PENJELASAN KATA NABI: DALAM ARTI KIASAN, DALAM ARTI YANG BIASA DIPAKAI DI KALANGAN SUFI, DALAM ARTI LUGHOWI SERTA ARTI DALAM TERMINOLOGI / TEKNIS / KONVENSI ISLAM.

Oleh: Prof. Ir. Faturakhman Ahmadi Djojosugito, M.Sc
Ketua Umum Pedoman Besar  Gerakan Ahmadiyah Indonesia (PB GAI)

Kata nabiyyun (= nabi) menurut kamus terbentuk dari kata naba’un (= kabar) yang hamzahnya (.’) berubah menjadi yaa (‘y’). Seandainya tidak berubah, bunyinya menjadi nabii’un. Kalau dibandingkan kata naba’un ini dengan kata khubbun (= cinta) maka Khabiib dan nabiyy adalah wazn (= bentuk) fa’iil yang pasif. Bentuk fa’iil juga dapat mempunyai arti aktif. Arti aktif ini tidak dipunyai kata khabiib, tetapi kata nabiyy disamping mempunyai arti pasif, juga mempunyai arti aktif.

1. ARTI KIASAN

Dalam Islam memberi arti secara kiasan lazim dilakukan. Misalnya, Rasulullah saw, menyebut Khalid bin Walid sebagai ‘Pedang Allah’.  Allah SWT. dalam Alquran (Q.33:6) menyebutkan istri-istri nabi sebagai ibu kaum mukmin.

“Nabi itu lebih dekat kepada kaum mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri-nya adalah (sebagai) ibu mereka…” (Q.33:6).

Jelas bahwa istri-istri nabi bukan ibu yang sebenarnya (bukan ibu hakiki) bagi kaum mukmin. Jadi, Allah SWT. berhak (dengan hikmah-Nya) membuat kiasan.

Dalam hadis Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut juga mengandung arti kiasan:

“Saya adalah orang yang paling dekat dengan Isa ibn Maryam di dunia dan di akhirat. Dan nabi-nabi itu saudara seayah, ibunya lain-lain, agamanya sama” (Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah).

Terlihat bahwa secara hakiki nabi-nabi mempunyai ayah yang berbeda tetapi dalam hadis tersebut disebutkan bahwa para nabi mempunyai ayah yang sama. Jelas ini hanya dalam arti kiasan. Nabi yang hanya dalam arti kiasan ini bukan nabi yang sebenarnya.

Jika secara kontekstual memang relevan dan cocok/mirip, penamaan secara kiasan dapat dilakukan, ini berarti pemberian nama secara kiasan berhak hidup dalam Islam atau sah-sah saja.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad sering disebut dengan sebutan Sukarno kecil oleh orang Barat.

Sekali lagi bahwa :

Dalam kaidah bahasa, menyatakan sesuatu dalam arti kiasan berarti sesuatu tersebut bukan benar-benar sebagai apa yang disebutkan dalam arti kiasan tersebut. Dalam hal ini kata nabi. Nabi dalam arti kiasan berarti bukan nabi (kalau mau, silakan sebut: bukan nabi yang sebenarnya).

Oleh karena itu munculnya nabi dalam arti kiasan (yang tak lain bukan nabi) tidak menyalahi ayat Nabi Muhammad saw. sebagai Khatam-un-Nabiyyin.

2. ISTILAH DI KALANGAN KAUM SUFI

Ada beberapa wali yang dapat dianggap mengaku, atau klaim bahwa dirinya sebagai nabi atau rasul, diantaranya adalah sebagai berikut :

1)  Abu Bakr Shibli (wafat th. 945 M), wali terkenal dari Iraq, menyatakan:

“….dia (Shibli) berkata kepada muridnya bahwa dia menerima visi (kasyaf): Berdiri saksilah bahwa saya adalah Rasul Allah. (garis bawah-pen). Maka murid berkata: Saya berdiri saksi bahwa engkau (Abu Bakr Shibli) adalah betul-betul Rasul Allah.(garis bawah-pen) Ini bukanlah hal yang dilarang dan salah. Itu sekadar sebagai orang yang tidur (dalam mimpi) melihat seseorang dalam bentuk orang lain….” (Al-Insan al-Kamil, jilid ii, hlm. 46, Abdul Qadir J; lihat juga terjemahan dalam bahasa Inggris di R. A. Nicholson’s Studies in Islamic Mysticism, Cambridge University Press, 1980, hlm. 105).

2)  Abdul Qadir Jailani (wafat th. 1166 M)

Beliau menulis dalam sebuah syairnya:

“Saya dalam dunia yang tinggi dengan berkat cahaya Muhammad. Dalam pengetahuan rahasia-Nya Tuhan itulah yang merupakan kenabian saya” (garis bawah – pen)

(Syair yang dikenal sebagai Qasida Ruhi)

Beliau juga mengatakan:

“Seseorang naik sampai ia datang pada posisi tempat ia menjadi pewaris dari setiap rasul, nabi, dan siddiq” (Futuhul Ghaib, Maqalah 4, hlm. 23).

Perhatikan kalimat…dengan cahaya Muhammad. Menurut pendapat kami, cahaya Muhammad itu adalah Quran dan Sunah Rasulullah. Artinya, dengan mengikuti Alquran dan Sunah Rasul dengan sebaik-baiknya, beliau berhasil sampai ke-tingkat tinggi. Adapun kenabiannya, itu hanya istilah Sufi, bukan istilah Syariat (teknis/terminologi/ konvensi) Islam.

3)  Khawaja Mu’in-ud-Din Chisti dari Ajmer  (wafat th. 1236 M).

Beliau adalah seorang wali dan mujadid pada zamannya yang meletakkan dasar penyiaran Islam di India, menyatakan dalam bukunya Fawa’id as-Salikeen sebagai berikut.

“Pernah sekali seorang datang kepada Khawaja dari Ajmer menjadi pengikutnya. Khawaja meminta kepadanya membaca Kalima Syahadat (Saya berdiri saksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah). Orang tersebut lalu membaca Kalima. Khawaja berkata kepadanya: Katakanlah seperti ini: ‘Tidak ada tuhan selain Allah dan Chisti adalah Rasul Allah’. (garis bawah – pen) Orang tersebut mengucapkannya dan Khawaja menerima baiat orang tersebut dan melantiknya dengan jubah kehormatan”         (Fawa’id as-Salikeen, hlm. 18).

4)  Abu Yasid Bustami

Dalam buku Tazkirat-ul-Auliya oleh Farid-ud-Din Attar, Abu Yazid Bustami mengatakan:

“Saya (Abu Yazid Bustami) adalah Adam, saya adalah Seth, saya adalah Nuh, saya adalah Ibrahim, saya adalah Musa, saya adalah Isa, saya adalah Muhammad saw, dan….”.

Semua tokoh pimpinan Sufi tidak ada yang tidak setuju bahwa jalan untuk MENJADI SEPERTI NABI masih terbuka (BUKAN jalan untuk: MENJADI NABI). Ini karena sabda Nabi Suci bahwa “ULAMA UMATKU SEPERTI (ATAU MENYERUPAI) NABI-NABI BANI ISRAEL”.

Apa yang dikatakan Abu Yazid Bustami tersebut sangat mirip dengan pernyataan Mirza Ghulam Ahmad.

Mirza Ghulam Ahmad mengatakan:

“…. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’kub, aku Yusuf, aku Musa, aku Daud, aku Isa, dan AKU ADALAH PENJELMAAN SEMPURNA dari Nabi Muhammad saw, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi” (Haqiqatul Wahyi hlm. 72).

5) Maulana Ashraf Ali Thanwi

Dalam majalahnya Al-Imdad, Maulana Ashraf Ali Thanwi menerbitkan sebuah surat dari seorang sahabat yang menjelaskan masalah yang mengganggu seperti berikut.

“Saya melihat dalam mimpi bahwa sewaktu saya mengucapkan Kalima (Syahadat), ‘La ilaha ill-Allah, Muhammad-ur Rasul-ullah’ saya memakai nama Anda yaitu sebagai pengganti ucapan Muhammad-ur Rasul-ullah.

Karena saya memikirkan bahwa saya salah, saya mengulangi mengucapkan Kalima, walaupun dalam hati ingin mengucapkan secara benar, lidah saya secara sukarela mengatakan Ashraf Ali sebagai ganti nama Nabi Suci….Ketika saya bangun dan ingat kesalahan saya dalam mengucapkan Kalima, … untuk memperbaiki kesalahan, saya kirim salawat untuk Nabi Suci. Tetapi, saya tetap mengatakan: ‘Allahumma salli ala sayyidi-na wa nabiyi-na wa maulana Ashraf Ali’ meskipun saya dalam keadaan jaga dan tidak dalam mimpi. Tetapi saya tak berdaya, dan lidah saya di luar kendali saya”

Maulana Ashraf Ali menanggapi peristiwa ini dengan memberikan penjelasan:

“Dalam peristiwa ini, dimaksudkan untuk memuaskan/memenuhi Anda bahwa seseorang yang Anda tetapkan (menjadi) petunjuk/pimpinan spiritual (Ashraf Ali) adalah seorang pengikut Sunah Nabi Suci” (Bulanan Al-Imdad, terbitan bulan Safar, 1336 A.H. sekitar 1918. hlm.35).

6)  Imam Baqar menyatakan tentang Imam Mahdi sebagai berikut:

Imam Mahdi akan berkata: “Wahai kalian, jika dari kalian ada yang ingin melihat Ibrahim dan Ismail, agar ia perhatikan bahwa saya adalah Ibrahim dan Ismail. Jika dari kalian ingin melihat Musa dan Joshua, agar ia memperhatikan bahwa saya adalah Musa dan Joshua. Jika dari kalian ada yang ingin melihat Isa dan Simon, agar ia melihat bahwa saya adalah Isa dan Simon.

Jika dari kalian ada yang ingin melihat Hazrat Muhammad Mustafa, saw. dan Amirul Mukminin Ali, r.a. agar ia memperhatikan bahwa saya adalah Muhammad Mustafa saw. dan Amirul Mukminin Ali, r.a.”                 (Baharul Anwar, julid XIII, hlm. 209).

Jadi, para wali tersebut di atas mengatakan yang muluk-muluk, memakai kata nabi dan rasul Allah untuk dirinya atau orang lain, sama seperti yang dijelaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad bahwa kata nabi dan rasul untuk dirinya adalah hanya dalam arti yang biasa dipakai dalam pustaka Sufi, dalam arti kiasan, dalam arti lughowi (linguistik, literal) saja. Jadi, kata nabi dan rasul tersebut hanya terbatas dalam pustaka Sufi, sama sekali bukan dalam arti syariat. Dalam kalangan Sufi memang mengatakan yang muluk-muluk itu biasa.

Jika yang dipakai dalam arti syariat, para wali tersebut dapat di fatwa sebagai sesat dan menyesatkan ! Nabi yang dipakai dalam kalangan sufi ini bukan nabi yang sebenarnya, tetapi hanya nabi dalam arti kiasan. Para wali tersebut tidak keluar dari akidah Islam.

3. ARTI LUGHOWI/LINGUISTIK/LITERAL

Arti lughowi ini hanya arti yang dipandang dari arti kata-katanya, bukan dalam arti teknis/konvensi/adat kebiasaan/persetujuan umum/teologi/terminologi Islam. Lihat perkembangan kata-kata berikut.

Kata nabiyyun (= nabi) menurut kamus terbentuk dari kata naba’un (= kabar) yang hamzah-nya (.’) berubah menjadi yaa (‘y’). Seandainya tidak berubah, bunyinya menjadi nabii’un. Kalau dibandingkan kata naba’un ini dengan kata khubbun (= cinta) maka dalam perkembangannya akan diperoleh pasangan kata:

Khubbun (cinta) dan naba’un (kabar).

Akhabba (memberi cinta, mencintai) dan anba’a (memberi kabar, mengabari).

Khabibbun (dicintai, diberi cinta) dan nabiyyun (dikabari, diberi kabar).

Khabiibullooh (yang dicintai Allah, diberi cinta oleh Allah) dan nabiyyullooh (dikabari Allah,   diberi kabar oleh Allah).

Khabiib dan nabiyy adalah wazn (= bentuk) fa’iil yang pasif. Bentuk fa’iil juga dapat mempunyai arti aktif. Arti aktif ini tidak dipunyai kata khabiib, tetapi kata nabiyy disamping mempunyai arti pasif, juga mempunyai arti aktif: mengumumkan naba’un yang ia terima. Dengan demikian, kata nabiyy secara lughowi mendapat arti: diberi naba’un (di sini khusus hal-hal yang gaib) dan mengumumkan hal itu. Itu arti lughowinya.

Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan:

Pernyataan no 8.

“Barang siapa yang mengumumkan barang-barang gaib setelah ia menerima pengetahuan itu dari Allah, orang itu disebut nabi dalam bahasa Arab. (Sedangkan) Artinya dalam isthilaakh (konvensi, terminologi, teknis) Islam adalah lain/berbeda. Di sini hanya arti lughowi-nya yang dimaksudkan”                    (Arba’in No.2, 1900, hlm. 18).

Nabi yang hanya dalam arti lughowi ini bukan nabi yang sebenarnya, tetapi hanya nabi dalam arti kiasan.

4. ARTI DALAM TERMINOLOGI / TEKNIS / KONVENSI ISLAM

Dalam bahasa Arab, arti teknis adalah ma’naa isthilaakhiyy. Isthilaakh (bahasa Arab) = konvensi, adat kebiasaan, persetujuan umum. Maka ma’naa ithilaakhiyy berarti:arti menurut adat, konvensi, dan ini berarti: arti teknisnya.

Nabi menurut terminologi/teknis/konvensi Islam adalah nabi yang membawa syariat atau syariah (undang-undang, hukum,  pengarahan). Disebut juga nabiyy tasyrii’iyy. Istilah ini tidak terdapat baik dalam Quran maupun hadis.

Dikatakan bahwa nabi tasyrii’iyy itu sedikit, disebut nama-nama Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s. dan Nabi Muhammad saw.  Disebut pula bahwa nabi-nabi Bani Israil dari Nabi Harun a.s. sampai Nabi Isa a.s. juga mengadakan aturan-aturan pelaksanaan, mengubah sedikit, menambah sedikit, atau mengurangi sedikit pada syariat Nabi Musa a.s. (Taurat). Itu juga pekerjaan memberikan undang-undang, hukum, pengarahan atau syariat.

Jadi, syariah itu dapat sedikit, dapat banyak, dapat yang tidak tertulis (seperti praktek Nabi Muhammad saw. yang tidak diuraikan dengan kata-kata yang lengkap sekalipun). Jika orang mengatakan bahwa sebutan nabi tasyrii’iyy itu hanya nabi yang membawa syariat yang luas dan mulai dari kekosongan saja, itu hanya menggunakan kata nabi tasyrii’iyy dalam arti sempit. Kata nabi tasyrii’iyy dalam arti luasnya mencakup semua nabi sebelum Nabi Muhammad saw. dan Nabi Muhammad saw. sendiri. Hal ini karena bagian dari seluruh syariat,  meskipun sedikit, dalam arti luasnya, harus disebut syariat pula, sama dengan kata-kata: pengarahan, hukum atau undang-undang.

Ayat (Q.33:7, 8) menyatakan:

“Dan tatkala Kami mengambil dari para nabi perjanjian (Arab:miitsaaq = ikatan) mereka, dan dari engkau dan dari Nuh dan dari Ibrahim dan Musa dan Isa anak Maryam, dan Kami mengambil dari mereka perjanjian kuat agar Ia menanyakan kepada orang‑orang yang tulus mengenai ketulusan mereka, dan Ia menyiapkan bagi orang kafir (Arab: kaafiriin = yang mengingkari, tentunya termasuk ‑ dan di tempat ini khusus ‑ apa yang baru disebut, yaitu yang mengafiri ikatan dengan nabi‑nabi) siksaan yang pedih”                    (Q.33:7, 8).

Juga ayat (Q.4:64) menyatakan:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah”                                 (Q.4:64).

Disini dapat disimpulkan bahwa dilingkungan tingkat manusia, nabi itu juga rasul. Dilingkungan malaikat, malaikat juga disebut rasul tetapi tidak disebut nabi. Dalam Q. 4. 64 seperti yang dikutip diatas dapat dimaknai bahwa orang harus mengakui kenabian dan menaati nabi.

Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad mengatakan:

Pernyataan no 9.

“Dari awal mula adalah keyakinan saya, bahwa tak seorangpun (otomatis) menjadi kafir kalau  menolak pengakuan saya” (Tiryaq al‑qalb, hlm 30).

Oleh karena itu, Mirza Ghulam Ahmad bukanlah nabi dan tidak ada ikatan (miitsaaq, arti aslinya: ikatan) kenabian padanya.

Jadi, nabi dalam arti teknis atau arti terminologi/konvensi Islam selain mencakup arti lughowi-nya, juga mencakup: Ia membawa pengarahan/syariat (yang wajib ditaati). Segala pengarahannya, dengan kata maupun dengan contoh adalah mengikat. Siapa yang mengafiri syariatnya, berarti tidak mengakui kenabiannya, dengan segala konsekuensinya. Sekali lagi, syariah itu dapat sedikit, dapat banyak. Mengubah dengan menambah atau mengurangi sedikit saja sudah dinamakan syariah baru, persis seperti Undang-undang, Hukum atau Peraturan.

– NABI DALAM ARTI KONVENSI ISLAM INI adalah nabi yang sebenar-benarnya (betul-betul nabi) atau nabi hakiki.

– NABI DALAM ARTI LUGHOWI adalah nabi yang bukan betul-betul nabi atau bukan nabi hakiki.

– JADI, NABI YANG BUKAN DALAM ARTI NABI YANG SEBENARNYA (bukan nabi hakiki), misalnya nabi dalam arti lughowi atau nabi dalam arti yang biasa dipakai dalam kalangan sufi, dan yang lain-lain lagi, semuanya adalah hanya nabi dalam arti kiasan. bukan nabi.

Ada pendapat bahwa yang ditolak oleh Mirza Ghulam Ahmad adalah pengakuannya sebagai nabi yang membawa syariat dan bukan kenabian yang tanpa syariat. Akan tetapi Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan bahwa arti nabi disini hanya dalam arti kiasan (termasuk hanya dalam arti yang biasa digunakan di kalangan sufi dan hanya dalam arti lughowi) saja. Bukan arti dalam terminologi Islam. Dalam pernyataan beliau yang muhkamat, Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai nabi tetapi sebagai muhaddas, mujaddid, dan wali, artinya sebutan nabi tanpa syariat, nabi zili, nabi buruz dan sebutan nabi lainnya yang bukan nabi hakiki termasuk dalam kelompok muhaddas, mujaddid, wali atau, bukan termasuk dalam kelompok nabi.

Jika Mirza Ghulam Ahmad memang bermaksud menjelaskan bahwa beliau nabi, misalnya dengan menyebut dirinya nabi tanpa syariat, nabi buruz, dan sebutan nabi lain-lainnya, yang semua itu masuk dalam kelompok nabi, tidak cukup bagi Mirza Ghulam Ahmad hanya menjelaskan bahwa beliau adalah nabi tanpa syariat  (atau nabi buruz, dan nabi lain-lainnya yang bukan nabi hakiki). Beliau harus mencabut pernyataan yang muhkamat tersebut diatas, yang menyatakan bahwa beliau tidak mengaku sebagai nabi. Kenyataannya Mirza Ghulam Ahmad tidak mencabutnya. Bahkan sampai menjelang akhir hayatnya (wafat th 1908) beliau masih menekankan lagi (th 1907) bahwa nabi yang diterapkan kepada beliau hanya dalam arti kiasan, karena dalam pernyataan yang muhkamat, Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai nabi.

Jika orang tidak berpegang teguh pada pernyataan yang muhkamat, orang dapat memperoleh pemahaman yang salah karena arti kiasan dianggap sebagai arti yang sebenarnya.

Dan hal ini menyebabkan orang berkesimpulan bahwa pernyataan-pernyataan Mirza Ghulam Ahmad tersebut (seolah-olah) kontradiktif. Suatu pernyataan yang muhkamat, beliau menyatakan tidak mengaku nabi, namun di pernyataan lainnya yang dalam arti kiasan, beliau mengaku nabi.

Hal yang seolah-olah kontradiktif ini pun juga terdapat dalam ayat-ayat Alquran. Sebagai contoh seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya antara lain: Ada ayat yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama (Q.2:256), tetapi ada ayat yang memerintahkan untuk membunuh mereka/orang kafir dimana saja kamu berjumpa dengan mereka(Q.2:191).

Hal yang seolah-olah kontradiktif tersebut dapat dijelaskan bahwa ternyata dan terbukti tidak ada kontradiksi.

Terlihat dalam uraian di atas bahwa perbedaan pendapat atau pun keyakinan sangat mungkin terjadi jika terdapat pihak-pihak yang berbeda dalam memahami arti kata atau terminologi tertentu (misalnya arti yang bersifat kiasan menjadi arti yang sebenarnya, dan beda lain-lainnya). Oleh karena kajian yang dilakukan adalah kajian terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad, maka agar tidak ada kesalahpahaman dalam memahami arti kata-kata/term-term penting yang digunakan, kita harus tidak boleh mengabaikan penjelasan yang dikemukakan oleh si pembuat pernyataan, yang dalam hal ini adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai mujadid baik dalam bidang syariat maupun tarekat, sehingga term-term yang ada dikalangan sufi juga sering digunakan. Jadi, orang harus punya kemampuan untuk memahami pernyataan atau uraian atau penjelasan Mirza Ghulam Ahmad secara sufi, jika tidak demikian sering akan berlawanan dengan bahasa yang ada dalam/secara syariat. Lihat lagi butir II.2. ISTILAH DI KALANGAN KAUM SUFI tentang kata nabi dan rasul yang digunakan dikalangan sufi,

Mirza Ghulam Ahmad secara jelas menyatakan bahwa kata nabi yang diterapkan kepadanya hanya dalam arti kiasan.

Nabi dalam arti kiasan itu bukan nabi


Satu Tanggapan

  1. […] This post was mentioned on Twitter by loveshugah, loveshugah. loveshugah said: @ulil jd yg beda itu soal penafsiran kata 'nabi' seperti yg di link ini kah? http://bit.ly/b5hSr4 jd gugling krn penasaran :) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: