KEYAKINAN MIRZA GHULAM AHMAD TIDAK BERUBAH dan PERNYATAAN PENTING MIRZA GHULAM AHMAD TENTANG BERAKHIRNYA KENABIAN

Oleh: Prof. Ir. Faturakhman Ahmadi Djojosugito, M.Sc
Ketua Umum Pedoman Besar  Gerakan Ahmadiyah Indonesia (PB GAI)

Ada pihak yang berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad merubah keyakinannya, yaitu semula hanya mengklaim dirinya sebagai mujadid kemudian berubah menjadi nabi. Hal itu, menurut mereka dapat dilihat antara lain dan terutama dalam buku beliau berjudul Ayk Ghalati Ka Izala (A Misunderstanding Removed), terbit tahun 1901.

I. KEYAKINAN MIRZA GHULAM AHMAD TIDAK BERUBAH

Pendapat atau keyakinan seperti itu langsung dibantah oleh buku Ayk Ghalati Ka Izala itu sendiri, yaitu di alinea pertama buku tersebut tertulis sebagai berikut.

Alinea pertama Ayk Ghalati Ka Izala:

Pernyataan no 10.

“Beberapa orang dalam gerakan kita yang tidak mengenal / memahami secara baik pengakuan saya dan uraian penjelasan yang terkait dengannya tidak mempunyai kesempatan mempelajari buku-buku saya secara teliti, atau pun tidak tinggal dalam komunitas saya selama waktu yang cukup untuk melengkapi pengetahuannya-dalam beberapa kejadian untuk menjawab suatu keberatan dari lawan-lawan dalam memberikan jawaban yang sepenuhnya berlawanan dengan fakta. Jadi, meskipun di pihak yang benar, mereka mendapatkan malu”.

Jadi, keyakinan Mirza Ghulam Ahmad tidak berubah, baik sebelum maupun setelah terbitnya bukunya berjudul: Ayk Ghalati Ka Izala tersebut.

Dalam alinea tersebut Mirza Ghulam Ahmad memberikan informasi bahwa pengakuan-pengakuan dan argumen-argumennya yang terkait dengan pengakuan-pengakuannya telah dinyatakan secara benar dalam buku-bukunya maupun tulisan-tulisannya.Tentu saja termasuk buku-bukunya maupun tulisan-tulisannya sebelum buku Ayk Ghalati Ka Izala terbit. Dalam alinea pertama buku Ayk Ghalati Ka Izala tersebut, Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa pengikut-pengikutnya yang belum membaca buku-buku beliau secara teliti, atau tidak tinggal dalam komunitasnya selama waktu yang cukup, tidak mengenal dengan pengakuannya, oleh karena itu mereka memberikan jawaban yang salah kepada lawan-lawannya.

Catatan:

Pernyataan Mirza Ghulam Ahmad (pernyataan nomor 1 dan 2) yang dianggap sebagai pernyataan muhkamat tersebut ditulis sebelum buku Ayk Ghalati Ka Izala terbit. Jadi, pernyataan tersebut tetap berlaku dan sampai menjelang akhir hayatnya, tidak pernah dicabut.

Menurut Mirza Ghulam Ahmad, kita harus mempelajari buku-bukunya maupun tulisan-tulisannya sebelum Ayk Ghalati Ka Izala secara teliti. Jadi, buku dan tulisan beliau sebelumnya tetap berlaku.

Jadi, jelas salah kalau berpendapat bahwa sejak Ayk Ghalati Ka Izala Mirza Ghulam Ahmad merubah pengakuan atau pun keyakinan beliau. Juga jelas bahwa yang dituju dalam buku Ayk Ghalati Ka Izala tersebut adalah pengikut beliau yang menyalahpahami atau kurang paham terhadap pengakuan beliau, sama sekali bukanlah masalah perubahan keyakinan beliau.

Hal tersebut makin jelas karena setelah tahun 1901 (Buku Ayk Ghalati Ka Izala terbit tahun 1901),  Mirza Ghulam Ahmad masih terus menegaskan berakhirnya kenabian dengan Nabi Muhammad saw., beliau menganggap dirinya sebagai mujadid abad ini (abad 14 Hijriah) dan bukan nabi. Pernyataan tersebut antara lain:

Pernyataan no 11.

“Allah adalah Yang …mengirimkan para utusan, dan menurunkan kitab-kitab, pada akhir dari semua itu mengirimkan Muhammad saw.” (Haqiqat-ul-Wahy, hlm. 141, Mei 1907).

Pernyataan no 12.

“Saya tidak pernah mengaku sebagai Nabi yang hakiki, bahwa kami beriman, Nabi suci Muhammad saw. adalah Nabi terakhir” (Majmu’a Istiharat, bag. I, hlm. 97, ditulis tahun 1908, diterbitkan tahun 1912-1913).

Pernyataan no 13.

“Hamba yang hina ini terhadap para ulama saat ini… berulang-ulang , demi Allah, hamba telah  menyatakan, bahwa hamba tidak pernah mengaku (klaim) sebagai nabi, tetapi bahkan sesudah itu, tiada henti-hentinya orang-orang ini melancarkan fatwa kekafiran” (al-Hakkam, 27 Januari 1904).

Catatan:

Sekadar sebagai informasi tambahan, terutama untuk pernyataan nomor 13 tersebut.

Banyak wali Muslim meramalkan bahwa Mahdi akan mendapatkan perlawanan yang sengit (gigih) dari para ulama Muslim.

Para wali tersebut antara lain:

Hazrat Syekh Mohyiddin ibn Arabi (560 H – 638 H, salah satu wali terbesar):

“Ketika Imam Mahdi muncul, para ulama dan ahli fikih akan merupakan lawannya yang sengit (gigih)” (Futuhati Makkiyyah, Jilid 11, hlm. 242).

Mujadid abad kedua menulis tentang Mahdi:

“Adalah sangat mungkin bahwa ulama yang dangkal akan menolak Mahdi dan menganggapnya bertentangan/berlawanan dengan Kitab Suci dan Sunah Nabi Suci” (Maktubat Iamam Rabbani, Jilid 11, hlm. 55).

Jadi, jelas sekali bahwa Mirza Ghulam Ahmad, setelah terbitnya Ayk Ghalati Ka Izala, selain masih tetap menjelaskan bahwa beliau tidak mengaku sebagai nabi (antara lain pernyataan nomor 12 dan 13) juga masih tetap meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. adalah akhir dari para nabi (antara lain pernyataan nomor 11 dan 13).

Sedemikian jauh sudah diperoleh informasi bahwa: Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai nabi tetapi sebagai muhadas, mujadid, wali.

II. PERNYATAAN PENTING MIRZA GHULAM AHMAD  TENTANG BERAKHIRNYA KENABIAN


Banyak sekali pernyataan Mirza Ghulam Ahmad yang menyatakan berakhirnya kenabian dengan diutus-Nya Nabi Muhammad saw. Dalam pernyataan berikut terdapat pernyataan penting mengenai berakhirnya kenabian setelah Nabi Suci Muhammad saw.

Dalam Haqiqat-ul-Wahy, Mirza Ghulam Ahmad secara jelas telah menyatakan bahwa doktrin dasar Islam adalah tidak ada nabi yang dapat datang setelah Nabi Suci Muhammad saw.

1)    Membicarakan tentang arti beriman kepada Allah, beliau menulis:

Pernyataan no 22.

“Tuhan Yang Maha-luhur telah mendefinisikan nama Allah dalam Quran Suci sebagai berikut. Allah adalah Pribadi Yang Rabb-ul-’alamin, Rahman dan Rahim, Yang menciptakan bumi dan langit dalam enam hari (masa), dan membuat Adam, dan mengirimkan utusan, dan mengirimkan kitab, dan pada akhir dari mereka semua (lalu) mengirimkan Muhammad saw, yang Khatam-ul-anbiya dan utusan yang paling baik” (Haqiqat-ul-Wahy, hlm. 141; RK, jilid. 22, hlm. 145).

Oleh karena itu, beriman kepada Allah, seperti yang  ditunjukkan Quran, termasuk beriman bahwa Nabi Suci Muhammad datang di akhir dari semua nabi.

2) Sambil merujuk pada beberapa ramalan beliau tentang kondisi cuaca yang berat dan badai di berbagai negara di dunia, beliau menulis:

Pernyataan no 23

“Berita ini hanya diberikan oleh Tuhan Yang mengirimkan Nabi Suci saw. kita, di akhir dari semua nabi, agar mengumpulkan semua bangsa di bawah bendera/panji-panjinya” (Titma atau Apendiks  Haqiqat-ul-Wahy, hlm. 44; dalam Ruhani Khaza’in, jilid 22, hlm. 477).

Di sini beliau tidak hanya mengatakan secara jelas bahwa Allah mengirimkan Nabi Suci Muhammad “di akhir semua nabi-nabi”, tetapi beliau juga memberikan alasannya, yaitu agar beliau (Nabi Suci Muhammad saw.) dapat mempersatukan para pengikut dari semua para nabi di bawah panji-panji Islam.

3) Menurut Masih Yang Dijanjikan, Kalima Syahadat dalam Islam mengandung fakta bahwa tidak ada nabi yang dapat datang setelah Nabi Suci Muhammad. Beliau menulis pernyataan penting sebagai berikut.

Pernyataan no 24.

“Jika semua kitab dari Tuhan Yang Maha-luhur dilihat secara dekat, akan ditemukan bahwa semua nabi telah mengajarkan beriman kepada Tuhan Yang Maha-luhur yaitu Esa tanpa sekutu dan bersama itu pula beriman kepada kerasulan-Nya (para nabi itu-pen). Untuk alasan tersebut, ringkasan ajaran Islam diajarkan kepada seluruh Umat dalam dua kalimat ini: La illaha ill-Allah Muhammad-ur Rasul-ullah (Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah)” (Haqiqat-ul-Wahy, hlm. 111; RK, jilid. 22, hlm. 114).

Jadi, semua nabi mengajarkan beriman kepada Tuhan…dan beriman kepada kerasulannya.

Kata-kata yang dicetak tebal di atas (semua nabi dan ringkasan) dalam buku aslinya (bahasa Urdu) juga dicetak tebal. Menurut pernyataan ini, tidak ada nabi yang dapat datang setelah Nabi Suci Muhammad karena nabi semacam itu harus mengajarkan kepada orang-orang bahwa “Hanya ada satu Tuhan, dan saya adalah Utusan-Nya”, dan ia akan memperkenalkan satu Kalima dalam namanya sendiri. Tetapi, setelah Nabi Muhammad saw., ini tidak dapat dilakukan karena seluruh Umat Muslim, pada waktu sekarang dan mendatang, telah diajari bahwa “Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah” sebagai ringkasan.

Adalah penting untuk dicatat bahwa penjelasan di atas sebagai definisi seorang nabi dalam hukum Islam:

Seorang yang menyaratkan orang untuk mengakui beriman kepada Tuhan Yang Esa dan beriman kepada kerasulannya ( kenabiannya) sendiri sebagai dasar ajarannya.

4) Beliau berargumen bahwa keberadaan dan ke-Esaan Tuhan hanya dapat diketahui melalui nabi-nabi. Misalnya, beliau menulis:

Pernyataan no 25

“Hanya para nabi yang menunjukkan bahwa Tuhan betul-betul ada …. Adalah tidak mungkin ke-Esaan Tuhan (tauhid) dapat diketahui kecuali melalui nabi …. Jika Tuhan berkehendak untuk memanifestasikan diri-Nya kepada dunia, Ia mengirimkan seorang nabi sebagai manifestasi dari Kekuasaan-Nya, dan memberinya wahyu-Nya, dan menunjukkan kekuasaan-kekuasaan pemeliharaan-Nya yang baik melalui dirinya (nabi). Kemudian dunia mendapatkan bahwa Tuhan ada… sumber ke-Esaan Tuhan (tauhid) dan manifestasi sempurna dari ke-Esaan Tuhan adalah nabi, dan melalui dialah wajah tersembunyi Tuhan terlihat dan ditemukan bahwa Tuhan ada”

(Haqiqat-ul-Wahy, hlm. buku asli 112, 113; RK, jilid. 22, hlm. 115, 116).

Dengan menyatakan fakta berulang-ulang tentang para nabi, beliau menulis dengan merujuk kepada Nabi Suci Muhammad saw.:

Pernyataan no 26.

“Saya tidak akan bersyukur jika saya tidak mengakui bahwa saya mendapatkan Tuhan yang betul-betul Esa melalui Nabi ini, dan pengenalan kepada Tuhan Yang Hidup saya temukan melalui Nabi Sempurna beserta cahaya-Nya ini”

(hlm. 116; RK, jilid 22, hlm. 119).

Semua perkataan Mirza Ghulam Ahmad di atas tentang dasar dan fungsi pokok seorang nabi dan tujuan utama kedatangan seorang nabi, beliau terapkan kepada Nabi Suci Muhammad, tidak kepada diri beliau sendiri. Jika Mirza Ghulam Ahmad dibangkitkan sebagai nabi, itu berarti melalui beliaulah Tuhan akan memperlihatkan diri-Nya dan Ke-Esaan-Nya kepada dunia, bukan Mirza Ghulam Ahmad yang mencari Tuhan melalui perantaraan seseorang (Nabi Suci Muhammad) (Lihat pernyataan di butir 4) tersebut).

Beliau kemudian menulis dalam di buku yang sama :

Pernyataan no 27.

“Saya telah menjelaskan bahwa yang disebut tauhid sebagai dasar keselamatan — , tidak dapat dicapai kecuali melalui iman kepada nabi dari waktunya (waqt kay nabi), itulah Nabi Suci Muhammad, dan setia/taat kepada-Nya” (hlm. 124; RK, jilid. 22, hlm. 127–128).

Di sini beliau berkata bahwa ‘nabi dari waktunya’, melalui dirinya seseorang dapat mewujudkan ke-Esaan Tuhan, yaitu Nabi Suci Muhammad. Jika Mirza Ghulam Ahmad mengaku (klaim) dirinya sebagai nabi maka beliau akan merujuk dirinya sendiri sebagai ‘nabi dari waktunya’, dan kenyataannya Mirza Ghulam Ahmad tidak mengakuinya!.

PERNYATAAN BERIKUT JUGA MENJELASKAN BERAKHIRNYA KENABIAN DENGAN NABI MUHAMMAD SAW.

Pernyataan no 28.

“Tidak perlu lagi mengikuti secara terpisah semua kenabian dan semua kitab yang ada sebelumnya, karena kenabian Nabi Suci Muhammad telah mengikutsertakan dan meliputi semuanya, dan semua jalur lainnya sudah tertutup. Semua kebenaran yang menuju kepada Tuhan sudah terkandung di dalamnya. Tidak ada lagi kebenaran lain datang setelah itu, atau pun kebenaran yang  sebelumnya yang belum ditemukan.

Oleh karena itu, dengan kenabian ini (kenabian Muhammad saw.) semua kenabian telah berakhir, dan begitulah seharusnya, karena apa pun yang mempunyai permulaan (awal) juga akan mempunyai akhir”  (RK, jilid 20, hlm. 311).

Perhatikan kalimat terakhir tersebut diatas :

Oleh karena itu, dengan Kenabian ini, semua kenabian telah berakhir….

Kata “berakhir” di sini adalah “khatima ( Urdu: is leeay is nubuwwat per tamam nubuwwatun ka khatima hai), dan hal ini diartikan “kenabian ini adalah khatima dari semua kenabian”.

Jika dilihat kata-kata lanjutannya: apapun yang mempunyai awal juga akan mempunyai akhir (atau anjaam), maka kata-kata ini memperjelas apa yang dimaksudkan dengan arti kata Khatam, yaitu “akhir”.

PENGUMUMAN MIRZA GHULAM AHMAD UNTUK

MENGHAPUS KATA NABI

Demi mendamaikan saudara-saudara sesama muslim, di Lahore, pada tanggal 3 Februari 1892, Mirza Ghulam Ahmad membuat deklarasi secara tertulis di depan publik setelah berakhirnya debat dengan Maulwi Abdul Hakim, seorang ulama Muslim. Deklarasi ini ditandatangani oleh delapan saksi dan ini mengakhiri debat dengan Maulwi Abdul Hakim.

Pernyataan tersebut antara lain:

Pernyataan no 29

“Oleh karena itu, saya tidak mempunyai keragu-raguan sedikitpun dalam menyatakan pengertian saya dalam bentuk lain untuk mendamaikan saudara-saudara Muslim saya dan bentuk lain tersebut adalah bahwa di setiap tempat yang terdapat kata nabi diartikan sebagai muhadas dan kata nabi dianggap sudah dihapus.

(http://www.ahmadiyya.org/)

Terlihat bahwa pernyataan Mirza Ghulam Ahmad dalam Tiryaq al-Qulub yang ditulis pada Oktober 1902 tetap konsisten dengan pernyataan beliau tersebut diatas. Pernyataan beliau dalam Tiryaq al-Qulub: “…..YANG TIDAK MEMBAWA SYARIAT, mereka SEMUANYA ADALAH MUHADAS ” (Tiryaq al-Qulub, Oktober 1902, hlm. 130).

Hal tersebut  juga sesuai  dengan pernyataan  Mirza  Ghulam

Ahmad dalam Shahadat al-Quran berikut ini.

Pernyataan no 30.

“…Karena Pimpinan kita dan Utusan (Nabi Suci  Muhammad) adalah Khatam al-anbiya, dan tidak ada nabi yang dapat datang setelah beliau, maka untuk alasan ini muhaddas dijadikan pengganti nabi dalam Syariat ini

(Shahadat al-Quran, hal. 27)

Akhirnya, berdasarkan kajian di atas dapat disimpulkan bahwa jika pengkajian terhadap pernyataan-pernyataan Mirza Ghulam Ahmad dilakukan SECARA UTUH (bukan hanya cuplikan-cuplikan yang sifatnya hanya parsial dan tidak menghubungkan satu sama lain) menunjukkan secara jelas bahwa pengakuan (klaim) Mirza Ghulam Ahmad bukan sebagai nabi tetapi sebagai muhadas, mujadid, wali.

Jika kajian tidak dilakukan secara utuh, hampir dapat dipastikan, akan menimbulkan kesalahpahaman.

Catatan

Pengakuan sebagai nabi tanpa syariat, apabila tidak dipahami secara utuh bahwa ada pernyataan lainnya yang terkait dengan itu, yaitu SEMUA SAJA (‘nabi’) YANG TIDAK MEMBAWA SYARIAT ADALAH MUHADAS, maka kesalahpahaman hampir dapat dipastikan, akan dapat terjadi.

Terhadap ayat-ayat Alquran pun kesalahpahaman juga akan dapat terjadi jika kita tidak memahaminya secara utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: