Tafsir SURAT (79) AL-NAZI’AT : ORANG YANG MERINDUKAN (Bagian 2)

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Manusia telah diberi semua perlengkapan – kecerdasan, penilaian, hati nurani – sedemikian rupa sehingga dia dapat menggunakan pengetahuannya dan anugerah kebebasan memilihnya dan karenanya manusia bertanggung-jawab atas perbuatannya. Jadi, kemanusiaan seseorang membawa konsekuensi bahwa dibalik dunia fana ini ada dunia lain yang akan mencerminkan kehidupan yang ada pada saat ini dan manusia akan memberikan pertanggung-jawaban atas perbuatannya, karena alam semesta yang ada ini serta segala kekuatan yang beroperasi didalamnya tidak sepenuhnya menentukan kadar tindakan manusia. Jika tak ada dunia lain di luar dunia yang ada saat ini, maka penciptaan manusia itu tak akan berguna karena didunia ini hanya mencakup kesempurnaan kehidupan lahiriahnya saja

RUKUK  2  :   BENCANA BESAR

27. Kamukah yang lebih kuat dalam ciptaan ataukah langit? Ia membangunnya.

Dimana posisi sesungguhnya dari manusia itu? Dia hanya menikmati kehadirannya yang sangat singkat dibandingkan bumi dan langit serta alam semesta lainnya, apakah dia dalam kebenaran? Untuk mengukur besar dan luasnya langit adalah kerja yang mustahil. Lihatlah besarnya sistem tata surya kita saja, misalnya. Tetapi ingatlah bahwa sejauh ini ada tiga juta matahari dengan sistem tata suryanya masing-masing yang telah diketemukan dan bisa jadi yang lainnya segera diketemukan. Hanya, Allah Ta’ala yang mengetahui keadaannya dan apa yang terjadi atasnya. Lalu apa arti kehadiran manusia itu dibanding mereka? Jadi, adakah kesulitan bagi Pencipta seluruh alam semesta yang tak berbatas ini dalam menciptakan manusia untuk kedua kalinya (sesudah kematiannya)?

28. Ia meningkatkan tingginya, dan menyempurnakannya.

Seberapa jauhkah tinggi langit itu? Memandang sejauh-jauhnya saja akan mengacaukan fikiran kita. Untuk menghitung jarak Bintang Polaris (bintang utara) dari bumi pertama kita harus menimbang kenyataan bahwa cahaya itu bergerak 186.000 mil per detik. Ditulis dalam jurnal ilmiah bahwa cahaya Bintang Polaris membutuhkan tujuh-puluh lima tahun cahaya untuk mencapai bumi kita dan beberapa bintang lain bahkan perlu waktu lebih lama lagi – beberapa ratus tahun cahaya! Disamping tinggi dan luasnya seluruh sistem langit yang tak terhitung, demikian indah, begitu harmonis dan teratur dalam pengorganisasiannya sehingga tak ada tandingannya, dan segala yang diciptakan dan untuk tujuan apa itu dibuat maka segala hal itu tak akan pernah bisa mengungguli dalam kesempurnaan dan ketepatannya dengan ciptaan-Nya.

29. Ia membuat gelap malamnya, dan Ia mengeluarkan sinar terangnya.

Kini, penelitian ilmiah telah sampai pada suatu kesimpulan pada titik ini yakni bahwa sebelum segala sesuatu di dunia fisik ini ada, maka ether diciptakan dan ini adalah inti-sari kegelapan. Setelah gelap datanglah cahaya, karena matahari diciptakan belakangan. Namun, dalam ayat ini kata yang digunakan adalah cahaya (duha) dan bukannya matahari (shams) dan ini karena cahaya langit itu tidak berasal dari satu matahari saja melainkan dari matahari yang tak terhitung banyaknya.

30. Dan bumi, Dia melontarkannya (dahaha) sesudah itu.

“Daha” berarti “dipisahkan” dan terlontar seperti sebuah batu. Sebegitu jauh ilmu pengetahuan menyembunyikan kata ini (daha) yang membuat manusia terheran-heran. Kini, setelah penelitian astronomis yang ekstensif, ilmuwan telah menemukan suatu teori bahwa pada awalnya, matahari itu suatu orbit besar yang berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi dan setelah terbentur dengan suatu benda langit yang besar, maka dia terpecah menjadi banyak kepingan yang berbeda seperti kilat yang dengan kerasnya berputar jauh dalam ruang angkasa bebas. Satu keping di antaranya adalah planet kita yang mendingin dan setelah berangsur melewati beberapa tahap, maka dia menjadi cocok untuk tempat hidup. Empat belas abad yang lalu, Qur’an Suci telah mengungkapkan ke dunia bahwa langit itu pertama diciptakan dan bumi datang belakangan (ba’da dhalika).

Dalam membuat rujukan atas penciptaan dari benda-benda langit yang luar biasa besarnya ini, Allah Ta’ala mengingatkan manusia bahwa penciptaannya itu tak berarti dibandingkan dengan  mereka itu. Sesungguhnya, obyek inilah yang menyajikan tahap pertama dalam penciptaan manusia setelah kehidupan itu ada. Maka, bila Allah bisa menciptakan seluruh benda langit yang besar-besar ini, apa sulitnya Dia menciptakan dan memberi kehidupan kepada manusia untuk kedua kalinya?

31. Dari sana Ia mengeluarkan airnya dan padang rumputnya.

Setelah bumi itu terlontar dari matahari, benda pertama yang diciptakan Allah yakni air di mana segala bentuk kehidupan muncul darinya, sebagaimana Qur’an Suci berkata: “…Dan Kami membuat dari air segala sesuatu yang hidup…”(21:30).

Dari air timbullah tumbuh-tumbuhan yang berguna sebagai bahan makanan persediaan untuk binatang. Sejauh ini, manusia belum diciptakan, tetapi persediaan berupa air dan bahan makanan telah diadakan baginya.

32. Dan gunung-gunung, Ia meneguhkannya.

Ada air di bumi tetapi dia asin, sehingga ini tidak dapat menggerakkan tumbuhnya bahan makanan atau untuk mempertahankan hidup manusia, karena tak dapat diminum. Karena itu, air diangkat dari laut berupa uap-air yang dihembus oleh angin. Gunung-gunung berdiri sebagai benteng yang tak bisa ditembus, tetapi ini menyebabkan uap air itu naik lebih tinggi lagi dan berubah menjadi awan dimana akhihrnya hujan jatuh ke bumi dan menyebabkan tumbuhnya tanam-tanaman yang menjadi sarana bagi kelangsungan hidup binatang dan manusia.

Namun, angin yang membawa hujan ini tidak bertiup terus-menerus ataupun siklus hujan itu tanpa akhir. Karena itu, sebagian hujan yang turun itu diserap oleh pegunungan dan dari tandon air digunung-gunung ini memancarlah mata air dan mengalirlah sungai-sungai. Dan di samping sungai di permukaan, demikian juga di bawah tanah ada aliran air dimana kita bisa menggali sumur. Sebagian air juga disimpan di gunung dalam bentuk es yang mencair di musim panas atau kering dan mengisi sungai yang kemudian mengairi tanah. Pendeknya, peran dari pegunungan dalam mempertahankan kehadiran manusia adalah diluar perkiraan manusia.

Sebagai tambahan dari segala manfaat ini, gunung-gunung juga berfungsi sebagai paku yang meneguhkan bumi, sebab, bila tidak, gempa akan terus-menerus mengguncang sehingga bumi tidak layak untuk dihuni.

33. Persediaan makanan bagi kamu dan bagi ternak kamu.

Segala sesuatu yang diperlukan bagi kehidupan hewani manusia maupun binatang telah diciptakan. Ungkapan “kehidupan hewani” digunakan karena makanan dan minuman itu hanya menolong mempertahankan kehadiran fisik manusia dan dalam kaitan ini maka manusia dan binatang itu sama kedudukannya. Jadi, jika tujuan hidup manusia itu sekedar untuk makan dan minum, maka tak ada bedanya antara dia dengan hewan. Jika ada gambaran mencolok antara keduanya, ini terletak dalam amal perbuatannya, yakni, dalam membedakan antara kebaikan dan kejahatan karena inilah yang membentuk sari jati-diri manusia.

Manusia telah diberi semua perlengkapan – kecerdasan, penilaian, hati nurani – sedemikian rupa sehingga dia dapat menggunakan pengetahuannya dan anugerah kebebasan memilihnya dan karenanya bertanggung-jawab atas perbuatannya. Jadi, kemanusiaan seseorang menuntut bahwa dibalik dunia fana ini ada dunia lain yang akan mencerminkan kehidupan yang ada pada saat ini dan manusia akan memberikan pertanggung-jawaban atas perbuatannya, karena alam semesta yang ada ini serta segala kekuatan yang beroperasi didalamnya tidak sepenuhnya menentukan kadar tindakan manusia. Jika tak ada dunia lain di luar dunia yang ada saat ini, maka penciptaan manusia itu tak akan berguna karena didunia ini hanya mencakup kesempurnaan kehidupan lahiriahnya saja. Bagi pertumbuhan, pengembangan dan penyempurnaan kehidupannya yang lebih tinggi, maka dunia lain itu diperlukan.

Pendeknya, ada dua hal dimana para filsuf bisa memperdebatkan dengan lengkap masalah ini yang dikaitkan disini. Sebagai jawaban atas pertanyaan pertama dari para filsuf, Qur’an Suci membalas: Tidak mampukah Dzat Yang menciptakan langit dan bumi untuk menciptakan manusia kedua kalinya? Pada akhirnya, dibandingkan dengan penciptaan alam semesta, penciptaan manusia itu tidak menimbulkan kesulitan sama-sekali. Buktinya, manusia diciptakan dari mereka.

Mengenai hal yang kedua, ayat-ayat ini memberi tahu kita bahwa sesungguhnya ada tuntutan bagi perlunya suatu kehidupan yang lain, karena jika hasil perbuatan itu tidak  mendapatkan pembalasan, maka jati diri kemanusiaan itu tak ada artinya dan kedudukannya tak akan meningkat lebih tinggi dari hewan berkaki empat. Shaikh Sa’di telah memberikan penjelasan yang indah atas hal ini ketika dia menyatakan: “Manusia itu lahir tidak sekedar untuk makan, minum dan beranak-pinak seperti binatang. Sebaliknya, dia diciptakan untuk beramal, dan bila perbuatannya tidak mempunyai maksud yang lebih tinggi atau pertanggung-jawaban atas keunggulan yang diberikan kepadanya di atas binatang tidak nampak padanya, maka anugerah itu telah disia-siakan”.

34. Maka apabila Bencana Besar telah tiba (tammatul kubra).

Setelah memberi bukti untuk menunjang kebenaran tentang akhirat, suatu gambaran diguratkan dalam ayat ini. “Tammah” berarti peristiwa yang akan menimpa setiap orang. Misalnya, ungkapan “tammal ma’u” yang berarti “air naik dan menutup segala sesuatu”. Di sini, tammah merujuk kepada hari Kebangkitan dan menunjukkan suatu peristiwa yang menyeluruh dan menakutkan.

Arti di sini ialah ketika akibat perbuatan itu dibukakan, maka begitu mencekamnya peristiwa itu sehingga manusia tak mampu untuk lari menghindar atau pun mendiamkannya.

35. Pada hari tatkala manusia ingat akan apa yang telah ia usahakan.

Ketika hasil perbuatannya itu digelar secara terbuka, manusia akan diingatkan kembali apa yang telah dilakukannya dan semua usaha serta tenaga yang dihabiskannya dalam kehidupan ini dan suatu gambar lengkap atas semua amal perbuatannya akan nampak di depan matanya.

Dengan menggunakan kata-kata Bencana Besar “tammatul kubra”, maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa pada banyak kejadian dalam kehidupan ini pun kita juga harus menghadapi konsekwensi atas perbuatan kita dalam kadar tertentu atau lainnya, misalnya ketika hasil ujian diumumkan dan para siswa harus memeriksa daftar untuk melihat apakah ada namanya di dalam daftar itu maka dengan segera akan mengalami kesenangan atau kesusahan sebagai hasilnya. Namun, pada saat Bencana besar, hasil perbuatan itu akan disaksikan seluruhnya dengan sejelas-jelasnya dan tak ada tempat mengungsi atau mencari suaka bagi siapapun.

36. Dan Neraka ditampakkan kepada orang yang melihat.

Jika didunia ini mata batin manusia itu tetap terbuka, maka disini pun dia akan melihat neraka yang disiapkan oleh tangannya sendiri. Tetapi penglihatan semacam itu sungguh langka dan karena manusia bebas untuk menutup matanya terhadap konsekwensi atas perbuatan jahatnya, maka masalahnya menjadi berbeda. Bila hati nuraninya tidak mati, maka dalam kehidupannya di dunia ini pun dia akan mulai merasakan panasnya api neraka yang disulut sebagai balasan atas kejahatannya. Namun, pada hari Kebangkitan, kemenangan dari akibat hasil perbuatan itu akan mendapatkan manifestasi yang nyata dan kuat sehingga neraka akan nampak di hadapan mata semua manusia yang bisa melihat. Bahkan mereka yang mata batinnya tertutup dalam kehidupan ini dan yang hati nuraninya telah mati, pada hari itu akan berhadap-hadapan langsung dengan neraka.

37. Adapun orang yang mendurhaka,

38. Dan memilih kehidupan dunia,

39. Maka sesungguhnya Neraka itulah tempat tinggalnya.

Mendahulukan kehidupan dunia ini berarti mengutamakan keinginan dan nafsu mementingkan diri sendiri di atas perintah Allah Yang Maha-tinggi, dan melanggar batas yang ditetapkan oleh-Nya begitu pula menyimpang dari jalan lurus yang digariskan oleh-Nya. Hasilnya adalah neraka. Kini, kemanapun kita layangkan pandangan mata kita, dengan jelas kita dapat saksikan bahwa mengutamakan kehidupan duniawi ini telah mencengkeram dan mendorong kita dan umat manusia melupakan sang Pencipta serta taat kepada agama-Nya. Tepat untuk alasan seperti inilah maka Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid abad keempat belas Hijriah, telah dikirim oleh Allah, sebagai Almasih Yang Dijanjikan. Segera beliau bisa mengenali fitnah yang terjadi pada abad ini dan untuk menggerakkan kembali peningkatan ruhani manusia, maka beliau meletakkan suatu tugas penting berupa ikrar yang diambil sebagai salah satu pasal dalam bai’at kepadanya: “Saya akan menempatkan agama diatas dunia”.

Suatu analisa yang akurat dari keadaan dunia yang sedang merajalela dan pentingnya untuk mengatasi situasi semacam itu tak ada lagi. Sesungguhnya, pengobatan atas penyakit abad ini hanya terletak dalam ikrar bai’at itu.

40. Adapun orang yang takut di hadapan Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan rendah.

41. Maka sesungguhnya Sorga itulah tempat tinggalnya.

Ayat ini memperjelas bahwa untuk membangun suatu kehidupan surgawi bagi diri kita sendiri kita harus memenuhi persyaratan seperti berikut: Kita harus yakin sepenuhnya bahwa setiap perbuatan itu mengandung konsekwensi dan bahwa kita harus berdiri di hadapan Tuhan kita untuk mempertanggung-jawabkan tingkah laku kita di dunia ini; kita harus bertaqwa kepada Allah dan menahan keinginan rendah kita demi mendapatkan keridlaan-Nya.

Para sahabat nabi Suci Muhammad s.a.w. yang mulia adalah kelompok manusia surgawi yang ketaqwaannya kepada Allah luar biasa sehingga mereka bisa menekan emosi dasariah mereka sedemikian rupa sehingga cobaan apapun yang harus dihadapinya dalam hidup ini, mereka bangkit tanpa cedera. Sekilas kisah dari dua peristiwa ini akan bisa menunjukkan hal tersebut:

Sahabat Ustman r.a. telah menjadi Khalifah dari Kerajaan Islam. Suatu kali beliau marah kepada pembantunya dan karena naik darah, beliau menjewer telinga pembantunya itu. Begitu berat perasaannya karena perbuatannya itu pasti harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah sehingga dia minta kepada pembantunya untuk memperlakukan telinganya sama dengan yang diperbuatnya. Mula-mula pembantunya menolak, tetapi karena desakan Khalifah maka dia membalas sekedarnya saja. Khalifah memprotes bahwa balasan itu terlalu lunak dan meminta pelayannya agar melakukan hukuman yang sama dengan yang dilakukannya, karena katanya: “Sungguh saya takut untuk berdiri di hadapan Tuhanku guna memberikan pertanggung-jawaban”.

Sebaliknya pelayannya menjawab, bahwa dia pun sama kuatirnya dengan Khalifah dan takut membalasnya melebihi batas.

Demikianlah ketulusan dalam masyarakat dimana baik raja maupun pelayan sama-sama takutnya kepada Tuhannya.

Contoh kedua menceriterakan sahabat Nabi Suci yang lain lagi. Beliau pergi ke pasar untuk membeli seekor kuda dan ketika melihat seekor kuda jantan muda maka beliau merasa bahwa harganya terlalu rendah dari yang tawaran anak muda penjualnya, lalu dia pun membayar lebih dari harga yang ditawarkan itu. Beliau lalu memeriksa beberapa gerakannya, beberapa kali beliau memeriksa gerakan kuda itu maka dia pun menaikkan lagi harganya, hingga akhirnya dia membayar harganya empat kali lipat daripada yang diminta oleh anak muda itu:

“Puteraku, engkau tidak sadar akan kualitas unggul dari kuda ini sehingga dia kaujual jauh di bawa harga yang sebenarnya. Namun, saya tidak ingin mengambil untung atas ketidak-tahuanmu dan membayarmu di bawah harganya. Sebabnya adalah, saya takut untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku di hadapan Tuhanku”.

Inilah taqwa (ketulusan) dan inilah orang-orang yang menikmati berkah kehidupan dari para malaikat.

Kaum Muslimin yang ada sesudah para sahabat Nabi Suci juga memiliki sifat terpuji dan sejarah Islam permulaan penuh dengan contoh teladan dari mereka yang taqwa kepada Allah Ta’ala serta meletakkan agama di atas kepentingan dunia dan pamrih pribadi. Berikut ini adalah sekelumit peristiwa dari kehidupan Khalifah Harun Al-Rasyid, yang hidup lebih dari seratus tahun sesudah Nabi Suci s.a.w.

Pada suatu hari, isterinya tercinta Ratu Zubaidah, dengan marah menyatakan kepadanya dalam suatu perdebatan yang panas bahwa dia termasuk penghuni neraka. Raja, karena naik darah, membalas: “Jika saya orang sejahat itu, maka engkau haram bagiku”.

Ketika amarahnya mereda, dia menyesal atas apa yang dikatakannya dan sangat sedih, tetapi Ratu sudah menutup pintu dan menolak untuk melunak.

Dalam situasi sulit ini, dia memanggil tokoh-tokoh ulama terkemuka untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, tetapi tak seorangpun bisa membantu dengan menyatakan hanya Allah sendiri yang tahu apakah dia itu penghuni surga atau neraka, maka karena mereka sendiri tak punya pengetahuan tentang hal itu mereka tak dapat membuat fatwa yang menentukan. Dan demikianlah maka dia tak dapat mendekati Ratu bahkan ketika dia menginginkannya.

Pada saat itu, Hazrat Imam Syafi’i masih seorang siswa muda tetapi dia menyatakan kepada gurunya bahwa dia bisa memecahkan masalah itu dengan syarat dia yang duduk di tahta dan Raja berdiri di hadapannya sebagai pemohon. Raja mengeluhkan dan menceriterakan seluruh peristiwa itu, dan siswa muda itu bertanya kepadanya: “Di samping keinginan kuatmu untuk tetap bersama Ratu, apalagi yang menjadi ganjalanmu?”.

Raja menjawab: “Rasa takutku kepada Allah”.

Mendengar ini, siswa muda itu memberikan fatwa bersama dengan alasan atas keputusannya itu. Inilah ketentuannya:

“Engkau adalah penghuni surga dan Ratu halal bagimu sebab Qur’an Suci sendiri

telah menetapkan engkau sebagai penghuni surga”.

Lalu beliau mengutip ayat-ayat dari masalah yang diperbincangkan untuk mendukung keputusannya: “Adapun orang yang takut di hadapan Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan rendah; Maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya”(79:40-41).

Raja dan para penghuni istana sangat gembira atas bukti dari Qur’an Suci ini sedangkan para ulama menjadi terperangah serta malu.

42. Mereka bertanya kepada engkau tentang sa’at, kapankah itu akan terjadi?

Ketika dinyatakan tentang Bencana besar, maka bukannya bercermin kepada keadaan hidup mereka, meneliti dengan cermat dan mengambil manfaat dari peringatan itu yang berpengaruh demi reformasi diri dan tingkah-laku mereka; orang-orang yang bergelimang kerusakan dan khayalan ini mulai mencari-cari kesalahan dan meminta Nabi Suci agar menyatakan kepada mereka kapan tepatnya tahun, bulan, dan jam peristiwa itu akan terjadi. Inilah kebiasaan yang sudah berkarat dari para penentang yang bilamana suatu seruan dari Allah Yang Maha-tinggi disampaikan kepada mereka maka bukannya mengambil manfaat darinya, mereka malahan mulai membangkitkan keberatan yang bodoh serta menyodorkan pertanyaan atas risalah itu; bukannya untuk tujuan makin meyakini kebenaran, melainkan semata-mata untuk menyangkalnya saja.

43. Tentang apakah engkau mengingatkan?

44. Kepada Tuhan dikaulah tujuan terakhir itu.

Kepada siapakah pertanyaan ini ditujukan? Nabi Suci bukanlah seorang pengawas mereka. Dengan menyampaikani risalahnya, beliau hanya berkeinginan untuk memperingatkan mereka sebelum datangnya saat yang menentukan, yang akan menimpa mereka serta orang-orang lainnya. Bila mereka mau menerima peringatan ini, maka diri mereka sendirilah yang akan mengambil keuntungan. Jika tidak, hal itu pun hanya merugikan diri mereka sendiri. Dan selanjutnya, penerimaan mereka tidak untuk kepentingan Nabi Suci s.a.w. Maka, kenapa mereka menanyakan sesuatu yang tak ada gunanya? Kewajiban beliau hanyalah mengingatkan mereka akan saat yang membencanainya dan hal itu telah beliau lakukan. Maka tak ada kewajiban baginya untuk menjawab pertanyaan mereka yang naif itu.

Atau arti lainnya: Maksudnya dengan engkau (Muhammad) mengingatkan kepada mereka bahwa Allah Ta’ala telah mengirim Nabi-Nya sebagai peringatan akan segera hadirnya hari penghakiman, karena melalui kehadirannya, Allah Ta’ala dengan jelas telah mewahyukan kepada dunia konsekwensi dari amal perbuatannya, dan dia telah membawakan suatu contoh yang mengagumkan dari pelaksanaan amal itu, yakni bahwa orang-orang dapat melihat dengan mata-kepalanya sendiri suatu contoh perilaku dari sikap melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kejahatan yang keduanya, yakni pelaksanaan kebaikan dan kejahatan itu akan dibalas tuntas. Pendeknya, kewajiban Nabi Suci hanyalah memberikan peringatan kepada orang-orang akan datangnya “saat”. Menyangkut kapan waktu terjadinya, tak seorangpun yang tahu  kecuali Allah Yang Maha-tinggi.

45. Engkau hanyalah seorang juru-ingat bagi orang yang takut kepada-Nya.

Mereka yang tertipu oleh kepalsuan dunia ini tidak akan mendapat manfaat dari peringatan ini. Namun, bagi mereka yang takut akan hari “Penghakiman” ini, akan mengambil manfaat dari nasihat Nabi Suci dan memperbaiki hidup mereka serta senantiasa sadar akan tanggung-jawab atas amal perbuatannya. Jadi, peringatan Nabi Suci terbukti penuh manfaat bagi mereka.

46. Pada hari tatkala mereka melihat (Sa’at) itu, seakan-akan mereka tidak menanti

kecuali satu sore atau satu pagi.

Ketika azab datang, nampaklah bahwa masa-masa bahagia seseorang itu seolah cuma sekejap mata saja. Hidup berlalu tanpa disadari dan kelihatannya masa hidup di bumi ini lenyap secepat kilat. Jadi, kita diperingatkan atas nilai waktu dan mengambil manfaat dari petunjuk yang terdapat dalam Qur’an Suci dan peringatan yang diberikan oleh Nabi Suci s.a.w. agar bisa mengubah kualitas hidup kita. Ketika tiba orang-orang yang merekayasa argumen palsu untuk menggelapkan kenyataan, maka mereka akan mengungkapkan penyesalan dan pertobatan. Namun, waktu yang hilang tak tergantikan lagi, ataupun hidup yang sudah dijalani tak bisa diulang lagi. Dirahmatilah mereka yang memanfaatkan anugerah waktu yang sangat berharga.

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Editor : Dr. Bambang Darma Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: