan dengan Khataman Nabiyyin. Begitupula dengan kedatangan nabi2 lainnya seperti Nabi Khidir, Nabi Idris dan Nabi Elias yang konon belum wafat, bisa datang lagi.

AL : Nabi Suci sebagai Khataman Nabiyyin, bermakna sebagai penutup para Nabi, atau Nabi yang paling akhir, sesudah beliau tidak akan datang lagi nabi baik nabi baru maupun nabi lama, Dus, Nabi Isa di akhir zaman itu bukan Nabi dalam terminologi Islam.

Disini pembaca bisa melihat bahwasannya —meskipun mereka berseteru— Muslim Ahmadiyah Qadiyan dengan Muslim pada umumnya mempunyai pandangan yang sama, yakni AKAN ADA NABI LAGI SETELAH NABI SUCI MUHAMMAD, dan hanya Muslim Ahmadiyah Lahore sajalah yang berani, jelas dan tegas mengatakan: Nabi Suci sebagai Khataman Nabiyyin, bermakna sesudah beliau tidak akan datang lagi nabi baik nabi baru maupun nabi lama.

Untuk Ahmadiyah Qadiyan, yang hobinya mengutak-atik ayat untuk ditafsirkan menurut selera sendiri, hendaknya jangan mengartikan arti kata Khataman Nabiyyin dengan kata perkata, yakni Khatam itu artinya bla..bla bla dst, tapi hendaknya diartikan secara keseluruhan yakni KHATAMAN-NABIYYIN, adakah arti tersebut didalam Kamus bahwa Khataman Nabiyyin bermakna bahwa ribuan nabi akan datang setelah Nabi Muhamamd, kalau ada silahkan ditunjukan, namun bila kita merujuk kepada penafsiran Quran Suci, dimana penafsiran Nabi Suci Muhammad adalah yang paling benar, maka hendaknya kita menundukan kepala kepada hadits ini.

“Tidak akan datang kiamat sehingga beberapa qabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sehingga mereka menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku ini tiga puluh orang pembohong besar masing-masing mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sama sekali sesudahku.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban, disahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam sahih Al-Jami;ush Shagir no: 7295).

Tolong dibaca dengan teliti kalimat terakhir dalam hadist tsb yang dalam bahasa Arabnya adalah, Ana Khataman nabiyyin, La Nabiya ba’di. Jelas sekali disini Nabi Suci Muhammad mengartikan kata Khataman Nabiyyin  dengan arti  La Nabiyya bai’di, yakni TIDAK ADA LAGI NABI SETELAH KU.

Untuk kaum Muslimin pada Umum (MU) yang berpendapat bahwa yang berakhir dari kenabian hanyalah pengangkatannya saja, jadinya bila ada nabi terdahulu sebelum Nabi Suci datang maka hal ini tidak bertentangan dengan Khataman Nabiyyin. Argumen ini hanyalah mengalihkan dari  titik permasalahan yang sebenarnya, dari Apakah setelah nabi Muhammad Ada seorang Nabi?,  menjadi masalah pengangkatan seorang Nabi, apapun hasilnya tetap pada kenyataan bahwa AKAN ADA LAGI NABI SETELAH NABI MUHAMMAD, dus, pandangan ini mendustai ayat Khataman Nabiyyin dan mendustai keakhiran kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad SAW.

Pandangan ini bila dibalik logikanya akan menjadi “bila ada seorang yang mengaku diangkat menjadi nabi setelah pengangkatan Muhammad sebagai Nabi adalah seorang pendusta, Dajjal dsb”., lalu bagaimana dengan Hadits sbb:

Sabda Baginda salallahualaihi wasalam, “Sesungguhnya Allah menulis tentang takdir ciptaan-Nya 50,000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. Ketika Baginda salallahualaihi wasalam ditanya, “Bilakah engkau dilantik sebagai Nabi?” Jawab Baginda salallahualaihi wasalam, “Ketika (Nabi) Adam antara roh dan jasad.” (Diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban dan Baihaqi.)sumber

Nabi Muhammad dilantik menjadi Nabi bahkan sebelum Adam diciptakan!!, lalu bagaimana kedudukan Nabi-nabi yang dimulai dari Nabi Adam dalam pandangan kaum Muslimin tersebut “bila ada seorang yang mengaku menjadi nabi setelah (pengangkatan) Muhammad sebagai Nabi adalah seorang pendusta” ????, karena kenyataannya —berdasarkan hadits itu— mereka menjadi Nabi setelah Nabi Muhammad menjadi Nabi. Bila dikatakan mereka tetap Nabi , maka tidak ada batasannya nabi baru dan nabi lama, karena Nabi Muhammad adalah NABI PERTAMA YANG DILANTIK MENJADI NABI SEBELUM ADAM. Dus senada dengan hadits ini maka menurut pandangan Mainstream tsb, seharusnya boleh donk ada lagi nabi saat ini, hari ini dan zaman ini!

Argumen ini menjadi pertanyaan di benak saya, apakah pengangkatan seorang Nabi itu seperti pengangkatan atau pelantikan seorang Menteri/direktur? Atasannya tinggal mengatakan hari ini kamu saya angkat/saya lantik menjadi Menteri/ Direktur?, bila memang seperti itu pengangkatan seorang nabi maka hal ini bertentangan dengan Sunnatullah, KARENA TIDAK ADA SEJARAHNYA PENGANGKATAN SEORANG NABI DIMULAI DENGAN Kalam Ilahi/Wahyu: “WAHAI FULAN, HARI INI KAMU DI LANTIK DAN DIANGKAT MENJADI NABI”, seseorang menjadi Nabi karena dia dianugerahi Kalam Ilahi  yang dibacakan oleh Malaikat Jibril atau disebut Wahyu Matluw (wahyu yang dibacakan). Bila hanya mendapatkan wahyu saja, Jauh sebelum peristiwa di Gua Hira, Nabi Suci sering mendapatkan wahyu Ilahi:

Hadits riwayat Aisyah ra, isteri Nabi saw. bahwa: Beliau bercerita tentang wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagaikan terangnya Shubuh. Kemudian beliau sering menyendiri. Biasanya beliau menyepi di gua Hira’. Di sana, beliau beribadah bermalam-malam, sebelum kembali kepada keluarganya (isterinya). Untuk itu beliau membawa bekal. Setelah beberapa hari, beliau pulang ke Khadijah, mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal itu terus beliau lakukan, sampai tiba-tiba wahyu datang, ketika beliau sedang berada di gua Hira’. Malaikat (Jibril as.) datang dan berkata: Bacalah…….. (dst) sumber

Berdasarkan hadits tsb, wahyu pertama Nabi Suci bukanlah pada peristiwa Gua Hira. Namun meskipun sering menerima wahyu, Muhammad Bin Abdullah, bukanlah/ belum menjadi seorang Nabi. Baru pada peristiwa Gua Hira, dimana Beliau saw, kedatangan Malaikat Jibril dan membacakan kalam Ilahi yang di cantumkan pada salah satu surat di dalam Kitab Quran Suci, surat ke 96 yang bernama Surat Al ‘Alaq, Seluruh Umat Islam sepakat peristiwa itu adalah peristiwa penobatan Muhammad Bin Abdullah menjadi Nabi. Di tambah adanya kenyataan keberadaan Hadits Qudsi yang memuat kalam Ilahi, namun tidak dimasukan kedalam Quran Suci. Nampaknya, Nabi Suci sangat berhati-hati membedakan mana Wahyu Kenabian dan mana Wahyu bukan kenabian yang Beliau terima, karena itu seshahih apapun Hadits Qudsi, tetap tidak bisa di masukan ke dalam Quran Suci, yang mana isi dari Qur’an Suci keseluruhannya itu merupakan Wahyu Kenabian

hal ini membuat jelas akan adanya kenyataan dua jenis wahyu. Yakni:

  1. Wahyu Kenabian, yang bila di anugerahkan kepada seseorang maka akan membuat dia menjadi seorang Nabi
  2. Wahyu bukan kenabian, Wahyu ini akan tetap ada dan diberikan kepada pengikut setia Nabi Suci. Karena sifat Allah itu kekal. Sebagaimana zaman dahulu Allah itu Maha Melihat dan Maha Mendengar, saat ini Allah juga Maha Melihat dan Mendengar, juga di masa yang akan datang. Begitu pula dengan sifat Allah ‘Kalam’, Zaman dahulu Allah berwawansabda dengan hamba-Nya yang tulus begitu juga saat ini dan juga saat akan datang. Paska wafatnya Nabi Suci, tidak membuat Allah menjadi berhenti berkomunikasi dengan ciptaan-Nya, na’udzubillahimindzalik.

Dus, Nabi Suci sebagai Nabi terakhir bukan karena pengangkatannya — yang mana nabi lama bisa datang setelah beliau— akan tetapi Nabi Suci sebagai nabi terakhir dalam artian bahwa wahyu nubuwwat (wahyu kenabian), wahyu yang bisa membuat seseorang menjadi Nabi  tidak akan datang lagi atau telah tertutup. Bila dipaksakan bahwa yang datang nanti adalah Nabi Isa, seorang Nabi Israel  yang hidup 2000 tahun yang lalu maka:

  1. Merusak pintu berakhirnya kenabian yang telah ditutup rapat oleh Allah, Nabi Isa itu seorang Nabi, tidak mungkin turun derajatnya menjadi bukan nabi, karena menurut Quran dimanapun Nabi Isa berada dia akan tetap menjadi Nabi: “….dan membuat aku seorang Nabi.  Dan Ia membuat aku seorang yang diberkahi di mana pun aku berada,  “ (Qs 19:30-31)
  2. Hanya Nabi Suci sajalah Seorang Nabi yang diutus untuk seluruh bangsa. Nabi-nabi lain hanya nabi lokal. Nabi Isa pun hanya untuk Bani Israel (Matius 15:26), dan hal ini merupakan keistimewaan Nabi Suci:

Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari radiyallahu’anh, ia berkata: Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi sebelumku. Semua nabi sebelumku diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada semua manusia yang berkulit merah dan hitam. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan kepada seorang pun sebelumku. Bumi diciptakan untukku dalam keadaan suci menyucikan dan sebagai mesjid. Barang siapa yang menemui waktu salat, maka salatlah di tempat ia berada. Aku diberi kemenangan dengan membuat takut musuh selama jarak perjalanan satu bulan. Dan aku juga diberi syafaat.

Karena itu seandainya nanti Nabi Isa dari kaum Yahudi turun tentunya ruang lingkup dakwahnya  hanya sebatas wilayah Israel saja, tidak lebih, jadinya untuk apa umat non Yahudi menunggu-nunggu kedatangannya?

3.  Nabi Isa yang berusia 2000 tahun itu jika datang kembali akan terlalu tua dan jompo.

Menurut Quran Suci, para nabi itu tidak memiliki kekebalan waktu.

“Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal (Khuld). Apakah jika engkau mati, mereka itu kekal (Khalidun)” ? (21:34) “

Mereka (yakni para Nabi) itu tidak hidup kekal (Khalidin)” (21:8)

arti “Khulud” menurut  Imam Raghib: artinya ialah sesuatu yang kebal dari kerusakan, dan tahan terhadap perubahan kondisi. Bangsa Arab menyebut sesuatu dengan kata Khulud….. yakni terus menerus dalam suatu keadaan dan tidak berubah (hal 153-154). Dan sudah menjadi ketentuan Ilahi (sunnatullah) bahwa, seseorang itu terlahir sebagai bayi, lalu tumbuh menjadi anak-anak lalu menjadi remaja, dewasa dan akhirnya menjadi jompo, dimana dia setelah jompo maka dia menjadi sebagaimana firman Allah:

“Allah ialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, lalu Ia memberi kekuatan setelah lemah, lalu membuat kelemahan dan ubanan setelah keadaan kuat.” (30:54),

Dan diantara kamu ada pula yang dikembalikan menjadi pikun (jompo), sehingga ia tak tahu apa-apa setelah ia tahu.” (22:5)

“Dan barang siapa Kami beri umur panjang, niscaya Kami kembalikan kepada keadaan kejadian yang hina (buruk). Apakah mereka tak mengerti?.” (36:58).

Karena “ Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah” (30:30)

maka sunatullah ini pun berlaku untuk nabi Isa. Jika nanti Nabi Isa Israeli datang maka beliau berusia kurang lebih 2000 tahun, sungguh tiada guna dia datang dalam kondisi jompo, jangankan untuk memenangkan Islam, untuk melayani diri sendiri saja dia sudah tidak mampu.

Kesimpulannya adalah, Nabi Isa telah wafat 2000 tahun yang lalu.

klik disini untuk membaca selengkapnya dalil bahwa Nabi Isa telah wafat.

Karena itu Nabi Suci Muhammad adalah Nabi terakhir yang setelahnya tidak akan datang lagi, baik nabi baru maupn nabi lama.

Klik disini untuk membaca dalil-dalil lainnya tentang keberakhiran kenabian pada diri nabi Suci.

Demikian semoga bermanfaat.

Wassalam wr wb.

3 Tanggapan

  1. Baik Dajjal, Al Mahdi ataupun Nabi Isa As. yang akan turun kembali ke bumi, pada dasarnya tidak ada dalam Al Quran.

    Dajjal sudah ada sejak manusia ada, seperti kasus pembunuhan antaranak Adam As;

    Al Mahdi atau Imam Mahdi sudah datang sebagaimana diharapkan oleh Nabi Ibrahim As. dlm QS. 2:129 yakni nabi pamungkas, penutup para nabi, ajarannya berlaku sampai akhir zaman itulah Nabi kita Muhammad SAW (QS. 5:3 dan 33:40), inilah Al Mahdi yang sesungguhnya.

    Nabi Isa As. yang ‘konon’ akan datang kembali ke dunia, ternyata dibantah oleh Al Quran sendiri, bahwa misi para rasul dan nabi terdahulu sudah selesai dan dia tak akan diminta pertanggung jawaban atas nabi/rasul sesudahnya yakni Nabi Muhammad SAW (QS. 2:134 dan 141).

    • sesungguh nya bukan lah ISA anak Siti Maryam Dzahir muncul ke bumi..melainkan ajaran-ajaran yang di sampaikan olehnya terdahulu…yaiutu tentang KETUHANAN,tentang TAUHID…yang mana misi nya adalah :
      1. MENGHANCURKAN SALIB-SALIB >> disini yang di maksud akan menghancurkan salib-salib ada lah bukan salib yang ada di gereja-gereja atau rumah-rumah umat kristiani…yang dimaksud salib disini adalah PENDERITAAN.
      2. MEMBUNUH BABI >> apakah mesti ISA anak maryam turun ke bumi hanya untuk membunuh babi-babi ?? apakah tidak bisa polisi dan tentara yang ada di bumi untuk memusnahkan babi ?? yang di maksud dengan membunuh babi-babi disini adalah membunuh sifat-sifat babi yang ada di dalam diri maunusia yaitu sifat tamak & loba…
      3. MENGHAPUS PENDERITAAN >> adalah akan menghapus kan pajak-pajak yang membuat masyarakat berekonomi rendah menderita…mungkin ini sedikit penjelasan dari saya.
      SALAM

  2. alhamdulillah gambaran siapa almasih di akhir zaman sudah bisa di kenali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: