PENGAKUAN (KLAIM) MIRZA GHULAM AHMAD BUKAN SEBAGAI NABI TETAPI SEBAGAI MUHADAS, MUJADID, WALI

Oleh: Prof. Ir. Faturakhman Ahmadi Djojosugito, M.Sc
Ketua Umum Pedoman Besar  Gerakan Ahmadiyah Indonesia (PB GAI)

Sebagian besar umat Islam dan masyarakat pada umumnya mempunyai pengertian bahwa Ahmadiyah itu sesat dan menyesatkan dan Mirza Ghulam Ahmad, sebagai pendiri organisasi atau perkumpulan atau jemaah yang bernama Ahmadiyah tersebut, mengaku sebagai nabi.

Pertanyaannya yang muncul kemudian adalah: Apakah betul Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut diatas, perlu kiranya dijelaskan disini bahwa organisasi Ahmadiyah ada dua kelompok yaitu

Pertama, kelompok Lahore, istilah populernya Ahmadiyah Lahore. Kelompok Lahore ini yang meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai mujadid (pembaharu), bukan sebagai nabi. Kelompok Lahore ini di Indonesia bernama: GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA, dengan singkatan GAI.

Kedua, kelompok Qadian, istilah populernya Ahmadiyah Qadian. Kelompok Qadian ini yang meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi. Kelompok Qadian ini di Indonesia bernama JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA, dengan singkatan JAI.

Perbedaan besar mengenai pemahaman istilah Nabi dalam Islam, atau pengertian prinsip mengenai istilah nabi dalam terminologi atau konvensi Islam, yang menyebabkan Ahmadiyah pecah menjadi dua tersebut terjadi pada tahun 1914, atau kira-kira enam tahun setelah meninggalnya Mirza Ghulam Ahmad. Beliau wafat pada tanggal 26 Mei 1908 di Lahore, dan dimakamkan di Qadian

Perbedaan keyakinan tersebut timbul karena perbedaan penafsiran atas pengakuan, atau klaim Mirza Ghulam Ahmad.

Oleh karena itu kajian tentang klaim, atau pengakuan Mirza Ghulam Ahmad, apakah sebagai nabi, atau apakah beliau bukan nabi adalah hal yang sangat diperlukan

Dalam membahas persoalan ini metode kajian berdasar pada:

  1. Pernyataan yang sifatnya muhkamat, yaitu yang menentukan dan menjadi landasan bagi pernyataan-pernyataan yang lainnya, harus dipegang teguh. Ini mencontoh dan belajar dari ayat (Q.3:7), lihat catatan kaki[1].
  2. Pernyataan-pernyataan lainnya yang berkaitan, dipandang secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan, bukan secara parsial. Dengan perkataan lain semua pernyataan dikaji secara utuh menyeluruh.

Metode tersebut juga merupakan metode dalam memahami ayat-ayat Alquran.

Sebagai contoh:

Dalam Alquran terdapat ayat yang menyatakan ‘tidak ada paksaan dalam agama’, tetapi juga ada ayat yang ‘menyuruh membunuh kaum kafir dimana saja ditemukan’ dan ada ayat yang menjelaskan ‘syarat-syarat untuk diijinkannya melakukan peperangan/angkat senjata’. Jika orang tidak memahami secara utuh, atau secara parsial saja, misalnya hanya mengambil ayat yang ‘menyuruh membunuh kaum kafir dimana saja ditemukan’ dapat terjadi kesalahpahaman, yaitu orang mengira diperintah untuk membunuh orang-orang kafir tanpa mempertimbangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan peperangan. Jadi, dalam kasus ini, jika memahaminya secara utuh: berperang atau angkat senjata atau pembunuhan harus tidak dengan alasan untuk memaksakan agama. Dan dengan demikian kesalahpahaman diharapkan tidak akan terjadi.

Contoh lainnya:

Dalam Masalah poligami. Ada ayat yang ‘mengijinkan beristri lebih dari satu’ dan ada pula ayat yang ‘mengharuskan berlaku adil’ serta terdapat ayat yang memberitahukan bahwa ‘kamu pasti tidak dapat adil’, dst.  Ayat-ayat tentang poligami tersebut haruslah dipahami secara utuh. Tidak dibenarkan secara parsial hanya mengambil ayat yang mengijinkan poligami (beristri lebih dari satu) saja tanpa memandang ayat lainnya yang terkait dengan itu, yaitu antara lain harus berlaku adil, dll. Dalam kasus ini juga terlihat jelas bahwa cara memahaminya harus secara utuh.

Pernyataan Mirza Ghulam Ahmad yang dianggap bersifat pernyataan yang MUHKAMAT antara lain sebagai berikut.

Pernyataan no 1.

AGAR MENJADI JELAS bagi mereka bahwa saya MENGUTUK orang yang mengaku sebagai nabi.  Saya yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya, dan saya percaya (pada) berakhirnya kenabian pada Nabi Suci. Jadi, dari pihak saya tidak ada pengakuan sebagai nabi, hanya sebagai WALI dan MUJADID…” (Majmu’a Ishtiharat, edisi lama, jilid iii, hlm. 224. edisi 1986, jilid 2, hlm. 297-298).

Pernyataan no 2.

TAK PERLU DIRAGUKAN bahwa hamba ini DIUTUS OLEH TUHAN SEBAGAI SEORANG MUHADAS bagi umat ini. Seorang muhadas itu dalam suatu arti, adalah dapat merupakan seorang nabi yang tidak .memiliki kenabian yang sempurna. Ia adalah seorang nabi dalam arti parsial (Nabi dalam arti parsial adalah BUKAN NABI, tetapi hanya nabi dalam arti kiasan – pen.). Hal ini disebabkan ia memiliki keistimewaan dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan hal-hal gaib diungkapkan kepadanya. Selain itu, wahyu yang diterimanya sebagaimana wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul, dilindungi dari gangguan setan”  (Tauzih Maram, Januari 1891, hlm. 9-10).

Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dikatakan sebagai pernyataan yang muhkamat karena pernyataan tersebut didahului dengan kata-kata:

AGAR MENJADI JELAS (pernyataan 1)..(bahwa pengakuannya bukan sebagai nabi tetapi sebagai wali dan mujadid).

TAK PERLU DIRAGUKAN (pernyataan 2)…(bahwa pengakuannya sebagai muhadas dan ini yang diperintahkan oleh Tuhan).

Jika dalam Alquran (Q.3:7) terdapat ayat-ayat yang muhkamat, yaitu ayat-ayat yang menentukan yang menjadi landasan bagi ayat-ayat lainnya (yang mutasyabihat, kiasan), maka demikian juga pernyataan yang muhkamat (pernyataan nomor 1 dan 2) tersebut merupakan pernyataan yang menentukan, yang menjadi landasan bagi pernyataan-pernyataan lainnya yang bersifat kiasan.

Catatan:

Jadi harus betul-betul dipahami dan dipegang teguh bahwa yang menentukan dan menjadi landasan itu adalah ayat-ayat yang muhkamat, bukan yang mutasyabihat (kiasan/ibarat). Jangan dibalik !

Jika diterapkan pada pernyataan maka, pernyataan yang mutasyabihat harus tunduk kepada pernyataan yang muhkamat !

Dengan demikian dapat dipahami secara mudah bahwa pernyataan 1 tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan ketidakjelasan tentang apa sesungguhnya yang diklaim oleh Mirza Ghulam Ahmad, yaitu: ‘Pengakuannya bukan sebagai nabi tetapi sebagai wali dan mujadid’.

Demikian pula dengan pernyataan 2 pembaca dengan mudah memahami bahwa pernyataan tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan keragu-raguan tentang pengakuannya sebagai muhadas dan ini yang diperintahkan oleh Tuhan.

Jadi, sudah SANGAT JELAS DAN TIDAK DIRAGUKAN lagi bahwa pengakuan Mirza Ghulam Ahmad bukan sebagai NABI tetapi sebagai MUHADAS, MUJADID, WALI.

Apabila kita harus menyatakan apakah Mirza Ghulam Ahmad masuk ke dalam (1) kelompok nabi atau (2) kelompok muhadas, mujadid, wali, maka dengan jelas bahwa jawaban harus berpegang teguh pada pernyataan yang ‘muhkamat’,. yang jelas memberikan informasi, bahwa selain tidak mengaku dirinya sebagai nabi, Mirza Ghulam Ahmad juga mengutuk orang yang mengaku nabi.

Dengan demikian jelaslah bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok nabi tetapi dalam kelompok muhadas, mujadid, wali. Mirza Ghulam Ahmad sendiri juga menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir

Adanya tuduhan bahwa Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi tidaklah sesuai dengan pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sendiri, tetapi hanya merupakan kesalahpahaman saja.

Memang Mirza Ghulam Ahmad menyatakan dipanggil oleh Allah SWT dengan sebutan nabi atau pun rasul, tetapi dia menjelaskan bahwa sebutan nabi tersebut hanya dalam arti KIASAN, hanya dalam arti yang biasa dipakai dalam PUSTAKA SUFI, hanya dalam arti LUGHOWI (literal, linguistik), bukan dalam terminologi/konvensi Islam.

Penyebutan nabi dalam arti kiasan tersebut didukung oleh pernyataan-pernyataan Mirza Ghulam Ahmad berikut ini.

Pernyataan no 3.

“Utusan kita adalah Khatam-un-Nabiyyin, yang dengannya rangkaian para utusan telah berakhir. ….Saya telah disebut Allah sebagai nabi dengan jalan/secara KIASAN, bukan dengan jalan/secara sebenarnya (haqiqat)” (Haqiqat-ul-Wahy, Zameema, hlm. 64,65; RK, jilid 22, hlm. 688, 689, Mei 1907).

Pernyataan no 4.

“Julukan ‘nabi Tuhan’ bagi Masih Yang Dijanjikan yang dijumpai dalam sahih Muslim dan lain-lainnya sebagai sabda Nabi Suci, memiliki ARTI KIASAN sebagaimana yang disebutkan dalam KARYA (PUSTAKA) SUFI adalah istilah umum bagi [penerima] wahyu Tuhan. Jika tidak demikian, Bagaimana mungkin ada nabi setelah khatam al-anbiyya ? (Anjam Atham, Januari 1897, catatan kaki, hlm. 28).

Pernyataan no 5.

“Barang siapa yang mengumumkan barang-barang gaib setelah ia menerima pengetahuan itu dari Allah, orang itu disebut nabi dalam bahasa Arab. (Sedangkan) Artinya dalam isthilaakh (konvensi, terminologi, teknis) Islam adalah lain/berbeda. Di sini hanya arti LUGHOWI-nya yang dimaksudkan” (Arba’in No.2, 1900, hlm. 18).

Disinilah biasanya letak kesalahpahaman. Orang sering menyalahpahami bahwa pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi yang hanya dalam arti kiasan tersebut diartikan sebagai nabi yang sebenarnya. Hal ini berarti orang tersebut memegang teguh pernyataan yang bersifat kiasan dan mengabaikan pernyataan yang bersifat menentukan. Sikap seperti itu jelas salah ! Kesalahpahaman seperti itu dapat memunculkan adanya,

  1. Kelompok orang yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sesat, karena menganggap dia mengaku sebagai nabi dan
  2. Kelompok lainnya, yang mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, karena Mirza Ghulam Ahmad dianggapnya sebagai nabi.

Tentu saja sikap kedua kelompok tersebut salah karena didasarkan pada cara memahami yang tidak tepat, arti kiasan dipahami sebagai arti yang sebenarnya.

Demikianlah sudah diperoleh informasi, Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai nabi tetapi sebagai muhadas, mujadid, wali.

Catatan:

Dalam kaidah bahasa, menyatakan sesuatu dalam arti kiasan berarti sesuatu tersebut bukan benar-benar sebagai apa yang disebutkan dalam arti kiasan tersebut. Dalam hal ini kata nabi. Nabi dalam arti kiasan berarti bukan nabi, tetapi hanya dikiaskan sebagai nabi.

Sehubungan dengan pengartian nabi secara kiasan, terdapat pula istilah yang disebut istilah nabi dalam arti parsial. Untuk itu perlu dijelaskan disini apa yang disebut nabi dalam arti parsial, sebagai berikut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:

Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Takkan ada yang tertinggal dari kenabian kecuali kabar baik (mubasyarot).” Mereka bertanya, “Apakah kabar baik (mubasyarot) itu ya Rasulullah?” Nabi SAW. bersabda, “Mimpi yang baik (Rukya sholikhah)” (Ringkasan Shahih Al-Bukhari, disusun oleh Imam Az-Zabidi, LXXXIII, Kitab tentang tafsir mimpi, BAB 3, 2178, hlm. 903).

Kemudian, juga diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. :

Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Mimpi baik (Rukya hasanah) orang (Mukmin) yang saleh adalah satu dari 46 tanda-tanda kenabian (Ringkasan Shahih Al-Bukhari, disusun oleh Imam Az-Zabidi, LXXXIII, Kitab tentang tafsir mimpi, BAB 1, 2176, hlm. 903).

Ini artinya: Wahyu dalam bentuk rukya itu setara dengan seperempat puluh enam kenabian. Jadi, karena mimpi (Rukya) yang baik sudah merupakan sebagian dari kenabian (seper-empat puluh enam kenabian), maka jika Rukya yang baik cukup banyak atau banyak sekali, akan dapat disebut nabi parsial.

Dua pernyataan berikut (pernyataan 6 dan 7) juga menunjukkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai nabi tetapi sebagai muhadas, wali, mujadid dan bahkan mengutuk orang yang mengaku sebagai nabi

Pernyataan no 6.

“Pertanyaan: Dalam buku Fathi Islam, Anda telah mengaku sebagai nabi. “Jawab: Tidak ada pengakuanku sebagai nabi. Sebaliknya, PENGAKUANKU HANYA SEBAGAI MUHADAS YANG TELAH DIPERINTAHKAN OLEH TUHAN” (Izala Auham, hlm. 421-422, Ruhani Khaza’in, jilid 3, hlm. 320).

Pernyataan no 7.

Kujelaskan  kepadanya (Maulwi – seorang penentang) bahwa SAYA JUGA MENGUTUK ORANG YANG MENGAKU SEBAGAI NABI… (wahyu) yang diterima oleh para wali di bawah bayangan kenabian (zili/buruz) Nabi Suci Muhammad, karena ketaatannya yang sempurna kepadanya diberikan wahy wilayat, bukan wahy nubuwwat. Terhadap inilah kami percaya…. JADI, saya tidaklah mengaku sebagai nabi. Pengakuanku hanyalah sebatas wilayat [kewalian] dan kemujadidan [sebagai mujadid](Majmu’a Ishtiharat, vol. ii, hlm. 297-298, Januari 1897).

Pernyataan nomor 1 sd. 7 tersebut dapat dirumuskan sbb.

Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku  sebagai NABI tetapi sebagai MUHADAS, MUJADID, WALI.

Bahkan beliau mengutuk orang yang mengaku sebagai nabi. Sebutan nabi atau pun rasul yang diterapkan kepada Mirza Ghulam Ahmad hanya dalam arti kiasan, bukan nabi atau pun rasul dalam arti yang sebenarnya, atau arti hakiki. Sebutan nabi bagi Al Masih Yang Dijanjikan dalam sahih Muslim pun hanya nabi dalam arti kiasan, atau hanya dikiaskan sebagai nabi.

Catatan Kaki :

[1] (Q.3:7): “Dia ialah Yang menurunkan Kitab kepada engkau; sebagian ayat-ayatnya bersifat menentukan (muhkamat) – inilah landasan Kitab – dan yang lain bersifat ibarat. Adapun orang yang hatinya busuk, mereka mengikuti bagian yang bersifat ibarat, karena ingin menyesatkan dan ingin memberi tafsiran (sendiri). Dan tak ada yang tahu tafsirnya selain Allah, dan orang yang kuat sekali ilmunya…..” (Q.3:7).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: